Sementara itu, pertandingan antara Wasi Bagaspati dan Bagus Seta juga berlangsung dengan seru. Mula-mula tidak tepat disebut pertandingan karena yang menyerang hanyalah sefihak, yaitu Wasi Bagaspati yang masih mempergunakan kecepatan dan tenaga dalam usahanya menangkap tubuh Bagus Seta yang ringan seperti asap itu. Makin penasaran karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya, bahkan membantu dengan pengerahan kekuatan batin untuk menundukkan dan mempengaruhi hati dan pikiran Bagus Seta. Namun semua itu sia-sia belaka, pemuda itu tetap bersikap tenang sekali, sedikit pun tidak goyah oleh tarikan tenaga mujijat dari kekuatan batin Sang Wasi, dan tubuhnya masih selalu berkelebat tak pernah dapat disentuh kedua tangan Wasi Bagaspati.
"Bocah keparat Bagus
Seta! Apakah gurumu mengajar engkau menjadi pengecut yang hanya pandai mengelak
dan menghindari semua pukulan lawan?" Bentak Wasi Bagaspati yang kehabisan
akal untuk dapat menangkapnya dan kini berdiri dengan mata melotot.
Bagus Seta pun menghentikan
gerakan tubuhnya, berdiri tenang dan balas bertanya,
"Apakah yang kau
kehendaki dariku, Sang Wasi?"
"Kalau andika memang
sakti mandraguna, hayo hadapi aji pukulan dengan aji pukulan pula. Keluarkan
kesaktianmu, keparat!"
"Sang Wasi Bagaspati,
kekasaran takkan dapat mengatasi kehalusan, kekarasan takkan dapat
menanggulangi kelunakan seperti juga kesalahan takkan dapat memenangkan
kebenaran. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti, Sang Wasi. Mengapa
andika hendak memaksakan keadaan yang sebaliknya? Andika menghendaki aku
menggunakan kekerasan menghadapi kekerasanmu? Andika yang menghendaki, bukan
aku. Nah, silahkan!" Sete!ah berkata demikian, Bagus Seta membuka kedua
kakinya ke kanan kiri, tubuhnya agak merendah, pandang matanya tajam ke depan
dan kedua tangan diangkat sedikit di kanan kiri lambung dengan jari-jari tangan
terbuka. Melihat ini, Wasi Bagaspati maklum bahwa itulah sikap dan kuda-kuda
orang yang mengandalkan tenaga sakti untuk menghadapi lawan tangguh, maka ia
bersikap hati-hati, diam-diam mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan
tiba-tiba dari dalam dadanya keluar suara menggetar yang tak terdengar telinga
saking rendahnya, namun yang wibawanya menggetarkan lawan sehingga tanpa
memukul pun getaran itu akan dapat mengguncang jantung lawan dan menewaskannya.
Kemudian ia melompat ke depan dan memukul dengan kedua telapak tangannya
didorongkan ke arah dada Bagus Seta. Hebat luar biasa kekuatan pukulan kedua
lengan ini, dan sekiranya yang didorong ini sebarisan orang yang puluhan
banyaknya, agaknya akan dapat didorong roboh oleh kedasyatan tenaga sakti yang
keluar dari sepasang tapak tangan merah Sang Wasi Bagaspati. Bagus Seta sudah
waspada akan kedahsyatan lawan, namun dengan sikap tenang ia pun menggerakkan
kedua lengannya didorongkan ke depan menerima dua telapak tangan lawan itu.
"Dessss ....!!” Dua
pasang telapak tangan yang penuh hawa mujijat bertemu dan menimbulkan getaran
hebat sehingga panggung itu hampir roboh karena terguncang. Tubuh Wasi
Bagaspati terdorong mundur sampai lima langkah sedangkan tubuh Bagus Seta
tergoyang-goyang seperti pohon waringin tertiup badai.
