Perawan Lembah Wilis; Bagian 165


Sementara itu, pertandingan antara Wasi Bagaspati dan Bagus Seta juga berlangsung dengan seru. Mula-mula tidak tepat disebut pertandingan karena yang menyerang hanyalah sefihak, yaitu Wasi Bagaspati yang masih mempergunakan kecepatan dan tenaga dalam usahanya menangkap tubuh Bagus Seta yang ringan seperti asap itu. Makin penasaran karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya, bahkan membantu dengan pengerahan kekuatan batin untuk menundukkan dan mempengaruhi hati dan pikiran Bagus Seta. Namun semua itu sia-sia belaka, pemuda itu tetap bersikap tenang sekali, sedikit pun tidak goyah oleh tarikan tenaga mujijat dari kekuatan batin Sang Wasi, dan tubuhnya masih selalu berkelebat tak pernah dapat disentuh kedua tangan Wasi Bagaspati.
"Bocah keparat Bagus Seta! Apakah gurumu mengajar engkau menjadi pengecut yang hanya pandai mengelak dan menghindari semua pukulan lawan?" Bentak Wasi Bagaspati yang kehabisan akal untuk dapat menangkapnya dan kini berdiri dengan mata melotot.
Bagus Seta pun menghentikan gerakan tubuhnya, berdiri tenang dan balas bertanya,
"Apakah yang kau kehendaki dariku, Sang Wasi?"
"Kalau andika memang sakti mandraguna, hayo hadapi aji pukulan dengan aji pukulan pula. Keluarkan kesaktianmu, keparat!"
"Sang Wasi Bagaspati, kekasaran takkan dapat mengatasi kehalusan, kekarasan takkan dapat menanggulangi kelunakan seperti juga kesalahan takkan dapat memenangkan kebenaran. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti, Sang Wasi. Mengapa andika hendak memaksakan keadaan yang sebaliknya? Andika menghendaki aku menggunakan kekerasan menghadapi kekerasanmu? Andika yang menghendaki, bukan aku. Nah, silahkan!" Sete!ah berkata demikian, Bagus Seta membuka kedua kakinya ke kanan kiri, tubuhnya agak merendah, pandang matanya tajam ke depan dan kedua tangan diangkat sedikit di kanan kiri lambung dengan jari-jari tangan terbuka. Melihat ini, Wasi Bagaspati maklum bahwa itulah sikap dan kuda-kuda orang yang mengandalkan tenaga sakti untuk menghadapi lawan tangguh, maka ia bersikap hati-hati, diam-diam mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan tiba-tiba dari dalam dadanya keluar suara menggetar yang tak terdengar telinga saking rendahnya, namun yang wibawanya menggetarkan lawan sehingga tanpa memukul pun getaran itu akan dapat mengguncang jantung lawan dan menewaskannya. Kemudian ia melompat ke depan dan memukul dengan kedua telapak tangannya didorongkan ke arah dada Bagus Seta. Hebat luar biasa kekuatan pukulan kedua lengan ini, dan sekiranya yang didorong ini sebarisan orang yang puluhan banyaknya, agaknya akan dapat didorong roboh oleh kedasyatan tenaga sakti yang keluar dari sepasang tapak tangan merah Sang Wasi Bagaspati. Bagus Seta sudah waspada akan kedahsyatan lawan, namun dengan sikap tenang ia pun menggerakkan kedua lengannya didorongkan ke depan menerima dua telapak tangan lawan itu.
"Dessss ....!!” Dua pasang telapak tangan yang penuh hawa mujijat bertemu dan menimbulkan getaran hebat sehingga panggung itu hampir roboh karena terguncang. Tubuh Wasi Bagaspati terdorong mundur sampai lima langkah sedangkan tubuh Bagus Seta tergoyang-goyang seperti pohon waringin tertiup badai.

