Dapat dibayangkan betapa girang hatinya melihat bahwa yang lewat adalah lima orang muda yang di antaranya terdapat Pangeran Panji Sigit dan isterinya yang sudah ia kenal ketika pangeran itu datang ke Panjalu.
“.....tolong ....lekas ....,
Gusti Patih Tejolaksono dan kedua isteri beliau ....tertawan dibawa ke gunung
itu.." Habislah kekuatan perajurit itu dan tubuhnya lemas, nyawanya
terbang meninggalkan raganya.
Setyaningsih, Pusporini,
Pangeran Panji Sigit, dan Joko Pramono terkejut bukan main mendengar ucapan
terakhir prajurit itu. Betapa mungkin hal ltu terjadi? Ki Patih Tejolaksono
adalah seorang yang sakti mandraguna, apalagi di situ terdapat dua orang
isterinya yang berarti bahwa Endang Patibroto juga hadir, sedangkan Ayu Candra
bukanlah seorang lemah pula. Bagaimana dapat ditawan orang dan siapakah
penawannya?
Memang sungguh mengherankan
dan meragukan pesan dalam ucapan terakhir prajurit Panjalu itu. Kalau memang
benar yang memimpin para prajurit yang kini rebah malang-melintang dalam
keadaan tak bernyawa lagi adalah Ki Patih Tejolaksono, Endang Patibroto, dan
Ayu Candra, bagaimana mereka itu dapat dikalahkan dan ditawan orang? Untuk
mengetahui hal yang tak dapat terjawab oleh dua pasang orang muda itu.
Sebelum Ki Wiraman dan
Widawati dengan nekat menyerbu ke penjara istana Jenggala untuk menolong dua
pasang orang muda yang tertawan, Ki Wiraman telah mengirim pembantunya ke
Panjalu untuk memberi kabar tentang penangkapan empat orang muda itu kepada Ki
Patih Tejolaksono karena dia maklum bahwa kalau dia dan Widawati gagal,
satu-satunya orang yang boleh diharapkan akan dapat menyelamatkan empat orang
muda itu adalah ki patih muda di Panjalu yang sakti itu. Dapat dibayangkan
betapa kaget hati Ki Patih Tejolaksono ketika mendengar berita itu.
Setyaningsih dan Pusporini ditangkap dan dipenjara di Jenggala! Juga Pangeran
Panji Sigit dan Joko Pramono! Segera Tejolaksono menghadap Pangeran Darmokusumo
untuk melaporkan hal itu, kemudian Tejolaksono mohon perkenan dari sang prabu dan
dari Pangeran Darmokusumo untuk pergi sendiri turun tangan ke Jenggala, selain
untuk menolong mereka yang tertawan, juga sekalian menanggulangi kekacauan di
sana. Permohonannya diperkenankan, maka berangkatlah Tejolaksono disertai
Endang Patibroto dan Ayu Candra. Kedua orang isterinya ini tidak mau ditinggal,
apalagi Endang Patibroto yang sudah marah-marah mendengar betapa Setyaningsih
adik kandungnya itu ditangkap.
"Sedikit banyak sang
prabu di Jenggala pernah menerima bantuan-bantuanku, dan juga bantuanmu,
apalagi kalau diingat bahwa Suminten itu ternyata adalah bekas abdi dalemku.
Kalau aku yang datang meminta, kiranya mereka itu akan segera dibebaskan,"
demikian kata Endang Patibroto.
"Kalau tidak ........
hem mm, Jenggala akan kuratakan dengan bumi!"
Tejolaksono tersenyum dan
memandang wajah Endang Patibroto dengan sinar mata berseri dan kagum, isterinya
ke dua ini tak pernah menjadi tua, masih selalu penuh semangat seperti di waktu
masih menjadi perawan yang ganas dan liar.
"Aku kira tidak perlu
kita menggunakan kekerasan. Apapun yang telah kudengar beritanya, aku tak
percaya bahwa gusti sinuwun di Jenggala sampai demikian tidak berdaya dan tidak
mempunyai kekuasaan lagi di sana. Sebaiknya kita buktikan sendiri."
Ayu Candra menggerakkan
alisnya.
