Bagus Seta sudah bangkit, akan tetapi tiba-tiba Pusporini dan Joko Pramono berseru hampir berbareng,
"Ular Wilis ..... ??”
Semua orang memandang
mereka, dan Pusporini cepat berkata,
"Ah, sekarang hamba
mengerti mengapa kalau mereka bertiga terpengaruh racun, hamba sendiri yang
juga terkena duri itu di pundak hamba, tidak apa-apa! Karena racun Ular Wilis
dan karena hamba memakai mustika Ular Wilis, maka selamat!"
Bagus Seta menoleh
kepadanya.
"Sungguh Dewata adil
dan penuh kasih kepada yang benar! Bibi Pusporini mempunyai mustika Ular
Wilis?"
Pusporini sudah mengeluarkan
mustika ular yang bercahaya hijau itu. Memang semenjak Resi Mahesapati
memberikan mustika itu kepadanya, ia mengalungkannya dan tak pernah mustika itu
terpisah dari tubuhnya. Bagus Seta menerima mustika itu dan berkata lirih,
"Kehendak Hyang Wisesa
selalu terjadilah! Betapa akan kecelik rasa hati Wasi Bagaspati kalau dia
mengetahui bahwa di antara kita ada yang mempunyai batu mustika Ular
Wilis!" Pemuda sakti ini lalu menggunakan batu mustika ditempelkan
sebentar di bagian tubuh ketiga orang yang menjadi korban senjata rahasia itu.
Setelah mereka disadarkan kembali, ketiga orang itu menjadi terheran- heran dan
bertanya,
"Mengapa ..... mengapa
aku rebah di sini .......?"
Tejolaksono lalu
menceritakan bahwa mereka menjadi korban racun senjata rahasia Wasi Bagaspati,
dan tertolong oleh mustika Ular Wilis. Hati mereka menjadi lega, dan sri
baginda yang tadinya marah dan kecewa, setelah tahu duduknya perkara, juga
tersenyum kembali dan mengutuk kejahatan Wasi Bagaspati.
Ketika Tejolaksono dan Bagus
Seta melakukan penggeledahan dan pemeriksaan, diantar oleh Pangeran Panji Sigit
yang mengenal semua tempat di istana, tentu saja mereka tidak menemukan jejak
Suminten, Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama. Ke manakah perginya tiga
orang yang merupakan persekutuan yang menjadi biang keladi semua kekacauan itu?
Begitu mendengar akan penyerbuan barisan Panjalu, mendengar betapa Ki
Kolohangkoro tewas, Ni Dewi Nilamanik dan Wasi Bagaspati melarikan diri, para
perwira kaki tangan mereka tewas dan barisan mereka terdesak kocar-kacir, tiga
orang itu tentu saja tidak tinggal diam. Tergesa-gesa mereka itu berunding
untuk melarikan diri bersama melalui jalan rahasia dari belakang istana.
Warutama bergegas pulang ke kepatihan untuk meninggalkan pesan kepada kedua
isterinya. Akan tetapi apakah yang ia dapatkan? Kedua isterinya itu, Wulandari
dan Dyah Handini, ibu dan anak, sedang bertengkar ramai! Ucapan terakhir yang
didengarnya ketika ia masuk adalah ucapan isterinya yang tua, Wulandari,
"Tahukah engkau siapa
dia itu? Dia adalah ayahmu sendirl, ayah kandungmu! Nah, sekarang engkau
ketahui manusia macam apa adanya suamimu, suami kita. Dia manusia terkutuk yang
telah memperisteri anaknya sendiri! Betapa maluku nanti menghadapi dimas Panji
Sigit dan para pangeran lainnya, betapa aku telah terperosok ke lembah kehinaan
dengan menjadi barang permainan manusia macam Sindupati! Ya, menjadi benda
permainanlah kita berdua ini, Anakku. Ingat saja apa yang biasa ia lakukan
kepada kita berdua selama ini. Tak tahu malu! Ahhh, lebih baik aku mati saja
.......... !”
