Ki Patih Tejolaksono mengangguk dan melangkah mundur, bersama Pangeran Panji Sigit berdiri di belakang Bagus Seta. Tejolaksono sudah maklum bahwa puteranya amat sakti, akan tetapi sekali ini ia ingin melihat dengan aji pukulan apa puteranya hendak memaksa daun pintu terbuka. Ia melihat tangan kiri Bagus Seta, sebuah tangan yang berkulit halus dan lembut, seperti tangan Ayu Candra, bergerak mendorong perlahan, seperti tidak bertenaga.
Akan tetapi terdengar suara
keras di sebelah dalam kamar di balik pintu itu, seolah-olah palang pintu
patah-patah dan daun pintu bergerak terbuka dengan cepat sekali.
"Celaka !!"
Tejolaksono dan Pangeran Panji Sigit berteriak dengan hati penuh kengerian.
Kiranya daun pintu itu adanya terbuka sedemikian cepatnya karena dipasangi
tambang yang mengikat daun pintu, terus ke atas balok melintang di bawah atap
dan ujung tambang itu mengikat sebuah batu sebesar kerbau yang tadinya
tergantung di atas pembaringan di mana sang prabu yang sudah tua itu tampak
berbaring dan tidur pulas. Tentu saja jika pintu itu dibuka dengan paksa dari
luar, palangnya patah, daun pintu itu terbuka dan karena tarikan batu yang
tidak ada penahannya dan meluncur ke bawah, daun pintu terbuka cepat sekali,
sama cepatnya dengan batu sebesar kerbau yang kini jatuh menimpa sang prabu,
hanya tinggal beberapa jengkal lagi sehingga seorang sakti seperti Tejolaksono
sekali pun hanya dapat berteriak dan tak berdaya menolong.
Akan tetapi Bagus Seta sudah
menggerakkan lengan kanannya didorongkan ke depan dan .......... batu sebesar
kerbau itu terhenti di udara, hanya dua jengkal di atas tubuh sang prabu!
Melihat ini, cepat Tejolaksono melompat maju dan mendorong batu besar itu
dengan kedua tangannya sehingga batu itu kemudian jatuh menimpa meja yang
menjadi hancur berkeping-keping!
"Kanjeng Rama
......!" Pangeran Panji Sigit lalu menubruk ramandanya, sedangkan Bagus
Seta melangkah maju, menyembah lalu mengusap wajah sri baginda yang tua
keriputan dan pucat itu.
Terdengar sri baginda raja mengeluh
dan membuka matanya. Ketika melihät Panji Sigit, wajah raja tua itu berseri,
lalu bangkit dan memeluk kepala puteranya yang sesungguhnya amat disayangnya
itu.
"Duh para Dewata yang
Maha Murah .....terima kasih bahwa engkau masih hidup dalam keadaan sehat,
puteraku, Sigit...!” "Kanjeng Rama, hamba mendengar berita bahwa
paduka..... gering ....”
"Ahhh, sakit parah
sekali, Puteraku. Sakit jiwa ... bukan raga yang sudah tua ini... eh, siapakah
satria ini? Seperti pernah aku melihatnya..... " Sri baginda memandang
kepada Tejolaksono yang berlutut.
"Hamba Tejolaksono,
gusti."
"Wah benar! Tejolaksono
yang gagah perkasa! Sekarang patih dalam di Panjalu, bukan? Dan ... pemuda
ini... pemuda luar biasa .... begitu lembut pandang matanya, siapakah andika,
wahai bocah bagus?"
"Hamba Bagus Seta,
putera kanjeng rama Tejolaksono."
"Ah, kalian semua
datang terlambat. Aku pun sadar setelah terlambat ... aduh, Puteraku, betapa
besar dosa-dosaku, betapa ringkih batinku. Ahhh, kini terlambat sudah,
segalanya, kerajaan ini telah berada dalam cengkeraman mereka....”
"Hamba sudah mengetahui
semua itu, Kanjeng Rama. Hamba sudah tahu akan persekutuan jahat antara
Suminten, Pangeran Kukutan dan Patih Warutama ....”
