Biasanya, pesta pemujaan Bathari Durgo ini dipimpin oleh Ni Dewi Nilamanik sebagai ketuanya, akan tetapi oleh karena Ni Dewi Nilamanik sedang berada di Kota Raja Jenggala memenuhi panggilan Ki Patih Warutama, maka pesta ini diwakili oleh Sariwuni. Minuman beracun yang dipergunakan Sariwuni itupun adalah milik Ni Dewi Nilamanik. Selain Sariwuni, di situ terdapat tujuh orang wanita cantik yang kesemuanya adalah murid-murid Ni Dewi Nilamanik dan yang berada di situ untuk bertugas membantu Sariwuni dalam melayani Wasi Bagaspati. Adapun yang lainnya, terdiri dari laki-laki dan wanita, hanyalah anak buah yang melakukan segala macam pekerjaan kasar melayani segenap kebutuhan dan keperluan sehari-hari, termasuk penjagaan dan kalau perlu bertempur menghadapi musuh.
Setelah bulan mulai
bersinar, pesta pemujaan Bathari Durgo pun dimulailah. Sebuah arca Bathari
Durgo diletakkan di atas panggung dan di sebelah kanannya duduklah Sang Wasi
Bagaspati di atas sebuah kursi. Sariwuni dan tujuh orang wanita yang kesemuanya
berpakaian tipis serba putih itu duduk bersimpuh di depan Wasi Bagaspati dan
arca Bathari Durgo. Karena tempat itu bukan menjadi pusat perkumpulan Agama
Bathari Durgo, bukan sebuah Durgoloka (Taman Bathari Durgo), maka upacara
pemujaan Bathari Durgo di waktu bulan purnama itu pun diadakan sederhana
sekali, tidak teperti kalau Ni Dewi Nilamanik yang memimpinnya, lengkap dengan
gamelan segala macam. Tidak ada gamelan di situ dan semua anak buah di situ
setelah mempersiapkan pesta makanan sederhana untuk Wasi Bagaspati, Sariwuni
dan tujuh orang murid Ni Dewi Nilamanik yang muda-muda dan cantik-cantik itu,
lalu berdiri mengelilingi panggung menonton.
Semenjak tadi, pandang mata
Wasi Bagaspati tertuju kepada tubuh Ayu Candra dan Endang Patibroto yang rebah
terlentang di atas panggung, di ujung kiri sedangkan di sudut kanan rebah tubuh
Tejolaksono. Mereka bertiga masih dalam keadaan pingsan, seperti tidur nyenyak.
Kemudian kakek itu mengangkat tangan kiri ke atas, tanda bahwa pesta boleh
dimulai. Melihat ini, Sariwuni memimpin tujuh orang wanita muda itu menyembah
di depan kaki Wasi Bagaspati, kemudian menghampiri arca Bathari Durgo dan
menyembah, lalu bertelungkup hampir tiarap di depan arca itu sambil menyebar
kembang setaman yang sudah disediakan di situ. Sariwuni lalu membakar dupa
harum yang mengepulkan asap putih yang baunya semerbak memenuhi udara di
sekeliling panggung. Setelah upacara penyembahan arca itu selesai, tujuh orang
wanita itu dipimpin oleh Sariwuni lalu bangkit berdiri, dan mulailah mereka itu
menari dengan iringan tepuk tangan mereka dan berkerincingnya gelang-gelang
yang dipasang pada kaki mereka. Tari-tarian itu biarpun hanya diiringi gamelan
tepuk tangan dan berkerincingnya gelang-gelang kaki, namun teratur dan amat
indah, sungguhpun gerakannya mengandung sifat-sifat yang merangsang berahi
dengan gerakan-gerakan pundak dan perut. Mereka menari berputaran di sekeliling
panggung dan Sariwuni merupakan penari yang terpandai dan yang paling indah
gerakannya. Makin lama bunyi tepuk tangan dan berkerincingnya gelang-gelang
kaki makin cepat pula dan makin liar. Sariwuni sendiri menari mendekati tubuh
Tejolaksono yang masih menggeletak terlentang dalam keadaan pingsan atau
mungkin juga tertidur nyenyak. Sariwuni mengitari tubuh Tejolaksono itu,
menari-nari dan makin lama makin merendah tubuhnya sampai akhirnya ia menari
sambil berjongkok mengelilingi Tejolaksono, jarijari tangannya yang
bergerak-gerak seperti ular-ular kecil itu merayap- rayap dan menyentuh-nyentuh
tubuh Tejolaksono, sepasang matanya makin lama makin bersinar penuh gairah.