"Ibu ......!”. Dyah
Handini menjerit.
"Kalau dia ayahku,
mengapa ibu tidak memberi tahu dahulu? Ahh, kalau aku tahu .... hemm, akan kubunuh
dia!”
Tiba-tiba daun pintu terbuka
dan Warutama atau Sindupati muncul di depan ibu dan anak yang menjadi pucat
wajahnya itu. Tak lama kemudian terdengar jerit-jerit mengerikan di dalam kamar
itu dan ketika Sindupati keluar dari istana kepatihan membawa benda-benda emas
dan intan yang berharga, ia melirik untuk terakhir kalinya kepada dua batang
tubuh wanita yang menggeletak tak bernyawa lagi di dalam kamar itu dan ia
menyeringai ke arah mayat Wulandari dan Dyah Handini! Kalau saja ia tidak
mendengar percakapan mereka, tidak perlu ia membunuh mereka, demikian ia
menghibur diri sendiri ketika ia bergegas pergi ke taman sari milik pribadi
Suminten untuk berkumpul dengan dua orang rekannya di sana kemudian
bersama-sama melarikan diri.
Suminten dan Pangeran
Kukutan muncul dengan tergesa-gesa pula. Pangeran Kukutan membawa sebuah
buntalan besar dan berat, agaknya penuh dengan benda-benda berharga dan melihat
kedua orang itu, Sindupati tertawa. Dia tidaklah seperti Suminten dan Pangeran
Kukutan yang kelihatan ketakutan. Dalam keadaan seperti itu, kehilangan
kemuliaan dan kemewahan sebagai patih, Sindupati masih mampu tertawa,
mentertawakan Suminten dan Pangeran Kukutan yang berpakaian seperti
petani-petani biasa!
"Lebih aman memakai
pakaian rakyat biasa dalam pelarian," kata Pangeran Kukutan menangkis
tertawaan Sindupati ketika mereka mulai berjalan memasuki lorong rahasia yang
menembus keluar kota raja tanpa melalui pintu gerbang, melainkan keluar melalui
terowongan yang dibuat menembus di bawah pintu gerbang itu.
"Memang kalian amat
pantas berpakaian seperti itu," kata Sindupati. Suminten melerok marah,
akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia diam saja hanya mengerutkan alisnya
penuh keprihatinan. Diam-diam ia mengutuk Wasi Bagaspati dan kaki tangannya
yang ternyata tidak mampu mempertahankan Jenggala, dan diam-diam ia mengutuk
Pangeran Kukutan yang begitu tidak sabar untuk cepat- cepat menjadi raja
sehingga mereka harus memaksa sang prabu untuk menobatkan Pangeran Kukutan
menjadi raja. Kalau saja tidak terlalu tergesa-gesa dan membiarkan
keadaan berjalan seperti
biasa, tentu tidak akan memancing datangnya serbuan dari Panjalu. Kalau saja
..... kalau.... kalau ... ah, tidak perlu segala penyesalan itu. Yang penting
sekarang melarikan diri agar jangan sampai tertangkap. Ia ngeri memikirkan
kalau sampai dia ditawan oleh Kerajaan Jenggala. Masa depannya tidak terlalu
gelap, Pangeran Kukutan adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan dan
mencintanya. Dan mereka membawa bekal yang cukup banyak untuk kebutuhan mereka.
Kini mereka telah tiba di
luar kota raja. Sunyi di sini karena pertempuran beralih ke dalam kota raja
yang masih terdengar dari situ. Hanya mayat-mayat bergelimpangan dan rintihan
mereka yang terluka saja yang terdapat di luar dinding kota raja. Suminten
bergidik dan mereka melanjutkan perjalanan ke barat. Setelah agak jauh dari
kota raja, dan tiba di pinggir persawahan yang juga sunyi karena para
penduduknya pergi mengungsi begitu terjadi perang, hati Suminten agak lapang.
Tiba-tiba Sindupati berkata,
"Berikan buntalan itu
kepadaku!"
