Juga sang prabu menyatakan kegirangannya akan berkumpulnya keluarga Ki Patih Tejolaksono, lebih-lebih melihat Bagus Seta sang prabu menjadi kagum dan seketika kepercayaannya tercurah kepada pemuda remaja ini.
"Kita harus turun
tangan menyelamatkan Jenggala!" ujar sang prabu.
"Akan tetapi karena
kekuasaan jahat itu menggunakan jalan halus, amatlah tidak baik kalau kita
menggunakan jalan kekasaran.
Sebaiknya aku akan menulis
sepucuk surat pribadi untuk yayi prabu di Jenggala, mengangkat Bagus Seta
menjadi utusan pembawa surat. Karena surat ini bersifat pribadi, kita mendapat
alasan untuk menyampaikan surat itu ke tangan yayi prabu sendiri. Syukur kalau
para pengacau itu memperbolehkan Bagus Seta menghadap yayi prabu sehingga selain
menyerahkan surat, dapat pula membebaskan yayi prabu daripada hawa jahat yang
mempengaruhinya agar sadar. Andaikata pihak pengacau menggunakan kekerasan
mencegah, maka kita mendapat alasan pula untuk turun tangan menggunakan
kekerasan. Untuk keperluan Patih Tejolaksono dan keluarganya yang sakti
mandraguna kuperintahkan untuk mengawal Bagus seta, dan kepada Pangeran
Darmokusumo dan Kakang Patih Suroyudo, kuperintahkan untuk mempersiapkan
barisan pilihan untuk membayangi dari belakang sehingga apabila terjadi
kekerasan, barisan kita akan dapat cepat menyerbu ke Jenggala. Kuperintahkan
andika sekalian berusaha untuk membersihkan Jenggala dari semua oknum jahat,
menangkapi atau membasmi para pengacau dan mengangkat kekuasaan yayi prabu di
Jenggala. Puteraku Pangeran Panji Sigit, menjadi kewajiban utama bagimu untuk
menyelamatkan kangjeng ramamu dari tangan Suminten yang jahat karena untuk
mengingatkan penyelewengan seorang ayah menjadi kewajiban seorang anak."
Setelah persidangan di
hadapan sang prabu di Panjalu bubar, para satria perkasa segera mempersiapkan
tugas masing-masing sambil menanti surat sang prabu dan kelanjutan perintah
untuk menentukan hari keberangkatan. Akan tetapi sebelum perintah penentuan ini
tiba, datanglah penyelidik yang melaporkan hal yang amat mengejutkan hati sang
prabu di Panjalu, yaitu bahwa sang prabu di Jenggala berada dalam keadaan sakit
dan sebulan lagi di Jenggala akan diadakan upacara pengangkatan Pangeran
Kukutan sebagai Raja Jenggala oleh sang prabu yang sedang sakit!
"Hemm, ini tentu siasat
mereka. Sekali pengangkatan itu sudah dilakukan secara resmi, kita tidak akan
dapat berbuat apa-apa lagi kecuali menyatakan perang. Namun sungguh akan
menyedihkan hati! sekali kalau menyatakan perang dengan kerajaan saudara
sendiri! Kalau begitu, hari ini juga kalian harus berangkat dan suratnya kuubah
berisi permintaan agar yayi prabu menunda pengangkatan raja baru sebelum
bertemu dengan aku!"
Pesan sang prabu di Panjalu
ini segera dilaksanakan oleh Bagus Seta yang menerima surat untuk raja di
Jenggala, kemudian berangkatlah pemuda remaja yang sakti mandraguna ini bersama
seluruh keluarganya, yaitu Tejolaksono, Ayu Candra, Endang Patibroto, Pangeran
Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono, dan Pusporini. Rombongan keluarga
sakti itu sepenuhnya berangkat untuk berjuang membebaskan Jenggala daripada
cengkeraman kekuasaan jahat yang dikemudikan oleh Sang Wasi Bagaspati sendiri.
Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Suroyudo mengatur sebuah barisan yang pilihan
dan cukup besar, sejumlah sepuluh ribu orang mengiringkan rombongan keluarga
sakti ini dari jauh. Ancaman perang agaknya takkan dapat dielakkan lagi!
Barisan Panjalu yang menuju ke Jenggala itu telah didahului oleh berita yang
dibawa orang dari mulut ke mulut dan cukup menggegerkan. Rakyat Jenggala yang
sudah muak menyaksikan peristiwa-peristiwa pembunuhan dan kekacauan, kenaikan
pajak dan penindasan-penindasan terhadap para penyembah Bathara Wishnu yang
setia, diam-diam menjadi gembira dan penuh harapan, bahkan di antara para orang
mudanya banyak sudah bersiap-siap untuk membantu pihak Panjalu apabila pecah
perang. Terutama sekali para panglima dan prajurit Jenggala yang terpaksa
menghambakan diri kepada kekuasaan baru di Jenggala dengan pengorbanan
perasaan, diam-diam juga bersiap untuk memberontak dan membantu barisan Panjalu
apabila saat dan kesempatannya tiba.
Rombongan keluarga sakti
yang berangkat lebih dahulu dengan kuda-kuda pilihan, terpaksa berhenti di
perbatasan kota raja karena ditahan oleh rombongan penjaga yang ratusan orang prajurit
banyaknya. Tejolaksono sebagai kepala rombongan segera maju menghampiri
komandan pasukan, seorang perwira yang sudah setengah tua dan yang menyambut
mereka dengan muka agak pucat karena perwira ini dengan kaget mengenal
orang-orang sakti ini, terutama sekali ia gentar melihat bahwa Endang Patibroto
berada di antara rombongan ini.
"Hai, perwira Jenggala.
Mengapa andika menahan rombongan kami yang hendak lewat?"
Perwira itu memaksa diri
membusungkan dada dan bersikap gagah karena akan amat memalukan kalau di
hadapan seratus lebih anak buahnya ia memperlihatkan sikap lunak dan takut,
maka jawabnya,
"Kami menjunjung
perintah gusti patih untuk menjaga di sini dan tidak memperbolehkan orang luar
memasuki tapal batas kota raja sebelum lewat hari penobatan gusti pangeran pati
menjadi raja."
Seorang perwira rendahan
yang masih muda, yang merupakan ponggawa baru dan termasuk kaki tangan Patih
Warutama, melangkah maju menyeret tombaknya yang panjang dan berat. Perwira
muda ini bertubuh tinggi besar, kelihatan kuat dan bersikap kasar ketika
bertanya.
"Kalian ini rombongan
dari mana? Apakah kalian kawula (rakyat) Jenggala?"
Pusporini tak dapat menahan
kemarahannya lagi melihat lagak perwira muda ini. Ia meloncat maju mendekati
perwira muda itu dan menudingkan telunjuknya ke hidung orang itu sambil
membentak,
"Apakah matamu buta?
Tidakkah engkau melihat bahwa beliau ini adalah Gustimu Pangeran Panji Sigit,
pangeran dari Jenggala?"
Perwira muda itu menodongkan
tombaknya ke dada Pusporini dan menjawab kasar,
"Aku mengenal dia
sebagai seorang pemberontak dan pelarian. Juga engkau adalah seorang pelarian
yang harus kami tangkap!"
Pusporini mengeluarkan
seruan marah dan kaki tangannya bergerak. Cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu
ia telah merampas tombak itu, dua kali mengayun tombak terdengar suara
"krek, krekl" dan robohlah perwira muda itu dengan tulang kaki
patah-patah. Kemudian Pusporini mematah-matahkan tombak seperti orang
mematahkan biting raja sambil membentak,
"Siapa lagi yang ingin
dipatahkan kakinya?"
Semua perajurit Jenggala
menjadi pucat wajahnya, akan tetapi mereka pun mulai bergerak hendak
mengeroyok.
