Ia merasa betapa daging lembut mendekap di bahunya, merasa betapa jantung di balik dada itu berdenyar-denyar penuh hembusan nafsu berahi, mendengar getaran penuh kemesraan dalam suara yang berbisik-bisik itu, merasa hembusan napas yang hangat dari mulut yang merah menantang, merasa betapa jari-jari tangan yang membelai dada dan lehernya mengeluarkan getaran-getaran yang membuat dia merinding. Dapatkah kita menyalahkan Pangeran Panji Sigit kalau jantungnya sendiri mulai berdebar? Apalagi mendengar bujukan yang amat muluk itu. Dia akan dijadikan putera mahkota, calon pengganti ramandanya! Akan tetapi, ia mengingat akan kekejian wanita ini dan tanpa menoleh ia membentak,
"Tak perlu membujukku,
pergilah kau wanita berhati palsu!"
"Aduh, Pangeran Panji
Sigit. Tak dapatkah engkau membedakah antara cinta sejati dan cinta palsu?
Pangeran, kalau memang cintaku palsu, tentu aku tidak berani datang
mengunjungimu di saat ini. Engkau dan aku tahu bahwa kalau engkau kehendaki,
dengan mudah engkau akan dapat membunuhku di saat ini tanpa ada yang dapat
menolongnya. Akan tetapi aku tidak perduli.. Bunuhlah kalau kau mau membunuhku,
karena kalau engkau menolak cintaku, berarti engkau sudah setengah membunuhku!
Duh Pangeran, dari debar jantungmu, aku tahu bahwa engkau bukan, seorang pria
berdarah dingin. Aku tahu bahwa di sudut hatimu, engkau juga mencinta
Suminten....”
“Tidak pergilah
.....!!"
Akan tetapi Suminten telah
merasa betapa di balik kulit dada bidang yang dibelai ujung jari tangannya itu
berdebar, betapa rongga dada itu bergelora, kulitnya menjadi panas, urat-urat
di leher pangeran itu menjadi berdenyut-denyut, mukanya kemerahan dan pandang
matanya merenung, nafasnya memburu. Semua ini menjadi tanda akan bangkitnya
nafsu berahi yang menjalar dari tubuhnya kepada pangeran itu. Melihat
tanda-tanda yang amat dikenalnya ini, Suminten tersenyum dan cepat ia menarik
leher pangeran itu dengan kedua lengannya yang bulat panjang, seperti dua ekor
ular lengannya membelit leher, bergantung sehingga muka pangeran itu menunduk
dan dengan sepenuh cinta kasih dan kemesraannya, Suminten mencium bibir
Pangeran Panji Sigit dengan mulutnya. Begitu mesra belaian dan ciuman wanita
ini sehingga pangeran muda itu kehilangan akal dan kesadaran, himpir secara
otomatis Pangeran Panji Sigit membalas ciuman itu dengan napas terengah karena
dorongan nafsu berahi yang dibangkitkan oleh Suminten yang amat pandai merayu.
Pada saat mulut mereka
berciuman, Suminten tak dapat menahan hatinya, sehingga naiklah gelak tawa dari
dalam dadanya yang tertahan di mulut yang sedang berciuman. Suara ini, suara
gelak...tertahan ini, memasuki telinga Pangeran Panji seperti suara ketawa
iblis sendiri..yang mengejek dan menyorakinya. Jiwa satria dalam diri Pangeran
Panji Sigit meronta mendengar ini, kesadarannya kembali dan ia cepat merenggut
mukanya dari pagutan wanita itu, dari ciuman yang sepertl gigitan seekor
lintah. Kemudian, terbawa oleh rasa sesal mengapa ia tadi melayani belaian dan
cumbuan Suminten, Pangeran Panji Sigit menggerakkan tangan kanannya menampar
pipi yang halus, harum dan hangat itu.
"Plakkk .....!!"
Tamparan itu keras sekali
dan tubuh Suminten terpelariting lalu roboh terguling di atas lantai. Wanita
itu menjerit kecil, kini bangkit dengan muka merah dan pipi sebelah kirinya
membiru. Ia mengelus pipi kirinya dengan tangan kiri, menengadah memandang
pangeran itu dan... tersenyum!
