Perawan Lembah Wilis; Bagian 156


Ia memandang kepada Joko Pramono dan berkata,
"Bagaimana dengan engkau, Joko Pramono? Bagaimana pendapatmu kalau kau kuangkat menjadi komandan pengawal dalam istana, hidup di sini dengan aman dan makmur seorang diri atau berdua dengan Pusporini yang kaucinta?"
"Aku tidak sudi! Kalau engkau ingin menjilati telapak kaki iblis betina ini, Joko, silahkan akan tetapi aku lebih baik mati!” bentak Pusporini dengan galak.
Joko Pramono tersenyum.
"Jangan khawatir, Rini dewi pujaan hati yang terkasih. Wanita ini kuanggap sebagai ular beracun, mana aku sudi mendengarkan bujukannya? Seribu kali lebih baik mati daripada menyerah kepada wanita ini!" Suminten tidak merasa sakit hati mendengar jawaban ini, malah kini ia memandang kepada Setyaningsih yang sejak tadi memandangnya penuh kebencian, lalu berkata, "Setyaningsih, aku tahu betapa engkau mencinta suamimu. Mengapa engkau tega benar melihat suamimu terancam bahaya maut? Apakah kau akan tega kalau melihat suamimu disiksa sampai mati, sekerat demi sekerat, di depan kakimu? Kau bujuklah suamimu agar suka menyerah dan menuruti permintaanku dan engkau akan hidup bahagia di sini bersama suamimu yang akan menjadi pangeran mahkota dan kelak mungkin menjadi raja di Jenggala dan engkau menjadi permaisurinya!" Setyaningsih memandangnya dengan sinar mata makin marah, lalu menjawab,
"Suminten, aku mendengar bahwa engkau adalah bekas pelayan, bekas abdi dalem Ayunda Endang Patibroto. Biarpun sekarang dengan kelicikanmu engkau telah menduduki tempat tinggi, namun watakmu lebih rendah daripada watak seorang abdi dalem yang paling rendah. Lebih rendah daripada watak seorang Sudra yang paling hina! Aku adalah adalah seorang wanita berdarah satria, apa yang diucapkan suamiku, apa yang menjadi pendirian suamiku adalah pendirianku pula sampai mati!"
Suminten merasa mendongkol sekali hatinya, akan tetapi patut dipuji wanita ini yang pandai menyembunyikan perasaan tidak senang ini di balik senyum manis. Senyumnya manis memikat, kerling matanya seperti kerling mata orang yang ramah, akan tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sebelum meninggalkan empat orang tawanan itu mengandung ancaman yang mengerikan.
"Baiklah, saat ini kalian boleh merasa bangga akan kekerasan hati dan menganggap kalian gagah dan menang, boleh menertawakan aku dan menganggap aku kalah. Akan tetapi kalian belum mengenal Suminten! Akan tiba saatnya kalian menyembah dan meratap minta diampuni." Setelah berkata demikian, wanita ini membalikkan tubuhnya dan pergi dari tempat itu, meninggalkan empat orang muda yang saling pandang dan sama sekali tidak bernapsu untuk mentertawakan Suminten.

“Kita harus menolong mereka! Kalau tidak segera ditolong, keadaan mereka akan terancam bahaya besar.” Wiraman berkata sambil mengepalkan tinju. Baru saja menerima laporan mata-matanya yang beroperasi di Kota Raja Jenggala, bahwa Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Pusparini dan Setyaningsih telah menjadi tawanan di dalam kamar tahanan istana, dan bahwa keselamatan nyawa
mereka terancam karena didesas-desuskan keluar istana bahwa keempat orang muda itu telah memberontak. Widawati memandang suaminya, dan berkata,
"Memang tidak ada jalan lain. Kita berdua harus menyelundup ke kota raja dan menolong mereka. Hanya kita yang dapat menolong mereka, karena kita yang lebih mengenal akan keadaan di istana."
Widawati memandang suaminya, dan berkata,
“Memang tidak ada jalan lain. Kita berdua harus menyelundup ke kota raja dan menolong mereka. Hanya kita yang dapat menolong mereka, karena kita yang lebih mengenal akan keadaan istana.”
Wiraman memegang tangan Widawati dengan penuh kasih sayang. Wanita muda ini telah menjadi selirnya dan di antara mereka, biarpun terdapat perbedaan usia yang cukup banyak, telah terjalin cinta kasih dan pengertian yang kokoh kuat.
"Adinda Widawati isteriku yang tercinta. Tugas menolong mereka itu akan kulakukan sendiri dan engkau tak perlu ikut, Adinda. Tugas ini amat berbahaya dan akulah yang mengetahui dengan jelas akan seluk-beluk rumah tahanan di istana dengan semua alat rahasianya. Ingat, aku pernah bertugas sebagai kepala penjaga di sana."
"Tidak, Kakang Wiraman. Aku harus ikut karena ini juga menjadi tugasku. Dengan menentang Suminten berarti aku telah melaksanakan dharma baktiku terhadap keluargaku yang terbasmi gara-gara kekejaman Suminten. Di samping itu, susah terlalu lama kita berkumpul dan sekarang aku tidak akan dapat berpisah lagi dari sampingmu. Ingatkah janjimu, Kakang? Kita hidup bersama mati berdua, senang sama dinikmati dan susah sama diderita?" Wiraman menggeser duduknya, mendekat dan merangkul wanita muda dan cantik yang menjadi selirnya yang tercinta itu. Selama hidupnya, biarpun ia dahulu menjadi seorang pengawal pilihan yang berkedudukan tinggi di kepatihan Jenggala, belum pernah Wiraman mempunyai selir. Sekarang, setelah mereka berdua menjadi korban racun ular wilis sehingga melakukan hubungan sanggama dan terpaksa mereka saling terikat sebagai suami isteri, Wiraman merasa betapa kasih sayangnya terhadap wanita ini makin lama makin mendalam.
"Duhal Yayi Widawati, isteriku yang budiman. Alangkah akan bahagia rasa hatiku kalau dapat hidup aman dan tenteram dalam sebuah rumah tangga di sampingmu dan isteri tua serta putera-puteriku. Adinda akan merupakan cahaya matahari dalam rumah tanggaku. Isteriku akan bangga mempunyai madu seperti Adinda, dan putera-puteriku akan menganggap Adinda sebagai contoh dan guru yang pandai !"
Widawati tersenyum sehingga lesung pipit di samping bibirnya nampak makin jelas.
"Semoga Dewata akan mengabulkan harapan Kakanda. Setelah tugas kita berhasil baik dan selesai, tentu akan tercapai idaman hati kita."
"Semoga begitulah, atau kalau gagal.....”
"Kita mati bersama," sambung Widawati, dan mereka berangkulan dengan hati penuh keharuan. Tidak ada kata-kata yang dapat dikeluarkan akan dapat lebih jelas menunjukkan perasaan hati mereka yang penuh cinta kasih dan penuh keprihatinan menghadapi tugas berat itu.

