Perawan Lembah Wilis; Bagian 152


"Ah, kiranya andika menjadi seorang di antara tikus-tikus yang menggerogoti Kerajaan Jenggala, Ki Kolohangkoro!"
Joko Pramono berkata tenang dan ia bersiap-siap dengan penuh kewaspadaan karena maklum bahwa lawan ini bukanlah seorang yang lemah.
"Ha-ha-ha-ha! Engkau Joko Pramono? Apakah yang engkau andalkan maka berani memasuki sarang harimau? Hendak membebaskan Pangeran Panji Sigit? Ha-ha-ha, jangan mimpi, orang muda. Lebih baik menyerah sebelum nenggalaku yang sudah lama tidak mencium darah ini menggelogok darahmu!"
"Manusia raksasa seperti engkau berhati iblis! Jangan mengira akan mudah mengalahkan Joko Pramono seperti lima tahun yang lalu. Sambutlah ini!" Joko Pramono cepat menerjang maju dengan pukulan kepalan kanannya.
Dahsyat sekali gerakannya akan tetapi sambil tertawa Ki Kolohangkoro menggerakkan nenggalanya menyambut terjangan pemuda itu dengan terjangan balasan, yaitu ia menusukkan nenggalanya ke arah dada Joko Pramono. "Plakk!" Dengan gerakan indah, Joko Pramono sudah membuka kepalannya tadi, merubah pukulan menjadi gerakan tangan terbuka melingkar dari kiri ke kanan, diputar sedemikian rupa sehingga ia berhasil menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang nenggala itu dari samping. Sedetik dua tenaga raksasa bertemu, saling betot, dan tiba-tiba Joko Pramono berseru keras dan menyendal tangan lawan itu dengan gentakan kuat sekali sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tubuh raksasa itu kehilangan keseimbangan, kuda-kudanya tergempur dan tubuhnya terbanting ke kanan. Hal ini amat mengejutkan hati Ki Kolohangkoro. Hampir ia tidak percaya bahwa pemuda yang lima tahun lalu masih amat lemah dan hanya memiliki kepandaian yang tidak ada artinya, kini dapat memiliki tenaga sakti yang sedemikian kuatnya sehingga hampir-hampir ia tidak kuat menahan nenggalanya. Untung ia masih dapat mempertahankan senjatanya itu sehingga tidak terampas biarpun tubuhnya hampir terbanting roboh.
"Babo-babo, kiranya engkau telah memperoleh kemajuan yang lumayan. Makanlah senjataku!" Raksasa itu menerjang lagi, kini lebih hebat dengan memutar pergelangan tangannya sehingga nenggala itu berputar seperti kitiran, mendatangkan angin dan mengeluarkan suara berdesing. Hebat memang Ki Kolohangkoro yang memiliki tenaga gajah, sedangkan senjata nenggala di tangannya itu pun merupakan sebuah nenggala yang amat ampuh. Akan tetapi Joko Pramono sekarang sama sekali berbeda dengan Joko Pramono lima tahun yang lalu. Setelah mendapatkan gemblengan dari Resi Mahesapati yang sakti mandraguna, kedigdayaannya menjadi berlipat ganda dan kini menghadapi tendangan Ki Kolohangkoro itu, ia dapat melihat dengan jelas gerakan lawan sehingga dapat dengan mudah pula mengelak ke kiri, secepat kilat kakinya menyambar dari samping ke arah lambung lawan. Andaikata tadi Ki Kolohangkoro belum merasakan betapa kuatnya pemuda ini tentu dengan memandang rendah ia berani menerima tendangannya itu karena ia dapat mengandalkan kekebalannya yang akan melindungi lambungnya. Akan tetapi ia tahu bahwa tendangan pemuda sekuat itu tenaga saktinya, apalagi yang ditujukan ke arah lambung, amatlah berbahaya. Maka ia lalu memutar pergelangan tangan, membuat nenggala yang luput sasaran tadi membalik ke kanan untuk memapaki kaki lawannya dengan senjatanya yang ampuh ini. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika melihat perkembangan selanjutnya. Ternyata kaki itu tidak dilanjutkan menendang lambung, melainkan meluncur ke bawah dan menendang ke arah lututnya! Ki Kolohangkoro berusaha untuk meloncat agar terhindar dari tendangan yang dapat membuat sambungan lututnya terlepas itu, akan tetapi masih kurang cepat sehingga kakinya masih tercium tendangan lawan, mengenai betisnya sehingga kuda-kudanya tergempur dan ia roboh terguling!