"Pangeran, tamparan
keras itu tidak dapat menghapus kebahagiaan hatiku telah merasai belaianmu
tadi. Pangeran, marilah ....marilah ke sini ...kita saling mencinta, tak perlu
disangkal lagi mari bersama Suminten, Pangeran. Kemudian, engkau akan
membunuhku, atau akan lebih suka menjadi calon raja, terserah kepadamu .. aku
siap menyerahkan jiwa dan ragaku kepadamu, Pangeran... "
Pangeran Panji Sigit
terbelalak memandang wanita yang, setengah rebah di atas lantai itu. Ketika
terguling tadi, rambut Suminten terlepas sanggulnya dan terurai kacau,
kembennya. merosot dan kainnya tersingkap sampai ke paha. Tubuh yang ramping
padat itu meliuk-liuk, seperti seekor ular kepanasan, penuh daya memikat
sehingga ada dorongan hasrat di hati Pangeran Panji Sigit untuk melompat,
menerkam wanita itu dan melahap hidangan yang disediakan untuknya dengan
kerelaan yang menggila, bahkan hampir mengharukan! Wanita ini, betapa pun jahat
dan kejinya, benar-benar mencintanya, bukan hanya cinta nafsu, melainkan cinta
tulus ikhlas yang aneh, cinta yang didasari kesiapan untuk berkorban apa juga.
Akan tetapi saat itu
Pangeran Panji Sigit sudah sadar betul sehingga semua dorongan nafsu berahi
telah dapat ia tolak dan lenyapkan. Ia memandang dan sinar matanya menjadi
dingin sekali. Wanita ini telah mencelakakan ramandanya, telah mencelakakan
kerajaan, telah melakukan banyak kekejaman, menyebabkan terbasminya keluarga Ki
Patih Brotomenggala, menyebabkan sengsaranya permaisuri dan banyak orang tak
berdosa menerima hukuman bahkan banyak pula yang ditewaskan. Biarpun dari luar
keilhatan seperti seorang wanita yang amat cantik dan gerak-geriknya selalu
membetot semangat dan cinta kasih pria, namun sesunggahnya iblis sendiri yang
bersembunyi di balik segala keindahan tubuh wanita ini.
"Suminten, tidak ada
gunanya lagi membujuk. Aku tidak akan terpikat olehmu karena aku merasa yakin
bahwa engkau sesungguhnya adalah seekor ular beracun, seorang wanita yang
menjadi alat Iblis untuk menggoda dan menyeret manusia ke lembah kehinaan. Aku
tidak mau membunuhmu karena engkau adalah selir kanjeng rama, akan tetapi aku
pun tidak akan sudi lagi menjamahmu apalagi mencintamu karena setiap sentuhan
akan mendatangkan dosa dan noda bagiku. Jiwamu rendah sehingga tubuhmu menjadi
kotor menjijikkan, lebih baik seribu kali mati daripada menuruti cinta kasihmu
yang hina dan rendah!"
Wajah Suminten menjadi
pucat. Setelah kini yakin bahwa cinta kasihnya tidak akan terbalas pemuda yang
dipujanya dan dicintanya ini, hatinya seperti disayat-sayat pisau dan terasa
perih sekali. Sakit hati menimbulkan kebencian dan dendam.
Bagi seorang seperti
Suminten, mudah saja merubah cinta kasih berkobar menjadi benci yang mendalam.
Ia bangkit, membenarkan sanggulnya, merapikan pakaiannya, sikapnya juga dingin
sekali. Sejenak ia berdiri tegak memandang wajah pangeran itu, menahan isak
dengan napas dihela panjang, kemudian berbalik yang terdengar seperti desis
seekor ular,
"Aku bisa mencinta bisa
pula membenci, bisa mendatangkan nikmat bisa pula mendatangkan derita! Kaukira
dapat menentang kehendakku? Kita sama lihat saja, akan datang saatnya engkau
bertekuk lutut di depanku, meratap mohon kasihan kepadaku!"
