Perawan Lembah Wilis; Bagian 169


Ki Patih Tejolaksono mengangguk dan melangkah mundur, bersama Pangeran Panji Sigit berdiri di belakang Bagus Seta. Tejolaksono sudah maklum bahwa puteranya amat sakti, akan tetapi sekali ini ia ingin melihat dengan aji pukulan apa puteranya hendak memaksa daun pintu terbuka. Ia melihat tangan kiri Bagus Seta, sebuah tangan yang berkulit halus dan lembut, seperti tangan Ayu Candra, bergerak mendorong perlahan, seperti tidak bertenaga.
Akan tetapi terdengar suara keras di sebelah dalam kamar di balik pintu itu, seolah-olah palang pintu patah-patah dan daun pintu bergerak terbuka dengan cepat sekali.
"Celaka !!" Tejolaksono dan Pangeran Panji Sigit berteriak dengan hati penuh kengerian. Kiranya daun pintu itu adanya terbuka sedemikian cepatnya karena dipasangi tambang yang mengikat daun pintu, terus ke atas balok melintang di bawah atap dan ujung tambang itu mengikat sebuah batu sebesar kerbau yang tadinya tergantung di atas pembaringan di mana sang prabu yang sudah tua itu tampak berbaring dan tidur pulas. Tentu saja jika pintu itu dibuka dengan paksa dari luar, palangnya patah, daun pintu itu terbuka dan karena tarikan batu yang tidak ada penahannya dan meluncur ke bawah, daun pintu terbuka cepat sekali, sama cepatnya dengan batu sebesar kerbau yang kini jatuh menimpa sang prabu, hanya tinggal beberapa jengkal lagi sehingga seorang sakti seperti Tejolaksono sekali pun hanya dapat berteriak dan tak berdaya menolong.

