Pusporini menghela napas panjang. Memang sesungguhnya kekhawatiran hatinya tidak kalah besar, dan jawabnya tadipun hanya untuk menutupi kekhawatirannya, atau untuk menghibur dirinya sendiri saja. Maka ia berkata,
"Baiklah, Ayunda.
Memang aku pun merasa heran mengapa dia belum juga kembali. Marilah, akan
tetapi biar saya jalan di depan dan Ayunda di belakang. Kita harus berhati-hati
sekali, Ayunda. Musuh kita terlampau keji dan curang."
"Jangan khawatir,
Pusporini. Untuk menolong suamiku, aku siap menghadapi apapun juga."
Kedua orang wanita ini
melangkah masuk melalui pintu gerbang yang tadi sudah dibuka Joko Pramono.
Mereka berjalan dengan hati-hati, melihat pula para penjaga yang masih tertidur
pulas di bawah pengaruh aji penyirepan mereka tadi, dan terus memasuki ruangan
depan. Seperti halnya Joko Pramono tadi, mereka pun tiba di dalam ruangan yang
berwarna hijau. Hanya bedanya, kalau tadi di sebelah belakang itu terdapat
sebuah pintu kecil, kini pintu itu lenyap menjadi dinding rata, dan di sebelah
kiri muncul sebuah pintu lain. Pusporini yang berjalan di depan dalam keadaan
siap itu memberi tanda kepada ayundanya dan mereka mendorong pintu sebelah kiri
itu sehingga terbuka.
"Kakangmas Pangeran
....!" Setyaningsih menjerit lirih dan berlari memasuki kamar itu ketika
melihat suaminya duduk bersila di atas sebuah pembaringan di sudut kamar.
"Ayunda,
jangan.....!" Pusporini berseru.
"Isteriku ...., jangan
masuk ....!” Pangeran Panji Sigit juga berseru ketika melihat isterinya dan
Pusporini muncul di pintu. Akan tetapi Setyaningsih tidak perduli dan sudah
berlari masuk, lalu menubruk suaminya dan mereka berpelukan. Pada saat itu
terdengar suara ketawa di belakang Pusporini yang cepat menengok, akan tetapi
Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik telah menyerangnya dari belakang
menggunakan senjata mereka. Pusporini cepat meloncat ke belakang, ke dalam
kamar itu karena tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari serangan
senjata nenggala dan kebutan yang ampuh itu.
Akan tetapi begitu kedua
kakinya menginjak lantai, pintu itu tertutup sendiri dan hanya terdengar suara
ketawa Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro di luar pintu.
"Ah, kalian terjebak
....!" Pangeran Panji Sigit berseru cemas.
Pusporini menjadi marah
sekali. Ia mengerahkan aji kesaktiannya, menyalurkan tenaga sakti ke dalam
lengannya, kemudian sambil memekik ia meloncat ke depan menghantam pintu itu.
"Desss!!" Hebat
bukan main hantaman dara perkasa ini sehingga seluruh dinding kamar itu
tergetar, akan tetapi daun pintu hijau itu ternyata terbuat daripada baja yang
kuat sekali dan tertutup oleh gerakan alat rahasia sehingga hanya tergetar saja
dan tidak terpecahkan. Kembali Pusporini menghantam, sampai tiga kali tanpa
hasil. Ia menjadi makin marah, bertolak pinggang menghadapi daun pintu lalu
membentak,
"Iblis-iblis laknat! Ni
Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro, kalau memang kalian orang-orang sakti,
bukalah pintu dan mari bertanding melawan Pusporini yang akan menghancurkan
kepala kalian dan memecahkan dada kalian!!"
Namun, yang menjawab
tantangannya hanyalah asap putih yang masuk melalui dua buah lubang kecil di
lantai. Asap itu masuk mengeluarkan suara mendesis seperti ular menyambar dan
sebentar saja kamar itu penuh oleh asap yang berbau harum bercampur bau amis
yang menyengat hidung.
"Awas asap beracun!