Wajah Wasi Bagaspati yang biasanya merah sekali itu kini menjadi agak pucat dan maklumlah ia bahwa pemuda remaja itu benar-benar memiliki kesaktian yang amat mengejutkan. Diam-diam ia merasa mendongkol sekali kepada Bhagawan Ekadenta yang agaknya sengaja menciptakan pemuda sakti ini untuk menentang usahanya. Pikiran ini membuat hatinya bergelora penuh penasaran dan kemarahan, membuat ia lupa diri dan mulutnya berkemak-kemik, kemudian ia membentak,
"Bagus Seta, engkau lebih sombong daripada gurumu! Kaukira berhasilkan mengalahkan Wasi Bagaspati, murid terkasih Sang Hyang Bathara Shiwa? Lihatlah senjata ini yang akan menghancur lumatkan tubuhmu, keparat!" Kakek itu menggerakkan tangan kanannya yang tiba-tiba saja sudah memegang senjatanya yang amat ampuh, senjata Cakra yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata. Melihat senjata itu, Bagus Seta mengerutkan alisnya.
"Sang Wasi Bagaspati, ingatlah akan kesucian pusaka itu. Hendakkah andika jangan mencemarkannya dengan mempergunakan nafsu angkara murka?"
"Senjata ini adalah milikku, perduli apa engkau akan penggunaannya? Keparat, kalau engkau takut menghadapinya, hayo berlutut dan menyerah!" Suara ini amat berpengaruh karena terdorong oleh kekuatan mujijat maha dahsyat yang keluar dari cahaya senjata Cakra itu. Maklum bahwa menghadapi senjata itu berarti menghadapi perjuangan mati hidup seperti yang dipesan gurunya, Bagus Seta lalu memejamkan mata sejenak, kemudian mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang setangkai bunga Cempaka Putih di atas kepala. Dengan mata menatap wajah Wasi Bagaspati dan setangkai bunga Cempaka Putih diangkat tinggi, bunga yang segar seakan-akan memang tumbuh di atas telapak tangan pemuda itu dan mengeluarkan cahaya gemilang, ia berkata,
"Sang Wasi Bagaspati, kalau andika menghendaki penentuan terakhir dalam hidup kita di dunia ini, aku sudah siap menghadapimu!"
Ketika Wasi Bagaspati melihat setangkai bunga Cempaka Putih di tangan Bagus Seta, seketika kedua kakinya menggigil dan jantungnya berdebar keras. Terbayanglah peristiwa puluhan tahun yang lalu ketika ia bertapa di bawah pohon Cempaka untuk mengisi kekuatan mujijat pada senjata Cakra yang terletak di depan dia duduk bersila. Dia sedang bersamadhi dengan tekun dan hening, kekuatan mujijat memancar melalui dirinya dan meluncur turun memasuki senjata Cakra itu. Tiba-tiba telinganya mendengar suara perlahan dan matanya yang terpejam seperti melihat cahaya putih berkelebat dan seketika perhatiannya terpecah dan kekuatan mujijat itu berhenti mengalir seperti air dibendung. Ketika ia membuka matanya, ternyata di atas senjata Cakra itu terdapat setangkai bunga Cempaka Putih yang agaknya rontok dari pohon dan jatuh menimpa senjata Cakra sehingga mengganggu keheningan samadhinya dan terhentilah pengisian tenaga sakti ke dalam senjata itu. Hal ini dianggapnya sebagai peringatan dari dewata bahwa pengapesan yang merupakan pantangan bagi senjata pusaka itu adalah setangkai bunga Cempaka Putih. Dan sekarang, Bagus Seta memegang setangkai bunga Cempaka Putih yang mengeluarkan sinar gemilang!