Akan tetapi Bagus Seta sudah menggerakkan lengan kanannya didorongkan ke depan dan .......... batu sebesar kerbau itu terhenti di udara, hanya dua jengkal di atas tubuh sang prabu! Melihat ini, cepat Tejolaksono melompat maju dan mendorong batu besar itu dengan kedua tangannya sehingga batu itu kemudian jatuh menimpa meja yang menjadi hancur berkeping-keping!
"Kanjeng Rama ......!" Pangeran Panji Sigit lalu menubruk ramandanya, sedangkan Bagus Seta melangkah maju, menyembah lalu mengusap wajah sri baginda yang tua keriputan dan pucat itu.
Terdengar sri baginda raja mengeluh dan membuka matanya. Ketika melihät Panji Sigit, wajah raja tua itu berseri, lalu bangkit dan memeluk kepala puteranya yang sesungguhnya amat disayangnya itu.
"Duh para Dewata yang Maha Murah .....terima kasih bahwa engkau masih hidup dalam keadaan sehat, puteraku, Sigit...!” "Kanjeng Rama, hamba mendengar berita bahwa paduka..... gering ....”
"Ahhh, sakit parah sekali, Puteraku. Sakit jiwa ... bukan raga yang sudah tua ini... eh, siapakah satria ini? Seperti pernah aku melihatnya..... " Sri baginda memandang kepada Tejolaksono yang berlutut.
"Hamba Tejolaksono, gusti."
"Wah benar! Tejolaksono yang gagah perkasa! Sekarang patih dalam di Panjalu, bukan? Dan ... pemuda ini... pemuda luar biasa .... begitu lembut pandang matanya, siapakah andika, wahai bocah bagus?"
"Hamba Bagus Seta, putera kanjeng rama Tejolaksono."
"Ah, kalian semua datang terlambat. Aku pun sadar setelah terlambat ... aduh, Puteraku, betapa besar dosa-dosaku, betapa ringkih batinku. Ahhh, kini terlambat sudah, segalanya, kerajaan ini telah berada dalam cengkeraman mereka....”
"Hamba sudah mengetahui semua itu, Kanjeng Rama. Hamba sudah tahu akan persekutuan jahat antara Suminten, Pangeran Kukutan dan Patih Warutama ....”
"Bukan itu saja, Puteraku. Melainkan orang-orang sakti dari Cola . ahhh, betapa kejinya bersekutu dengan musuh negara ..... dan aku ... aku tak berdaya lagi, setelah aku dipisahkan dengan semua orang yang setia kepadaku”
"Hamba juga sudah tahu akan hal itu, Kanjeng Rama. Dan berkat pertolongan satria-satria perkasa seperti rakanda patih dan puteranya inilah maka kerajaan Paduka Kanjeng Rama tertolong ...”
"Apa? Bagaimana kalian dapat masuk ke sini dan .... batu itu .... ah, aku tahu mereka memasang batu itu di atasku sehingga kalau ada yang memaksa membuka pintu, aku.... aku …….”
"Harap Paduka suka menenangkan hati, Sinuwun. Kini bahaya sudah lewat bagi keselamatan Paduka," Bagus Seta berkata, suaranya halus dan ramah, mengandung pengaruh menenangkan hati yang mujijat.
"Andika benar, Bagus Seta, dan terima kasih atas bantuan kalian. Akan tetapi, bagaimana ... ? Mereka telah mencengkeram kerajaan ini, tidak hanya di istana, juga di luar istana, di seluruh kerajaan, ponggawa-ponggawa diganti, pengawal-pengawal diganti  ..",
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai di luar dan sang prabu bangkit berdiri.
"Apakah itu? Jangan-jangan mereka datang menyerbu. Puteraku, lekas kau bersembunyi, lekas keluar dari kamar ini. Aku tidak ingin melihat karena kelalimanku engkaupun menjadi korban. Tejolaksono, tolonglah selamatkan puteraku keluar dari sini ....!” Pangeran Pinji Sigit bangkit berdiri dan menggandeng tangan ramandanya sambil berkata,
"Harap paduka jangan khawatir, Kanjeng Rama. Suara itu adalah suara kemenangan dari barisan Panjalu yang membantu kita, yang menghalau dan membasmi oknum-oknum jahat yang mencengkeram Jenggala. Marilah, mari kita sama menyaksikannya, Kanjeng Rama." Pangeran itu menuntun ramandanya keluar dari kamar, dan terus keluar menuju ke ruangan depan istana.
"Barisan Panjalu? Sampai menyerang untuk menolongku? Aduh, kasihan rakyatku ...... perang selalu berarti penderitaan bagi rakyat jelata ..... !!”
"Akan tetapi perang sekali ini bahkan akan membebaskan mereka daripada penderitaan, Kanjeng Rama. Selama ini mereka tertindas dan diperas oleh para pengacau yang kini sedang kita basmi."

