Perawan Lembah Wilis; Bagian 155


Semua Benda dan mahluk di dunia ini bermanfaat bagi makhluk dan benda lain. Dan itulah kewajiban diciptakannya semua alam mayapada dan isinya. BERGUNA BAGI BENDA DAN MAHLUK LAIN. Lebih mudah lagi, bagi manusia kewajibannya adalah berguna bagi manusia lain! Dengan demikian, maka engkau berarti telah hidup sesuai dengan kehendak alam, berarti sudah wajar dan dapat menuju ke titik kesempurnaan itu. Nah, selamat berjuang, Kulup Bagus Seta."

Wejangan-wejangan gurunya masih teringat semua oleh Bagus Seta. Semuda itu ia telah digembleng oleh gurunya dalam hal ilmu-ilmu kesaktian dan wejangan-wejangan kebatinan yang dalam. Semuda itu ia sudah dapat menangkap inti sari wejangan gurunya. Bahwa ia harus memanfaatkan hidupnya bagi kepentingan orang lain, karena inilah kewajibannya, inilah tugas hidup dia sebagai manusia. Adapun apa dan bagaimana pilihannya dalam sepak terjangnya, oleh gurunya diserahkan kepada dirinya sendiri, berarti diserahkan kepadanya untuk menilai dan memilih.
Bagus Seta adalah putera seorang satria. Adipati Tejolaksono, seorang sakti yang berjiwa patriot, yang rela berkorban untuk nusa dan bangsanya. Sifat ini, sifat ayahnya, ibunya, bahkan sifat nenek-neneknya yang juga semua berjiwa patriot, membekas di dalam sanubarinya. Karena itu, ada juga niatnya untuk menghambakan diri kepada nusa dan bangsanya, menentang kekuasaan-kekuasaan yang hendak menyengsarakan nusa bangsanya. Pertemuannya dengan petani yang menyinggung soal watak Ki Patih Jenggala, yang sewenang-wenang dan suka sekali mempermainkan anak gadis orang, membangkitkan pula semangat patriotiknya ini. Dia harus meninjau ke Jenggala sebelum ia mencari ayah bundanya. Harus meninjau Jenggala karena keadaan paman tadi mencerminkan kelaliman yang berkuasa di kerajaan itu. Dan Jenggala termasuk kerajaan yang harus pula dibelanya, karena Jenggala adalah kerajaan keturunan Mataram. Pertemuannya dengan petani ayah Sutarmi itulah yang menggerakkan hati Bagus Seta sehingga menggerakkan pula kakinya untuk membelok menuju Kerajaan Jenggala. Di sepanjang perjalanan, makin dekat dengan Kota Raja Jenggala, makin banyaklah mendengar keluh-kesah rakyat akan kelalilam para pamong praja Jenggala. Bukan ini raja yang menarik hatinya, melainkan kenyataan bahwa kini rakyat setengah dipaksa oleh para pamong praja untuk mengganti Agama Wishnu menjadi Agama Syiwa dan Agama Buddha. Bahkan ada didengarnya berita bahwa para pendeta Wishnu banyak yang lenyap secara aneh, dan bahwa sebagian kecil sisa pendeta-pendeta Wishnu kini terpaksa melarikan diri dan bersembunyi ke gunung-gunung yang sunyi.

