"Ah, kiranya andika menjadi seorang di antara tikus-tikus yang menggerogoti Kerajaan Jenggala, Ki Kolohangkoro!"
Joko Pramono berkata tenang
dan ia bersiap-siap dengan penuh kewaspadaan karena maklum bahwa lawan ini bukanlah
seorang yang lemah.
"Ha-ha-ha-ha! Engkau
Joko Pramono? Apakah yang engkau andalkan maka berani memasuki sarang harimau?
Hendak membebaskan Pangeran Panji Sigit? Ha-ha-ha, jangan mimpi, orang muda.
Lebih baik menyerah sebelum nenggalaku yang sudah lama tidak mencium darah ini
menggelogok darahmu!"
"Manusia raksasa
seperti engkau berhati iblis! Jangan mengira akan mudah mengalahkan Joko
Pramono seperti lima tahun yang lalu. Sambutlah ini!" Joko Pramono cepat
menerjang maju dengan pukulan kepalan kanannya.
Dahsyat sekali gerakannya
akan tetapi sambil tertawa Ki Kolohangkoro menggerakkan nenggalanya menyambut
terjangan pemuda itu dengan terjangan balasan, yaitu ia menusukkan nenggalanya
ke arah dada Joko Pramono. "Plakk!" Dengan gerakan indah, Joko Pramono
sudah membuka kepalannya tadi, merubah pukulan menjadi gerakan tangan terbuka
melingkar dari kiri ke kanan, diputar sedemikian rupa sehingga ia berhasil
menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang nenggala itu dari samping.
Sedetik dua tenaga raksasa bertemu, saling betot, dan tiba-tiba Joko Pramono
berseru keras dan menyendal tangan lawan itu dengan gentakan kuat sekali
sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tubuh raksasa itu kehilangan keseimbangan,
kuda-kudanya tergempur dan tubuhnya terbanting ke kanan. Hal ini amat
mengejutkan hati Ki Kolohangkoro. Hampir ia tidak percaya bahwa pemuda yang
lima tahun lalu masih amat lemah dan hanya memiliki kepandaian yang tidak ada
artinya, kini dapat memiliki tenaga sakti yang sedemikian kuatnya sehingga
hampir-hampir ia tidak kuat menahan nenggalanya. Untung ia masih dapat
mempertahankan senjatanya itu sehingga tidak terampas biarpun tubuhnya hampir
terbanting roboh.
"Babo-babo, kiranya
engkau telah memperoleh kemajuan yang lumayan. Makanlah senjataku!"
Raksasa itu menerjang lagi, kini lebih hebat dengan memutar pergelangan
tangannya sehingga nenggala itu berputar seperti kitiran, mendatangkan angin
dan mengeluarkan suara berdesing. Hebat memang Ki Kolohangkoro yang memiliki
tenaga gajah, sedangkan senjata nenggala di tangannya itu pun merupakan sebuah
nenggala yang amat ampuh. Akan tetapi Joko Pramono sekarang sama sekali berbeda
dengan Joko Pramono lima tahun yang lalu. Setelah mendapatkan gemblengan dari
Resi Mahesapati yang sakti mandraguna, kedigdayaannya menjadi berlipat ganda
dan kini menghadapi tendangan Ki Kolohangkoro itu, ia dapat melihat dengan
jelas gerakan lawan sehingga dapat dengan mudah pula mengelak ke kiri, secepat
kilat kakinya menyambar dari samping ke arah lambung lawan. Andaikata tadi Ki
Kolohangkoro belum merasakan betapa kuatnya pemuda ini tentu dengan memandang
rendah ia berani menerima tendangannya itu karena ia dapat mengandalkan
kekebalannya yang akan melindungi lambungnya. Akan tetapi ia tahu bahwa
tendangan pemuda sekuat itu tenaga saktinya, apalagi yang ditujukan ke arah
lambung, amatlah berbahaya. Maka ia lalu memutar pergelangan tangan, membuat
nenggala yang luput sasaran tadi membalik ke kanan untuk memapaki kaki lawannya
dengan senjatanya yang ampuh ini. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget
hatinya ketika melihat perkembangan selanjutnya. Ternyata kaki itu tidak
dilanjutkan menendang lambung, melainkan meluncur ke bawah dan menendang ke
arah lututnya! Ki Kolohangkoro berusaha untuk meloncat agar terhindar dari
tendangan yang dapat membuat sambungan lututnya terlepas itu, akan tetapi masih
kurang cepat sehingga kakinya masih tercium tendangan lawan, mengenai betisnya
sehingga kuda-kudanya tergempur dan ia roboh terguling!