"Bukan itu saja,
Puteraku. Melainkan orang-orang sakti dari Cola . ahhh, betapa kejinya
bersekutu dengan musuh negara ..... dan aku ... aku tak berdaya lagi, setelah
aku dipisahkan dengan semua orang yang setia kepadaku”
"Hamba juga sudah tahu
akan hal itu, Kanjeng Rama. Dan berkat pertolongan satria-satria perkasa seperti
rakanda patih dan puteranya inilah maka kerajaan Paduka Kanjeng Rama tertolong
...”
"Apa? Bagaimana kalian
dapat masuk ke sini dan .... batu itu .... ah, aku tahu mereka memasang batu
itu di atasku sehingga kalau ada yang memaksa membuka pintu, aku.... aku …….”
"Harap Paduka suka
menenangkan hati, Sinuwun. Kini bahaya sudah lewat bagi keselamatan
Paduka," Bagus Seta berkata, suaranya halus dan ramah, mengandung pengaruh
menenangkan hati yang mujijat.
"Andika benar, Bagus
Seta, dan terima kasih atas bantuan kalian. Akan tetapi, bagaimana ... ? Mereka
telah mencengkeram kerajaan ini, tidak hanya di istana, juga di luar istana, di
seluruh kerajaan, ponggawa-ponggawa diganti, pengawal-pengawal diganti ..",
Tiba-tiba terdengar
sorak-sorai di luar dan sang prabu bangkit berdiri.
"Apakah itu?
Jangan-jangan mereka datang menyerbu. Puteraku, lekas kau bersembunyi, lekas
keluar dari kamar ini. Aku tidak ingin melihat karena kelalimanku engkaupun
menjadi korban. Tejolaksono, tolonglah selamatkan puteraku keluar dari sini
....!” Pangeran Pinji Sigit bangkit berdiri dan menggandeng tangan ramandanya
sambil berkata,
"Harap paduka jangan
khawatir, Kanjeng Rama. Suara itu adalah suara kemenangan dari barisan Panjalu
yang membantu kita, yang menghalau dan membasmi oknum-oknum jahat yang
mencengkeram Jenggala. Marilah, mari kita sama menyaksikannya, Kanjeng
Rama." Pangeran itu menuntun ramandanya keluar dari kamar, dan terus
keluar menuju ke ruangan depan istana.
"Barisan Panjalu?
Sampai menyerang untuk menolongku? Aduh, kasihan rakyatku ...... perang selalu
berarti penderitaan bagi rakyat jelata ..... !!”
"Akan tetapi perang
sekali ini bahkan akan membebaskan mereka daripada penderitaan, Kanjeng Rama.
Selama ini mereka tertindas dan diperas oleh para pengacau yang kini sedang
kita basmi."
Sang prabu yang sudah tua
itu melihat pertempuran besar, hatinya penuh keprihatinan dan ia minta kepada
Pangeran Panji Sigit untuk membawanya ke panggung depan istana di mana ia dapat
melihat pertempuran yang terjadi di alun-alun.
"Berhenti ..... ! Semua
kawulaku yang masih setia kepadaku. Berhenti dan jangan melawan pasukan-pasukan
Panjalu ... !!" Sang prabu berteriak-teriak, tetapi teriakannya hilang
ditelan suara perang yang amat gaduh.
"Gusti Sinuwun,
bolehkan hamba mewakili Paduka menghentikan mereka?" Bagus Seta bertanya
halus. Sri baginda mengangguk penuh harapan karena hatinya terasa perih sekali
menyaksikan betapa kawulanya sendiri, rakyat Jenggala, membantu barisan Panjalu
dan membunuhi prajurit-prajurit Jenggala sendiri!
Bagus Seta lalu berdiri di
dekat raja dan terdengar suaranya, biasa saja seperti orang bicara, tidak
berteriak-teriak, dan jelas terdengar mengandung wibawa,
"Saudara sekalian yang
sedang berpur, hentikanlah pertempuran dan lihatlah ke sini, gusti sinuwun telah
berkenan keluar dan hendak bicara kepada Andika sekalian. Barisan Panjalu
diminta menghentikan pertempuran pula!" Sri baginda sendiri bersangsi
apakah suara pemuda ini akan dapat terdengar oleh mereka yang sedang bertempur.
