Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih bertempur bahu-membahu dan tidak pernah berpisah jauh. Suami isteri ini maklum bahwa mereka berada dalam bahaya dan sungguhpun mereka sama sekali tidak merasa gentar karena penuh kepercayaan akan kemampuan keluarga mereka, akan tetapi mereka ingin selalu berdekatan sehingga apa pun yang akan terjadi, mereka takkan berpisah lagi dan dapat saling bantu dan saling melindungi. Baiknya di antara para pengawal dan prajurit, masih banyak terdapat orang-orang lama yang merasa segan dan suka kepada Pangeran Panji Sigit sehingga mereka mengeroyok secara terpaksa dan setengah hati. Betapapun juga, karena jumlah pengeroyok bukan main banyaknya, pangeran dan isterinya ini pun terdesak hebat. Pertandingan antara Joko Pramono dan Ki Kolohangkoro berlangsung dengan hebat dan seru sekali. Mereka ini sama kuat dan sama digdaya, dan sungguhpun sepak-terjang Ki Kolohangkoro seperti seorang raksasa mabuk, kasar dan liar menggiriskan, namun Joko Pramono tetap tenang dan menyambut kekerasan dengan kekerasan pula. Perlahan akan tetapi tentu, Joko Pramono mulai dapat menindih dan mendesak Ki Kolohangkoro dengan pukulan-pukulannya yang ampuh, mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya yang mengatasi kecepatan Ki Kolohangkoro. Pusporini menemui tanding yang lebih kuat daripada Ki Kolohangkoro. Ni Dewi Nilamanik memang lebih sakti kalau dibandingkan dengan Ki Kolohangkoro yang kasar. Wanita penyembah Durgo ini memiliki gerakan yang amat cepat dan tubuh yang ringan di samping permainan kebutan merahnya yang amat menggiriskan. Biarpun kalau dibuat perbandingan, Pusporini masih menang setingkat mengingat gemblengan Resi Mahesapati telah membuat dara perkasa ini memiliki aji kesaktian dan hawa sakti yang bersih dan kuat, namun ia kalah pengalaman oleh Ni Dewi Nilamanik. Cara wanita penyembah Durgo itu mainkan kebutannya benar-benar membuat Pusporini bingung dan terdesak sampai belasan jurus lamanya. Tiba- tiba ujung kebutan itu terpecah menjadi lima bagian menyerang Pusporini di bagian tubuh yang berbahaya. Ketika Pusporini menggunakan kedua tangannya sibuk menangkis dengan kibasan jari tangan yang mengandung hawa sakti Pethit Nogo, tiba-tiba bagian ke lima dari kebutan itu telah menyambar dan melibat pinggang Pusporini yang ramping! Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan suara ketawa mengejek, dengan pengerahan tenaga sakti ia menyendal untuk menarik roboh Pusporini, akan tetapi suara ketawanya terhenti dan bahkan terganti suara ah-ah- uh-uh orang yang menghimpun seluruh tenaganya ia menarik-narik dan menyendal-nyendal, namun sia-sia belaka seperti seekor monyet hendak mencabut pohon cemara. Tubuh Pusporini tidak bergeming. Hebat memang aji kesaktian Argoselo yang dipergunakan oleh Pusporini. Jangankan hanya Ni Dewi Nilamanik seorang, biar ditambah tiga orang lagi belum tentu akan dapat menarik roboh tubuh Pusporini yang ramping itu.
