Perawan Lembah Wilis; Bagian 161


Dapat dibayangkan betapa girang hatinya melihat bahwa yang lewat adalah lima orang muda yang di antaranya terdapat Pangeran Panji Sigit dan isterinya yang sudah ia kenal ketika pangeran itu datang ke Panjalu.
“.....tolong ....lekas ...., Gusti Patih Tejolaksono dan kedua isteri beliau ....tertawan dibawa ke gunung itu.." Habislah kekuatan perajurit itu dan tubuhnya lemas, nyawanya terbang meninggalkan raganya.
Setyaningsih, Pusporini, Pangeran Panji Sigit, dan Joko Pramono terkejut bukan main mendengar ucapan terakhir prajurit itu. Betapa mungkin hal ltu terjadi? Ki Patih Tejolaksono adalah seorang yang sakti mandraguna, apalagi di situ terdapat dua orang isterinya yang berarti bahwa Endang Patibroto juga hadir, sedangkan Ayu Candra bukanlah seorang lemah pula. Bagaimana dapat ditawan orang dan siapakah penawannya?
Memang sungguh mengherankan dan meragukan pesan dalam ucapan terakhir prajurit Panjalu itu. Kalau memang benar yang memimpin para prajurit yang kini rebah malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi adalah Ki Patih Tejolaksono, Endang Patibroto, dan Ayu Candra, bagaimana mereka itu dapat dikalahkan dan ditawan orang? Untuk mengetahui hal yang tak dapat terjawab oleh dua pasang orang muda itu.

Sebelum Ki Wiraman dan Widawati dengan nekat menyerbu ke penjara istana Jenggala untuk menolong dua pasang orang muda yang tertawan, Ki Wiraman telah mengirim pembantunya ke Panjalu untuk memberi kabar tentang penangkapan empat orang muda itu kepada Ki Patih Tejolaksono karena dia maklum bahwa kalau dia dan Widawati gagal, satu-satunya orang yang boleh diharapkan akan dapat menyelamatkan empat orang muda itu adalah ki patih muda di Panjalu yang sakti itu. Dapat dibayangkan betapa kaget hati Ki Patih Tejolaksono ketika mendengar berita itu. Setyaningsih dan Pusporini ditangkap dan dipenjara di Jenggala! Juga Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono! Segera Tejolaksono menghadap Pangeran Darmokusumo untuk melaporkan hal itu, kemudian Tejolaksono mohon perkenan dari sang prabu dan dari Pangeran Darmokusumo untuk pergi sendiri turun tangan ke Jenggala, selain untuk menolong mereka yang tertawan, juga sekalian menanggulangi kekacauan di sana. Permohonannya diperkenankan, maka berangkatlah Tejolaksono disertai Endang Patibroto dan Ayu Candra. Kedua orang isterinya ini tidak mau ditinggal, apalagi Endang Patibroto yang sudah marah-marah mendengar betapa Setyaningsih adik kandungnya itu ditangkap.
"Sedikit banyak sang prabu di Jenggala pernah menerima bantuan-bantuanku, dan juga bantuanmu, apalagi kalau diingat bahwa Suminten itu ternyata adalah bekas abdi dalemku. Kalau aku yang datang meminta, kiranya mereka itu akan segera dibebaskan," demikian kata Endang Patibroto.
"Kalau tidak ........ hem mm, Jenggala akan kuratakan dengan bumi!"
Tejolaksono tersenyum dan memandang wajah Endang Patibroto dengan sinar mata berseri dan kagum, isterinya ke dua ini tak pernah menjadi tua, masih selalu penuh semangat seperti di waktu masih menjadi perawan yang ganas dan liar.
"Aku kira tidak perlu kita menggunakan kekerasan. Apapun yang telah kudengar beritanya, aku tak percaya bahwa gusti sinuwun di Jenggala sampai demikian tidak berdaya dan tidak mempunyai kekuasaan lagi di sana. Sebaiknya kita buktikan sendiri."
Ayu Candra menggerakkan alisnya.
"Betapapun juga, kita harus selalu waspada dan hati-hati. Peristiwa yang melanda Jenggala bukanlah hal yang wajar, melainkan ada rahasia di balik semua itu. Lupakah Kakanda akan perjumpaan kita dengan dua orang kakek amat sakti di puncak gunung ketika kita mencari Bagus Seta?" Tejolaksono mengangguk dan diam-diam ia harus membenarkan pendapat isterinya ini. Wasi Bagaspati dan Biku Janapati adalah dua orang pendeta yang amat sakti, dan kalau betul seperti yang pernah disindirkan oleh Ki Tunggaljiwa, dan kedua orang pendeta itu mencampuri urusan kekacauan di Jenggala, maka dia bersama dua orang isterinya harus berhati-hati sekali.
"Engkau benar, Adinda Ayu Candra. Kita harus berhati-hati sekali. Aku akan membawa lima belas orang pengawal pilihan untuk melayani keperluan kita dalam perjalanan. Di sana aku akan menghadap secara resmi kepada sang prabu dan langsung mengajukan permohonan untuk kebebasan mereka."

