la tidak biasa menggunakan tombak, maka tombak tadi kini ia serahkan kepada suaminya, sedangkan ia sendiri menyambar sebatang pedang lawan yang ia robohkan. Mulailah Endang Patibroto mengamuk. Suaminya yang berada di punggungnya juga menggerakkan tombak ke kanan kiri merobohkan prajurit yang datang dari jurusan ini.
Biarpun punggungnya
menggendong Pangeran Panjirawit, namun gerakan Endang Patibroto masih amat
lincah dan ganas. Pedangnya berkelebat, bergulung-gulung sinarnya dan banyak
prajurit roboh. Akan tetapi, makin banyak yang roboh, makin banyak pula yang
datang, seperti semut mengeroyoknya dan teriakan-teriakan mereka amat bising.
Endang Patibroto mulai khawatir, mengkhawatirkan suaminya, ia dapat mengamuk
lebih leluasa, akan tetapi takut kalau-kalau suaminya terpisah dan terluka.
"Pangeran, buang tombak
dan pegang erat-erat!" bisiknya.
Biarpun Pangeran Panjirawit
tak mengerti mengapa ia harus membuang tombak, namun percaya penuh kepada
isterinya, ia melemparkan tombaknya dan memeluk leher isterinya erat-erat.
"Awas, pangeran!"
bisik Endang Patibroto. Dengan pedangnya ia menyapu dengan gerakan tiba-tiba
sehingga lima enam orang prajurit yang tak menyangka-nyangka wanita itu akan
berjongkok dan menyapu ke bawah, roboh dengan kaki buntung atau setengah
buntung terbabat pedang! Dan tiba-tiba, bagaikan seekor burung, Endang
Patibroto sudah mengenjot tubuhnya dan melayanglah tubuhnya ke atas genteng
rumah tahanan. Akan tetapi sebelum kakinya menginjak genteng, belasan batang
anak panah menyambar dari depan seperti hujan.
"Celaka...... awas anak
panah, Endang .......... " Pangeran Panjirawit berteriak cemas. Akan
tetapi kembali ia kagum bukan main karena biarpun tubuhnya masih melayang di
udara, namun dengan memutar pedang sampai pedang itu mengeluarkan bunyi
mengaung, semua anak panah dapat dipukul runtuh. Bahkan tangan kirinyapun
menyambar dan.......... dua batang anak panah dapat ditangkapnya. Tubuhnya
terus ke depan sambil tangan kiranya bergerak menyambitkan anak panah ke depan.
Terdengar, teriakan dua orang pemanah yang dadanya termakan senjata sendiri.
Kini Endang Patibroto sudah turun ke atas genteng. Segera la dikeroyok oleh
belasan orang pengawal yang memiliki ilmu silat lumayan. Di sini Endang
Patibroto mengamuk lagi, dalam waktu singkat merobohkan lima orang pengeroyok
dengan pedangnya.
Akan tetapi kini banyak
pengawal dan perwira yang berkepandaian sudah berlompatan naik ke atas genteng.
Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang. Endang Patibroto yang sudah
banyak pengalamannya bertempur di waktu mudanya, mengerti bahwa tidak akan
mungkin dapat melayani mereka semua. Sedangkan kini fajar hampir menyingsing.
Kalau malam sudah berganti pagi, tidak mungkin lagi dapat melarikan diri keluar
dari kota raja. Ia harus dapat melarikan suaminya sekarang juga. Harus!
"Kakanda, tutup telinga
kakanda keduanya.......... " Ia berbisik dan maklumlah Pangeran Panjirawit
bahwa isterinya hendak menggunakan Aji Sardulo Bairowo. Ia lalu menggunakan
kedua tangan menutupi sepasang telinganya. Benar saja, Endang Patibroto lalu
mengeluarkan suara pekik dahsyat, melengking tinggi mengatasi semua suara
hiruk-pikuk para prajurit! Semua pengeroyoknya yang berjumlah tiga puluh orang
lebih itu terkejut, bahkan ada delapan orang yang tidak dapat menahan, roboh
bergulingan di atas genteng terus jatuh ke bawah! Yang lain-lain tersentak
mundur, kaget dan ngeri. Kesempatan ini dipergunakan oleh Endang Patibroto
untuk mengerahkan tenaga meloncat ke atas genteng bangunan yang berdekatan,
yaitu bangunan dapur istana. Banyak anak panah mengaung dan bercuitan di kanan
kiri, bawah dan atasnya. Akan tetapi tidak sebuahpun mengenainya. Tiba-tiba
Endang Patibroto merasa betapa tubuh suaminya di atas punggungnya menegang.
"Ada apa,
pangeran?"
“Ti....... tidak apa-apa
.......... " Suaminya mengerang ditahan.
"Lekas pergi, Endang,
lekas.......... !”
Dengan hati berdebar Endang
Patibroto mempercepat larinya. Para pengejarnya tertinggal jauh dan anak-anak
panah tidak dapat mencapainya lagi. Ia amat khawatir. Apakah suaminya menjadi
gentar? Akan tetapi kini selamatlah sudah. la mempercepat pula larinya dan
sebentar saja ia sudah berhasil keluar dari dinding kota raja, terus berlari
menuju ke selatan.
