"Dengan api." Ketika melihat kekasihnya mengangguk, Wiraman berbisik lagi,
"Kau tunggu di sini,
aku akan membakar gudang perlengkapan di sebelah kanan itu. Setelah terjadi
kebakaran dan keadaan geger, pergunakan golok ini untuk membabat putus
ruji-ruji jendela."
Wiraman menyerahkan golok
lalu menyelinap pergi. Widawati memandang ke arah lenyapnya bayangan suaminya
dengan jantung berdebar tegang. Tak lama kemudian tampaklah api berkobar di
sebelah kanan dan terdengar teriakan-teriakan orang. Widawati melihat betapa
banyak penjaga lari berserabutan keluar dari dalam rumah tahanan. Ia cepat
menghampiri jendela dan mengintai. Girang hatinya melihat dapur itu kosong dan
para penjaga yang tadi makan minum tidak nampak lagi, hanya tinggal bekas-bekas
makanan dan minuman yang agaknya ditinggalkan dalam keadaan tergesa-gesa.
Widawati lalu menggerakkan goloknya membabat ke arah jendela yang beruji besi.
"Trangggg ......”.
Golok itu terpental dan terlepas dari tangan Widawati karena tertangkis oleh
sebatang keris yang digerakkan sebuah lengan tangan yang kuat sekali.
"Ha-ha-ha, sudah
kuduga! Menimbulkan kebakaran untuk memancing para penjaga keluar! Kiranya
seorang wanita yang cantik manis berani mati hendak menolong para tawanan. Aha,
engkau boleh juga, manis, patut menjadi tawananku dalam kamar tidurku.
Ha-ha-ha, senangkan hatimu karena menjadi tawanan Patih Warutama adalah hal
yang amat nikmat dan menyenangkan!"
Mendengar bahwa orang yang
menangkis goloknya itu adalah Patih Warutama, kemarahan dan kebencian Widawati
tak dapat ia bendung lagi. Tangan kanannya mencabut keluar kerisnya, dan
telunjuk kirinya menuding.
"Si keparat! Kiranya
engkau inilah Warutama manusia iblis yang bersekongkol dengan iblis betina
Suminten dan menghancurkan seluruh keluarga kakekku, Eyang Patih Brotomenggala?
tahanan laknat, rasakan pembalasan Widawati, cucunya!"
Ucapan ini disusul dengan
terjangan Widawati yang marah sekali. Ia menyerang dengan kerisnya, dan biarpun
kepandaiannya sama sekali belum ada artinya kalau dibandingkan dengan kesaktian
Ki Patih Warutama, namun dalam keadaan marah dan benci itu ia menjadi nekat dan
gerakannya amatlah dahsyat dan ganas. Ki Patih Warutama juga terkejut mendengar
bahwa wanita muda yang cantik ini adalah cucu mendiang Ki Patih Brotomenggala.
Tentu saja keturunan Brotomenggala harus dibasmi, akan tetapi sifat mata
keranjang Warutama membuat ia merasa sayang kalau wanita cantik ini harus
dibunuh begitu saja. Sebelum dibunuh akan ia tangkap dulu, dan memaksa seorang
wanita untuk menuruti nafsunya merupakan hal yang menyenangkan bagi laki-laki
yang berwatak bejat ini. Sambil tertawa ia mengelak, tangan kanannya
mencengkeram ke arah pergelangan tangan Widawati dengan gerakan amat cepat
sehingga Widawati kaget sekali dan tentu saja ia segera menarik kembali
kerisnya agar jangan terampas lawan. Akan tetapi ternyata bahwa gerakan
cengkeraman dengan tangan kanan itu hanya gertak belaka, atau pancingan karena
yang sesungguhnya bergerak adalah tangan kirinya yang tahu-tahu telah menyelonong
maju, memegang dan membelai dada Widawati dengan remasan!
"Jahanam ........
!" Widawati menjerit.
