Perawan Lembah Wilis; Bagian 154


"Ah, kasihan Si Wage ...!" Gadis itu lalu bangkit berdiri dan berlari menghampiri kerbau yang kini makan rumput di pinggir sawah. Ketika berlari, tubuh ramping padat itu mendatangkan pemandangan yang amat mempesonakan.
"Paman, apakah artinya ucapanmu tadi?" tanya si pemuda sambil mengepal nasi dicocol sambel dan ditemani secuwil daging ikan lele panggang, lalu memasukkannya ke mulut.

Petani itu mengunyah nasi yang memenuhi mulutnya dan menelan dengan anggukan kepala, kelihatan nikmat sekali. Memang sesungguhnyalah bahwa kenikmatan makan seorang petani yang telah bekerja keras dan lelah di bawah terik panas matahari biarpun hanya nasi dengan sambal, mengatasi kenikmatan makan seorang raja yang menghadapi hidangan puluhan macam banyaknya!
"Memang demikian, Nak. Sutarmi anakku itu amat cantik, kembangnya dusun ini, dan kecantikannya itulah yang memaksa aku tadi naik darah menggebuki kerbauku. Soalnya Kepala dusun menjatuhkan pajak yang amat besar berupa hasil sawahku, lebih setengahnya diharuskan untuk disetorkan kepadanya. Karena tahun-tahun yang lalu hasil sawahku kurang baik dan mendiang isteriku pada waktu itu sakit-sakit saja sehingga mengeluarkan banyak biaya, maka aku jadi berhutang banyak pajak. Akhir-akhir ini, melihat kecantikan anakku, ketua dusun menyatakan bahwa kalau panen depan ini aku tidak dapat melunasi hutang, jalan satu-satunya agar gusti patih, yaitu yang menguasai daerah pertanian di sini, tidak marah, aku harus menyerahkan Sutarmi kepada kepala dusun untuk dipersembahkan kepada gusti patih. Katanya untuk dijadikan abdi dalem, akan tetapi aku sudah tua dan sudah banyak mendengar bahwa ....." Petani itu menunda kata-katanya dan celingukan ke kanan kiri.
"Bahwa bagaimana, Paman?"
"Bahwa gusti patih paling gemar akan gadis-gadis muda yang cantik, untuk diselir tentunya," kakek itu berbisik.
"Demikianlah, aku harus bekerja keras agar panen depan dapat melunasi hutang atau akan menjadi korbanlah anakku karena kecantikannya. Ketika Si Wage mogok, aku menjadi marah tadi ...”
Pemuda itu mengangguk-angguk.
"Ahh, tepatlah pendapat orang-orang pandai di jaman dahulu bahwa setiap hal yang mendatangkan kesenangan, pasti dapat pula mendatangkan kesusahan, seperti halnya engkau mempunyai seorang anak gadis cantik, Paman. Di samping mendatangkan kesenangan dan kebanggaan, sekarang ternyata mendatangkan kesusahan dan kesulitan. Akan tetapi, tidak ada hal yang tak dapat diatasi dengan akal budi, Paman."
"Akal budi bagaimana? Satu-satunya jalan harus membayar hutang ....”
Kakek itu menghela napas dan melanjutkan makannya. Gadis hitam manis itu, Sutarmi, kini kembali ke situ setelah tadi mengelus-elus leher dan kepala Si Wage.
"Pak, lain kali jangan menggebugi Si Wage, kasihan!" katanya merengut.
"Memang, Mi seharusnya engkaulah yang kugebuki karena kecantikanmu. Kalau saja engkau tidak secantik ini tentu tidak akan terpilih sebagai abdi dalem gusti patih," ayahnya mengomel.
"Ah, Bapak kembali membingungkan hal itu. Sudah kukatakan bahwa panen depan ini kita pasti akan dapat melunasi pajak. Kalau tidak pun, aku akan bekerja keras di kepatihan, tidak akan mengecewakan Bapak. Pula, apa sih jeleknya menjadi abdi dalem kepatihan, Pak?"
Ayahnya menggeleng-geleng kepala.
"Aahhh, engkau tidak tahu ... engkau tidak tahu dan kalau sudah tahu akan terlambat. Lebih baik engkau bermuka buruk akan tetapi terhindar daripada malapetaka ...”
"Paman, kurasa kalau Paman hanya menghendaki adik ini menjadi buruk mukanya, mudah sekali."
"Apa kau bilang? Apa maksudmu?" tanya petani itu menghentikan cucuran air kendi yang tengah digelogoknya.
"Aku mempunyai semacam obat yang akan membuat muka adik Sutarmi menjadi belang-belang dan hitam-hitam sehingga ketua dusun akan jijik melihatnya....”
"Aku tidak mau! Aku tidak mau mukaku menjadi menjijikkan!" Sutamni berkata dan memandang wajah pemuda tampan itu dengan marah.

