Ia memandang kepada Joko Pramono dan berkata,
"Bagaimana dengan
engkau, Joko Pramono? Bagaimana pendapatmu kalau kau kuangkat menjadi komandan
pengawal dalam istana, hidup di sini dengan aman dan makmur seorang diri atau berdua
dengan Pusporini yang kaucinta?"
"Aku tidak sudi! Kalau
engkau ingin menjilati telapak kaki iblis betina ini, Joko, silahkan akan
tetapi aku lebih baik mati!” bentak Pusporini dengan galak.
Joko Pramono tersenyum.
"Jangan khawatir, Rini
dewi pujaan hati yang terkasih. Wanita ini kuanggap sebagai ular beracun, mana
aku sudi mendengarkan bujukannya? Seribu kali lebih baik mati daripada menyerah
kepada wanita ini!" Suminten tidak merasa sakit hati mendengar jawaban
ini, malah kini ia memandang kepada Setyaningsih yang sejak tadi memandangnya
penuh kebencian, lalu berkata, "Setyaningsih, aku tahu betapa engkau
mencinta suamimu. Mengapa engkau tega benar melihat suamimu terancam bahaya
maut? Apakah kau akan tega kalau melihat suamimu disiksa sampai mati, sekerat
demi sekerat, di depan kakimu? Kau bujuklah suamimu agar suka menyerah dan
menuruti permintaanku dan engkau akan hidup bahagia di sini bersama suamimu
yang akan menjadi pangeran mahkota dan kelak mungkin menjadi raja di Jenggala
dan engkau menjadi permaisurinya!" Setyaningsih memandangnya dengan sinar
mata makin marah, lalu menjawab,
"Suminten, aku
mendengar bahwa engkau adalah bekas pelayan, bekas abdi dalem Ayunda Endang
Patibroto. Biarpun sekarang dengan kelicikanmu engkau telah menduduki tempat tinggi,
namun watakmu lebih rendah daripada watak seorang abdi dalem yang paling
rendah. Lebih rendah daripada watak seorang Sudra yang paling hina! Aku adalah
adalah seorang wanita berdarah satria, apa yang diucapkan suamiku, apa yang
menjadi pendirian suamiku adalah pendirianku pula sampai mati!"
Suminten merasa mendongkol
sekali hatinya, akan tetapi patut dipuji wanita ini yang pandai menyembunyikan
perasaan tidak senang ini di balik senyum manis. Senyumnya manis memikat,
kerling matanya seperti kerling mata orang yang ramah, akan tetapi kata-kata
yang keluar dari mulutnya sebelum meninggalkan empat orang tawanan itu
mengandung ancaman yang mengerikan.
"Baiklah, saat ini
kalian boleh merasa bangga akan kekerasan hati dan menganggap kalian gagah dan
menang, boleh menertawakan aku dan menganggap aku kalah. Akan tetapi kalian
belum mengenal Suminten! Akan tiba saatnya kalian menyembah dan meratap minta
diampuni." Setelah berkata demikian, wanita ini membalikkan tubuhnya dan
pergi dari tempat itu, meninggalkan empat orang muda yang saling pandang dan
sama sekali tidak bernapsu untuk mentertawakan Suminten.
“Kita harus menolong mereka!
Kalau tidak segera ditolong, keadaan mereka akan terancam bahaya besar.”
Wiraman berkata sambil mengepalkan tinju. Baru saja menerima laporan
mata-matanya yang beroperasi di Kota Raja Jenggala, bahwa Pangeran Panji Sigit,
Joko Pramono, Pusparini dan Setyaningsih telah menjadi tawanan di dalam kamar
tahanan istana, dan bahwa keselamatan nyawa
mereka terancam karena
didesas-desuskan keluar istana bahwa keempat orang muda itu telah memberontak.
Widawati memandang suaminya, dan berkata,
"Memang tidak ada jalan
lain. Kita berdua harus menyelundup ke kota raja dan menolong mereka. Hanya
kita yang dapat menolong mereka, karena kita yang lebih mengenal akan keadaan
di istana."
