Perawan Lembah Wilis; Bagian 153


Pusporini menghela napas panjang. Memang sesungguhnya kekhawatiran hatinya tidak kalah besar, dan jawabnya tadipun hanya untuk menutupi kekhawatirannya, atau untuk menghibur dirinya sendiri saja. Maka ia berkata,
"Baiklah, Ayunda. Memang aku pun merasa heran mengapa dia belum juga kembali. Marilah, akan tetapi biar saya jalan di depan dan Ayunda di belakang. Kita harus berhati-hati sekali, Ayunda. Musuh kita terlampau keji dan curang."
"Jangan khawatir, Pusporini. Untuk menolong suamiku, aku siap menghadapi apapun juga."
Kedua orang wanita ini melangkah masuk melalui pintu gerbang yang tadi sudah dibuka Joko Pramono. Mereka berjalan dengan hati-hati, melihat pula para penjaga yang masih tertidur pulas di bawah pengaruh aji penyirepan mereka tadi, dan terus memasuki ruangan depan. Seperti halnya Joko Pramono tadi, mereka pun tiba di dalam ruangan yang berwarna hijau. Hanya bedanya, kalau tadi di sebelah belakang itu terdapat sebuah pintu kecil, kini pintu itu lenyap menjadi dinding rata, dan di sebelah kiri muncul sebuah pintu lain. Pusporini yang berjalan di depan dalam keadaan siap itu memberi tanda kepada ayundanya dan mereka mendorong pintu sebelah kiri itu sehingga terbuka.
"Kakangmas Pangeran ....!" Setyaningsih menjerit lirih dan berlari memasuki kamar itu ketika melihat suaminya duduk bersila di atas sebuah pembaringan di sudut kamar.
"Ayunda, jangan.....!" Pusporini berseru.
"Isteriku ...., jangan masuk ....!” Pangeran Panji Sigit juga berseru ketika melihat isterinya dan Pusporini muncul di pintu. Akan tetapi Setyaningsih tidak perduli dan sudah berlari masuk, lalu menubruk suaminya dan mereka berpelukan. Pada saat itu terdengar suara ketawa di belakang Pusporini yang cepat menengok, akan tetapi Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik telah menyerangnya dari belakang menggunakan senjata mereka. Pusporini cepat meloncat ke belakang, ke dalam kamar itu karena tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari serangan senjata nenggala dan kebutan yang ampuh itu.
Akan tetapi begitu kedua kakinya menginjak lantai, pintu itu tertutup sendiri dan hanya terdengar suara ketawa Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro di luar pintu.
"Ah, kalian terjebak ....!" Pangeran Panji Sigit berseru cemas.
Pusporini menjadi marah sekali. Ia mengerahkan aji kesaktiannya, menyalurkan tenaga sakti ke dalam lengannya, kemudian sambil memekik ia meloncat ke depan menghantam pintu itu.
"Desss!!" Hebat bukan main hantaman dara perkasa ini sehingga seluruh dinding kamar itu tergetar, akan tetapi daun pintu hijau itu ternyata terbuat daripada baja yang kuat sekali dan tertutup oleh gerakan alat rahasia sehingga hanya tergetar saja dan tidak terpecahkan. Kembali Pusporini menghantam, sampai tiga kali tanpa hasil. Ia menjadi makin marah, bertolak pinggang menghadapi daun pintu lalu membentak,
"Iblis-iblis laknat! Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro, kalau memang kalian orang-orang sakti, bukalah pintu dan mari bertanding melawan Pusporini yang akan menghancurkan kepala kalian dan memecahkan dada kalian!!"
Namun, yang menjawab tantangannya hanyalah asap putih yang masuk melalui dua buah lubang kecil di lantai. Asap itu masuk mengeluarkan suara mendesis seperti ular menyambar dan sebentar saja kamar itu penuh oleh asap yang berbau harum bercampur bau amis yang menyengat hidung.
"Awas asap beracun! Rakanda, Ayunda, bertiarap!" seru Pusporini. Pangeran Panji Sigit yang merangkul isterinya itu menarik tubuh Setyaningsih dan mereka segera bertiarap di atas lantai, menelungkup. Adapun Pusporini, seperti juga yang dilakukan Joko Pramono tadi, menahan napas dan mengerahkan hawa sakti untuk mengayun-ayun lengannya, mendorong dengan maksud mengusir asap itu keluar dari kamar. Sambaran angin pukulannya membuat asap itu buyar dan bergerak-gerak. Akan tetapi karena kamar itu agaknya memang tidak diberi lubang, asap yang buyar dan membubung ke atas itu menurun kembali, bersatu dengan asap baru yang keluar terus dari lantai sehingga menjadi tebal memenuhi kamar.
Setelah melihat usahanya gagal, Pusporini melirik ke arah Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih, melihat mereka itu telah roboh pingsan sambil berpelukan. Dia menarik napas panjang lalu. duduk bersila dalam keadaan samadhi, seperti yang dilakukan Joko Pramono tadi sehingga tak lama kemudian dia pun menjadi pingsan dalam keadaan duduk bersila!

