Perawan Lembah Wilis; Bagian 011


la tidak biasa menggunakan tombak, maka tombak tadi kini ia serahkan kepada suaminya, sedangkan ia sendiri menyambar sebatang pedang lawan yang ia robohkan. Mulailah Endang Patibroto mengamuk. Suaminya yang berada di punggungnya juga menggerakkan tombak ke kanan kiri merobohkan prajurit yang datang dari jurusan ini.
Biarpun punggungnya menggendong Pangeran Panjirawit, namun gerakan Endang Patibroto masih amat lincah dan ganas. Pedangnya berkelebat, bergulung-gulung sinarnya dan banyak prajurit roboh. Akan tetapi, makin banyak yang roboh, makin banyak pula yang datang, seperti semut mengeroyoknya dan teriakan-teriakan mereka amat bising. Endang Patibroto mulai khawatir, mengkhawatirkan suaminya, ia dapat mengamuk lebih leluasa, akan tetapi takut kalau-kalau suaminya terpisah dan terluka.
"Pangeran, buang tombak dan pegang erat-erat!" bisiknya.
Biarpun Pangeran Panjirawit tak mengerti mengapa ia harus membuang tombak, namun percaya penuh kepada isterinya, ia melemparkan tombaknya dan memeluk leher isterinya erat-erat.
"Awas, pangeran!" bisik Endang Patibroto. Dengan pedangnya ia menyapu dengan gerakan tiba-tiba sehingga lima enam orang prajurit yang tak menyangka-nyangka wanita itu akan berjongkok dan menyapu ke bawah, roboh dengan kaki buntung atau setengah buntung terbabat pedang! Dan tiba-tiba, bagaikan seekor burung, Endang Patibroto sudah mengenjot tubuhnya dan melayanglah tubuhnya ke atas genteng rumah tahanan. Akan tetapi sebelum kakinya menginjak genteng, belasan batang anak panah menyambar dari depan seperti hujan.
"Celaka...... awas anak panah, Endang .......... " Pangeran Panjirawit berteriak cemas. Akan tetapi kembali ia kagum bukan main karena biarpun tubuhnya masih melayang di udara, namun dengan memutar pedang sampai pedang itu mengeluarkan bunyi mengaung, semua anak panah dapat dipukul runtuh. Bahkan tangan kirinyapun menyambar dan.......... dua batang anak panah dapat ditangkapnya. Tubuhnya terus ke depan sambil tangan kiranya bergerak menyambitkan anak panah ke depan. Terdengar, teriakan dua orang pemanah yang dadanya termakan senjata sendiri. Kini Endang Patibroto sudah turun ke atas genteng. Segera la dikeroyok oleh belasan orang pengawal yang memiliki ilmu silat lumayan. Di sini Endang Patibroto mengamuk lagi, dalam waktu singkat merobohkan lima orang pengeroyok dengan pedangnya.

