Perawan Lembah Wilis; Bagian 151


Kini, wanita muda ini sengaja mengumpulkan mereka untuk berunding menghadapi dua orang muda yang sakti degan sikap sedemikian dingin, penuh perhitungan, dan matang! Dibandingkan dengan kematangan wanita muda ini, akal dan pikiran seorang kakek seperti Ki Kolohangkoro tiada bedanya dengan seorang bocah saja! Suminten sengaja memanggil para pembantunya, langsung setelah ia keluar dari kamar tahanan, setelah gagal ia merayu Pangeran Panji Sigit. Kini, mendengar betapa orang-orang sakti ini seperti kehilangan akal mendengar kemungkinan bahwa dua orang muda lawan mereka itu benar-benar amat sakti dan murid Resi Mahesapati, dia menjadi hilang sabar.
"Kalau mereka datang, dan hal ini aku yakin pasti akan terjadi, mereka itu tentu bermaksud untuk membebaskan Pangeran Panji Sigit. Karena itu, kita bahkan sebaiknya menggunakan pangeran itu sebagal umpan. Di dalam penjara istana terdapat banyak alat-alat rahasia. Kalau kita tempatkan pangeran itu di dalam kamar yang sudah dipasangi perangkap, dan mereka datang, tentu akan mudah kita menangkap mereka tanpa mengerahkan banyak tenaga dan kerepotan lagi. Ada aku mendengar tentang kamar tahanan yang lantainya dapat menjebloskan penginjaknya ke dalam lubang di bawah tanah yang terbuat dari-pada baja, tanpa pintu dan jendela. Kalau kita menggunakan kamar itu ......... “
"Sayang hal itu tak mungkin dapat dilakukan karena adinda .... eh, si bedebah Panji Sigit itu pun tahu akan rahasia kamar tahanan itu sehingga kalau para temannya datang, dia tentu akan dapat dia tentu akan memperingatkan mereka," Pangeran Kukutan mencela. Suminten tersenyum mentertawakan pendapat Pangeran Kukutan ini. Ketika ia tersenyum dan giginya yang putih mengkilat terkena cahaya lampu, semua yang hadir di situ memandang kagum. Dalam senyum ini terkandung segala yang mengagumkan dari diri atau pribadi Suminten karena senyum ini membayangkan kecerdikan yang mengerikan di samping kekejaman, keberanian dan ketenangan yang tersembunyi di balik kecantikan dan kemanisan yang mempesonakan.
"Ah, Pangeran, mengapa kekurangan akal? Apa sukarnya membuat Pangeran Panji Sigit pingsan? Dalam keadaan pingsan dia dibaringkan dalam kamar itu bukankah itu merupakan umpan yang amat baik? Setelah mereka terjeblos ke dalam lubang jebakan, terkutung dalam ruangan di bawah tanah itu, tinggal terserah kepada kita tentang nasib mereka."
"Akan kuhujani anak panah! Eh, tidak, akan kusuruh kumpulkan seratus ekor ular berbisa dan kumasukkan ular-ular itu ke dalam ruangan di bawah itu!" Pangeran Kukutan berkata dengan geram.
Suminten menarik napas panjang.
"Hemm, amat tidak baik menurutkan hati panas. Hati boleh saja panas membara, akan tetapi kepala harus tetap dingin agar kita dapat menggunakan kepala untuk menciptakan buah pikiran yang tepat. Mereka itu adalah orang-orang muda yang amat berguna karena memiliki kesaktian, di samping itu, Pangeran Panji Sigit adalah seorang putera terkasih sang prabu, Setyaningsih dan Pusporini adalah adik-adik Endang Patibroto yang menjadi isteri Ki Patih Tejolaksono di Panjalu. Tidak baik kalau membunuh mereka begitu saja karena mereka itu adalah orang-orang yang berharga, orang- orang yang penting dan masih banyak kegunaannya bagi kita. Membunuh mereka begitu saja berarti menyia-nyiakan kegunaan mereka. Kita laksanakan lebih dulu pancingan sampai berhasil, setelah mereka berhasil terjebak baru dicari jalan yang tepat....”