Di dalam sebuah ruangan tahanan yang berbentuk persegi dan terbuat daripada dinding batu-batu tebal tampak empat orang muda terbelenggu dengan rantai-rantai baja yang amat tebal dan kuat. Kedua lengan mereka, pada pergelangan tangan, terbelenggu dan karena rantai itu dikaitkan pada besi pengait yang dipasang di dinding di atas kepala mereka, maka mereka berempat terpaksa mengangkat kedua lengan mereka di kanan kiri dan dalam keadaan seperti itu sukar sekali bagi mereka untuk mencoba melarikan diri atau mempergunakan kekerasan.
Mereka dibelenggu pada dinding itu berjajar. Paling kanan adalah Pusporini, di sebelah kirinya Joko Pramono,. kemudian Setyaningsih dan paling kiri adalah Pangeran Panji Sigit. Ketika mereka berempat itu siuman dari pingsan, mereka mendapatkan diri mereka telah berada di dalam kamar tahanan ini. Pangeran Panji Sigit menoleh ke kanan, terkejut melihat Joko Pramono juga terbelenggu di sebelah kanan isterinya bersama Pusporini, mereka berpandangan mata dan pangeran itu berkata dengan suara dingin dan tajam melebihi pedang habis diasah,
"Joko Pramono, setelah engkau berhasil memikat burung, mengapa tidak memelihara dan menjaga burung itu baik-baik akan tetapi membiarkannya celaka dan terancam maut?"
Tentu saja Joko Pramono tahu apa makna ucapan ini, akan tetapi ia sudah maklum betapa pangeran ini, seperti halnya Pusporini, juga menjadi korban tipu muslihat keji dan curang dari Suminten, maka dengan sikap sabar dan bibir tersenyum ia menjawab,
"Kakangmas Pangeran, burung itu suci, tidak terpikat dan juga tidak pernah kupikat, melainkan sedang gelisah mencari pasangannya yang terkurung dan aku bersama Pusporini hanya membantunya untuk berusaha menolong pasangannya .."
"Joko Pramono! Sungguhpun rayuanmu berhasil menjatuhkan hati isteri orang, jangan harap akan dapat menjatuhkan hatiku, setelah mataku sendiri menyaksikan semua yang terjadi. Aku tidak mendendam, aku rela menyerahkannya kepadamu, rela mengalah kalau memang dia cinta kepadamu, aku ....aku ....”
"Kakangmas Pangeran!" Terdengar Setyaningsih menjerit lirih di sampingnya, sedangkan Pusporini berbisik kepada Joko Pramono,
"Kau maafkanlah dia seperti engkau memaafkan aku, Joko."

Joko Pramono tersenyum dan memandang ke depan.
"Tidak ada yang dimaafkan, Rini, karena memang seperti engkau juga, dia tidak bersalah. Melainkan si iblis betina itulah yang bersalah."
"Rakanda Pangeran, jangan menuduh yang bukan-bukan terhadap Joko Pramono. Dia telah mengerahkan seluruh daya dan tenaganya untuk menolong kita, bahkan rela mempertaruhkan nyawa untuk kita. Dia bersama Pusporini sekarang ikut pula tertawan, untuk siapa lagi kalau bukan untuk membela kita? Paduka telah khilaf, terjebak menjadi korban tipu muslihat keji yang juga mengorbankan Pusporini. Tahukah paduka, bahwa karena kesalahfahaman yang sama seperti paduka, Pusporini hampir saja membunuh Joko Pramono yang tidak berdosa?" Dengan singkat namun jelas Setyaningsih lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi di dalam taman, kemudian tentang pertemuan mereka dengan Ki Wiraman dan Widawati, tentang Ki Mitra yang mereka percaya itu sesungguhnya Ki Mitra palsu, mata-mata yang sengaja dipergunakan oleh Suminten untuk memalsu Ki Mitra yang telah dibunuh. Pangeran Panji Sigit mendengarkan dengan mata terbelalak, mukanya menjadi berubah-ubah, sebentar merah sebentar pucat. Apalagi ketika ia mendengar penjelasan dari Pusporini kemudian dari Joko Pramono, tak tertahankan olehnya lagl dua titik air mata membasahi pelupuk matanya ketika ia memandang kepada Joko Pramono.
"Dimas ....Dimas Joko Pramono ....maukah andika mengampuni aku yang seperti buta mata ini?" katanya dengan suara menggetar saking terharu.
Joko Pramono tersenyum lebar.
"Kakangmas Pangeran, paduka tidak bersalah apa-apa, bahkan saya merasa terharu sekali mendengar ucapan dan menyaksikan sikap paduka tadi. Sungguh sikap yang bijaksana dan saya sendiri tak mungkin dapat bersikap sebijaksana paduka andaikata saya yang tertipu seperti paduka. Sekarang tidak perlu kiranya persoalan itu dibicarakan karena sudah jelas bahwa kita semua menjadi korban tipu muslihat keji wanita iblis itu dan bahwa semenjak kita berempat menjejakkan kaki di kota raja ini, kita telah berada dalam cengkeraman mereka, sudah diawasi seluruh gerak-gerik kita. Sekarang kita tertawan, jalan satu-satunya hanya dapat menyerahkan diri dalam tangan Dewata sambil bersikap waspada akan gerak-gerik mereka selanjutnya."
"Andika hebat dan mengagumkan sekali, Dimas. Apapun yang terjadi, aku tidak menyerah terhadap bujukan Suminten yang berusaha menarik kita menjadi sekutunya. Daripada mengkhianati Kanjeng Rama, lebih baik aku tewas di tangan iblis betina itu."
"Tepat sekali, Kakanda. Saya pun rela tewas di samping Kakanda sebagai dharma bakti kita terhadap Kanjeng Rama Prabu dan terhadap kerajaan paduka, Jenggala," kata Setyaningsih.
"Kita lihat saja apa yang akan dilalakukan selanjutnya oleh wanita iblis itu terhadap kita," kata Joko Pramono.