Biarpun merasa amat kaget, namun Ki Kolohangkoro adalah seorang yang sudah banyak pengalamannya dalam pertempuran, maka ia cepat menggerakkan tubuhnya bergulingan sehingga Joko Pramono yang sudah datang menerjang dengan tendangan susulan itu tidak berhasil. Cepat sekali Ki Kolohangkoro bergulingan lalu meloncat dan menghilang melalui sebuah pintu ruangan itu. Joko Pramono yang ingin mencari di mana adanya kamar tahanan Pangeran Panji Sigit, cepat meloncat pula mengejar. Dia berada di ruangan lain yang dindingnya berwarna hijau, akan tetapi tidak melihat bayangan Ki Kolohangkoro yang telah lenyap entah lari ke mana. Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya maju ke ruangan hijau yang kosong itu, siap menjaga kalau-kalau ada serangan lawan atau kalau-kalau ada jebakan rahasia. Ruangan itu kosong dan sunyi. Hanya terdapat sebuah pintu kecil di sebelah kanan ruangan. Karena itu, tentu dari pintu itulah larinya Ki Kolohangkoro. Joko Pramono menghampiri pintu, tidak sembrono melainkan dengan hati-hati sekali ia mendorong daun pintu sambil menyelinap untuk menjaga kalau-kalau ada senjata rahasia menyambutnya. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu dan kini daun pintu terbuka lebar, selebar mata Joko Pramono yang memandang terbelalak ke dalam ruangan ke tiga ini. Ruangan di balik pintu itu berwarna merah muda dan di ujungnya terdapat sebuah pembaringan di mana tampak Pangeran Panji Sigit rebah terlentang tak bergerak, entah tidur ataukah pingsan. Dan di pinggir pembaringan, membelakanginya, duduk bersimpuh seorang wanita yang mengelus-elus rambut kepala pangeran itu dengan jari-jari tangan mesra. Dari belakang tampak bahwa wanita itu adalah Suminten.
Melihat ini, bangkit kemarahan Joko Pramono. Wanita iblis itulah yang menjadi biang keladi semua peristiwa yang terjadi. Wanita itulah yang mengatur siasat mengadu domba sehingga hampir saja Pusporini membunuhnya. Kebetulan sekali ia mendapatkan wanita itu di situ. Ia dapat membebaskan Pangeran Panji Sigit dan sekalian menangkap wanita itu. Ia dapat menangkap Suminten. Kalau wanita ini ditangkap dan diseret ke Panjalu, tentu akan hancur persekutuan jahat yang mencengkeram Jenggala.
"Perempuan iblis!" bentaknya dan tubuhnya sudah meloncat ke dalam ruangan itu, siap untuk menangkap Suminten. Ia maklum bahwa yang terpenting menawan wanita ini karena hal itu akan dapat dipergunakan untuk perisai dan untuk memaksa kaki tangan Suminten memberi kebebasan kepada Pangeran Panji Sigit.
"Wirrrr .... tar-tar .... hi-hihik!"
Joko Pramono mengeluarkan suara tertahan dan cepat sekali membalikkan tubuh berjungkir balik menghindar diri dari sambaran pengebut lalat berwarna merah yang digerakkan oleh wanita itu yang kini telah membalikkan tubuh. Ia terluput dari serangan maut dan kini berdiri di tengah ruangan, memandang wanita yang disangkanya Suminten itu, akan tetapi yang ternyata adalah Ni Dewi Nilamanik yang dahulu pernah menawannya! Yang disangkanya Suminten adalah wanita iblis itu yang agaknya sengaja menyamar sebagai Suminten dan karena wanita yang usianya sudah empat puluh tahun lebih ini memang masih cantik dan bertubuh ramping, maka dari belakang tidak jauh bedanya dengan Suminten.
"Ah, kiranya andika juga berada di sini? Kalau begitu lengkaplah sudah. Jenggala, tepat di dalam istananya, dijadikan sarang sekumpulan iblis bertubuh manusia!" Joko Pramono berseru marah.
"Hi-hi-hik, bocah bagus, engkau terlalu sombong!"
"Ha-ha-ha, kematian sudah di depan mata!" Terdengar suara Ki Kolohangkoro dari belakangnya. Joko Pramono cepat membalik dan ternyata raksasa itu kini sudah berdiri di ambang pintu, di belakangnya. Joko Pramono tidak menjadi gentar menghadapi dua orang musuh lama ini. Ia hanya cemas melihat keadaan Pangeran Panji Sigit yang rebah tak bergerak, agaknya pingsan karena pangeran itu sama sekali tidak terganggu oleh keributan di situ. Seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang dan siap untuk mengadu kesaktian melawan dua orang manusia iblisitu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berderit keras di atas kepalanya. Karena mengira bahwa tentu ada alat rahasia yang akan menyambarnya dari atas, Joko Pramono memandang ke atas dan sebagian besar perhatiannya tertuju ke langit-langit ruangan itu. Dan memang inilah yang dikehendaki oleh ahli pembuat alat rahasia di tempat tahanan istana Jenggala itu. Begitu orang mengarahkan perhatiannya ke atas, tentu saja perhatiannya ke bawah berkurang dan tiba-tiba lantai yang diinjak Joko Pramono terkuat ke bawah! Pemuda itu terkejut sekali, namun terlambat. Tubuhnya sudah meluncur ke bawah dan lantai yang tadi terkuak ke bawah, itu telah menutup kembali diiringi suara tertawa Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik.