"Plakkk!" Sebagai
balasan, Pusporini mempergunakan kesempatan selagi Ni Dewi Nilamanik berkutetan
hendak menariknya roboh, Pusporini menempiling dengan Aji Pethit Nogo ke arah
pelipis Ni Dewi Nilamanik, dari atas ke bawah. Betapapun saktinya Ni Dewi
Nilamanik, kalau tempilingan aji pukulan Pethit Nogo ini menyentuh pelipisnya,
tentu bagian kepala ini akan retak dan nyawanya akan melayang. Akan tetapi Ni
Dewi Nilamanik biarpun sedang dalam keadaan penasaran, masih sempat mengelak
dengan menarik kepala ke belakang sehingga yang kena ditampar hanya pundaknya
saja. Namun hal ini cukup membuat tubuh Ni Dewi Nilamanik terpelanting dan
libatan ujung kebutan di pinggang Pusporini terlepas. Ni Dewi Nilamanik cepat
meloncat dan wajahnya menjadi merah sekali. Kalau saja ia tadi tidak
cepat-cepat mengerahkan aji kekebalannya ke pundak, tentu tulang pundaknya
sudah hancur. Kinipun rasa nyeri, panas dan menusuk-nusuk membuat ia
menyeringai. Kemarahannya memuncak dan ia memekik keras, tubuhnya menerjang
maju, kebutannya mengeluarkan suara meledak-ledak ketika menyambar-nyambar di
atas kepala Pusporini. Namun dara perkasa ini menyambutnya dengan gerakan yang
tak kalah cepatnya dan membalas dengan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.
Betapapun juga, Joko Pramono
dan Pusporini yang "menang angin" ini andaikata dapat merobohkan
masing-masing lawannya, masih dinanti oleh lawan yang lebih berat lagi, yaitu
pengeroyokan beratus-ratus orang pengawal! Keadaan keluarga sakti itu benar
terhimpit. Mereka berada di tengah-tengah kepungan ribuan orang pengawal, dan
di situ selain Wasi Bagaspati, Ki Kolohangkoro yang melawan secara
terang-terangan dibantu orang-orang yang bergerak seperti arca hidup tak kenal
lelah dan tak kenal takut, juga masih terdapat orang-orang seperti Warutama
yang mengatur barisan secara sembunyi. Memang benar ucapan Wasi Bagaspati tadi
bahwa pintu gerbang itu merupakan pintu gerbang maut bagi kedelapan anggota
keluarga sakti, karena mereka dapat masuk akan tetapi akan sukar sekali untuk
dapat keluar.
"Huah-ha-ha-ha, Bagus
Seta, sampai berapa lama keluargamu akan dapat bertahan? Dapat membunuh semua
pengawal yang ribuan orang banyaknya? Dan di luar masih ada lebih banyak lagi,
ha-ha-ha!" Wasi Bagaspati tertawa-tawa dan pertandingan antara dia dan
Bagus Seta masih terjadi dengan serunya. Karena gerakan mereka berdua ini
didorong oleh kekuatan gaib dari ilmu batin, maka pertandingan ini merupakan
pertandingan yang amat aneh. Kadang-kadang mereka berdua berkelebat lenyap
berubah menjadi sinar merah dan putih pakaian mereka, kadang- kadang hanya
berdiri tegak dan saling pandang mengadu kekuatan sihir yang keluar dari
pandang mata, atau hanya melakukan gerakan-gerakan mendorong dari jarak jauh
untuk mengadu tenaga sakti mereka. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan
pintu gerbang depan ambrol disusul masuknya barisan Panjalu bersama rakyat yang
sama besar jumlahnya, rakyat Jenggala yang sepanjang jalan makin lama makin
bertambah banyak menggabung pada barisan Panjalu yang hendak membebaskan mereka
daripada belenggu penindasan mereka yang berkuasa di Jenggala pada waktu itu.
Masuknya barisan ini disertai sorak-sorai gegap-gempita seolah-olah menjawab
ucapan yang keluar dari mulut Wasi Bagaspati tadi. Ternyata barisan yang
dipimpin sendiri oleh Pangeran Darmokusumo itu telah melihat tanda panah api
yang dilepas Endang Patibroto ketika keluarga sakti itu terancam bahaya.
