Tanpa bicara sekalipun maklumlah Pusporini dan Setyaningsih, juga Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono, apa yang akan dilakukan oleh dua orang algojo setengah telanjang itu. Setyaningsih dan Pusporini menjadi pucat wajahnya, memandang kepada dua orang yang tubuhnya hanya ditutupi cawat kasar, tubuh setengah telanjang bulat yang berisi otot-otot melingkar seperti dadung dan begitu mereka masuk telah tercium bau keringat yang kecut dan apek.
"Mundur kalian! Jangan
ganggu isteriku dan Pusporini!" bentak Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi
dua orang raksasa itu hanya tertawa ha-hah-he-heh sambil langkah maju terus
mendekati dua orang wanita itu.
"Kalau berani menjamah
mereka, kuhancurkan lumat-lumat kepala kalian!" Joko Pramono juga
berteriak yang dijawab dengan suara terkekeh-kekeh oleh dua orang itu. Mereka
sama sekali tidak memperdulikan ancaman kedua orang muda itu dan berdiri di
depan Pusporini dan Setyaningsih, dekat sekali. Mereka kini kelihatan makin
bernafsu dan air liur mereka menetes-netes menjijikkan.
Keadaan mereka itu, ketika
kedua orang wanita memandang wajah mereka, mengingatkan Pusporini dan
Setyaningsih akan muka dua ekor anjing kelaparan melihat tulang. Napas mereka
yang terengah engah keluar dari mulut menimbulkan bau yang lebih menjijikkan
daripada bau keringat mereka, seperti bau sampah membusuk. Tidak akan
mengherankanlah kiranya andaikata ada ulat-ulat berloncatan keluar dari mulut
mereka, begitu busuk baunya. Tadinya empat orang tawanan itu menyangka bahwa
dua orang raksasa ini agaknya gagu, akan tetapi ternyata tidak demikian karena
kini raksasa yang berdiri dekat Pusporini berkata, suaranya serak kasar seperti
kaleng diseret.
"Wah-wah, Kakang Suro.
Aku menjadi semlengeren (silau) melihat dua orang wanita denok montok dan segar
ranum ini sehingga sukar untuk memilih. Kalau boleh keduanya saja untukku,
ha-ha-ha!"
"Heessss, Adi Digdo,
biar yang putih kuning dan denok montok ini untukku, yang manis legit itu
untukmu!" jawab algojo yang berdiri di depan Setyaningsih sambil meraba
dagunya dengan kepalan tangannya yang besar dan berbulu.
"Buaya darat, monyet
kau! Celeng goteng kau! Coba lepaskan ikatanku dan aku akan menginjak-injak
hancur kepala kalian berdua babi hutan! Kalau kalian begitu pengecut dan tidak
berani melepaskan, bunuh saja kami berdua!" teriak Pusporini yang tak
dapat menahan kemarahannya lagi.
"Wah-wah, eman-eman
(sayang) kalau dibunuh, cah ayu..... !" kata algojo yang bernama Digdo
sambil memandang seolah-olah hendak menelan bulat-bulat tubuh Pusporini.
"Suro dan Digdo, jangan
banyak cerewet! Lekas lakukan perintahku, tepat seperti yang kalian ketahui.
Awas, kalau tidak tepat seperti perintahku, kusuruh penggal batang leher
kalian!" Tiba-tiba terdengar suara Suminten dari balik lubang dinding. Dua
orang algojo itu terkejut, menoleh dan menyembah.
"Renggut baju mereka
sampai habis lepas!" kembali Suminten berteriak.
Dua buah lengan penuh bulu
dengan jari-jari tangan sebesar pisang ambon itu bergerak ke depan,
mencengkeram baju Pusporini dan Setyaningsih.
"Breeettt .......
breeeettt ....... !!"