Pemuda itu tersenyum. "Bukan menjadi buruk seterusnya, Dik. Melainkan buruk dan belang-belang menghitam karena obatku dan untuk menghindarkan Adik daripada incaran ketua dusun. Kalau bahaya telah lewat, dengan obat lain wajah Adik akan menjadi bersih dan halus kembali."
"Ehh ....? Betulkah?" Ayah dan anak itu memandang pemuda itu penuh keheranan, juga penuh harapan.
"Paman dan Adik Sutarmi membutuhkan jalan keluar untuk menghindarkan hal yang tidak kalian sukai, dan aku dapat memberi jalan itu, tentu saja aku tidak berbohong. Aku akan membuat muka Adik Sutarmi menjadi buruk sekali dan Paman dapat mengatakan bahwa dia terkena penyakit. Kutanggung tidak akan ada dukun yang mampu mengobatinya. Kemudian, kalau bahaya sudah lewat, atau sebaiknya kalau Paman dan Adik pindah saja ke daerah lain, dengan obat lain, muka yang menggitam itu akan dapat bersih kembali."
Petani itu berseri wajahnya.
"Ah, akal ini bagus sekali! Anak muda yang aneh dan budiman. Lekas kauberikan obat pemunah muka cantik menjadi muka buruk itu!"
"Obatnya ada pada telapak tanganku, Paman. Adapun obat penawarnya, cukup dipupuri tanah sawah. Bolehkah kucoba sekarang?"
"Cobalah .....cobalah ...!” petani itu mendesak. Pemuda itu menghampiri Sutarmi yang duduk bersimpuh.
"Tengadahkan mukamu dan pejamkan matamu, Dik. Aku akan mengubah kulit mukamu menjadi buruk."
Sejenak mata gadis itu menatap wajah si pemuda, akan tetapi ketika pandang mereka bertemu, gadis itu mendapat perasaan yang aneh, yang membuat ia menaruh kepercayaan besar dan perasaan pasrah. Ia mengangguk, kemudian mengangkat muka dan memejamkan matanya.
Akan tetapi hanya sebentar karena ia membuka matanya kembali dan bertanya,
"Sakitkah?"
Pemuda itu tersenyum lebar dan menggeleng kepala. Setelah Sutarmi memejamkan matanya kembali, pemuda itu lalu menggunakan tangan kiri untuk memegang dagu kecil meruncing manis itu, dan mengusapkan telapak tangan kanannya di seluruh muka Sutarmi. Terdengar napas tersentak ketika si petani melihat betapa muka anaknya secara mendadak telah berubah hitam! Kalau hanya hitam saja dan merata, tidak apa. Akan tetapi hitamnya tidak rata, totol-totol sehingga membuat muka itu menjadi buruk sekali. Pemuda itu melangkah mundur dan duduk lagi sambil berkata,
"Sudah selesai, Dik."
Sutarmi membuka matanya, memandang pemuda itu yang tersenyum-senyum dan mengira bahwa tentu pemuda itu membohonginya karena ia sama sekall tidak merasakan apa-apa. Akan tetapi ketika ia memandang wajah ayahnya yang melotot matanya dan melongo mulutnya, gadis ini cepat lari mendekati kali kecil di pinggir sawah untuk melihat bayangannya sendiri di air. Ia menjenguk dan.... tiba-tiba ia menangis.
"Aku tidak mau begini ... hii hiii ... aku tidak mau .....!” Kembali ia menjenguk dan memandang ke air dengan air mata bercucuran dan kembali menjerit-jerit dan menangis. Kemudian Sutarmi lalu menggunakan air kali untuk mencuci mukanya, menggosok-gosoknya dengan tangan dan ujung kemben.