"Betapapun juga, kita
harus selalu waspada dan hati-hati. Peristiwa yang melanda Jenggala bukanlah
hal yang wajar, melainkan ada rahasia di balik semua itu. Lupakah Kakanda akan
perjumpaan kita dengan dua orang kakek amat sakti di puncak gunung ketika kita
mencari Bagus Seta?" Tejolaksono mengangguk dan diam-diam ia harus
membenarkan pendapat isterinya ini. Wasi Bagaspati dan Biku Janapati adalah dua
orang pendeta yang amat sakti, dan kalau betul seperti yang pernah disindirkan
oleh Ki Tunggaljiwa, dan kedua orang pendeta itu mencampuri urusan kekacauan di
Jenggala, maka dia bersama dua orang isterinya harus berhati-hati sekali.
"Engkau benar, Adinda
Ayu Candra. Kita harus berhati-hati sekali. Aku akan membawa lima belas orang
pengawal pilihan untuk melayani keperluan kita dalam perjalanan. Di sana aku
akan menghadap secara resmi kepada sang prabu dan langsung mengajukan
permohonan untuk kebebasan mereka."
Rombongan Tejolaksono
melakukan perjalanan cepat sekali siang malam tanpa berhenti, bertukar kuda di
dalam perjalanan. Pada keesokan harinya ketika rombongan ini memasuki tapal
batas Jenggala, tiba-tiba dalam sebuah hutan mereka dihadang oleh puluhan orang
laki dan perempuan yang kesemuanya memegang senjata, dan para penghadang itu
dipimpin oleh seorang wanita cantik yang memegang pedang. Ketika Tejolaksono
melihat wanita ini dan mengenalnya sebagai Sariwuni si penyembah Bathari Durgo,
anak buah juga kekasih Wasi Bagaspati, tahulah dia bahwa pihak musuh sudah
mulai turun tangan. Maka ia berbisik di dekat telingan kedua isterinya.
"Dia Sariwuni yang
telah kuceritakan kepada kalian. Kita basmi saja mereka karena mereka pun
merupakan sebagian daripada akar-akar pohon kekacauan di Jenggala."
Setelah berbisik demikian, Tejolaksono memberi aba-aba kepada lima belas orang
pengawal untuk menerjang maju. Para pengawal maklum bahwa kalau ki patih
serentak memberi perintah menyerang tanpa bertanya, tentu ki patih mempunyai
alasan kuat dan mereka yakin bahwa rombongan orang-orang laki perempuan
bercampur aduk merupakan barisan liar ini pastilah golongan musuh. Merekapun
lalu menerjang maju, melarikan kudanya menyerbu di antara puluhan orang lawan
yang juga sudah berteriak-teriak dan menyerang dalam sambutan mereka terhadap
terjangan perajurit-perajurit Panjalu.
"Sariwuni perempuan
jahat, kebetulan sekali andika muncul menyerahkan nyawa!" bentak
Tejolaksono sambil menudingkan telunjuknya ke arah wanita itu yang tersenyum
mengejek dengan gerakan mulut genit sekali.
"Heh-heh, Tejolaksono,
engkau masih hidupkan? Aku memang sengaja menantimu di sini untuk
menangkapmu!"
"Setan alas, mampuslah
kamu ....Tiba-tiba Endang Patibroto melayang dari atas kudanya dan langsung
tubuhnya meluncur dan menyambar ke arah Sariwuni bagaikan seekor burung elang
menyambar anak ayam. Sariwuni terkejut sekali dan cepat menggerakkan pedangnya
membacok tubuh lawan yang menyambar seperti burung itu.
"Krekk .. Aaliihhhhh
....!" Sariwuni terpental ke belakang sampai tiga meter dan pedangnya
sudah patah-patah ketika bertemu dengan jari tangan Endang Patibroto! Sariwuni
memandang terbelalak dan berkata tertegun,
"Inikah ....Endang
Patibroto ..?"
Sudah lama dia mendengar
akan kehebatan seorang wanita bernama Endang Patibroto dan karena akhir-akhir
ini dia mendengar berita bahwa Endang Patibroto telah menjadi isteri Tejolaksono,
kini menyaksikan terjangan yang ganas dan dahsyat itu, mudah saja dia menduga.