Rakanda, Ayunda, bertiarap!" seru Pusporini. Pangeran Panji Sigit yang
merangkul isterinya itu menarik tubuh Setyaningsih dan mereka segera bertiarap
di atas lantai, menelungkup. Adapun Pusporini, seperti juga yang dilakukan Joko
Pramono tadi, menahan napas dan mengerahkan hawa sakti untuk mengayun-ayun
lengannya, mendorong dengan maksud mengusir asap itu keluar dari kamar.
Sambaran angin pukulannya membuat asap itu buyar dan bergerak-gerak. Akan
tetapi karena kamar itu agaknya memang tidak diberi lubang, asap yang buyar dan
membubung ke atas itu menurun kembali, bersatu dengan asap baru yang keluar
terus dari lantai sehingga menjadi tebal memenuhi kamar.
Setelah melihat usahanya
gagal, Pusporini melirik ke arah Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih, melihat
mereka itu telah roboh pingsan sambil berpelukan. Dia menarik napas panjang
lalu. duduk bersila dalam keadaan samadhi, seperti yang dilakukan Joko Pramono
tadi sehingga tak lama kemudian dia pun menjadi pingsan dalam keadaan duduk
bersila!
"Tak-tak, herrr
....Hayolah, kerbau goblok, kerbau malas! Plak-plak! Tarr!" Kerbau yang
menarik luku di sawah itu tetap mogok dan mendekam di atas lumpur yang begitu
sejuk dan nikmat rasanya di bawah terik sinar matahari di siang hari.
"Kerbau tolol, kubunuh
engkau!" bentak petani setengah tua itu yang sudah lelah memaki-maki
kerbaunya dan kini mulai mencambukinya sekuat tenaga. Seorang pria muda yang
berpakaian serba putih sederhana menghentikan langkahnya menyaksikan peristiwa
ini. Ia lalu memutar tubuh menghampiri pinggir sawah dan matanya sayu memandang
ke arah kerbau yang digebuki. Pria ini masih muda sekali, usianya paling banyak
dua puluh satu tahun, akan tetapi ia memiliki sepasang mata yang selain tajam
berpengaruh, juga demikian penuh pengertian seperti yang hanya dimiliki oleh
kakek-kakek pendeta yang sudah memiliki ilmu batin yang kuat! Pakaiannya
sederhana sekali, akan tetapi tidak mengurangi ketampanan wajahnya yang
berkulit putih halus seperti kulit tubuh wanita. Alisnya yang tebal hitam dan
kelihatan garang itu tidak dapat menandingi kelembutan pandang matanya,
sedangkan bibirnya seperti yang selalu tersenyum maklum, seperti senyum seorang
ayah melihat tingkah laku anaknya yang nakal dan masih kecil.
"Sudah, Paman. Tiada
gunanya menyiksa pembantumu dan tiada baiknya menurut hati yang digelapkan
nafsu amarah."
Suara pemuda aneh ini
demikian penuh ketenangan dan kesabaran, begitu halus dan lemah lembut sehingga
laki-laki yang marah dan menggebuki kerbaunya itu menghentikan perbuatannya dan
menoleh dengan heran, siap untuk menimpakan kemarahan dan kemendongkolan
hatinya kepada orang yang berani mencegah dia menggebuki kerbaunya sendiri.
Akan tetapi begitu bertemu pandang dengan mata pemuda itu, seolah-olah ada tetesan
embun dingin yang memadamkan semua api kemarahannya, bahkan membuat dia menjadi
malu dan merah mukanya. Akan tetapi, ia hendak membela diri dan mengusir rasa
malunya dengan bantahan, sungguhpun kata bantahannya tidak terdorong kemarahan
lagi,
"Orang muda, mudah saja
maido (mencela). Kerbau ini malas dan bodoh, dia tidak mau menarik luku, habis
kalau tidak digebuki apakah harus kutimang-timang?"
Pemuda itu memperlebar
senyumnya yang sudah selalu siap di bibir, kemudian ia duduk di atas galengan
sawah.
