Perawan Lembah Wilis; Bagian 163


Biasanya, pesta pemujaan Bathari Durgo ini dipimpin oleh Ni Dewi Nilamanik sebagai ketuanya, akan tetapi oleh karena Ni Dewi Nilamanik sedang berada di Kota Raja Jenggala memenuhi panggilan Ki Patih Warutama, maka pesta ini diwakili oleh Sariwuni. Minuman beracun yang dipergunakan Sariwuni itupun adalah milik Ni Dewi Nilamanik. Selain Sariwuni, di situ terdapat tujuh orang wanita cantik yang kesemuanya adalah murid-murid Ni Dewi Nilamanik dan yang berada di situ untuk bertugas membantu Sariwuni dalam melayani Wasi Bagaspati. Adapun yang lainnya, terdiri dari laki-laki dan wanita, hanyalah anak buah yang melakukan segala macam pekerjaan kasar melayani segenap kebutuhan dan keperluan sehari-hari, termasuk penjagaan dan kalau perlu bertempur menghadapi musuh.
Setelah bulan mulai bersinar, pesta pemujaan Bathari Durgo pun dimulailah. Sebuah arca Bathari Durgo diletakkan di atas panggung dan di sebelah kanannya duduklah Sang Wasi Bagaspati di atas sebuah kursi. Sariwuni dan tujuh orang wanita yang kesemuanya berpakaian tipis serba putih itu duduk bersimpuh di depan Wasi Bagaspati dan arca Bathari Durgo. Karena tempat itu bukan menjadi pusat perkumpulan Agama Bathari Durgo, bukan sebuah Durgoloka (Taman Bathari Durgo), maka upacara pemujaan Bathari Durgo di waktu bulan purnama itu pun diadakan sederhana sekali, tidak teperti kalau Ni Dewi Nilamanik yang memimpinnya, lengkap dengan gamelan segala macam. Tidak ada gamelan di situ dan semua anak buah di situ setelah mempersiapkan pesta makanan sederhana untuk Wasi Bagaspati, Sariwuni dan tujuh orang murid Ni Dewi Nilamanik yang muda-muda dan cantik-cantik itu, lalu berdiri mengelilingi panggung menonton.

Semenjak tadi, pandang mata Wasi Bagaspati tertuju kepada tubuh Ayu Candra dan Endang Patibroto yang rebah terlentang di atas panggung, di ujung kiri sedangkan di sudut kanan rebah tubuh Tejolaksono. Mereka bertiga masih dalam keadaan pingsan, seperti tidur nyenyak. Kemudian kakek itu mengangkat tangan kiri ke atas, tanda bahwa pesta boleh dimulai. Melihat ini, Sariwuni memimpin tujuh orang wanita muda itu menyembah di depan kaki Wasi Bagaspati, kemudian menghampiri arca Bathari Durgo dan menyembah, lalu bertelungkup hampir tiarap di depan arca itu sambil menyebar kembang setaman yang sudah disediakan di situ. Sariwuni lalu membakar dupa harum yang mengepulkan asap putih yang baunya semerbak memenuhi udara di sekeliling panggung. Setelah upacara penyembahan arca itu selesai, tujuh orang wanita itu dipimpin oleh Sariwuni lalu bangkit berdiri, dan mulailah mereka itu menari dengan iringan tepuk tangan mereka dan berkerincingnya gelang-gelang yang dipasang pada kaki mereka. Tari-tarian itu biarpun hanya diiringi gamelan tepuk tangan dan berkerincingnya gelang-gelang kaki, namun teratur dan amat indah, sungguhpun gerakannya mengandung sifat-sifat yang merangsang berahi dengan gerakan-gerakan pundak dan perut. Mereka menari berputaran di sekeliling panggung dan Sariwuni merupakan penari yang terpandai dan yang paling indah gerakannya. Makin lama bunyi tepuk tangan dan berkerincingnya gelang-gelang kaki makin cepat pula dan makin liar. Sariwuni sendiri menari mendekati tubuh Tejolaksono yang masih menggeletak terlentang dalam keadaan pingsan atau mungkin juga tertidur nyenyak. Sariwuni mengitari tubuh Tejolaksono itu, menari-nari dan makin lama makin merendah tubuhnya sampai akhirnya ia menari sambil berjongkok mengelilingi Tejolaksono, jarijari tangannya yang bergerak-gerak seperti ular-ular kecil itu merayap- rayap dan menyentuh-nyentuh tubuh Tejolaksono, sepasang matanya makin lama makin bersinar penuh gairah. Sementara itu, tujuh orang wanita masih bertepuk-tepuk tangan dan menghentak-hentakkan kakinya untuk mencipta bunyi yang berirama untuk mengiringi tari-tarian Sariwuni. Mereka bertujuh hanya berdiri dan melenggang-lenggok tidak pindah dari tempatnya, berjajar menghadapi Wasi Bagaspati. Wasi Bagaspati tersenyum-senyum, menggerak-gerakkan kepalanya menurutkan irama tepukan tangan, sambil makan dan minum sajian yang dihidangkan di dekatnya. Kemudian ia memandang ke arah Sariwuni yang menyentuh-nyentuh dada dan leher Tejolaksono, kadang-kadang menundukkan muka didekatkan dengan muka Tejolaksono seperti orang menimang-nimang. Perlahan-lahan Tejolaksono menggerakkan bulu mata, lalu membuka matanya seperti orang dalam mimpi. Ia bangkit perlahan, diikuti Sariwuni yang masih menari, dan ketika wanita itu menarik tangannya, Tejolaksono bangkit berdiri dan ... mulai menari!