Baju yang dipakai kedua
orang wanita itu seperti kertas saja di tangan Suro dan Digdo dan dalam sekejap
mata, sekali gentak dan renggut baju-baju itu robek semua dan terlepas dari
tubuh bagian atas. Setyaningsih dan Pusporini memejamkan mata dan mereka
menjadi telanjang dari pinggang ke atas. Dua orang algojo itu memandang sambil
menelan ludah, kedua tangan mencabik-cabik baju yang tadi menutupi tubuh atas
Pusporini dan Setyaningsih. Diam-diam Suminten kagum dan iri hati menyaksikan
keindahan tubuh atas kedua
orang wanita itu. Harus ia akui bahwa biarpun tubuh atasnya sendiri pun indah
dan terawat baik, namun tidaklah memiliki kesegaran seperti tubuh atas mereka.
Pada waktu itu, bertelanjang
tubuh atas bagi wanita bukanlah merupakan hal yang terlalu berat. Akan tetapi
keadaan mereka itu berbeda lagi, mereka tengah ditelanjangi oleh tangan kedua
orang algojo itu dan hal ini merupakan penghinaan yang amat hebat. Joko Pramono
dan Pangeran Panji Sigit meronta-ronta namun hanya berhasil membuat
rantai-rantai besar yang membelenggu mereka berkerontangan.
"Suminten, perempuan
terkutuk! Bunuh saja Setyaningsih!" teriak Panji Sigit, hampir ia terisak
menyaksikan penghinaan yang dihadapi isterinya tercinta.
"Suminten, engkau dan
algojo-algojomu ini sekali waktu akan terjatuh ke tanganku, dan awaslah akan
pembalasanku atas perlakuan yang kaujatuhkan pada Pusporini saat ini!"
kata pula Joko Pramono, suaranya dingin akan tetapi mengandung ancaman yang
jelas melebihi suara halilintar menyambar.
Suminten tersenyum penuh
kemenangan. Memang itulah yang ia kehendaki. Menyiksa batin kedua orang pria
itu agar suka tunduk dan berlutut di depan kakinya.
"Hi-hik, kalian merasa
kasihan dan ngeri? Mengapa tidak menolong mereka dan membebaskan mereka dari
keadaan yang lebih hebat lagi? Mudah saja dan ringan syaratnya, asal suka
membantuku. Kalau kalian masih berkeras kepala, dengarkan apa yang akan
dilakukan oleh kedua orang algojoku ini. Atas perintahku, mereka nanti akan
merenggut lepas seluruh pakaian dua orang wanita itu. Setelah itu, mereka
berdua akan membeIai dan meremas bagian-bagian tubuh Setyaningsih dan
Pusporini, bagian-bagian yang kalian tak ingin dijamah laki-laki lain. Setelah
puas, mereka itu akan kuperintahkan untuk memperkosa Setyaningsih dan Pusporini
di depan mata kalian sekuat mereka sampai dua orang wanita pujaan hati kalian
ini mati! Ya, akan kuperintahkan agar dua orang wanita ini diperkosa sampai
mati di sini, tiada henti-henti sampai mereka berdua ini mati atau kedua orang
algojo ini kurang kuat dan mereka yang diperkosa itu belum mati, akan
kudatangkan dua orang algojo lain yang masih segar dan kuat untuk menggantikan
mereka memperkosa Setyaningsih dan Pusporini, kemudian dua lagi, menjadi enam
orang, sepuluh orang, dua puluh, sampai seratus orang, sampai Setyaningsih dan
Pusporini kehabisan napas dan mati !”
"Perempuan iblis
terkutuk ...” Joko Pramono memekik, wajahnya pucat kini.
"Tidak ....jangan
....kau bunuh saja kami, Suminten, bunuh saja kami, ....... !" Pangeran
Panji Sigit merintih suaranya lemah, air matanya bertitik menuruni pipinya.
Melihat keadaan suaminya
seperti itu, hati Setyaningsih seperti diiris-iris. Ia lupa akan keadaan
dirinya sendiri, lenyap rasa ngerinya karena ia kasihan menyaksikan penderitaan
batin yang ditanggung suaminya, maka ia lalu berkata lantang setengah menjerit,
"Kakangmas Pangeran,
mengapa berduka? Tubuhku ini bukanlah milik paduka, bukan pula milikku, hanya
tanah dan debu. Yang kita miliki adalah rasa cinta kasih yang takkan lenyap dan
abadi, dan kita akan dapat berkumpul kembali setelah aku mati dan kemudian
paduka menyusul. Biarlah mereka lakukan apa saja atas tubuh bukan milik kita
ini, Kakangmas."
