Semua Benda dan mahluk di dunia ini bermanfaat bagi makhluk dan benda lain. Dan itulah kewajiban diciptakannya semua alam mayapada dan isinya. BERGUNA BAGI BENDA DAN MAHLUK LAIN. Lebih mudah lagi, bagi manusia kewajibannya adalah berguna bagi manusia lain! Dengan demikian, maka engkau berarti telah hidup sesuai dengan kehendak alam, berarti sudah wajar dan dapat menuju ke titik kesempurnaan itu. Nah, selamat berjuang, Kulup Bagus Seta."
Wejangan-wejangan gurunya
masih teringat semua oleh Bagus Seta. Semuda itu ia telah digembleng oleh
gurunya dalam hal ilmu-ilmu kesaktian dan wejangan-wejangan kebatinan yang
dalam. Semuda itu ia sudah dapat menangkap inti sari wejangan gurunya. Bahwa ia
harus memanfaatkan hidupnya bagi kepentingan orang lain, karena inilah
kewajibannya, inilah tugas hidup dia sebagai manusia. Adapun apa dan bagaimana
pilihannya dalam sepak terjangnya, oleh gurunya diserahkan kepada dirinya
sendiri, berarti diserahkan kepadanya untuk menilai dan memilih.
Bagus Seta adalah putera
seorang satria. Adipati Tejolaksono, seorang sakti yang berjiwa patriot, yang
rela berkorban untuk nusa dan bangsanya. Sifat ini, sifat ayahnya, ibunya,
bahkan sifat nenek-neneknya yang juga semua berjiwa patriot, membekas di dalam
sanubarinya. Karena itu, ada juga niatnya untuk menghambakan diri kepada nusa
dan bangsanya, menentang kekuasaan-kekuasaan yang hendak menyengsarakan nusa
bangsanya. Pertemuannya dengan petani yang menyinggung soal watak Ki Patih
Jenggala, yang sewenang-wenang dan suka sekali mempermainkan anak gadis orang,
membangkitkan pula semangat patriotiknya ini. Dia harus meninjau ke Jenggala
sebelum ia mencari ayah bundanya. Harus meninjau Jenggala karena keadaan paman
tadi mencerminkan kelaliman yang berkuasa di kerajaan itu. Dan Jenggala
termasuk kerajaan yang harus pula dibelanya, karena Jenggala adalah kerajaan
keturunan Mataram. Pertemuannya dengan petani ayah Sutarmi itulah yang
menggerakkan hati Bagus Seta sehingga menggerakkan pula kakinya untuk membelok
menuju Kerajaan Jenggala. Di sepanjang perjalanan, makin dekat dengan Kota Raja
Jenggala, makin banyaklah mendengar keluh-kesah rakyat akan kelalilam para
pamong praja Jenggala. Bukan ini raja yang menarik hatinya, melainkan kenyataan
bahwa kini rakyat setengah dipaksa oleh para pamong praja untuk mengganti Agama
Wishnu menjadi Agama Syiwa dan Agama Buddha. Bahkan ada didengarnya berita
bahwa para pendeta Wishnu banyak yang lenyap secara aneh, dan bahwa sebagian
kecil sisa pendeta-pendeta Wishnu kini terpaksa melarikan diri dan bersembunyi
ke gunung-gunung yang sunyi.
Di dalam sebuah ruangan
tahanan yang berbentuk persegi dan terbuat daripada dinding batu-batu tebal
tampak empat orang muda terbelenggu dengan rantai-rantai baja yang amat tebal
dan kuat. Kedua lengan mereka, pada pergelangan tangan, terbelenggu dan karena
rantai itu dikaitkan pada besi pengait yang dipasang di dinding di atas kepala
mereka, maka mereka berempat terpaksa mengangkat kedua lengan mereka di kanan
kiri dan dalam keadaan seperti itu sukar sekali bagi mereka untuk mencoba
melarikan diri atau mempergunakan kekerasan.
Mereka dibelenggu pada
dinding itu berjajar. Paling kanan adalah Pusporini, di sebelah kirinya Joko
Pramono,. kemudian Setyaningsih dan paling kiri adalah Pangeran Panji Sigit.