Suaranya sendiri yang ia teriakkan keras-keras tadi hilang ditelan kegaduhan,
apalagi suara pemuda ini yang hanya perlahan saja. Mana mungkin terdengar oleh
semua orang yang sedang bertempur? Akan tetapi, sang prabu melihat keanehan
terjadi. Semua orang yang sedang bertanding itu berhenti secara tiba-tiba dan
menengok ke arah panggung. Kemudian terdengarlah suara-suara mereka,
"Gusti sinuwun ....!”
"Sesungguhnya gusti
sinuwun yang hadir!"
"Setelah sekian
lamanya! Betapa kurus beliau ...!” Dan berlututlah para rakyat dan perajurit
Jenggala menghadap raja mereka yang sudah amat lama tidak pernah keluar dari
dalam kamar itu. Kini kelompok manusia di bawah itu terbagi dua. Yang berlutut
tentulah rakyat Jenggala, adapun yang tetap berdiri namun tidak lagi
menggerakkan senjata adalah prajurit-prajurit Panjalu. Keadaan menjadi sunyi
senyap dan melihat sekian banyaknya orang yang tadi bertempur mati-matian itu
kini tidak ada yang bergerak, benar-benar mempesonakan. Tiba-tiba tampak ada
beberapa orang bergerak, bahkan berlarian menuju panggung. Mereka itu adalah
Pangeran Darmokusumo yang diikuti oleh Endang Patibroto, Ayu Candra, Pusporini,
Setyaningsih, dan Joko Pramono. Mereka ini bergegas menaiki panggung dan
berlutut menyembah di depan sang prabu yang menerima mereka dengan senyum
terharu.
"Ah, puteraku mantu
Darmokusumo, untung ada engkau yang membantu. Dan andika, Endang Patibroto
..... ah, betapa bertumpuk-tumpuk budi yang telah Andika lakukan untuk
Jenggala."
"Mohon beribu ampun,
Kanjeng Rama." Pangeran Darmokusumo sebenarnya adalah keponakan Raja
Jenggala, akan tetapi karena ia menikah dengan puteri Jenggala yang bernama
Maya Galuh, maka pamannya ini menjadi ayah mertuanya dan ia menyebutnya kanjeng
rama.
"Terpaksa hamba
mengerahkan prajurit Panjalu untuk membantu Paduka menghadapi kekuasaan jahat
yang mencengkeram Jenggala. Perkenankanlah hamba kini memerintahkan barisan
Panjalu untuk menghentikan pertempuran dan keluar dari kota raja agar jangan
sampai terjadi kesalahfahaman antara prajurit-prajurit Panjalu dan
prajurit-prajurit Jenggala."
"Baik sekali usulmu,
Puteraku. Lakukanlah." Pangeran Darmokusumo menyembah lalu bangkit berdiri
dan mengeluarkan perintah dengan suara keras agar semua pasukan Panjalu
mengundurkan diri di luar dinding kota raja, menanti perintah lebih lanjut, dan
agar membawa teman-temannya yang terluka atau tewas. Mendengar ini, barisan
Panjalu bergerak bagaikan semut, lalu keluar kota raja dengan aman, sementara
itu, para prajurit dan rakyat Jenggala tetap berlutut di alun-alun menanti
amanat raja mereka yang telah sekian lamanya seolah-olah lenyap itu. Setelah
semua pasukan Panjalu mundur dan keadaan sunyi kembali, sri baginda lalu
berkata dengan suara lantang,
"Wahai semua kawulaku,
dengarlah baik-baik. Selama ini aku, raja kalian yang tua ini, telah tenggelam
ke dalam kelalaian, menderita sakit jiwa sehingga mengabaikan urusan
pemerintahan dan mengabaikan rakyatku. Kuminta maaf kepada seluruh rakyatku dan
syukur kepada Dewata bahwa hari ini aku terbebas daripada keadaan itu. Kerajaan
kita untuk beberapa lama dicengkeram kekuasaan jahat sehingga banyak ponggawa
setia terhukum mati dan digantikan oleh ponggawa-ponggawa yang sesungguhnya
adalah musuh-musuh negara. Karena itu, kuminta kepada mereka yang tadinya
terseret atau terpaksa mengabdi kepada kekuasaan jahat itu untuk sadar kembali
dan menyatakan kesetiaan kepada kerajaan dengan jalan menghalau atau membasmi
mereka yang menjadi kaki tangan kekuasaan jahat yang kelak akan diganti dengan
ponggawa-ponggawa setia di antara kalian. Pengangkatan raja baru, mengingat akan
usiaku yang telah lanjut, tetap akan diadakan, akan tetapi yang akan
menggantikan aku bukanlah si Kukutan yang palsu itu, melainkan puteraku,
Pangeran Panji Sigit!"
