Perawan Lembah Wilis; Bagian 168


Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih bertempur bahu-membahu dan tidak pernah berpisah jauh. Suami isteri ini maklum bahwa mereka berada dalam bahaya dan sungguhpun mereka sama sekali tidak merasa gentar karena penuh kepercayaan akan kemampuan keluarga mereka, akan tetapi mereka ingin selalu berdekatan sehingga apa pun yang akan terjadi, mereka takkan berpisah lagi dan dapat saling bantu dan saling melindungi. Baiknya di antara para pengawal dan prajurit, masih banyak terdapat orang-orang lama yang merasa segan dan suka kepada Pangeran Panji Sigit sehingga mereka mengeroyok secara terpaksa dan setengah hati. Betapapun juga, karena jumlah pengeroyok bukan main banyaknya, pangeran dan isterinya ini pun terdesak hebat. Pertandingan antara Joko Pramono dan Ki Kolohangkoro berlangsung dengan hebat dan seru sekali. Mereka ini sama kuat dan sama digdaya, dan sungguhpun sepak-terjang Ki Kolohangkoro seperti seorang raksasa mabuk, kasar dan liar menggiriskan, namun Joko Pramono tetap tenang dan menyambut kekerasan dengan kekerasan pula. Perlahan akan tetapi tentu, Joko Pramono mulai dapat menindih dan mendesak Ki Kolohangkoro dengan pukulan-pukulannya yang ampuh, mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya yang mengatasi kecepatan Ki Kolohangkoro. Pusporini menemui tanding yang lebih kuat daripada Ki Kolohangkoro. Ni Dewi Nilamanik memang lebih sakti kalau dibandingkan dengan Ki Kolohangkoro yang kasar. Wanita penyembah Durgo ini memiliki gerakan yang amat cepat dan tubuh yang ringan di samping permainan kebutan merahnya yang amat menggiriskan. Biarpun kalau dibuat perbandingan, Pusporini masih menang setingkat mengingat gemblengan Resi Mahesapati telah membuat dara perkasa ini memiliki aji kesaktian dan hawa sakti yang bersih dan kuat, namun ia kalah pengalaman oleh Ni Dewi Nilamanik. Cara wanita penyembah Durgo itu mainkan kebutannya benar-benar membuat Pusporini bingung dan terdesak sampai belasan jurus lamanya. Tiba- tiba ujung kebutan itu terpecah menjadi lima bagian menyerang Pusporini di bagian tubuh yang berbahaya. Ketika Pusporini menggunakan kedua tangannya sibuk menangkis dengan kibasan jari tangan yang mengandung hawa sakti Pethit Nogo, tiba-tiba bagian ke lima dari kebutan itu telah menyambar dan melibat pinggang Pusporini yang ramping! Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan suara ketawa mengejek, dengan pengerahan tenaga sakti ia menyendal untuk menarik roboh Pusporini, akan tetapi suara ketawanya terhenti dan bahkan terganti suara ah-ah- uh-uh orang yang menghimpun seluruh tenaganya ia menarik-narik dan menyendal-nyendal, namun sia-sia belaka seperti seekor monyet hendak mencabut pohon cemara. Tubuh Pusporini tidak bergeming. Hebat memang aji kesaktian Argoselo yang dipergunakan oleh Pusporini. Jangankan hanya Ni Dewi Nilamanik seorang, biar ditambah tiga orang lagi belum tentu akan dapat menarik roboh tubuh Pusporini yang ramping itu.