Ketika ia bercermin lagi di air dan melihat mukanya masih tetap belang-belang hitam, ia lalu mengambil batu dan menggosok-gosok mukanya dengan batu dan mencucinya kembali. Akan tetapi hasilnya tidak ada, mukanya tetap totol-totol hitam dan buruk sekali.
"Aku tidak mau ....! Ah, engkau manusia kejam..... mengapa membikin mukaku menjadi begini ... ?" Dalam kesedihan dan kemarahannya, Sutarmi lalu berlari menghampiri pemuda itu dan menggunakan kedua tangannya hendak memukul dan mencakar.
"Tarmi, jangan!" teriak ayahnya yang maju dan memegangi kedua tangan anaknya. Sutarmi menangis mengguguk.
"Pak, lebih balk aku mati saja ....hii-hiii .... mukaku menjadi begini buruk menjijikkan .....!"
"Jangan khawatir, Dik Tarmi. Sudah kukatakan tadi bahwa segala macam obat atau air tidak akan mampu menghilangkan warna hitam itu, dan segala dukun takkan mampu mengobati. Akan tetapi kalau engkau menghendaki kulit mukamu pulih kembali, kaupupuri dengan tanah sawah, jika Sang Hyang Widhi menghendaki, pasti akan pulih kembali."
Mendengar ini, Sutarmi merenggutkan tangannya terlepas dari ayahnya, lari ke tengah sawah, mengambil lumpur dan memupuri mukanya dengan lumpur sampai rata. Saking tergesa-gesa, matanya kemasukan lumpur dan ia tersandung-sandung ketika lari ke air untuk mencuci mukanya yang penuh lumpur. Sekali saja ia menyiramkan air ke mukanya, warna hitam itu lenyap sama sekali. Tarmi bercermin dan melihat mukanya sudah pulih kembali, ia... menangis lagi saking girangnya!
"Wah-wah, Tarmi. Apakah engkau sudah menjadi gemblung (gila)? Mukamu menjadi hitam menangis, sekarang sudah pulih menangis juga!"
"Berduka mengeluarkan air mata, bersuka juga mengeluarkan air mata. Duka maupun suka bagi air mata memang sama saja, Paman, hanya merupakan permainan hati manusia." Kemudian pemuda itu berkata kepada Tarmi yang sudah berhenti menangis,
"Bagaimana, Dik. Sudah percayakah engkau? Apakah sekarang engkau suka membiarkan mukamu kubikin hitam lagi untuk menghindarkan dirimu daripada bahaya dan menghindarkan ayahmu dari kesusahan?"
"Harus kau lakukan, Anakku. Sampai urusan ini beres dan bahaya lewat, kelak mudah saja mengobati mukamu, di mana-mana di dunia ini terdapat tanah sawah!"
Sutarmi memandang pemuda itu, mengangguk sambil tersenyum. Kini ia mengangkat mukanya dengan muka berseri dan memejamkan matanya ketika pemuda itu mengusap mukanya dengan telapak tangan kanan sehingga muka gadis itu kembali menjadi belang-belang menghitam, buruk dan menjijikkan dalam pandangan pria yang matanya bernapsu. Seperti tadi, Sutarmi bercermin di air dan kini ia tertawa geli.
"Paman, dan Dik Tarmi, sekarang perkenankan aku pergi." Tanpa menanti jawaban pemuda itu menghampiri kerbau dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Kerbau, bantulah majikanmu. Memang sudah menjadi nasibmu harus membantu manusia, berbahagialah dalam menunaikan kewajibanmu." Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari pinggir sawah, diikuti pandang mata Tarmi dan pandang mata petani itu yang terbelalak keheranan melihat kini kerbaunya bangkit berdiri dan tampak segar bersemangat.
"Nanti dulu, Nak! Perkenalkanlah namamu ....!” Pemuda itu menghentikan langkah, menoleh dan berkata sambil tersenyum,
"Namaku Bagus Seta, Paman!" Ia lalu membalikkan tubuh dan berjalan pergi lagi dengan langkah ringan.