Ucapan ini terdengar oleh
Suminten dan Pangeran Kukutan seperti suara halilintar di tengah hari! Mereka
memandang kepada Sindupati atau Warutama dengan wajah pucat dan mata
terbelalak. Pangeran Kukutan bertanya kasar dan marah,
"Apakah maksudmu dengan
ucapan itu?"
"Apa maksudku? Maksudku
jelas! Tidak patut seorang petani miskin seperti Andika ini membawa-bawa
sebuntal barang-barang berharga milik istana pula. Kesinikan, berikan
kepadaku!"
"Jangan main-main,
Paman patih ..... "
"Aku bukan patih lagi
dan Andika bukan pula pangeran, melainkan orang-orang pelarian, ha-ha-ha! Ayo
berikan, ataukah harus kupaksa?"
"Tidak! Tidak boleh!
Milikku sekarang hanya tinggal ini... tidak boleh!"
Suminten tak dapat berkata
apa-apa, hanya memandang kepada Sindupati penuh kebencian.
"Berani engkau
membantah Sindupati? Ha-ha-ha!" Sindupati meraih untuk merampas buntalan,
akan tetapi Pangeran Kukutan mengelak, bahkan lalu memukul ke arah lambung
Sindupati dengan nekat. Sindupati cepat menangkis dan balas memukul. Maka
berkelahilah kedua orang bekas sekutu itu memperebutkan sebuntal barang-barang
berharga! Akan tetapi, Pangeran Kukutan tentu saja bukanlah lawan seimbang dari
Sindupati yang telah memiliki kesaktian, maka dalam beberapa belas gebrakan saja,
buntalan dapat dirampas dan tubuh Pangeran Kukutan menggeletak di galengan
sawah dengan kepala pecah. Pangeran yang tadinya sudah menjadi putera mahkota,
yang nyaris menjadi raja di Jenggala dalam waktu beberapa pekan lagi, kini
menggeletak mati sebagai seorang petani di pinggir sawah!
Suminten menghampiri
Sindupati dan merangkul pinggang pria itu, menggeser-geserkan tubuh depannya
dan berbisik,
"Tepat sekali apa yang
kau lakukan ini, Warutama..... eh, ataukah Kakang Sindupati? Kakang Sindupati
lebih gagah terdengarnya. Tadi memang aku sudah ada pikiran untuk minta kepada
Andika melenyapkan saja pangeran menyebalkan ini. Mari kita lekas pergi dari
sini, kekasih pujaan hatiku ....!!”
Sindupati menunduk dan
memandang rambut yang halus dan harum itu dengan mata terbelalak. Ia bergidik
dan muak. Alangkah berbahayanya perempuan ini, melebihi seekor ular welang!
Akan tetapi ia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, engkau
boleh ikut bersamaku, Suminten. Engkau masih banyak gunanya bagiku, bukankah
begitu, manis?" Ia menunduk dan mencium pipi wanita itu, akan tetapi
Suminten merangkulnya dan membalas dengan mencium bibirnya amat mesra .....dan
penuh nafsu berahi.
"Tentu saja, Kakang
Sindupati, kita dapat saling bekerja sama dengan mesra dan cocok untuk waktu
yang lama sekali."
Kedua orang itu melangkah
lagi ke barat tanpa menengok satu kali pun kepada mayat Pangeran Kukutan yang
mengelatak di pinggir sawah dengan hidung, mulut, dan telinga mengalirkan darah
itu. Dan tak jauh dari situ, di sebelah barat, kini mulailah mereka bertemu
dengan rombongan-rombongan tentara yang melarikan diri!
Tentara Jenggala yang lari
kacau-balau karena kehilangan pimpinan. Kalau pasukan sudah tidak ada yang
memimpin, tidak ada yang ditakuti lagi, tidak ada disiplin dan hukum, tentu
saja terjadi perbuatan-perbuatan pelanggaran yang akibatnya mendatangkan derita
bagi rakyat. Demikian pula sisa-sisa pasukan Jenggalla yang melarikan diri ini,
di sepanjang jalan tentu saja mengganggu dusun-dusun, mengambil makanan dengan
paksa, mengangkut benda-benda berharga, menculik dan memperkosa gadis-gadis
remaja. Pendeknya, tidak ada perbuatan kekarasan yang menjadi pantangan bagi
mereka.