"Saya amat kagum dan setuju dengan siasat itu. Harap paduka jangan khawatir, kalau mereka telah terjebak, saya mempunyai asap beracun untuk membuat mereka tak berdaya sehingga mudah ditawan," kata Ni Dewi Nilamanik.
Demikianlah, dengan rencana yang dikemukakan Suminten sebagai dasar, mereka dapat mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan siasat itu. Mudah saja bagi Ni Dewi Nilamanik untuk membikin pingsan Pangeran Panji Sigit yang selain kalah jauh kedigdayaannya, juga sudah tertawan dan dibelenggu sehingga tidak dapat melawan ketika asap beracun memabukkan disemprotkan ke mukanya. Pangeran ini roboh pingsan seperti orang tertidur dan sama sekali tidak tahu bahwa dia digotong ke dalam sebuah kamar tahanan, dibaringkan di atas sebuah pembaringan batu.

Malam hari itu juga, setelah berunding dan mendapat petunjuk-petunjuk dari Ki Wiraman, tiga orang muda perkasa, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono, menyelundup memasuki kota raja dengan niat menyerbu istana dan menolong Pangeran Panji Sigit yang masih tertinggal di istana. Malam itu gelap karena udara tertutup mendung. Tiga bayangan berkelebat gesit sekali, berhasil meloncati pagar tembok istana dan bagaikan tiga ekor burung saja, Joko Pramono, Pusporini, dan Setyaningsih sudah melayang turun ke dalam taman istana yang paling ujung. Mereka itu sama sekali tidak pernah menduga bahwa kedatangan mereka memang sudah diduga, bahkan telah direncanakan secara matang untuk menyambut mereka! Joko Pramono selalu bergerak di sebelah depan sebagai pelopor. Setyaningsih di tengah karena kalau dibuat perbandingan, di antara mereka bertiga, Setyaningsih yang paling lemah. Pusporini berada di belakang menjaga bahaya tiba-tiba. Mereka berindap-indap bergerak maju, menuju ke gedung tamu di mana Pangeran Panji Sigit selama ini tinggal bersama isterinya. Joko Pramono yang dapat bergerak seperti angin saja tanpa mengeluarkan suara telah mengintai jendela pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit, lalu menoleh dan memberi isyarat kepada Setyaningsih dan Pusporini agar jangan berisik. Mereka bertiga lalu berindap mengintai sinar jendela. Ternyata pondok yang tadinya menjadi tempat tinggal Pangeran Panji Sigit dan isterinya itu kini ditempati oleh Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Cekel Wisangkoro! Tiga orang sakti itu sedang duduk mengelilingi meja dan bercakap-cakap dengan asyiknya. Agaknya mereka itu sudah setengah mabuk karena di atas meja tersedia banyak minuman keras dan percakapan mereka sudah tidak karuan, tidak sopan sehingga Setyaningsih dan Pusporihiyang mendengarnya menjadi tersipu-sipu, merah mukanya dan gemas.
"Ha-ha-ha, lbunda Dewi. Kalau ingin mencari kepuasan malam ini, marilah kulayani! Jarang sekali Ibunda mengajak aku, dan aku tanggung Ibunda Dewi akan puas sekali!" kata Ki Kolohangkoro.
"Heh-heh, jangan percaya dia, Ni Dewi! Biarpun tubuhnya tinggi besar, akan tetapi hal ini bukan kesenangannya, mana bisa dia memberi kepuasan? Kesenangannya hanya makan bocah. Mari kulayani engkau, Ni Dewi. Aku peranakan Hindu aseli, dalam hal itu tidak kalah oleh guruku, Bapa Wasi sendiri, heh-heh!" kata Cekel Wisangkoro.