Akan tetapi kini banyak pengawal dan perwira yang berkepandaian sudah berlompatan naik ke atas genteng. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang. Endang Patibroto yang sudah banyak pengalamannya bertempur di waktu mudanya, mengerti bahwa tidak akan mungkin dapat melayani mereka semua. Sedangkan kini fajar hampir menyingsing. Kalau malam sudah berganti pagi, tidak mungkin lagi dapat melarikan diri keluar dari kota raja. Ia harus dapat melarikan suaminya sekarang juga. Harus!
"Kakanda, tutup telinga kakanda keduanya.......... " Ia berbisik dan maklumlah Pangeran Panjirawit bahwa isterinya hendak menggunakan Aji Sardulo Bairowo. Ia lalu menggunakan kedua tangan menutupi sepasang telinganya. Benar saja, Endang Patibroto lalu mengeluarkan suara pekik dahsyat, melengking tinggi mengatasi semua suara hiruk-pikuk para prajurit! Semua pengeroyoknya yang berjumlah tiga puluh orang lebih itu terkejut, bahkan ada delapan orang yang tidak dapat menahan, roboh bergulingan di atas genteng terus jatuh ke bawah! Yang lain-lain tersentak mundur, kaget dan ngeri. Kesempatan ini dipergunakan oleh Endang Patibroto untuk mengerahkan tenaga meloncat ke atas genteng bangunan yang berdekatan, yaitu bangunan dapur istana. Banyak anak panah mengaung dan bercuitan di kanan kiri, bawah dan atasnya. Akan tetapi tidak sebuahpun mengenainya. Tiba-tiba Endang Patibroto merasa betapa tubuh suaminya di atas punggungnya menegang.
"Ada apa, pangeran?"
“Ti....... tidak apa-apa .......... " Suaminya mengerang ditahan.
"Lekas pergi, Endang, lekas.......... !”
Dengan hati berdebar Endang Patibroto mempercepat larinya. Para pengejarnya tertinggal jauh dan anak-anak panah tidak dapat mencapainya lagi. Ia amat khawatir. Apakah suaminya menjadi gentar? Akan tetapi kini selamatlah sudah. la mempercepat pula larinya dan sebentar saja ia sudah berhasil keluar dari dinding kota raja, terus berlari menuju ke selatan.
"Kita selamat dan bebas, pangeran .......... !" bisiknya sambil lari terus.
“......... syukurlah.........., mari kita istirahat, isteriku.......... “
"Nanti, kakanda. Biar jauh dulu ...... ."
Endang lari terus, masih amat cepat larinya sehingga bagaikan terbang saja layaknya. Dusun-dusun dilalui, hutan-hutan dan sementara itu, angkasa sudah mulai merah, terbakar sinar sang surya.
"Endang.......... nimas.......... berhenti dulu .......... aku.......... aku tak kuat.......... “
Endang Patibroto menghentikan larinya dengan tiba-tiba, wajahnya pucat, matanya terbelalak, hampir tidak berani ia menurunkan suaminya, tidak berani melihat suaminya. Jangan-jangan.......... !
"Paduka.......... paduka.......... kenapa.......... kakanda....... ?”
“......... ughh, terluka.......... , anak panah .......... “ Endang Patibroto menahan isak, lari ke sebuah gubuk di tengah sawah yang berada tak jauh dari situ. Kemudian la menurunkan suaminya yang ternyata sudah lemas tubuhnya. Dapat dibayangkan betapa kaget dan cemas hatinya ketika melihat punggung suaminya tertancap anak panah.
"Kakanda.......... !" Ia menjerit, merebahkan suaminya, ia sendiri berlutut memeriksa. Seluruh bulu di tubuhnya berdiri ketika ia melihat betapa anak panah itu menancap dalam sekali, hampir sampai ke gagangnya, agaknya menembus celah-celah tulang iga.
"Kakanda pangeran.....!!" kembali ia menjerit dan memeluk, menangis terisak-isak. Sebagai seorang ahli, sekali pandang tahulah ia bahwa suaminya takkan dapat tertolong lagi. Anak panah itu menancap amat dalam, menembus bagian yang penting. Kalau dicabut, tentu akan mempercepat suaminya meninggalkannya.
"Aduh, pangeran.......... , suamiku.......... bagaimana.......... ??"
Pangeran Panjirawit meraih leher isterinya sehingga tubuh Endang Patibroto kini juga rebah di sampingnya, miring beradu muka. Diciumnya mulut isterinya, dihisap air matanya, tangannya mengelus-elus rambut, mulutnya berbisik,
"Isteriku, mutiara hatiku.......... ingatkah engkau akan pembicaraan kita tentang takdir? Mati hidup manusia dalam tangan Hyang Widhi..........”

Endang Patibroto memandang suaminya dan melihat bahwa mulut itu tersenyum. Ah, hampir ia lupa bahwa suaminya menghadapi maut, bahwa mereka berada di gubuk sawah. Rebah beradu muka seperti ini membuat ia merasa seakan-akan mereka masih di dalam istana, tidur di atas pembaringan, rebah miring beradu muka, bercengkerama, bersendau gurau, bermain cinta mencurahkan kasih sayang.
"Kakangmas pangeran.......... !" Ia menjerit lagi dan merangkul leher suaminya, mendekap muka itu ke atas dadanya, seakan-akan ia hendak membenamkan muka itu ke dalam dasar hatinya, menjadi satu dengan dirinya, takkan dilepaskan lagi.
"Ah, semua gara-garaku, kakanda.......... paduka tertimpa bencana karena hamba.......... !!”
Dengan muka masih terbenam di dada isterinya, Pangeran Panjirawit berbisik,
"Hushhh, aku tak pernah menyalahkan engkau, jiwaku. Apapun yang kaulakukan, aku akan berpihak kepadamu, apapun juga yang kau lakukan.......... !"
Biarpun ucapan ini menunjukkan kasih sayang yang tiada batasnya, namun menusuk perasaan Endang Patibroto karena mengandung pula kepercayaan bahwa dia telah bertindak salah. Maka cepat-cepat ia berkata,
"Suamiku, dengarlah baik-baik. Betapapun juga, isterimu tidak melakukan hal-hal yang jahat. Dengarlah .......... “
"Aku percaya, Endang.......... “
"Tapi harap paduka mendengarkan ...... beginilah sebenarnya yang terjadi." Dengan suara mengandung isak Endang Patibroto menceritakan betapa ia telah berhasil mencari si pembunuh gelap yaitu Wiku Kalawisesa, betapa ia bahkan telah berhasil membunuh si laknat dan mengorek rahasia dari mulutnya, betapa kakek itu mengaku bahwa ia bersekutu dengan Pangeran Darmokusumo yang bermaksud jahat, hendak memberontak.
"Nah, hamba memang menyerbu ke sana. Akan tetapi hanya untuk menawannya dan untuk memaksanya mengaku, semua perbuatan dan dosanya di depan sang prabu, akan tetapi.......... hamba ……. hamba gagal.......... “
“......... nimas.......... aku percaya.......... augghh.......... dekaplah aku, nimas, dekaplah aku erat-erat.......... “
Hati Endang Patibroto bagaikan ditusuk-tusuk keris berkarat. Didekapnya suaminya, diciuminya.
"Kakangmas.......... aku tahu.......... kakangmas tak mungkin dapat disembuhkan lagi.......... “
“......... oohhh, kekasihku.......... , jadi kau sudah tahu.......... ? Susahkah hatimu, sayang.......... “ Endang Patibroto mencium lagi.
"Tidak, pangeran, karena kita akan berangkat bersama. Hamba akan ikut, ke mana juapun paduka pergi. Ingat akan kata-katamu tadi, kakangmas? Kita mati bersama!"
Tiba-tiba tubuh yang sudah lemas itu bertenaga lagi, dekapannya amat kuat dan terdengar pangeran itu mengguguk, menangis.
"Mengapa, suamiku? Jangan takut, kematian bukan apa-apa, dan lagi, hamba berada di samping paduka.......... !!”
"Tidak! Tidak.......... !! Sekali lagi tidak …… !" Pangeran itu mencengkeram pundak Endang Patibroto seakan-akan hendak menarik tenaga dari isterinya.
"Betapapun hancur hatiku oleh perpisahan ini, namun tidak! Engkau tidak boleh ikut bersamaku ......... aku tidak rela membiarkan isteriku membunuh diri........... “
Endang Patibroto tersenyum, air matanya masih bercucuran.
"Suamiku, kakanda pujaan hati, lupakah kakanda akan nama hamba? Hamba adalah Endang Patibroto? Ingat, kakanda, Patibroto? Hamba adalah seorang isteri yang setia, yang siap sedia dengan segala kesenangan hati untuk ikut mati bersama suaminya!"
"Tidak! Endang, isteriku. Aku akan mati penasaran! Rohku akan menjadi setan gentayangan kalau kau membunuh diri! Aku tidak suka. Tidak suka!!" Pangeran itu memekik-mekik keras.

