Kini, wanita muda ini sengaja mengumpulkan mereka untuk berunding menghadapi dua orang muda yang sakti degan sikap sedemikian dingin, penuh perhitungan, dan matang! Dibandingkan dengan kematangan wanita muda ini, akal dan pikiran seorang kakek seperti Ki Kolohangkoro tiada bedanya dengan seorang bocah saja! Suminten sengaja memanggil para pembantunya, langsung setelah ia keluar dari kamar tahanan, setelah gagal ia merayu Pangeran Panji Sigit. Kini, mendengar betapa orang-orang sakti ini seperti kehilangan akal mendengar kemungkinan bahwa dua orang muda lawan mereka itu benar-benar amat sakti dan murid Resi Mahesapati, dia menjadi hilang sabar.
"Kalau mereka datang,
dan hal ini aku yakin pasti akan terjadi, mereka itu tentu bermaksud untuk
membebaskan Pangeran Panji Sigit. Karena itu, kita bahkan sebaiknya menggunakan
pangeran itu sebagal umpan. Di dalam penjara istana terdapat banyak alat-alat
rahasia. Kalau kita tempatkan pangeran itu di dalam kamar yang sudah dipasangi
perangkap, dan mereka datang, tentu akan mudah kita menangkap mereka tanpa
mengerahkan banyak tenaga dan kerepotan lagi. Ada aku mendengar tentang kamar
tahanan yang lantainya dapat menjebloskan penginjaknya ke dalam lubang di bawah
tanah yang terbuat dari-pada baja, tanpa pintu dan jendela. Kalau kita
menggunakan kamar itu ......... “
"Sayang hal itu tak
mungkin dapat dilakukan karena adinda .... eh, si bedebah Panji Sigit itu pun
tahu akan rahasia kamar tahanan itu sehingga kalau para temannya datang, dia tentu
akan dapat dia tentu akan memperingatkan mereka," Pangeran Kukutan
mencela. Suminten tersenyum mentertawakan pendapat Pangeran Kukutan ini. Ketika
ia tersenyum dan giginya yang putih mengkilat terkena cahaya lampu, semua yang
hadir di situ memandang kagum. Dalam senyum ini terkandung segala yang
mengagumkan dari diri atau pribadi Suminten karena senyum ini membayangkan
kecerdikan yang mengerikan di samping kekejaman, keberanian dan ketenangan yang
tersembunyi di balik kecantikan dan kemanisan yang mempesonakan.
"Ah, Pangeran, mengapa
kekurangan akal? Apa sukarnya membuat Pangeran Panji Sigit pingsan? Dalam
keadaan pingsan dia dibaringkan dalam kamar itu bukankah itu merupakan umpan
yang amat baik? Setelah mereka terjeblos ke dalam lubang jebakan, terkutung
dalam ruangan di bawah tanah itu, tinggal terserah kepada kita tentang nasib
mereka."
"Akan kuhujani anak
panah! Eh, tidak, akan kusuruh kumpulkan seratus ekor ular berbisa dan
kumasukkan ular-ular itu ke dalam ruangan di bawah itu!" Pangeran Kukutan
berkata dengan geram.
Suminten menarik napas
panjang.
"Hemm, amat tidak baik
menurutkan hati panas. Hati boleh saja panas membara, akan tetapi kepala harus
tetap dingin agar kita dapat menggunakan kepala untuk menciptakan buah pikiran
yang tepat. Mereka itu adalah orang-orang muda yang amat berguna karena
memiliki kesaktian, di samping itu, Pangeran Panji Sigit adalah seorang putera
terkasih sang prabu, Setyaningsih dan Pusporini adalah adik-adik Endang
Patibroto yang menjadi isteri Ki Patih Tejolaksono di Panjalu. Tidak baik kalau
membunuh mereka begitu saja karena mereka itu adalah orang-orang yang berharga,
orang- orang yang penting dan masih banyak kegunaannya bagi kita. Membunuh
mereka begitu saja berarti menyia-nyiakan kegunaan mereka. Kita laksanakan lebih
dulu pancingan sampai berhasil, setelah mereka berhasil terjebak baru dicari
jalan yang tepat....”