Sang prabu yang sudah tua itu melihat pertempuran besar, hatinya penuh keprihatinan dan ia minta kepada Pangeran Panji Sigit untuk membawanya ke panggung depan istana di mana ia dapat melihat pertempuran yang terjadi di alun-alun.
"Berhenti ..... ! Semua kawulaku yang masih setia kepadaku. Berhenti dan jangan melawan pasukan-pasukan Panjalu ... !!" Sang prabu berteriak-teriak, tetapi teriakannya hilang ditelan suara perang yang amat gaduh.
"Gusti Sinuwun, bolehkan hamba mewakili Paduka menghentikan mereka?" Bagus Seta bertanya halus. Sri baginda mengangguk penuh harapan karena hatinya terasa perih sekali menyaksikan betapa kawulanya sendiri, rakyat Jenggala, membantu barisan Panjalu dan membunuhi prajurit-prajurit Jenggala sendiri!
Bagus Seta lalu berdiri di dekat raja dan terdengar suaranya, biasa saja seperti orang bicara, tidak berteriak-teriak, dan jelas terdengar mengandung wibawa,
"Saudara sekalian yang sedang berpur, hentikanlah pertempuran dan lihatlah ke sini, gusti sinuwun telah berkenan keluar dan hendak bicara kepada Andika sekalian. Barisan Panjalu diminta menghentikan pertempuran pula!" Sri baginda sendiri bersangsi apakah suara pemuda ini akan dapat terdengar oleh mereka yang sedang bertempur. Suaranya sendiri yang ia teriakkan keras-keras tadi hilang ditelan kegaduhan, apalagi suara pemuda ini yang hanya perlahan saja. Mana mungkin terdengar oleh semua orang yang sedang bertempur? Akan tetapi, sang prabu melihat keanehan terjadi. Semua orang yang sedang bertanding itu berhenti secara tiba-tiba dan menengok ke arah panggung. Kemudian terdengarlah suara-suara mereka,
"Gusti sinuwun ....!”
"Sesungguhnya gusti sinuwun yang hadir!"
"Setelah sekian lamanya! Betapa kurus beliau ...!” Dan berlututlah para rakyat dan perajurit Jenggala menghadap raja mereka yang sudah amat lama tidak pernah keluar dari dalam kamar itu. Kini kelompok manusia di bawah itu terbagi dua. Yang berlutut tentulah rakyat Jenggala, adapun yang tetap berdiri namun tidak lagi menggerakkan senjata adalah prajurit-prajurit Panjalu. Keadaan menjadi sunyi senyap dan melihat sekian banyaknya orang yang tadi bertempur mati-matian itu kini tidak ada yang bergerak, benar-benar mempesonakan. Tiba-tiba tampak ada beberapa orang bergerak, bahkan berlarian menuju panggung. Mereka itu adalah Pangeran Darmokusumo yang diikuti oleh Endang Patibroto, Ayu Candra, Pusporini, Setyaningsih, dan Joko Pramono. Mereka ini bergegas menaiki panggung dan berlutut menyembah di depan sang prabu yang menerima mereka dengan senyum terharu.
"Ah, puteraku mantu Darmokusumo, untung ada engkau yang membantu. Dan andika, Endang Patibroto ..... ah, betapa bertumpuk-tumpuk budi yang telah Andika lakukan untuk Jenggala."
"Mohon beribu ampun, Kanjeng Rama." Pangeran Darmokusumo sebenarnya adalah keponakan Raja Jenggala, akan tetapi karena ia menikah dengan puteri Jenggala yang bernama Maya Galuh, maka pamannya ini menjadi ayah mertuanya dan ia menyebutnya kanjeng rama.
"Terpaksa hamba mengerahkan prajurit Panjalu untuk membantu Paduka menghadapi kekuasaan jahat yang mencengkeram Jenggala. Perkenankanlah hamba kini memerintahkan barisan Panjalu untuk menghentikan pertempuran dan keluar dari kota raja agar jangan sampai terjadi kesalahfahaman antara prajurit-prajurit Panjalu dan prajurit-prajurit Jenggala."
"Baik sekali usulmu, Puteraku. Lakukanlah." Pangeran Darmokusumo menyembah lalu bangkit berdiri dan mengeluarkan perintah dengan suara keras agar semua pasukan Panjalu mengundurkan diri di luar dinding kota raja, menanti perintah lebih lanjut, dan agar membawa teman-temannya yang terluka atau tewas. Mendengar ini, barisan Panjalu bergerak bagaikan semut, lalu keluar kota raja dengan aman, sementara itu, para prajurit dan rakyat Jenggala tetap berlutut di alun-alun menanti amanat raja mereka yang telah sekian lamanya seolah-olah lenyap itu. Setelah semua pasukan Panjalu mundur dan keadaan sunyi kembali, sri baginda lalu berkata dengan suara lantang,
"Wahai semua kawulaku, dengarlah baik-baik. Selama ini aku, raja kalian yang tua ini, telah tenggelam ke dalam kelalaian, menderita sakit jiwa sehingga mengabaikan urusan pemerintahan dan mengabaikan rakyatku. Kuminta maaf kepada seluruh rakyatku dan syukur kepada Dewata bahwa hari ini aku terbebas daripada keadaan itu. Kerajaan kita untuk beberapa lama dicengkeram kekuasaan jahat sehingga banyak ponggawa setia terhukum mati dan digantikan oleh ponggawa-ponggawa yang sesungguhnya adalah musuh-musuh negara. Karena itu, kuminta kepada mereka yang tadinya terseret atau terpaksa mengabdi kepada kekuasaan jahat itu untuk sadar kembali dan menyatakan kesetiaan kepada kerajaan dengan jalan menghalau atau membasmi mereka yang menjadi kaki tangan kekuasaan jahat yang kelak akan diganti dengan ponggawa-ponggawa setia di antara kalian. Pengangkatan raja baru, mengingat akan usiaku yang telah lanjut, tetap akan diadakan, akan tetapi yang akan menggantikan aku bukanlah si Kukutan yang palsu itu, melainkan puteraku, Pangeran Panji Sigit!"