Semua orang tertegun
bagaikan disiram air dingin mendengar ini. Suminten merasa seperti ditampar
mukanya, bahkan dua orang algojo itu sejenak terbelalak.
"Duh Ayunda, engkau
bijaksana sekali dan terima kasih ... " bisik Pusporini di sampingnya dan
kini gadis inipun dapat memandang kekasihnya dengan tabah dan wajah
berseri-seri, seolah-olah apa yang akan dialami dan yang berangkir dengan
kematian merupakan saat-saat dia hendak melangsungkan pernikahan dengan Joko
Pramono, pernikahan di akhirat!
"Isteriku Setyaningsih
yang tercinta! Maafkanlah kakanda yang diserang kelemahan tadi. Kini hatiku
lega dan marilah kita hadapi hukuman tubuh yang penuh dosa dengan segala
penyerahan kepada Hyang Widi. Suminten, jangan mengira bahwa kejahatan dapat
mengalahkan kebajikan, bahwa iblis dapat mengalahkan dewata, lakukanlah sesuka
hatimu, wahai perempuan malang calon intip neraka!" kata Pangeran Panji
Sigit.
"Ha-ha-ha, engkau mau
berkata apa lagi sekarang, Suminten perempuan rendah budi?" Joko Pramono
tertawa bergelak, hatinya juga lapang setelah mendengar ucapan Setyaningsih
tadi.
Suminten memandang dengan
sinar mata penuh kemarahan dan muka pucat. Ia masih belum mau menerima kalah.
Ia tidak percaya bahwa dua orang pria muda itu akan kuat bertahan menyaksikan
kekasih-kekasih mereka diperkosa dan disiksa.
"Suro dan Digdo,
renggut kain-kain mereka, telanjangi mereka!" perintahnya. Sikap dan
ucapan empat orang muda itu mengandung wibawa yang amat hebat, menggetarkan isi
dada dua orang algojo yang kasar seperti binatang buas itu sehingga gairah dan
nafsu berahi mereka sudah banyak mendingin. Akan tetapi perintah Suminten
bagaikan cambuk yang memecut punggung mereka, membuat mereka tergesa-gesa
mengulur tangan meraih ke depan hendak merenggut kain Setyaningsih dan
Pusporini yang sudah memejamkan mata sambil bersamadhi mematikan raga dan rasa,
sedangkan dua orang pria muda itu memandang dengan muka pucat akan tetapi
dengan penuh keikhlasan dan penyerahan kepada Yang Maha Kuasa. Pada saat itu
terdengar jelas tarikan napas panjang yang entah dari mana datangnya dan
tiba-tiba berkelebat dua sinar kecil menyambar tengkuk dua orang algojo itu.
Bagaikan disambar petir dua orang algojo itu yang sudah menyentuh kain
Setyaningsih dan Pusporini, mengejang dan ... berdiri kaku seolah-olah mereka
telah berubah menjadi dua buah arca batu! Kembali datang menyambar sinar-sinar
kecil, kini menuju ke arah tambang-tambang kuat yang mengikat leher, lengan,
dan kaki kedua orang wanita itu dan seketika semua tambang pengikat tubuh
mereka putus seperti dikerat pisau tajam!
Keadaan ini membuat semua
orang tertegun, bahkan Setyaningsih dan Pusporini sendiri kini sudah sadar dari
samadhi, membelalakkan mata memandang semua tali pengikat yang sudah putus.
