Perawan Lembah Wilis; Bagian 159


Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono lalu menanggalkan baju masing-masing dan memberikan baju mereka untuk dipakai oleh Setyaningsih dan Pusporini sekedar untuk menutupi ketelanjaan tubuh atas mereka. Kemudian mereka melangkah keluar mengikuti Bagus Seta yang tenang-tenang saja berjalan keluar dari ruangan tahanan itu. Mereka disambut oleh belasan orang pengawal yang bergerak kebingungan seperti rombongan semut diganggu. Melihat ini, empat orang muda itu siap untuk mengamuk, akan tetapi Bagus Seta berkata perlahan,
"Harap tenang dan tidak perlu melayani mereka, lebih baik cepat keluar dari sini."
Dua pasang orang muda itu terheran. Dihadang rombongan pengawal tidak boleh melawan, habis bagaimana akan dapat meloloskan diri? Akan tetapi mereka berempat menjadi kagum dan terheran-heran ketika melihat pemuda remaja itu mengembangkan kedua lengan dengan perlahan, akan tetapi akibatnya, rombongan pengawal yang datang dari kanan kiri itu terlempar dan roboh saling tindih seperti tertiup angin badai yang amat kuat. Kini yakinlah hati kedua pasang orang muda itu akan kesaktian penolong mereka dan mereka berjalan terus mengikuti Bagus Seta dengan cepat keluar dari bangunan. Setiap bagian yang mengandung alat rahasia menjadi macet tak dapat bergerak karena dari jauh Bagus Seta telah menggunakan hawa sakti yang meluncur tak tampak dari telapak tangannya untuk memukul rusak alat-alat rahasia yang tersembunyi di balik dinding atau di bawah lantai, dan setiap usaha para pengawal yang puluhan orang banyaknya untuk menghalangi pelarian mereka, roboh malang-melintang dan jatuh bangun oleh gerakan kedua lengan pemuda sakti mandraguna ini. Tak seorang pun di antara para pengawal itu tewas, akan tetapi karena tiupan angin kuat yang keluar dari gerakan kedua lengan pemuda baju putih, membuat mereka menjadi gentar dan jerih.
"Harap pergunakan aji berlari cepat," kata Bagus Seta setelah mereka berhasil keluar dari dinding istana. Dua pasang orang muda itu cepat berlari mempergunakan ilmu mereka, sedang Bagus Seta berlari di belakang mereka sebagai perisai. Apabila ada pengawal berani menghadang, pukulan-pukulan dua pasang orang muda itu sambil berlari cukup untuk merobohkan para penghalang. Ratusan anak panah yang diluncurkan oleh para pengawal yang melakukan pengejaran dari belakang, runtuh semua hanya oleh lambaian tangan Bagus Seta sehingga para pengawal menjadi makin gentar.