"Tak-tak, herrr ....Hayolah, kerbau goblok, kerbau malas! Plak-plak! Tarr!" Kerbau yang menarik luku di sawah itu tetap mogok dan mendekam di atas lumpur yang begitu sejuk dan nikmat rasanya di bawah terik sinar matahari di siang hari.
"Kerbau tolol, kubunuh engkau!" bentak petani setengah tua itu yang sudah lelah memaki-maki kerbaunya dan kini mulai mencambukinya sekuat tenaga. Seorang pria muda yang berpakaian serba putih sederhana menghentikan langkahnya menyaksikan peristiwa ini. Ia lalu memutar tubuh menghampiri pinggir sawah dan matanya sayu memandang ke arah kerbau yang digebuki. Pria ini masih muda sekali, usianya paling banyak dua puluh satu tahun, akan tetapi ia memiliki sepasang mata yang selain tajam berpengaruh, juga demikian penuh pengertian seperti yang hanya dimiliki oleh kakek-kakek pendeta yang sudah memiliki ilmu batin yang kuat! Pakaiannya sederhana sekali, akan tetapi tidak mengurangi ketampanan wajahnya yang berkulit putih halus seperti kulit tubuh wanita. Alisnya yang tebal hitam dan kelihatan garang itu tidak dapat menandingi kelembutan pandang matanya, sedangkan bibirnya seperti yang selalu tersenyum maklum, seperti senyum seorang ayah melihat tingkah laku anaknya yang nakal dan masih kecil.
"Sudah, Paman. Tiada gunanya menyiksa pembantumu dan tiada baiknya menurut hati yang digelapkan nafsu amarah."
Suara pemuda aneh ini demikian penuh ketenangan dan kesabaran, begitu halus dan lemah lembut sehingga laki-laki yang marah dan menggebuki kerbaunya itu menghentikan perbuatannya dan menoleh dengan heran, siap untuk menimpakan kemarahan dan kemendongkolan hatinya kepada orang yang berani mencegah dia menggebuki kerbaunya sendiri. Akan tetapi begitu bertemu pandang dengan mata pemuda itu, seolah-olah ada tetesan embun dingin yang memadamkan semua api kemarahannya, bahkan membuat dia menjadi malu dan merah mukanya. Akan tetapi, ia hendak membela diri dan mengusir rasa malunya dengan bantahan, sungguhpun kata bantahannya tidak terdorong kemarahan lagi,
"Orang muda, mudah saja maido (mencela). Kerbau ini malas dan bodoh, dia tidak mau menarik luku, habis kalau tidak digebuki apakah harus kutimang-timang?"
Pemuda itu memperlebar senyumnya yang sudah selalu siap di bibir, kemudian ia duduk di atas galengan sawah.
"Maaf, Paman. Aku tidak mencela atau maido, hanya ingin mengingatkan Paman bahwa kerbau itu adalah pembantu Paman. Dia mogok bekerja karena lelah dan kurasa bukan hanya hari ini dia membantu Paman meluku sawah. Manusia telah dikurniai akal budi sedangkan kerbau dikurniai tenaga, sehingga dengan akalnya, manusia dapat mempergunakan tenaga kerbau untuk membantunya meluku sawah. Padahal, meluku sawah atau bekerja untuk mencari pengisi perut adalah menjadi kewajiban si manusia sendiri. Setelah dapat mempergunakan akal sehingga kerbau dapat membantu, manusia seharusnya berterima kasih, tidak hanya kepada Sang Hyang Wisesa yang berkahnya begitu melimpah-limpah kepada manusia, juga kepada kerbau yang membantunya. Kerbau mogok bekerja tentu ada sebabnya, mungkin dia lelah, mungkin dia sakit, karena kerbau termasuk binatang, mahluk yang selalu bergerak berdasar kewajaran, tidak seperti manusia yang lebih condong kepalsuan dan tidak wajar. Seperti tidak wajarnya perbuatan Paman menggebuki kerbau yang selalu menjadi pembantu Paman."