Dan apa yang dilakukan selanjutnya oleh Suminten segera dihadapi oleh empat orang muda itu. Suminten adalah seorang wanita yang kukuh dalam mengejar hasrat hatinya. Ia masih tergila-gila kepada Pangeran Panji Sigit, dan takkan puaslah hatinya kalau hasrat itu belum terpenuhi. Daya upaya dengan muslihat yang betapa rendah dan keji sekali pun akan ditempuhnya untuk mencapai cita-cita hatinya. Tidak sampai lama setelah mereka berempat sadar, pintu kamar tawanan yang kokoh kuat itu terbuka dan tampaklah Suminten yang dikawal oleh enam orang pengawal bersenjata tombak.
"Kalian menanti dan menjaga di luar!" kata Suminten dengan suaranya yang serak basah mengandung penuh getaran nafsu berahi. Enam orang pengawal yang muda- muda dan kelihatan gagah dan kuat itu membungkuk dengan hormat dan menjaga di luar pintu, sedang Suminten lalu melangkah masuk dan menutupkan daun pintunya. Ia melangkah maju dan berdiri dalam jarak yang cukup aman, sejauh dua meter sehingga andaikata empat orang tawanan itu yang hanya dapat menggunakan kaki menyerangnya takkan dapat mencapai tubuhnya. Ia tersenyum manis sekali, lalu menggeleng kepalanya dan berkata,
"Sungguh sayang sekali bahwa empat orang muda belia yang gagah perkasa, wanitanya cantik-cantik dan prianya tampan-tampan akhirnya harus mengakhiri hidup dalam keadaan begini menyedihkan. Aku sendiri ikut terharu dan bersedih, akan tetapi apakah yang dapat kulakukan setelah kalian berempat menjadi pemberontak-pemberontak yang membahayakan Kerajaan Jenggala?"
"Suminten, wanita iblis yang kelak menjadi intip neraka jahanam!" Pangeran Panji Sigit memaki penuh kemarahan karena ia teringat betapa wanita itu telah mengatur tipu muslihat keji sehingga ia sampai kehilangan kepercayaan akan kesetiaan isterinya, bahkan telah menjatuhkan tuduhan rendah terhadap Joko Pramono.
"Tak perlu memutar lidahmu yang seperti lidah ular bercabang! Kami tidak akan mendengarkan dan kalau kau hendak membunuh kami, lakukanlah, kami adalah orang-orang berjiwa satria yang tidak gentar menghadapi kematian!"
"Duh Pangeran yang bagus seperti Harjuna, yang gagah perkasa seperti Gatutkaca, betapa gagah beraninya engkau. Suminten takkan pernah meragukan kegagahanmu, Pangeran. Akan tetapi kaulihatlah baik-baik keadaan isterimu, keadaan Joko Pramono dan Pusporini. Tidakkah engkau merasa kasihan kepada mereka bertiga ini, Pangeran? Mengapa engkau begini kukuh mempertahankan kegagahan dan kekesatriaan sendiri tanpa mengingat akan kehidupan mereka bertiga ini? Engkau menyerahlah dan menjadi pengeran terhormat di sini, menghentikan permusuhanmu denganku, dan aku berjanji akan membebaskan mereka bertiga ini. Tidakkah ini amat murah hati dariku? Tiga orang yang kauhormati dan kaukasihi ini kubebaskan dan sebagai tebusannya, engkau bersekutu dengan aku, meraih kebahagiaan bergelimang kesenangan di sini sebagai seorang pangeran .....ah, tidak, sebagai pangeran mahkota di sini !"