Akan tetapi, ketika dua pasang orang muda itu sudah hampir keluar dari dinding kota raja melalui pintu gerbang yang terjaga kuat namun para penjaganya kembali dirobohkan secara mudah oleh Bagus Seta, tiba-tiba mereka tersusul oleh serombongan pengawal yang jumlahnya lima puluh orang menunggang kuda dan dipimpin oleh Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro!
Mereka ini ternyata telah mengejar melalui pintu gerbang lain dan memotong jalan sehingga mereka dapat menyusul, apalagi karena mereka menunggang kuda. Begitu melihat empat orang tawanan yang lolos bersama penolong mereka yang muda belia dan aneh itu, tiga orang tokoh sakti ini meloncat turun dari kuda diikuti lima puluh orang pengawal anak buah mereka.
"Babo-babo! Siapakah gerangan bocah lancang yang berani mati membebaskan para tawanan Kerajaan Jenggala! Mengakulah, anak muda, siapa andika sebelum nenggalaku memenggal batang lehermu!" bentak Ki Kolohangkoro menyembunyikan rasa ragu dan gentarnya mendengar berita betapa pemuda berpakaian putih itu memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia biasa!
Akan tetapi, sebelum Bagus Seta menjawab, Joko Pramono yang sudah menjadi marah sekali melihat munculnya musuh-musuh besar itu, membentak,
"Ki Kolohangkoro, sekaranglah tiba saatnya kita boleh mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang!"
Joko Pramono sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya, menyerang Ki Kolohangkoro dan saking marahnya, begitu menyerang Joko Pramono sudah menggunakan aji kesaktiannya yang amat ampuh, yaitu Cantukasekti yang merupakan pukulan mendorong dari bawah dengan tubuh agak direndahkan hampir berjongkok. Ki Kolohangkoro menggereng keras dan menggerakkan nenggalanya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya, akan tetapi seperti ketika untuk pertama kalinya ia bentrok dengan pemuda sakti murid Resi Mahesapati ini, ia kalah tenaga dan tubuhnya terpental ke belakang.
Kekebalannya melindunginya sehingga hawa pukulan Cantukasekti itu tidak mampu merobohkannya. Bentrokan antara Joko Pramono dan Ki Kolohangkoro ini merupakan komando bagi para pengawal sehingga mereka menyerbu ke depan sambil berteriak-teriak. Ni Dewi Nilamanik dan Cekel Wisangkoro sudah pula menerjang maju, disambut oleh Pusporini yang menghadapi Ni Dewi Nilamanik, sedangkan Setyaningsih bersama Pangeran Panji Sigit menyambut terjangan Cekel Wisangkoro. Serangan Ni Dewi Nilamanik yang menggunakan kebutan merah amat dahsyatnya. Ujung kebutan yang kadang-kadang dapat lemas seperti ujung cambuk kadang-kadang dapat mengeras dan runcing seperti ujung pedang itu meluncur cepat ke arah leher Pusporini. Namun secepat kilat Pusporini menggerakkan tangan kiri dari samping diputar dengan jari-jari tangan mencengkeram ujung kebutan sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka mengirim tamparan dengan Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila! Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan
suara menjerit, menarik kembali kebutannya dan menangkis tamparan dengan kebutan yang diputar ke kiri
"Prattt!" Ujung kebutan bertemu dengan jari tangan yang mengandung Pethit Nogo itu menjadi bobol sedikit dan tubuh Ni Dewi Nilamanik agak terhuyung ke belakang. Akan tetapi Pusporini juga merasa betapa jari tangannya pedas dan panas, tanda bahwa lawannya ini bukanlah lawan yang ringan.

