Perawan Lembah Wilis; Bagian 157


"Dengan api." Ketika melihat kekasihnya mengangguk, Wiraman berbisik lagi,
"Kau tunggu di sini, aku akan membakar gudang perlengkapan di sebelah kanan itu. Setelah terjadi kebakaran dan keadaan geger, pergunakan golok ini untuk membabat putus ruji-ruji jendela."
Wiraman menyerahkan golok lalu menyelinap pergi. Widawati memandang ke arah lenyapnya bayangan suaminya dengan jantung berdebar tegang. Tak lama kemudian tampaklah api berkobar di sebelah kanan dan terdengar teriakan-teriakan orang. Widawati melihat betapa banyak penjaga lari berserabutan keluar dari dalam rumah tahanan. Ia cepat menghampiri jendela dan mengintai. Girang hatinya melihat dapur itu kosong dan para penjaga yang tadi makan minum tidak nampak lagi, hanya tinggal bekas-bekas makanan dan minuman yang agaknya ditinggalkan dalam keadaan tergesa-gesa. Widawati lalu menggerakkan goloknya membabat ke arah jendela yang beruji besi.
"Trangggg ......”. Golok itu terpental dan terlepas dari tangan Widawati karena tertangkis oleh sebatang keris yang digerakkan sebuah lengan tangan yang kuat sekali.
"Ha-ha-ha, sudah kuduga! Menimbulkan kebakaran untuk memancing para penjaga keluar! Kiranya seorang wanita yang cantik manis berani mati hendak menolong para tawanan. Aha, engkau boleh juga, manis, patut menjadi tawananku dalam kamar tidurku. Ha-ha-ha, senangkan hatimu karena menjadi tawanan Patih Warutama adalah hal yang amat nikmat dan menyenangkan!"

Mendengar bahwa orang yang menangkis goloknya itu adalah Patih Warutama, kemarahan dan kebencian Widawati tak dapat ia bendung lagi. Tangan kanannya mencabut keluar kerisnya, dan telunjuk kirinya menuding.
"Si keparat! Kiranya engkau inilah Warutama manusia iblis yang bersekongkol dengan iblis betina Suminten dan menghancurkan seluruh keluarga kakekku, Eyang Patih Brotomenggala? tahanan laknat, rasakan pembalasan Widawati, cucunya!"
Ucapan ini disusul dengan terjangan Widawati yang marah sekali. Ia menyerang dengan kerisnya, dan biarpun kepandaiannya sama sekali belum ada artinya kalau dibandingkan dengan kesaktian Ki Patih Warutama, namun dalam keadaan marah dan benci itu ia menjadi nekat dan gerakannya amatlah dahsyat dan ganas. Ki Patih Warutama juga terkejut mendengar bahwa wanita muda yang cantik ini adalah cucu mendiang Ki Patih Brotomenggala. Tentu saja keturunan Brotomenggala harus dibasmi, akan tetapi sifat mata keranjang Warutama membuat ia merasa sayang kalau wanita cantik ini harus dibunuh begitu saja. Sebelum dibunuh akan ia tangkap dulu, dan memaksa seorang wanita untuk menuruti nafsunya merupakan hal yang menyenangkan bagi laki-laki yang berwatak bejat ini. Sambil tertawa ia mengelak, tangan kanannya mencengkeram ke arah pergelangan tangan Widawati dengan gerakan amat cepat sehingga Widawati kaget sekali dan tentu saja ia segera menarik kembali kerisnya agar jangan terampas lawan. Akan tetapi ternyata bahwa gerakan cengkeraman dengan tangan kanan itu hanya gertak belaka, atau pancingan karena yang sesungguhnya bergerak adalah tangan kirinya yang tahu-tahu telah menyelonong maju, memegang dan membelai dada Widawati dengan remasan!
"Jahanam ........ !" Widawati menjerit.
"Ha-ha-ha-ha, engkau denok menggairahkan, manis!" Warutama mengejek sambil tertawa-tawa. Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan Wiraman telah muncul di situ. Ketika Wiraman melihat isterinya berhadapan dengan Ki Patih Warutama, ia terkejut bukan main. Cepat ia menyambar golok yang menggeletak di atas tanah.
"Yayi Widawati, isteriku yang terkasih. Saat bagi kita berdharma bakti telah tiba. Keparat ini adalah Warutama, kita harus menandinginya dan mengadu nyawa!”
"Aku sudah tahu, Kakang Wiraman. Mari kita basmi iblis ini!" jawab Widawati.
"Apa? Cucu Brotomenggala ini isterimu? Heh, keparat, siapakah engkau berani membikin kacau di sini?"
"Buka telingamu baik-baik, Warutama. Aku Wiraman bekas pengawal rahasia kepatihan Janggala dan aku pernah melihat ketika engkau melakukan permainan sandiwaramu menolong sang prabu ...“
"Babo-babo, engkau mencari mampus ....!" Warutama menjadi marah sekali karena orang ini merupakan orang yang amat berbahaya, yang mengetahui rahasianya ketika menjalankan siasat untuk menipu Raja Jenggala. Ia telah menghunus kerisnya sambil loncat menghindar ketika golok Wiraman menyambar, kemudian ia menangkis tusukan keris Widawati dengan kerisnya sendiri. Widawati mengeluh karena telapak tangannya terasa panas dan hampir saja kerisnya terlepas dari pegangan tangannya. Akan tetapi ia menerjang terus dengan nekat. Juga Wiraman yang cukup maklum betapa saktinya patih baru dari Jenggala ini, menggerakkan goloknya dengan nekat dan menghujankan serangan bertubi-tubi yang selalu dapat dielakkan atau ditangkis oleh Patih Warutama.