Wajah Wasi Bagaspati yang
biasanya merah sekali itu kini menjadi agak pucat dan maklumlah ia bahwa pemuda
remaja itu benar-benar memiliki kesaktian yang amat mengejutkan. Diam-diam ia
merasa mendongkol sekali kepada Bhagawan Ekadenta yang agaknya sengaja
menciptakan pemuda sakti ini untuk menentang usahanya. Pikiran ini membuat
hatinya bergelora penuh penasaran dan kemarahan, membuat ia lupa diri dan
mulutnya berkemak-kemik, kemudian ia membentak,
"Bagus Seta, engkau
lebih sombong daripada gurumu! Kaukira berhasilkan mengalahkan Wasi Bagaspati,
murid terkasih Sang Hyang Bathara Shiwa? Lihatlah senjata ini yang akan
menghancur lumatkan tubuhmu, keparat!" Kakek itu menggerakkan tangan
kanannya yang tiba-tiba saja sudah memegang senjatanya yang amat ampuh, senjata
Cakra yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata. Melihat senjata itu, Bagus
Seta mengerutkan alisnya.
"Sang Wasi Bagaspati,
ingatlah akan kesucian pusaka itu. Hendakkah andika jangan mencemarkannya
dengan mempergunakan nafsu angkara murka?"
"Senjata ini adalah
milikku, perduli apa engkau akan penggunaannya? Keparat, kalau engkau takut
menghadapinya, hayo berlutut dan menyerah!" Suara ini amat berpengaruh
karena terdorong oleh kekuatan mujijat maha dahsyat yang keluar dari cahaya
senjata Cakra itu. Maklum bahwa menghadapi senjata itu berarti menghadapi
perjuangan mati hidup seperti yang dipesan gurunya, Bagus Seta lalu memejamkan
mata sejenak, kemudian mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang setangkai
bunga Cempaka Putih di atas kepala. Dengan mata menatap wajah Wasi Bagaspati
dan setangkai bunga Cempaka Putih diangkat tinggi, bunga yang segar seakan-akan
memang tumbuh di atas telapak tangan pemuda itu dan mengeluarkan cahaya
gemilang, ia berkata,
"Sang Wasi Bagaspati,
kalau andika menghendaki penentuan terakhir dalam hidup kita di dunia ini, aku
sudah siap menghadapimu!"
Ketika Wasi Bagaspati
melihat setangkai bunga Cempaka Putih di tangan Bagus Seta, seketika kedua
kakinya menggigil dan jantungnya berdebar keras. Terbayanglah peristiwa puluhan
tahun yang lalu ketika ia bertapa di bawah pohon Cempaka untuk mengisi kekuatan
mujijat pada senjata Cakra yang terletak di depan dia duduk bersila. Dia sedang
bersamadhi dengan tekun dan hening, kekuatan mujijat memancar melalui dirinya
dan meluncur turun memasuki senjata Cakra itu. Tiba-tiba telinganya mendengar
suara perlahan dan matanya yang terpejam seperti melihat cahaya putih
berkelebat dan seketika perhatiannya terpecah dan kekuatan mujijat itu berhenti
mengalir seperti air dibendung. Ketika ia membuka matanya, ternyata di atas
senjata Cakra itu terdapat setangkai bunga Cempaka Putih yang agaknya rontok
dari pohon dan jatuh menimpa senjata Cakra sehingga mengganggu keheningan
samadhinya dan terhentilah pengisian tenaga sakti ke dalam senjata itu. Hal ini
dianggapnya sebagai peringatan dari dewata bahwa pengapesan yang merupakan
pantangan bagi senjata pusaka itu adalah setangkai bunga Cempaka Putih. Dan
sekarang, Bagus Seta memegang setangkai bunga Cempaka Putih yang mengeluarkan
sinar gemilang!
Tangan Wasi Bagaspati yang
memegang senjata Cakra menggigil ketika ia merasa betapa senjata pusakanya
menggetar dan seperti seekor kelinci ketakutan yang berusaha untuk lari
menyembunyikan dirinya. Dia bukan seorang bodoh dan tanda-tanda seperti itu tak
berani ia menerjangnya. Cepat ia menyimpan kembali senjatanya dan meloncat ke
atas sambil membentak marah,
"Auuunggghh! Bagus Seta
manusia keparat!"
