Tiga orang sakti itu mendengarkan dengan melongo. Hampir mereka tidak percaya bahwa yang bicara di depan mereka itu adalah seorang pemuda berusia dua puluhan tahun.
"Andika telah kesiku
(terkutuk) kalau memisah-misahkan tiga sifat itu dan hanya menjadi penyembah
Sang Bathara Syiwa saja, atau Sang Bathari Durgo yang hanya menjadi pelengkap
dan pembantu, maupun juga Sang Bathara Kolo yang membantu tugas Bathara Syiwa.
Di dunia ini, tidak mungkin hanya sifat pembinasa saja yang berkuasa, juga akan
pincang kalau hanya sifat pencipta saja, atau sifat pemelihara saja. Harus ada
ketiganya, maka disebut Trimurti, Tri-tunggal, tiga sifat dari SATU KEKUASAAN
MAHA SEMPURNA yang saling bantu, saling mengisi. Demikianlah, wahai andika bertiga
orang-orang yang telah mempergunakan sebagian besar umur andika untuk
memipelajari ilmu, janganlah sia-siakan hidup kalian dengan penyelewengan
daripada wajib hidup."
Tiga orang sakti itu melongo
dan tertegun bukan untuk taat, sama sekali tidak, hanya terheran saja. Kini,
setelah pemuda itu selesai bicara, bangkitlah kemarahan di hati mereka,
terutama sekali Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Mereka berdua adalah
kepala agama, seorang yang ahli dalam agama yang dianutnya, kini mereka
dikuliahi seorang bocah tentang agama! Hal ini mereka terima sebagai penghinaan
dan kesombongan si pemuda.
"Bocah sombong, katakan
siapa gurumu? Gurumu tentulah musuh besar dari kami, atau musuh besar Sang Wasi
Bagaspati!" bentak Ni Dewi Nilamanik.
Bagus Seta menggelengkan
kepalanya sambil tersenyum. Heran ketiga orang itu melihat sikap yang demikian
tenangnya, sama sekali tidak membayangkan kemarahan niaupun permusuhan, lunak
dan lembut penuh kesabaran clan pengertian.
"Guru manakah yang
lebih besar daripada Yang Maha Kuasa? Kalau Yang Maha Kuasa dapat diumpamakan
apinya matahari, di dalam diri setiap orang manusia terdapat setitik bunga api.
Kalau dapat diumpamakan air samudera, di dalam diri setiap orang manusia
terdapat setetes airnya. Segala pengetahuan telah berada di dalam diri manusia
yang tak pernah terpisah dari Gurunya, yang tak pernah ditinggdikan. Yang Maha
Kuasa tidak pernah sedetikpun meninggalkan setiap orang manusia, hanya si
manusialah yang terlalu sering meninggalkanNya. Guru yang berujud manusia hanyalah
sebagai petunjuk dan penggali sehingga si manusia menemukan kembali pengertian
yang terpendam di dalam dirinya, tertutup oleh sampah-sampah nafsu. Guruku yang
berujud manusia sama dengan aku, tidak pernah mempunyai musuh dan tidak akan
mempunyai musuh karena sudah terbebas daripada nafsu membenci. Benci
menimbulkan dendam, dan dendam menimbulkan permusuhan. Tanpa benci berarti
tidak akan punya musuh, namun dia sendiri tidak pernah mempunyai musuh. Kalau
andika bertiga menganggap aku ini musuh, itu adalah kerugian bagi andika
sendiri, akan tetapi aku tidak menganggap andika bertiga ini musuh karena aku
tidak membenci siapa-siapa."
“Babo-babo! Lidahmu lemas
seperti lidah ular, engkau pandai bicara, orang muda. Hendak kulihat apakah
kesaktianmu juga sehebat bicaramu!" Sambil membentak keras, tongkat ular
di tangan Cekel Wisangkoro sudah meluncur ke depan, menusuk ke dada pemuda itu.