Setelah berkata demikian,
Suminten keluar dari kamar tahanan itu. Pangeran Panji Sigit sejenak termenung,
kemudian menghela napas dan duduk di atas pembaringan. Ia mendengar suara
Suminten di luar kamar, agaknya bercakap-cakap dengan penjaga. Namun dia tidak
perduli.
"Akan tetapi, dua orang
muda itu, Pusporini dan Joko Pramono, memiliki kesaktian yang luar biasa!"
kata Ki Patih Warutama sambil mengerutkan keningnya yang tebal. Mereka sedang
berunding. Ki Patih Warutama, Suminten yang duduk di kursi paling tinggi dengan
sikap seperti seorang ratu, Pangeran Kukutan dan di situ menghadap, pula Cekel
Wisangkoro dan dua orang tokoh sakti lainnya yang sudah kita kenal yaitu Ni
Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Biarpun tidak atau belum berani berkunjung
ke Jenggala secara berterang, namun kini tokoh-tokoh anak buah Wasi Bagaspati
dan Biku Janapati sudah seringkali secara diam-diam, berkunjung ke Jenggala,
bahkan telah diterima, sebagai sekutu oleh Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki
Patih Warutama yang merupakan tiga serangkai yang pada saat itu memegang
kendali Kerajaan Jenggala.
"Ha-ha-ha, hanya dua
orang bocah, mengapa begitu dikhawatirkan? Serahkan saja kepada Ki
Kolohangkoro, akan kutangkap mereka berdua dengan sebelah tanganku!" kata
Ki Kolohangkoro yang sudah biasa menyombongkan diri dan bersikap kasar kepada
siapa pun juga.
"Boleh jadi Ki
Kolohangkoro agak sombong, akan tetapi kurasa, kalau hanya dua orang pemuda itu
saja, tentu dia dapat mengalahkannya. Andaikata masih terlalu berat baginya, di
sini ada aku dan ada pula Kakang Cekel Wisangkoro. Selain itu di sini banyak
terdapat pengawal-pengawal yang cukup kuat, mengapa khawatir?" kata Ni
Dewi Nilamanik sambil mengerling tajam ke arah Ki Patih Warutama yang tampan
dan gagah itu.
Ki patih yang gagah itu
sekali ini tidak melayani lirikan wanita cantik yang mengandung tantangan bagi
kejantanannya. Dia mengerutkan alisnya dan berkata,
"Saya sama sekali tidak
hendak merendahkan kesaktian andika bertiga yang sudah saya ketahui dengan
baik. Akan tetapi, saya telah menyaksikan pula malam tadi ketika Pusporini dan
Joko Pramono dikeroyok oleh barisan pengawal pilihan. Sepak terjang mereka
hebat bukan main dan .....dan agaknya ....saya sendiri belum tentu dapat
menandingi mereka. Memang kalau andika bertiga yang maju, saya tidak perlu khawatir
lagi, hanya .....ah, andaikata kami bisa mendapat kunjungan Paman Wasi
Bagaspati sendiri atau Paman Biku Janapati, barulah hati saya akan menjadi lega
karena yakin bahwa hanya beliau-beliau itulah yang akan dapat menundukkan
mereka berdua tanpa ragu lagi."
Ni Dewi Nilamanik juga
mengerutkan alisnya yang menjelirit hitam akan tetapi bukan sewajarnya
melainkan buatan, kemudian ia berkata penuh penasaran,
"Mengapa Ki Patih
demikian berkecil hati? Sesungguhnya, kalau saya tidak salah ingat, saya dan Ki
Kolohangkoro pernah menghadapi dua orang muda yang bernama Joko Pramono dan
Pusporini itu, dan kami pernah menawan mereka dengan amat mudah!"
Ki Patih Warutama mengangkat
mukanya memandang dan tercengang.
"Benarkah itu?. Ah,
kalau memang sudah terbukti andika dapat mengalahkannya, itulah baik
sekali!" Ki Kolohangkoro yang ingatannya tidak setajam ingatan Ni Dewi
Nilamanik, dengan wajah bodoh bertanya,
"Bunda Dewi, yang
manakah mereka itu?"