Widawati memandang suaminya,
dan berkata,
“Memang tidak ada jalan
lain. Kita berdua harus menyelundup ke kota raja dan menolong mereka. Hanya
kita yang dapat menolong mereka, karena kita yang lebih mengenal akan keadaan
istana.”
Wiraman memegang tangan
Widawati dengan penuh kasih sayang. Wanita muda ini telah menjadi selirnya dan
di antara mereka, biarpun terdapat perbedaan usia yang cukup banyak, telah
terjalin cinta kasih dan pengertian yang kokoh kuat.
"Adinda Widawati
isteriku yang tercinta. Tugas menolong mereka itu akan kulakukan sendiri dan
engkau tak perlu ikut, Adinda. Tugas ini amat berbahaya dan akulah yang
mengetahui dengan jelas akan seluk-beluk rumah tahanan di istana dengan semua
alat rahasianya. Ingat, aku pernah bertugas sebagai kepala penjaga di
sana."
"Tidak, Kakang Wiraman.
Aku harus ikut karena ini juga menjadi tugasku. Dengan menentang Suminten
berarti aku telah melaksanakan dharma baktiku terhadap keluargaku yang terbasmi
gara-gara kekejaman Suminten. Di samping itu, susah terlalu lama kita berkumpul
dan sekarang aku tidak akan dapat berpisah lagi dari sampingmu. Ingatkah
janjimu, Kakang? Kita hidup bersama mati berdua, senang sama dinikmati dan
susah sama diderita?" Wiraman menggeser duduknya, mendekat dan merangkul
wanita muda dan cantik yang menjadi selirnya yang tercinta itu. Selama
hidupnya, biarpun ia dahulu menjadi seorang pengawal pilihan yang berkedudukan
tinggi di kepatihan Jenggala, belum pernah Wiraman mempunyai selir. Sekarang,
setelah mereka berdua menjadi korban racun ular wilis sehingga melakukan
hubungan sanggama dan terpaksa mereka saling terikat sebagai suami isteri,
Wiraman merasa betapa kasih sayangnya terhadap wanita ini makin lama makin
mendalam.
"Duhal Yayi Widawati,
isteriku yang budiman. Alangkah akan bahagia rasa hatiku kalau dapat hidup aman
dan tenteram dalam sebuah rumah tangga di sampingmu dan isteri tua serta
putera-puteriku. Adinda akan merupakan cahaya matahari dalam rumah tanggaku.
Isteriku akan bangga mempunyai madu seperti Adinda, dan putera-puteriku akan
menganggap Adinda sebagai contoh dan guru yang pandai !"
Widawati tersenyum sehingga
lesung pipit di samping bibirnya nampak makin jelas.
"Semoga Dewata akan
mengabulkan harapan Kakanda. Setelah tugas kita berhasil baik dan selesai,
tentu akan tercapai idaman hati kita."
"Semoga begitulah, atau
kalau gagal.....”
"Kita mati
bersama," sambung Widawati, dan mereka berangkulan dengan hati penuh
keharuan. Tidak ada kata-kata yang dapat dikeluarkan akan dapat lebih jelas menunjukkan
perasaan hati mereka yang penuh cinta kasih dan penuh keprihatinan menghadapi
tugas berat itu.