"Kita selamat dan
bebas, pangeran .......... !" bisiknya sambil lari terus.
“.........
syukurlah.........., mari kita istirahat, isteriku.......... “
"Nanti, kakanda. Biar
jauh dulu ...... ."
Endang lari terus, masih
amat cepat larinya sehingga bagaikan terbang saja layaknya. Dusun-dusun
dilalui, hutan-hutan dan sementara itu, angkasa sudah mulai merah, terbakar
sinar sang surya.
"Endang..........
nimas.......... berhenti dulu .......... aku.......... aku tak kuat.......... “
Endang Patibroto
menghentikan larinya dengan tiba-tiba, wajahnya pucat, matanya terbelalak, hampir
tidak berani ia menurunkan suaminya, tidak berani melihat suaminya.
Jangan-jangan.......... !
"Paduka..........
paduka.......... kenapa.......... kakanda....... ?”
“......... ughh,
terluka.......... , anak panah .......... “ Endang Patibroto menahan isak, lari
ke sebuah gubuk di tengah sawah yang berada tak jauh dari situ. Kemudian la
menurunkan suaminya yang ternyata sudah lemas tubuhnya. Dapat dibayangkan
betapa kaget dan cemas hatinya ketika melihat punggung suaminya tertancap anak
panah.
"Kakanda..........
!" Ia menjerit, merebahkan suaminya, ia sendiri berlutut memeriksa.
Seluruh bulu di tubuhnya berdiri ketika ia melihat betapa anak panah itu
menancap dalam sekali, hampir sampai ke gagangnya, agaknya menembus celah-celah
tulang iga.
"Kakanda pangeran.....!!"
kembali ia menjerit dan memeluk, menangis terisak-isak. Sebagai seorang ahli,
sekali pandang tahulah ia bahwa suaminya takkan dapat tertolong lagi. Anak
panah itu menancap amat dalam, menembus bagian yang penting. Kalau dicabut,
tentu akan mempercepat suaminya meninggalkannya.
"Aduh,
pangeran.......... , suamiku.......... bagaimana.......... ??"
Pangeran Panjirawit meraih
leher isterinya sehingga tubuh Endang Patibroto kini juga rebah di sampingnya,
miring beradu muka. Diciumnya mulut isterinya, dihisap air matanya, tangannya
mengelus-elus rambut, mulutnya berbisik,
"Isteriku, mutiara
hatiku.......... ingatkah engkau akan pembicaraan kita tentang takdir? Mati
hidup manusia dalam tangan Hyang Widhi..........”
Endang Patibroto memandang suaminya
dan melihat bahwa mulut itu tersenyum. Ah, hampir ia lupa bahwa suaminya
menghadapi maut, bahwa mereka berada di gubuk sawah. Rebah beradu muka seperti
ini membuat ia merasa seakan-akan mereka masih di dalam istana, tidur di atas
pembaringan, rebah miring beradu muka, bercengkerama, bersendau gurau, bermain
cinta mencurahkan kasih sayang.
"Kakangmas
pangeran.......... !" Ia menjerit lagi dan merangkul leher suaminya,
mendekap muka itu ke atas dadanya, seakan-akan ia hendak membenamkan muka itu
ke dalam dasar hatinya, menjadi satu dengan dirinya, takkan dilepaskan lagi.
"Ah, semua gara-garaku,
kakanda.......... paduka tertimpa bencana karena hamba.......... !!”
Dengan muka masih terbenam
di dada isterinya, Pangeran Panjirawit berbisik,
"Hushhh, aku tak pernah
menyalahkan engkau, jiwaku. Apapun yang kaulakukan, aku akan berpihak kepadamu,
apapun juga yang kau lakukan.......... !"
Biarpun ucapan ini
menunjukkan kasih sayang yang tiada batasnya, namun menusuk perasaan Endang
Patibroto karena mengandung pula kepercayaan bahwa dia telah bertindak salah.
Maka cepat-cepat ia berkata,
"Suamiku, dengarlah
baik-baik. Betapapun juga, isterimu tidak melakukan hal-hal yang jahat.
Dengarlah .......... “
"Aku percaya,
Endang.......... “
"Tapi harap paduka
mendengarkan ...... beginilah sebenarnya yang terjadi." Dengan suara
mengandung isak Endang Patibroto menceritakan betapa ia telah berhasil mencari
si pembunuh gelap yaitu Wiku Kalawisesa, betapa ia bahkan telah berhasil
membunuh si laknat dan mengorek rahasia dari mulutnya, betapa kakek itu mengaku
bahwa ia bersekutu dengan Pangeran Darmokusumo yang bermaksud jahat, hendak
memberontak.
"Nah, hamba memang
menyerbu ke sana. Akan tetapi hanya untuk menawannya dan untuk memaksanya
mengaku, semua perbuatan dan dosanya di depan sang prabu, akan tetapi..........
hamba ……. hamba gagal.......... “
“......... nimas..........
aku percaya.......... augghh.......... dekaplah aku, nimas, dekaplah aku
erat-erat.......... “
Hati Endang Patibroto
bagaikan ditusuk-tusuk keris berkarat. Didekapnya suaminya, diciuminya.