Wasi Bagaspati terkejut
sekali dan tak terasa ia mundur-mundur dengan mata terbelalak. Tiba-tiba
terdengar raung yang mengejutkan, sepertl suitan harimau marah, dan mendengar
ini, Wasi Bagaspati terkejut dan cepat menengok. Wajahnya yang merah itu kini
agak berubah ketika ia melihat pembantunya yang amat diandalkan, yaitu Ki
Kolohangkoto, sedang berkutetan dengan maut yang hendak merenggut nyawanya
melalui senjata nenggala yang menancap di perut Ki Kolohangkoro sendiri,
menancap sampai tampak sedikit ujungnya di belakang perut ! Ternyata bahwa
akhirnya kesaktian Joko Pramono terlalu berat bagi Ki Kolohangkoro. Kakek
penyembah Bathoro Kolo ini selalu terdesak dan lebih banyak mengelak dan
menangkis daripada menyerang. Bahkan beberapa kali pukulan ampuh dari tangan
Joko Pramono telah mengenal tubuhnya dan hanya kekebalannya yang luar biasa
kuatnya sajalah yang menjaga sehingga Ki Kolohangkoro tidak roboh. Ketika
mendengar ambruknya pintu gerbang dan sorak-sorainya tentara Panjalu yang
menyerbu ke dalam, Ki Kolohangkoro terkejut sekali ia menengok dan wajahnya
berubah pucat. Kesempatan ini dipergunakan oleh Joko Pramono untuk menerjang
dengan pukulan Cantuka-sakti yang amat hebat dan mengenai dada Ki Kolohangkoro.
Dada yang bidang itu tidak pecah akan tetapi tubuh si kakek raksasa terjengkang
ke belakang. Joko Pramono menubruk maju, akan tetapi disambut dari bawah oleh
tusukan senjata nenggala di tangan Ki Kolohangkoro. Joko Pramono cukup waspada,
mengerakkan tubuhnya miring sehingga nenggala itu lewat di dekat pinggangnya.
Secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan lawan dan denagan gerakan
tiba-tiba membalikkan senjata nenggala dan mendorongnya ke perut Ki
Kolohangkoro! Joko Pramono meloncat ke belakang dan Ki Kolohangkoro
mengeluarkan suara meraung keras, berusaha mencabut nenggalanya, bangkit
terhuyung-huyung, menggunakan kedua tangannya memegang nenggala, mencabut
sambil mengerahkan tenaga. Nenggala dapat tercabut, darah muncrat keluar
didahului ususnya, matanya terbelalak, kedua tangannya yang berlumuran darah
mengangkat nenggala tinggi-tinggi di atas kepala lalu ia menubruk maju
menyerang Joko Pramono dengan dahsyatnya! Joko Pramono mengelak dengan lompatan
ke kiri dan tubuh kakek raksasa itu terjungkal ke depan dan roboh, berkelojotan
sebentar lalu terdiam.
Melihat tewasnya Ki
Kolohangkoro, sedangkan Ni Dewi Nilamanik juga terdesak sedangkan para prajurit
Panjalu sudah mengamuk, Wasi Bagaspati meloncat ke atas dan melayang ke arah Ni
Dewi Nilamanik sambil berseru,
"Dewi, kita pergi
......!”
Ni Dewi Nilamanik
menggerakkan lengan kirinya dan asap hitam mengebul, menyambar ke arah
Pusporini. Gadis perkasa ini cepat melompat ke belakang dan kesempatan ini
dipergunakan Ni Dewi untuk meloncat jauh, mengikuti Wasi Bagaspati yang hendak
melarikan diri.
"Kejar ......!!”
Tejolaksono berseru keras dan berlombalah keluarga sakti itu melakukan
pengejaran. Bagus Seta hendak berseru mencegah, namun terlambat karena semua
keluarganya sudah mengejar, maka ia pun lalu menggerakkan kaki meluncur ke
depan ikut melakukan pengejaran pula.
Tangan kiri Wasi Bagaspati
menggandeng tangan Ni Dewi Nilamanik ketika berlari ia menengok dan tertawa
ketika melihat keluarga sakti mengejarnya. Tangan kanannya bergerak dan
jari-jari tangannya terbuka.
"Awas senjata rahasia
......!" Bagus Seta berseru dari belakang.