"Rini, jangan
menggunakan kekerasan. Mundurlah!" Tejolaksono membentak adik iparnya.
Pusporini mundur sambil cemberut.
Endang Patibroto di dalam
hati menyetujui perbuatan Pusporini itu. Memang ada persamaan antara wataknya
dan watak Pusporini atau lebih tepat lagi, wataknya sendiri lebih keras
daripada watak Pusporini. Ia melangkah maju dan berkata kepada perwira komandan
pasukan itu,
"Heh perwira lancang! Kalau
kalian tidak mengakui Gustimu Pangeran Panji Sigit, apakah engkau begitu buta
tidak mengenal suamiku Tejolaksono, Gusti Patih Panjalu? Apakah kalian ini
seratus orang lebih sudah bosan hidup dan minta kubunuh semua? Apakah engkau
tidak mengenal siapa aku?"
Gentarlah hati perwira itu.
Memang ia tadi sudah amat takut melihat Endang Patibroto yang pernah
menggegerkan Jenggala, apalagi kini menyaksikan gadis muda Pusporini dan
mendengar ancaman Endang Patibroto.
"Saya ....eh, hamba
mengenal Gusti Patih Tejolaksono dan mengenal pula paduka Gusti Puteri Endang
Patibroto, akan tetapi .....hamba hanyalah seorang petugas yang menjunjung
perintah atasan ......yang tentu akan menerima hukuman apabila hamba
melanggar perintah atasan
... harap paduka memaklumi keadaan hamba dan para prajurit."
Tejolaksono melangkah maju
dan berkata,
“Perwira Jenggala, kami
maklumi keadaan andika dan pembantumu itu menerima hukuman atas sikapnya yang
kasar. Ketahuilah, kami pun tidak ingin menggunakan kekerasan asal saja andika
tidak menentang. Kami bukanlah pelanggar-pelanggar yang hendak mengacau,
melainkan utusan-utusan pribadi dari gusti sinuwun di Panjalu, kami membawa
surat gusti sinuwun untuk dipersembahkan kepada gusti sinuwun di Jenggala.
Karena kedudukan kami adalah rombongan utusan, maka tidak ada lagi sebutan
pelarian dan setiap rombongan utusan, apalagi utusan dari kerajaan yang masih
berkeluarga dengan Jenggala, andika tidak boleh mengganggu kami dan bahkan
harus mengantarkan kami sampai ke kota raja."
Ucapan Tejolaksono yang
mempunyai dasar kuat itu tak dapat dibantah lagi oleh perwira itu, maka ia lalu
mengeluarkan perintah agar pasukannya memberi jalan, bahkan kemudian dia
sendiri bersama dua losin prajurit mengiringkan rombongan ini menuju ke kota
raja. Karena pengawalan pasukan ini maka rombongan keluarga sakti dapat sampai
di luar pintu gerbang dinding Kota Raja Jenggala. Akan tetapi di pintu gerbang
ini, mereka disambut oleh pasukan pengawal bersenjata lengkap terdiri dari lima
puluh orang lebih dan melihat sikap mereka jelas dapat diduga bahwa mereka ini
dari pengawal-pengawal pilihan yang muda-muda dan kuat-kuat yang dipimpin oleh
Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik!
"Heh, perwira tolol!
Apa yang kaulakukan ini? Mengapa kau mengawal rombongan musuh ini sampai ke sini?"
bentak Ni Dewi Nilamanik dengan suara marah sambil memandang dengan mata
terbelalak kepada perwira tadi. Perwira ini dengan tubuh menggigil lalu
melangkah maju dan berkata dengan suara gemetar,
"Hamba .. hamba
terpaksa mengantar mereka karena mereka ini adalah utusan pribadi gusti sinuwun
di Panjalu yang dipimpin oleh gusti patih muda dari Panjalu ......!”
"Keparat bodoh!"
Ki Kolohangkoro membentak,
tangannya menyambar dan pecahlah kepada perwira itu yang tewas seketika.