"Maaf, Paman. Aku tidak
mencela atau maido, hanya ingin mengingatkan Paman bahwa kerbau itu adalah
pembantu Paman. Dia mogok bekerja karena lelah dan kurasa bukan hanya hari ini
dia membantu Paman meluku sawah. Manusia telah dikurniai akal budi sedangkan kerbau
dikurniai tenaga, sehingga dengan akalnya, manusia dapat mempergunakan tenaga
kerbau untuk membantunya meluku sawah. Padahal, meluku sawah atau bekerja untuk
mencari pengisi perut adalah menjadi kewajiban si manusia sendiri. Setelah
dapat mempergunakan akal sehingga kerbau dapat membantu, manusia seharusnya
berterima kasih, tidak hanya kepada Sang Hyang Wisesa yang berkahnya begitu
melimpah-limpah kepada manusia, juga kepada kerbau yang membantunya. Kerbau
mogok bekerja tentu ada sebabnya, mungkin dia lelah, mungkin dia sakit, karena
kerbau termasuk binatang, mahluk yang selalu bergerak berdasar kewajaran, tidak
seperti manusia yang lebih condong kepalsuan dan tidak wajar. Seperti tidak
wajarnya perbuatan Paman menggebuki kerbau yang selalu menjadi pembantu
Paman."
Petani itu melongo dan hanya
bisa menangkap sedikit saja dari ucapan yang mengandung arti dalam dan sukar
itu.
"Akan tetapi dia tidak
mau menarik luku, berarti membuat pekerjaan terbengkalai, padahal tanah ini
perlu dibuka cepat-cepat agar jangan terlambat kalau hujan turun!"
"Sifat manusia memang
tidak mengenal budi, berdasar watak ingin senang sendiri, Paman. Kurasa sudah
ribuan kali kerbau ini membantu Paman meluku sawah, akan tetapi satu kali saja
dia mogok, yang ribuan kali itu tak teringat lagi oleh Paman sehingga Paman
tega untuk menyiksanya."
Petani itu kini melepaskan
gagang lukunya dan membalikkan tubuh, menghadapi langsung pemuda itu,tidak
seperti tadi yang hanya sambil menoleh saja.
"Eh, Kisanak, engkau
masih muda akan tetapi bicaramu seperti seorang pendeta saja! Bicara sih mudah,
hanya menggoyang lidah menggerakkan bibir, akan tetapi yang menjalankan ini
yang sukar. Kalau kerbaunya tidak mau membantu, habis aku harus berbuat
bagaimana?"
"Paman keliru. Bicara
tidaklah mudah, kalau kita tahu bagaimana harus bicara. Apa yang masuk ke dalam
mulut haruslah yang baik dan bersih agar kesehatan kita selalu terjamin.
Sebaliknya apa yang keluar dalam mulut pun harus selalu yang baik dan
bermanfaat bagi orang lain. Kalau kerbau Paman mogok bekerja karena lelah atau
sakit, sebaiknya dia dibiarkan beristirahat dan makan, sedangkan soal pekerjaan
dapat Paman lanjutkan dengan cangkul." Petani itu melototkan matanya.
"Orang muda, engkau
merasa pintar, ya? Kalau cuma begitu, tak perlu kau nasehati. Tidak urung aku
yang disuruh bekerja, sedangkan untuk menyelesaikan sawah ini hanya dengan
sebuah pacul, tentu tidak selesai dalam tiga hari!"
"Paman butuh bantuan?
Biarlah aku membantumu, Paman." Pemuda itu menyingsingkan lengan baju dan
celananya, kemudian turun ke sawah.
"Hemm, andika seorang
pemuda yang aneh. Apa maksudmu mencampuri urusan orang lain, mencela dan
membantu? Apakah pamrihmu hendak membantuku, orang muda?"
"Pamrih? Perbuatan yang
berpamrih bergelimang kepalsuan, Paman. Membantu orang lain didasari pamrih,
bukanlah bantuan namanya, melainkan usaha tercapainya pamrih itu sendiri.