"Kakangmas..........
aku tahu.......... kakangmas tak mungkin dapat disembuhkan lagi.......... “
“......... oohhh,
kekasihku.......... , jadi kau sudah tahu.......... ? Susahkah hatimu,
sayang.......... “ Endang Patibroto mencium lagi.
"Tidak, pangeran,
karena kita akan berangkat bersama. Hamba akan ikut, ke mana juapun paduka
pergi. Ingat akan kata-katamu tadi, kakangmas? Kita mati bersama!"
Tiba-tiba tubuh yang sudah
lemas itu bertenaga lagi, dekapannya amat kuat dan terdengar pangeran itu
mengguguk, menangis.
"Mengapa, suamiku?
Jangan takut, kematian bukan apa-apa, dan lagi, hamba berada di samping
paduka.......... !!”
"Tidak! Tidak..........
!! Sekali lagi tidak …… !" Pangeran itu mencengkeram pundak Endang
Patibroto seakan-akan hendak menarik tenaga dari isterinya.
"Betapapun hancur
hatiku oleh perpisahan ini, namun tidak! Engkau tidak boleh ikut bersamaku
......... aku tidak rela membiarkan isteriku membunuh diri........... “
Endang Patibroto tersenyum,
air matanya masih bercucuran.
"Suamiku, kakanda
pujaan hati, lupakah kakanda akan nama hamba? Hamba adalah Endang Patibroto?
Ingat, kakanda, Patibroto? Hamba adalah seorang isteri yang setia, yang siap
sedia dengan segala kesenangan hati untuk ikut mati bersama suaminya!"
"Tidak! Endang,
isteriku. Aku akan mati penasaran! Rohku akan menjadi setan gentayangan kalau
kau membunuh diri! Aku tidak suka. Tidak suka!!" Pangeran itu
memekik-mekik keras.
Pucat wajah Endang
Patibroto, kaget hatinya dan ia bangkit duduk. Dipegangnya wajah suaminya,
dipandangnya baik-baik dan ia mendapat kenyataan bahwa suaminya masih sadar
sepenuhnya.
"Apa.......... apa
maksud paduka.........” Kembali tubuh pangeran Itu menjadi lemas, napasnya
terengah-engah karena tadi dikuasai nafsu amarah.
"Endang.......... kalau
benar kau mencintaku.......... sepenuh jiwa raga seperti aku
mencintamu.......... kau mutiara hatiku.......... sebelum aku mati..........
agar aku dapat mati tenang, kau berjanjilah untuk memenuhi pesanku ini,
yaitu.......... kau jangan ikut, jangan membunuh diri.......... kau
berjanjilah, sayang.......... demi cintaku.......... !!”
Jantung Endang Patibroto
serasa dikerat-kerat, perih dan sakit. Air matanya membanjir, ia terisak-isak,
sesenggukan, tersedu-sedan dan tidak dapat menjawab untuk beberapa lamanya. Ia
maklum bahwa suaminya tidak ingin melihat ia mati membunuh diri dan..........
tiba-tiba ia teringat bahwa kalau ia mati, siapakah yang akan membalas dendam
ini kepada Pangeran Darmokusumo? Teringat akan pangeran yang menjadi biang
keladi kematian suaminya ini, timbul semangatnya untuk hidup, dan ia
menggangguk sambil berkata,
"Hamba berjanji,
kakangmas ...... "
"Aahhh, terima kasih,
Endang. Kini lega hatiku. Ke sinilah, adinda.......... mendekatlah engkau,
kekasih.......... !”
Kembali Endang Patibroto
rebah berhadapan muka, berpelukan, berbisik-bisik seperti pengantin baru.
"Endang..........
ingatkah engkau.......... Dahulu.......... ketika kita berpengantinan..........
?"
"Aduhhh..........
kakanda.......... " Endang Patibroto menjerit dari dasar hatinya, tubuhnya
menggigil saking sakit hatinya mendengar ucapan itu.
"Eh-eh, biarkan aku
mengenangkan kemball peristiwa itu, manis. Biarkan aku mati membawa kenangan
masa kita berpengantinan. Ahhh.......... mula-mula.......... engkau tidak suka
kudekati..........engkau seperti hendakmenolakku.......... “
"Kakangmas.......... “
"Aku tahu..........
tadinya engkau tidak mencinta.......... akan tetapi.......... oh, akhirnya
cinta kasihku yang murni dan sepenuh jiwa raga.......... ha-ha, meruntuhkan
juga hati bajamu.......... mencairkan gunung es.......... dan kau menjadi panas
membara ...... kau menjadi kawah Gunung Bromo .......... sampai nanar aku oleh
cintamu, nimas.......... sampai mabuk aku.......... mabuk kebahagiaan..........
ah, tiada wanita keduanya sepertimu, adindaku.......... " Tangan Pangeran
Panjirawit membelai-belai, bibirnya mencium-cium, pandang matanya mesra.
No comments:
Post a Comment