Kemarahannya ini adalah
ketika ia melihat tewasnya Sariwuni dan tujuh orang penari serta banyak anak
buah di situ.
"Awaslah engkau, akan
tiba saatnya engkau menyesali sikapmu memusuhi aku!"
"Aku tidak memusuhimu,
Wasi Bagaspati," jawab. Bagus Seta akan tetapi tubuh Wasi Bagaspati sudah
mencelat jauh, dalam sekejap mata saja sudah tak tampak lagi seolah-olah
ditelan bumi. Bagus Seta menghela napas panjang, menyimpan bunga Cempaka Putih
dan menengok. Ketika ia melihat betapa ayah dan kedua bundanya, juga dua pasang
bibi dan pamannya mulai mengamuk di antara para anak buah lawan yang lari
berserabutan dengan panik, ia lalu meloncat turun dan berkata halus,
"Kangjeng Rama, Ibu,
Bibi, dan Paman! Harap menaruh kasihan kepada mereka."
Tujuh orang sakti itu
tertegun mendengar suara halus Bagus Seta dan serentak mereka menghentikan
amukan dan menghampiri Bagus Seta. Akan tetapi Endang Patibroto membantah,
"Puteraku sang sakti
Bagus Seta. Mereka adalah anak buah musuh yang mengacaukan negara, sudah sepatutnya
kalau dibunuh. Bukankah kita sedang berjuang?"
Bagus Seta tersenyum dan
baru senyum ini saja sudah mengusir sebagian besar kemarahan dan kebencian dari
hati Endang Patibroto terhadap musuhnya.
"Ibunda benar, perang
membela nusa bangsa adalah perjuangan yang menjadi kewajiban setiap orang
satria. Akan tetapi, perang menghadapi pihak yang melawan barulah namanya
perjuangan, adapun membunuhi pihak yang tidak mampu melawan dan tidak mau
melawan lagi namanya penyembelihan yang lahir dari nafsu kebencian. Membunuh
dalam perjuangan sama sekali bebas daripada benci, sebaliknya membunuh dengan
hati membenci bukanlah perjuangan namanya. Bedanya amat besar, Kanjeng
Ibu." Endang Patibroto melongo dan menghela napas panjang.
"Duhai puteraku, engkau
membuka mata dan hatiku."
Ayu Candra sudah merangkul
puteranya dan mengelus-elus rambut kepala puteranya penuh kasih sayang. Tidak
ada kata-kata keluar dari mulut ibu akan tetapi getaran yang keluar dari
sentuhan jari-jari tangan, pancaran pandang mata yang keluar dari sepasang mata
yang basah itu, merupakan pengganti kata-kata yang lebih menyentuh perasaan dan
mengharukan hati Bagus Seta yang betapapun juga adalah seorang manusia biasa.
"Kanjeng Ibu
....." Hanya demikian ia dapat berbisik sambil menciumi ujung jari Ibunya.
Dengan sudah payah Ayu Candra dapat juga berbisik,
"Puteraku ... Bagus
Seta, tahukah engkau betapa berat penderitaanku selama kautinggalkan dan betapa
bahagia hati ini setelah kau kembali?"
Bagus Seta tersenyum dan
menahan hatinya jangan sampai meruntuhkan air mata.
"Tentu saja, Kanjeng
Ibu. Puteranda maklum.....”
Terdengar isak tertahan dan
ternyata Endang Patibroto, Pusporini, dan Setyaningsih sudah menangis, tidak
tahan menyaksikan pertemuan antara ibu dan anak yang tidak dihias banyak
kata-kata namun yang menyentuh perasaan menggugah keharuan itu. Terutama sekali
Endang Patibroto yang teringat akan puterinya, Retno Wilis, hatinya nelangsa.
Tejolaksono waspada akan semua ini dan untuk membuyarkan suasana keharuan yang
mencekam dan menular itu cepat berkata,
"Bagus Seta, bagaimana
kesudahan pertandinganmu melawan Wasi Bagaspati? Ke manakah dia?"