Ki Patih Warutama menjadi penasaran dan juga heran. Setelah dua tahun yang lalu, ketika ia menghadapi para pengawal rahasia yang dikirim Patih Brotomenggala untuk melindungi sang prabu, ia menganggap para pengawal itu berkepandaian biasa saja. Akan tetapi mengapa pengawal ini memiliki kepandaian yang cukup hebat sehingga ia tidak dapat merobohkannya dalam waktu singkat? Juga cucu Patih Brotomenggala ini, biarpun gerakannya terlatih, akan tetapi memiliki dasar ilmu yang tinggi. Kalau tidak lekas dibasmi, pengawal ini amat berbahaya dan cucu Brotomenggala itu pun amat berbahaya, pertama sebagai cucu bekas musuh besarnya, ke dua sebagai isteri Wiraman yang tahu akan semua rahasianya dahulu. Dengan penasaran, Ki Patih Warutama lalu mengeluarkan pekik dahsyat dan tiba-tiba tubuhnya bergulingan di atas tanah seperti seekor trenggiling. Itulah Aji Trenggilingwesi yang amat dahsyat dan banyak gerak tipunya. Sambil bergulingan dia mencari kesempatan untuk meloncat dan mengirim serangan tiba-tiba. Menghadapi ilmu bertanding yang aneh itu, Wiraman dan Widawati menjadi bingung dan mereka hanya dapat mengikuti gerak lawan yang bergulingan itu untuk dipapaki serangan kalau bangkit berdiri.
"Haaiiiitttt !" Tiba-tiba tubuh Ki Patih Warutama mencelat ke atas dengan gerakan yang sukar diduga sebelumnya. Sambil meloncat ini ia mengayun keris pusaka Naga-kikik yang bereluk tujuh itu dan mengeluarkan sinar hijau dingin. Sinar hijau berkelebat menyentuh dada Wiraman dan Widawati, tampaknya hanya menyerempet saja, akan tetapi ujung keris Naga-kikik itu menjadi merah oleh darah yang memancur keluar dari ulu hati Wiraman dan Widawati. Kedua orang gagah ini merintih, golok dan keris terlepas dari tangan. Keris Naga-kikik itu mengandung racun yang berhawa dingin sehingga siapa terkena akan menjadi beku darahnya. Wiraman dan Widawati pun yang tertusuk ulu hatinya hanya mengeluarkan darah sekali mancur lalu membeku, keduanya terhuyung, tangan meraih sambil membuka mata saling pandang berhasil saling peluk, roboh terguling bersama dan menghembuskan napas terakhir pada detik yang sama. Mereka tewas dalam keadaan saling berdekapan, mati bersama sesuai dengan janji-janji mesra di kala mereka memadu cinta.
Para pengawal berdatangan dan Ki Patih Warutama memberi perintah,
"Seret mayat mereka ini, merekalah yang melakukan pembakaran dengan maksud merampas tawanan. Seret dan ikat di tengah alun-alun, biar besok semua rakyat dapat melihati"
Pada keesokan harinya, berduyun-duyun penduduk di sekitar kota raja berdatangan untuk melihat dua orang penjahat yang membakar gudang istana. Akan tetapi betapa kaget dan ngeri hati mereka ketika mengenal mayat laki-laki itu sebagai mayat Wiraman, seorang pengawal kepatihan dahulu yang amat disegani dan dihormati karena gagah perkasa dan baik budi. Apalagi ketika mereka mengenal mayat Widawati yang seringkali dikagumi tari-tariannya semenjak masih kecil. Biarpun tidak ada yang berani secara terang-terangan, namun banyaklah penduduk yang diam-diam menangisi kematian demikian menyedihkan dari dua orang itu, terutama sekali kematian Widawati. Segala yang terjadi dan tampak oleh pandangan mata manusia keadaannya seringkali tidak sesuai dengan pendapat manusia yang menyaksikannya, bahkan kadang-kadang berlawanan. Orang-orang menjadi terharu,
menangisi kematian Wiraman dan Widawati yang mereka anggap amat menyedihkan. Akan tetapi, bagaimanakah sesungguhnya? Adakah kematian mereka itu benar-benar menyedihkan, tentu saja terutama sekali bagi dua orang itu sendiri? Hal ini amat diragukan dan sungguhpun keadaan mati tak dapat dibuktikan oleh manusia hidup, namun mengingat akan janji-janji mereka berdua sebelumnya, kematian bersama itu belum tentu merupakan peristiwa yang menyedihkan bagi Wiraman dan Widawati. Siapa tahu kalau arwah kedua orang yang saling mencinta ini bergandeng tangan sambil tersenyum-senyum bahagia menyaksikan dunia dengan segala leluconnya yang mereka tinggalkan untuk selamanya.