Biarpun merasa amat kaget,
namun Ki Kolohangkoro adalah seorang yang sudah banyak pengalamannya dalam
pertempuran, maka ia cepat menggerakkan tubuhnya bergulingan sehingga Joko
Pramono yang sudah datang menerjang dengan tendangan susulan itu tidak
berhasil. Cepat sekali Ki Kolohangkoro bergulingan lalu meloncat dan menghilang
melalui sebuah pintu ruangan itu. Joko Pramono yang ingin mencari di mana
adanya kamar tahanan Pangeran Panji Sigit, cepat meloncat pula mengejar. Dia
berada di ruangan lain yang dindingnya berwarna hijau, akan tetapi tidak
melihat bayangan Ki Kolohangkoro yang telah lenyap entah lari ke mana. Dengan
hati-hati ia melangkahkan kakinya maju ke ruangan hijau yang kosong itu, siap
menjaga kalau-kalau ada serangan lawan atau kalau-kalau ada jebakan rahasia.
Ruangan itu kosong dan sunyi. Hanya terdapat sebuah pintu kecil di sebelah
kanan ruangan. Karena itu, tentu dari pintu itulah larinya Ki Kolohangkoro.
Joko Pramono menghampiri pintu, tidak sembrono melainkan dengan hati-hati
sekali ia mendorong daun pintu sambil menyelinap untuk menjaga kalau-kalau ada
senjata rahasia menyambutnya. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu dan kini daun
pintu terbuka lebar, selebar mata Joko Pramono yang memandang terbelalak ke
dalam ruangan ke tiga ini. Ruangan di balik pintu itu berwarna merah muda dan
di ujungnya terdapat sebuah pembaringan di mana tampak Pangeran Panji Sigit
rebah terlentang tak bergerak, entah tidur ataukah pingsan. Dan di pinggir
pembaringan, membelakanginya, duduk bersimpuh seorang wanita yang mengelus-elus
rambut kepala pangeran itu dengan jari-jari tangan mesra. Dari belakang tampak
bahwa wanita itu adalah Suminten.
Melihat ini, bangkit
kemarahan Joko Pramono. Wanita iblis itulah yang menjadi biang keladi semua
peristiwa yang terjadi. Wanita itulah yang mengatur siasat mengadu domba
sehingga hampir saja Pusporini membunuhnya. Kebetulan sekali ia mendapatkan
wanita itu di situ. Ia dapat membebaskan Pangeran Panji Sigit dan sekalian
menangkap wanita itu. Ia dapat menangkap Suminten. Kalau wanita ini ditangkap
dan diseret ke Panjalu, tentu akan hancur persekutuan jahat yang mencengkeram
Jenggala.
"Perempuan iblis!"
bentaknya dan tubuhnya sudah meloncat ke dalam ruangan itu, siap untuk
menangkap Suminten. Ia maklum bahwa yang terpenting menawan wanita ini karena
hal itu akan dapat dipergunakan untuk perisai dan untuk memaksa kaki tangan
Suminten memberi kebebasan kepada Pangeran Panji Sigit.
"Wirrrr .... tar-tar
.... hi-hihik!"
Joko Pramono mengeluarkan
suara tertahan dan cepat sekali membalikkan tubuh berjungkir balik menghindar
diri dari sambaran pengebut lalat berwarna merah yang digerakkan oleh wanita
itu yang kini telah membalikkan tubuh. Ia terluput dari serangan maut dan kini
berdiri di tengah ruangan, memandang wanita yang disangkanya Suminten itu, akan
tetapi yang ternyata adalah Ni Dewi Nilamanik yang dahulu pernah menawannya!
Yang disangkanya Suminten adalah wanita iblis itu yang agaknya sengaja menyamar
sebagai Suminten dan karena wanita yang usianya sudah empat puluh tahun lebih
ini memang masih cantik dan bertubuh ramping, maka dari belakang tidak jauh
bedanya dengan Suminten.