Rombongan Tejolaksono melakukan perjalanan cepat sekali siang malam tanpa berhenti, bertukar kuda di dalam perjalanan. Pada keesokan harinya ketika rombongan ini memasuki tapal batas Jenggala, tiba-tiba dalam sebuah hutan mereka dihadang oleh puluhan orang laki dan perempuan yang kesemuanya memegang senjata, dan para penghadang itu dipimpin oleh seorang wanita cantik yang memegang pedang. Ketika Tejolaksono melihat wanita ini dan mengenalnya sebagai Sariwuni si penyembah Bathari Durgo, anak buah juga kekasih Wasi Bagaspati, tahulah dia bahwa pihak musuh sudah mulai turun tangan. Maka ia berbisik di dekat telingan kedua isterinya.
"Dia Sariwuni yang telah kuceritakan kepada kalian. Kita basmi saja mereka karena mereka pun merupakan sebagian daripada akar-akar pohon kekacauan di Jenggala." Setelah berbisik demikian, Tejolaksono memberi aba-aba kepada lima belas orang pengawal untuk menerjang maju. Para pengawal maklum bahwa kalau ki patih serentak memberi perintah menyerang tanpa bertanya, tentu ki patih mempunyai alasan kuat dan mereka yakin bahwa rombongan orang-orang laki perempuan bercampur aduk merupakan barisan liar ini pastilah golongan musuh. Merekapun lalu menerjang maju, melarikan kudanya menyerbu di antara puluhan orang lawan yang juga sudah berteriak-teriak dan menyerang dalam sambutan mereka terhadap terjangan perajurit-perajurit Panjalu.
"Sariwuni perempuan jahat, kebetulan sekali andika muncul menyerahkan nyawa!" bentak Tejolaksono sambil menudingkan telunjuknya ke arah wanita itu yang tersenyum mengejek dengan gerakan mulut genit sekali.
"Heh-heh, Tejolaksono, engkau masih hidupkan? Aku memang sengaja menantimu di sini untuk menangkapmu!"
"Setan alas, mampuslah kamu ....Tiba-tiba Endang Patibroto melayang dari atas kudanya dan langsung tubuhnya meluncur dan menyambar ke arah Sariwuni bagaikan seekor burung elang menyambar anak ayam. Sariwuni terkejut sekali dan cepat menggerakkan pedangnya membacok tubuh lawan yang menyambar seperti burung itu.
"Krekk .. Aaliihhhhh ....!" Sariwuni terpental ke belakang sampai tiga meter dan pedangnya sudah patah-patah ketika bertemu dengan jari tangan Endang Patibroto! Sariwuni memandang terbelalak dan berkata tertegun,
"Inikah ....Endang Patibroto ..?"
Sudah lama dia mendengar akan kehebatan seorang wanita bernama Endang Patibroto dan karena akhir-akhir ini dia mendengar berita bahwa Endang Patibroto telah menjadi isteri Tejolaksono, kini menyaksikan terjangan yang ganas dan dahsyat itu, mudah saja dia menduga.
"Benar dugaanmu. Akulah Endang Patibroto yang datang untuk menghancurkan kepalamu yang hanya terisi hawa busuk itu. Nah, rasakan pukulan ini!”
Endang Patibroto tidak mau memberi kesempatan lagi kepada lawan yang kini sudah bertangan kosong, lalu menerjang maju dengan gerakan Bayu Tantra yang membuat tubuhnya menjadi gesit dan ringan, sambil memukul dengan aji pukulan Wisangnolo! Sariwuni menjadi gentar, akan tetapi ia pun tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja. Begitu ia menggerakkan tangan dan memekik, berubahlah warna tangannya menjadi hitam sampai ke kukunya dan kedua lengannya mengeluarkan bunyi berkerotokan. Itulah pengerahan ajinya yang sangat keji dan kotor, yaitu Aji Wisekenaka yang ia pelajari dari Wasi Bagaspati sebagai hadiah atas jasa-jasanya, terutama sekali dalam melayani nafsu sang wasi.
"Bressss !" Kembali tangan Endang Patibroto tertangkis oleh lengan yang mengandung hawa beracun, bahkan kuku- kuku tangan Sariwuni dalam tangkisan itu telah mencengkeram lengan Endang Patibroto yang berkulit halus putih. Akan tetapi akibatnya, tubuh Sariwuni terbanting ke kiri dan perempuan ini bergulingan sambil mengeluarkan rintihan karena lengannya seperti terbakar api neraka ketika bertemu dengan lengan Endang Patibroto yang mengandung hawa Wisarignolo!

