Perawan Lembah Wilis; Bagian 158


Tanpa bicara sekalipun maklumlah Pusporini dan Setyaningsih, juga Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono, apa yang akan dilakukan oleh dua orang algojo setengah telanjang itu. Setyaningsih dan Pusporini menjadi pucat wajahnya, memandang kepada dua orang yang tubuhnya hanya ditutupi cawat kasar, tubuh setengah telanjang bulat yang berisi otot-otot melingkar seperti dadung dan begitu mereka masuk telah tercium bau keringat yang kecut dan apek.
"Mundur kalian! Jangan ganggu isteriku dan Pusporini!" bentak Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi dua orang raksasa itu hanya tertawa ha-hah-he-heh sambil langkah maju terus mendekati dua orang wanita itu.
"Kalau berani menjamah mereka, kuhancurkan lumat-lumat kepala kalian!" Joko Pramono juga berteriak yang dijawab dengan suara terkekeh-kekeh oleh dua orang itu. Mereka sama sekali tidak memperdulikan ancaman kedua orang muda itu dan berdiri di depan Pusporini dan Setyaningsih, dekat sekali. Mereka kini kelihatan makin bernafsu dan air liur mereka menetes-netes menjijikkan.

Keadaan mereka itu, ketika kedua orang wanita memandang wajah mereka, mengingatkan Pusporini dan Setyaningsih akan muka dua ekor anjing kelaparan melihat tulang. Napas mereka yang terengah engah keluar dari mulut menimbulkan bau yang lebih menjijikkan daripada bau keringat mereka, seperti bau sampah membusuk. Tidak akan mengherankanlah kiranya andaikata ada ulat-ulat berloncatan keluar dari mulut mereka, begitu busuk baunya. Tadinya empat orang tawanan itu menyangka bahwa dua orang raksasa ini agaknya gagu, akan tetapi ternyata tidak demikian karena kini raksasa yang berdiri dekat Pusporini berkata, suaranya serak kasar seperti kaleng diseret.
"Wah-wah, Kakang Suro. Aku menjadi semlengeren (silau) melihat dua orang wanita denok montok dan segar ranum ini sehingga sukar untuk memilih. Kalau boleh keduanya saja untukku, ha-ha-ha!"
"Heessss, Adi Digdo, biar yang putih kuning dan denok montok ini untukku, yang manis legit itu untukmu!" jawab algojo yang berdiri di depan Setyaningsih sambil meraba dagunya dengan kepalan tangannya yang besar dan berbulu.
"Buaya darat, monyet kau! Celeng goteng kau! Coba lepaskan ikatanku dan aku akan menginjak-injak hancur kepala kalian berdua babi hutan! Kalau kalian begitu pengecut dan tidak berani melepaskan, bunuh saja kami berdua!" teriak Pusporini yang tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Wah-wah, eman-eman (sayang) kalau dibunuh, cah ayu..... !" kata algojo yang bernama Digdo sambil memandang seolah-olah hendak menelan bulat-bulat tubuh Pusporini.
"Suro dan Digdo, jangan banyak cerewet! Lekas lakukan perintahku, tepat seperti yang kalian ketahui. Awas, kalau tidak tepat seperti perintahku, kusuruh penggal batang leher kalian!" Tiba-tiba terdengar suara Suminten dari balik lubang dinding. Dua orang algojo itu terkejut, menoleh dan menyembah.
"Renggut baju mereka sampai habis lepas!" kembali Suminten berteriak.
Dua buah lengan penuh bulu dengan jari-jari tangan sebesar pisang ambon itu bergerak ke depan, mencengkeram baju Pusporini dan Setyaningsih.
"Breeettt ....... breeeettt ....... !!"
Baju yang dipakai kedua orang wanita itu seperti kertas saja di tangan Suro dan Digdo dan dalam sekejap mata, sekali gentak dan renggut baju-baju itu robek semua dan terlepas dari tubuh bagian atas. Setyaningsih dan Pusporini memejamkan mata dan mereka menjadi telanjang dari pinggang ke atas. Dua orang algojo itu memandang sambil menelan ludah, kedua tangan mencabik-cabik baju yang tadi menutupi tubuh atas Pusporini dan Setyaningsih. Diam-diam Suminten kagum dan iri hati menyaksikan
keindahan tubuh atas kedua orang wanita itu. Harus ia akui bahwa biarpun tubuh atasnya sendiri pun indah dan terawat baik, namun tidaklah memiliki kesegaran seperti tubuh atas mereka.
Pada waktu itu, bertelanjang tubuh atas bagi wanita bukanlah merupakan hal yang terlalu berat. Akan tetapi keadaan mereka itu berbeda lagi, mereka tengah ditelanjangi oleh tangan kedua orang algojo itu dan hal ini merupakan penghinaan yang amat hebat. Joko Pramono dan Pangeran Panji Sigit meronta-ronta namun hanya berhasil membuat rantai-rantai besar yang membelenggu mereka berkerontangan.
"Suminten, perempuan terkutuk! Bunuh saja Setyaningsih!" teriak Panji Sigit, hampir ia terisak menyaksikan penghinaan yang dihadapi isterinya tercinta.
"Suminten, engkau dan algojo-algojomu ini sekali waktu akan terjatuh ke tanganku, dan awaslah akan pembalasanku atas perlakuan yang kaujatuhkan pada Pusporini saat ini!" kata pula Joko Pramono, suaranya dingin akan tetapi mengandung ancaman yang jelas melebihi suara halilintar menyambar.