"Plakkk!" Sebagai balasan, Pusporini mempergunakan kesempatan selagi Ni Dewi Nilamanik berkutetan hendak menariknya roboh, Pusporini menempiling dengan Aji Pethit Nogo ke arah pelipis Ni Dewi Nilamanik, dari atas ke bawah. Betapapun saktinya Ni Dewi Nilamanik, kalau tempilingan aji pukulan Pethit Nogo ini menyentuh pelipisnya, tentu bagian kepala ini akan retak dan nyawanya akan melayang. Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik biarpun sedang dalam keadaan penasaran, masih sempat mengelak dengan menarik kepala ke belakang sehingga yang kena ditampar hanya pundaknya saja. Namun hal ini cukup membuat tubuh Ni Dewi Nilamanik terpelanting dan libatan ujung kebutan di pinggang Pusporini terlepas. Ni Dewi Nilamanik cepat meloncat dan wajahnya menjadi merah sekali. Kalau saja ia tadi tidak cepat-cepat mengerahkan aji kekebalannya ke pundak, tentu tulang pundaknya sudah hancur. Kinipun rasa nyeri, panas dan menusuk-nusuk membuat ia menyeringai. Kemarahannya memuncak dan ia memekik keras, tubuhnya menerjang maju, kebutannya mengeluarkan suara meledak-ledak ketika menyambar-nyambar di atas kepala Pusporini. Namun dara perkasa ini menyambutnya dengan gerakan yang tak kalah cepatnya dan membalas dengan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

Betapapun juga, Joko Pramono dan Pusporini yang "menang angin" ini andaikata dapat merobohkan masing-masing lawannya, masih dinanti oleh lawan yang lebih berat lagi, yaitu pengeroyokan beratus-ratus orang pengawal! Keadaan keluarga sakti itu benar terhimpit. Mereka berada di tengah-tengah kepungan ribuan orang pengawal, dan di situ selain Wasi Bagaspati, Ki Kolohangkoro yang melawan secara terang-terangan dibantu orang-orang yang bergerak seperti arca hidup tak kenal lelah dan tak kenal takut, juga masih terdapat orang-orang seperti Warutama yang mengatur barisan secara sembunyi. Memang benar ucapan Wasi Bagaspati tadi bahwa pintu gerbang itu merupakan pintu gerbang maut bagi kedelapan anggota keluarga sakti, karena mereka dapat masuk akan tetapi akan sukar sekali untuk dapat keluar.
"Huah-ha-ha-ha, Bagus Seta, sampai berapa lama keluargamu akan dapat bertahan? Dapat membunuh semua pengawal yang ribuan orang banyaknya? Dan di luar masih ada lebih banyak lagi, ha-ha-ha!" Wasi Bagaspati tertawa-tawa dan pertandingan antara dia dan Bagus Seta masih terjadi dengan serunya. Karena gerakan mereka berdua ini didorong oleh kekuatan gaib dari ilmu batin, maka pertandingan ini merupakan pertandingan yang amat aneh. Kadang-kadang mereka berdua berkelebat lenyap berubah menjadi sinar merah dan putih pakaian mereka, kadang- kadang hanya berdiri tegak dan saling pandang mengadu kekuatan sihir yang keluar dari pandang mata, atau hanya melakukan gerakan-gerakan mendorong dari jarak jauh untuk mengadu tenaga sakti mereka. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan pintu gerbang depan ambrol disusul masuknya barisan Panjalu bersama rakyat yang sama besar jumlahnya, rakyat Jenggala yang sepanjang jalan makin lama makin bertambah banyak menggabung pada barisan Panjalu yang hendak membebaskan mereka daripada belenggu penindasan mereka yang berkuasa di Jenggala pada waktu itu. Masuknya barisan ini disertai sorak-sorai gegap-gempita seolah-olah menjawab ucapan yang keluar dari mulut Wasi Bagaspati tadi. Ternyata barisan yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Darmokusumo itu telah melihat tanda panah api yang dilepas Endang Patibroto ketika keluarga sakti itu terancam bahaya.