Sementara itu, Tejolaksono dan Ayu Candra juga tidak tinggal diam melihat lima belas orang pengawal mereka bertempur dikeroyok oleh tiga puluh orang lebih gerombolan musuh. Ki patih dan isterinya sudah membedal kuda mereka maju memasuki gelanggang pertempuran dan sebentar saja, beberapa orang pengeroyok sudah roboh oleh tendangan-tendangan kaki Tejolaksono dan ayunan pedang Ayu Candra setelah dia merampas pedang dari tangan seorang pengeroyok. Dengan majunya suami isteri perkasa ini, biarpun pihak lawan dua kali lebih besar jumlahnya, tetap saja mereka menjadi kocar-kacir dan panik. Sepak terjang suami isteri itu, terutama sang patih, terlalu hebat dan kuat bagi mereka seperti terjangan angin badai. Endang Patibroto yang melihat betapa Sariwuni sudah terluka, mengambil keputusan untuk menghabisi saja nyawa lawan itu, maka tubuhnya kembali mencelat ke depan dan kakinya bergerak menendang ke arah kepala Sariwuni untuk memberi pukulan maut terakhir.
"Desss ........ !" Kini tubuh Endang Patibrpto yang terpental ke belakang dan kakinya terasa nyeri hampir lumpuh. Kiranya tendangan tadi telah ditangkis oleh sebuah lengan tangan berbulu yang kulitnya kemerahan. Endang Patibroto cepat berdiri tegak memandang penuh perhatian. Orang yang menolong Sariwuni itu adalah seorang kakek tinggi kurus bermuka merah sekali, rambutnya panjang putih terurai dan pakaiannya terbuat dari kain berwarna merah darah!
"Hoah-hah-ha-ha! Inikah puteri yang bernama Endang Patibroto, murid dari Dibyo Mamangkoro?...buruk....!” Kakek itu lalu memegang lengan tangan Sariwuni yang terluka dan sekali menggosoknya dengan telapak tangan kiri, sembuhlah dan lenyaplah rasa panas.
"Wuni cah-ayu, lenganmu tidak apa-apa, sekarang lebih baik kau membantu anak buahmu itu yang terdesak," kata kakek itu lalu menggunakan tangannya meraba pinggul Sariwuni, membelai dan mendorongnya. Sariwuni terkekeh genit lalu berlari untuk membantu anak buahnya yang kocar-kacir.
"Kakanda, lihat siapa itu .....” Tiba-tiba Ayu Candra berbisik dengan suara menggetar. Tejolaksono cepat menoleh dan terkejutlah ia ketika melihat pendeta berjubah merah itu yang bukan lain adalah Wasi Bagaspati!
"Ah, Endang Patibroto terancam bahaya. Mari kita bantu .... !" ia lalu meloncat turun dari kudanya, diikuti Ayu Candra, merobohkan dua orang pengeroyok lalu berlari menghampiri Endang Patibroto yang masih berdiri tegak di depan Wasi Bagaspati. Tejolaksono kini berdiri di sebelah kanan Endang Patibroto sedangkan Ayu Candra berdiri di sebelah kanannya.
"Wasi Bagaspati! Kiranya andika yang menghadang perjalanan kami ke Jenggala," kata Tejolaksono.
"Ada maksud apakah menghadang perjalanan kami?"
"Ha-ha-ha, andika Tejolaksono, dahulu Adipati Selopenangkep dan sekarang kabarnya menjadi patih muda di Panjalu, bukan? Sebagai patih di Panjalu, mau apa gentayangan dan berkeliaran di daerah Jenggala? Andika melanggar tapal batas, harus ditangkap. Ha-ha-ha!"
"Wasi Bagaspati! Sejak kapan andika menjadi penjaga tapal batas?" Tejolaksono berseru keras.
"Kakangmas, perlu apa banyak bicara dengan raksasa tua bangka ini? Hantam saja!" Endang Patibroto sudah menerjang maju lagi, kini gerakannya hati-hati sekali karena ia maklum bahwa yang ia hadapi adalah lawan yang benar-benar amat sakti. Ia menerjang sambil mengerahkan Aji Bayu Tantra agar tubuhnya menjadi ringan dan gerakannya menjadi cepat, dan ia mengerahkan ajinya Pethit Nogo untuk menampar ke arah dada Sang Wasi Bagaspati. Keras sekali tamparan tangan itu, namun kakek bermuka merah itu hanya tertawa-tawa, sama sekali tidak mengelak dan menerima tamparan Aji Pethit Nogo dengan dadanya yang bidang.
"Plakkkk!!" Endang Patibroto merasa betapa jari-jari tangannya bertemu dengan getaran hawa yang kuat, yang melumpuhkan ajinya Pethit Nogo dan pada detik berikutnya ia berseru keras sambil melesat pergi karena hampir saja pundaknya kena dicengkeram oleh tangan Wasi Bagaspati yang sengaja menerima pukulan sambil berusaha menangkap Endang Patibroto.