Tangan Wasi Bagaspati yang memegang senjata Cakra menggigil ketika ia merasa betapa senjata pusakanya menggetar dan seperti seekor kelinci ketakutan yang berusaha untuk lari menyembunyikan dirinya. Dia bukan seorang bodoh dan tanda-tanda seperti itu tak berani ia menerjangnya. Cepat ia menyimpan kembali senjatanya dan meloncat ke atas sambil membentak marah,
"Auuunggghh! Bagus Seta manusia keparat!"
Kemarahannya ini adalah ketika ia melihat tewasnya Sariwuni dan tujuh orang penari serta banyak anak buah di situ.
"Awaslah engkau, akan tiba saatnya engkau menyesali sikapmu memusuhi aku!"
"Aku tidak memusuhimu, Wasi Bagaspati," jawab. Bagus Seta akan tetapi tubuh Wasi Bagaspati sudah mencelat jauh, dalam sekejap mata saja sudah tak tampak lagi seolah-olah ditelan bumi. Bagus Seta menghela napas panjang, menyimpan bunga Cempaka Putih dan menengok. Ketika ia melihat betapa ayah dan kedua bundanya, juga dua pasang bibi dan pamannya mulai mengamuk di antara para anak buah lawan yang lari berserabutan dengan panik, ia lalu meloncat turun dan berkata halus,
"Kangjeng Rama, Ibu, Bibi, dan Paman! Harap menaruh kasihan kepada mereka."
Tujuh orang sakti itu tertegun mendengar suara halus Bagus Seta dan serentak mereka menghentikan amukan dan menghampiri Bagus Seta. Akan tetapi Endang Patibroto membantah,
"Puteraku sang sakti Bagus Seta. Mereka adalah anak buah musuh yang mengacaukan negara, sudah sepatutnya kalau dibunuh. Bukankah kita sedang berjuang?"
Bagus Seta tersenyum dan baru senyum ini saja sudah mengusir sebagian besar kemarahan dan kebencian dari hati Endang Patibroto terhadap musuhnya.
"Ibunda benar, perang membela nusa bangsa adalah perjuangan yang menjadi kewajiban setiap orang satria. Akan tetapi, perang menghadapi pihak yang melawan barulah namanya perjuangan, adapun membunuhi pihak yang tidak mampu melawan dan tidak mau melawan lagi namanya penyembelihan yang lahir dari nafsu kebencian. Membunuh dalam perjuangan sama sekali bebas daripada benci, sebaliknya membunuh dengan hati membenci bukanlah perjuangan namanya. Bedanya amat besar, Kanjeng Ibu." Endang Patibroto melongo dan menghela napas panjang.
"Duhai puteraku, engkau membuka mata dan hatiku."
Ayu Candra sudah merangkul puteranya dan mengelus-elus rambut kepala puteranya penuh kasih sayang. Tidak ada kata-kata keluar dari mulut ibu akan tetapi getaran yang keluar dari sentuhan jari-jari tangan, pancaran pandang mata yang keluar dari sepasang mata yang basah itu, merupakan pengganti kata-kata yang lebih menyentuh perasaan dan mengharukan hati Bagus Seta yang betapapun juga adalah seorang manusia biasa.
"Kanjeng Ibu ....." Hanya demikian ia dapat berbisik sambil menciumi ujung jari Ibunya. Dengan sudah payah Ayu Candra dapat juga berbisik,
"Puteraku ... Bagus Seta, tahukah engkau betapa berat penderitaanku selama kautinggalkan dan betapa bahagia hati ini setelah kau kembali?"