Suminten tersenyum penuh kemenangan. Memang itulah yang ia kehendaki. Menyiksa batin kedua orang pria itu agar suka tunduk dan berlutut di depan kakinya.
"Hi-hik, kalian merasa kasihan dan ngeri? Mengapa tidak menolong mereka dan membebaskan mereka dari keadaan yang lebih hebat lagi? Mudah saja dan ringan syaratnya, asal suka membantuku. Kalau kalian masih berkeras kepala, dengarkan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang algojoku ini. Atas perintahku, mereka nanti akan merenggut lepas seluruh pakaian dua orang wanita itu. Setelah itu, mereka berdua akan membeIai dan meremas bagian-bagian tubuh Setyaningsih dan Pusporini, bagian-bagian yang kalian tak ingin dijamah laki-laki lain. Setelah puas, mereka itu akan kuperintahkan untuk memperkosa Setyaningsih dan Pusporini di depan mata kalian sekuat mereka sampai dua orang wanita pujaan hati kalian ini mati! Ya, akan kuperintahkan agar dua orang wanita ini diperkosa sampai mati di sini, tiada henti-henti sampai mereka berdua ini mati atau kedua orang algojo ini kurang kuat dan mereka yang diperkosa itu belum mati, akan kudatangkan dua orang algojo lain yang masih segar dan kuat untuk menggantikan mereka memperkosa Setyaningsih dan Pusporini, kemudian dua lagi, menjadi enam orang, sepuluh orang, dua puluh, sampai seratus orang, sampai Setyaningsih dan Pusporini kehabisan napas dan mati !”
"Perempuan iblis terkutuk ...” Joko Pramono memekik, wajahnya pucat kini.
"Tidak ....jangan ....kau bunuh saja kami, Suminten, bunuh saja kami, ....... !" Pangeran Panji Sigit merintih suaranya lemah, air matanya bertitik menuruni pipinya.
Melihat keadaan suaminya seperti itu, hati Setyaningsih seperti diiris-iris. Ia lupa akan keadaan dirinya sendiri, lenyap rasa ngerinya karena ia kasihan menyaksikan penderitaan batin yang ditanggung suaminya, maka ia lalu berkata lantang setengah menjerit,
"Kakangmas Pangeran, mengapa berduka? Tubuhku ini bukanlah milik paduka, bukan pula milikku, hanya tanah dan debu. Yang kita miliki adalah rasa cinta kasih yang takkan lenyap dan abadi, dan kita akan dapat berkumpul kembali setelah aku mati dan kemudian paduka menyusul. Biarlah mereka lakukan apa saja atas tubuh bukan milik kita ini, Kakangmas."
Semua orang tertegun bagaikan disiram air dingin mendengar ini. Suminten merasa seperti ditampar mukanya, bahkan dua orang algojo itu sejenak terbelalak.
"Duh Ayunda, engkau bijaksana sekali dan terima kasih ... " bisik Pusporini di sampingnya dan kini gadis inipun dapat memandang kekasihnya dengan tabah dan wajah berseri-seri, seolah-olah apa yang akan dialami dan yang berangkir dengan kematian merupakan saat-saat dia hendak melangsungkan pernikahan dengan Joko Pramono, pernikahan di akhirat!
"Isteriku Setyaningsih yang tercinta! Maafkanlah kakanda yang diserang kelemahan tadi. Kini hatiku lega dan marilah kita hadapi hukuman tubuh yang penuh dosa dengan segala penyerahan kepada Hyang Widi. Suminten, jangan mengira bahwa kejahatan dapat mengalahkan kebajikan, bahwa iblis dapat mengalahkan dewata, lakukanlah sesuka hatimu, wahai perempuan malang calon intip neraka!" kata Pangeran Panji Sigit.
"Ha-ha-ha, engkau mau berkata apa lagi sekarang, Suminten perempuan rendah budi?" Joko Pramono tertawa bergelak, hatinya juga lapang setelah mendengar ucapan Setyaningsih tadi.

