"Ah, kasihan Si Wage ...!" Gadis itu lalu bangkit berdiri dan berlari menghampiri kerbau yang kini makan rumput di pinggir sawah. Ketika berlari, tubuh ramping padat itu mendatangkan pemandangan yang amat mempesonakan.
"Paman, apakah artinya
ucapanmu tadi?" tanya si pemuda sambil mengepal nasi dicocol sambel dan
ditemani secuwil daging ikan lele panggang, lalu memasukkannya ke mulut.
Petani itu mengunyah nasi
yang memenuhi mulutnya dan menelan dengan anggukan kepala, kelihatan nikmat
sekali. Memang sesungguhnyalah bahwa kenikmatan makan seorang petani yang telah
bekerja keras dan lelah di bawah terik panas matahari biarpun hanya nasi dengan
sambal, mengatasi kenikmatan makan seorang raja yang menghadapi hidangan puluhan
macam banyaknya!
"Memang demikian, Nak.
Sutarmi anakku itu amat cantik, kembangnya dusun ini, dan kecantikannya itulah
yang memaksa aku tadi naik darah menggebuki kerbauku. Soalnya Kepala dusun
menjatuhkan pajak yang amat besar berupa hasil sawahku, lebih setengahnya
diharuskan untuk disetorkan kepadanya. Karena tahun-tahun yang lalu hasil
sawahku kurang baik dan mendiang isteriku pada waktu itu sakit-sakit saja
sehingga mengeluarkan banyak biaya, maka aku jadi berhutang banyak pajak.
Akhir-akhir ini, melihat kecantikan anakku, ketua dusun menyatakan bahwa kalau
panen depan ini aku tidak dapat melunasi hutang, jalan satu-satunya agar gusti
patih, yaitu yang menguasai daerah pertanian di sini, tidak marah, aku harus
menyerahkan Sutarmi kepada kepala dusun untuk dipersembahkan kepada gusti
patih. Katanya untuk dijadikan abdi dalem, akan tetapi aku sudah tua dan sudah
banyak mendengar bahwa ....." Petani itu menunda kata-katanya dan
celingukan ke kanan kiri.
"Bahwa bagaimana,
Paman?"
"Bahwa gusti patih
paling gemar akan gadis-gadis muda yang cantik, untuk diselir tentunya,"
kakek itu berbisik.
"Demikianlah, aku harus
bekerja keras agar panen depan dapat melunasi hutang atau akan menjadi
korbanlah anakku karena kecantikannya. Ketika Si Wage mogok, aku menjadi marah
tadi ...”
Pemuda itu
mengangguk-angguk.
"Ahh, tepatlah pendapat
orang-orang pandai di jaman dahulu bahwa setiap hal yang mendatangkan
kesenangan, pasti dapat pula mendatangkan kesusahan, seperti halnya engkau
mempunyai seorang anak gadis cantik, Paman. Di samping mendatangkan kesenangan
dan kebanggaan, sekarang ternyata mendatangkan kesusahan dan kesulitan. Akan
tetapi, tidak ada hal yang tak dapat diatasi dengan akal budi, Paman."
"Akal budi bagaimana?
Satu-satunya jalan harus membayar hutang ....”
Kakek itu menghela napas dan
melanjutkan makannya. Gadis hitam manis itu, Sutarmi, kini kembali ke situ
setelah tadi mengelus-elus leher dan kepala Si Wage.
"Pak, lain kali jangan
menggebugi Si Wage, kasihan!" katanya merengut.
"Memang, Mi seharusnya
engkaulah yang kugebuki karena kecantikanmu. Kalau saja engkau tidak secantik
ini tentu tidak akan terpilih sebagai abdi dalem gusti patih," ayahnya
mengomel.
"Ah, Bapak kembali
membingungkan hal itu. Sudah kukatakan bahwa panen depan ini kita pasti akan
dapat melunasi pajak. Kalau tidak pun, aku akan bekerja keras di kepatihan,
tidak akan mengecewakan Bapak. Pula, apa sih jeleknya menjadi abdi dalem
kepatihan, Pak?"