Serangan ini diikuti oleh kebutan di tangan Ni Dewi Nilamanik yang mengeluarkan
suara meledak keras, dan dibarengi pula oleh tusukan nenggala di tangan Ki
Kolohangkoro. Hebat bukan main serangan berbareng yang dilakukan tiga orang
sakti itu, datangnya dari tiga jurusan dan memiliki keampuhan masing-masing.
Akan tetapi Bagus Seta
bersikap tenang saja, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya lenyap seolah-olah
ditelah bumi sehingga tongkat di tangan Cekel Wisangkoro hampir bertemu dengan
nenggala Ki Kolohangkoro sendiri. Ketiganya terkejut sekali dan dengan hati
ngeri menduga bahwa pemuda aneh itu memiliki kesaktian menghilang dari depan
mata mereka! Benarkah Bagus Seta pandai menghilang? Sesungguhnya tidaklah
demikian. Pemuda sakti itu tidak menghilang, melainkan menggunakan aji
kesaktian meringankan tubuh yang amat tinggi tingkatnya sehingga tubuhnya dapat
berkelebat mengelak secara demikian cepatnya dan karena gerakannya jauh
melampaui ketiga orang lawannya, sehingga mereka bertiga itu tidak dapat
mengikuti gerakannya dengan pandang mata. Tubuh Bagus Seta berkelebat cepat
menghindarkan diri dari serangan lawan lalu melesat keluar kepungan dan pergi
melarikan diri dari tempat itu menyusul dua pasang orang muda yang telah lebih
dulu melarikan diri.
Tlga orang sakti itu
akhirnya sadar akan hal ini dan benar saja, ketika memandang, bayangan pemuda
itu telah pergi agak jauh dart tempat itu.
"Bocah keparat, hendak
lari ke mana kau?" bentak Ki Kolohangkoro yang cepat melontarkan
nenggalanya ke arah Bagus Seta. Juga Cekel Wisangkoro mengayun tongkat ularnya
dan melontarkari tongkat itu menyusul nenggala ke arah tubuh Bagus Seta. Lontaran
nenggala dan tongkat ini tak boleh dipandang rendah karena tenaga lontarannya
sedemikian kuatnya membuat kedua macam senjata itu meluncur lebih cepat
daripada luncuran anak panah terlepas dari busurnya. Bagus Seta mendengar angin
luncuran dua buah senjata pusaka ampuh itu, dan ia hanya menoleh tanpa
menghentikan langkahnya, mengangkat tangan kanannya menyampok kedua senjata itu
berturut-turut sehingga nenggala dan tongkat itu runtuh ke atas tanah. Kemudian
pemuda ini berlari terus dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata ketiga
orang lawannya. Ki Kolohangkoro dan Cekel Wisangkoro dengan hati penasaran
berlari dan mengambil senjata mereka. Dapat dibayangkan betapa kaget hati
mereka melihat bahwa ujung nenggala dan tongkat ular itu telah hancur! Terpaksa
mereka lalu memimpin para pengawal untuk terus melakukan pengejaran, namun
pekerjaan ini dilakukan dengan setengah hati karena mereka bertiga kehilangan
kepercayaan kepada kekuatan sendiri setelah bertemu dengan Bagus Seta, pemuda
yang memiliki kesaktian yang tidak lumrah itu. Malah Cekel Wisangkoro tidak
ikut melakukan pengejaran yang ia tahu akan sia-sia itu, melainkan ia
tergesa-gesa pergi menghadap gurunya, Sang Wasi Bagaspati untuk memberi laporan
tentang munculnya Bagus Seta yang memiliki kesaktian luar biasa itu.
Pangeran Panji Sigit, Joko
Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini cepat maju menyambut kedatangan Bagus Seta
yang melangkah perlahan akan tetapi tidak lama telah dapat mengejar dan
menyusul dua pasang orang muda itu, dan serta merta dua pasang orang muda itu
menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya.