Sementara itu, tujuh orang wanita masih bertepuk-tepuk tangan dan
menghentak-hentakkan kakinya untuk mencipta bunyi yang berirama untuk
mengiringi tari-tarian Sariwuni. Mereka bertujuh hanya berdiri dan
melenggang-lenggok tidak pindah dari tempatnya, berjajar menghadapi Wasi
Bagaspati. Wasi Bagaspati tersenyum-senyum, menggerak-gerakkan kepalanya
menurutkan irama tepukan tangan, sambil makan dan minum sajian yang dihidangkan
di dekatnya. Kemudian ia memandang ke arah Sariwuni yang menyentuh-nyentuh dada
dan leher Tejolaksono, kadang-kadang menundukkan muka didekatkan dengan muka
Tejolaksono seperti orang menimang-nimang. Perlahan-lahan Tejolaksono
menggerakkan bulu mata, lalu membuka matanya seperti orang dalam mimpi. Ia
bangkit perlahan, diikuti Sariwuni yang masih menari, dan ketika wanita itu
menarik tangannya, Tejolaksono bangkit berdiri dan ... mulai menari!
Wasi Bagaspati tertawa dan
bangkit lalu menghampiri tubuh Endang Patibroto dan Ayu Candra. Beberapa kali
ia meraba dan memijit tengkuk dua orang wanita itu yang kemudian siuman dari
pingsannya, bangkit berdiri dan perlahan-lahan mereka berdua inipun mulai
menari-nari menurutkan irama tepukan tangan dan berdencingnya gelang-gelang kaki.
Sambil tertawa gembira Wasi Bagaspati ikut pula bertepuk tangan dan kembali
duduk di atas kursinya.
"Aduhh.... untuk kedua
kalinya Pusporini menyaksikan hal yang mengerikan ini," bisik Joko
Pramono. Mereka berlima bersembunyi di tempat gelap dan hanya oleh cegahan
Bagus Seta saja empat orang itu tidak meloncat naik dan mengamuk di tempat itu.
Joko Pramono yang pernah diceritakan oleh Pusporini tentang pengalamannya
ketika ia ditawan oleh Ni Dewi Nilamanik, kini menyaksikan dengan mata sendiri
keadaan yang amat aneh dan yang pernah dialami oleh Pusporini. Dia merasa amat
heran, demikian pula Pusporini, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih melihat
betapa orang-orang sakti seperti Tejolaksono, Endang Patibroto dan Ayu Candra
dapat terpengaruh seperti itu, seperti manusia-manusia yang kehilangan pikiran!
Pusporini memandang dengan air mata bercucuran. Melihat rakandanya dan kedua
ayundanya berhal seperti itu, melihat mereka yang telah bertahun-tahun tak
dijumpainya, hatinya terharu bukan main. Kalau menurutkan hatinya, ingin ia
meloncat dan menyerbu, membebaskan tiga orang yang dihormati itu dari keadaan
mereka yang menyedihkan. Akan tetapi Bagus Seta tadi memberi isyarat agar
mereka jangan bergerak dan ketika ia melihat Wasi Bagaspati, mau tidak mau
tengkuknya meremang. Ia melihat jelas pengaruh yang hebat keluar dari sinar
mata kakek itu, dari gerak-geriknya. Dengan bukti tertawannya orang-orang sakti
seperti ayundanya Endang Patibroto dan rakandanya Tejolaksono, dapat
dibayangkan betapa saktinya kakek itu yang dapat ia duga tentulah Sang Wasi
Bagaspati. Maka ia menahan sabar dan menyerahkan keputusan dan pimpinan dalam
tangan Bagus Seta yang ia percaya akan dapat menanggulangi Wasi Bagaspati yang
mengerikan itu.
"Tanggalkan pakaian
mereka!" Tiba-tiba terdengar perintah keluar dari mulut Wasi Bagaspati.