Bagiku, membantumu bekerja adalah wajar, Paman. Andika membutuhkan bantuan
karena kerbaumu mogok, dan aku datang membantu, itu sudah wajar, sudah tepat,
seperti tepatnya orang lapar makan dan orang haus minum. Ada pamrih apa
lagi?" Pemuda itu lalu menuntun kerbau yang mogok tadi dan anehnya kerbau
itu menurut saja dituntun minggir, tidak seperti tadi, digebuki masih tetap
mendekam. Setelah kerbau dan lukunya dibawa ke pinggir, pemuda itu lalu
mengambil cangkul dan tanpa banyak cakap lagi mulailah mencangkuli tanah yang
belum terluku. Petani itu memandang dengan mata lebar, lalu menggeleng-geleng
kepala tidak mengerti akan sikap pemuda ini, akan tetapi diam-diam girang juga
hatinya mendapat seorang pembantu suka rela yang melihat caranya mengayun
cangkul boleh diharapkan akan dapat mengejar ketinggalan pekerjaannya karena
kerbau mogok tadi. Ia pun lalu menyambar cangkul sebuah lagi dan bekerja tekun
seperti lajimnya para petani bekerja di sawah. Kelihatannya biasa saja pemuda
itu bekerja, akan tetapi betapa girang dan herannya petani itu ketika melihat
bahwa hasil cangkulnya pemuda itu empat lima kali lebih cepat dan banyak
daripada hasil pekerjaannya sendiri. Dengan demikian maka dibantu pemuda ini
tidaklah lebih lambat daripada kalau dibantu kerbaunya menarik luku!
Lewat tengah hari, seorang
gadis ke sawah itu, membawa sebuah bakul berisi nasi bersama sambel wijen dan
ikan lele bakar. Bakul itu disunggi di atas kepala, dipegangi tangan kiri
sedangkan tangan kanannya mencangking sebuah kendi berisi air.
"Pak, berhenti dulu.
Mengaso dan makan!" serunya dengan suara yang renyah melengking.
"Wah, kau sudah datang,
Mi! siapkan dua pincuk (pining daun pisang), kami sudah lapar sekali!"
Gadis yang usianya paling banyak tujuh belas tahun, bertubuh ramping padat
berkulit hitam manis dengan wajah yang manis sekali itu mengangkat muka
memandang ke arah pemuda berkulit putih yang membantu ayahnya. Kebetulan pada
saat itu si pemuda juga menengok ke arahnya dan si gadis tersenyum malu-malu,
kemudian menjawab,
"Baik, Pak!"
"Hayo mengaso dan makan
dulu, Nak."
Pemuda itu mengangguk,
melepas cangkulnya dan menghapus peluh di dahi dengan lengannya. Kemudian
mereka berdua mencuci tangan dengan air kendi lalu duduk di atas galengan
sawah. Pemuda itu mendapat kenyataan betapa gadis petani ini benar-benar manis
dan cantik sekali, kecantikan aseli tanpa bantuan bedak dan mangir sehingga ia
memandang kagum.
"Paman, anak daramu
cantik dan manis sekali!" kata pemuda itu.
Kembali petani itu
terbelalak melihat sikap dan ucapan yang blak-blakan dan tulus ini, akan tetapi
Bagus Seta sebagai seorang pria yang sudah banyak pengalaman ia tidak melihat
adanya pandang mata kurang ajar sehingga kembali ia tertegun. Pemuda ini
benar-benar seorang manusia aneh dan tidak lumrah! Akan tetapi pujian yang
membuat gadis itu tiba-tiba melengos dan menyembunyikan mukanya yang menjadi
merah itu membikin hati kakek petani ini gembira, akan tetapi berbareng juga
mengingatkan kakek itu akan kesulitan yang dihadapinya.
"Itulah yang membikin
aku tadi menggebuki kerbauku, Nak."
"Pak .....! Si Wage
kaugebuki? Kenapa?" tiba-tiba gadis itu bertanya sambil memandang
bapaknya.
"Dia mogok, mungkin
sakit ...!”
No comments:
Post a Comment