Terpaksa ia menangkis saja pukulan Tejolaksono, menggeser kaki belakang dan miringkan tubuh menghindarkan serangan dua orang wanita sakti itu. Akan tetapi begitu ia terhindar dari serangan pertama, ketiga orang pengeroyoknya sudah menerjang lagi dengan serangan yang lebih hebat dan berbahaya. Tejolaksono yang pernah bertanding dengan kakek sakti ini di lereng Merapi di depan Ki Tunggaljiwa dan hampir saja tewas, teringat akan nasehat Ki Tunggaljiwa kemudian bahwa biarpun dalam hal ilmu kedigdayaan kakek ini tidaklah terlalu banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri, akan tetapi dalam hal kekuatan batin ia kalah jauh dan ia harus mempergunakan aji kesaktian ! Triwikromo untuk menentang pengaruh mujijat yang keluar dart batin Sang Wasi Bagaspati. Kini Tejolaksono mengeluarkan suara menggereng keras yang menggetarkan seisi hutan dan ia sudah mengerahkan aji kesaktian Triwikromo. Aji kesaktian ini dahulu dipelajari oleh Tejolaksono dari mendiang Sang Prabu Airlangga yang telah mengundurkah diri menjadi pertapa dengan sebutan Sang Resi Jentayu ayau Sang Bhagawan Jatinendra. Aji ini mendatangkan wibawa yang amat hebat dan sekiranya lawan yang menghadapinya bukan Wasi Bagaspati tentu telah luluh dan lemah segala nafsu perlawanannya. Tejolaksono kini menerjang maju dan menyerang bawah pusar lawan dengan gerakan silat Kukilo Sakti. Adapun Endang Patibroto yang maklum pula akan kehebatan lawan, berturut-turut tecepat kilat melepaskan tujuh batang panah tangah beracun yang diluncurkah ke arah tujuh bagian lemah dari tubuh Wasi Bagaspati, kemudian ia mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo dan menghantam dari belakang mengarah tengkuk.
Ayu Candra bukan seorang
lemah dan dia telah mewarisi segala ilmu dan aji kesaktian dari ayahnya, Ki
Adibroto, seorang tokoh warok Ponorogo aliran putih, dan di samping itu, telah
banyak pula ia mendapat bimbingan suaminya. Namun dalam menghadapi Wasi
Bagaspati ini, Ayu Candra maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih terlalu rendah.
Begitu ia melihat suaminya menyerahkan Aji Triwikromo dan mendengar Endang
Patibroto mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo yang membuat kedua kakinya sendiri
sampai menggigil, Ayu Candra lalu mundur dan menyaksikan pertandingan dahsyat
itu dari pinggir gelanggang pertandingan. Ketika ia menengok ke kiri, ke arah
pertempuran antara para pengawal dan anak buah Sariwuni, ia terkejut sekali
karena semua pengawal telah menggeletak tewas, pertempuran telah terhenti,
Sariwuni dan sisa pasukannya juga sedang menonton pertandingan dahsyat antara
Wasi Bagaspati yang dikeroyok dua oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Wasi Bagaspati juga terkejut
bukan main ketika ia melihat pengaruh wibawa yang tiba-tiba mencuat keluar dan
tubuh Tejolaksono! Wibawa yang begitu kuatnya sehingga ketika ia memandangnya,
jantungnya tergetar hebat dan isi dadanya terguncang. Cepat kakek sakti itu
menggereng dan setelah ia dapat mengatasi wibawa Aji Triwikromo, lenyaplah
guncangan hebat dalam dadanya. Cepat ia menggerakkan tangan menagkis pukulan
Tejolaksono yang mengarah bawah pusar, dan sekali ini keduanya terdorong
mundur. Pada saat itu terdengar bunyi berciutan nyaring sekali, yaitu saat
meluncurnya tujuh batang panah tangan yang dilepas oleh Endang Patibroto. Panah
tangan yang merupakan anak panah kecil dan cara mempergunakannya adalah
disambitkan dan disentil dengan jari tangan dengan dorongan tenaga sakti itu
ujungnya sudah direndam racun. Kini dilepas dari jarak dekat oleh Endang
Patibroto, menuju ke arah tujuh bagian tubuh yang berbahaya.
