Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono lalu menanggalkan baju masing-masing dan memberikan baju mereka untuk dipakai oleh Setyaningsih dan Pusporini sekedar untuk menutupi ketelanjaan tubuh atas mereka. Kemudian mereka melangkah keluar mengikuti Bagus Seta yang tenang-tenang saja berjalan keluar dari ruangan tahanan itu. Mereka disambut oleh belasan orang pengawal yang bergerak kebingungan seperti rombongan semut diganggu. Melihat ini, empat orang muda itu siap untuk mengamuk, akan tetapi Bagus Seta berkata perlahan,
"Harap tenang dan tidak
perlu melayani mereka, lebih baik cepat keluar dari sini."
Dua pasang orang muda itu
terheran. Dihadang rombongan pengawal tidak boleh melawan, habis bagaimana akan
dapat meloloskan diri? Akan tetapi mereka berempat menjadi kagum dan
terheran-heran ketika melihat pemuda remaja itu mengembangkan kedua lengan
dengan perlahan, akan tetapi akibatnya, rombongan pengawal yang datang dari
kanan kiri itu terlempar dan roboh saling tindih seperti tertiup angin badai
yang amat kuat. Kini yakinlah hati kedua pasang orang muda itu akan kesaktian
penolong mereka dan mereka berjalan terus mengikuti Bagus Seta dengan cepat
keluar dari bangunan. Setiap bagian yang mengandung alat rahasia menjadi macet
tak dapat bergerak karena dari jauh Bagus Seta telah menggunakan hawa sakti
yang meluncur tak tampak dari telapak tangannya untuk memukul rusak alat-alat
rahasia yang tersembunyi di balik dinding atau di bawah lantai, dan setiap
usaha para pengawal yang puluhan orang banyaknya untuk menghalangi pelarian
mereka, roboh malang-melintang dan jatuh bangun oleh gerakan kedua lengan
pemuda sakti mandraguna ini. Tak seorang pun di antara para pengawal itu tewas,
akan tetapi karena tiupan angin kuat yang keluar dari gerakan kedua lengan
pemuda baju putih, membuat mereka menjadi gentar dan jerih.
"Harap pergunakan aji
berlari cepat," kata Bagus Seta setelah mereka berhasil keluar dari
dinding istana. Dua pasang orang muda itu cepat berlari mempergunakan ilmu
mereka, sedang Bagus Seta berlari di belakang mereka sebagai perisai. Apabila
ada pengawal berani menghadang, pukulan-pukulan dua pasang orang muda itu
sambil berlari cukup untuk merobohkan para penghalang. Ratusan anak panah yang
diluncurkan oleh para pengawal yang melakukan pengejaran dari belakang, runtuh
semua hanya oleh lambaian tangan Bagus Seta sehingga para pengawal menjadi
makin gentar.
Akan tetapi, ketika dua
pasang orang muda itu sudah hampir keluar dari dinding kota raja melalui pintu
gerbang yang terjaga kuat namun para penjaganya kembali dirobohkan secara mudah
oleh Bagus Seta, tiba-tiba mereka tersusul oleh serombongan pengawal yang
jumlahnya lima puluh orang menunggang kuda dan dipimpin oleh Cekel Wisangkoro,
Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro!
Mereka ini ternyata telah
mengejar melalui pintu gerbang lain dan memotong jalan sehingga mereka dapat
menyusul, apalagi karena mereka menunggang kuda. Begitu melihat empat orang
tawanan yang lolos bersama penolong mereka yang muda belia dan aneh itu, tiga orang
tokoh sakti ini meloncat turun dari kuda diikuti lima puluh orang pengawal anak
buah mereka.
"Babo-babo! Siapakah
gerangan bocah lancang yang berani mati membebaskan para tawanan Kerajaan
Jenggala! Mengakulah, anak muda, siapa andika sebelum nenggalaku memenggal
batang lehermu!" bentak Ki Kolohangkoro menyembunyikan rasa ragu dan
gentarnya mendengar berita betapa pemuda berpakaian putih itu memiliki
kesaktian yang tidak lumrah manusia biasa!