Yang hebat adalah Cekel Wisangkoro, murid terpandai dari Wasi Bagaspati. Tongkatnya yang hitam berbentuk ular itu berubah menjadi gulungan sinar yang mengurung Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih. Suami isteri ini bertangan kosong, maka mereka cepat mengelak, kemudian dari kanan kiri membalas dengan pukulan sakti yang mereka perdalam di bawah pimpinan mendiang Ki Datujiwa. Namun ternyata bahwa tingkat kesaktian suami isteri ini masih kalah oleh tingkat Cekel Wisangkoro yang sudah tinggi sehingga sekali memutar tongkatnya secara tepat, tidak saja cekel tua berhasil menggagalkan serangan mereka, bahkan sebaliknya membalas dengan pukulan dan tusukan tongkatnya bertubi-tubi membuat suami isteri itu sibuk mengelak. Tiba-tiba gerakan tongkat ular itu terhenti di tengah udara oleh kekuatan yang iak tampak. Ternyata Bagus Seta sudah turun tangan, menggerakkan tangannya mendorong dengan pukulan jarak jauh, menahan gerakan tongkat sehingga suami isteri itu dapat meloncat mundur. Ketika Setyaningsih dan suaminya memandang, ternyata para pengawal yang tadi menyerbu dan berada di bagian paling depan, telah roboh terjengkang seperti yang dialami para pengawal yang menghadang di sepanjang jalan tadi.
"Harap andika berempat cepat melarikan diri dan menanti saja di dalam hutan menuju Panjalu!" Terdengar pemuda remaja itu berkata halus. Mendengar ini, Pusporini dan Joko Pramono tidak suka membantah, mereka meloncat mundur karena maklum bahwa kalau dilanjutkan melawan, biarpun mereka tidak akan kalah menghadapi lawan itu seorang lawan seorang, namun kalau dikeroyok oleh puluhan orang pengawal akan memakan waktu lama. Apalagi kalau sampai Patih Warutama datang membawa barisan, akan berbahayalah keadaan mereka. Mereka berempat maklum akan kesaktian pemuda remaja itu, maka ucapannya merupakan perintah bagi mereka dan cepat mereka meloncat dan melarikan diri ke selatan.
"Kejar! Tangkap tawanan yang kabur. Bunuh!" teriak Ki Kolohangkoro dan sebagian besar para pengawal sudah berlari dan hendak menunggang kuda melakukan pengejaran. Mereka semua maklum bahwa kalau mereka gagal menangkap para tawanan, mereka akan mendapat marah besar dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama, terutama sekali mereka ngeri kalau mengingat akan kemarahan Suminten. Sebaliknya kalau mereka berhasil menawan kembali empat orang pelarian itu, tentu mereka akan mendapat hadiah yang banyak. Karena inilah maka mereka seakan-akan berlumba hendak melakukan pengejaran.
“Berhenti!" terdengar suara halus namun amat berpengaruh sehingga semua orang seketika menghentikan gerakan mereka. Beberapa orang yang sudah meloncat ke atas kuda dan sudah melarikannya, tiba-tiba terguling dari atas punggung kuda ketika Bagus Seta mendorongkan tangan kirinya ke arah mereka.
"Bocah berilmu setan! Siapakah engkau sesungguhnya berani menentang para pengawal Jenggala?" Cekel Wisangkoro kini bertanya dengan hati tertarik karena selama hidupnya dalam perantauan, dia belum pernah mendengar tokoh muda seperti ini.
"Cekel Wisangkoro, ilmu apa pun juga di dunia ini kalau dipergunakan untuk melakukan kejahatan menjadi ilmu hitam atau ilmu setan. Akan tetapi aku akan selalu menggunakan sedikit pengertian yang kumiliki untuk mengabdi kebenaran dan keadilan."
“Babo-babo! Engkau telah mengenal aku?"
Kini tidak hanya Cekel Wisangkoro yang menghadapi pemuda ini, juga. Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik mendekat dan memandang penuh perhatian, penuh takjub dan menduga-duga.
"Aku mengenal siapa andika, Cekel Wisangkoro. Andika murid utama dari Sang Wasi Bagaspati, seorang pendatang dari Hindu yang memperjuangkan perkembangan Agama Syiwa, bukan? Aku mengenal pula Ni Dewi Nilamanik yang menjadi pemuka dari penyebaran Agama Bathari Durgo di Tanah Jawa, yang menganggap dirinya sebagai penitisan Sang Bathari Durgo sendiri. Aku mengenal pula Ki Kolohangkoro pemuka dari penyebaran Agama Bathara Kolo di Tanah Jawa, yang mengaku dirinya sebagai penitisan Sang Bathara Kolo sendiri. Wahai andika bertiga, mengapa mengabaikan perbedaan antara baik dan buruk, antara salah dan benar dan menjadi hamba nafsu pribadi yang hanya akan menimbulkan kebakaran dan kehangusan diri andika sekalian sendiri? Manusia bebas memeluk agama apa pun juga, memilih sesembahan mereka, bahkan bebas pula menyebarkannya. Akan tetapi, kalau penyebaran agama itu dilakukan dengan tipu muslihat, dengan kekerasan dan bahkan tidak segan-segan dengan kekacauan dan pembunuhan, hal ini sudah menyeleweng daripada kebenaran, merupakan pemerkosaan yang keji. Mengapa andika tidak mau sadar?"

