"Dessss !!" Terasa sekali oleh Tejolaksono dan dua orang isterinya akan pertemuan dua tenaga raksasa yang ampuh dan mujijat di tengah udara, di antara Wasi Bagaspati dan Bagus Seta, seolah-olah dua gunung api bertemu dan saling membakar, saling menindih.
Bagus Seta masih berdiri
tegak dan tenang, dan Wasi Bagaspati memandang terbelalak, agak menggigil
seperti orang kedinginan, atau seperti orang yang merasa gentar akan sesuatu
sehingga meremang bulu tengkuknya. Tentu saja Wasi Bagaspati sama sekali tidak
pernah merasa gentar, karena perasaan ini sudah lama terhapus dari hatinya
bersamaan dengan timbulnya perasaan percaya kepada diri sendiri bahwa
kesaktiannya sudah terlalu tinggi untuk dapat dikalahkan lawan yang manapun juga.
Kalau ia kelihatan seperti menggigil adalah karena ia merasa terlalu heran dan
terlalu penasaran melihat kenyataan betapa pukulannya yang ampuh dan mujijat
tadi dapat ditahan dan didorong kembali oleh seorang yang masih begini muda!
Kemarahannya memuncak karena dorongan rasa penasaran ini dan sambil memekik
dahsyat tubuhnya yang tinggi itu kini menerjang maju dan kedua lengannya yang
panjang itu bergerak menyambar dari kanan kiri dengan jari-jari tangan terbuka,
berusaha menangkap dan mencengkeram hancur tubuh Bagus Seta dengan tangannya
yang kuat melebihi cengkeraman baja. Bagus Seta tetap bersikap tenang
menghadapi terkaman kedua lengan yang mengamuk seperti badai ini. Kelihatannya
pemuda itu hanya menggerakkan tubuhnya lambat-lambat saja akan tetapi aneh
sekali, kedua tangan yang menyambar-nyambar itu selalu menangkap angin, tak
pernah dapat menyentuh tubuhnya.
Tubuh Bagus Seta menjadi
demikian ringan sehingga setiap terkaman membuat tubuhnya bergerak menjauh
terdorong oleh angin yang mendahului gerakan tangan lawan. Dilihat dari jauh,
tampaknya Wasi Bagaspati seperti seorang anak-anak yang berusaha menangkap
seekor kupu-kupu, atau seorang gila yang berusaha menangkap asap! Melihat
kehebatan putera mereka, Tejolaksono dan Endang Patibroto serta Ayu Candra
terbelalak kagum, akan tetapi Tejolaksono yang bijaksana dan dapat mengenal
kesaktian luar biasa yang dimiliki puteranya, cepat berkata,
"Mari kita membantu
mereka di bawah!" Tubuhnya melompat turun panggung diikuti Endang
Patibroto dan Ayu Candra.
Di bawah panggung terjadi
pertandingan yang lebih ramai, seru dan dahsyat sekali. Empat orang muda
mengamuk seperti banteng-banteng terluka. Terutama sekali sepak terjang
Pusporini dan Joko Pramono yang seakan-akan berlomba dan bersicepat merobohkan
Cekel Wisangkoro membuat cekel itu kewalahan. Melawan seorang saja di antara
dua orang murid Resi Mahesapati ini masih diragukan apakah dia akan sanggup
mengalahkannya, apalagi kini dua orang murid itu maju bersama mengeroyoknya.
Cekel Wisangkoro memutar tongkat ularnya dengan nekat dan mengerahkan seluruh
kedigdayaannya, mengeluarkan segala ilmunya, namun sia-sia. Segala macam
mantera telah ia ucapkan, mantera-mantera, yang mengandung kekuatan ilmu hitam
yang biasanya akan dapat melumpuhkan kekuatan lawan, akan tetapi terhadap dua
orang muda ini tidak mempan sama sekali. Gerakan tongkat ularnya yang cepat itu
tidak dapat mengatasi gerak cepat kaki tangan Pusporini dan Joko Pramono
sehingga ia terus didesak mundur. Ketika untuk kesekian kalinya tongkatnya
tidak menemui sasaran setelah ia sabetkan melingkar ke depan menghantam dua
orang lawannya yang mengelak cepat, Joko Pramono mengirim pukulan yang ampuhnya
menggila, yaitu pukulan dengan Aji Cantuka Sekti, ke arah dada lawan. Cekel
Wisangkoro tergesa-gesa membuang diri ke kiri menghindarkan pukulan maut itu.