"Ihh, apakah andika
tidak ingat lagi?" Ni Dewi Nilamanik mencela. Biarpun usia Ki Kolohangkoro
lebih tua dari Ni Dewi Nilamanik, akan tetapi ia selalu menyebut wanita cantik
genit itu "Ibunda Dewi", hal ini adalah karena pertama, Ni Dewi
Nilamanik adalah kekasih Wasi Bagaspati, dan kedua karena Ki Kolohangkoro menganggap
diri sendiri sebagai penitisan Sang Bathara Kala sedangkan Ni Dewi Nilamanik
dianggap sebagai penitisan Sang Bathari Durgo, maka ia menyebutnya Ibunda Dewi.
Raksasa yang menyeramkan itu menggeleng kepalanya sehingga rambutnya yang
panjang dan gimbal bergoyang-goyang.
"Sudah terlalu banyak
orang muda kita tangkap, mana bisa saya mengingat mereka satu-satu?"
"Hemm, ingatkah engkau
akan pertemuan kita dengan paman guruku, Paman Resi Mahesapati di dalam hutan
itu?"
Raksasa itu membelalakkan
matanya yang sudah lebar, lalu menyambar cawan berisi minuman tuwak yang
disediakan untuknya, menggelogok isinya sampai kosong, kemudian berkata,
"Ibunda maksudkan kakek
jambel yang membawa batok kelapa dan sapu lidi itu? Ihhh, tentu saja aku masih
ingat!" Raksasa itu menggerakkan pundaknya seperti orang kedinginan karena
ia merasa serem kalau teringat akan kakek itu.
"Nah, waktu itulah kita
menawan Joko Pramono dan Pusporini yang terpaksa kita tinggalkan karena
pertemuan kita dengan paman guru itu."
"Oh-oh, ha-ha-ha!
Mereka itu? Ah, mereka hanyalah bocah-bocah yang rupawan saja, biarlah kalau
mereka datang, akan kutangkap mereka!"
Ki Patih Warutama memandang
Ni Dewi Nilamanik dengan pandang mata penuh selidik.
"Jadi ketika itu mereka
ditolong oleh paman guru andika yang bernama Resi Mahesapati? Apakah paman guru
andika itu sakti mandraguna?"
"Paman guru Mahesapati?
Ihh, mengerikan sekali! Kesaktiannya seperti dewa! Kiranya setingkat dengan
kesaktian Sang Wasi Bagaspati sendiri!" jawab wanita itu. Ki Patih
Warutama mengangguk-angguk. Dia sudah menyaksikan kehebatan sepak terjang dua
orang muda itu dan dalam urusan ini dia tidak mau bersikap sembrono seperti Ki
Kolohangkoro yang memandang rendah semua urusan.
"Kalau begitu, siapa
tahu kalau mereka lalu menjadi murid kakek sakti itu,"
"Aihhh ...... Kalau
begitu.... memang mengkhawatirkan!” Ni Dewi Nilamanik berkata dan ketika
mendengar kemungkinan dua orang muda itu menjadi murid Resi Mahesapati yang
amat ditakutinya, Ki Kolohangkoro juga diam saja, tidak lagi berani membual.
Suminten yang tidak mengerti tentang kesaktian dan yang sejak tadi diam saja
mendengarkan para pembantunya berunding, tiba-tiba membuka mulut berkata,
"Mengadu kesaktian saja
memang meragukan, akan tetapi jika menggunakan siasat kurasa tidak akan sukar
menjatuhkan mereka, betapapun sakti mereka itu."
Semua mata
memandang dan dalam pandang mata Ni Dewi Nilamanik terbayang kekaguman. Wanita
ini sudah cukup berpengalaman, sudah banyak bertemu dengan pria atau wanita
yang bagaimana pun. Akan tetapi baru sekali ini ia kagum melihat seorang wanita
muda yang lemah tiada kesaktian namun dapat mengangkat dirinya secara
sedemikian hebatnya, dari seorang abdi sampai menjadi orang yang paling
berkuasa di Kerajaan Jenggala!
No comments:
Post a Comment