"Cet-cet-cet-cet-cet-cet-cet
……..!!!” Anak panah itu datangnya beruntun susul-menyusul.
Yang dua pertama meluncur ke
arah sepasang lutut kaki Wasi Bagaspati dan dapat ditendang runtuh oleh kakek
sakti itu. Panah ke tiga dan ke empat yang menyerang pusat dan ulu hati ia terima
begitu saja dan dua batang anak panah itu runtuh, tak dapat membikin lecet
sedikitpun tubuhnya yang dilindungi kekebalan. Anak panah ke lima meluncur ke
tenggorokan, sedangkan yang ke enam dan ke tujuh terbang meluncur ke arah
sepasang matanya. Wasi Bagaspati menggereng marah, merendahkan kepala sehingga
anak panah yang menusuk tenggorokannya kini menusuk mulutnya. ia membuka mulut
dan "menangkap" anak panah itu dengan bibirnya, sedangkan kedua
tangannya menyambar dua batang anak panah yang tadi menyerang sepasang matanya.
Pada saat itu, pukulan ke arah tengkuk yang dilakukan Endang Patibroto yang
memekikkan Aji Sardulo Bairowo sudah tiba. Wasi Bagaspati secara tiba-tiba
membanting tubuhnya kekanan dan terus bergulingan di atas tanah. Gerakan ini
membuat terjangan Endang Patibroto gagal dan tiba-tiba tampak tiga sinar
menyambar ke arah Endang Patibroto, Tejolaksono dan Ayu Candra yang sedang
berdiri menonton. Itulah tiga buah anak panah yang tadi terampas oleh Wasi
Bagaspati. Tejolaksono dan Endang Patibroto cepat menggunakan Aji Pethit Nogo,
memukul runtuh anak panah itu, sedangkan Ayu Candra yang sama sekali tidak
mengira akan diserang dengan anak panah, menjadi kaget dan hampir saja menjadi
korban kalau ia tidak cepat-cepat meloncat ke belakang sampai terhuyung-huyung.
Masih untung baginya bahwa anak panah yang dipakai menyerangnya adalah anak
panah yang tadi digigit Wasi Bagaspati dan dipergunakan menyerangnya dengan
cara ditiupkan sehingga tenaga luncurannya tidaklah sehebat dua batang yang
disambitkan kakek itu.
"Huah-ha-ha, kalian
belum menyerah? Mau melihat kesaktian Wasi Bagaspati? Hemmm ... masih belum
terlambat untuk menyerah menjadi tawananku, Patih Tejolaksono!" Biarpun di
mulut kakek ini mentertawakan, namun di dalam hatinya ia mendongkol dan penasaran
sekali mengapa dia, seorang tokoh besar yang selamanya tak pernah terkalahkan,
yang telah mengorbankan waktu dan ketekunan selama puluhan tahun untuk mengejar
ilmu, yang kini menganggap bahwa aji kesaktiannya akan dapat mengalahkan dewa,
sekarang melawan dua orang yang baginya merupakan tokoh-tokoh muda ini, dia
selalu didesak dan belum dapat balas menyerang! Harus ia akui bahwa Tejolaksono
dan Endang Patibroto merupakan sepasang lawan yang hebat sekali, karena mereka
itu dapat bekerja sama dalam penyerangan-penyerangan yang dahsyat. Ingin ia
mengeluarkan jimat pusakanya, yaitu senjata Cakra. Akan tetapi ia merasa
sungkan kalau harus mempergunakan pusakanya itu hanya untuk menghadapi dua
orang lawan muda. Maka ia mengeluarkan gertakan karena kalau mereka ini suka
menyerah, tidak perlu ia mengeluarkan aji-aji yang selama ini menjadi ilmu
simpanan untuk dipergunakan melawan musuh yang seimbang.
"Sang Wasi Bagaspati!