Akan tetapi dari kiri menyambar tangan Pusporini yang menyerang dengan pukulan
Pethit Nogo. Cekel Wisangkoro kaget sekali, cepat mengangkat tongkat ularnya,
disabetkan ke arah pergelangan gadis itu. Akan tetapi Pusporini sudah memutar
pergelangan tangannya dan merubah tamparan menjadi cengkeraman yang berhasil
menangkap tongkat ular! Cekel Wisangkoro terkejut, mengerahkan seluruh tenaga
dan menggereng sambil membetot untuk merampas kembali tongkatnya, akan tetapi tongkat
itu tidak dapat terlepas dari cengkeraman Pusporini. Pada saat itu Joko Pramono
yang tidak mau kalah sudah memukul lagi dengan Aji Cantuka Sekti ke arah perut
lawan. Melihat, datangnya pukulan, Cekel Wisangkoro dapat mengenal bahaya maut,
terpaksa ia melepaskan tongkatnya dan menggunakan
lengan kanan untuk menangkis
pukulan itu. Akan tetapi karena gerakannya ini agak terlambat dan tenaganya pun
tidak cukup dipersiapkan dalam menghadapi pukulan sakti itu, ketika kedua
lengan bertemu, tubuhnya terpental ke belakang, lengan kanannya seperti lumpuh
dan ia jatuh terguling-guling.
"Toloooonggg ...
tolong, Bapak guru, tolong !!" Saking panik dan takutnya, kini Cekel
Wisangkoro berteriak-teriak minta tolong. Akan tetapi Wasi Bagaspati yang sibuk
dan bernafsu sekali merobohkan Bagus Seta itu tidak memperdulikan teriakan
muridnya ini. Belasan orang anak buah yang tadinya tak dapat membantu karena
jalannya pertempuran amat cepat sehingga sukar bagi mereka untuk turun tangan
mencampuri dan membantu, kini menerjang maju dengan tombak dan golok mereka
yang datang bagaikan hujan menyerang Pusporini dan Joko Pramono. Akan tetapi
terjangan itu sama dengan terjangan sekumpulan laron terhadap api. Terdengar
tombak patah golok terbang dan pekik-pekik kesakitan ketika sepuluh orang di
antara mereka terpental kocar-kacir tercium tendangan-tendangan kaki Pusporini
dan Joko Pramono.
Akan tetapi hambatan ini
menyelamatkan Cekel Wisangkoro yang telah lari entah ke mana karena ketika
Pusporini dan Joko Pramono memandang dan mencari, bayangan cekel pengecut itu
telah lenyap. Dengan marah kedua orang muda perkasa ini lalu menoleh ke arah
pertandingan di bagian lain di mana tadi Setyaningsih dan suaminya mengamuk.
Seperti halnya Joko Pramono dan Pusporini yang segera turun tangan menyerang
orang-orang yang menjadi tokoh penting dari fihak lawan, Pangeran Panji Sigit
dan Setyaningsih juga langsung menerjang Sariwuni ketika mereka berdua meloncat
turun dari atas panggung. Biarpun Sariwuni tidak sehebat Cekel Wisangkoro
kesaktiannya, dia adalah kekasih Wasi Bagaspati dan tentu saja sudah banyak
menerima petunjuk Sang Wasi. Bahkan Sariwuni menerima sebuah ilmu yang dahsyat
dan mujijat, yaitu Aji Wisakenaka yang membuat sepuluh buah kuku jarinya
merupakan sepuluh buah keris-keris kecil yang mengandung racun ampuh!