Petani itu melongo dan hanya bisa menangkap sedikit saja dari ucapan yang mengandung arti dalam dan sukar itu.
"Akan tetapi dia tidak mau menarik luku, berarti membuat pekerjaan terbengkalai, padahal tanah ini perlu dibuka cepat-cepat agar jangan terlambat kalau hujan turun!"
"Sifat manusia memang tidak mengenal budi, berdasar watak ingin senang sendiri, Paman. Kurasa sudah ribuan kali kerbau ini membantu Paman meluku sawah, akan tetapi satu kali saja dia mogok, yang ribuan kali itu tak teringat lagi oleh Paman sehingga Paman tega untuk menyiksanya."
Petani itu kini melepaskan gagang lukunya dan membalikkan tubuh, menghadapi langsung pemuda itu,tidak seperti tadi yang hanya sambil menoleh saja.
"Eh, Kisanak, engkau masih muda akan tetapi bicaramu seperti seorang pendeta saja! Bicara sih mudah, hanya menggoyang lidah menggerakkan bibir, akan tetapi yang menjalankan ini yang sukar. Kalau kerbaunya tidak mau membantu, habis aku harus berbuat bagaimana?"
"Paman keliru. Bicara tidaklah mudah, kalau kita tahu bagaimana harus bicara. Apa yang masuk ke dalam mulut haruslah yang baik dan bersih agar kesehatan kita selalu terjamin. Sebaliknya apa yang keluar dalam mulut pun harus selalu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Kalau kerbau Paman mogok bekerja karena lelah atau sakit, sebaiknya dia dibiarkan beristirahat dan makan, sedangkan soal pekerjaan dapat Paman lanjutkan dengan cangkul." Petani itu melototkan matanya.
"Orang muda, engkau merasa pintar, ya? Kalau cuma begitu, tak perlu kau nasehati. Tidak urung aku yang disuruh bekerja, sedangkan untuk menyelesaikan sawah ini hanya dengan sebuah pacul, tentu tidak selesai dalam tiga hari!"
"Paman butuh bantuan? Biarlah aku membantumu, Paman." Pemuda itu menyingsingkan lengan baju dan celananya, kemudian turun ke sawah.
"Hemm, andika seorang pemuda yang aneh. Apa maksudmu mencampuri urusan orang lain, mencela dan membantu? Apakah pamrihmu hendak membantuku, orang muda?"
"Pamrih? Perbuatan yang berpamrih bergelimang kepalsuan, Paman. Membantu orang lain didasari pamrih, bukanlah bantuan namanya, melainkan usaha tercapainya pamrih itu sendiri. Bagiku, membantumu bekerja adalah wajar, Paman. Andika membutuhkan bantuan karena kerbaumu mogok, dan aku datang membantu, itu sudah wajar, sudah tepat, seperti tepatnya orang lapar makan dan orang haus minum. Ada pamrih apa lagi?" Pemuda itu lalu menuntun kerbau yang mogok tadi dan anehnya kerbau itu menurut saja dituntun minggir, tidak seperti tadi, digebuki masih tetap mendekam. Setelah kerbau dan lukunya dibawa ke pinggir, pemuda itu lalu mengambil cangkul dan tanpa banyak cakap lagi mulailah mencangkuli tanah yang belum terluku. Petani itu memandang dengan mata lebar, lalu menggeleng-geleng kepala tidak mengerti akan sikap pemuda ini, akan tetapi diam-diam girang juga hatinya mendapat seorang pembantu suka rela yang melihat caranya mengayun cangkul boleh diharapkan akan dapat mengejar ketinggalan pekerjaannya karena kerbau mogok tadi. Ia pun lalu menyambar cangkul sebuah lagi dan bekerja tekun seperti lajimnya para petani bekerja di sawah. Kelihatannya biasa saja pemuda itu bekerja, akan tetapi betapa girang dan herannya petani itu ketika melihat bahwa hasil cangkulnya pemuda itu empat lima kali lebih cepat dan banyak daripada hasil pekerjaannya sendiri. Dengan demikian maka dibantu pemuda ini tidaklah lebih lambat daripada kalau dibantu kerbaunya menarik luku!