Bagus Seta tersenyum dan menahan hatinya jangan sampai meruntuhkan air mata.
"Tentu saja, Kanjeng Ibu. Puteranda maklum.....”
Terdengar isak tertahan dan ternyata Endang Patibroto, Pusporini, dan Setyaningsih sudah menangis, tidak tahan menyaksikan pertemuan antara ibu dan anak yang tidak dihias banyak kata-kata namun yang menyentuh perasaan menggugah keharuan itu. Terutama sekali Endang Patibroto yang teringat akan puterinya, Retno Wilis, hatinya nelangsa. Tejolaksono waspada akan semua ini dan untuk membuyarkan suasana keharuan yang mencekam dan menular itu cepat berkata,
"Bagus Seta, bagaimana kesudahan pertandinganmu melawan Wasi Bagaspati? Ke manakah dia?"
Disebutnya nama ini benar saja membuat semua orang sadar dan perhatian mereka tertarik. Bahkan Ayu Candra sudah melepaskan rangkulannya untuk dapat lebih jelas memandang wajah puteranya dan mendengarkan jawabannya.
"Dia telah pergi ......" jawab Bagus Seta. Mereka lalu meninggalkan tempat itu untuk memberi kesempatan kepada sisa anak buah Sariwuni untuk mengubur para korban yang tewas dalam pertempuran itu. Dalam pertemuan yang menggembirakan itu ramailah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, terutama sekali Bagus Seta dan Pusporini yang telah lama meninggalkan keluarga mereka. Mereka bercakap-cakap di luar sebuah hutan di kaki gunung itu sambil menanti datangnya pagi karena malam telah mulai gelap setelah bulan purnama menyelam di barat. telah cukup mereka melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing-masing, Tejolaksono lalu berkata,
"Mendengar penuturan kalian dan mengingat akan perkembangan di Jenggala pada saat ini yang amat buruk, tidak perlu lagi kita pergi ke Jenggala karena kita tentu akan menempuh tentangan dari pengaruh-pengaruh jahat yang kini mencengkeram Jenggala. Sebaliknya kita kembali ke Panjalu dan melaporkan segala keadaan Jenggala itu kepada sang prabu. Bagaimana pendapatmu, Bagus Seta?" Tejolaksono yang maklum sepenuhnya bahwa kini tibalah saatnya apa yang dahulu diramalkan Ki Tunggaljiwa, sengaja menanyakan pendapat Bagus Seta karena puteraya inilah yang akan dapat diandalkan untuk menghadapi orang-orang sakti seperti Wasi Bagaspati yang berdiri di pihak pengacau.
"Pendapat Kanjeng Rama tepat sekali. Memang urusan yang terjadi di Jenggala sudah menjadi urusan besar yang menyangkut kerajaan dan kiranya hanyalah sang prabu di Panjalu saja yang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap kekuasaan yang secara halus mencengkeram Jenggala."
Demikianlah, setelah sinar matahari pagi mulai menggantikan malam mengusir embun, delapan orang anggota keluarga sakti mandraguna itu melakukan perjalanan menuju ke Kota Raja Panjalu. Rombongan keluarga yang amat hebat dan baru sekaranglah keluarga itu hampir lengkap, hanya sayang masih berkurang seorang, yaitu puteri Tejolaksono dari Endang Patibroto, Retna Wilis! Adapun Joko Pramono sungguhpun belum menjadi suami Pusporini, namun sudah dianggap sebagai keluarga karena selain dia adalah kekasih dan tunangan Pusporini, juga kakak seperguruannya. Apalagi ketika pemuda ini malam tadi menceritakan riwayatnya, memperkenalkan diri sebagai keponakan Ki Adibroto yang menjadi ayah Ayu Candra, maka pemuda ini sesungguhnya masih adik keponakan Ayu Candra sendiri, jadi masih keluarga pula.

Sang prabu di Panjalu menjadi terkejut sekali ketika mendengar pelaporan Tejolaksono tentang keadaan di Jenggala, mendengar betapa parah keadaan kerajaan adiknya itu. Lebih terkejut dan marah lagi ketika mendengar akan kenyataan bahwa mereka yang berkuasa di Jenggala sekarang adalah sekutu-sekutu dari utusan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola, terutama sekali Kerajaan Cola. Sang prabu yang arif bijaksana maklum akan gawatnya persoalan, maklum bahwa hal ini selain menyangkut jatuh-bangunnya Kerajaan Jenggala, juga menyangkut keamanan Kerajaan Panjalu sendiri.

<<< Bagian 164                                                                                     Bagian 166 >>>

No comments:

Post a Comment