"Ha-ha-ha-ha, engkau
denok menggairahkan, manis!" Warutama mengejek sambil tertawa-tawa.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan Wiraman telah muncul di situ. Ketika
Wiraman melihat isterinya berhadapan dengan Ki Patih Warutama, ia terkejut
bukan main. Cepat ia menyambar golok yang menggeletak di atas tanah.
"Yayi Widawati,
isteriku yang terkasih. Saat bagi kita berdharma bakti telah tiba. Keparat ini
adalah Warutama, kita harus menandinginya dan mengadu nyawa!”
"Aku sudah tahu, Kakang
Wiraman. Mari kita basmi iblis ini!" jawab Widawati.
"Apa? Cucu
Brotomenggala ini isterimu? Heh, keparat, siapakah engkau berani membikin kacau
di sini?"
"Buka telingamu baik-baik,
Warutama. Aku Wiraman bekas pengawal rahasia kepatihan Janggala dan aku pernah
melihat ketika engkau melakukan permainan sandiwaramu menolong sang prabu ...“
"Babo-babo, engkau
mencari mampus ....!" Warutama menjadi marah sekali karena orang ini merupakan
orang yang amat berbahaya, yang mengetahui rahasianya ketika menjalankan siasat
untuk menipu Raja Jenggala. Ia telah menghunus kerisnya sambil loncat
menghindar ketika golok Wiraman menyambar, kemudian ia menangkis tusukan keris
Widawati dengan kerisnya sendiri. Widawati mengeluh karena telapak tangannya
terasa panas dan hampir saja kerisnya terlepas dari pegangan tangannya. Akan
tetapi ia menerjang terus dengan nekat. Juga Wiraman yang cukup maklum betapa
saktinya patih baru dari Jenggala ini, menggerakkan goloknya dengan nekat dan
menghujankan serangan bertubi-tubi yang selalu dapat dielakkan atau ditangkis
oleh Patih Warutama.
Ki Patih Warutama menjadi
penasaran dan juga heran. Setelah dua tahun yang lalu, ketika ia menghadapi
para pengawal rahasia yang dikirim Patih Brotomenggala untuk melindungi sang
prabu, ia menganggap para pengawal itu berkepandaian biasa saja. Akan tetapi
mengapa pengawal ini memiliki kepandaian yang cukup hebat sehingga ia tidak
dapat merobohkannya dalam waktu singkat? Juga cucu Patih Brotomenggala ini,
biarpun gerakannya terlatih, akan tetapi memiliki dasar ilmu yang tinggi. Kalau
tidak lekas dibasmi, pengawal ini amat berbahaya dan cucu Brotomenggala itu pun
amat berbahaya, pertama sebagai cucu bekas musuh besarnya, ke dua sebagai
isteri Wiraman yang tahu akan semua rahasianya dahulu. Dengan penasaran, Ki
Patih Warutama lalu mengeluarkan pekik dahsyat dan tiba-tiba tubuhnya
bergulingan di atas tanah seperti seekor trenggiling. Itulah Aji
Trenggilingwesi yang amat dahsyat dan banyak gerak tipunya. Sambil bergulingan
dia mencari kesempatan untuk meloncat dan mengirim serangan tiba-tiba.
Menghadapi ilmu bertanding yang aneh itu, Wiraman dan Widawati menjadi bingung
dan mereka hanya dapat mengikuti gerak lawan yang bergulingan itu untuk
dipapaki serangan kalau bangkit berdiri.
"Haaiiiitttt !"
Tiba-tiba tubuh Ki Patih Warutama mencelat ke atas dengan gerakan yang sukar
diduga sebelumnya. Sambil meloncat ini ia mengayun keris pusaka Naga-kikik yang
bereluk tujuh itu dan mengeluarkan sinar hijau dingin. Sinar hijau berkelebat
menyentuh dada Wiraman dan Widawati, tampaknya hanya menyerempet saja, akan
tetapi ujung keris Naga-kikik itu menjadi merah oleh darah yang memancur keluar
dari ulu hati Wiraman dan Widawati. Kedua orang gagah ini merintih, golok dan
keris terlepas dari tangan. Keris Naga-kikik itu mengandung racun yang berhawa
dingin sehingga siapa terkena akan menjadi beku darahnya. Wiraman dan Widawati
pun yang tertusuk ulu hatinya hanya mengeluarkan darah sekali mancur lalu membeku,
keduanya terhuyung, tangan meraih sambil membuka mata saling pandang berhasil
saling peluk, roboh terguling bersama dan menghembuskan napas terakhir pada
detik yang sama. Mereka tewas dalam keadaan saling berdekapan, mati bersama
sesuai dengan janji-janji mesra di kala mereka memadu cinta.