"Tanpa bantuan paduka
yang sakti mandraguna, kami berempat tentu tewas. Kami amat bersyukur dan
berterima kasih .." Namun ucapan Setyaningsih ini diputus oleh ucapan
halus Bagus Seta,
"Harap andika berempat
bangun dan kalau perlu bersyukur dan berterima kasih, berterima kasihlah kepada
Hyang Widhi Wisesa karena hanya dengan kehendak-Nya sajalah kita semua masih
hidup di saat ini. Dan harap jangan menyembah saya, terutama sekali kedua bibi,
karena sesungguhnya sayalah yang harus berlutut menyembah ke hadapan bibi
berdua." Setelah tadi mengangkat bangun empat orang itu, kini Bagus Seta
yang menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dua orang wanita itu.
"Ahhhh, Raden ...
bagaimana mungkin kami dapat menerima penghormatanmu yang tak pada tempatnya
ini?" Pusporini cepat berseru saking kagetnya. Biarpun pria ini masih amat
muda, lebih muda daripadanya, akan tetapi betapa mungkin pemuda sakti
mandraguna yang telah menyelamatkan nyawa mereka, bahkan lebih daripada itu,
telah menyelamatkan mereka daripada ancaman bahaya penghinaan yang lebih hebat
mengerikan daripada maut sendiri, kini menyembahnya?
“Bibi Setyaningsih dan Bibi
Pusporini, harap suka pandang baik-baik kepada hamba. Tidakkah Bibi berdua
dapat mengenal keponakanmu lagi?"
Setyaningsih dan Pusporini
terkejut, memandang wajah tampan yang terangkat itu dengan seksama, kemudian
keduanya menjerit,
"Bagus Seta ...!!"
Setyaningsih dan Pusporini
menubruk dan merangkul Bagus Seta sambil menangis.
"Aduhai ...Bagus Seta
....ke mana saja engkau pergi selama ini?" Setyaningsih terisak-isak
dengan muka bersandar pundak Bagus Seta.
"Semenjak engkau pergi,
banyak sekali hal telah terjadi ...”
"Seta, anak nakal ...!
Mengapa engkau menghilang sekian lamanya? Ke mana saja engkau pergi? Aihhh,
sekarang eyang-eyangmu" Pusporini sukar melanjutkan kata-katanya karena
lehernya tercekik oleh keharuan. Ia hanya dapat merangkul dan menciumi rambut
kepala keponakannya itu. Kalau kedua wanita itu menangis dan menumpahkan rasa
haru, adalah Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono yang berdiri bengong. Tentu
saja mereka sudah seringkali mendengar dari Setyaningsih dan Pusporini tentang
Bagus Seta, putera Tejolaksono yang pergi dibawa orang sakti semenjak berusia
sepuluh tahun. Kini ternyata anak itu telah menjadi seorang pemuda yang amat
sakti, dan yang kini hanya tersenyum-senyum dengan wajah sama sekali tidak
dipengaruhi tangis kedua orang bibinya yang mengguguk mengharukan.
"Syukur engkau datang
menolong, Bagus Seta. Kalau tidak, bagaimana akan jadinya dengan nasib kedua
bibimu.... !!”
Setyaningsih berkata lagi,
suaranya terputus-putus,
"Anakku Seta! Engkau
telah menjadi seorang sakti, mari bantu kami menghancurkan yang mencengkeram
dan menguasai Jenggala!" Pusporini berseru, mengepal tinju karena bangkit
kemarahannya teringat kepada Suminten dan kaki tangannya.
Setelah membiarkan kedua
bibinya itu menumpahkan rasa terharu mereke sejenak, akhirnya Bagus Seta yang
tersenyum penuh pengertian itu lalu memegang tangan kedua orang bibinya, bangkit
berdiri dap berkata,
"Harap Bibi berdua
tenangkan hati dan mari kita bicara tentang Jenggala dan pengalaman-pengalaman
Bibi sehingga menjadi tawanan di sana. Sebelumnya harap Bibi perkenalkan kedua
Paman yang gagah perkasa in!."
"Bagus Seta, dia adalah
Pamanmu Pangeran Panji Sigit, suamiku. Dan dia itu Dimas Joko Pramono, kakak
seperguruan Bibimu Pusporini." Setyaningsih memperkenalkan.