Namun mereka berdua manusia yang saling mencinta ini memiliki pegangan yang amat kuat, yaitu cinta mereka dan keyakinan bahwa hidup atau mati, mereka takkan saling berpisah. Cinta yang demikian besar amatlah kuatnya, mengatasi segala keraguan dan kekhawatiran, bahkan dengan modal cinta seperti itu, mereka akan menghadapi maut dengan mulut tersenyum. Demikianlah, pada keesokan harinya, menjelang senja, Wiraman dan Widawati berhasil menyelundup memasuki kota raja. Tentu saja tidaklah begitu sukar bagi Wiraman untuk menyelundup masuk dalam kota raja yang dahulu menjadi daerah dia bertugas. Tidak ada lorong atau jalan rahasia yang tak dikenalnya dan pada malam harinya Wiraman dan Widawati sudah berhasil pula menyelundup masuk ke dalam kompleks bangunan tahanan di istana. Tentu saja mereka tidak menempuh jalan depan seperti yang dilakukan Joko Pramono, Pusporini dan Setyaningsih dua hari yang lalu, melainkan mengambil jalan rahasia yang hanya diketahui oleh "orang-orang dalam" saja. Mereka berdua muncul dari lorong rahasia itu dan tiba di bagian belakang bangunan tahanan, menyelinap di bawah pohon dan bersembunyi di bayangan yang gelap. Untuk keperluan tugas penting menyelamatkan empat orang tawanan, Wiraman dan Widawati sudah bersiap-siap. Widawati mengenakan pakaian ringkas, bahkan bajunya ringkas tak berlengan, sebatang keris pusaka terselip di pinggang, rambutnya yang hitam panjang diikat ke atas agar tidak mengganggu gerakannya. Adapun Wiraman sendiri bertelanjang baju sehingga tampak dadanya yang bidang dan kuat, sarung di luar celananya diikatkan ke pinggang dan tangannya memegang sebatang golok tajam, wajahnya serius dan penuh kewaspadaan. Setelah digembleng selama dua tahun oleh Resi Mahesapati, kepandaian Wiraman meningkat dan kini ia menjadi seorang yang digdaya, sedangkan Widawati yang dahulunya seorang gadis yang lemah kini menjadi seorang gadis yang boleh diandalkan dalam pertandingan melawan musuh berat.
"Kita membobol jendela itu yang menuju ke dapur tahanan sang pangeran," bisik Wiraman. Widawati memandang ke depan. Dari bawah pohon itu, sejauh lima puluh meter, tampaklah jendela itu, sebuah jendela besar yang atasnya, pada dinding batu diukir muka seorang raksasa sehingga jendela dengan ruji-rujinya dari besi itu merupakan mulut raksasa. Akan tetapi di depan jendela itu terdapat empat orang penjaga yang berdiri tegak memegang tombak. Agaknya penjagaan di tempat tahanan itu amat kuat, sehingga jendela dapur saja dijaga oleh empat orang!
"Dijaga kuat ...." bisik Widawati di dekat telinga Wiraman.
"Jendela itu jalan masuk yang paling mudah, dan penjaganya hanya empat orang. Melalui jalan lain tak mungkin pintu-pintu dijaga oleh lebih banyak penjaga. Kita harus robohkan mereka. Wati engkau robohkan penjaga yang berdiri paling kiri, dialah yang paling lemah di antara mereka. Sanggupkah?"
Widawati mengangguk dan memandang calon lawan itu dengan mata bersinar sambil meraba gagang keris yang terselip di pinggangnya. Melihat Widawati sudah siap, Wiraman menyentuh lengan yang berkulit harus itu, berbisik,
"Tunggu sampai mereka menoleh ke arah sambitan batu dari tanganku, baru turun tangan secepatnya, jangan memberi kesempatan mereka memekik. Mari kita mendekat, ke bawah pohon depan jendela itu."
Kembali Widawati mengangguk dan mereka berdua lalu menyelinap menyelinap melalui tempat gelap sehingga akhirnya mereka bersembunyi di balik batang pohon dekat jendela dan tempat para penjaga berdiri hanya beberapa meter saja dari mereka. Jantung kedua orang ini berdebar. Wiraman menyentuh lengan Widawati, kini tidak lagi mereka berani saling berbisik. Widawati menoleh, mereka berpandangan dalam cuaca remang-remang, hanya diterangi lampu yang tergantung di sudut atas, dekat jendela. Biarpun mulut mereka tidak berbicara, namun sepasang mata mereka berbicara banyak mencurahkan isi hati, sama-sama maklum bahwa saatnya telah tiba di mana mereka akan mempertaruhkan nyawa. Kalau berhasil, mereka akan dapat menyelamatkan empat orang tokoh penting yang mereka junjung tinggi, kalau gagal berarti mereka akan tewas dan tidak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk saling mengucapkan selamat berpisah di dunia ini. Sedetik mereka terharu dan seperti ada yang menggerakkan, keduanya saling mendekatkan muka dan berciuman sebagai pengganti kata-kata. Ciuman yang amat mesra, ciuman yang mendatangkan semangat dan menambah keberanian karena dalam ciuman itu mereka dapat merasakan cita kasih masing-masing yang amat mendalam sehingga mereka yakin bahwa hidup atau mati, mereka takkan berpisah lagi. Setelah menghentikan ciuman, mereka saling pandang. Wiraman mengangguk sebagai pertanyaan dan Widawati mengangguk bagai jawaban bahwa ia telah siap.