Namun mereka berdua manusia
yang saling mencinta ini memiliki pegangan yang amat kuat, yaitu cinta mereka
dan keyakinan bahwa hidup atau mati, mereka takkan saling berpisah. Cinta yang
demikian besar amatlah kuatnya, mengatasi segala keraguan dan kekhawatiran,
bahkan dengan modal cinta seperti itu, mereka akan menghadapi maut dengan mulut
tersenyum. Demikianlah, pada keesokan harinya, menjelang senja, Wiraman dan
Widawati berhasil menyelundup memasuki kota raja. Tentu saja tidaklah begitu
sukar bagi Wiraman untuk menyelundup masuk dalam kota raja yang dahulu menjadi
daerah dia bertugas. Tidak ada lorong atau jalan rahasia yang tak dikenalnya
dan pada malam harinya Wiraman dan Widawati sudah berhasil pula menyelundup
masuk ke dalam kompleks bangunan tahanan di istana. Tentu saja mereka tidak
menempuh jalan depan seperti yang dilakukan Joko Pramono, Pusporini dan
Setyaningsih dua hari yang lalu, melainkan mengambil jalan rahasia yang hanya
diketahui oleh "orang-orang dalam" saja. Mereka berdua muncul dari
lorong rahasia itu dan tiba di bagian belakang bangunan tahanan, menyelinap di
bawah pohon dan bersembunyi di bayangan yang gelap. Untuk keperluan tugas penting
menyelamatkan empat orang tawanan, Wiraman dan Widawati sudah bersiap-siap.
Widawati mengenakan pakaian ringkas, bahkan bajunya ringkas tak berlengan,
sebatang keris pusaka terselip di pinggang, rambutnya yang hitam panjang diikat
ke atas agar tidak mengganggu gerakannya. Adapun Wiraman sendiri bertelanjang
baju sehingga tampak dadanya yang bidang dan kuat, sarung di luar celananya
diikatkan ke pinggang dan tangannya memegang sebatang golok tajam, wajahnya
serius dan penuh kewaspadaan. Setelah digembleng selama dua tahun oleh Resi
Mahesapati, kepandaian Wiraman meningkat dan kini ia menjadi seorang yang
digdaya, sedangkan Widawati yang dahulunya seorang gadis yang lemah kini
menjadi seorang gadis yang boleh diandalkan dalam pertandingan melawan musuh berat.
"Kita membobol jendela
itu yang menuju ke dapur tahanan sang pangeran," bisik Wiraman. Widawati
memandang ke depan. Dari bawah pohon itu, sejauh lima puluh meter, tampaklah
jendela itu, sebuah jendela besar yang atasnya, pada dinding batu diukir muka
seorang raksasa sehingga jendela dengan ruji-rujinya dari besi itu merupakan
mulut raksasa. Akan tetapi di depan jendela itu terdapat empat orang penjaga
yang berdiri tegak memegang tombak. Agaknya penjagaan di tempat tahanan itu
amat kuat, sehingga jendela dapur saja dijaga oleh empat orang!
"Dijaga kuat ...."
bisik Widawati di dekat telinga Wiraman.
"Jendela itu jalan
masuk yang paling mudah, dan penjaganya hanya empat orang. Melalui jalan lain
tak mungkin pintu-pintu dijaga oleh lebih banyak penjaga. Kita harus robohkan
mereka. Wati engkau robohkan penjaga yang berdiri paling kiri, dialah yang
paling lemah di antara mereka. Sanggupkah?"
Widawati mengangguk dan
memandang calon lawan itu dengan mata bersinar sambil meraba gagang keris yang
terselip di pinggangnya. Melihat Widawati sudah siap, Wiraman menyentuh lengan
yang berkulit harus itu, berbisik,
"Tunggu sampai mereka
menoleh ke arah sambitan batu dari tanganku, baru turun tangan secepatnya,
jangan memberi kesempatan mereka memekik. Mari kita mendekat, ke bawah pohon
depan jendela itu."