Joko Pramono maklum bahwa la telah terjebak. Akan tetapi sebagai seorang satria perkasa, ia pantang menyerah terhadap keadaan. Ia mengerahkan hawa saktinya sehingga biarpun tubuhnya meluncur ke bawah, namun ia masih menguasai dirinya dan tidak akan terbanting ke dasar sumur itu. Begitu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya sudah bergerak seperti per sehingga daya luncuran tertahan dan sekali meloncat ia telah mematahkan daya luncuran tadi. Ia berdiri di tengah ruangan di bawah tanah itu dan memaksa matanya untuk menembus kegelapan di situ. Akan tetapi keadaan gelap pekat, tidak tampak sesuatu sehingga akhirnya Joko Pramono terpaksa harus menggunakan kaki tangannya untuk meraba-raba. Kiranya ia telah terkurung oleh dinding yang kuat dan yang bentuknya bundar. Tidak ada pintu maupun jendelanya, sedangkan ketika ia menengadah, lantai jebakan yang kini menjadi langit-langit itu tidak tampak, hanya gelap dan hitam saja yang membayang di matanya. Betapapun juga, Joko Pramono tidak menjadi putus asa menghadapi kenyataan bahwa dirinya benar-benar terancam bahaya maut ini. Ia melakukan hal yang terpenting, yaitu duduk bersila di tengah-tengah ruangan gelap itu untuk mengumpulkan tenaga sakti dan menenangkan pikirannya. Ia maklum bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya harus diterima dalam keadaan tenang dan wajar, karena hanya ketenangan jiwanya sajalah yang akan mampu membuat ia kuat menghadapi segala kepahitan dan kemudian mengatasinya dengan langkah- langkah yang tepat. Teringatlah pemuda ini kepada sebuah di antara wejangan-wejangan Resi Mahesapati yang pada saat itu terngiang di telinganya.
"Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, yang menimpa dirimu, adalah sesuai dengan hukum yang ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita harus dapat menerimanya sebagai suatu kewajaran dan bersandarkan kesabaran dan ketenangan, kita harus berani memandang ke depan. Segala macam peristiwa yang menimpa diri kita, apabila sudah dikehendaki demikian oleh Sang Jagad Nata (Pengatur Dunia) takkan dapat dihindarkan oleh manusia, betapapun saktinya manusia itu. Maka, jalan satu-satunya bagi manusia mahluk lemah ini hanyalah bersandar kepada Hyang Widi Wisesa dengan penuh ketulusan hati, dengan penuh pasrah namun tidak melepaskan segala ikhtiar yang menjadi kewajiban manusia yang telah diberi perlengkapan sempurna untuk kewajiban itu."
Joko Pramono tekun mengheningkan cipta dan ia menanti datangnya kesempatan baik untuk menolong dirinya sendiri. Dia tidak takut, tidak gentar karena dia telah menyandarkan dirinya kepada kekuasaan Dewa, sehingga andaikata kematian akan menjemputnya sekalipun, ia tidak merasa gentar karena maklum bahwa semua itu sudah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa.
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti desis ular. Joko Pramono bangkit berdiri, bersikap tenang waspada, bersiap-siap menghadapi hal yang seburuknya, tenaga sakti telah menjalar ke arah kedua lengannya. Akan tetapi tiba-tiba ia terbatuk karena mencium bau yang amat harum namun menyengat hidung, dan tahulah ia bahwa pihak lawan telah menyerangnya dengan asap yang entah masuk di ruangan itu dari mana. Ia menahan napas, lalu menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir asap harum menyengat hidung itu. Asap yang masuk berwarna putih dan menjadi buyar terkena sambaran angin pukulan Joko Pramono. Akan tetapi asap masuk makin banyak dan makin tebal, sedangkan Joko Pramono, biarpun telah menjadi pemuda sakti, namun tak mungkin dapat menahan napas selamanya. Akhirnya ia tersedak, terengah dan cepat ia duduk bersila, menghentikan perlawanan dan mengosongkan pikiran, siap untuk menerima datangnya maut yang tak dapat ia hindarkan lagi. Sungguh patut dikagumi Joko Pramono ini, biarpun masih amat muda akan tetapi sudah dapat menghadapi bahaya maut dengan sikap yang tenang, bahkan dapat mengatur diri sehingga andaikata ia mati, pikiran dan hatinya kosong, sikap yang amat sempurna.

