Perawan Lembah Wilis; Bagian 162


Terpaksa ia menangkis saja pukulan Tejolaksono, menggeser kaki belakang dan miringkan tubuh menghindarkan serangan dua orang wanita sakti itu. Akan tetapi begitu ia terhindar dari serangan pertama, ketiga orang pengeroyoknya sudah menerjang lagi dengan serangan yang lebih hebat dan berbahaya. Tejolaksono yang pernah bertanding dengan kakek sakti ini di lereng Merapi di depan Ki Tunggaljiwa dan hampir saja tewas, teringat akan nasehat Ki Tunggaljiwa kemudian bahwa biarpun dalam hal ilmu kedigdayaan kakek ini tidaklah terlalu banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri, akan tetapi dalam hal kekuatan batin ia kalah jauh dan ia harus mempergunakan aji kesaktian ! Triwikromo untuk menentang pengaruh mujijat yang keluar dart batin Sang Wasi Bagaspati. Kini Tejolaksono mengeluarkan suara menggereng keras yang menggetarkan seisi hutan dan ia sudah mengerahkan aji kesaktian Triwikromo. Aji kesaktian ini dahulu dipelajari oleh Tejolaksono dari mendiang Sang Prabu Airlangga yang telah mengundurkah diri menjadi pertapa dengan sebutan Sang Resi Jentayu ayau Sang Bhagawan Jatinendra. Aji ini mendatangkan wibawa yang amat hebat dan sekiranya lawan yang menghadapinya bukan Wasi Bagaspati tentu telah luluh dan lemah segala nafsu perlawanannya. Tejolaksono kini menerjang maju dan menyerang bawah pusar lawan dengan gerakan silat Kukilo Sakti. Adapun Endang Patibroto yang maklum pula akan kehebatan lawan, berturut-turut tecepat kilat melepaskan tujuh batang panah tangah beracun yang diluncurkah ke arah tujuh bagian lemah dari tubuh Wasi Bagaspati, kemudian ia mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo dan menghantam dari belakang mengarah tengkuk.