Ayahnya menggeleng-geleng
kepala.
"Aahhh, engkau tidak
tahu ... engkau tidak tahu dan kalau sudah tahu akan terlambat. Lebih baik
engkau bermuka buruk akan tetapi terhindar daripada malapetaka ...”
"Paman, kurasa kalau
Paman hanya menghendaki adik ini menjadi buruk mukanya, mudah sekali."
"Apa kau bilang? Apa
maksudmu?" tanya petani itu menghentikan cucuran air kendi yang tengah
digelogoknya.
"Aku mempunyai semacam
obat yang akan membuat muka adik Sutarmi menjadi belang-belang dan hitam-hitam
sehingga ketua dusun akan jijik melihatnya....”
"Aku tidak mau! Aku
tidak mau mukaku menjadi menjijikkan!" Sutamni berkata dan memandang wajah
pemuda tampan itu dengan marah.
Pemuda itu tersenyum.
"Bukan menjadi buruk seterusnya, Dik. Melainkan buruk dan belang-belang
menghitam karena obatku dan untuk menghindarkan Adik daripada incaran ketua
dusun. Kalau bahaya telah lewat, dengan obat lain wajah Adik akan menjadi
bersih dan halus kembali."
"Ehh ....?
Betulkah?" Ayah dan anak itu memandang pemuda itu penuh keheranan, juga
penuh harapan.
"Paman dan Adik Sutarmi
membutuhkan jalan keluar untuk menghindarkan hal yang tidak kalian sukai, dan
aku dapat memberi jalan itu, tentu saja aku tidak berbohong. Aku akan membuat
muka Adik Sutarmi menjadi buruk sekali dan Paman dapat mengatakan bahwa dia
terkena penyakit. Kutanggung tidak akan ada dukun yang mampu mengobatinya. Kemudian,
kalau bahaya sudah lewat, atau sebaiknya kalau Paman dan Adik pindah saja ke
daerah lain, dengan obat lain, muka yang menggitam itu akan dapat bersih
kembali."
Petani itu berseri wajahnya.
"Ah, akal ini bagus
sekali! Anak muda yang aneh dan budiman. Lekas kauberikan obat pemunah muka
cantik menjadi muka buruk itu!"
"Obatnya ada pada
telapak tanganku, Paman. Adapun obat penawarnya, cukup dipupuri tanah sawah.
Bolehkah kucoba sekarang?"
"Cobalah .....cobalah
...!” petani itu mendesak. Pemuda itu menghampiri Sutarmi yang duduk bersimpuh.
"Tengadahkan mukamu dan
pejamkan matamu, Dik. Aku akan mengubah kulit mukamu menjadi buruk."
Sejenak mata gadis itu
menatap wajah si pemuda, akan tetapi ketika pandang mereka bertemu, gadis itu
mendapat perasaan yang aneh, yang membuat ia menaruh kepercayaan besar dan
perasaan pasrah. Ia mengangguk, kemudian mengangkat muka dan memejamkan
matanya.
Akan tetapi hanya sebentar
karena ia membuka matanya kembali dan bertanya,
"Sakitkah?"
Pemuda itu tersenyum lebar
dan menggeleng kepala. Setelah Sutarmi memejamkan matanya kembali, pemuda itu
lalu menggunakan tangan kiri untuk memegang dagu kecil meruncing manis itu, dan
mengusapkan telapak tangan kanannya di seluruh muka Sutarmi. Terdengar napas
tersentak ketika si petani melihat betapa muka anaknya secara mendadak telah
berubah hitam! Kalau hanya hitam saja dan merata, tidak apa. Akan tetapi
hitamnya tidak rata, totol-totol sehingga membuat muka itu menjadi buruk
sekali. Pemuda itu melangkah mundur dan duduk lagi sambil berkata,
"Sudah selesai,
Dik."