"Benar dugaanmu. Akulah
Endang Patibroto yang datang untuk menghancurkan kepalamu yang hanya terisi
hawa busuk itu. Nah, rasakan pukulan ini!”
Endang Patibroto tidak mau
memberi kesempatan lagi kepada lawan yang kini sudah bertangan kosong, lalu
menerjang maju dengan gerakan Bayu Tantra yang membuat tubuhnya menjadi gesit
dan ringan, sambil memukul dengan aji pukulan Wisangnolo! Sariwuni menjadi
gentar, akan tetapi ia pun tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja. Begitu
ia menggerakkan tangan dan memekik, berubahlah warna tangannya menjadi hitam
sampai ke kukunya dan kedua lengannya mengeluarkan bunyi berkerotokan. Itulah
pengerahan ajinya yang sangat keji dan kotor, yaitu Aji Wisekenaka yang ia
pelajari dari Wasi Bagaspati sebagai hadiah atas jasa-jasanya, terutama sekali
dalam melayani nafsu sang wasi.
"Bressss !"
Kembali tangan Endang Patibroto tertangkis oleh lengan yang mengandung hawa
beracun, bahkan kuku- kuku tangan Sariwuni dalam tangkisan itu telah
mencengkeram lengan Endang Patibroto yang berkulit halus putih. Akan tetapi
akibatnya, tubuh Sariwuni terbanting ke kiri dan perempuan ini bergulingan
sambil mengeluarkan rintihan karena lengannya seperti terbakar api neraka
ketika bertemu dengan lengan Endang Patibroto yang mengandung hawa Wisarignolo!
Sementara itu, Tejolaksono
dan Ayu Candra juga tidak tinggal diam melihat lima belas orang pengawal mereka
bertempur dikeroyok oleh tiga puluh orang lebih gerombolan musuh. Ki patih dan
isterinya sudah membedal kuda mereka maju memasuki gelanggang pertempuran dan
sebentar saja, beberapa orang pengeroyok sudah roboh oleh tendangan-tendangan
kaki Tejolaksono dan ayunan pedang Ayu Candra setelah dia merampas pedang dari
tangan seorang pengeroyok. Dengan majunya suami isteri perkasa ini, biarpun
pihak lawan dua kali lebih besar jumlahnya, tetap saja mereka menjadi
kocar-kacir dan panik. Sepak terjang suami isteri itu, terutama sang patih,
terlalu hebat dan kuat bagi mereka seperti terjangan angin badai. Endang
Patibroto yang melihat betapa Sariwuni sudah terluka, mengambil keputusan untuk
menghabisi saja nyawa lawan itu, maka tubuhnya kembali mencelat ke depan dan
kakinya bergerak menendang ke arah kepala Sariwuni untuk memberi pukulan maut
terakhir.
"Desss ........ !"
Kini tubuh Endang Patibrpto yang terpental ke belakang dan kakinya terasa nyeri
hampir lumpuh. Kiranya tendangan tadi telah ditangkis oleh sebuah lengan tangan
berbulu yang kulitnya kemerahan. Endang Patibroto cepat berdiri tegak memandang
penuh perhatian. Orang yang menolong Sariwuni itu adalah seorang kakek tinggi
kurus bermuka merah sekali, rambutnya panjang putih terurai dan pakaiannya
terbuat dari kain berwarna merah darah!
"Hoah-hah-ha-ha! Inikah
puteri yang bernama Endang Patibroto, murid dari Dibyo
Mamangkoro?...buruk....!” Kakek itu lalu memegang lengan tangan Sariwuni yang
terluka dan sekali menggosoknya dengan telapak tangan kiri, sembuhlah dan
lenyaplah rasa panas.
"Wuni cah-ayu, lenganmu
tidak apa-apa, sekarang lebih baik kau membantu anak buahmu itu yang
terdesak," kata kakek itu lalu menggunakan tangannya meraba pinggul
Sariwuni, membelai dan mendorongnya. Sariwuni terkekeh genit lalu berlari untuk
membantu anak buahnya yang kocar-kacir.