Pucat wajah Endang Patibroto, kaget hatinya dan ia bangkit duduk. Dipegangnya wajah suaminya, dipandangnya baik-baik dan ia mendapat kenyataan bahwa suaminya masih sadar sepenuhnya.
"Apa.......... apa maksud paduka.........” Kembali tubuh pangeran Itu menjadi lemas, napasnya terengah-engah karena tadi dikuasai nafsu amarah.
"Endang.......... kalau benar kau mencintaku.......... sepenuh jiwa raga seperti aku mencintamu.......... kau mutiara hatiku.......... sebelum aku mati.......... agar aku dapat mati tenang, kau berjanjilah untuk memenuhi pesanku ini, yaitu.......... kau jangan ikut, jangan membunuh diri.......... kau berjanjilah, sayang.......... demi cintaku.......... !!”
Jantung Endang Patibroto serasa dikerat-kerat, perih dan sakit. Air matanya membanjir, ia terisak-isak, sesenggukan, tersedu-sedan dan tidak dapat menjawab untuk beberapa lamanya. Ia maklum bahwa suaminya tidak ingin melihat ia mati membunuh diri dan.......... tiba-tiba ia teringat bahwa kalau ia mati, siapakah yang akan membalas dendam ini kepada Pangeran Darmokusumo? Teringat akan pangeran yang menjadi biang keladi kematian suaminya ini, timbul semangatnya untuk hidup, dan ia menggangguk sambil berkata,
"Hamba berjanji, kakangmas ...... "
"Aahhh, terima kasih, Endang. Kini lega hatiku. Ke sinilah, adinda.......... mendekatlah engkau, kekasih.......... !”
Kembali Endang Patibroto rebah berhadapan muka, berpelukan, berbisik-bisik seperti pengantin baru.
"Endang.......... ingatkah engkau.......... Dahulu.......... ketika kita berpengantinan.......... ?"
"Aduhhh.......... kakanda.......... " Endang Patibroto menjerit dari dasar hatinya, tubuhnya menggigil saking sakit hatinya mendengar ucapan itu.
"Eh-eh, biarkan aku mengenangkan kemball peristiwa itu, manis. Biarkan aku mati membawa kenangan masa kita berpengantinan. Ahhh.......... mula-mula.......... engkau tidak suka kudekati..........engkau seperti hendakmenolakku.......... “
"Kakangmas.......... “
"Aku tahu.......... tadinya engkau tidak mencinta.......... akan tetapi.......... oh, akhirnya cinta kasihku yang murni dan sepenuh jiwa raga.......... ha-ha, meruntuhkan juga hati bajamu.......... mencairkan gunung es.......... dan kau menjadi panas membara ...... kau menjadi kawah Gunung Bromo .......... sampai nanar aku oleh cintamu, nimas.......... sampai mabuk aku.......... mabuk kebahagiaan.......... ah, tiada wanita keduanya sepertimu, adindaku.......... " Tangan Pangeran Panjirawit membelai-belai, bibirnya mencium-cium, pandang matanya mesra.

<<< Bagian 010                                                                                     Bagian 012 >>>

No comments:

Post a Comment