Perawan Lembah Wilis; Bagian 166


Juga sang prabu menyatakan kegirangannya akan berkumpulnya keluarga Ki Patih Tejolaksono, lebih-lebih melihat Bagus Seta sang prabu menjadi kagum dan seketika kepercayaannya tercurah kepada pemuda remaja ini.
"Kita harus turun tangan menyelamatkan Jenggala!" ujar sang prabu.
"Akan tetapi karena kekuasaan jahat itu menggunakan jalan halus, amatlah tidak baik kalau kita menggunakan jalan kekasaran.
Sebaiknya aku akan menulis sepucuk surat pribadi untuk yayi prabu di Jenggala, mengangkat Bagus Seta menjadi utusan pembawa surat. Karena surat ini bersifat pribadi, kita mendapat alasan untuk menyampaikan surat itu ke tangan yayi prabu sendiri. Syukur kalau para pengacau itu memperbolehkan Bagus Seta menghadap yayi prabu sehingga selain menyerahkan surat, dapat pula membebaskan yayi prabu daripada hawa jahat yang mempengaruhinya agar sadar. Andaikata pihak pengacau menggunakan kekerasan mencegah, maka kita mendapat alasan pula untuk turun tangan menggunakan kekerasan. Untuk keperluan Patih Tejolaksono dan keluarganya yang sakti mandraguna kuperintahkan untuk mengawal Bagus seta, dan kepada Pangeran Darmokusumo dan Kakang Patih Suroyudo, kuperintahkan untuk mempersiapkan barisan pilihan untuk membayangi dari belakang sehingga apabila terjadi kekerasan, barisan kita akan dapat cepat menyerbu ke Jenggala. Kuperintahkan andika sekalian berusaha untuk membersihkan Jenggala dari semua oknum jahat, menangkapi atau membasmi para pengacau dan mengangkat kekuasaan yayi prabu di Jenggala. Puteraku Pangeran Panji Sigit, menjadi kewajiban utama bagimu untuk menyelamatkan kangjeng ramamu dari tangan Suminten yang jahat karena untuk mengingatkan penyelewengan seorang ayah menjadi kewajiban seorang anak."
Setelah persidangan di hadapan sang prabu di Panjalu bubar, para satria perkasa segera mempersiapkan tugas masing-masing sambil menanti surat sang prabu dan kelanjutan perintah untuk menentukan hari keberangkatan. Akan tetapi sebelum perintah penentuan ini tiba, datanglah penyelidik yang melaporkan hal yang amat mengejutkan hati sang prabu di Panjalu, yaitu bahwa sang prabu di Jenggala berada dalam keadaan sakit dan sebulan lagi di Jenggala akan diadakan upacara pengangkatan Pangeran Kukutan sebagai Raja Jenggala oleh sang prabu yang sedang sakit!
"Hemm, ini tentu siasat mereka. Sekali pengangkatan itu sudah dilakukan secara resmi, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi kecuali menyatakan perang. Namun sungguh akan menyedihkan hati! sekali kalau menyatakan perang dengan kerajaan saudara sendiri! Kalau begitu, hari ini juga kalian harus berangkat dan suratnya kuubah berisi permintaan agar yayi prabu menunda pengangkatan raja baru sebelum bertemu dengan aku!"

Pesan sang prabu di Panjalu ini segera dilaksanakan oleh Bagus Seta yang menerima surat untuk raja di Jenggala, kemudian berangkatlah pemuda remaja yang sakti mandraguna ini bersama seluruh keluarganya, yaitu Tejolaksono, Ayu Candra, Endang Patibroto, Pangeran Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono, dan Pusporini. Rombongan keluarga sakti itu sepenuhnya berangkat untuk berjuang membebaskan Jenggala daripada cengkeraman kekuasaan jahat yang dikemudikan oleh Sang Wasi Bagaspati sendiri. Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Suroyudo mengatur sebuah barisan yang pilihan dan cukup besar, sejumlah sepuluh ribu orang mengiringkan rombongan keluarga sakti ini dari jauh. Ancaman perang agaknya takkan dapat dielakkan lagi! Barisan Panjalu yang menuju ke Jenggala itu telah didahului oleh berita yang dibawa orang dari mulut ke mulut dan cukup menggegerkan. Rakyat Jenggala yang sudah muak menyaksikan peristiwa-peristiwa pembunuhan dan kekacauan, kenaikan pajak dan penindasan-penindasan terhadap para penyembah Bathara Wishnu yang setia, diam-diam menjadi gembira dan penuh harapan, bahkan di antara para orang mudanya banyak sudah bersiap-siap untuk membantu pihak Panjalu apabila pecah perang. Terutama sekali para panglima dan prajurit Jenggala yang terpaksa menghambakan diri kepada kekuasaan baru di Jenggala dengan pengorbanan perasaan, diam-diam juga bersiap untuk memberontak dan membantu barisan Panjalu apabila saat dan kesempatannya tiba.
Rombongan keluarga sakti yang berangkat lebih dahulu dengan kuda-kuda pilihan, terpaksa berhenti di perbatasan kota raja karena ditahan oleh rombongan penjaga yang ratusan orang prajurit banyaknya. Tejolaksono sebagai kepala rombongan segera maju menghampiri komandan pasukan, seorang perwira yang sudah setengah tua dan yang menyambut mereka dengan muka agak pucat karena perwira ini dengan kaget mengenal orang-orang sakti ini, terutama sekali ia gentar melihat bahwa Endang Patibroto berada di antara rombongan ini.
"Hai, perwira Jenggala. Mengapa andika menahan rombongan kami yang hendak lewat?"
Perwira itu memaksa diri membusungkan dada dan bersikap gagah karena akan amat memalukan kalau di hadapan seratus lebih anak buahnya ia memperlihatkan sikap lunak dan takut, maka jawabnya,
"Kami menjunjung perintah gusti patih untuk menjaga di sini dan tidak memperbolehkan orang luar memasuki tapal batas kota raja sebelum lewat hari penobatan gusti pangeran pati menjadi raja."
Seorang perwira rendahan yang masih muda, yang merupakan ponggawa baru dan termasuk kaki tangan Patih Warutama, melangkah maju menyeret tombaknya yang panjang dan berat. Perwira muda ini bertubuh tinggi besar, kelihatan kuat dan bersikap kasar ketika bertanya.
"Kalian ini rombongan dari mana? Apakah kalian kawula (rakyat) Jenggala?"