"Eh ......Gusti Patih,
nih! Hendak pergi ke manakah, Gusti Patih?" Seorang di antara mereka yang
agaknya mabuk tuak yang dirampasnya dari penduduk dusun, bertanya secara kurang
ajar kepada Sindupati yang segera dikurung oleh dua puluh orang prajurit yang
menyeringai dan memandang dengan penuh nafsu dan kekaguman kepada Suminten.
"Wah, Gusti Patih
pandai sekali mendapatkan seorang yang begini denok!" seorang lain
berkata.
"Dan bekalnya banyak
benar, sebuntal besar. Bagi-bagi dong, Gusti Patih!"
Sindupati tertawa. Ia
mengenal baik orang-orang kasar seperti ini sehingga tidak perlu ia
tersinggung. Ia malah tertawa dan berkata,
"Kita sudah kalah,
tidak perlu main patih-patihan lagi. Ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Mereka semua tertawa bergelak, mulut mereka terbuka lebar-lebar sehingga
Suminten dapat melihat rongga mulut yang lebar-lebar dan merah di balik gigi
yang kuning-kuning.
"Buntalan ini tak dapat
kubagi, kalian boleh mencari sendiri di jalan. Adapun ini.... kalau kalian
suka, boleh kalian miliki. Aku sudah bosan dengan dia!" Sindupati
mendorong tubuh Suminten sehingga terhuyung-huyung dan belasan pasang lengan
menerimanya dengan penuh gairah.
"Tidak....tidak
....jangan .....Sindupati.... ah, jangan .....”
Sindupati menengok dan
tertawa, lalu pergi tanpa menoleh lagi biarpun ia mendengar jerit Suminten,
malah berlari makin cepat sehingga akhirnya ia tidak mendengar apa-apa lagi,
baru ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan biasa, memutar otak ke mana ia
akan menujukan kakinya mencari petualangan baru tanpa menyesali kegagalannya di
Jenggala setelah ia hampir tiba di puncak tertinggi. Ia tidak perlu menyesal,
tidak perlu kecewa, hanya sebuah hal yang selalu menjadi ganjalan hatinya,
yaitu dendam Endang Patibroto terhadap dirinya. Hal inilah yang membuat ia
selalu gelisah dan tidak dapat memkmati hidup. Ia merasa menyesal sekali dan
menyumpahi kekeliruannya ketika ia tidak dapat menahan nafsu dan berani
memperkosa wanita sakti yang baru mengingatnya saja sudah membuat bulu
tengkuknya meremang itu.
"Jangan ..........
Mundur semua kalian, manusia-manusia biadab! Tidak tahukah kalian siapa aku?
Butakah mata kalian tidak mengenal junjungan kalian? Bedebah kamu semua, kurang
ajar, lepaskan tanganku!" Suminten menjerit dan memaki.
Dua puluh orang laki-laki
kasar itu terbelalak, lalu tertawa bergelak dan menganggap lucu sikap wanita
dusun yang amat cantik jelita ini. Biarpun kulitnya tetap agak hitam seperti
kulit wanita petani, namun halus bukan main.
"Duhai puteri jelita,
mohon beribu ampun kalau hamba sekalian, tidak mengenal siapa gerangan paduka
puteri ini. Sudilah kiranya paduka puteri berkenan memperkenalkan diri agar
hamba sekalian dapat memberi hormat sebagaimana layaknya," demikian
berkata seorang di antar mereka dengan suara dan sikap dibuat-buat sehingga
semua temannya tertawa geli dan juga berpura-pura dengan sembah hormat sambil
cekikikan seperti sekumpulan anak-anak nakal.
No comments:
Post a Comment