Patih Warutama menyuruh mempertontonkan kedua sosok mayat itu kepada penduduk dengan maksud agar mereka yang masih mempunyai niat memberontak menjadi gentar dan maklum akan kekuatan mereka yang kini menguasai Jenggala. Akan tetapi, keadaan sesungguhnya bukanlah demikian karena rakyat diam-diam menjadi makin muak dan benci akan kekejaman-kekejaman dan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi semenjak Suminten menjadi selir raja terkasih, semenjak Pangeran Kukutan menjadi putera mahkota, dan semenjak Ki Patih Warutama menjadi Patih Jenggala. Kebencian dan kemuakan yang menjadi rabuk berseminya rasa tak puas dan dingin memberontak dari rakyat! Adapun tentang kematian Wiraman dan Widawati itu sendiri. Sia-siakah pengorbanan mereka? Sia-siakah usaha mereka membebaskan empat orang tawanan? Sia-siakah mereka mengorbankan nyawa sedang empat orang tawanan itu masih tetap tertawan? Kiranya tidaklah demikian dan hal ini akan terbukti dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya. Peristiwa yang menyusul karena terjadi pada siang harinya setelah malam keributan di bangunan tempat tahanan itu. Ketika Suminten mendengar akan usaha Wiraman dan Widawati yang hendak merampas tawanan dengan jalan membakar gudang, ia menjadi marah sekali dan habis kesabarannya. Ia cepat memberi perintah kepada pengawalnya, kemudian dia sendiri datang ke tempat tahanan untuk menyaksikan pelaksanaan usahanya yang terakhir untuk memaksa Pangeran Panji Sigit dan loko Pramono bertekuk lutut di depannya. Ia merasa yakin bahwa akalnya yang terakhir ini akan berhasil dan harus berhasil, karena kalau tidak, ia sudah mengambil keputusan untuk membunuh empat orang muda yang keras hati itu. Keputusannya itu tentu saja mengecewakan hati Ki Patih Warutama dan Pangeran Kukutan yang mempunyai niat lain lagi terhadap dua orang wanita cantik yang menjadi tawanan. Pangeran Kukutan yang selalu merasa iri hati kepada Pangeran Panji Sigit, begitu melihat Setyaningsih sudah timbul hasrat hatinya untuk merampas isteri adik tirinya itu, atau setidaknya memperkosanya, baru akan puaslah hatinya. Adapun Ki Patih Warutama tertarik akan kecantikan Pusporini, bahkan malam tadi ia sampai tersesat ke tempat tahanan semata-mata bermaksud untuk melihat Pusporini dan kalau mungkin, "mendahului" Suminten menggagahi gadis itu. Akan tetapi peristiwa pembakaran gudang membuat ia terpaksa membatalkan niatnya dan kini keputusan Suminten itu mengecewakan hatinya. Namun, baik Pangeran Kukutan maupun Patih Warutama tidak berani membantah lagi ketika Suminten berkata,
"Kalau yang dua jantan suka menyerah kepadaku, yang dua betina akan kuserahkan kepada kalian. Kalau tidak, keempatnya akan kubunuh hari ini juga!"

