Perawan Lembah Wilis; Bagian 160


Tiga orang sakti itu mendengarkan dengan melongo. Hampir mereka tidak percaya bahwa yang bicara di depan mereka itu adalah seorang pemuda berusia dua puluhan tahun.
"Andika telah kesiku (terkutuk) kalau memisah-misahkan tiga sifat itu dan hanya menjadi penyembah Sang Bathara Syiwa saja, atau Sang Bathari Durgo yang hanya menjadi pelengkap dan pembantu, maupun juga Sang Bathara Kolo yang membantu tugas Bathara Syiwa. Di dunia ini, tidak mungkin hanya sifat pembinasa saja yang berkuasa, juga akan pincang kalau hanya sifat pencipta saja, atau sifat pemelihara saja. Harus ada ketiganya, maka disebut Trimurti, Tri-tunggal, tiga sifat dari SATU KEKUASAAN MAHA SEMPURNA yang saling bantu, saling mengisi. Demikianlah, wahai andika bertiga orang-orang yang telah mempergunakan sebagian besar umur andika untuk memipelajari ilmu, janganlah sia-siakan hidup kalian dengan penyelewengan daripada wajib hidup."
Tiga orang sakti itu melongo dan tertegun bukan untuk taat, sama sekali tidak, hanya terheran saja. Kini, setelah pemuda itu selesai bicara, bangkitlah kemarahan di hati mereka, terutama sekali Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Mereka berdua adalah kepala agama, seorang yang ahli dalam agama yang dianutnya, kini mereka dikuliahi seorang bocah tentang agama! Hal ini mereka terima sebagai penghinaan dan kesombongan si pemuda.
"Bocah sombong, katakan siapa gurumu? Gurumu tentulah musuh besar dari kami, atau musuh besar Sang Wasi Bagaspati!" bentak Ni Dewi Nilamanik.
Bagus Seta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Heran ketiga orang itu melihat sikap yang demikian tenangnya, sama sekali tidak membayangkan kemarahan niaupun permusuhan, lunak dan lembut penuh kesabaran clan pengertian.
"Guru manakah yang lebih besar daripada Yang Maha Kuasa? Kalau Yang Maha Kuasa dapat diumpamakan apinya matahari, di dalam diri setiap orang manusia terdapat setitik bunga api. Kalau dapat diumpamakan air samudera, di dalam diri setiap orang manusia terdapat setetes airnya. Segala pengetahuan telah berada di dalam diri manusia yang tak pernah terpisah dari Gurunya, yang tak pernah ditinggdikan. Yang Maha Kuasa tidak pernah sedetikpun meninggalkan setiap orang manusia, hanya si manusialah yang terlalu sering meninggalkanNya. Guru yang berujud manusia hanyalah sebagai petunjuk dan penggali sehingga si manusia menemukan kembali pengertian yang terpendam di dalam dirinya, tertutup oleh sampah-sampah nafsu. Guruku yang berujud manusia sama dengan aku, tidak pernah mempunyai musuh dan tidak akan mempunyai musuh karena sudah terbebas daripada nafsu membenci. Benci menimbulkan dendam, dan dendam menimbulkan permusuhan. Tanpa benci berarti tidak akan punya musuh, namun dia sendiri tidak pernah mempunyai musuh. Kalau andika bertiga menganggap aku ini musuh, itu adalah kerugian bagi andika sendiri, akan tetapi aku tidak menganggap andika bertiga ini musuh karena aku tidak membenci siapa-siapa."
“Babo-babo! Lidahmu lemas seperti lidah ular, engkau pandai bicara, orang muda. Hendak kulihat apakah kesaktianmu juga sehebat bicaramu!" Sambil membentak keras, tongkat ular di tangan Cekel Wisangkoro sudah meluncur ke depan, menusuk ke dada pemuda itu. Serangan ini diikuti oleh kebutan di tangan Ni Dewi Nilamanik yang mengeluarkan suara meledak keras, dan dibarengi pula oleh tusukan nenggala di tangan Ki Kolohangkoro. Hebat bukan main serangan berbareng yang dilakukan tiga orang sakti itu, datangnya dari tiga jurusan dan memiliki keampuhan masing-masing.
Akan tetapi Bagus Seta bersikap tenang saja, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya lenyap seolah-olah ditelah bumi sehingga tongkat di tangan Cekel Wisangkoro hampir bertemu dengan nenggala Ki Kolohangkoro sendiri. Ketiganya terkejut sekali dan dengan hati ngeri menduga bahwa pemuda aneh itu memiliki kesaktian menghilang dari depan mata mereka! Benarkah Bagus Seta pandai menghilang? Sesungguhnya tidaklah demikian. Pemuda sakti itu tidak menghilang, melainkan menggunakan aji kesaktian meringankan tubuh yang amat tinggi tingkatnya sehingga tubuhnya dapat berkelebat mengelak secara demikian cepatnya dan karena gerakannya jauh melampaui ketiga orang lawannya, sehingga mereka bertiga itu tidak dapat mengikuti gerakannya dengan pandang mata. Tubuh Bagus Seta berkelebat cepat menghindarkan diri dari serangan lawan lalu melesat keluar kepungan dan pergi melarikan diri dari tempat itu menyusul dua pasang orang muda yang telah lebih dulu melarikan diri.

