Perawan Lembah Wilis; Bagian 164


"Dessss !!" Terasa sekali oleh Tejolaksono dan dua orang isterinya akan pertemuan dua tenaga raksasa yang ampuh dan mujijat di tengah udara, di antara Wasi Bagaspati dan Bagus Seta, seolah-olah dua gunung api bertemu dan saling membakar, saling menindih.
Bagus Seta masih berdiri tegak dan tenang, dan Wasi Bagaspati memandang terbelalak, agak menggigil seperti orang kedinginan, atau seperti orang yang merasa gentar akan sesuatu sehingga meremang bulu tengkuknya. Tentu saja Wasi Bagaspati sama sekali tidak pernah merasa gentar, karena perasaan ini sudah lama terhapus dari hatinya bersamaan dengan timbulnya perasaan percaya kepada diri sendiri bahwa kesaktiannya sudah terlalu tinggi untuk dapat dikalahkan lawan yang manapun juga. Kalau ia kelihatan seperti menggigil adalah karena ia merasa terlalu heran dan terlalu penasaran melihat kenyataan betapa pukulannya yang ampuh dan mujijat tadi dapat ditahan dan didorong kembali oleh seorang yang masih begini muda! Kemarahannya memuncak karena dorongan rasa penasaran ini dan sambil memekik dahsyat tubuhnya yang tinggi itu kini menerjang maju dan kedua lengannya yang panjang itu bergerak menyambar dari kanan kiri dengan jari-jari tangan terbuka, berusaha menangkap dan mencengkeram hancur tubuh Bagus Seta dengan tangannya yang kuat melebihi cengkeraman baja. Bagus Seta tetap bersikap tenang menghadapi terkaman kedua lengan yang mengamuk seperti badai ini. Kelihatannya pemuda itu hanya menggerakkan tubuhnya lambat-lambat saja akan tetapi aneh sekali, kedua tangan yang menyambar-nyambar itu selalu menangkap angin, tak pernah dapat menyentuh tubuhnya.
Tubuh Bagus Seta menjadi demikian ringan sehingga setiap terkaman membuat tubuhnya bergerak menjauh terdorong oleh angin yang mendahului gerakan tangan lawan. Dilihat dari jauh, tampaknya Wasi Bagaspati seperti seorang anak-anak yang berusaha menangkap seekor kupu-kupu, atau seorang gila yang berusaha menangkap asap! Melihat kehebatan putera mereka, Tejolaksono dan Endang Patibroto serta Ayu Candra terbelalak kagum, akan tetapi Tejolaksono yang bijaksana dan dapat mengenal kesaktian luar biasa yang dimiliki puteranya, cepat berkata,
"Mari kita membantu mereka di bawah!" Tubuhnya melompat turun panggung diikuti Endang Patibroto dan Ayu Candra.