Pusporini tak dapat menahan kemarahannya lagi melihat lagak perwira muda ini. Ia meloncat maju mendekati perwira muda itu dan menudingkan telunjuknya ke hidung orang itu sambil membentak,
"Apakah matamu buta? Tidakkah engkau melihat bahwa beliau ini adalah Gustimu Pangeran Panji Sigit, pangeran dari Jenggala?"
Perwira muda itu menodongkan tombaknya ke dada Pusporini dan menjawab kasar,
"Aku mengenal dia sebagai seorang pemberontak dan pelarian. Juga engkau adalah seorang pelarian yang harus kami tangkap!"
Pusporini mengeluarkan seruan marah dan kaki tangannya bergerak. Cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu ia telah merampas tombak itu, dua kali mengayun tombak terdengar suara "krek, krekl" dan robohlah perwira muda itu dengan tulang kaki patah-patah. Kemudian Pusporini mematah-matahkan tombak seperti orang mematahkan biting raja sambil membentak,
"Siapa lagi yang ingin dipatahkan kakinya?"
Semua perajurit Jenggala menjadi pucat wajahnya, akan tetapi mereka pun mulai bergerak hendak mengeroyok.
"Rini, jangan menggunakan kekerasan. Mundurlah!" Tejolaksono membentak adik iparnya. Pusporini mundur sambil cemberut.
Endang Patibroto di dalam hati menyetujui perbuatan Pusporini itu. Memang ada persamaan antara wataknya dan watak Pusporini atau lebih tepat lagi, wataknya sendiri lebih keras daripada watak Pusporini. Ia melangkah maju dan berkata kepada perwira komandan pasukan itu,
"Heh perwira lancang! Kalau kalian tidak mengakui Gustimu Pangeran Panji Sigit, apakah engkau begitu buta tidak mengenal suamiku Tejolaksono, Gusti Patih Panjalu? Apakah kalian ini seratus orang lebih sudah bosan hidup dan minta kubunuh semua? Apakah engkau tidak mengenal siapa aku?"
Gentarlah hati perwira itu. Memang ia tadi sudah amat takut melihat Endang Patibroto yang pernah menggegerkan Jenggala, apalagi kini menyaksikan gadis muda Pusporini dan mendengar ancaman Endang Patibroto.
"Saya ....eh, hamba mengenal Gusti Patih Tejolaksono dan mengenal pula paduka Gusti Puteri Endang Patibroto, akan tetapi .....hamba hanyalah seorang petugas yang menjunjung perintah atasan ......yang tentu akan menerima hukuman apabila hamba
melanggar perintah atasan ... harap paduka memaklumi keadaan hamba dan para prajurit."
Tejolaksono melangkah maju dan berkata,
“Perwira Jenggala, kami maklumi keadaan andika dan pembantumu itu menerima hukuman atas sikapnya yang kasar. Ketahuilah, kami pun tidak ingin menggunakan kekerasan asal saja andika tidak menentang. Kami bukanlah pelanggar-pelanggar yang hendak mengacau, melainkan utusan-utusan pribadi dari gusti sinuwun di Panjalu, kami membawa surat gusti sinuwun untuk dipersembahkan kepada gusti sinuwun di Jenggala. Karena kedudukan kami adalah rombongan utusan, maka tidak ada lagi sebutan pelarian dan setiap rombongan utusan, apalagi utusan dari kerajaan yang masih berkeluarga dengan Jenggala, andika tidak boleh mengganggu kami dan bahkan harus mengantarkan kami sampai ke kota raja."