Tlga orang sakti itu akhirnya sadar akan hal ini dan benar saja, ketika memandang, bayangan pemuda itu telah pergi agak jauh dart tempat itu.
"Bocah keparat, hendak lari ke mana kau?" bentak Ki Kolohangkoro yang cepat melontarkan nenggalanya ke arah Bagus Seta. Juga Cekel Wisangkoro mengayun tongkat ularnya dan melontarkari tongkat itu menyusul nenggala ke arah tubuh Bagus Seta. Lontaran nenggala dan tongkat ini tak boleh dipandang rendah karena tenaga lontarannya sedemikian kuatnya membuat kedua macam senjata itu meluncur lebih cepat daripada luncuran anak panah terlepas dari busurnya. Bagus Seta mendengar angin luncuran dua buah senjata pusaka ampuh itu, dan ia hanya menoleh tanpa menghentikan langkahnya, mengangkat tangan kanannya menyampok kedua senjata itu berturut-turut sehingga nenggala dan tongkat itu runtuh ke atas tanah. Kemudian pemuda ini berlari terus dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata ketiga orang lawannya. Ki Kolohangkoro dan Cekel Wisangkoro dengan hati penasaran berlari dan mengambil senjata mereka. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat bahwa ujung nenggala dan tongkat ular itu telah hancur! Terpaksa mereka lalu memimpin para pengawal untuk terus melakukan pengejaran, namun pekerjaan ini dilakukan dengan setengah hati karena mereka bertiga kehilangan kepercayaan kepada kekuatan sendiri setelah bertemu dengan Bagus Seta, pemuda yang memiliki kesaktian yang tidak lumrah itu. Malah Cekel Wisangkoro tidak ikut melakukan pengejaran yang ia tahu akan sia-sia itu, melainkan ia tergesa-gesa pergi menghadap gurunya, Sang Wasi Bagaspati untuk memberi laporan tentang munculnya Bagus Seta yang memiliki kesaktian luar biasa itu.

Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini cepat maju menyambut kedatangan Bagus Seta yang melangkah perlahan akan tetapi tidak lama telah dapat mengejar dan menyusul dua pasang orang muda itu, dan serta merta dua pasang orang muda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya.
"Tanpa bantuan paduka yang sakti mandraguna, kami berempat tentu tewas. Kami amat bersyukur dan berterima kasih .." Namun ucapan Setyaningsih ini diputus oleh ucapan halus Bagus Seta,
"Harap andika berempat bangun dan kalau perlu bersyukur dan berterima kasih, berterima kasihlah kepada Hyang Widhi Wisesa karena hanya dengan kehendak-Nya sajalah kita semua masih hidup di saat ini. Dan harap jangan menyembah saya, terutama sekali kedua bibi, karena sesungguhnya sayalah yang harus berlutut menyembah ke hadapan bibi berdua." Setelah tadi mengangkat bangun empat orang itu, kini Bagus Seta yang menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dua orang wanita itu.
"Ahhhh, Raden ... bagaimana mungkin kami dapat menerima penghormatanmu yang tak pada tempatnya ini?" Pusporini cepat berseru saking kagetnya. Biarpun pria ini masih amat muda, lebih muda daripadanya, akan tetapi betapa mungkin pemuda sakti mandraguna yang telah menyelamatkan nyawa mereka, bahkan lebih daripada itu, telah menyelamatkan mereka daripada ancaman bahaya penghinaan yang lebih hebat mengerikan daripada maut sendiri, kini menyembahnya?
“Bibi Setyaningsih dan Bibi Pusporini, harap suka pandang baik-baik kepada hamba. Tidakkah Bibi berdua dapat mengenal keponakanmu lagi?"
Setyaningsih dan Pusporini terkejut, memandang wajah tampan yang terangkat itu dengan seksama, kemudian keduanya menjerit,
"Bagus Seta ...!!"
Setyaningsih dan Pusporini menubruk dan merangkul Bagus Seta sambil menangis.
"Aduhai ...Bagus Seta ....ke mana saja engkau pergi selama ini?" Setyaningsih terisak-isak dengan muka bersandar pundak Bagus Seta.
"Semenjak engkau pergi, banyak sekali hal telah terjadi ...”
"Seta, anak nakal ...! Mengapa engkau menghilang sekian lamanya? Ke mana saja engkau pergi? Aihhh, sekarang eyang-eyangmu" Pusporini sukar melanjutkan kata-katanya karena lehernya tercekik oleh keharuan. Ia hanya dapat merangkul dan menciumi rambut kepala keponakannya itu. Kalau kedua wanita itu menangis dan menumpahkan rasa haru, adalah Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono yang berdiri bengong. Tentu saja mereka sudah seringkali mendengar dari Setyaningsih dan Pusporini tentang Bagus Seta, putera Tejolaksono yang pergi dibawa orang sakti semenjak berusia sepuluh tahun. Kini ternyata anak itu telah menjadi seorang pemuda yang amat sakti, dan yang kini hanya tersenyum-senyum dengan wajah sama sekali tidak dipengaruhi tangis kedua orang bibinya yang mengguguk mengharukan.
"Syukur engkau datang menolong, Bagus Seta. Kalau tidak, bagaimana akan jadinya dengan nasib kedua bibimu.... !!”
Setyaningsih berkata lagi, suaranya terputus-putus,
"Anakku Seta! Engkau telah menjadi seorang sakti, mari bantu kami menghancurkan yang mencengkeram dan menguasai Jenggala!" Pusporini berseru, mengepal tinju karena bangkit kemarahannya teringat kepada Suminten dan kaki tangannya.