Hebat dan muluk bukan main bujuk rayu ini sehingga hati Setyaningsih menjadi amat khawatir, akan tetapi karena ia percaya penuh kepada suaminya, ia tidak berkata sesuatu, hanya memandang Suminten dengan sinar mata penuh kebencian. Memang sejenak Pangeran Panji Sigit termenung dan memikirkan penawaran ini. Ia tidak berpikir demi, keselamatan dan kepentingan dirinya sendiri. Sama sekali tidak! Jauh daripada itu. Yang dipikirkan sekarang adalah kemungkinan membebaskan tiga orang muda itu, terutama sekali isterinya, Setyaningsih! Kalau ia berpura-pura menurut dan menyerah, kemudian isterinya, Joko Pramono dan Pusporini sudah dibebaskan, bukankah dia dapat memberontak sampai terbunuh mati?
Daripada menolak dan mereka semua terbunuh, bukankah lebih menguntungkan kalau dia seorang saja yang tewas sedangkan mereka bertiga itu bebas? Suminten hanya menghendaki dirinya, maka jalan satu-satunya untuk menyelamatkan. isterinya, Pusporini dan Joko Pramono adalah berpura-pura menyerah. Mereka masih muda-muda, berhak untuk hidup puluhan tahun lagi.
Tiba-tiba terdengar suara Pusporini melengking nyaring, tertawa. Kemudian gadis yang agaknya menyelami pikiran Pangeran Panji Sigit itu berkata,
"Heh, Suminten perempuan tak bermalu! Kalau penawaran itu kauajukan kepada orang lain, mungkin mereka itu akan menganggap amat baik mengorbankan diri sendiri demi kebebasan tiga orang yang dikasihinya. Akan tetapi andaikata aku yang kautawari hal rendah itu aku akan mengatakan bahwa aku akan bangga menyaksikan tiga orang yang kukasihi tewas sebagai satria-satria sejati, berkorban demi negara dan demi kebenaran!"
Ucapan gadis perkasa ini seolah-olah percikan air sewindu yang dingin sejuk, menyadarkan Pangeran Panji Sigit dari lamunannya. Ia kini sadar bahwa yang terpenting bukanlah nyawa dan hidupnya tiga orang yang dikasihinya itu, melainkan kehormatan mereka sebagai pembela-pembela kebenaran. Kalau ia menyerah lalu tewas dan mereka bertiga itu terbebas, mereka bertiga akan hidup merana dan merasa terhina selamanya. Apalagi Setyaningsih, tentu akan tersiksa hidupnya dan menganggap suaminya seorang pengecut yang mudah tunduk terhadap rayuan seorang wanita iblis macam Suminten.
"Duh Yayi Pusporini, terima kasih! Suminten, kau sudah mendengar sendiri, dan begitulah jawabanku untuk penawaran dan rayuanmu yang keji dan palsu itu!" Suminten merasa seperti ditampar mukanya, akan tetapi ia masih belum putus asa. Pendirian Pangeran Panji Sigit dan Pusporini seperti itu, akan tetapi belum tentu demikian pendirian Joko Pramono, pemuda yang bertubuh tegap dan kejantanannya menarik hatinya dan membangkitkan berahinya itu.

<<< Bagian 154                                                                                     Bagian 156 >>>

No comments:

Post a Comment