"Ah, kiranya andika
juga berada di sini? Kalau begitu lengkaplah sudah. Jenggala, tepat di dalam
istananya, dijadikan sarang sekumpulan iblis bertubuh manusia!" Joko
Pramono berseru marah.
"Hi-hi-hik, bocah
bagus, engkau terlalu sombong!"
"Ha-ha-ha, kematian
sudah di depan mata!" Terdengar suara Ki Kolohangkoro dari belakangnya.
Joko Pramono cepat membalik dan ternyata raksasa itu kini sudah berdiri di
ambang pintu, di belakangnya. Joko Pramono tidak menjadi gentar menghadapi dua
orang musuh lama ini. Ia hanya cemas melihat keadaan Pangeran Panji Sigit yang
rebah tak bergerak, agaknya pingsan karena pangeran itu sama sekali tidak
terganggu oleh keributan di situ. Seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah
menegang dan siap untuk mengadu kesaktian melawan dua orang manusia iblisitu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berderit keras di atas kepalanya. Karena
mengira bahwa tentu ada alat rahasia yang akan menyambarnya dari atas, Joko
Pramono memandang ke atas dan sebagian besar perhatiannya tertuju ke
langit-langit ruangan itu. Dan memang inilah yang dikehendaki oleh ahli pembuat
alat rahasia di tempat tahanan istana Jenggala itu. Begitu orang mengarahkan
perhatiannya ke atas, tentu saja perhatiannya ke bawah berkurang dan tiba-tiba
lantai yang diinjak Joko Pramono terkuat ke bawah! Pemuda itu terkejut sekali,
namun terlambat. Tubuhnya sudah meluncur ke bawah dan lantai yang tadi terkuak
ke bawah, itu telah menutup kembali diiringi suara tertawa Ki Kolohangkoro dan
Ni Dewi Nilamanik.
Joko Pramono maklum bahwa la
telah terjebak. Akan tetapi sebagai seorang satria perkasa, ia pantang menyerah
terhadap keadaan. Ia mengerahkan hawa saktinya sehingga biarpun tubuhnya
meluncur ke bawah, namun ia masih menguasai dirinya dan tidak akan terbanting
ke dasar sumur itu. Begitu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya sudah bergerak
seperti per sehingga daya luncuran tertahan dan sekali meloncat ia telah
mematahkan daya luncuran tadi. Ia berdiri di tengah ruangan di bawah tanah itu
dan memaksa matanya untuk menembus kegelapan di situ. Akan tetapi keadaan gelap
pekat, tidak tampak sesuatu sehingga akhirnya Joko Pramono terpaksa harus
menggunakan kaki tangannya untuk meraba-raba. Kiranya ia telah terkurung oleh
dinding yang kuat dan yang bentuknya bundar. Tidak ada pintu maupun jendelanya,
sedangkan ketika ia menengadah, lantai jebakan yang kini menjadi langit-langit
itu tidak tampak, hanya gelap dan hitam saja yang membayang di matanya.
Betapapun juga, Joko Pramono tidak menjadi putus asa menghadapi kenyataan bahwa
dirinya benar-benar terancam bahaya maut ini. Ia melakukan hal yang terpenting,
yaitu duduk bersila di tengah-tengah ruangan gelap itu untuk mengumpulkan
tenaga sakti dan menenangkan pikirannya. Ia maklum bahwa segala sesuatu yang
menimpa dirinya harus diterima dalam keadaan tenang dan wajar, karena hanya
ketenangan jiwanya sajalah yang akan mampu membuat ia kuat menghadapi segala
kepahitan dan kemudian mengatasinya dengan langkah- langkah yang tepat.
Teringatlah pemuda ini kepada sebuah di antara wejangan-wejangan Resi
Mahesapati yang pada saat itu terngiang di telinganya.