Setelah membiarkan kedua bibinya itu menumpahkan rasa terharu mereke sejenak, akhirnya Bagus Seta yang tersenyum penuh pengertian itu lalu memegang tangan kedua orang bibinya, bangkit berdiri dap berkata,
"Harap Bibi berdua tenangkan hati dan mari kita bicara tentang Jenggala dan pengalaman-pengalaman Bibi sehingga menjadi tawanan di sana. Sebelumnya harap Bibi perkenalkan kedua Paman yang gagah perkasa in!."
"Bagus Seta, dia adalah Pamanmu Pangeran Panji Sigit, suamiku. Dan dia itu Dimas Joko Pramono, kakak seperguruan Bibimu Pusporini." Setyaningsih memperkenalkan.
Bagus Seta maju member! hormat.
"Girang sekali hati saya dapat berjumpa dengan Paman Pangeran Panji Sigit dan paman Joko Pramono. Saya Bagus Seta menghaturkan sembah dan hormat....”
Sejenak kedua orang pria perkasa itu tertegun menyaksikan sikap penuh hormat dari pemuda remaja itu. Hati mereka menjadi makin kagum akan kerendahan hati Bagus Seta dan kehalusan tutur sapa dan sikapnya, sama sekali tidak tampak kebanggaan dan kesombongannya akan kesaktian luar biasa yang dimilikinya. Tersipu-sipu mereka lalu menjawab,
"Ah, sudah lama aku mendengar akan dirimu dari bibimu Setyaningsih, Bagus. Dan amatlah bahagia hatiku kini bertemu dan melihat bahwa keponakan isteriku adalah seorang yang memiliki kesaktian."
Adapun Joko Pramono yang sejak tadi memandang Bagus Seta seperti termenung kini berkata,
"Andika Bagus Seta ... seorang pemuda sakti yang akan muncul ... ah, Pusporini! Kini mengertilah aku! Yang dimaksudkan oleh Eyang Guru Resi Mahesapati bukan lain orang adalah Bagus Seta sendiri!"
"Ah, benar! Tidak salah lagi! Girang sekali hatiku kalau yang akan kubantu adalah keponakan sendiri."
Dari kedua orang bibinya itu Bagus Seta mendengar akan segala peristiwa yang menimpa keluarga di Selopenangkep, mendengar bahwa ayah bundanya kini telah berada di Kota Raja Panjalu, ayahnya menjabat pangkat patih muda. Kemudian ia mendengar penuturan kedua pasang orang muda itu tentang keadaan di Jenggala dan tentang usaha Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Tejolaksono yang mulai mengadakan penyelidikan ke Jenggala.
Setelah semua peristiwa didengarnya secara singkat namun jelas, Bagus Seta menghela napas panjang lalu berkata,
"Aku merasa girang sekali bahwa kedua Bibi dan Paman telah berusaha untuk menolong Jenggala. Terutama sekali bagi Paman Pangeran, memang sudahlah menjadi kewajiban setiap orang kawula untuk membela negaranya. Akan tetapi, urusan di Jenggala ternyata bukanlah urusan kecil dan menyangkut pencampuran tangan Negeri-negeri Sriwijaya dan Cola. Oleh karena itu, seyogyanya kalau kita lebih dahulu menghadap ke Panjalu memberi laporan dan sudah tiba saatnya pula aku harus menghadap Kanjeng Rama lbu."

Lima orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Panjalu untuk melaporkan segala peristiwa yang mereka alami di Jenggala. Akan tetapi, ketika mereka tiba di tapal batas kedua kerajaan itu, tiba- tiba perjalanan mereka terhadang oleh seorang laki-laki setengah tua yang menggeletak melintang di tengah jalan, masih bergerak-gerak di samping belasan buah mayat orang yang berserakan di tempat itu.
"Kalau tak salah, prajurit-prajurit Panjalu ...!” seru Setyaningsih dan mereka segera menghampiri prajurit setengah tua yang belum tewas itu. Karena mereka semua maklum akan kesaktian Bagus Seta yang luar biasa, maka otomatis empat orang muda itu menganggap pemuda remaja itu sebagai pemimpin mereka, maka kini Bagus Seta pula yang berlutut memeriksa tubuh prajurit yang terluka itu. Lukanya parah sekali, tak mungkin dapat ditolong dan patut dikagumi daya tahan prajurit itu sehingga masih dapat mempertahankan hidupnya. Kiranya prajurit itu memang mempergunakan seluruh kekuatan berdasarkan kesetiaannya untuk menunda kematiannya agar dapat menyampaikan berita kepada orang yang lewat.

<<< Bagian 159                                                                                      Bagian 161 >>>

No comments:

Post a Comment