Akan tetapi, sebelum Bagus
Seta menjawab, Joko Pramono yang sudah menjadi marah sekali melihat munculnya
musuh-musuh besar itu, membentak,
"Ki Kolohangkoro,
sekaranglah tiba saatnya kita boleh mengadu tebalnya kulit kerasnya
tulang!"
Joko Pramono sudah menerjang
maju dengan kepalan tangannya, menyerang Ki Kolohangkoro dan saking marahnya,
begitu menyerang Joko Pramono sudah menggunakan aji kesaktiannya yang amat
ampuh, yaitu Cantukasekti yang merupakan pukulan mendorong dari bawah dengan
tubuh agak direndahkan hampir berjongkok. Ki Kolohangkoro menggereng keras dan
menggerakkan nenggalanya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya, akan
tetapi seperti ketika untuk pertama kalinya ia bentrok dengan pemuda sakti
murid Resi Mahesapati ini, ia kalah tenaga dan tubuhnya terpental ke belakang.
Kekebalannya melindunginya sehingga
hawa pukulan Cantukasekti itu tidak mampu merobohkannya. Bentrokan antara Joko
Pramono dan Ki Kolohangkoro ini merupakan komando bagi para pengawal sehingga
mereka menyerbu ke depan sambil berteriak-teriak. Ni Dewi Nilamanik dan Cekel
Wisangkoro sudah pula menerjang maju, disambut oleh Pusporini yang menghadapi
Ni Dewi Nilamanik, sedangkan Setyaningsih bersama Pangeran Panji Sigit
menyambut terjangan Cekel Wisangkoro. Serangan Ni Dewi Nilamanik yang
menggunakan kebutan merah amat dahsyatnya. Ujung kebutan yang kadang-kadang
dapat lemas seperti ujung cambuk kadang-kadang dapat mengeras dan runcing
seperti ujung pedang itu meluncur cepat ke arah leher Pusporini. Namun secepat
kilat Pusporini menggerakkan tangan kiri dari samping diputar dengan jari-jari
tangan mencengkeram ujung kebutan sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari
terbuka mengirim tamparan dengan Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila! Ni
Dewi Nilamanik mengeluarkan
suara menjerit, menarik
kembali kebutannya dan menangkis tamparan dengan kebutan yang diputar ke kiri
"Prattt!" Ujung
kebutan bertemu dengan jari tangan yang mengandung Pethit Nogo itu menjadi
bobol sedikit dan tubuh Ni Dewi Nilamanik agak terhuyung ke belakang. Akan
tetapi Pusporini juga merasa betapa jari tangannya pedas dan panas, tanda bahwa
lawannya ini bukanlah lawan yang ringan.
Yang hebat adalah Cekel
Wisangkoro, murid terpandai dari Wasi Bagaspati. Tongkatnya yang hitam
berbentuk ular itu berubah menjadi gulungan sinar yang mengurung Pangeran Panji
Sigit dan Setyaningsih. Suami isteri ini bertangan kosong, maka mereka cepat
mengelak, kemudian dari kanan kiri membalas dengan pukulan sakti yang mereka
perdalam di bawah pimpinan mendiang Ki Datujiwa. Namun ternyata bahwa tingkat
kesaktian suami isteri ini masih kalah oleh tingkat Cekel Wisangkoro yang sudah
tinggi sehingga sekali memutar tongkatnya secara tepat, tidak saja cekel tua
berhasil menggagalkan serangan mereka, bahkan sebaliknya membalas dengan
pukulan dan tusukan tongkatnya bertubi-tubi membuat suami isteri itu sibuk
mengelak. Tiba-tiba gerakan tongkat ular itu terhenti di tengah udara oleh
kekuatan yang iak tampak. Ternyata Bagus Seta sudah turun tangan, menggerakkan
tangannya mendorong dengan pukulan jarak jauh, menahan gerakan tongkat sehingga
suami isteri itu dapat meloncat mundur. Ketika Setyaningsih dan suaminya
memandang, ternyata para pengawal yang tadi menyerbu dan berada di bagian
paling depan, telah roboh terjengkang seperti yang dialami para pengawal yang
menghadang di sepanjang jalan tadi.