Wiraman mengambil segenggam kerikil dari atas tanah, kemudian setelah mengukur jarak, ia menyambitkan genggaman itu ke arah kanan. Empat orang penjaga itu mendengar suara berkerosok di kanan, cepat menengok, bahkan memutar tubuh ke kanan dengan seluruh perhatian dicurahkan untuk melihat apa yang menimbulkan bunyi itu. Dan pada detik itu, Wiraman dan Widawati meloncat keluar dengan gerakan cepat bagaikan dua ekor harimau menerkam. Widawati yang sejak tadi sudah memperhatikan penjaga yang tadi di ujung kiri menerjang maju, kerisnya diayun. Penjaga itu terbelalak kaget, memutar tubuh dan menggerakkan tombak, namun terlambat karena pada saat itu, keris pusaka di tangan Widawati telah menancap tepat di ulu hatinya. Keris dicabut sambil meloncat ke samping agar tidak terkena muncratnya darah yang menyembur keluar dari dada, disusul robohnya penjaga itu. Wiraman juga sudah menggerakkan goloknya sehingga tampak sinar putih berkelabat. Seorang penjaga roboh seketika dengan leher putus, penjaga ke dua roboh dengan perut robek dan isi perutnya keluar, akan tetapi penjaga ke tiga dapat menangkis sambaran golok dengan tombaknya. Tombak itu patah, akan tetapi ia dapat terhindar dari golok Wiraman. Namun, pada detik berikutnya, sebelum penjaga ini sempat berteriak, keris di tangan Widawati telah amblas memasuki lambungnya dan robohlah penjaga itu pula. Tubuh keempat orang penjaga itu hanya berkelojotan sebentar lalu terdiam, tak bernyawa lagi. Tanpa banyak cakap Wiraman lalu menyeret dan melempar empat batang mayat itu ke dalam semak-semak di bawah pohon, kemudian ia menggandeng tangan Widawati mendekati jendela yang kini tidak terjaga lagi. Mereka mengintai dari luar jendela melalui ruji-ruji jendela dan betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa di sebelah dalam dapur rumah tahanan itu terdapat belasan orang penjaga lain yang sedang makan minum. Agaknya mereka adalah penjaga-penjaga yang tiba giliran beristirahat lalu mengenyangkan perut di dalam dapur itu. Wiraman dan Widawati cepat melompat menjauhi jendela, kembali ke bawah pohon.
"Tidak ada jalan lain, harus memancing semua penjaga keluar dari tempat tahanan, kemudian dalam keributan kita masuk melalui jendela, membebaskan mereka dan melarikan diri melalui terowongan rahasia yang terdapat dalam kakus kamar tahanan," bisiknya.
"Cara bagaimana memancingnya?"
Wiraman menunjuk ke arah lampu yang tergantung di atas jendela.

<<< Bagian 155                                                                                      Bagian 157 >>>

No comments:

Post a Comment