Ayu Candra bukan seorang lemah dan dia telah mewarisi segala ilmu dan aji kesaktian dari ayahnya, Ki Adibroto, seorang tokoh warok Ponorogo aliran putih, dan di samping itu, telah banyak pula ia mendapat bimbingan suaminya. Namun dalam menghadapi Wasi Bagaspati ini, Ayu Candra maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih terlalu rendah. Begitu ia melihat suaminya menyerahkan Aji Triwikromo dan mendengar Endang Patibroto mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo yang membuat kedua kakinya sendiri sampai menggigil, Ayu Candra lalu mundur dan menyaksikan pertandingan dahsyat itu dari pinggir gelanggang pertandingan. Ketika ia menengok ke kiri, ke arah pertempuran antara para pengawal dan anak buah Sariwuni, ia terkejut sekali karena semua pengawal telah menggeletak tewas, pertempuran telah terhenti, Sariwuni dan sisa pasukannya juga sedang menonton pertandingan dahsyat antara Wasi Bagaspati yang dikeroyok dua oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Wasi Bagaspati juga terkejut bukan main ketika ia melihat pengaruh wibawa yang tiba-tiba mencuat keluar dan tubuh Tejolaksono! Wibawa yang begitu kuatnya sehingga ketika ia memandangnya, jantungnya tergetar hebat dan isi dadanya terguncang. Cepat kakek sakti itu menggereng dan setelah ia dapat mengatasi wibawa Aji Triwikromo, lenyaplah guncangan hebat dalam dadanya. Cepat ia menggerakkan tangan menagkis pukulan Tejolaksono yang mengarah bawah pusar, dan sekali ini keduanya terdorong mundur. Pada saat itu terdengar bunyi berciutan nyaring sekali, yaitu saat meluncurnya tujuh batang panah tangan yang dilepas oleh Endang Patibroto. Panah tangan yang merupakan anak panah kecil dan cara mempergunakannya adalah disambitkan dan disentil dengan jari tangan dengan dorongan tenaga sakti itu ujungnya sudah direndam racun. Kini dilepas dari jarak dekat oleh Endang Patibroto, menuju ke arah tujuh bagian tubuh yang berbahaya.
"Cet-cet-cet-cet-cet-cet-cet ……..!!!” Anak panah itu datangnya beruntun susul-menyusul.
Yang dua pertama meluncur ke arah sepasang lutut kaki Wasi Bagaspati dan dapat ditendang runtuh oleh kakek sakti itu. Panah ke tiga dan ke empat yang menyerang pusat dan ulu hati ia terima begitu saja dan dua batang anak panah itu runtuh, tak dapat membikin lecet sedikitpun tubuhnya yang dilindungi kekebalan. Anak panah ke lima meluncur ke tenggorokan, sedangkan yang ke enam dan ke tujuh terbang meluncur ke arah sepasang matanya. Wasi Bagaspati menggereng marah, merendahkan kepala sehingga anak panah yang menusuk tenggorokannya kini menusuk mulutnya. ia membuka mulut dan "menangkap" anak panah itu dengan bibirnya, sedangkan kedua tangannya menyambar dua batang anak panah yang tadi menyerang sepasang matanya. Pada saat itu, pukulan ke arah tengkuk yang dilakukan Endang Patibroto yang memekikkan Aji Sardulo Bairowo sudah tiba. Wasi Bagaspati secara tiba-tiba membanting tubuhnya kekanan dan terus bergulingan di atas tanah. Gerakan ini membuat terjangan Endang Patibroto gagal dan tiba-tiba tampak tiga sinar menyambar ke arah Endang Patibroto, Tejolaksono dan Ayu Candra yang sedang berdiri menonton. Itulah tiga buah anak panah yang tadi terampas oleh Wasi Bagaspati. Tejolaksono dan Endang Patibroto cepat menggunakan Aji Pethit Nogo, memukul runtuh anak panah itu, sedangkan Ayu Candra yang sama sekali tidak mengira akan diserang dengan anak panah, menjadi kaget dan hampir saja menjadi korban kalau ia tidak cepat-cepat meloncat ke belakang sampai terhuyung-huyung. Masih untung baginya bahwa anak panah yang dipakai menyerangnya adalah anak panah yang tadi digigit Wasi Bagaspati dan dipergunakan menyerangnya dengan cara ditiupkan sehingga tenaga luncurannya tidaklah sehebat dua batang yang disambitkan kakek itu.