Wasi Bagaspati tertawa dan bangkit lalu menghampiri tubuh Endang Patibroto dan Ayu Candra. Beberapa kali ia meraba dan memijit tengkuk dua orang wanita itu yang kemudian siuman dari pingsannya, bangkit berdiri dan perlahan-lahan mereka berdua inipun mulai menari-nari menurutkan irama tepukan tangan dan berdencingnya gelang-gelang kaki. Sambil tertawa gembira Wasi Bagaspati ikut pula bertepuk tangan dan kembali duduk di atas kursinya.
"Aduhh.... untuk kedua kalinya Pusporini menyaksikan hal yang mengerikan ini," bisik Joko Pramono. Mereka berlima bersembunyi di tempat gelap dan hanya oleh cegahan Bagus Seta saja empat orang itu tidak meloncat naik dan mengamuk di tempat itu. Joko Pramono yang pernah diceritakan oleh Pusporini tentang pengalamannya ketika ia ditawan oleh Ni Dewi Nilamanik, kini menyaksikan dengan mata sendiri keadaan yang amat aneh dan yang pernah dialami oleh Pusporini. Dia merasa amat heran, demikian pula Pusporini, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih melihat betapa orang-orang sakti seperti Tejolaksono, Endang Patibroto dan Ayu Candra dapat terpengaruh seperti itu, seperti manusia-manusia yang kehilangan pikiran! Pusporini memandang dengan air mata bercucuran. Melihat rakandanya dan kedua ayundanya berhal seperti itu, melihat mereka yang telah bertahun-tahun tak dijumpainya, hatinya terharu bukan main. Kalau menurutkan hatinya, ingin ia meloncat dan menyerbu, membebaskan tiga orang yang dihormati itu dari keadaan mereka yang menyedihkan. Akan tetapi Bagus Seta tadi memberi isyarat agar mereka jangan bergerak dan ketika ia melihat Wasi Bagaspati, mau tidak mau tengkuknya meremang. Ia melihat jelas pengaruh yang hebat keluar dari sinar mata kakek itu, dari gerak-geriknya. Dengan bukti tertawannya orang-orang sakti seperti ayundanya Endang Patibroto dan rakandanya Tejolaksono, dapat dibayangkan betapa saktinya kakek itu yang dapat ia duga tentulah Sang Wasi Bagaspati. Maka ia menahan sabar dan menyerahkan keputusan dan pimpinan dalam tangan Bagus Seta yang ia percaya akan dapat menanggulangi Wasi Bagaspati yang mengerikan itu.
"Tanggalkan pakaian mereka!" Tiba-tiba terdengar perintah keluar dari mulut Wasi Bagaspati. Sariwuni sudah sibuk hendak membuka pakaian Tejolaksono yang masih menari-nari seperti boneka hidup, sedangkan tujuh orang wanita lainnya telah menyerbu Endang Patibroto dan Ayu Candra untuk menanggalkan pakaian mereka. Pekerjaan ini mereka lakukan sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan genit.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus,