"Kakanda, lihat siapa
itu .....” Tiba-tiba Ayu Candra berbisik dengan suara menggetar. Tejolaksono
cepat menoleh dan terkejutlah ia ketika melihat pendeta berjubah merah itu yang
bukan lain adalah Wasi Bagaspati!
"Ah, Endang Patibroto
terancam bahaya. Mari kita bantu .... !" ia lalu meloncat turun dari
kudanya, diikuti Ayu Candra, merobohkan dua orang pengeroyok lalu berlari
menghampiri Endang Patibroto yang masih berdiri tegak di depan Wasi Bagaspati.
Tejolaksono kini berdiri di sebelah kanan Endang Patibroto sedangkan Ayu Candra
berdiri di sebelah kanannya.
"Wasi Bagaspati!
Kiranya andika yang menghadang perjalanan kami ke Jenggala," kata
Tejolaksono.
"Ada maksud apakah
menghadang perjalanan kami?"
"Ha-ha-ha, andika
Tejolaksono, dahulu Adipati Selopenangkep dan sekarang kabarnya menjadi patih
muda di Panjalu, bukan? Sebagai patih di Panjalu, mau apa gentayangan dan
berkeliaran di daerah Jenggala? Andika melanggar tapal batas, harus ditangkap.
Ha-ha-ha!"
"Wasi Bagaspati! Sejak
kapan andika menjadi penjaga tapal batas?" Tejolaksono berseru keras.
"Kakangmas, perlu apa
banyak bicara dengan raksasa tua bangka ini? Hantam saja!" Endang
Patibroto sudah menerjang maju lagi, kini gerakannya hati-hati sekali karena ia
maklum bahwa yang ia hadapi adalah lawan yang benar-benar amat sakti. Ia
menerjang sambil mengerahkan Aji Bayu Tantra agar tubuhnya menjadi ringan dan
gerakannya menjadi cepat, dan ia mengerahkan ajinya Pethit Nogo untuk menampar
ke arah dada Sang Wasi Bagaspati. Keras sekali tamparan tangan itu, namun kakek
bermuka merah itu hanya tertawa-tawa, sama sekali tidak mengelak dan menerima
tamparan Aji Pethit Nogo dengan dadanya yang bidang.
"Plakkkk!!" Endang
Patibroto merasa betapa jari-jari tangannya bertemu dengan getaran hawa yang
kuat, yang melumpuhkan ajinya Pethit Nogo dan pada detik berikutnya ia berseru
keras sambil melesat pergi karena hampir saja pundaknya kena dicengkeram oleh
tangan Wasi Bagaspati yang sengaja menerima pukulan sambil berusaha menangkap
Endang Patibroto.
Tejolaksono juga kaget
menyaksikan betapa pukulan Endang Patibroto sedemikian ampuhnya sehingga jarang
sekali ada tokoh yang akan mampu menerima pukulan Pethit Nogo kini ternyata
tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap Wasi Bagaspati, cepat melambung
tinggi dan menerjang dari atas. Ia mengerahkan aji keringanan tubuh Bayu Sakti
dan dari atas ia menukik turun ke bawah dengan pukulan Bojro Dahono, mengarah
ubun-ubun kepala Wati Bagaspati! Pada saat yang hampir berbareng dengan
serangan Tejolaksono, kedua orang isterinya pun sudah menerjang maju. Ayu
Candra kini mencabut keris pusakanya dan menyerang dengan tusukan ke arah Wasi
Bagaspati, sedangkan Endang Patibroto menggunakan aji pukulan Wisangnolo, kini
yang dipukul adalah tenggorokan lawan untuk mematahkan batang lehernya!
Menghadapi
tiga serangan yang mematikan ini, yang amat berbahaya kalau dilawan dengan
kekebalan karena yang diserang adalah bagian-bagian paling lemah, Wasi Bagaspati
menjadi terkejut juga. Tadinya ia hendak menyambar lengan Tejolaksono dan
sekaligus menangkapnya, akan tetapi keris yang menuju matanya dan pukulan panas
yang mengarah tenggorokannya bukanlah hal yang boleh dipandang rendah begitu
saja.
No comments:
Post a Comment