Ketika mereka berempat itu siuman dari pingsan, mereka mendapatkan diri mereka
telah berada di dalam kamar tahanan ini. Pangeran Panji Sigit menoleh ke kanan,
terkejut melihat Joko Pramono juga terbelenggu di sebelah kanan isterinya
bersama Pusporini, mereka berpandangan mata dan pangeran itu berkata dengan
suara dingin dan tajam melebihi pedang habis diasah,
"Joko Pramono, setelah
engkau berhasil memikat burung, mengapa tidak memelihara dan menjaga burung itu
baik-baik akan tetapi membiarkannya celaka dan terancam maut?"
Tentu saja Joko Pramono tahu
apa makna ucapan ini, akan tetapi ia sudah maklum betapa pangeran ini, seperti
halnya Pusporini, juga menjadi korban tipu muslihat keji dan curang dari
Suminten, maka dengan sikap sabar dan bibir tersenyum ia menjawab,
"Kakangmas Pangeran,
burung itu suci, tidak terpikat dan juga tidak pernah kupikat, melainkan sedang
gelisah mencari pasangannya yang terkurung dan aku bersama Pusporini hanya
membantunya untuk berusaha menolong pasangannya .."
"Joko Pramono!
Sungguhpun rayuanmu berhasil menjatuhkan hati isteri orang, jangan harap akan
dapat menjatuhkan hatiku, setelah mataku sendiri menyaksikan semua yang
terjadi. Aku tidak mendendam, aku rela menyerahkannya kepadamu, rela mengalah
kalau memang dia cinta kepadamu, aku ....aku ....”
"Kakangmas
Pangeran!" Terdengar Setyaningsih menjerit lirih di sampingnya, sedangkan
Pusporini berbisik kepada Joko Pramono,
"Kau maafkanlah dia
seperti engkau memaafkan aku, Joko."
Joko Pramono tersenyum dan
memandang ke depan.
"Tidak ada yang
dimaafkan, Rini, karena memang seperti engkau juga, dia tidak bersalah.
Melainkan si iblis betina itulah yang bersalah."
"Rakanda Pangeran,
jangan menuduh yang bukan-bukan terhadap Joko Pramono. Dia telah mengerahkan
seluruh daya dan tenaganya untuk menolong kita, bahkan rela mempertaruhkan
nyawa untuk kita. Dia bersama Pusporini sekarang ikut pula tertawan, untuk
siapa lagi kalau bukan untuk membela kita? Paduka telah khilaf, terjebak
menjadi korban tipu muslihat keji yang juga mengorbankan Pusporini. Tahukah
paduka, bahwa karena kesalahfahaman yang sama seperti paduka, Pusporini hampir
saja membunuh Joko Pramono yang tidak berdosa?" Dengan singkat namun jelas
Setyaningsih lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi di dalam taman, kemudian
tentang pertemuan mereka dengan Ki Wiraman dan Widawati, tentang Ki Mitra yang
mereka percaya itu sesungguhnya Ki Mitra palsu, mata-mata yang sengaja
dipergunakan oleh Suminten untuk memalsu Ki Mitra yang telah dibunuh. Pangeran
Panji Sigit mendengarkan dengan mata terbelalak, mukanya menjadi berubah-ubah,
sebentar merah sebentar pucat. Apalagi ketika ia mendengar penjelasan dari
Pusporini kemudian dari Joko Pramono, tak tertahankan olehnya lagl dua titik
air mata membasahi pelupuk matanya ketika ia memandang kepada Joko Pramono.
"Dimas ....Dimas Joko
Pramono ....maukah andika mengampuni aku yang seperti buta mata ini?"
katanya dengan suara menggetar saking terharu.
Joko Pramono tersenyum
lebar.