Sariwuni sudah sibuk hendak membuka pakaian Tejolaksono yang masih menari-nari
seperti boneka hidup, sedangkan tujuh orang wanita lainnya telah menyerbu
Endang Patibroto dan Ayu Candra untuk menanggalkan pakaian mereka. Pekerjaan
ini mereka lakukan sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan genit.
Tiba-tiba terdengar bentakan
halus,
"Wanita-wanita sesat,
mundur kalian!” Dan Bagus Seta sudah meloncat ke atas panggung diikuti oleh
empat orang pengikutnya. Dengan tenang Bagus Seta mendorongkan tangannya dan
Sariwuni berikut tujuh orang itu terhuyung ke belakang dan akhirnya roboh ke
bawah panggung. Terdengar teriak-teriak panik dari anak buah Sariwuni yang
menonton, dan keadaan seketika menjadi geger. Bagus Seta mendekati Tejolaksono,
Ayu Candra dan Endang Patibroto. Ia menyembah lebih dulu sebelum mengusap wajah
mereka bertiga itu satu kali dengan telapak tangan kanannya dan seketika tiga
orang itu menjadi sadar, memandang terbelalak kepada Bagus Seta, Pangeran Panji
Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini.
"Bagus Seta ....!
Engkau .... engkau Bagus Seta.... !" Tiba-tiba Ayu Candra menjerit dan
wanita itu roboh pingsan dalam pelukan Pusporini yang cepat menerima tubuh
ayundanya yang pingsan saking kaget dan girang itu.
Tejolaksono merangkul
puteranya yang berlutut dan menyembahnya, akan tetapi karena maklum akan
keadaan yang gawat itu, Tejolaksono mengeraskan hatinya dan berbisik,
"Hati-hatilah, Nak. Dia
sakti sekali ....!! Bagus Seta mengangguk tenang.
"Kita gempur dia! Bagus
Seta, aku ibumu Endang Patibroto, mari kubantu engkau membasmi dukun lepus
ini!" bentak Endang Patibroto.
"Harap Ibunda serahkan
saja kepada hamba," kata Bagus Seta sambil tersenyum, kemudian ia bangkit
berdiri dan membalikkan tubuh melangkah maju menghadapi Wasi Bagaspati yang
memandang semua kejadian itu dengan mata merah saking marahnya, juga saking
herannya menyaksikan betapa seorang pemuda remaja dapat menyadarkan tiga orang
itu dari pengaruh racun perampas pikiran dan perangsang. Padahal kepandaian
seperti itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki tenaga
batin yang amat kuat, seperti dia sendiri misalnya. Dan cara pemuda itu
mendorong para wanita turun dari panggung tanpa melukai mereka, benar-benar
mengagumkan, menyatakan bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat
pula.
"Heh, bocah yang berani
mati. Siapa kah andika?"
"Sang Wasi Bagaspati,
namaku adalah Bagus Seta. Sang Patih Muda Panjalu Tejolaksono adalah
Ramandaku."
"Hemm, kulihat engkau
seorang muda yang telah memiliki sedikit kesaktian, agaknya engkau murid
seorang yang sakti. Ehhh ... sekarang aku ingat ..! Bukankah engkau bocah yang
dahulu bersama Bhagawan Ekadenta.. ?”
"Bapa guru, dia telah
melarikan empat orang tawanan Jenggala! itu mereka, mohon Bapa guru menangkap
mereka kembali!" Tiba-tiba terdengar suara lantang dan muncullah Cekel
Wisangkoro yang langsung melompat ke atas panggung.
Kembali Wasi Bagaspati
tertegun. Ia sudah mendengar kemajuan-kemajuan yang dicapai para murid dan anak
buahnya dalam penyelundupan ke Jenggala dan penanaman pengaruh ke istana. Kini
boleh dikata bahwa Jenggala telah berada di dalam telapak tangannya, tinggal
menggenggam saja. Jenggala kini telah menjadi sekutu yang sewaktu-waktu dapat
dipergunakan oleh negaranya untuk diajak menyerang kerajaan-kerajaan lain
seperti Panjalu dan lain-lain. Kalau usaha itu berhasil dan kelak seluruh
Jawa-dwipa telah dapat ditundukkan, tidak akan sukarlah untuk menentang raja
yang duduk di singgasana Jenggala dan Jawadwipa yang lohjinawi itu akan menjadi
milik Kerajaan Cola! Seringkali ia diam-diam menertawakan rekannya dari
Sriwijaya, Biku Janapati yang tidak tampak mendapatkan kemajuan apa-apa.