"Wanita-wanita sesat, mundur kalian!” Dan Bagus Seta sudah meloncat ke atas panggung diikuti oleh empat orang pengikutnya. Dengan tenang Bagus Seta mendorongkan tangannya dan Sariwuni berikut tujuh orang itu terhuyung ke belakang dan akhirnya roboh ke bawah panggung. Terdengar teriak-teriak panik dari anak buah Sariwuni yang menonton, dan keadaan seketika menjadi geger. Bagus Seta mendekati Tejolaksono, Ayu Candra dan Endang Patibroto. Ia menyembah lebih dulu sebelum mengusap wajah mereka bertiga itu satu kali dengan telapak tangan kanannya dan seketika tiga orang itu menjadi sadar, memandang terbelalak kepada Bagus Seta, Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini.
"Bagus Seta ....! Engkau .... engkau Bagus Seta.... !" Tiba-tiba Ayu Candra menjerit dan wanita itu roboh pingsan dalam pelukan Pusporini yang cepat menerima tubuh ayundanya yang pingsan saking kaget dan girang itu.
Tejolaksono merangkul puteranya yang berlutut dan menyembahnya, akan tetapi karena maklum akan keadaan yang gawat itu, Tejolaksono mengeraskan hatinya dan berbisik,
"Hati-hatilah, Nak. Dia sakti sekali ....!! Bagus Seta mengangguk tenang.
"Kita gempur dia! Bagus Seta, aku ibumu Endang Patibroto, mari kubantu engkau membasmi dukun lepus ini!" bentak Endang Patibroto.
"Harap Ibunda serahkan saja kepada hamba," kata Bagus Seta sambil tersenyum, kemudian ia bangkit berdiri dan membalikkan tubuh melangkah maju menghadapi Wasi Bagaspati yang memandang semua kejadian itu dengan mata merah saking marahnya, juga saking herannya menyaksikan betapa seorang pemuda remaja dapat menyadarkan tiga orang itu dari pengaruh racun perampas pikiran dan perangsang. Padahal kepandaian seperti itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki tenaga batin yang amat kuat, seperti dia sendiri misalnya. Dan cara pemuda itu mendorong para wanita turun dari panggung tanpa melukai mereka, benar-benar mengagumkan, menyatakan bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat pula.
"Heh, bocah yang berani mati. Siapa kah andika?"
"Sang Wasi Bagaspati, namaku adalah Bagus Seta. Sang Patih Muda Panjalu Tejolaksono adalah Ramandaku."
"Hemm, kulihat engkau seorang muda yang telah memiliki sedikit kesaktian, agaknya engkau murid seorang yang sakti. Ehhh ... sekarang aku ingat ..! Bukankah engkau bocah yang dahulu bersama Bhagawan Ekadenta.. ?”
"Bapa guru, dia telah melarikan empat orang tawanan Jenggala! itu mereka, mohon Bapa guru menangkap mereka kembali!" Tiba-tiba terdengar suara lantang dan muncullah Cekel Wisangkoro yang langsung melompat ke atas panggung.