Bagus Seta kini telah menjadi seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan mempunyai wibawa yang aneh. Gerak-geriknya halus, sikapnya bersahaya, sama sekali tidak membayangkan kekuatan, akan tetapi sepasang matanya yang jernih itu mengandung pengaruh halus yang akan melemahkan hati orang yang keras, dan akan mendatangkan rasa segan karena seolah-olah pandang mata itu dapat menjenguk di dasar yang paling dalam dari hati orang. Ia baru beberapa pekan turun dari puncak Gunung Bromo, puncak terakhir di mana ia dibawa gurunya, Sang Sakti Bhagawan Ekadenta, setelah selama lima tahun gurunya membawanya ke puncak-puncak gunung hampir di seluruh tanah Jawa. Masih bergema di telinganya pesan gurunya ketika menyuruhnya meninggalkan puncak,
"Kulup Bagus Seta, kini telah tiba saatnya engkau harus turun gunung dan tiba saatnya kita harus saling berpisah. Kiranya tidak perlu lagi kuulangi semua wejangan dan pelajaran yang telah kuberikan kepadamu selama ini. Dan aku pun tidak akan memaksamu melakukan sesuatu karena segala sesuatu yang akan kaulakukan adalah bebas dan terserah atas keputusanmu sendiri, Kulup. Hanya satu hal saja yang kuingin ingatkan kepadamu agar kaucamkan di dalam hati sanubarimu."
"Hamba siap mendengarkan petunjuk Eyang dan siap pula melaksanakan segala perintah Eyang," kata Bagus Seta ketika kakek itu berhenti sebentar untuk menghirup udara sejuk bersih puncak Gunung Bromo.
"Ingatlah selalu bahwa tidaklah sia-sia manusia dihidupkan di dunia ini. Hidup adalah perjuangan yang tak kunjung henti, perjuangan manuju ke titik terakhir yang menjadl puncak kesempurnaan. Hidup barulah tidak sia-sia dan berhasil apabila engkau selalu radar bahwa perjuangan itu adalah pelaksanaan kewajiban. Tanamkan dalam sanubarimu bahwa setiap gerak hidup harus didasari pelaksanaan kewajiban itulah. Apakah kewajiban manusia hidup? Tengoklah di sekelilingmu, Kulup. Pandanglah Sang Surya dan kenalilah sifat-sifatnya, pandanglah bulan dan bintang, awan dan angin, segala macam tetumbuhan dan segala mahluk. Adakah mahluk yang tiada manfaat atau kegunaannya dalam dunia, yaitu kegunaan atau kemanfaatannya bagi benda atau mahluk lain? Kalau toh ada kautemukan benda atau mahluk yang tidak berguna bagi yang lain, hal itu hanya karena engkau belum mengerti akan kegunaannya, masih belum terbuka rahasia alam yang ada pada benda atau mahluk yang kauanggap tidak berguna itu.

<<< Bagian 153                                                                                      Bagian 155 >>>

No comments:

Post a Comment