Lewat tengah hari, seorang gadis ke sawah itu, membawa sebuah bakul berisi nasi bersama sambel wijen dan ikan lele bakar. Bakul itu disunggi di atas kepala, dipegangi tangan kiri sedangkan tangan kanannya mencangking sebuah kendi berisi air.
"Pak, berhenti dulu. Mengaso dan makan!" serunya dengan suara yang renyah melengking.
"Wah, kau sudah datang, Mi! siapkan dua pincuk (pining daun pisang), kami sudah lapar sekali!" Gadis yang usianya paling banyak tujuh belas tahun, bertubuh ramping padat berkulit hitam manis dengan wajah yang manis sekali itu mengangkat muka memandang ke arah pemuda berkulit putih yang membantu ayahnya. Kebetulan pada saat itu si pemuda juga menengok ke arahnya dan si gadis tersenyum malu-malu, kemudian menjawab,
"Baik, Pak!"
"Hayo mengaso dan makan dulu, Nak."
Pemuda itu mengangguk, melepas cangkulnya dan menghapus peluh di dahi dengan lengannya. Kemudian mereka berdua mencuci tangan dengan air kendi lalu duduk di atas galengan sawah. Pemuda itu mendapat kenyataan betapa gadis petani ini benar-benar manis dan cantik sekali, kecantikan aseli tanpa bantuan bedak dan mangir sehingga ia memandang kagum.
"Paman, anak daramu cantik dan manis sekali!" kata pemuda itu.
Kembali petani itu terbelalak melihat sikap dan ucapan yang blak-blakan dan tulus ini, akan tetapi Bagus Seta sebagai seorang pria yang sudah banyak pengalaman ia tidak melihat adanya pandang mata kurang ajar sehingga kembali ia tertegun. Pemuda ini benar-benar seorang manusia aneh dan tidak lumrah! Akan tetapi pujian yang membuat gadis itu tiba-tiba melengos dan menyembunyikan mukanya yang menjadi merah itu membikin hati kakek petani ini gembira, akan tetapi berbareng juga mengingatkan kakek itu akan kesulitan yang dihadapinya.
"Itulah yang membikin aku tadi menggebuki kerbauku, Nak."
"Pak .....! Si Wage kaugebuki? Kenapa?" tiba-tiba gadis itu bertanya sambil memandang bapaknya.
"Dia mogok, mungkin sakit ...!”

<<< Bagian 152                                                                                      Bagian 154 >>>

No comments:

Post a Comment