Di bawah panggung terjadi pertandingan yang lebih ramai, seru dan dahsyat sekali. Empat orang muda mengamuk seperti banteng-banteng terluka. Terutama sekali sepak terjang Pusporini dan Joko Pramono yang seakan-akan berlomba dan bersicepat merobohkan Cekel Wisangkoro membuat cekel itu kewalahan. Melawan seorang saja di antara dua orang murid Resi Mahesapati ini masih diragukan apakah dia akan sanggup mengalahkannya, apalagi kini dua orang murid itu maju bersama mengeroyoknya. Cekel Wisangkoro memutar tongkat ularnya dengan nekat dan mengerahkan seluruh kedigdayaannya, mengeluarkan segala ilmunya, namun sia-sia. Segala macam mantera telah ia ucapkan, mantera-mantera, yang mengandung kekuatan ilmu hitam yang biasanya akan dapat melumpuhkan kekuatan lawan, akan tetapi terhadap dua orang muda ini tidak mempan sama sekali. Gerakan tongkat ularnya yang cepat itu tidak dapat mengatasi gerak cepat kaki tangan Pusporini dan Joko Pramono sehingga ia terus didesak mundur. Ketika untuk kesekian kalinya tongkatnya tidak menemui sasaran setelah ia sabetkan melingkar ke depan menghantam dua orang lawannya yang mengelak cepat, Joko Pramono mengirim pukulan yang ampuhnya menggila, yaitu pukulan dengan Aji Cantuka Sekti, ke arah dada lawan. Cekel Wisangkoro tergesa-gesa membuang diri ke kiri menghindarkan pukulan maut itu. Akan tetapi dari kiri menyambar tangan Pusporini yang menyerang dengan pukulan Pethit Nogo. Cekel Wisangkoro kaget sekali, cepat mengangkat tongkat ularnya, disabetkan ke arah pergelangan gadis itu. Akan tetapi Pusporini sudah memutar pergelangan tangannya dan merubah tamparan menjadi cengkeraman yang berhasil menangkap tongkat ular! Cekel Wisangkoro terkejut, mengerahkan seluruh tenaga dan menggereng sambil membetot untuk merampas kembali tongkatnya, akan tetapi tongkat itu tidak dapat terlepas dari cengkeraman Pusporini. Pada saat itu Joko Pramono yang tidak mau kalah sudah memukul lagi dengan Aji Cantuka Sekti ke arah perut lawan. Melihat, datangnya pukulan, Cekel Wisangkoro dapat mengenal bahaya maut, terpaksa ia melepaskan tongkatnya dan menggunakan
lengan kanan untuk menangkis pukulan itu. Akan tetapi karena gerakannya ini agak terlambat dan tenaganya pun tidak cukup dipersiapkan dalam menghadapi pukulan sakti itu, ketika kedua lengan bertemu, tubuhnya terpental ke belakang, lengan kanannya seperti lumpuh dan ia jatuh terguling-guling.
"Toloooonggg ... tolong, Bapak guru, tolong !!" Saking panik dan takutnya, kini Cekel Wisangkoro berteriak-teriak minta tolong. Akan tetapi Wasi Bagaspati yang sibuk dan bernafsu sekali merobohkan Bagus Seta itu tidak memperdulikan teriakan muridnya ini. Belasan orang anak buah yang tadinya tak dapat membantu karena jalannya pertempuran amat cepat sehingga sukar bagi mereka untuk turun tangan mencampuri dan membantu, kini menerjang maju dengan tombak dan golok mereka yang datang bagaikan hujan menyerang Pusporini dan Joko Pramono. Akan tetapi terjangan itu sama dengan terjangan sekumpulan laron terhadap api. Terdengar tombak patah golok terbang dan pekik-pekik kesakitan ketika sepuluh orang di antara mereka terpental kocar-kacir tercium tendangan-tendangan kaki Pusporini dan Joko Pramono.