Ucapan Tejolaksono yang mempunyai dasar kuat itu tak dapat dibantah lagi oleh perwira itu, maka ia lalu mengeluarkan perintah agar pasukannya memberi jalan, bahkan kemudian dia sendiri bersama dua losin prajurit mengiringkan rombongan ini menuju ke kota raja. Karena pengawalan pasukan ini maka rombongan keluarga sakti dapat sampai di luar pintu gerbang dinding Kota Raja Jenggala. Akan tetapi di pintu gerbang ini, mereka disambut oleh pasukan pengawal bersenjata lengkap terdiri dari lima puluh orang lebih dan melihat sikap mereka jelas dapat diduga bahwa mereka ini dari pengawal-pengawal pilihan yang muda-muda dan kuat-kuat yang dipimpin oleh Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik!
"Heh, perwira tolol! Apa yang kaulakukan ini? Mengapa kau mengawal rombongan musuh ini sampai ke sini?" bentak Ni Dewi Nilamanik dengan suara marah sambil memandang dengan mata terbelalak kepada perwira tadi. Perwira ini dengan tubuh menggigil lalu melangkah maju dan berkata dengan suara gemetar,
"Hamba .. hamba terpaksa mengantar mereka karena mereka ini adalah utusan pribadi gusti sinuwun di Panjalu yang dipimpin oleh gusti patih muda dari Panjalu ......!”
"Keparat bodoh!"
Ki Kolohangkoro membentak, tangannya menyambar dan pecahlah kepada perwira itu yang tewas seketika. Rombongan keluarga sakti marah sekali, akan tetapi karena hal yang terjadi adalah urusan dalam dan tidak menyangkut diri mereka, terpaksa mereka menahan sabar dan tidak mau mencampuri.
"Tejolaksono, andika muncul di sini bersama para pelarian yang telah memberontak terhadap Kerajaan Jenggala dan menjadi buronan kami, apakah kehendakmu?" Ni Dewi Nilamanik bertanya dengan sikap angkuh. Tejolaksono tersenyum menjawab,
"Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro! Hadirku di sini bukanlah hal mengherankan karena aku adalah Patih Muda Panjalu dan kini memimpin rombongan utusan pribadi gusti sinuwum di Panjalu. Akan tetapi melihat andika berdua memimpin pasukan pengawal di Jenggala benar-benar patut diherankan. Pada pertemuan antara kita yang terakhir sepuluh tahun yang lalu, kalian adalah kaki tangan Kerajaan Cola yang mengacau daerah Panjalu dan Jenggala. Bagaimana sekarang kalian dapat menjadi pimpinan pengawal di keraton Jenggala?"
Ni Dewi Nilamanik tertawa.
"Hi-hik, apakah anehnya hal itu? Pangeran Panji Sigit adalah Pangeran Jenggala yang berdosa, kini tahu-tahu muncul sebagai anggota rombongan utusan Kerajaan Panjalu. Memang keadaan setiap orang selalu berubah. Sekarang, sebagai kepala pengawal penjaga, aku berhak untuk melarangmu memasuki kota raja sebelum engkau menjelaskan apa kehendakmu."
Hati Tejolaksono mendongkol sekali, akan ia menahan perasaannya. Ia maklum bahwa kalau sikap Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro seberani ini, tentu mereka ini mempunyai andalan. Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang bodoh dan tentu saja cukup maklum bahwa menghadapi rombongan keluarganya, apalagi dengan hadirnya Bagus Seta yang selalu bersikap tenang dan pendiam itu, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro takkan dapat mengatasinya. Pula, melihat kenyataan bahwa memang kedua orang itu kini menjadi kepala pengawal, terpaksa ia menjawab sebagaimana mestinya,
"Seperti telah dikatakan perwira yang dibunuh itu, kami adalah rombongan utusan gusti sinuwun Panjalu."
"Diutus apa?" Ni Dewi Nilamanik memotong.
"Kami diutus menghadap gusti sinuwun Jenggala.....!”
"Ada keperluan apa?" Api kemarahan terpancar dari sepasang mata Tejolaksono, akan tetapi ia menekan perasaannya dan berkata sambil tersenyum menghina,
"Wahai, pengawal apakah andika ini begini kurang ajar? Sedikitpun tidak menghormati junjunganmu sendiri! Atau kelirukah aku mengatakan bahwa gusti sinuwun di Jenggala adalah junjunganmu?"
"Tejolaksono, tidak perlu banyak rewel. Pendeknya, kalau ingin diperkenankan masuk kota raja, harus memberitahu dengan jelas apa keperluanmu hendak menghadap gusti sinuwun. Aku adalah kepala penjaga di sini dan berhak menjaga keamanan dan setiap orang yang lewat, tahu?"
"Kami diutus mempersembahkan sepucuk surat pribadi dari gusti sinuwun Panjalu untuk gusti sinuwun Jenggala."
"Serahkan saja surat itu kepada kami!" kata Ni Dewi Nilamanik.
"Hemm, ucapan apakah ini? Surat junjungan yang dipercayakan kepada kami sama harganya dengan nyawa kami, hanya gusti sinuwun Jenggala yang berhak menerima tangan tangan kami!" jawab Tejolaksono.

<<< Bagian 165                                                                                      Bagian 167 >>>

No comments:

Post a Comment