"Huah-ha-ha, kalian belum menyerah? Mau melihat kesaktian Wasi Bagaspati? Hemmm ... masih belum terlambat untuk menyerah menjadi tawananku, Patih Tejolaksono!" Biarpun di mulut kakek ini mentertawakan, namun di dalam hatinya ia mendongkol dan penasaran sekali mengapa dia, seorang tokoh besar yang selamanya tak pernah terkalahkan, yang telah mengorbankan waktu dan ketekunan selama puluhan tahun untuk mengejar ilmu, yang kini menganggap bahwa aji kesaktiannya akan dapat mengalahkan dewa, sekarang melawan dua orang yang baginya merupakan tokoh-tokoh muda ini, dia selalu didesak dan belum dapat balas menyerang! Harus ia akui bahwa Tejolaksono dan Endang Patibroto merupakan sepasang lawan yang hebat sekali, karena mereka itu dapat bekerja sama dalam penyerangan-penyerangan yang dahsyat. Ingin ia mengeluarkan jimat pusakanya, yaitu senjata Cakra. Akan tetapi ia merasa sungkan kalau harus mempergunakan pusakanya itu hanya untuk menghadapi dua orang lawan muda. Maka ia mengeluarkan gertakan karena kalau mereka ini suka menyerah, tidak perlu ia mengeluarkan aji-aji yang selama ini menjadi ilmu simpanan untuk dipergunakan melawan musuh yang seimbang.
"Sang Wasi Bagaspati! Andika mewakili negara asing yang hendak menjajah, yang berarti mewakili angkara murka, sedangkan kami berjuang untuk membela nusa bangsa yang berarti mewakili kebenaran. Mungkinkah kebenaran harus menyerah dan tunduk terhadap angkara murka? Tidak, Sang Wasi. Kami akan melawan terus karena yakin bahwa akhirnya kebenaranlah yang akan menang!"
"Babo-babo, tidak mendengar kata-kata halus andika, Tejolaksono. Nah, majulah, dan rasakan kesaktian Wasi Bagaspati!"
"Pendeta palsu dukun lepus, siapa sudi mendengar obrolanmu?"
Endang Patibroto membentak sambil menghunus keris pusakanya. Tejolaksono juga sudah mengeluarkan keris Megantoro dan kedua suami isteri ini lalu menerjang maju dari depan, arah kanan kiri.
Tiba-tiba Wasi Bagaspati mengeluarkan pekik melengking dan kedua kakinya menggedrug (menjejak) tanah. Tanah seolah-olah tergetar hebat di bawah kaki Endang Patibroto dan Tejolaksono, membuat mereka seperti lumpuh seketika dan tubuh mereka terguling! Wasi Bagaspati menubruk dengan kedua tangan mengirim pukulan ke arah kepala dua orang lawannya yang sudah roboh terguling.
"Dess! Desss!!" Debu mengebul ketika tanah dihantam kedua tangan Wasi Bagaspati, sedangkan Endang Patibroto dan Tejolaksono sudah melesat pergi mengelak karena begitu tubuh mereka terbanting, mereka mempergunakan tangan menekan tanah dan meloncat. Tejolaksono dan Endang Patibroto terkejut. Mereka maklum bahwa ilmu yang dikeluarkan oleh Wasi Bagaspati itu adalah sejenis dengan aji-aji mereka Sardulo Bairowo dan Dirodo Meta, akan tetapi yang jauh lebih kuat karena memang kakek itu memiliki kekuatan batin yang luar biasa. Selagi mereka berpikir bagaimana harus menghadapi ilmu yang dahsyat itu, Wasi Bagaspati yang merasa penasaran karena serangannya gagal, kembali melompat dekat dan menjejak bumi sambil melengking seperti tadi. Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah siap itu mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuh, namun percuma karena kaki mereka tergetar hebat dan seketika mereka terguling lagi seperi tadi! Segumpal sinar hitam seperti asap menyambar ke arah tubuh Tejolaksono dan Endang Patibroto. Keduanya terkejut dan hendak mengelak, namun mereka roboh kembali karena gerakan mereka terhalang oleh sebuah jala hitam yang amat tipis namun yang mempunyai kekuatan melebihi benang-benang baja! Mereka meronta-ronta, namun dengan gerakan tangannya Wasi Bagaspati yang tertawa-tawa itu membuat jala makin menyempit sehingga akhirnya Tejolaksono dan Endang Patibroto meringkuk dan terjepit menjadi satu tak mampu bergerak lagi.