Sorak-sorai menyambut ucapan
sri baginda ini dan terjadilah kegaduhan ketika para prajurit bergerak
menangkapi perwira-perwira mereka sendiri yang tadinya diangkat oleh Pangeran
Kukutan dan Suminten. Tanpa dikomando lagi mereka itu bergerak dan mengadakan
"pembersihan" di kalangan mereka sendiri. Sang prabu menghela napas,
tidak sampai hati menyaksikan akibat daripada kelemahannya sendiri dan mengajak
semua orang yang berada di panggung untuk memasuki istana dan di saat itu juga
sang prabu membuka persidangan.
Tak lama kemudian
bermunculanlah ponggawa-ponggawa lama yang tadinya terpaksa atau terpikat
menjadi kaki tangan kekuasaan baru. Mendengar anjuran sang prabu tadi untuk
sadar dan kembali, mereka ini memberanikan berturut-turut maju dengan tubuh
gemetar dan kedua tangan dirangkapkan seperti serombongan anjing melipat
ekornya karena takut digebuk!
Bagus Seta dan Tejolaksono
mengajukan permohonan untuk mencari dan menangkap biang keladi semua kekacauan,
yaitu Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama. Akan tetapi setelah
memperkenankan dan baru saja mereka berdiri, tiba-tiba Pangeran Panji Sigit
roboh terguling, disusul robohnya Ayu Candra dan Setyaningsih! Tiga orang itu
roboh dan merintih-rintih di atas lantai, Pangeran Panji Sigit menggaruk-garuk
pipinya, Ayu Candra menggaruk-garuk bahunya, dan Setyaningsih menggaruk-garuk
lengannya. Keadaan mereka amat aneh karena sambil menggaruk-garuk muka mereka
menjadi merah sekali dan mulut mereka yang tadinya merintih- rintih itu kini
berbisik-bisik!
"Setyaningsih,
kekasihku, isteriku .." Bisik Pangeran Panji Sigit.
"Rakanda Pangeran,
pujaanku, junjunganku ......." Setyaningsih juga merintih-rintih dan
berbisik mesra, kemudian kedua orang itu merangkak saling menghampiri dan
berpelukan, berciuman!
"Kakangmas Tejolaksono
....... ah, Kakangmas .......yang tercinta .......!"
Ayu Candra juga menubruk dan
merangkul leher Tejolaksono yang terbelalak keheranan.
Sri baginda memandang semua
ini dengan muka merah dan mata melotot. Beginikah tingkah laku puteranya yang
baru saja ia umumkan akan dijadikan penggantinya? Akan tetapi Bagus Seta cepat
melangkah maju dan tiga kali menepuk ia membuat tiga orang itu mengeluh dan
pingsan. Mereka dibaringkan di lantai dan Bagus Seta lalu berkata, setelah
mememriksa sejenak,
"Mereka
ini terkena racun yang terbawa duri-duri yang dipergunakan Wasi Bagaspati tadi.
Racun ini jahat sekali, mula-mula merangsang akan tetapi karena racunnya sudah
memasuki jalan darah, kalau tidak cepat tertolong dapat membawa maut. Agaknya
hamba harus cepat pergi mencari obatnya untuk memunahkan racun Ular Wilis ini
.......... "
No comments:
Post a Comment