Sutarmi membuka matanya,
memandang pemuda itu yang tersenyum-senyum dan mengira bahwa tentu pemuda itu
membohonginya karena ia sama sekall tidak merasakan apa-apa. Akan tetapi ketika
ia memandang wajah ayahnya yang melotot matanya dan melongo mulutnya, gadis ini
cepat lari mendekati kali kecil di pinggir sawah untuk melihat bayangannya
sendiri di air. Ia menjenguk dan.... tiba-tiba ia menangis.
"Aku tidak mau begini
... hii hiii ... aku tidak mau .....!” Kembali ia menjenguk dan memandang ke
air dengan air mata bercucuran dan kembali menjerit-jerit dan menangis.
Kemudian Sutarmi lalu menggunakan air kali untuk mencuci mukanya,
menggosok-gosoknya dengan tangan dan ujung kemben.
Ketika ia bercermin lagi di
air dan melihat mukanya masih tetap belang-belang hitam, ia lalu mengambil batu
dan menggosok-gosok mukanya dengan batu dan mencucinya kembali. Akan tetapi
hasilnya tidak ada, mukanya tetap totol-totol hitam dan buruk sekali.
"Aku tidak mau ....!
Ah, engkau manusia kejam..... mengapa membikin mukaku menjadi begini ...
?" Dalam kesedihan dan kemarahannya, Sutarmi lalu berlari menghampiri
pemuda itu dan menggunakan kedua tangannya hendak memukul dan mencakar.
"Tarmi, jangan!"
teriak ayahnya yang maju dan memegangi kedua tangan anaknya. Sutarmi menangis
mengguguk.
"Pak, lebih balk aku
mati saja ....hii-hiii .... mukaku menjadi begini buruk menjijikkan
.....!"
"Jangan khawatir, Dik
Tarmi. Sudah kukatakan tadi bahwa segala macam obat atau air tidak akan mampu
menghilangkan warna hitam itu, dan segala dukun takkan mampu mengobati. Akan
tetapi kalau engkau menghendaki kulit mukamu pulih kembali, kaupupuri dengan
tanah sawah, jika Sang Hyang Widhi menghendaki, pasti akan pulih kembali."
Mendengar ini, Sutarmi
merenggutkan tangannya terlepas dari ayahnya, lari ke tengah sawah, mengambil
lumpur dan memupuri mukanya dengan lumpur sampai rata. Saking tergesa-gesa,
matanya kemasukan lumpur dan ia tersandung-sandung ketika lari ke air untuk
mencuci mukanya yang penuh lumpur. Sekali saja ia menyiramkan air ke mukanya,
warna hitam itu lenyap sama sekali. Tarmi bercermin dan melihat mukanya sudah
pulih kembali, ia... menangis lagi saking girangnya!
"Wah-wah, Tarmi. Apakah
engkau sudah menjadi gemblung (gila)? Mukamu menjadi hitam menangis, sekarang
sudah pulih menangis juga!"
"Berduka mengeluarkan
air mata, bersuka juga mengeluarkan air mata. Duka maupun suka bagi air mata
memang sama saja, Paman, hanya merupakan permainan hati manusia." Kemudian
pemuda itu berkata kepada Tarmi yang sudah berhenti menangis,
"Bagaimana, Dik. Sudah
percayakah engkau? Apakah sekarang engkau suka membiarkan mukamu kubikin hitam
lagi untuk menghindarkan dirimu daripada bahaya dan menghindarkan ayahmu dari
kesusahan?"
"Harus kau lakukan,
Anakku. Sampai urusan ini beres dan bahaya lewat, kelak mudah saja mengobati
mukamu, di mana-mana di dunia ini terdapat tanah sawah!"
Sutarmi memandang pemuda
itu, mengangguk sambil tersenyum. Kini ia mengangkat mukanya dengan muka
berseri dan memejamkan matanya ketika pemuda itu mengusap mukanya dengan
telapak tangan kanan sehingga muka gadis itu kembali menjadi belang-belang
menghitam, buruk dan menjijikkan dalam pandangan pria yang matanya bernapsu.