Akhir-akhir ini dengan girang ia mendengar akan ditawankan Pangeran Panji Sigit
dan tiga orang muda yang termasuk orang-orang bahaya bagi Jenggala. Maka kini
mendengar ucapan muridnya bahwa pemuda remaja yang luar biasa inipun sudah
membebaskan tawanan yang kini hadir pula di atas panggung, ia menjadi marah
bukan main.
Melihat munculnya Cekel
Wisangkoro, Tejolaksono yang maklum bahwa keadaan makin gawat, segera berkata
kepada Setyaningsih, Pusporini, Pangeran Panji Sigit, dan Joko Pramono,
"Kalian berempat
lakukanlah tugasmu, hadapi Cekel Wisangkoro, Sariwuni dan kaki tangannya. Aku
dan kedua ayundamu akan membantu Bagus Seta!" Biarpun keadaan gawat dan
menegangkan, akan tetapi jiwa kepemimpinan Tejolaksono tidak pernah tenggelam dan
dalam keadaan seperti itu ia dapat mengatur tugas dan membagi-baginya dengan
perhitungan masak. Ayu Candra yang sudah siuman kinipun sudah siap sedia
membantu puteranya, dan keharuan serta kebahagiaan yang datangnya demikian
tiba-tiba kini tak dapat ditumpahkan, hanya ditelan dan disimpan dalam rongga
dada, kini berdiri di dekat suaminya dan Endang Patibroto.
"Ha-ha-ha-ha! Tejolaksono,
jangan kau bergirang lebih dulu dengan adanya bantuan-bantuan yang tiba. Makin
banyak keluarga dan sekutumu berkumpul makin baiklah bagiku agar sekaligus aku
dapat membasmi penghalang-penghalang bagi tugasku!" Setelah berkata
demikian, Wasi Bagaspati lalu mengeluarkan suara gerengan seperti seekor
harimau kelaparan dan ia menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan.
Serangkum tenaga dahsyat menyambar ke depan. Pada saat itu juga, Pusporini yang
mendahului yang lain-lain setelah menerima perintah Tejolaksono, sudah
menerjang Cekel Wisangkoro dengan pukulan Pethit Nogo yang ampuh. Demikian
hebat terjangan dara perkasa ini sehingga tidak ada lain jalan bagi Cekel
Wisangkoro untuk menyelamatkan diri kecuali melompat turun dari atas panggung.
Pusporini mengejar dan melompat turun pula, diikuti oleh Joko Pramono, Pangeran
Panji Sigit, dan Setyaningsih. Mereka ini disambut oleh Cekel Wisangkoro,
Sariwuni dan tujuh orang murid-murid Ni Dewi Nilamanik, dibantu pula oleh anak
buah yang datang menyerbu dengan senjata tombak dan golok. Terjadilah
pertandingan campuh yang hebat di bawah panggung, di mana Pangeran Panji Sigit
dan tiga orang muda yang lain mengamuk.
Pukulan jarak jauh yang
dilakukan Wasi Bagaspati dengan jalan mendorongkan kedua lengannya amatlah
hebatnya. Berbeda ketika kakek ini menghadapi Tejolaksono bertiga
isteri-isterinya, sekali ini Wasi Bagaspati mengerahkan seluruh kekuatannya dan
tenaga sakti yang terkandung dalam pukulan mendorong ini diperkuat oleh tenaga
batinnya sehingga pukulan itu luar biasa dahsyatnya. Seketika Tejolaksono dan
kedua orang isterinya, terutama sekali Ayu Candra, terhuyung ke belakang,
merasa seolah-olah ada gunung api menyerang mereka. Bagus Seta melompat ke
depan ayah dan kedua orang ibundanya, melindungi mereka dengan tubuhnya dan
mendorongkan pula lengannya ke depan sambil berkata dengan suara halus,
"Yang menggunakan
kekerasan akan menerima kekerasan pula, Sang Wasi!"
No comments:
Post a Comment