Para pengawal berdatangan
dan Ki Patih Warutama memberi perintah,
"Seret mayat mereka
ini, merekalah yang melakukan pembakaran dengan maksud merampas tawanan. Seret
dan ikat di tengah alun-alun, biar besok semua rakyat dapat melihati"
Pada keesokan harinya,
berduyun-duyun penduduk di sekitar kota raja berdatangan untuk melihat dua
orang penjahat yang membakar gudang istana. Akan tetapi betapa kaget dan ngeri
hati mereka ketika mengenal mayat laki-laki itu sebagai mayat Wiraman, seorang
pengawal kepatihan dahulu yang amat disegani dan dihormati karena gagah perkasa
dan baik budi. Apalagi ketika mereka mengenal mayat Widawati yang seringkali
dikagumi tari-tariannya semenjak masih kecil. Biarpun tidak ada yang berani secara
terang-terangan, namun banyaklah penduduk yang diam-diam menangisi kematian
demikian menyedihkan dari dua orang itu, terutama sekali kematian Widawati.
Segala yang terjadi dan tampak oleh pandangan mata manusia keadaannya
seringkali tidak sesuai dengan pendapat manusia yang menyaksikannya, bahkan
kadang-kadang berlawanan. Orang-orang menjadi terharu,
menangisi kematian Wiraman
dan Widawati yang mereka anggap amat menyedihkan. Akan tetapi, bagaimanakah
sesungguhnya? Adakah kematian mereka itu benar-benar menyedihkan, tentu saja
terutama sekali bagi dua orang itu sendiri? Hal ini amat diragukan dan
sungguhpun keadaan mati tak dapat dibuktikan oleh manusia hidup, namun
mengingat akan janji-janji mereka berdua sebelumnya, kematian bersama itu belum
tentu merupakan peristiwa yang menyedihkan bagi Wiraman dan Widawati. Siapa
tahu kalau arwah kedua orang yang saling mencinta ini bergandeng tangan sambil
tersenyum-senyum bahagia menyaksikan dunia dengan segala leluconnya yang mereka
tinggalkan untuk selamanya.
Patih Warutama menyuruh
mempertontonkan kedua sosok mayat itu kepada penduduk dengan maksud agar mereka
yang masih mempunyai niat memberontak menjadi gentar dan maklum akan kekuatan
mereka yang kini menguasai Jenggala. Akan tetapi, keadaan sesungguhnya bukanlah
demikian karena rakyat diam-diam menjadi makin muak dan benci akan
kekejaman-kekejaman dan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi semenjak Suminten
menjadi selir raja terkasih, semenjak Pangeran Kukutan menjadi putera mahkota,
dan semenjak Ki Patih Warutama menjadi Patih Jenggala. Kebencian dan kemuakan
yang menjadi rabuk berseminya rasa tak puas dan dingin memberontak dari rakyat!
Adapun tentang kematian Wiraman dan Widawati itu sendiri. Sia-siakah
pengorbanan mereka? Sia-siakah usaha mereka membebaskan empat orang tawanan?
Sia-siakah mereka mengorbankan nyawa sedang empat orang tawanan itu masih tetap
tertawan? Kiranya tidaklah demikian dan hal ini akan terbukti dalam
peristiwa-peristiwa selanjutnya. Peristiwa yang menyusul karena terjadi pada
siang harinya setelah malam keributan di bangunan tempat tahanan itu. Ketika
Suminten mendengar akan usaha Wiraman dan Widawati yang hendak merampas tawanan
dengan jalan membakar gudang, ia menjadi marah sekali dan habis kesabarannya.