Suminten memandang dengan sinar mata penuh kemarahan dan muka pucat. Ia masih belum mau menerima kalah. Ia tidak percaya bahwa dua orang pria muda itu akan kuat bertahan menyaksikan kekasih-kekasih mereka diperkosa dan disiksa.
"Suro dan Digdo, renggut kain-kain mereka, telanjangi mereka!" perintahnya. Sikap dan ucapan empat orang muda itu mengandung wibawa yang amat hebat, menggetarkan isi dada dua orang algojo yang kasar seperti binatang buas itu sehingga gairah dan nafsu berahi mereka sudah banyak mendingin. Akan tetapi perintah Suminten bagaikan cambuk yang memecut punggung mereka, membuat mereka tergesa-gesa mengulur tangan meraih ke depan hendak merenggut kain Setyaningsih dan Pusporini yang sudah memejamkan mata sambil bersamadhi mematikan raga dan rasa, sedangkan dua orang pria muda itu memandang dengan muka pucat akan tetapi dengan penuh keikhlasan dan penyerahan kepada Yang Maha Kuasa. Pada saat itu terdengar jelas tarikan napas panjang yang entah dari mana datangnya dan tiba-tiba berkelebat dua sinar kecil menyambar tengkuk dua orang algojo itu. Bagaikan disambar petir dua orang algojo itu yang sudah menyentuh kain Setyaningsih dan Pusporini, mengejang dan ... berdiri kaku seolah-olah mereka telah berubah menjadi dua buah arca batu! Kembali datang menyambar sinar-sinar kecil, kini menuju ke arah tambang-tambang kuat yang mengikat leher, lengan, dan kaki kedua orang wanita itu dan seketika semua tambang pengikat tubuh mereka putus seperti dikerat pisau tajam!
Keadaan ini membuat semua orang tertegun, bahkan Setyaningsih dan Pusporini sendiri kini sudah sadar dari samadhi, membelalakkan mata memandang semua tali pengikat yang sudah putus. Sedemikian besar keheranan dan kekagetan mereka sehingga mereka tidak mampu menggerakkan kaki dan tangan yang sudah bebas itu! Hanya pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono yang sadar dan kini mereka menoleh ke arah pintu dari mana tadi menyambar sinar-sinar itu, setengah dapat menduga bahwa ada seorang sakti yang telah menolong mereka. Akan tetapi ketika perlahan-lahan daun pintu yang berat itu terbuka, mereka inipun melongo keheranan karena yang muncul bukanlah seorang kakek sakti mandraguna, juga bukan Resi Mahesapati seperti yang tadinya disangka oleh Joko Pramono, melainkan seorang pemuda remaja berpakaian sederhana berwajah tampan berkulit putih yang melangkah perlahan memasuki tempat itu dengan senyum tenang penuh kesabaran di bibir!