"Saya amat kagum dan
setuju dengan siasat itu. Harap paduka jangan khawatir, kalau mereka telah
terjebak, saya mempunyai asap beracun untuk membuat mereka tak berdaya sehingga
mudah ditawan," kata Ni Dewi Nilamanik.
Demikianlah, dengan rencana
yang dikemukakan Suminten sebagai dasar, mereka dapat mempersiapkan segala
sesuatu untuk melaksanakan siasat itu. Mudah saja bagi Ni Dewi Nilamanik untuk
membikin pingsan Pangeran Panji Sigit yang selain kalah jauh kedigdayaannya,
juga sudah tertawan dan dibelenggu sehingga tidak dapat melawan ketika asap
beracun memabukkan disemprotkan ke mukanya. Pangeran ini roboh pingsan seperti
orang tertidur dan sama sekali tidak tahu bahwa dia digotong ke dalam sebuah
kamar tahanan, dibaringkan di atas sebuah pembaringan batu.
Malam hari itu juga, setelah
berunding dan mendapat petunjuk-petunjuk dari Ki Wiraman, tiga orang muda
perkasa, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono, menyelundup memasuki kota
raja dengan niat menyerbu istana dan menolong Pangeran Panji Sigit yang masih
tertinggal di istana. Malam itu gelap karena udara tertutup mendung. Tiga
bayangan berkelebat gesit sekali, berhasil meloncati pagar tembok istana dan
bagaikan tiga ekor burung saja, Joko Pramono, Pusporini, dan Setyaningsih sudah
melayang turun ke dalam taman istana yang paling ujung. Mereka itu sama sekali
tidak pernah menduga bahwa kedatangan mereka memang sudah diduga, bahkan telah
direncanakan secara matang untuk menyambut mereka! Joko Pramono selalu bergerak
di sebelah depan sebagai pelopor. Setyaningsih di tengah karena kalau dibuat
perbandingan, di antara mereka bertiga, Setyaningsih yang paling lemah.
Pusporini berada di belakang menjaga bahaya tiba-tiba. Mereka berindap-indap
bergerak maju, menuju ke gedung tamu di mana Pangeran Panji Sigit selama ini
tinggal bersama isterinya. Joko Pramono yang dapat bergerak seperti angin saja
tanpa mengeluarkan suara telah mengintai jendela pondok tempat tinggal Pangeran
Panji Sigit, lalu menoleh dan memberi isyarat kepada Setyaningsih dan Pusporini
agar jangan berisik. Mereka bertiga lalu berindap mengintai sinar jendela.
Ternyata pondok yang tadinya menjadi tempat tinggal Pangeran Panji Sigit dan
isterinya itu kini ditempati oleh Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Cekel
Wisangkoro! Tiga orang sakti itu sedang duduk mengelilingi meja dan
bercakap-cakap dengan asyiknya. Agaknya mereka itu sudah setengah mabuk karena
di atas meja tersedia banyak minuman keras dan percakapan mereka sudah tidak
karuan, tidak sopan sehingga Setyaningsih dan Pusporihiyang mendengarnya
menjadi tersipu-sipu, merah mukanya dan gemas.
"Ha-ha-ha, lbunda Dewi.
Kalau ingin mencari kepuasan malam ini, marilah kulayani! Jarang sekali Ibunda
mengajak aku, dan aku tanggung Ibunda Dewi akan puas sekali!" kata Ki
Kolohangkoro.
"Heh-heh, jangan
percaya dia, Ni Dewi! Biarpun tubuhnya tinggi besar, akan tetapi hal ini bukan
kesenangannya, mana bisa dia memberi kepuasan? Kesenangannya hanya makan bocah.
Mari kulayani engkau, Ni Dewi. Aku peranakan Hindu aseli, dalam hal itu tidak
kalah oleh guruku, Bapa Wasi sendiri, heh-heh!" kata Cekel Wisangkoro.