"Hushh, kalian jangan ribut-ribut. Bukan waktunya bersenang-senang. Bukankah kita ditugaskan menjaga datangnya musuh-musuh yang akan menolong Pangeran. Panji Sigit?"
Tiga orang muda di luar jendela yang tadinya merasa muak dan hendak pergi, kini mendengarkan dengan jantung berdebar.
"Aha! Panji Sigit sudah dikurung dalam kamar tahanan batu di ujung barat, selain terjaga kuat juga sudah kita pasangi alat-alat sehingga setiap usaha untuk menolongnya berarti malah membunuhnya. Perlu apa khawatir?" kata Ki Kolohangkoro dengan suara keras.
"Andaikata dapat membebaskannya, tak mungkin akan dapat lolos dari pengejaran kita. Hayolah, Ni Dewi, kaulayani aku .....sudah tiga tahun aku tidak berdekatan dengan wanita ... " kata pula Cekel Wisangkoro.
Tiga orang muda perkasa itu tidak mau mendengarkan lagi bahkan Joko Pramono sudah bergerak pergi meninggalkan pondok itu dibayangi oleh Setyaningsih dan Pusporini. Untung mereka mendengar percakapan itu sehingga mereka tidak perlu lagi mencari-cari. Pangeran Panji Sigit ditahan dalam kamar tahanan batu di ujung barat! Selama mereka berada di istana, mereka sudah melakukan penyelidikan, akan tetapi mereka hanya tahu akan letak perumahan yang disediakan untuk tahanan rahasia di lingkungan istana. Mereka tidak mungkin menyelidiki keadaan kamar-kamar tahanan itu satu demi satu, akan tetapi mereka tahu di mana letaknya kamar tahanan batu di ujung barat.
Malam sudah larut sekali, keadaan, sudah sunyi tanda bahwa semua penghuni istana sudah tidur. Hanya sekali dua terdengar suara penjaga malam yang meronda. Joko Pramono dan Pusporini, dibantu pula oleh Setyaningsih, bersedakap di luar bangunan tahanan di ujung barat, mengheningkan cipta dan mengerahkan aji penyirepan. Dalam waktu yang tidak lama, keadaan di situ menjadi makin sunyi karena belasan orang penjaga yang bertugas menjaga di luar bangunan itu telah jatuh pulas semua, terpengaruh oleh aji panyirepan yang amat kuat.
Tiga orang muda perkasa itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa aji panyirepan mereka tidak dapat mempengaruhi beberapa orang yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya, tiga orang sakti yang bukan lain adalah mereka yang tadi bercakap-cakap di dalam pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit! Mereka ini, Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro, telah lebih dulu memasang aji penolak sirep dan merekalah yang menjaga kamar tahanan siap untuk menggerakkan alat rahasia yang terpasang di lantai kamar!

Setelah keadaan menjadi sunyi dan merasa yakin bahwa semua penjaga telah pulas, Joko Pramono berbisik kepada Pusporini dan Setyaningsih,
"Andika berdua menjaga di luar sini, biarkan saya sendiri menyelidiki ke dalam."
Pusporini mengangguk, Memang sebaiknya demikian. Merurut apa yang mereka dengarkan dalam percakapan antara tiga orang tokoh sakti tadi, tempat tahanan ini dipasangi alat-alat rahasia yang amat berbahaya. Jika mereka semua masuk, sekali terjebak, mereka semua akan celaka. Kalau hanya seorang; andaikata terjadi sesuatu, yang berada di luar dapat saja sewaktu-waktu menolong. Sebaliknya, jika ada bahaya yang datangnya dari luar, dia dapat menyambutnya untuk melindungi Joko Pramono yang bertugas di dalam.
Akan tetapi Setyaningsih membantah,
"Saya akan ikut masuk mencari Kakangmas Pangeran .... “
"Harap Ayunda suka menjaga saja di luar bersama Pusporini," kata Joko Pramono.
"Bergerak seorang diri di dalam akan lebih leluasa, pula kita belum tahu bahaya apa yang mengancam di dalam."