Kembali Wasi Bagaspati tertegun. Ia sudah mendengar kemajuan-kemajuan yang dicapai para murid dan anak buahnya dalam penyelundupan ke Jenggala dan penanaman pengaruh ke istana. Kini boleh dikata bahwa Jenggala telah berada di dalam telapak tangannya, tinggal menggenggam saja. Jenggala kini telah menjadi sekutu yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan oleh negaranya untuk diajak menyerang kerajaan-kerajaan lain seperti Panjalu dan lain-lain. Kalau usaha itu berhasil dan kelak seluruh Jawa-dwipa telah dapat ditundukkan, tidak akan sukarlah untuk menentang raja yang duduk di singgasana Jenggala dan Jawadwipa yang lohjinawi itu akan menjadi milik Kerajaan Cola! Seringkali ia diam-diam menertawakan rekannya dari Sriwijaya, Biku Janapati yang tidak tampak mendapatkan kemajuan apa-apa. Akhir-akhir ini dengan girang ia mendengar akan ditawankan Pangeran Panji Sigit dan tiga orang muda yang termasuk orang-orang bahaya bagi Jenggala. Maka kini mendengar ucapan muridnya bahwa pemuda remaja yang luar biasa inipun sudah membebaskan tawanan yang kini hadir pula di atas panggung, ia menjadi marah bukan main.
Melihat munculnya Cekel Wisangkoro, Tejolaksono yang maklum bahwa keadaan makin gawat, segera berkata kepada Setyaningsih, Pusporini, Pangeran Panji Sigit, dan Joko Pramono,
"Kalian berempat lakukanlah tugasmu, hadapi Cekel Wisangkoro, Sariwuni dan kaki tangannya. Aku dan kedua ayundamu akan membantu Bagus Seta!" Biarpun keadaan gawat dan menegangkan, akan tetapi jiwa kepemimpinan Tejolaksono tidak pernah tenggelam dan dalam keadaan seperti itu ia dapat mengatur tugas dan membagi-baginya dengan perhitungan masak. Ayu Candra yang sudah siuman kinipun sudah siap sedia membantu puteranya, dan keharuan serta kebahagiaan yang datangnya demikian tiba-tiba kini tak dapat ditumpahkan, hanya ditelan dan disimpan dalam rongga dada, kini berdiri di dekat suaminya dan Endang Patibroto.
"Ha-ha-ha-ha! Tejolaksono, jangan kau bergirang lebih dulu dengan adanya bantuan-bantuan yang tiba. Makin banyak keluarga dan sekutumu berkumpul makin baiklah bagiku agar sekaligus aku dapat membasmi penghalang-penghalang bagi tugasku!" Setelah berkata demikian, Wasi Bagaspati lalu mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau kelaparan dan ia menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan. Serangkum tenaga dahsyat menyambar ke depan. Pada saat itu juga, Pusporini yang mendahului yang lain-lain setelah menerima perintah Tejolaksono, sudah menerjang Cekel Wisangkoro dengan pukulan Pethit Nogo yang ampuh. Demikian hebat terjangan dara perkasa ini sehingga tidak ada lain jalan bagi Cekel Wisangkoro untuk menyelamatkan diri kecuali melompat turun dari atas panggung. Pusporini mengejar dan melompat turun pula, diikuti oleh Joko Pramono, Pangeran Panji Sigit, dan Setyaningsih. Mereka ini disambut oleh Cekel Wisangkoro, Sariwuni dan tujuh orang murid-murid Ni Dewi Nilamanik, dibantu pula oleh anak buah yang datang menyerbu dengan senjata tombak dan golok. Terjadilah pertandingan campuh yang hebat di bawah panggung, di mana Pangeran Panji Sigit dan tiga orang muda yang lain mengamuk.

Pukulan jarak jauh yang dilakukan Wasi Bagaspati dengan jalan mendorongkan kedua lengannya amatlah hebatnya. Berbeda ketika kakek ini menghadapi Tejolaksono bertiga isteri-isterinya, sekali ini Wasi Bagaspati mengerahkan seluruh kekuatannya dan tenaga sakti yang terkandung dalam pukulan mendorong ini diperkuat oleh tenaga batinnya sehingga pukulan itu luar biasa dahsyatnya. Seketika Tejolaksono dan kedua orang isterinya, terutama sekali Ayu Candra, terhuyung ke belakang, merasa seolah-olah ada gunung api menyerang mereka. Bagus Seta melompat ke depan ayah dan kedua orang ibundanya, melindungi mereka dengan tubuhnya dan mendorongkan pula lengannya ke depan sambil berkata dengan suara halus,
"Yang menggunakan kekerasan akan menerima kekerasan pula, Sang Wasi!"

<<< Bagian 162                                                                                     Bagian 164 >>>

No comments:

Post a Comment