Bagus Seta maju member!
hormat.
"Girang sekali hati
saya dapat berjumpa dengan Paman Pangeran Panji Sigit dan paman Joko Pramono.
Saya Bagus Seta menghaturkan sembah dan hormat....”
Sejenak kedua orang pria
perkasa itu tertegun menyaksikan sikap penuh hormat dari pemuda remaja itu.
Hati mereka menjadi makin kagum akan kerendahan hati Bagus Seta dan kehalusan
tutur sapa dan sikapnya, sama sekali tidak tampak kebanggaan dan kesombongannya
akan kesaktian luar biasa yang dimilikinya. Tersipu-sipu mereka lalu menjawab,
"Ah, sudah lama aku
mendengar akan dirimu dari bibimu Setyaningsih, Bagus. Dan amatlah bahagia
hatiku kini bertemu dan melihat bahwa keponakan isteriku adalah seorang yang
memiliki kesaktian."
Adapun Joko Pramono yang
sejak tadi memandang Bagus Seta seperti termenung kini berkata,
"Andika Bagus Seta ...
seorang pemuda sakti yang akan muncul ... ah, Pusporini! Kini mengertilah aku!
Yang dimaksudkan oleh Eyang Guru Resi Mahesapati bukan lain orang adalah Bagus
Seta sendiri!"
"Ah, benar! Tidak salah
lagi! Girang sekali hatiku kalau yang akan kubantu adalah keponakan
sendiri."
Dari kedua orang bibinya itu
Bagus Seta mendengar akan segala peristiwa yang menimpa keluarga di
Selopenangkep, mendengar bahwa ayah bundanya kini telah berada di Kota Raja
Panjalu, ayahnya menjabat pangkat patih muda. Kemudian ia mendengar penuturan
kedua pasang orang muda itu tentang keadaan di Jenggala dan tentang usaha
Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Tejolaksono yang mulai mengadakan
penyelidikan ke Jenggala.
Setelah semua peristiwa
didengarnya secara singkat namun jelas, Bagus Seta menghela napas panjang lalu
berkata,
"Aku merasa girang
sekali bahwa kedua Bibi dan Paman telah berusaha untuk menolong Jenggala.
Terutama sekali bagi Paman Pangeran, memang sudahlah menjadi kewajiban setiap
orang kawula untuk membela negaranya. Akan tetapi, urusan di Jenggala ternyata
bukanlah urusan kecil dan menyangkut pencampuran tangan Negeri-negeri Sriwijaya
dan Cola. Oleh karena itu, seyogyanya kalau kita lebih dahulu menghadap ke
Panjalu memberi laporan dan sudah tiba saatnya pula aku harus menghadap Kanjeng
Rama lbu."
Lima orang muda itu lalu
melanjutkan perjalanan menuju ke Panjalu untuk melaporkan segala peristiwa yang
mereka alami di Jenggala. Akan tetapi, ketika mereka tiba di tapal batas kedua
kerajaan itu, tiba- tiba perjalanan mereka terhadang oleh seorang laki-laki
setengah tua yang menggeletak melintang di tengah jalan, masih bergerak-gerak
di samping belasan buah mayat orang yang berserakan di tempat itu.
"Kalau
tak salah, prajurit-prajurit Panjalu ...!” seru Setyaningsih dan mereka segera
menghampiri prajurit setengah tua yang belum tewas itu. Karena mereka semua
maklum akan kesaktian Bagus Seta yang luar biasa, maka otomatis empat orang
muda itu menganggap pemuda remaja itu sebagai pemimpin mereka, maka kini Bagus
Seta pula yang berlutut memeriksa tubuh prajurit yang terluka itu. Lukanya
parah sekali, tak mungkin dapat ditolong dan patut dikagumi daya tahan prajurit
itu sehingga masih dapat mempertahankan hidupnya. Kiranya prajurit itu memang
mempergunakan seluruh kekuatan berdasarkan kesetiaannya untuk menunda
kematiannya agar dapat menyampaikan berita kepada orang yang lewat.
No comments:
Post a Comment