"Betul, Ayunda. Tugasnya sudah amat berat, dan dia harus dapat menemukan dan membebaskan Rakanda Pangeran. Kita sudah mendengar tadi akan percakapan mereka. Di dalam banyak terdapat alat-alat rahasia yang berbahaya. Pula, keadaan di luar sini tidak kurang pantingnya. Kalau ada musuh-musuh sakti menyerbu, Ayunda dapat membantuku menghadapi mereka." Setyaningsih terdesak dan terpaksa menyerah sungguhpun hatinya sudah ingin sekali bertemu dengan suaminya yang tercinta. Setyaningsih tidak membantah lagi, mulailah Joko Pramono memasuki bangunan besar yang dijadikan tempat tahanan itu. Dengan tenaga saktinya, mudah saja Joko Pramono mendorong pintu gerbang terbuka dan ia merasa lega ketika melihat empat orang penjaga menggeletak di balik pintu gerbang dalam keadaan pulas. Untuk mencegah kalau-kalau ada musuh datang dari luar dan melihat pintu gerbang terbuka, ia menutupkan lagi daun pintu gerbang sehingga kini Setyaningsih dan Pusporini yang berada dl luar tidak dapat melihatnya, lagi. Joko Pramono melangkah maju terus dengan hati-hati sekali, matanya memandang ke depan dan kanan-kiri. Untung baginya bahwa bangunan itu cukup terang mendapat cahaya lampu-lampu gantung yang cukup banyak di tempat itu, Pintu ke dua merupakan pintu dari baja, akan tetapi ketika ia mendorongnya, ternyata pintu itu tidak terpalang hanya ditutupkan saja, maka mudah terbuka. Ketika ia melihat para penjaga malang-melintang tidur pulas di bawah pengaruh aji penyirepannya tadi. Banyak sekali penjaga di sebelah dalam ini, ada belasan orang. Di antara mereka terdapat seorang kakek tinggi besar yang bersandar dinding, suara dengkurnya keras seperti macan menggereng. Joko Pramono maklum bahwa penjaga yang seorang ini bukanlah sembarang penjaga, tentu setidak-tidaknya kepala penjaga. Tubuh penjaga ini kuat sekali tampaknya, bahkan menyeramkan. Akan tetapi karena panjaga ini pun pulas, ia tidak memperhatikannya lagi dan melangkah maju terus. Di depan terdapat ruangan yang luas, lantainya dari papan tebal. Ia berlaku hati-hati, tidak segera meloncat maju, melainkan mencoba lantai papan itu dengan cara menekan-nekannya dengan sebelah kakinya. Ia khawatir kalau-kalau lantai, itu dapat bergerak. Akan tetapi lantai itu kokoh kuat dan Joko Pramono melangkah terus, matanya mencari-cari bagian mana kiranya yang akan dimasukinya untuk mencari Pangeran Panji Sigit. Ia telah tiba di tengahtengah ruangan itu.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa di sebelah belakangnya dan ketika secepat kilat ia membalikkan tubuh, kiranya penjaga yang tinggi besar seperti raksasa itu telah berdiri di depannya! Kini tampak jelas betapa penjaga yang tua ini tubuhnya benar mengejutkan, seperti raksasa. Telinganya dihias anting-anting dan tangan kanannya memegang sebuah senjata nenggala, tombak kecil yang runcing kedua ujungnya, dipegang di tengah-tengah. Melihat keadaan kakek ini, terkejutlah hati Joko Pramono karena ia segera mengenalnya. Inilah Ki Kolohangkoro! Pernah ia bersama Pusporini menghadapi kakek ini dan Ni Dewi Nilamanik, bahkan akhirnya dia ditawan Ni Dewi Nilamanik sedangkan Pusporini ditawan kakek ini. Untung dia dan Pusporini tertolong oleh guru mereka, Resi Mahesapati!

<<< Bagian 150                                                                                     Bagian 152 >>>

No comments:

Post a Comment