Akan tetapi hambatan ini menyelamatkan Cekel Wisangkoro yang telah lari entah ke mana karena ketika Pusporini dan Joko Pramono memandang dan mencari, bayangan cekel pengecut itu telah lenyap. Dengan marah kedua orang muda perkasa ini lalu menoleh ke arah pertandingan di bagian lain di mana tadi Setyaningsih dan suaminya mengamuk. Seperti halnya Joko Pramono dan Pusporini yang segera turun tangan menyerang orang-orang yang menjadi tokoh penting dari fihak lawan, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih juga langsung menerjang Sariwuni ketika mereka berdua meloncat turun dari atas panggung. Biarpun Sariwuni tidak sehebat Cekel Wisangkoro kesaktiannya, dia adalah kekasih Wasi Bagaspati dan tentu saja sudah banyak menerima petunjuk Sang Wasi. Bahkan Sariwuni menerima sebuah ilmu yang dahsyat dan mujijat, yaitu Aji Wisakenaka yang membuat sepuluh buah kuku jarinya merupakan sepuluh buah keris-keris kecil yang mengandung racun ampuh!
Begitu melihat turunnya Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit dari atas panggung, Sariwuni lalu menyambut mereka dengan cakaran-cakaran kukunya yang beracun. Akan tetapi dengan mudahnya suami isteri ini mengelak dan balas menyerang dengan pukulan-pukulan maut. Terutama sekali Setyaningsih yang telah menerima gemblengan ayundanya, Endang Patibroto, wanita muda ini segera mencecar Sariwuni dengan tamparan Pethit Nogo. Dalam kemarahan mereka terhadap Sariwuni yang tadi menari-nari dan jelas mengandung niat kotor terhadap Tejolaksono, suami isteri muda ini mengambil keputusan tetap untuk membunuh wanita cabul ini.
Tujuh orang wanita murid-murid Ni Dewi Nilamanik cepat maju dan membantu Sariwuni. Mereka adalah murid-murid Ni Dewi Nilamanik, tentu saja telah memiliki kepandaian yang boleh diandalkan dalam pertempuran, tidak seperti para anak buah di situ yang hanya dapat bertempur berdasarkan ketaatan mereka terhadap perintah pimpinan. Tujuh orang wanita yang masih berpakalan putih tipis sehingga tubuh mereka membayang seperti orang bertelanjang bulat itu kini bergerak-gerak mengepung Pangeran Panji Sigit dan Setyaningslh. Dari tubuh mereka tercium wangi-wangian yang sengaja mereka pakai dalam pesta tadi. Bau wangi dan ketelanjangan mereka ini memuakkan hati Setyahingsih yang mengamuk makin hebat. Dua orang penari itu telah roboh dengan kepala pecah terkena sambaran aji pukulan Pethit Nogo, sedangkan Pangeran Panji Sigit yang merasa enggan untuk menyentuhkan tangannya kepada tubuh para pengeroyok yang seperti telanjang itu, telah merobohkan seorang penari dengan tendangan yang bersarang di lambung. Sariwuni menjadi marah sekali melihat betapa dalam waktu singkat tiga orang pembantunya telah roboh binasa. Ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan menerjang ke arah Setyaningsih dengan sebatang pedang yang ia cabut dari punggungnya. Setyaningsih sengaja menanti datangnya tusukan pedang. Melihat kelambatnya isterinya, Pangeran Panji Sigit berseru,
"Isteriku, awas ....!" Akan tetapi pedang di tangan Sariwuni sudah datang menusuk sedangkan Pangeran Panji Sigit sendiri sedang dikeroyok dua orang wanita yang memegang golok. Ketika pedang itu hampir menyentuh Setyaningsih, wanita perkasa ini secara tiba-tiba miringkan tubuh dan secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan Sariwuni, mengerahkan tenaga menambah tenaga serangan lawan terus mendorongkan tubuh Sariwuni ke depan, ke arah seorang di antara dua orang penari lain yang hendak menyerangnya dari belakang.
"Blessss .....!" Pedang di tangan Sariwuni tanpa dapat dicegah lagi memasuki perut seorang penari sampai tembus ke punggungnya saking kerasnya luncuran pedang yang ditambah oleh tenaga dorong Setyaningsih tadi. Terdengar jerit mengerikan ketika penari itu roboh membawa pedang Sariwuni yang melepaskan senjatanya dan berdiri memandang dengan mata terbelalak. Kemudian ia menjadi demikian marah sehingga diterjangnya Setyaningsih dengan nekat, menggunakan kedua cakar tangannya yang berkuku hitam panjang beracun. Sebenarnya, kalau Sariwuni menggunakan kedua tangan yang memiliki sepuluh buah kuku beracun ini, dia malah lebih berbahaya daripada kalau bersenjatakan pedang. Kini ia menyerang dengan nekat saking marahnya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya terjangan kedua cakarnya ke arah tubuh Setyaningsih. Setyaningsih maklum akan bahayanya serangan ini.