"Kakangmas Pangeran,
paduka tidak bersalah apa-apa, bahkan saya merasa terharu sekali mendengar
ucapan dan menyaksikan sikap paduka tadi. Sungguh sikap yang bijaksana dan saya
sendiri tak mungkin dapat bersikap sebijaksana paduka andaikata saya yang
tertipu seperti paduka. Sekarang tidak perlu kiranya persoalan itu dibicarakan
karena sudah jelas bahwa kita semua menjadi korban tipu muslihat keji wanita
iblis itu dan bahwa semenjak kita berempat menjejakkan kaki di kota raja ini,
kita telah berada dalam cengkeraman mereka, sudah diawasi seluruh gerak-gerik
kita. Sekarang kita tertawan, jalan satu-satunya hanya dapat menyerahkan diri
dalam tangan Dewata sambil bersikap waspada akan gerak-gerik mereka
selanjutnya."
"Andika hebat dan
mengagumkan sekali, Dimas. Apapun yang terjadi, aku tidak menyerah terhadap
bujukan Suminten yang berusaha menarik kita menjadi sekutunya. Daripada
mengkhianati Kanjeng Rama, lebih baik aku tewas di tangan iblis betina
itu."
"Tepat sekali, Kakanda.
Saya pun rela tewas di samping Kakanda sebagai dharma bakti kita terhadap
Kanjeng Rama Prabu dan terhadap kerajaan paduka, Jenggala," kata
Setyaningsih.
"Kita lihat saja apa
yang akan dilalakukan selanjutnya oleh wanita iblis itu terhadap kita,"
kata Joko Pramono.
Dan apa yang dilakukan
selanjutnya oleh Suminten segera dihadapi oleh empat orang muda itu. Suminten
adalah seorang wanita yang kukuh dalam mengejar hasrat hatinya. Ia masih
tergila-gila kepada Pangeran Panji Sigit, dan takkan puaslah hatinya kalau
hasrat itu belum terpenuhi. Daya upaya dengan muslihat yang betapa rendah dan
keji sekali pun akan ditempuhnya untuk mencapai cita-cita hatinya. Tidak sampai
lama setelah mereka berempat sadar, pintu kamar tawanan yang kokoh kuat itu
terbuka dan tampaklah Suminten yang dikawal oleh enam orang pengawal bersenjata
tombak.
"Kalian menanti dan
menjaga di luar!" kata Suminten dengan suaranya yang serak basah
mengandung penuh getaran nafsu berahi. Enam orang pengawal yang muda- muda dan
kelihatan gagah dan kuat itu membungkuk dengan hormat dan menjaga di luar
pintu, sedang Suminten lalu melangkah masuk dan menutupkan daun pintunya. Ia
melangkah maju dan berdiri dalam jarak yang cukup aman, sejauh dua meter
sehingga andaikata empat orang tawanan itu yang hanya dapat menggunakan kaki
menyerangnya takkan dapat mencapai tubuhnya. Ia tersenyum manis sekali, lalu
menggeleng kepalanya dan berkata,
"Sungguh sayang sekali
bahwa empat orang muda belia yang gagah perkasa, wanitanya cantik-cantik dan
prianya tampan-tampan akhirnya harus mengakhiri hidup dalam keadaan begini
menyedihkan. Aku sendiri ikut terharu dan bersedih, akan tetapi apakah yang
dapat kulakukan setelah kalian berempat menjadi pemberontak-pemberontak yang
membahayakan Kerajaan Jenggala?"
"Suminten, wanita iblis
yang kelak menjadi intip neraka jahanam!" Pangeran Panji Sigit memaki
penuh kemarahan karena ia teringat betapa wanita itu telah mengatur tipu
muslihat keji sehingga ia sampai kehilangan kepercayaan akan kesetiaan
isterinya, bahkan telah menjatuhkan tuduhan rendah terhadap Joko Pramono.
"Tak perlu memutar
lidahmu yang seperti lidah ular bercabang! Kami tidak akan mendengarkan dan
kalau kau hendak membunuh kami, lakukanlah, kami adalah orang-orang berjiwa
satria yang tidak gentar menghadapi kematian!"
"Duh Pangeran yang
bagus seperti Harjuna, yang gagah perkasa seperti Gatutkaca, betapa gagah
beraninya engkau. Suminten takkan pernah meragukan kegagahanmu, Pangeran. Akan
tetapi kaulihatlah baik-baik keadaan isterimu, keadaan Joko Pramono dan
Pusporini. Tidakkah engkau merasa kasihan kepada mereka bertiga ini, Pangeran?