Tiga orang tokoh sakti itu terbelalak keheranan. Orang-orang seperti mereka itu mana mungkin dapat mudah disadarkan? Betapa manusia dapat mudah sadar daripada penyelewengan kalau mereka menganggap bahwa penyelewengan itu bukanlah penyelewengan melainkan kebenaran! Berbahagialah manusia yang dapat mengenal penyelewengan mereka sendiri!
"Wahai bocah muda yang amat luar biasa. Siapakah sebenarnya andika?"
"Namaku Bagus Seta, dan sekali lagi kuperingatkan andika sekalian bahwa usaha Negeri Sriwijaya dan Negeri Cola untuk menanamkan kuku-kuku beracun mereka di Tanah Jawa akan mengalami kegagalan. Setiap kemenangan dari kejahatan pasti akan tersusul, cepat ataupun lambat, oleh kebenaran yang akan menggulung dan menghancurkannya. Belum terlambat kalau andika insyaf dan mengundurkan diri, menyampaikan kepada Sang Biku Janapati untuk tidak melanjutkan usaha mereka mengembangkan agama dengan tipu muslihat dan kekarasan. Terutama sekali, insyafkan mereka bahwa angkara murka yang datang dari negara-negara asing untuk menjajah Tanah Jawa takkan mendatangkan kebahagiaan melainkan hanya mendatangkan kehancuran dan kesengsaraan, terutama bagi pihak penjajah."
"Babo-babo, bocah sombong! Lagakmu seolah-olah engkaulah penitisan Sang Hyang Jagad Nata sendiri! Ataukah engkau bicara mewakili para penyembah Sang Hyang Wishnu dan sengaja hendak menentang kami?" bentak Cekel Wisangkoro marah.
Bagus Seta menggelengkan kepalanya dan sikapnya masih tenang sekali, namun sepasang matanya mengeluarkan sinar yang membuat silau ketiga orang sakti itu.
"Agaknya andika bertiga lupa akan inti sari dan sumber daripada semua agama yang kalian anut. Apakah perbedaan antara Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wishnu, dan Sang Hyang Syiwa? Ketiganya adalah sifat daripada Sang Hyang Widhi Wasesa, satu-satunya kekuasaan tertinggi yang menguasai seluruh jagad-raya seisinya. Ketiga sifat Tritunggal, disebut tiga namun satu juga yang membuat jagad raya ini berputar terus. Kesatuan dari tiga sifat inilah yang merupakan lingkaran tak pernah putus. Hyang Brahma Maha Pencipta, yang mencipta seluruh alam mayapada seisinya. Hyang Wishnu Maha Pelindung dan memelihara, yang memelihara segala ciptaan tadi, yang bergerak maupun tidak. Hyang Syiwa Maha Pembinasa, yang menghancurkan dan membinasakan segala ciptaan itu. Ketiganya adalah Trimurti, selalu bersatu, tak pernah dapat terpisahkan karena ketiga sifat ini dengan kerja sama yang wajar dan tak terelakkan membuat alam mayapada seperti yang terjadi dahulu, yang kita lihat sekarang, dan yang akan terjadi kelak. Sebuah raja di antara Tiga Sifat Yang Maha Kuasa ini dipisahkan, segalanya akan terhenti. Sang Pencipta mencipta segala benda dan mahluk sesual dengan kehendak Yang Maha Kuasa, Sang Pemelihara memelihara ciptaan-ciptaan itu agar dapat berlangsung, dan Sang Pembinasa menghancurkan satu demi satu untuk memberi kelangsungan pula kepada ciptaan-ciptaan baru!"

<<< Bagian 158                                                                                     Bagian 160 >>>

No comments:

Post a Comment