Sorak-sorai menyambut ucapan sri baginda ini dan terjadilah kegaduhan ketika para prajurit bergerak menangkapi perwira-perwira mereka sendiri yang tadinya diangkat oleh Pangeran Kukutan dan Suminten. Tanpa dikomando lagi mereka itu bergerak dan mengadakan "pembersihan" di kalangan mereka sendiri. Sang prabu menghela napas, tidak sampai hati menyaksikan akibat daripada kelemahannya sendiri dan mengajak semua orang yang berada di panggung untuk memasuki istana dan di saat itu juga sang prabu membuka persidangan.
Tak lama kemudian bermunculanlah ponggawa-ponggawa lama yang tadinya terpaksa atau terpikat menjadi kaki tangan kekuasaan baru. Mendengar anjuran sang prabu tadi untuk sadar dan kembali, mereka ini memberanikan berturut-turut maju dengan tubuh gemetar dan kedua tangan dirangkapkan seperti serombongan anjing melipat ekornya karena takut digebuk!
Bagus Seta dan Tejolaksono mengajukan permohonan untuk mencari dan menangkap biang keladi semua kekacauan, yaitu Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama. Akan tetapi setelah memperkenankan dan baru saja mereka berdiri, tiba-tiba Pangeran Panji Sigit roboh terguling, disusul robohnya Ayu Candra dan Setyaningsih! Tiga orang itu roboh dan merintih-rintih di atas lantai, Pangeran Panji Sigit menggaruk-garuk pipinya, Ayu Candra menggaruk-garuk bahunya, dan Setyaningsih menggaruk-garuk lengannya. Keadaan mereka amat aneh karena sambil menggaruk-garuk muka mereka menjadi merah sekali dan mulut mereka yang tadinya merintih- rintih itu kini berbisik-bisik!
"Setyaningsih, kekasihku, isteriku .." Bisik Pangeran Panji Sigit.
"Rakanda Pangeran, pujaanku, junjunganku ......." Setyaningsih juga merintih-rintih dan berbisik mesra, kemudian kedua orang itu merangkak saling menghampiri dan berpelukan, berciuman!
"Kakangmas Tejolaksono ....... ah, Kakangmas .......yang tercinta .......!"
Ayu Candra juga menubruk dan merangkul leher Tejolaksono yang terbelalak keheranan.

Sri baginda memandang semua ini dengan muka merah dan mata melotot. Beginikah tingkah laku puteranya yang baru saja ia umumkan akan dijadikan penggantinya? Akan tetapi Bagus Seta cepat melangkah maju dan tiga kali menepuk ia membuat tiga orang itu mengeluh dan pingsan. Mereka dibaringkan di lantai dan Bagus Seta lalu berkata, setelah mememriksa sejenak,
"Mereka ini terkena racun yang terbawa duri-duri yang dipergunakan Wasi Bagaspati tadi. Racun ini jahat sekali, mula-mula merangsang akan tetapi karena racunnya sudah memasuki jalan darah, kalau tidak cepat tertolong dapat membawa maut. Agaknya hamba harus cepat pergi mencari obatnya untuk memunahkan racun Ular Wilis ini .......... "

<<< Bagian 168                                                                                     Bagian 170 >>>

No comments:

Post a Comment