Mengapa engkau begini kukuh mempertahankan kegagahan dan kekesatriaan sendiri
tanpa mengingat akan kehidupan mereka bertiga ini? Engkau menyerahlah dan
menjadi pengeran terhormat di sini, menghentikan permusuhanmu denganku, dan aku
berjanji akan membebaskan mereka bertiga ini. Tidakkah ini amat murah hati
dariku? Tiga orang yang kauhormati dan kaukasihi ini kubebaskan dan sebagai
tebusannya, engkau bersekutu dengan aku, meraih kebahagiaan bergelimang kesenangan
di sini sebagai seorang pangeran .....ah, tidak, sebagai pangeran mahkota di
sini !"
Hebat dan muluk bukan main
bujuk rayu ini sehingga hati Setyaningsih menjadi amat khawatir, akan tetapi
karena ia percaya penuh kepada suaminya, ia tidak berkata sesuatu, hanya
memandang Suminten dengan sinar mata penuh kebencian. Memang sejenak Pangeran
Panji Sigit termenung dan memikirkan penawaran ini. Ia tidak berpikir demi,
keselamatan dan kepentingan dirinya sendiri. Sama sekali tidak! Jauh daripada
itu. Yang dipikirkan sekarang adalah kemungkinan membebaskan tiga orang muda
itu, terutama sekali isterinya, Setyaningsih! Kalau ia berpura-pura menurut dan
menyerah, kemudian isterinya, Joko Pramono dan Pusporini sudah dibebaskan,
bukankah dia dapat memberontak sampai terbunuh mati?
Daripada menolak dan mereka
semua terbunuh, bukankah lebih menguntungkan kalau dia seorang saja yang tewas
sedangkan mereka bertiga itu bebas? Suminten hanya menghendaki dirinya, maka
jalan satu-satunya untuk menyelamatkan. isterinya, Pusporini dan Joko Pramono
adalah berpura-pura menyerah. Mereka masih muda-muda, berhak untuk hidup
puluhan tahun lagi.
Tiba-tiba terdengar suara
Pusporini melengking nyaring, tertawa. Kemudian gadis yang agaknya menyelami
pikiran Pangeran Panji Sigit itu berkata,
"Heh, Suminten
perempuan tak bermalu! Kalau penawaran itu kauajukan kepada orang lain, mungkin
mereka itu akan menganggap amat baik mengorbankan diri sendiri demi kebebasan
tiga orang yang dikasihinya. Akan tetapi andaikata aku yang kautawari hal
rendah itu aku akan mengatakan bahwa aku akan bangga menyaksikan tiga orang
yang kukasihi tewas sebagai satria-satria sejati, berkorban demi negara dan
demi kebenaran!"
Ucapan gadis perkasa ini
seolah-olah percikan air sewindu yang dingin sejuk, menyadarkan Pangeran Panji
Sigit dari lamunannya. Ia kini sadar bahwa yang terpenting bukanlah nyawa dan
hidupnya tiga orang yang dikasihinya itu, melainkan kehormatan mereka sebagai
pembela-pembela kebenaran. Kalau ia menyerah lalu tewas dan mereka bertiga itu terbebas,
mereka bertiga akan hidup merana dan merasa terhina selamanya. Apalagi
Setyaningsih, tentu akan tersiksa hidupnya dan menganggap suaminya seorang
pengecut yang mudah tunduk terhadap rayuan seorang wanita iblis macam Suminten.
"Duh Yayi
Pusporini, terima kasih! Suminten, kau sudah mendengar sendiri, dan begitulah
jawabanku untuk penawaran dan rayuanmu yang keji dan palsu itu!" Suminten
merasa seperti ditampar mukanya, akan tetapi ia masih belum putus asa.
Pendirian Pangeran Panji Sigit dan Pusporini seperti itu, akan tetapi belum
tentu demikian pendirian Joko Pramono, pemuda yang bertubuh tegap dan
kejantanannya menarik hatinya dan membangkitkan berahinya itu.
No comments:
Post a Comment