Wasi Bagaspati terkejut sekali dan tak terasa ia mundur-mundur dengan mata terbelalak. Tiba-tiba terdengar raung yang mengejutkan, sepertl suitan harimau marah, dan mendengar ini, Wasi Bagaspati terkejut dan cepat menengok. Wajahnya yang merah itu kini agak berubah ketika ia melihat pembantunya yang amat diandalkan, yaitu Ki Kolohangkoto, sedang berkutetan dengan maut yang hendak merenggut nyawanya melalui senjata nenggala yang menancap di perut Ki Kolohangkoro sendiri, menancap sampai tampak sedikit ujungnya di belakang perut ! Ternyata bahwa akhirnya kesaktian Joko Pramono terlalu berat bagi Ki Kolohangkoro. Kakek penyembah Bathoro Kolo ini selalu terdesak dan lebih banyak mengelak dan menangkis daripada menyerang. Bahkan beberapa kali pukulan ampuh dari tangan Joko Pramono telah mengenal tubuhnya dan hanya kekebalannya yang luar biasa kuatnya sajalah yang menjaga sehingga Ki Kolohangkoro tidak roboh. Ketika mendengar ambruknya pintu gerbang dan sorak-sorainya tentara Panjalu yang menyerbu ke dalam, Ki Kolohangkoro terkejut sekali ia menengok dan wajahnya berubah pucat. Kesempatan ini dipergunakan oleh Joko Pramono untuk menerjang dengan pukulan Cantuka-sakti yang amat hebat dan mengenai dada Ki Kolohangkoro. Dada yang bidang itu tidak pecah akan tetapi tubuh si kakek raksasa terjengkang ke belakang. Joko Pramono menubruk maju, akan tetapi disambut dari bawah oleh tusukan senjata nenggala di tangan Ki Kolohangkoro. Joko Pramono cukup waspada, mengerakkan tubuhnya miring sehingga nenggala itu lewat di dekat pinggangnya. Secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan lawan dan denagan gerakan tiba-tiba membalikkan senjata nenggala dan mendorongnya ke perut Ki Kolohangkoro! Joko Pramono meloncat ke belakang dan Ki Kolohangkoro mengeluarkan suara meraung keras, berusaha mencabut nenggalanya, bangkit terhuyung-huyung, menggunakan kedua tangannya memegang nenggala, mencabut sambil mengerahkan tenaga. Nenggala dapat tercabut, darah muncrat keluar didahului ususnya, matanya terbelalak, kedua tangannya yang berlumuran darah mengangkat nenggala tinggi-tinggi di atas kepala lalu ia menubruk maju menyerang Joko Pramono dengan dahsyatnya! Joko Pramono mengelak dengan lompatan ke kiri dan tubuh kakek raksasa itu terjungkal ke depan dan roboh, berkelojotan sebentar lalu terdiam.
Melihat tewasnya Ki Kolohangkoro, sedangkan Ni Dewi Nilamanik juga terdesak sedangkan para prajurit Panjalu sudah mengamuk, Wasi Bagaspati meloncat ke atas dan melayang ke arah Ni Dewi Nilamanik sambil berseru,
"Dewi, kita pergi ......!”
Ni Dewi Nilamanik menggerakkan lengan kirinya dan asap hitam mengebul, menyambar ke arah Pusporini. Gadis perkasa ini cepat melompat ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan Ni Dewi untuk meloncat jauh, mengikuti Wasi Bagaspati yang hendak melarikan diri.
"Kejar ......!!” Tejolaksono berseru keras dan berlombalah keluarga sakti itu melakukan pengejaran. Bagus Seta hendak berseru mencegah, namun terlambat karena semua keluarganya sudah mengejar, maka ia pun lalu menggerakkan kaki meluncur ke depan ikut melakukan pengejaran pula.

Tangan kiri Wasi Bagaspati menggandeng tangan Ni Dewi Nilamanik ketika berlari ia menengok dan tertawa ketika melihat keluarga sakti mengejarnya. Tangan kanannya bergerak dan jari-jari tangannya terbuka.
"Awas senjata rahasia ......!" Bagus Seta berseru dari belakang.