Kembali Widawati mengangguk
dan mereka berdua lalu menyelinap menyelinap melalui tempat gelap sehingga
akhirnya mereka bersembunyi di balik batang pohon dekat jendela dan tempat para
penjaga berdiri hanya beberapa meter saja dari mereka. Jantung kedua orang ini
berdebar. Wiraman menyentuh lengan Widawati, kini tidak lagi mereka berani
saling berbisik. Widawati menoleh, mereka berpandangan dalam cuaca
remang-remang, hanya diterangi lampu yang tergantung di sudut atas, dekat
jendela. Biarpun mulut mereka tidak berbicara, namun sepasang mata mereka
berbicara banyak mencurahkan isi hati, sama-sama maklum bahwa saatnya telah
tiba di mana mereka akan mempertaruhkan nyawa. Kalau berhasil, mereka akan
dapat menyelamatkan empat orang tokoh penting yang mereka junjung tinggi, kalau
gagal berarti mereka akan tewas dan tidak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk
saling mengucapkan selamat berpisah di dunia ini. Sedetik mereka terharu dan
seperti ada yang menggerakkan, keduanya saling mendekatkan muka dan berciuman
sebagai pengganti kata-kata. Ciuman yang amat mesra, ciuman yang mendatangkan
semangat dan menambah keberanian karena dalam ciuman itu mereka dapat merasakan
cita kasih masing-masing yang amat mendalam sehingga mereka yakin bahwa hidup
atau mati, mereka takkan berpisah lagi. Setelah menghentikan ciuman, mereka
saling pandang. Wiraman mengangguk sebagai pertanyaan dan Widawati mengangguk
bagai jawaban bahwa ia telah siap.
Wiraman mengambil segenggam
kerikil dari atas tanah, kemudian setelah mengukur jarak, ia menyambitkan
genggaman itu ke arah kanan. Empat orang penjaga itu mendengar suara berkerosok
di kanan, cepat menengok, bahkan memutar tubuh ke kanan dengan seluruh
perhatian dicurahkan untuk melihat apa yang menimbulkan bunyi itu. Dan pada
detik itu, Wiraman dan Widawati meloncat keluar dengan gerakan cepat bagaikan
dua ekor harimau menerkam. Widawati yang sejak tadi sudah memperhatikan penjaga
yang tadi di ujung kiri menerjang maju, kerisnya diayun. Penjaga itu terbelalak
kaget, memutar tubuh dan menggerakkan tombak, namun terlambat karena pada saat
itu, keris pusaka di tangan Widawati telah menancap tepat di ulu hatinya. Keris
dicabut sambil meloncat ke samping agar tidak terkena muncratnya darah yang
menyembur keluar dari dada, disusul robohnya penjaga itu. Wiraman juga sudah
menggerakkan goloknya sehingga tampak sinar putih berkelabat. Seorang penjaga
roboh seketika dengan leher putus, penjaga ke dua roboh dengan perut robek dan
isi perutnya keluar, akan tetapi penjaga ke tiga dapat menangkis sambaran golok
dengan tombaknya. Tombak itu patah, akan tetapi ia dapat terhindar dari golok
Wiraman. Namun, pada detik berikutnya, sebelum penjaga ini sempat berteriak,
keris di tangan Widawati telah amblas memasuki lambungnya dan robohlah penjaga
itu pula. Tubuh keempat orang penjaga itu hanya berkelojotan sebentar lalu
terdiam, tak bernyawa lagi. Tanpa banyak cakap Wiraman lalu menyeret dan
melempar empat batang mayat itu ke dalam semak-semak di bawah pohon, kemudian
ia menggandeng tangan Widawati mendekati jendela yang kini tidak terjaga lagi.
Mereka mengintai dari luar jendela melalui ruji-ruji jendela dan betapa kaget
hati mereka ketika melihat bahwa di sebelah dalam dapur rumah tahanan itu
terdapat belasan orang penjaga lain yang sedang makan minum. Agaknya mereka
adalah penjaga-penjaga yang tiba giliran beristirahat lalu mengenyangkan perut
di dalam dapur itu. Wiraman dan Widawati cepat melompat menjauhi jendela,
kembali ke bawah pohon.
"Tidak ada jalan lain,
harus memancing semua penjaga keluar dari tempat tahanan, kemudian dalam
keributan kita masuk melalui jendela, membebaskan mereka dan melarikan diri
melalui terowongan rahasia yang terdapat dalam kakus kamar tahanan,"
bisiknya.
"Cara bagaimana
memancingnya?"
Wiraman menunjuk ke arah
lampu yang tergantung di atas jendela.
No comments:
Post a Comment