Sedemikian besar keheranan dan kekagetan mereka sehingga mereka tidak mampu
menggerakkan kaki dan tangan yang sudah bebas itu! Hanya pangeran Panji Sigit
dan Joko Pramono yang sadar dan kini mereka menoleh ke arah pintu dari mana
tadi menyambar sinar-sinar itu, setengah dapat menduga bahwa ada seorang sakti
yang telah menolong mereka. Akan tetapi ketika perlahan-lahan daun pintu yang berat
itu terbuka, mereka inipun melongo keheranan karena yang muncul bukanlah
seorang kakek sakti mandraguna, juga bukan Resi Mahesapati seperti yang tadinya
disangka oleh Joko Pramono, melainkan seorang pemuda remaja berpakaian
sederhana berwajah tampan berkulit putih yang melangkah perlahan memasuki
tempat itu dengan senyum tenang penuh kesabaran di bibir!
Pemuda remaja ini bukan lain
adalah Bagus Seta. Kedatangannya yang tepat sekali pada waktunya itu merupakan
hasil daripada usaha Wiraman dan Widawati semalam. Malam tadi, Bagus Seta masih
berada di luar kota saja, mendapatkan sebuah tempat yang amat nyaman dalam
hutan sehingga ia berhenti dan bersamadhi di tempat itu menikmati keindahan
tetumbuhan dan kebersihan hawa segar. Akan tetapi pada malam harinya, Bagus
Seta melihat sinar merah tanda kebakaran membubung tinggi. Hal inilah yang
membuat pemuda sakti mandraguna mempercepat kepergiannya ke kota raja dan
begitu memasuki kota raja mendengar akan peristiwa ditawannya Pangeran Panji
Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih dan Pusporini. Disebutnya nama kedua orang
wanita ini membuat Bagus Seta langsung saja mendatangi tempat tahanan,
mempergunakan kesaktiannya dan berhasil datang pada saat yang tepat sehingga
kedua orang bibinya itu tertolong. Dengan demikian maka tidak sia-sialah
kiranya pengorbanan yang dilakukan oleh Wiraman dan Widawati. Kalau saja mereka
tidak melakukan usaha itu dan tidak terjadi kebakaran tentu kedatangan Bagus
Seta akan terlambat. Tentu saja segala macam liku-liku peristiwa yang kebetulan
itu telah ada yang mengatur-Nya dan hanya atas kehendak-Nya sajalah maka dapat
terjadi semua kebetulan itu !
Dengan langkah perlahan dan
sikap tenang sekali Bagus Seta langsung menghampiri Pangeran Panji Sigit dan
Joko Pramono, kemudian menggunakan jari-jari tangannya yang halus itu meraih ke
arah rantai baja. Terdengar bunyi berkerotokan dan.... dalam sekejap mata saja
kedua tangan merekapun bebas, rantai itu patah-patah dan jatuh ke atas lantai.
Bagaikan menerima komando, tubuh Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono meloncat
ke depan dan menghantan dengan tangan yang mengandung aji kesaktian ke arah
kepala Suro dan Digdo yang masih berdiri seperti arca. Terdengar suara keras
"prakk!" dua kali dan tubuh tinggi besar kedua algojo itu roboh dengan
kepala pecah dan tewas di saat itu juga. Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono
dengan sikap beringas memutar tubuh hendak mencari Suminten, akan tetapi sudah
sejak tadi wanita itu lenyap dari balik lubang dinding, bahkan dinding itu
sendiri kini tidak berlubang lagi, tertutup oleh gerakan alat rahasia. Karena
tak dapat melihat Suminten, Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono menjatuhkan
diri berlutut di depan Bagus Seta, demikian pula Setyaningsih dan Pusporini
yang kini telah sadar dari keadaan terpesona, merekapun cepat berlutut hendak
menyembah, lupa akan keadaan tubuh atas mereka yang masih telanjang.
"Harap jangan banyak
penghormatan, kini bukan waktunya bicara, yang terpenting harap lekas ikut
bersama saya keluar dari kota raja." Bagus Seta menggunakan kedua tangan
menyentuh pundak mereka, akan tetapi sentuhan jari tangan itu mengandung
kekuatan mujijat yang tak terlawan sehingga keempat orang itu seperti ditarik
tenaga raksasa dan bangkit berdiri. Ucapan itu pun sekaligus mengingatkan
mereka bahwa bahaya belumlah terhindar selama mereka masih berada di tempat
itu.
No comments:
Post a Comment