"Pendeta keparat lepaskan mereka!" Ayu Candra melompat ke depan dan menggunakan keris menyerang, akan tetapi dengan tangan kanan memegang ujung jala Wasi Bagaspati mengangkat tangan kirinya, menyampok tangan Ayu Candra yang memegang keris sehingga senjata itu terpental jauh dan sekali kakek itu mengibaskan tangan kirinya menyentuh pangkal telinga Ayu Candra, isteri Patih Tejolaksono ini terbanting dalam keadaan pingsan.
"Huah-ha-ha, orang-orang muda kalau tidak dibunuh, kelak akan merepotkan saja!"
Kakek itu sudah mengangkat tangan kirinya ke atas dengan jari-jari terbuka dan membentuk cakar harimau, siap digerakan turun mencengkeram kepala dua orang tangkapannya yang sudah tak dapat membela diri itu.
"Kakanda Wasi jangan bunuh mereka!" Tiba-tiba Sariwuni meloncat maju dan berteriak mencegah. Memang lucu dan janggal kedengarannya kalau Sariwuni yang masih kelihatan cantik dan muda itu menyebut "kakanda" kepada Wasi Bagaspati yang sudah tua renta, lebih seratus tahun usianya itu. Memang, Wasi Bagaspati ini selain sakti mandraguna, juga mempunyai watak romantis sehingga setiap orang wanita yang menjadi pelayan nafsunya selalu diharuskan menyebutnya kakanda!
"Heh, mengapa kau berani mencegahku, Sariwuni?" Wasi Bagaspati mengerutkan keningnya dan suaranya tergetar tak senang.
"Malam ini bulan purnama, dan mereka bertiga itu bukan orang-orang sembarangan sehingga akan menjadi korban yang amat berharga untuk Sang Dewi Bathari .......” Sariwuni tersenyum manis dan kerlingnya menyambar ke arah Tejolaksono dalam jala itu.
Sejenak Wasi Bagaspati meragu, kemudian tertawa. "Ha-ha-ha-ha! Engkau ini makin mata keranjang saja, Sariwuni! Engkau ingin menikmati pria tampan ini sebelum dia dibunuh? Baiklah, membunuh mereka besok pagi juga belum terlambat!"
"Hamba hanya mendapatkan seorang, akan tetapi bukankah Kakanda Wasi mendapatkan dua orang?" jawab Sariwuni sambil melirik ke arah Endang Patibroto yang meringkuk seperti ikan di dalam jala dan tubuh Ayu Candra yang masih rebah pingsan di atas rumput. Ucapan ini disambut tertawa bergelak oleh Wasi Bagaspati. Sariwuni lalu mengatur anak buahnya untuk membawa teman-teman yang terluka dan yang tewas, kemudian mereka meninggalkan lima belas buah mayat para pengawal Panjalu, tidak tahu bahwa seorang di antara mereka masih belum tewas sehingga dapat memberi tahu tentang tertawannya Tejolaksono dan dua orang isterinya yang dibawa ke puncak gunung yang tampak dari hutan itu. Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini menjadi gelisah sekali setelah mendengar pesan prajurit itu. Hanya Bagus Seta yang tetap tenang, kemudian tanpa banyak bicara pemuda remaja ini lalu menggali lubang dan mengubur kelima belas sosok mayat para pengawal Panjalu itu. Melihat ini, tentu saja Joko Pramono, bahkan Pangeran Panji Sigit sendiri bergegas membantu, juga kedua orang bibi muda itu. Mereka terpaksa menekan perasaan gelisah mereka melihat sikap Bagus Seta yang tenang itu, dan mereka percaya penuh bahwa pemuda remaja itu akan dapat menanggulangi segala lawan dan mengatasi segala kesulitan.

Malam itu tenang bulan dan kebetulan sekali angkasa bersih dan cerah, tidak tampak sedikitpun awan sehingga bulan tersenyum-senyum bebas menyinarkan cahayanya yang keemasan. Di puncak gunung kecil di luar hutan itu terjadilah pesta yang luar biasa. Puncak gunung ini merupakan tempat peristirahatan sementara dari Wasi Bagaspati yang ditemani oleh Sariwuni dan sejumlah anak buahnya sebanyak kurang lebih lima puluh orang. Atas permintaan Sariwuni, tiga orang tawanan itu, Tejolaksono, Endang Patibroto dan Ayu Candra, tidak dibunuh oleh Sang Wasi Bagaspati. Dengan ilmu kepandaiannya, mudah saja bagi Wasi Bagaspati untuk membuat Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah tak dapat bergerak di dalam jala itu roboh pingsan, kemudian bersama Ayu Candra yang juga sudah pingsan, mereka bertiga dibawa naik ke puncak pegunungan itu dan dalam keadaan pingsan itu mereka bertiga diberi minum secara paksa oleh Sariwuni. Minuman itu adalah minuman yang mengandung racun perampas ingatan dan mengandung daya rangsang yang amat luar biasa. Kemudian tiga orang yang masih pingsan itu direbahkan di atas panggung yang terbuat daripada kayu dan bambu.

<<< Bagian 161                                                                                      Bagian 163 >>>

No comments:

Post a Comment