Disebutnya nama ini benar
saja membuat semua orang sadar dan perhatian mereka tertarik. Bahkan Ayu Candra
sudah melepaskan rangkulannya untuk dapat lebih jelas memandang wajah puteranya
dan mendengarkan jawabannya.
"Dia telah pergi
......" jawab Bagus Seta. Mereka lalu meninggalkan tempat itu untuk
memberi kesempatan kepada sisa anak buah Sariwuni untuk mengubur para korban
yang tewas dalam pertempuran itu. Dalam pertemuan yang menggembirakan itu
ramailah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, terutama sekali
Bagus Seta dan Pusporini yang telah lama meninggalkan keluarga mereka. Mereka
bercakap-cakap di luar sebuah hutan di kaki gunung itu sambil menanti datangnya
pagi karena malam telah mulai gelap setelah bulan purnama menyelam di barat.
telah cukup mereka melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing-masing,
Tejolaksono lalu berkata,
"Mendengar penuturan
kalian dan mengingat akan perkembangan di Jenggala pada saat ini yang amat
buruk, tidak perlu lagi kita pergi ke Jenggala karena kita tentu akan menempuh
tentangan dari pengaruh-pengaruh jahat yang kini mencengkeram Jenggala.
Sebaliknya kita kembali ke Panjalu dan melaporkan segala keadaan Jenggala itu
kepada sang prabu. Bagaimana pendapatmu, Bagus Seta?" Tejolaksono yang
maklum sepenuhnya bahwa kini tibalah saatnya apa yang dahulu diramalkan Ki
Tunggaljiwa, sengaja menanyakan pendapat Bagus Seta karena puteraya inilah yang
akan dapat diandalkan untuk menghadapi orang-orang sakti seperti Wasi Bagaspati
yang berdiri di pihak pengacau.
"Pendapat Kanjeng Rama
tepat sekali. Memang urusan yang terjadi di Jenggala sudah menjadi urusan besar
yang menyangkut kerajaan dan kiranya hanyalah sang prabu di Panjalu saja yang
berhak memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap kekuasaan yang secara halus
mencengkeram Jenggala."
Demikianlah, setelah sinar
matahari pagi mulai menggantikan malam mengusir embun, delapan orang anggota
keluarga sakti mandraguna itu melakukan perjalanan menuju ke Kota Raja Panjalu.
Rombongan keluarga yang amat hebat dan baru sekaranglah keluarga itu hampir
lengkap, hanya sayang masih berkurang seorang, yaitu puteri Tejolaksono dari
Endang Patibroto, Retna Wilis! Adapun Joko Pramono sungguhpun belum menjadi
suami Pusporini, namun sudah dianggap sebagai keluarga karena selain dia adalah
kekasih dan tunangan Pusporini, juga kakak seperguruannya. Apalagi ketika
pemuda ini malam tadi menceritakan riwayatnya, memperkenalkan diri sebagai keponakan
Ki Adibroto yang menjadi ayah Ayu Candra, maka pemuda ini sesungguhnya masih
adik keponakan Ayu Candra sendiri, jadi masih keluarga pula.
Sang prabu di
Panjalu menjadi terkejut sekali ketika mendengar pelaporan Tejolaksono tentang
keadaan di Jenggala, mendengar betapa parah keadaan kerajaan adiknya itu. Lebih
terkejut dan marah lagi ketika mendengar akan kenyataan bahwa mereka yang
berkuasa di Jenggala sekarang adalah sekutu-sekutu dari utusan Kerajaan
Sriwijaya dan Kerajaan Cola, terutama sekali Kerajaan Cola. Sang prabu yang
arif bijaksana maklum akan gawatnya persoalan, maklum bahwa hal ini selain
menyangkut jatuh-bangunnya Kerajaan Jenggala, juga menyangkut keamanan Kerajaan
Panjalu sendiri.
No comments:
Post a Comment