Andika mewakili negara asing yang hendak menjajah, yang berarti mewakili
angkara murka, sedangkan kami berjuang untuk membela nusa bangsa yang berarti
mewakili kebenaran. Mungkinkah kebenaran harus menyerah dan tunduk terhadap
angkara murka? Tidak, Sang Wasi. Kami akan melawan terus karena yakin bahwa
akhirnya kebenaranlah yang akan menang!"
"Babo-babo, tidak
mendengar kata-kata halus andika, Tejolaksono. Nah, majulah, dan rasakan
kesaktian Wasi Bagaspati!"
"Pendeta palsu dukun
lepus, siapa sudi mendengar obrolanmu?"
Endang Patibroto membentak
sambil menghunus keris pusakanya. Tejolaksono juga sudah mengeluarkan keris
Megantoro dan kedua suami isteri ini lalu menerjang maju dari depan, arah kanan
kiri.
Tiba-tiba Wasi Bagaspati
mengeluarkan pekik melengking dan kedua kakinya menggedrug (menjejak) tanah.
Tanah seolah-olah tergetar hebat di bawah kaki Endang Patibroto dan
Tejolaksono, membuat mereka seperti lumpuh seketika dan tubuh mereka terguling!
Wasi Bagaspati menubruk dengan kedua tangan mengirim pukulan ke arah kepala dua
orang lawannya yang sudah roboh terguling.
"Dess! Desss!!"
Debu mengebul ketika tanah dihantam kedua tangan Wasi Bagaspati, sedangkan
Endang Patibroto dan Tejolaksono sudah melesat pergi mengelak karena begitu
tubuh mereka terbanting, mereka mempergunakan tangan menekan tanah dan
meloncat. Tejolaksono dan Endang Patibroto terkejut. Mereka maklum bahwa ilmu
yang dikeluarkan oleh Wasi Bagaspati itu adalah sejenis dengan aji-aji mereka
Sardulo Bairowo dan Dirodo Meta, akan tetapi yang jauh lebih kuat karena memang
kakek itu memiliki kekuatan batin yang luar biasa. Selagi mereka berpikir
bagaimana harus menghadapi ilmu yang dahsyat itu, Wasi Bagaspati yang merasa
penasaran karena serangannya gagal, kembali melompat dekat dan menjejak bumi
sambil melengking seperti tadi. Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah
siap itu mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuh, namun percuma karena
kaki mereka tergetar hebat dan seketika mereka terguling lagi seperi tadi!
Segumpal sinar hitam seperti asap menyambar ke arah tubuh Tejolaksono dan
Endang Patibroto. Keduanya terkejut dan hendak mengelak, namun mereka roboh
kembali karena gerakan mereka terhalang oleh sebuah jala hitam yang amat tipis
namun yang mempunyai kekuatan melebihi benang-benang baja! Mereka
meronta-ronta, namun dengan gerakan tangannya Wasi Bagaspati yang tertawa-tawa itu
membuat jala makin menyempit sehingga akhirnya Tejolaksono dan Endang Patibroto
meringkuk dan terjepit menjadi satu tak mampu bergerak lagi.
"Pendeta keparat
lepaskan mereka!" Ayu Candra melompat ke depan dan menggunakan keris
menyerang, akan tetapi dengan tangan kanan memegang ujung jala Wasi Bagaspati
mengangkat tangan kirinya, menyampok tangan Ayu Candra yang memegang keris
sehingga senjata itu terpental jauh dan sekali kakek itu mengibaskan tangan
kirinya menyentuh pangkal telinga Ayu Candra, isteri Patih Tejolaksono ini
terbanting dalam keadaan pingsan.
"Huah-ha-ha,
orang-orang muda kalau tidak dibunuh, kelak akan merepotkan saja!"
Kakek itu sudah mengangkat
tangan kirinya ke atas dengan jari-jari terbuka dan membentuk cakar harimau,
siap digerakan turun mencengkeram kepala dua orang tangkapannya yang sudah tak
dapat membela diri itu.
"Kakanda Wasi jangan
bunuh mereka!" Tiba-tiba Sariwuni meloncat maju dan berteriak mencegah.