"Hushh, kalian jangan
ribut-ribut. Bukan waktunya bersenang-senang. Bukankah kita ditugaskan menjaga
datangnya musuh-musuh yang akan menolong Pangeran. Panji Sigit?"
Tiga orang muda di luar
jendela yang tadinya merasa muak dan hendak pergi, kini mendengarkan dengan
jantung berdebar.
"Aha! Panji Sigit sudah
dikurung dalam kamar tahanan batu di ujung barat, selain terjaga kuat juga
sudah kita pasangi alat-alat sehingga setiap usaha untuk menolongnya berarti
malah membunuhnya. Perlu apa khawatir?" kata Ki Kolohangkoro dengan suara
keras.
"Andaikata dapat
membebaskannya, tak mungkin akan dapat lolos dari pengejaran kita. Hayolah, Ni
Dewi, kaulayani aku .....sudah tiga tahun aku tidak berdekatan dengan wanita
... " kata pula Cekel Wisangkoro.
Tiga orang muda perkasa itu
tidak mau mendengarkan lagi bahkan Joko Pramono sudah bergerak pergi
meninggalkan pondok itu dibayangi oleh Setyaningsih dan Pusporini. Untung
mereka mendengar percakapan itu sehingga mereka tidak perlu lagi mencari-cari.
Pangeran Panji Sigit ditahan dalam kamar tahanan batu di ujung barat! Selama
mereka berada di istana, mereka sudah melakukan penyelidikan, akan tetapi
mereka hanya tahu akan letak perumahan yang disediakan untuk tahanan rahasia di
lingkungan istana. Mereka tidak mungkin menyelidiki keadaan kamar-kamar tahanan
itu satu demi satu, akan tetapi mereka tahu di mana letaknya kamar tahanan batu
di ujung barat.
Malam sudah larut sekali,
keadaan, sudah sunyi tanda bahwa semua penghuni istana sudah tidur. Hanya
sekali dua terdengar suara penjaga malam yang meronda. Joko Pramono dan
Pusporini, dibantu pula oleh Setyaningsih, bersedakap di luar bangunan tahanan
di ujung barat, mengheningkan cipta dan mengerahkan aji penyirepan. Dalam waktu
yang tidak lama, keadaan di situ menjadi makin sunyi karena belasan orang
penjaga yang bertugas menjaga di luar bangunan itu telah jatuh pulas semua, terpengaruh
oleh aji panyirepan yang amat kuat.
Tiga orang muda perkasa itu
sama sekali tidak pernah menyangka bahwa aji panyirepan mereka tidak dapat
mempengaruhi beberapa orang yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya, tiga
orang sakti yang bukan lain adalah mereka yang tadi bercakap-cakap di dalam
pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit! Mereka ini, Cekel Wisangkoro, Ni
Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro, telah lebih dulu memasang aji penolak
sirep dan merekalah yang menjaga kamar tahanan siap untuk menggerakkan alat
rahasia yang terpasang di lantai kamar!
Setelah keadaan menjadi
sunyi dan merasa yakin bahwa semua penjaga telah pulas, Joko Pramono berbisik
kepada Pusporini dan Setyaningsih,
"Andika berdua menjaga
di luar sini, biarkan saya sendiri menyelidiki ke dalam."
Pusporini mengangguk, Memang
sebaiknya demikian. Merurut apa yang mereka dengarkan dalam percakapan antara
tiga orang tokoh sakti tadi, tempat tahanan ini dipasangi alat-alat rahasia
yang amat berbahaya. Jika mereka semua masuk, sekali terjebak, mereka semua
akan celaka. Kalau hanya seorang; andaikata terjadi sesuatu, yang berada di
luar dapat saja sewaktu-waktu menolong. Sebaliknya, jika ada bahaya yang
datangnya dari luar, dia dapat menyambutnya untuk melindungi Joko Pramono yang
bertugas di dalam.
Akan tetapi Setyaningsih
membantah,
"Saya akan ikut masuk
mencari Kakangmas Pangeran .... “
"Harap Ayunda suka
menjaga saja di luar bersama Pusporini," kata Joko Pramono.
"Bergerak seorang diri
di dalam akan lebih leluasa, pula kita belum tahu bahaya apa yang mengancam di
dalam."