"Harap andika berempat
cepat melarikan diri dan menanti saja di dalam hutan menuju Panjalu!"
Terdengar pemuda remaja itu berkata halus. Mendengar ini, Pusporini dan Joko
Pramono tidak suka membantah, mereka meloncat mundur karena maklum bahwa kalau
dilanjutkan melawan, biarpun mereka tidak akan kalah menghadapi lawan itu
seorang lawan seorang, namun kalau dikeroyok oleh puluhan orang pengawal akan
memakan waktu lama. Apalagi kalau sampai Patih Warutama datang membawa barisan,
akan berbahayalah keadaan mereka. Mereka berempat maklum akan kesaktian pemuda
remaja itu, maka ucapannya merupakan perintah bagi mereka dan cepat mereka
meloncat dan melarikan diri ke selatan.
"Kejar! Tangkap tawanan
yang kabur. Bunuh!" teriak Ki Kolohangkoro dan sebagian besar para
pengawal sudah berlari dan hendak menunggang kuda melakukan pengejaran. Mereka
semua maklum bahwa kalau mereka gagal menangkap para tawanan, mereka akan
mendapat marah besar dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama, terutama
sekali mereka ngeri kalau mengingat akan kemarahan Suminten. Sebaliknya kalau
mereka berhasil menawan kembali empat orang pelarian itu, tentu mereka akan
mendapat hadiah yang banyak. Karena inilah maka mereka seakan-akan berlumba
hendak melakukan pengejaran.
“Berhenti!" terdengar
suara halus namun amat berpengaruh sehingga semua orang seketika menghentikan
gerakan mereka. Beberapa orang yang sudah meloncat ke atas kuda dan sudah
melarikannya, tiba-tiba terguling dari atas punggung kuda ketika Bagus Seta
mendorongkan tangan kirinya ke arah mereka.
"Bocah berilmu setan!
Siapakah engkau sesungguhnya berani menentang para pengawal Jenggala?"
Cekel Wisangkoro kini bertanya dengan hati tertarik karena selama hidupnya
dalam perantauan, dia belum pernah mendengar tokoh muda seperti ini.
"Cekel Wisangkoro, ilmu
apa pun juga di dunia ini kalau dipergunakan untuk melakukan kejahatan menjadi
ilmu hitam atau ilmu setan. Akan tetapi aku akan selalu menggunakan sedikit
pengertian yang kumiliki untuk mengabdi kebenaran dan keadilan."
“Babo-babo! Engkau telah
mengenal aku?"
Kini tidak hanya Cekel
Wisangkoro yang menghadapi pemuda ini, juga. Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi
Nilamanik mendekat dan memandang penuh perhatian, penuh takjub dan
menduga-duga.
"Aku mengenal siapa
andika, Cekel Wisangkoro. Andika murid utama dari Sang Wasi Bagaspati, seorang
pendatang dari Hindu yang memperjuangkan perkembangan Agama Syiwa, bukan? Aku
mengenal pula Ni Dewi Nilamanik yang menjadi pemuka dari penyebaran Agama
Bathari Durgo di Tanah Jawa, yang menganggap dirinya sebagai penitisan Sang Bathari
Durgo sendiri. Aku mengenal pula Ki Kolohangkoro pemuka dari penyebaran Agama
Bathara Kolo di Tanah Jawa, yang mengaku dirinya sebagai penitisan Sang Bathara
Kolo sendiri. Wahai andika bertiga, mengapa mengabaikan perbedaan antara baik
dan buruk, antara salah dan benar dan menjadi hamba nafsu pribadi yang hanya
akan menimbulkan kebakaran dan kehangusan diri andika sekalian sendiri? Manusia
bebas memeluk agama apa pun juga, memilih sesembahan mereka, bahkan bebas pula
menyebarkannya. Akan tetapi, kalau penyebaran agama itu dilakukan dengan tipu
muslihat, dengan kekerasan dan bahkan tidak segan-segan dengan kekacauan dan
pembunuhan, hal ini sudah menyeleweng daripada kebenaran, merupakan pemerkosaan
yang keji. Mengapa andika tidak mau sadar?"