Seperti tadi, Sutarmi bercermin di air dan kini ia tertawa geli.
"Paman, dan Dik Tarmi,
sekarang perkenankan aku pergi." Tanpa menanti jawaban pemuda itu
menghampiri kerbau dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Kerbau, bantulah
majikanmu. Memang sudah menjadi nasibmu harus membantu manusia, berbahagialah
dalam menunaikan kewajibanmu." Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah
pergi dari pinggir sawah, diikuti pandang mata Tarmi dan pandang mata petani
itu yang terbelalak keheranan melihat kini kerbaunya bangkit berdiri dan tampak
segar bersemangat.
"Nanti dulu, Nak!
Perkenalkanlah namamu ....!” Pemuda itu menghentikan langkah, menoleh dan
berkata sambil tersenyum,
"Namaku Bagus Seta,
Paman!" Ia lalu membalikkan tubuh dan berjalan pergi lagi dengan langkah
ringan.
Bagus Seta kini telah
menjadi seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan mempunyai wibawa yang
aneh. Gerak-geriknya halus, sikapnya bersahaya, sama sekali tidak membayangkan
kekuatan, akan tetapi sepasang matanya yang jernih itu mengandung pengaruh
halus yang akan melemahkan hati orang yang keras, dan akan mendatangkan rasa
segan karena seolah-olah pandang mata itu dapat menjenguk di dasar yang paling
dalam dari hati orang. Ia baru beberapa pekan turun dari puncak Gunung Bromo,
puncak terakhir di mana ia dibawa gurunya, Sang Sakti Bhagawan Ekadenta,
setelah selama lima tahun gurunya membawanya ke puncak-puncak gunung hampir di
seluruh tanah Jawa. Masih bergema di telinganya pesan gurunya ketika
menyuruhnya meninggalkan puncak,
"Kulup Bagus Seta, kini
telah tiba saatnya engkau harus turun gunung dan tiba saatnya kita harus saling
berpisah. Kiranya tidak perlu lagi kuulangi semua wejangan dan pelajaran yang
telah kuberikan kepadamu selama ini. Dan aku pun tidak akan memaksamu melakukan
sesuatu karena segala sesuatu yang akan kaulakukan adalah bebas dan terserah
atas keputusanmu sendiri, Kulup. Hanya satu hal saja yang kuingin ingatkan
kepadamu agar kaucamkan di dalam hati sanubarimu."
"Hamba siap
mendengarkan petunjuk Eyang dan siap pula melaksanakan segala perintah
Eyang," kata Bagus Seta ketika kakek itu berhenti sebentar untuk menghirup
udara sejuk bersih puncak Gunung Bromo.
"Ingatlah
selalu bahwa tidaklah sia-sia manusia dihidupkan di dunia ini. Hidup adalah
perjuangan yang tak kunjung henti, perjuangan manuju ke titik terakhir yang
menjadl puncak kesempurnaan. Hidup barulah tidak sia-sia dan berhasil apabila
engkau selalu radar bahwa perjuangan itu adalah pelaksanaan kewajiban. Tanamkan
dalam sanubarimu bahwa setiap gerak hidup harus didasari pelaksanaan kewajiban
itulah. Apakah kewajiban manusia hidup? Tengoklah di sekelilingmu, Kulup.
Pandanglah Sang Surya dan kenalilah sifat-sifatnya, pandanglah bulan dan
bintang, awan dan angin, segala macam tetumbuhan dan segala mahluk. Adakah
mahluk yang tiada manfaat atau kegunaannya dalam dunia, yaitu kegunaan atau
kemanfaatannya bagi benda atau mahluk lain? Kalau toh ada kautemukan benda atau
mahluk yang tidak berguna bagi yang lain, hal itu hanya karena engkau belum
mengerti akan kegunaannya, masih belum terbuka rahasia alam yang ada pada benda
atau mahluk yang kauanggap tidak berguna itu.
No comments:
Post a Comment