Ia cepat memberi perintah kepada pengawalnya, kemudian dia sendiri datang ke
tempat tahanan untuk menyaksikan pelaksanaan usahanya yang terakhir untuk
memaksa Pangeran Panji Sigit dan loko Pramono bertekuk lutut di depannya. Ia
merasa yakin bahwa akalnya yang terakhir ini akan berhasil dan harus berhasil,
karena kalau tidak, ia sudah mengambil keputusan untuk membunuh empat orang
muda yang keras hati itu. Keputusannya itu tentu saja mengecewakan hati Ki
Patih Warutama dan Pangeran Kukutan yang mempunyai niat lain lagi terhadap dua
orang wanita cantik yang menjadi tawanan. Pangeran Kukutan yang selalu merasa
iri hati kepada Pangeran Panji Sigit, begitu melihat Setyaningsih sudah timbul
hasrat hatinya untuk merampas isteri adik tirinya itu, atau setidaknya
memperkosanya, baru akan puaslah hatinya. Adapun Ki Patih Warutama tertarik
akan kecantikan Pusporini, bahkan malam tadi ia sampai tersesat ke tempat
tahanan semata-mata bermaksud untuk melihat Pusporini dan kalau mungkin,
"mendahului" Suminten menggagahi gadis itu. Akan tetapi peristiwa pembakaran
gudang membuat ia terpaksa membatalkan niatnya dan kini keputusan Suminten itu
mengecewakan hatinya. Namun, baik Pangeran Kukutan maupun Patih Warutama tidak
berani membantah lagi ketika Suminten berkata,
"Kalau yang dua jantan
suka menyerah kepadaku, yang dua betina akan kuserahkan kepada kalian. Kalau
tidak, keempatnya akan kubunuh hari ini juga!"
Di dalam ruangan tahanan
berdinding batu tebal dan kokoh kuat itu, telah diatur persiapannya oleh para
pengawal. Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono masih terbelenggu di dinding
batu, akan tetapi Setyaningsih dan Pusporini telah dipindahkan. Kini kedua
orang wanita itu diikat pada dua batang balok besar, diikat kaki, tangan dan
lehernya pada balok itu sehingga mereka tak mampu bergerak. Suminten duduk di
luar kamar tahanan, menonton dari lubang jendela yang digerakkan dengan alat
rahasia sehingga dinding yang berhadapan dengan kedua orang muda itu terbuka
tengahnya dan kepala Suminten kelihatan dari dalam kamar tahanan. Melihat
keadaan dua orang wanita itu, dan melihat munculnya kepala Suminten di balik
lubang dinding, Pangeran Panji Sigit berseru,
"Suminten, andika
seorang manusia dari darah daging, bukan siluman. Muslihat keji apakah yang
hendak kaulakukan atas diri isteriku dan Pusporini? Kalau mau membunuh kami,
bunuhlah karena kami tidak takut mati. Dan ingat, bahwa apapun juga yang anda
lakukan, kami takkan menyerah dan andika akan melakukan hal yang sia-sia
belaka."
Suminten tersenyum.
"Pangeran,
apa yang akan kulakukan bukanlah hal sia-sia, dan akan terjadi di depan mata
kalian berdua. Baru dapat dihentikan dengan penyerahan diri kalian kepadaku
tanpa syarat!" Sehabis berkata demikian Suminten bertepuk tangan tiga kali
memberi isyarat kepada kaki tangannya. Pintu kamar tahanan terbuka dan masuklah
dua orang laki-laki yang keadaannya mengerikan hati Pusporini dan Setyaningsih.
Mereka itu adalah dua orang laki-laki bertubuh besar dan bersikap kasar,
bermuka liar dengan mata terbelalak lebar penuh nafsu, mulut yang besar dengan
gigi yang menguning terkekeh-kekeh meneteskan air liur ketika mereka melangkah
maju dan terkekeh-kekeh menghampiri dua batang balok berdiri di mana kedua
orang wanita muda itu terikat tak berdaya!
No comments:
Post a Comment