Keluarga sakti terkejut dan
benar saja, dari tangan Wasi Bagaspati itu menyambar sinar berwarna hijau dan
bagaikan hujan datangnya benda-benda kecil menyerang mereka dengan kecepatan
yang luar biasa sekali. Tejolaksono dan keluarganya cepat menggerakkan tangan
mengibas sambil berlompatan menghindar, bahkan dari jauh Bagus Seta sudah
mendorongkan tangannya sehingga sebagian besar sinar hijau itu runtuh ke
pinggir, akan tetapi karena cepat dan kuatnya benda-benda kecil hijau itu
menyambari maka beberapa orang di antara mereka terkena senjata rahasia
bersinar hijau itu. Pangeran Panji Sigit terkena pipinya, Ayu Candra terkena
pada bahunya Pusporini terkena pundaknya, dan Setyaningsih juga terkena senjata
rahasia pada lengannya. Akan tetapi mereka menjadi lega ketika melihat bahwa
senjata-senjata rahasia bersinar hijau itu hanyalah duri-duri berwarna hijau
seperti duri kembang mawar, dan hanya menancap setengahnya sehingga ketika
dicabut, hanya menimbulkan luka kecil yang mengeluarkan setetes darah saja dan
tidak terasa apa-apa.
"Untung tidak
berbahaya. Kita harus lekas menyerbu ke dalam istana!" kata Tejolaksono.
"Harus kutangkap
Sindupati manusia jahanam!" kata Endang Patibroto.
"Aku akan membekuk
batang leher Suminten siluman betina itu!" kata Pusporini.
"Saya harap Kakangmas
Patih suka lebih dulu menyelamatkan kanjeng rama ......" Pangeran Panji
Sigit berkata.
Mendengar ini, semua orang
baru sadar dan ingat bahwa mereka melupakan hal yang terpenting.
"Ah, benar sekali. Kita
harus menyelamatkan gusti sinuwun," kata Tejolaksono.
"Bagus Seta dan aku
sendiri akan menemani Pangeran Panji Sigit menyelamatkan gusti sinuwun. Yang
lain membantu rakanda Pangeran Darmokusumo melakukan pembersihan! Ingat,
kurangi pembunuhan terhadap prajurit Jenggala. Musuh kita hanyalah kaki tangan
penjahat-penjahat itu!"
"Marilah Rakanda Patih
...!” kata Pangeran Panji Sigit yang merasa gelisah mengingat akan keselamatan
ramandanya yang dikabarkan sakit keras itu. Tejolaksono dan Bagus Seta lalu
bergerak mengikuti Panji Sigit dan berlari menuju ke istana. Perang telah
terjadi merata di seluruh kota raja. Hal ini tadi sesuai dengan siasat Pangeran
Darmokusumo yang lebih dahulu telah menyelundupkan beberapa orang ke dalam kota
raja, menguasai pintu gerbang dan membagi tentaranya menjadi beberapa kelompok
sehingga mereka dapat menyerbu ke dalam kota raja melalui beberapa pintu
gerbang. Tentara Panjalu yang dibantu oleh rakyat Jenggala sendiri telah
menyusup ke dalam sehingga di depan istana itu sendiri telah terjadi
pertempuran.
Namun Pangeran Panji Sigit
tidak memperdulikan pertempuran itu, terus saja berlari memasuki istana.
Beberapa pengawal yang masih setia kepada Suminten dan Pangeran Kukutan
menyambut mereka dengan tombak di tangan, namun dengan mudah Tejolaksono
merobohkan mereka. Pangeran Panji Sigit yang sudah hafal akan keadaan di istana
ini, bergagas lari menuju kamar tidur ramandanya.
Pintu berukiran indah dari
kamar tidur itu tertutup. Pintu yang tebal dan indah, berukuran besar. Pangeran
Panji Sigit mengetuk daun pintu. Tidak ada jawaban dan tidak ada suara dari
dalam, sunyi sekali. Amat mengherankan karena selamanya kamar Ini pasti dijaga
pengawal dan di sebelah dalam ada abdi dalem yang melayani segala keperluan
yang dibutuhkan sri baginda. Pangeran Panji Sigit mendorong daun pintu, akan
tetapi tak dapat dibuka.
"Dikunci dari dalam
......" katanya cemas.
"Dalam keadaan seperti
ini, tidak ada pilihan lain. Kita paksa saja pintu ini terbuka. Bagaimana
pendapatmu, Bagus?"
"Harap Ramanda
membiarkan saya membuka pintu ini. Mungkin sekali di sebelah dalam ada sesuatu
yang berbahaya dan tidak tersangka-sangka."
No comments:
Post a Comment