Memang lucu dan janggal kedengarannya kalau Sariwuni yang masih kelihatan cantik
dan muda itu menyebut "kakanda" kepada Wasi Bagaspati yang sudah tua
renta, lebih seratus tahun usianya itu. Memang, Wasi Bagaspati ini selain sakti
mandraguna, juga mempunyai watak romantis sehingga setiap orang wanita yang
menjadi pelayan nafsunya selalu diharuskan menyebutnya kakanda!
"Heh, mengapa kau
berani mencegahku, Sariwuni?" Wasi Bagaspati mengerutkan keningnya dan
suaranya tergetar tak senang.
"Malam ini bulan
purnama, dan mereka bertiga itu bukan orang-orang sembarangan sehingga akan
menjadi korban yang amat berharga untuk Sang Dewi Bathari .......” Sariwuni
tersenyum manis dan kerlingnya menyambar ke arah Tejolaksono dalam jala itu.
Sejenak Wasi Bagaspati
meragu, kemudian tertawa. "Ha-ha-ha-ha! Engkau ini makin mata keranjang
saja, Sariwuni! Engkau ingin menikmati pria tampan ini sebelum dia dibunuh?
Baiklah, membunuh mereka besok pagi juga belum terlambat!"
"Hamba hanya
mendapatkan seorang, akan tetapi bukankah Kakanda Wasi mendapatkan dua
orang?" jawab Sariwuni sambil melirik ke arah Endang Patibroto yang
meringkuk seperti ikan di dalam jala dan tubuh Ayu Candra yang masih rebah
pingsan di atas rumput. Ucapan ini disambut tertawa bergelak oleh Wasi
Bagaspati. Sariwuni lalu mengatur anak buahnya untuk membawa teman-teman yang
terluka dan yang tewas, kemudian mereka meninggalkan lima belas buah mayat para
pengawal Panjalu, tidak tahu bahwa seorang di antara mereka masih belum tewas
sehingga dapat memberi tahu tentang tertawannya Tejolaksono dan dua orang
isterinya yang dibawa ke puncak gunung yang tampak dari hutan itu. Pangeran
Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini menjadi gelisah sekali
setelah mendengar pesan prajurit itu. Hanya Bagus Seta yang tetap tenang,
kemudian tanpa banyak bicara pemuda remaja ini lalu menggali lubang dan
mengubur kelima belas sosok mayat para pengawal Panjalu itu. Melihat ini, tentu
saja Joko Pramono, bahkan Pangeran Panji Sigit sendiri bergegas membantu, juga
kedua orang bibi muda itu. Mereka terpaksa menekan perasaan gelisah mereka
melihat sikap Bagus Seta yang tenang itu, dan mereka percaya penuh bahwa pemuda
remaja itu akan dapat menanggulangi segala lawan dan mengatasi segala
kesulitan.
Malam itu
tenang bulan dan kebetulan sekali angkasa bersih dan cerah, tidak tampak
sedikitpun awan sehingga bulan tersenyum-senyum bebas menyinarkan cahayanya
yang keemasan. Di puncak gunung kecil di luar hutan itu terjadilah pesta yang
luar biasa. Puncak gunung ini merupakan tempat peristirahatan sementara dari
Wasi Bagaspati yang ditemani oleh Sariwuni dan sejumlah anak buahnya sebanyak
kurang lebih lima puluh orang. Atas permintaan Sariwuni, tiga orang tawanan
itu, Tejolaksono, Endang Patibroto dan Ayu Candra, tidak dibunuh oleh Sang Wasi
Bagaspati. Dengan ilmu kepandaiannya, mudah saja bagi Wasi Bagaspati untuk
membuat Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah tak dapat bergerak di dalam
jala itu roboh pingsan, kemudian bersama Ayu Candra yang juga sudah pingsan,
mereka bertiga dibawa naik ke puncak pegunungan itu dan dalam keadaan pingsan
itu mereka bertiga diberi minum secara paksa oleh Sariwuni. Minuman itu adalah
minuman yang mengandung racun perampas ingatan dan mengandung daya rangsang
yang amat luar biasa. Kemudian tiga orang yang masih pingsan itu direbahkan di
atas panggung yang terbuat daripada kayu dan bambu.
No comments:
Post a Comment