Tejolaksono juga kaget menyaksikan betapa pukulan Endang Patibroto sedemikian ampuhnya sehingga jarang sekali ada tokoh yang akan mampu menerima pukulan Pethit Nogo kini ternyata tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap Wasi Bagaspati, cepat melambung tinggi dan menerjang dari atas. Ia mengerahkan aji keringanan tubuh Bayu Sakti dan dari atas ia menukik turun ke bawah dengan pukulan Bojro Dahono, mengarah ubun-ubun kepala Wati Bagaspati! Pada saat yang hampir berbareng dengan serangan Tejolaksono, kedua orang isterinya pun sudah menerjang maju. Ayu Candra kini mencabut keris pusakanya dan menyerang dengan tusukan ke arah Wasi Bagaspati, sedangkan Endang Patibroto menggunakan aji pukulan Wisangnolo, kini yang dipukul adalah tenggorokan lawan untuk mematahkan batang lehernya!
Menghadapi tiga serangan yang mematikan ini, yang amat berbahaya kalau dilawan dengan kekebalan karena yang diserang adalah bagian-bagian paling lemah, Wasi Bagaspati menjadi terkejut juga. Tadinya ia hendak menyambar lengan Tejolaksono dan sekaligus menangkapnya, akan tetapi keris yang menuju matanya dan pukulan panas yang mengarah tenggorokannya bukanlah hal yang boleh dipandang rendah begitu saja.

<<< Bagian 160                                                                                     Bagian 162 >>>

No comments:

Post a Comment