Pemuda remaja ini bukan lain adalah Bagus Seta. Kedatangannya yang tepat sekali pada waktunya itu merupakan hasil daripada usaha Wiraman dan Widawati semalam. Malam tadi, Bagus Seta masih berada di luar kota saja, mendapatkan sebuah tempat yang amat nyaman dalam hutan sehingga ia berhenti dan bersamadhi di tempat itu menikmati keindahan tetumbuhan dan kebersihan hawa segar. Akan tetapi pada malam harinya, Bagus Seta melihat sinar merah tanda kebakaran membubung tinggi. Hal inilah yang membuat pemuda sakti mandraguna mempercepat kepergiannya ke kota raja dan begitu memasuki kota raja mendengar akan peristiwa ditawannya Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih dan Pusporini. Disebutnya nama kedua orang wanita ini membuat Bagus Seta langsung saja mendatangi tempat tahanan, mempergunakan kesaktiannya dan berhasil datang pada saat yang tepat sehingga kedua orang bibinya itu tertolong. Dengan demikian maka tidak sia-sialah kiranya pengorbanan yang dilakukan oleh Wiraman dan Widawati. Kalau saja mereka tidak melakukan usaha itu dan tidak terjadi kebakaran tentu kedatangan Bagus Seta akan terlambat. Tentu saja segala macam liku-liku peristiwa yang kebetulan itu telah ada yang mengatur-Nya dan hanya atas kehendak-Nya sajalah maka dapat terjadi semua kebetulan itu !
Dengan langkah perlahan dan sikap tenang sekali Bagus Seta langsung menghampiri Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono, kemudian menggunakan jari-jari tangannya yang halus itu meraih ke arah rantai baja. Terdengar bunyi berkerotokan dan.... dalam sekejap mata saja kedua tangan merekapun bebas, rantai itu patah-patah dan jatuh ke atas lantai. Bagaikan menerima komando, tubuh Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono meloncat ke depan dan menghantan dengan tangan yang mengandung aji kesaktian ke arah kepala Suro dan Digdo yang masih berdiri seperti arca. Terdengar suara keras "prakk!" dua kali dan tubuh tinggi besar kedua algojo itu roboh dengan kepala pecah dan tewas di saat itu juga. Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono dengan sikap beringas memutar tubuh hendak mencari Suminten, akan tetapi sudah sejak tadi wanita itu lenyap dari balik lubang dinding, bahkan dinding itu sendiri kini tidak berlubang lagi, tertutup oleh gerakan alat rahasia. Karena tak dapat melihat Suminten, Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono menjatuhkan diri berlutut di depan Bagus Seta, demikian pula Setyaningsih dan Pusporini yang kini telah sadar dari keadaan terpesona, merekapun cepat berlutut hendak menyembah, lupa akan keadaan tubuh atas mereka yang masih telanjang.
"Harap jangan banyak penghormatan, kini bukan waktunya bicara, yang terpenting harap lekas ikut bersama saya keluar dari kota raja." Bagus Seta menggunakan kedua tangan menyentuh pundak mereka, akan tetapi sentuhan jari tangan itu mengandung kekuatan mujijat yang tak terlawan sehingga keempat orang itu seperti ditarik tenaga raksasa dan bangkit berdiri. Ucapan itu pun sekaligus mengingatkan mereka bahwa bahaya belumlah terhindar selama mereka masih berada di tempat itu.

<<< Bagian 157                                                                                      Bagian 159 >>>

No comments:

Post a Comment