Tiga orang tokoh sakti itu
terbelalak keheranan. Orang-orang seperti mereka itu mana mungkin dapat mudah
disadarkan? Betapa manusia dapat mudah sadar daripada penyelewengan kalau
mereka menganggap bahwa penyelewengan itu bukanlah penyelewengan melainkan kebenaran!
Berbahagialah manusia yang dapat mengenal penyelewengan mereka sendiri!
"Wahai bocah muda yang
amat luar biasa. Siapakah sebenarnya andika?"
"Namaku Bagus Seta, dan
sekali lagi kuperingatkan andika sekalian bahwa usaha Negeri Sriwijaya dan
Negeri Cola untuk menanamkan kuku-kuku beracun mereka di Tanah Jawa akan
mengalami kegagalan. Setiap kemenangan dari kejahatan pasti akan tersusul,
cepat ataupun lambat, oleh kebenaran yang akan menggulung dan menghancurkannya.
Belum terlambat kalau andika insyaf dan mengundurkan diri, menyampaikan kepada
Sang Biku Janapati untuk tidak melanjutkan usaha mereka mengembangkan agama
dengan tipu muslihat dan kekarasan. Terutama sekali, insyafkan mereka bahwa
angkara murka yang datang dari negara-negara asing untuk menjajah Tanah Jawa
takkan mendatangkan kebahagiaan melainkan hanya mendatangkan kehancuran dan
kesengsaraan, terutama bagi pihak penjajah."
"Babo-babo, bocah
sombong! Lagakmu seolah-olah engkaulah penitisan Sang Hyang Jagad Nata sendiri!
Ataukah engkau bicara mewakili para penyembah Sang Hyang Wishnu dan sengaja
hendak menentang kami?" bentak Cekel Wisangkoro marah.
Bagus Seta menggelengkan
kepalanya dan sikapnya masih tenang sekali, namun sepasang matanya mengeluarkan
sinar yang membuat silau ketiga orang sakti itu.
"Agaknya andika bertiga
lupa akan inti sari dan sumber daripada semua agama yang kalian anut. Apakah
perbedaan antara Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wishnu, dan Sang Hyang Syiwa?
Ketiganya adalah sifat daripada Sang Hyang Widhi Wasesa, satu-satunya kekuasaan
tertinggi yang menguasai seluruh jagad-raya seisinya. Ketiga sifat Tritunggal,
disebut tiga namun satu juga yang membuat jagad raya ini berputar terus.
Kesatuan dari tiga sifat inilah yang merupakan lingkaran tak pernah putus.
Hyang Brahma Maha Pencipta, yang mencipta seluruh alam mayapada seisinya. Hyang
Wishnu Maha Pelindung dan memelihara, yang memelihara segala ciptaan tadi, yang
bergerak maupun tidak. Hyang Syiwa Maha Pembinasa, yang menghancurkan dan
membinasakan segala ciptaan itu. Ketiganya adalah Trimurti, selalu bersatu, tak
pernah dapat terpisahkan karena ketiga sifat ini dengan kerja sama yang wajar
dan tak terelakkan membuat alam mayapada seperti yang terjadi dahulu, yang kita
lihat sekarang, dan yang akan terjadi kelak. Sebuah raja di antara Tiga Sifat
Yang Maha Kuasa ini dipisahkan, segalanya akan terhenti. Sang Pencipta mencipta
segala benda dan mahluk sesual dengan kehendak Yang Maha Kuasa, Sang Pemelihara
memelihara ciptaan-ciptaan itu agar dapat berlangsung, dan Sang Pembinasa menghancurkan
satu demi satu untuk memberi kelangsungan pula kepada ciptaan-ciptaan
baru!"
No comments:
Post a Comment