Begitu melihat turunnya
Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit dari atas panggung, Sariwuni lalu
menyambut mereka dengan cakaran-cakaran kukunya yang beracun. Akan tetapi
dengan mudahnya suami isteri ini mengelak dan balas menyerang dengan
pukulan-pukulan maut. Terutama sekali Setyaningsih yang telah menerima
gemblengan ayundanya, Endang Patibroto, wanita muda ini segera mencecar
Sariwuni dengan tamparan Pethit Nogo. Dalam kemarahan mereka terhadap Sariwuni
yang tadi menari-nari dan jelas mengandung niat kotor terhadap Tejolaksono,
suami isteri muda ini mengambil keputusan tetap untuk membunuh wanita cabul
ini.
Tujuh orang wanita
murid-murid Ni Dewi Nilamanik cepat maju dan membantu Sariwuni. Mereka adalah
murid-murid Ni Dewi Nilamanik, tentu saja telah memiliki kepandaian yang boleh
diandalkan dalam pertempuran, tidak seperti para anak buah di situ yang hanya
dapat bertempur berdasarkan ketaatan mereka terhadap perintah pimpinan. Tujuh
orang wanita yang masih berpakalan putih tipis sehingga tubuh mereka membayang
seperti orang bertelanjang bulat itu kini bergerak-gerak mengepung Pangeran
Panji Sigit dan Setyaningslh. Dari tubuh mereka tercium wangi-wangian yang
sengaja mereka pakai dalam pesta tadi. Bau wangi dan ketelanjangan mereka ini
memuakkan hati Setyahingsih yang mengamuk makin hebat. Dua orang penari itu
telah roboh dengan kepala pecah terkena sambaran aji pukulan Pethit Nogo,
sedangkan Pangeran Panji Sigit yang merasa enggan untuk menyentuhkan tangannya
kepada tubuh para pengeroyok yang seperti telanjang itu, telah merobohkan
seorang penari dengan tendangan yang bersarang di lambung. Sariwuni menjadi
marah sekali melihat betapa dalam waktu singkat tiga orang pembantunya telah
roboh binasa. Ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan menerjang ke arah
Setyaningsih dengan sebatang pedang yang ia cabut dari punggungnya.
Setyaningsih sengaja menanti datangnya tusukan pedang. Melihat kelambatnya
isterinya, Pangeran Panji Sigit berseru,
"Isteriku, awas
....!" Akan tetapi pedang di tangan Sariwuni sudah datang menusuk
sedangkan Pangeran Panji Sigit sendiri sedang dikeroyok dua orang wanita yang
memegang golok. Ketika pedang itu hampir menyentuh Setyaningsih, wanita perkasa
ini secara tiba-tiba miringkan tubuh dan secepat kilat ia menangkap pergelangan
tangan Sariwuni, mengerahkan tenaga menambah tenaga serangan lawan terus
mendorongkan tubuh Sariwuni ke depan, ke arah seorang di antara dua orang
penari lain yang hendak menyerangnya dari belakang.
"Blessss .....!"
Pedang di tangan Sariwuni tanpa dapat dicegah lagi memasuki perut seorang
penari sampai tembus ke punggungnya saking kerasnya luncuran pedang yang
ditambah oleh tenaga dorong Setyaningsih tadi. Terdengar jerit mengerikan
ketika penari itu roboh membawa pedang Sariwuni yang melepaskan senjatanya dan
berdiri memandang dengan mata terbelalak. Kemudian ia menjadi demikian marah
sehingga diterjangnya Setyaningsih dengan nekat, menggunakan kedua cakar
tangannya yang berkuku hitam panjang beracun. Sebenarnya, kalau Sariwuni
menggunakan kedua tangan yang memiliki sepuluh buah kuku beracun ini, dia malah
lebih berbahaya daripada kalau bersenjatakan pedang. Kini ia menyerang dengan
nekat saking marahnya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya terjangan kedua
cakarnya ke arah tubuh Setyaningsih. Setyaningsih maklum akan bahayanya
serangan ini.
Wanita yang pendiam ini
memiliki keberanian luar biasa dan dalam detik penuh bahaya itu dia sudah dapat
menemukan akal yang jarang berani dilakukan orang lain. Ia meloncat mundur
mendekati seorang penari yang membawa golok kemudian kakinya tergelincir dan
tubuhnya roboh! Melihat ini, Sariwuni menjadi girang dan menubruk. Juga penari
itu mengangkat goloknya membacok.