"Betul, Ayunda.
Tugasnya sudah amat berat, dan dia harus dapat menemukan dan membebaskan
Rakanda Pangeran. Kita sudah mendengar tadi akan percakapan mereka. Di dalam
banyak terdapat alat-alat rahasia yang berbahaya. Pula, keadaan di luar sini
tidak kurang pantingnya. Kalau ada musuh-musuh sakti menyerbu, Ayunda dapat
membantuku menghadapi mereka." Setyaningsih terdesak dan terpaksa menyerah
sungguhpun hatinya sudah ingin sekali bertemu dengan suaminya yang tercinta.
Setyaningsih tidak membantah lagi, mulailah Joko Pramono memasuki bangunan
besar yang dijadikan tempat tahanan itu. Dengan tenaga saktinya, mudah saja
Joko Pramono mendorong pintu gerbang terbuka dan ia merasa lega ketika melihat
empat orang penjaga menggeletak di balik pintu gerbang dalam keadaan pulas.
Untuk mencegah kalau-kalau ada musuh datang dari luar dan melihat pintu gerbang
terbuka, ia menutupkan lagi daun pintu gerbang sehingga kini Setyaningsih dan
Pusporini yang berada dl luar tidak dapat melihatnya, lagi. Joko Pramono
melangkah maju terus dengan hati-hati sekali, matanya memandang ke depan dan
kanan-kiri. Untung baginya bahwa bangunan itu cukup terang mendapat cahaya
lampu-lampu gantung yang cukup banyak di tempat itu, Pintu ke dua merupakan
pintu dari baja, akan tetapi ketika ia mendorongnya, ternyata pintu itu tidak
terpalang hanya ditutupkan saja, maka mudah terbuka. Ketika ia melihat para
penjaga malang-melintang tidur pulas di bawah pengaruh aji penyirepannya tadi.
Banyak sekali penjaga di sebelah dalam ini, ada belasan orang. Di antara mereka
terdapat seorang kakek tinggi besar yang bersandar dinding, suara dengkurnya
keras seperti macan menggereng. Joko Pramono maklum bahwa penjaga yang seorang
ini bukanlah sembarang penjaga, tentu setidak-tidaknya kepala penjaga. Tubuh
penjaga ini kuat sekali tampaknya, bahkan menyeramkan. Akan tetapi karena
panjaga ini pun pulas, ia tidak memperhatikannya lagi dan melangkah maju terus.
Di depan terdapat ruangan yang luas, lantainya dari papan tebal. Ia berlaku
hati-hati, tidak segera meloncat maju, melainkan mencoba lantai papan itu
dengan cara menekan-nekannya dengan sebelah kakinya. Ia khawatir kalau-kalau
lantai, itu dapat bergerak. Akan tetapi lantai itu kokoh kuat dan Joko Pramono
melangkah terus, matanya mencari-cari bagian mana kiranya yang akan dimasukinya
untuk mencari Pangeran Panji Sigit. Ia telah tiba di tengahtengah ruangan itu.
Tiba-tiba terdengar suara
ketawa di sebelah belakangnya dan ketika secepat kilat ia membalikkan tubuh,
kiranya penjaga yang tinggi besar seperti raksasa itu telah berdiri di
depannya! Kini tampak jelas betapa penjaga yang tua ini tubuhnya benar
mengejutkan, seperti raksasa. Telinganya dihias anting-anting dan tangan
kanannya memegang sebuah senjata nenggala, tombak kecil yang runcing kedua
ujungnya, dipegang di tengah-tengah. Melihat keadaan kakek ini, terkejutlah
hati Joko Pramono karena ia segera mengenalnya. Inilah Ki Kolohangkoro! Pernah
ia bersama Pusporini menghadapi kakek ini dan Ni Dewi Nilamanik, bahkan
akhirnya dia ditawan Ni Dewi Nilamanik sedangkan Pusporini ditawan kakek ini.
Untung dia dan Pusporini tertolong oleh guru mereka, Resi Mahesapati!
No comments:
Post a Comment