Wanita yang pendiam ini memiliki keberanian luar biasa dan dalam detik penuh bahaya itu dia sudah dapat menemukan akal yang jarang berani dilakukan orang lain. Ia meloncat mundur mendekati seorang penari yang membawa golok kemudian kakinya tergelincir dan tubuhnya roboh! Melihat ini, Sariwuni menjadi girang dan menubruk. Juga penari itu mengangkat goloknya membacok.
"Setyaningsih ....!" Pangeran Panji Sigit yang khawatir sekali cepat merobohkan dua orang penari yang mengeroyoknya dengan pukulan kedua tangannya. Menghadapi isterinya terancam bahaya, pangeran ini tidak segan-segan lagi untuk menghantam dua tubuh berpakaian tipis semrawang itu sehingga mereka roboh dan tewas seketika karena yang seorang patah tulang tengkuknya sedangkan yang ke dua retak kepalanya terkena pukulan Pangeran Panji Sigit. Dia lalu membalikkan tubuh siap membantu isterinya, akan tetapi pangeran ini terbelalak kagum menyaksikan sepak terjang isterinya. Ternyata Setyaningsih yang memang jatuhnya adalah buatan atau pancingan, melihat datangnya serangan Sariwuni dan penari itu, cepat menggulingkan tubuh mendekati penari, menangkap pergelangan tangannya, tubuhnya sendiri meloncat bangun secara tiba-tiba dan tubuh penari itu dipergunakan untuk menyerang Sariwuni yang sedang menerkamnya. Sariwuni terkejut dan terpaksa menangkis dengan cengkeraman sehingga lima buah kuku hitam runcing menancap di pipi penari itu yang menjerit ngeri dan ketika tubuhnya dilepaskan, ia merintih-rintih, mencakari mukanya yang berubah menjadi hitam, berkelojotan menjerit-jerit sebentar kemudian selagi Sariwuni memandang korban ke dua ini dengan mata terbelalak, kesempatan ini dipergunakan oleh Setyaningsih untuk menubruk dan mengirim pukulan ke arah ulu hatinya. Sariwuni berteriak marah dan menangkis dengan tangan kanannya bahkan balas mencengkeram dengan tangan yang menangkis itu, namun ia kalah cepat dan Setyaningsih sudah merubah pukulan Pethit Nogo itu dengan menangkap pergelangan tangan lawan. Pada saat itu, Pangeran Panji Sigit sudah meloncat datang dan tangan kiri Sariwuni yang mencakar ke arah Setyaningsih itu tiba-tiba ditangkap oleh Pangeran Panji Sigit. Tanpa berunding lagi suami isteri ini dengan gerakan serentak lalu memutar lengan yang mereka tangkap dari kanan kiri sambil mengerahkan tenaga.
"Krekkl Krekkk!" Sambungan sepasang lengan itu putus di tiga tempat, yaitu di pundak, siku, dan pergelangan. Tentu saja kedua lengan Sariwuni menjadi lumpuh seketika. Dan pada saat itu, sebelum Setyaningsih dan suaminya melepaskan lengan yang sudah lumpuh, terdengar bentakan Endang Patibroto,
"Ningsih! Pangeran! Minggir!!"
Tubuh Endang Patibroto yang baru saja meloncat turun dari panggung bersama Tejolaksono dan Ayu Candra, menyambar bagaikan seekor burung dan sebuah pukulan dahsyat menghantam kepala Sariwuni sehingga remuk dan isi kepalanya muncrat berhamburan. Untung Pangeran Panji Sigit dan isterinya sudah meloncat mundur ketika mendengar seruan ayunda mereka, kalau tidak tentu akan terkena percikan darah dan otak. Semua orang anak buah Sariwuni yang berada di situ memandang dengan muka pucat dan hati penuh ketakutan. Memang Endang Patibroto kalau sedang marah amatlah menakutkan sepak-terjangnya. Dan dia amat marah kepada Sariwuni yang ia tahu hendak mempermainkan suaminya. Rasa marah karena cemburu.

Setelah Cekel WiSangkoro melarikan diri dan Sariwuni tewas, tujuh orang perkasa itu tentu saja bukan lawan para anak buah di situ, apalagi karena tenaga yang agak boleh diandalkan, yaitu tujuh orang penari yang membantu Sariwuni juga sudah tewas. Terjadilah panik dan anak buah itu melawan dengan nekat dan ada yang mulai lari berserabutan saling tabrak.

<<< Bagian 163                                                                                     Bagian 165 >>>

No comments:

Post a Comment