"Setyaningsih
....!" Pangeran Panji Sigit yang khawatir sekali cepat merobohkan dua orang
penari yang mengeroyoknya dengan pukulan kedua tangannya. Menghadapi isterinya
terancam bahaya, pangeran ini tidak segan-segan lagi untuk menghantam dua tubuh
berpakaian tipis semrawang itu sehingga mereka roboh dan tewas seketika karena
yang seorang patah tulang tengkuknya sedangkan yang ke dua retak kepalanya
terkena pukulan Pangeran Panji Sigit. Dia lalu membalikkan tubuh siap membantu
isterinya, akan tetapi pangeran ini terbelalak kagum menyaksikan sepak terjang
isterinya. Ternyata Setyaningsih yang memang jatuhnya adalah buatan atau
pancingan, melihat datangnya serangan Sariwuni dan penari itu, cepat
menggulingkan tubuh mendekati penari, menangkap pergelangan tangannya, tubuhnya
sendiri meloncat bangun secara tiba-tiba dan tubuh penari itu dipergunakan
untuk menyerang Sariwuni yang sedang menerkamnya. Sariwuni terkejut dan
terpaksa menangkis dengan cengkeraman sehingga lima buah kuku hitam runcing
menancap di pipi penari itu yang menjerit ngeri dan ketika tubuhnya dilepaskan,
ia merintih-rintih, mencakari mukanya yang berubah menjadi hitam, berkelojotan
menjerit-jerit sebentar kemudian selagi Sariwuni memandang korban ke dua ini
dengan mata terbelalak, kesempatan ini dipergunakan oleh Setyaningsih untuk
menubruk dan mengirim pukulan ke arah ulu hatinya. Sariwuni berteriak marah dan
menangkis dengan tangan kanannya bahkan balas mencengkeram dengan tangan yang
menangkis itu, namun ia kalah cepat dan Setyaningsih sudah merubah pukulan
Pethit Nogo itu dengan menangkap pergelangan tangan lawan. Pada saat itu,
Pangeran Panji Sigit sudah meloncat datang dan tangan kiri Sariwuni yang
mencakar ke arah Setyaningsih itu tiba-tiba ditangkap oleh Pangeran Panji
Sigit. Tanpa berunding lagi suami isteri ini dengan gerakan serentak lalu
memutar lengan yang mereka tangkap dari kanan kiri sambil mengerahkan tenaga.
"Krekkl Krekkk!"
Sambungan sepasang lengan itu putus di tiga tempat, yaitu di pundak, siku, dan
pergelangan. Tentu saja kedua lengan Sariwuni menjadi lumpuh seketika. Dan pada
saat itu, sebelum Setyaningsih dan suaminya melepaskan lengan yang sudah
lumpuh, terdengar bentakan Endang Patibroto,
"Ningsih! Pangeran!
Minggir!!"
Tubuh Endang Patibroto yang
baru saja meloncat turun dari panggung bersama Tejolaksono dan Ayu Candra,
menyambar bagaikan seekor burung dan sebuah pukulan dahsyat menghantam kepala
Sariwuni sehingga remuk dan isi kepalanya muncrat berhamburan. Untung Pangeran
Panji Sigit dan isterinya sudah meloncat mundur ketika mendengar seruan ayunda
mereka, kalau tidak tentu akan terkena percikan darah dan otak. Semua orang
anak buah Sariwuni yang berada di situ memandang dengan muka pucat dan hati
penuh ketakutan. Memang Endang Patibroto kalau sedang marah amatlah menakutkan
sepak-terjangnya. Dan dia amat marah kepada Sariwuni yang ia tahu hendak
mempermainkan suaminya. Rasa marah karena cemburu.
Setelah Cekel
WiSangkoro melarikan diri dan Sariwuni tewas, tujuh orang perkasa itu tentu
saja bukan lawan para anak buah di situ, apalagi karena tenaga yang agak boleh
diandalkan, yaitu tujuh orang penari yang membantu Sariwuni juga sudah tewas.
Terjadilah panik dan anak buah itu melawan dengan nekat dan ada yang mulai lari
berserabutan saling tabrak.
No comments:
Post a Comment