Sementara itu, Pusporini dan Setyaningsih yang menjaga di luar bangunan tempat tahanan itu menjadi gelisah. Menanti adalah pekerjaan yang amat sukar dan berat. Apalagi menanti seperti mereka lakukan itu, menanti Joko Pramono yang memasuki tempat tahanan, yang mereka tahu amat berbahaya. Sukar ditentukan siapa yang lebih gelisah antara kedua orang wanita muda cantik itu, karena Setyaningsih cemas memikirkan suaminya, sedangkan Pusporini tentu saja gelisah memikirkan keselamatan kekasihnya yang memasuki "guha iblis" seorang diri. Setelah lewat satu jam lebih belum juga Joko Pramono kembali, dan keadaan tetap sunyi senyap, Setyaningsih tak dapat lagi menahan kegelisahan hatinya.
"Pusporini, mari kita masuk menyusul Dimas Joko Pramono, mencari Kakangmas Pangeran," kata Setyaningsih dengan suara perlahan. Pusporini mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.
"Tidak baik kalau kita pun pergi menyusulnya, Ayunda. Bukankah tadi Joko Pramono sudah meninggalkan pesan agar kita berdua menanti dan menjaga di sini?"
"Ah, sudah begini lama dia pergi dan masih juga belum ada tanda-tanda dia kembali. Sampai kapan kita menanti di sini, adikku? Tepatkah kalau kita membiarkan dia menempuh bahaya untuk menolong Kakangmas Pangeran seorang diri? Bagaimana kalau Adimas Joko Pramono tertangkap pula? Kita harus menyusul, Rini, dan kalau kau tidak mau, biarlah aku pergi sendiri menyusul Joko Pramono dan menolong suamiku."

<<< Bagian 151                                                                                      Bagian 153 >>>

No comments:

Post a Comment