Rombongan keluarga sakti marah sekali, akan tetapi karena hal yang terjadi
adalah urusan dalam dan tidak menyangkut diri mereka, terpaksa mereka menahan
sabar dan tidak mau mencampuri.
"Tejolaksono, andika
muncul di sini bersama para pelarian yang telah memberontak terhadap Kerajaan Jenggala
dan menjadi buronan kami, apakah kehendakmu?" Ni Dewi Nilamanik bertanya
dengan sikap angkuh. Tejolaksono tersenyum menjawab,
"Ni Dewi Nilamanik dan
Ki Kolohangkoro! Hadirku di sini bukanlah hal mengherankan karena aku adalah
Patih Muda Panjalu dan kini memimpin rombongan utusan pribadi gusti sinuwum di
Panjalu. Akan tetapi melihat andika berdua memimpin pasukan pengawal di
Jenggala benar-benar patut diherankan. Pada pertemuan antara kita yang terakhir
sepuluh tahun yang lalu, kalian adalah kaki tangan Kerajaan Cola yang mengacau
daerah Panjalu dan Jenggala. Bagaimana sekarang kalian dapat menjadi pimpinan
pengawal di keraton Jenggala?"
Ni Dewi Nilamanik tertawa.
"Hi-hik, apakah anehnya
hal itu? Pangeran Panji Sigit adalah Pangeran Jenggala yang berdosa, kini
tahu-tahu muncul sebagai anggota rombongan utusan Kerajaan Panjalu. Memang
keadaan setiap orang selalu berubah. Sekarang, sebagai kepala pengawal penjaga,
aku berhak untuk melarangmu memasuki kota raja sebelum engkau menjelaskan apa
kehendakmu."
Hati Tejolaksono mendongkol
sekali, akan ia menahan perasaannya. Ia maklum bahwa kalau sikap Ni Dewi
Nilamanik dan Ki Kolohangkoro seberani ini, tentu mereka ini mempunyai andalan.
Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang bodoh dan tentu saja cukup maklum bahwa menghadapi
rombongan keluarganya, apalagi dengan hadirnya Bagus Seta yang selalu bersikap
tenang dan pendiam itu, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro takkan dapat
mengatasinya. Pula, melihat kenyataan bahwa memang kedua orang itu kini menjadi
kepala pengawal, terpaksa ia menjawab sebagaimana mestinya,
"Seperti telah
dikatakan perwira yang dibunuh itu, kami adalah rombongan utusan gusti sinuwun
Panjalu."
"Diutus apa?" Ni
Dewi Nilamanik memotong.
"Kami diutus menghadap
gusti sinuwun Jenggala.....!”
"Ada keperluan
apa?" Api kemarahan terpancar dari sepasang mata Tejolaksono, akan tetapi
ia menekan perasaannya dan berkata sambil tersenyum menghina,
"Wahai, pengawal apakah
andika ini begini kurang ajar? Sedikitpun tidak menghormati junjunganmu
sendiri! Atau kelirukah aku mengatakan bahwa gusti sinuwun di Jenggala adalah
junjunganmu?"
"Tejolaksono, tidak
perlu banyak rewel. Pendeknya, kalau ingin diperkenankan masuk kota raja, harus
memberitahu dengan jelas apa keperluanmu hendak menghadap gusti sinuwun. Aku
adalah kepala penjaga di sini dan berhak menjaga keamanan dan setiap orang yang
lewat, tahu?"
"Kami diutus
mempersembahkan sepucuk surat pribadi dari gusti sinuwun Panjalu untuk gusti
sinuwun Jenggala."
"Serahkan saja surat
itu kepada kami!" kata Ni Dewi Nilamanik.
"Hemm, ucapan apakah
ini? Surat junjungan yang dipercayakan kepada kami sama harganya dengan nyawa
kami, hanya gusti sinuwun Jenggala yang berhak menerima tangan tangan
kami!" jawab Tejolaksono.
No comments:
Post a Comment