"Segala sesuatu yang
terjadi di dunia ini, yang menimpa dirimu, adalah sesuai dengan hukum yang
ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita harus dapat menerimanya sebagai suatu
kewajaran dan bersandarkan kesabaran dan ketenangan, kita harus berani
memandang ke depan. Segala macam peristiwa yang menimpa diri kita, apabila
sudah dikehendaki demikian oleh Sang Jagad Nata (Pengatur Dunia) takkan dapat
dihindarkan oleh manusia, betapapun saktinya manusia itu. Maka, jalan
satu-satunya bagi manusia mahluk lemah ini hanyalah bersandar kepada Hyang Widi
Wisesa dengan penuh ketulusan hati, dengan penuh pasrah namun tidak melepaskan
segala ikhtiar yang menjadi kewajiban manusia yang telah diberi perlengkapan
sempurna untuk kewajiban itu."
Joko Pramono tekun
mengheningkan cipta dan ia menanti datangnya kesempatan baik untuk menolong
dirinya sendiri. Dia tidak takut, tidak gentar karena dia telah menyandarkan
dirinya kepada kekuasaan Dewa, sehingga andaikata kematian akan menjemputnya
sekalipun, ia tidak merasa gentar karena maklum bahwa semua itu sudah
dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa.
Tiba-tiba terdengar bunyi
seperti desis ular. Joko Pramono bangkit berdiri, bersikap tenang waspada, bersiap-siap
menghadapi hal yang seburuknya, tenaga sakti telah menjalar ke arah kedua
lengannya. Akan tetapi tiba-tiba ia terbatuk karena mencium bau yang amat harum
namun menyengat hidung, dan tahulah ia bahwa pihak lawan telah menyerangnya
dengan asap yang entah masuk di ruangan itu dari mana. Ia menahan napas, lalu
menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir asap harum menyengat hidung
itu. Asap yang masuk berwarna putih dan menjadi buyar terkena sambaran angin
pukulan Joko Pramono. Akan tetapi asap masuk makin banyak dan makin tebal,
sedangkan Joko Pramono, biarpun telah menjadi pemuda sakti, namun tak mungkin
dapat menahan napas selamanya. Akhirnya ia tersedak, terengah dan cepat ia
duduk bersila, menghentikan perlawanan dan mengosongkan pikiran, siap untuk
menerima datangnya maut yang tak dapat ia hindarkan lagi. Sungguh patut
dikagumi Joko Pramono ini, biarpun masih amat muda akan tetapi sudah dapat
menghadapi bahaya maut dengan sikap yang tenang, bahkan dapat mengatur diri
sehingga andaikata ia mati, pikiran dan hatinya kosong, sikap yang amat
sempurna.
Sementara itu, Pusporini dan
Setyaningsih yang menjaga di luar bangunan tempat tahanan itu menjadi gelisah.
Menanti adalah pekerjaan yang amat sukar dan berat. Apalagi menanti seperti
mereka lakukan itu, menanti Joko Pramono yang memasuki tempat tahanan, yang
mereka tahu amat berbahaya. Sukar ditentukan siapa yang lebih gelisah antara
kedua orang wanita muda cantik itu, karena Setyaningsih cemas memikirkan
suaminya, sedangkan Pusporini tentu saja gelisah memikirkan keselamatan
kekasihnya yang memasuki "guha iblis" seorang diri. Setelah lewat
satu jam lebih belum juga Joko Pramono kembali, dan keadaan tetap sunyi senyap,
Setyaningsih tak dapat lagi menahan kegelisahan hatinya.
"Pusporini, mari kita
masuk menyusul Dimas Joko Pramono, mencari Kakangmas Pangeran," kata
Setyaningsih dengan suara perlahan. Pusporini mengerutkan alisnya dan
menggeleng kepalanya.
"Tidak baik kalau kita
pun pergi menyusulnya, Ayunda. Bukankah tadi Joko Pramono sudah meninggalkan
pesan agar kita berdua menanti dan menjaga di sini?"
"Ah,
sudah begini lama dia pergi dan masih juga belum ada tanda-tanda dia kembali.
Sampai kapan kita menanti di sini, adikku? Tepatkah kalau kita membiarkan dia
menempuh bahaya untuk menolong Kakangmas Pangeran seorang diri? Bagaimana kalau
Adimas Joko Pramono tertangkap pula? Kita harus menyusul, Rini, dan kalau kau
tidak mau, biarlah aku pergi sendiri menyusul Joko Pramono dan menolong
suamiku."
No comments:
Post a Comment