Di dalam ruangan tahanan berdinding batu tebal dan kokoh kuat itu, telah diatur persiapannya oleh para pengawal. Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono masih terbelenggu di dinding batu, akan tetapi Setyaningsih dan Pusporini telah dipindahkan. Kini kedua orang wanita itu diikat pada dua batang balok besar, diikat kaki, tangan dan lehernya pada balok itu sehingga mereka tak mampu bergerak. Suminten duduk di luar kamar tahanan, menonton dari lubang jendela yang digerakkan dengan alat rahasia sehingga dinding yang berhadapan dengan kedua orang muda itu terbuka tengahnya dan kepala Suminten kelihatan dari dalam kamar tahanan. Melihat keadaan dua orang wanita itu, dan melihat munculnya kepala Suminten di balik lubang dinding, Pangeran Panji Sigit berseru,
"Suminten, andika seorang manusia dari darah daging, bukan siluman. Muslihat keji apakah yang hendak kaulakukan atas diri isteriku dan Pusporini? Kalau mau membunuh kami, bunuhlah karena kami tidak takut mati. Dan ingat, bahwa apapun juga yang anda lakukan, kami takkan menyerah dan andika akan melakukan hal yang sia-sia belaka."
Suminten tersenyum.
"Pangeran, apa yang akan kulakukan bukanlah hal sia-sia, dan akan terjadi di depan mata kalian berdua. Baru dapat dihentikan dengan penyerahan diri kalian kepadaku tanpa syarat!" Sehabis berkata demikian Suminten bertepuk tangan tiga kali memberi isyarat kepada kaki tangannya. Pintu kamar tahanan terbuka dan masuklah dua orang laki-laki yang keadaannya mengerikan hati Pusporini dan Setyaningsih. Mereka itu adalah dua orang laki-laki bertubuh besar dan bersikap kasar, bermuka liar dengan mata terbelalak lebar penuh nafsu, mulut yang besar dengan gigi yang menguning terkekeh-kekeh meneteskan air liur ketika mereka melangkah maju dan terkekeh-kekeh menghampiri dua batang balok berdiri di mana kedua orang wanita muda itu terikat tak berdaya!

<<< Bagian 156                                                                                     Bagian 158 >>>

No comments:

Post a Comment