Keluarga sakti terkejut dan benar saja, dari tangan Wasi Bagaspati itu menyambar sinar berwarna hijau dan bagaikan hujan datangnya benda-benda kecil menyerang mereka dengan kecepatan yang luar biasa sekali. Tejolaksono dan keluarganya cepat menggerakkan tangan mengibas sambil berlompatan menghindar, bahkan dari jauh Bagus Seta sudah mendorongkan tangannya sehingga sebagian besar sinar hijau itu runtuh ke pinggir, akan tetapi karena cepat dan kuatnya benda-benda kecil hijau itu menyambari maka beberapa orang di antara mereka terkena senjata rahasia bersinar hijau itu. Pangeran Panji Sigit terkena pipinya, Ayu Candra terkena pada bahunya Pusporini terkena pundaknya, dan Setyaningsih juga terkena senjata rahasia pada lengannya. Akan tetapi mereka menjadi lega ketika melihat bahwa senjata-senjata rahasia bersinar hijau itu hanyalah duri-duri berwarna hijau seperti duri kembang mawar, dan hanya menancap setengahnya sehingga ketika dicabut, hanya menimbulkan luka kecil yang mengeluarkan setetes darah saja dan tidak terasa apa-apa.
"Untung tidak berbahaya. Kita harus lekas menyerbu ke dalam istana!" kata Tejolaksono.
"Harus kutangkap Sindupati manusia jahanam!" kata Endang Patibroto.
"Aku akan membekuk batang leher Suminten siluman betina itu!" kata Pusporini.
"Saya harap Kakangmas Patih suka lebih dulu menyelamatkan kanjeng rama ......" Pangeran Panji Sigit berkata.
Mendengar ini, semua orang baru sadar dan ingat bahwa mereka melupakan hal yang terpenting.
"Ah, benar sekali. Kita harus menyelamatkan gusti sinuwun," kata Tejolaksono.
"Bagus Seta dan aku sendiri akan menemani Pangeran Panji Sigit menyelamatkan gusti sinuwun. Yang lain membantu rakanda Pangeran Darmokusumo melakukan pembersihan! Ingat, kurangi pembunuhan terhadap prajurit Jenggala. Musuh kita hanyalah kaki tangan penjahat-penjahat itu!"
"Marilah Rakanda Patih ...!” kata Pangeran Panji Sigit yang merasa gelisah mengingat akan keselamatan ramandanya yang dikabarkan sakit keras itu. Tejolaksono dan Bagus Seta lalu bergerak mengikuti Panji Sigit dan berlari menuju ke istana. Perang telah terjadi merata di seluruh kota raja. Hal ini tadi sesuai dengan siasat Pangeran Darmokusumo yang lebih dahulu telah menyelundupkan beberapa orang ke dalam kota raja, menguasai pintu gerbang dan membagi tentaranya menjadi beberapa kelompok sehingga mereka dapat menyerbu ke dalam kota raja melalui beberapa pintu gerbang. Tentara Panjalu yang dibantu oleh rakyat Jenggala sendiri telah menyusup ke dalam sehingga di depan istana itu sendiri telah terjadi pertempuran.
Namun Pangeran Panji Sigit tidak memperdulikan pertempuran itu, terus saja berlari memasuki istana. Beberapa pengawal yang masih setia kepada Suminten dan Pangeran Kukutan menyambut mereka dengan tombak di tangan, namun dengan mudah Tejolaksono merobohkan mereka. Pangeran Panji Sigit yang sudah hafal akan keadaan di istana ini, bergagas lari menuju kamar tidur ramandanya.
Pintu berukiran indah dari kamar tidur itu tertutup. Pintu yang tebal dan indah, berukuran besar. Pangeran Panji Sigit mengetuk daun pintu. Tidak ada jawaban dan tidak ada suara dari dalam, sunyi sekali. Amat mengherankan karena selamanya kamar Ini pasti dijaga pengawal dan di sebelah dalam ada abdi dalem yang melayani segala keperluan yang dibutuhkan sri baginda. Pangeran Panji Sigit mendorong daun pintu, akan tetapi tak dapat dibuka.
"Dikunci dari dalam ......" katanya cemas.
"Dalam keadaan seperti ini, tidak ada pilihan lain. Kita paksa saja pintu ini terbuka. Bagaimana pendapatmu, Bagus?"
"Harap Ramanda membiarkan saya membuka pintu ini. Mungkin sekali di sebelah dalam ada sesuatu yang berbahaya dan tidak tersangka-sangka."

<<< Bagian 167                                                                                     Bagian 169 >>>

No comments:

Post a Comment