Perawan Lembah Wilis; Bagian 170


Bagus Seta sudah bangkit, akan tetapi tiba-tiba Pusporini dan Joko Pramono berseru hampir berbareng,
"Ular Wilis ..... ??”
Semua orang memandang mereka, dan Pusporini cepat berkata,
"Ah, sekarang hamba mengerti mengapa kalau mereka bertiga terpengaruh racun, hamba sendiri yang juga terkena duri itu di pundak hamba, tidak apa-apa! Karena racun Ular Wilis dan karena hamba memakai mustika Ular Wilis, maka selamat!"
Bagus Seta menoleh kepadanya.
"Sungguh Dewata adil dan penuh kasih kepada yang benar! Bibi Pusporini mempunyai mustika Ular Wilis?"
Pusporini sudah mengeluarkan mustika ular yang bercahaya hijau itu. Memang semenjak Resi Mahesapati memberikan mustika itu kepadanya, ia mengalungkannya dan tak pernah mustika itu terpisah dari tubuhnya. Bagus Seta menerima mustika itu dan berkata lirih,
"Kehendak Hyang Wisesa selalu terjadilah! Betapa akan kecelik rasa hati Wasi Bagaspati kalau dia mengetahui bahwa di antara kita ada yang mempunyai batu mustika Ular Wilis!" Pemuda sakti ini lalu menggunakan batu mustika ditempelkan sebentar di bagian tubuh ketiga orang yang menjadi korban senjata rahasia itu. Setelah mereka disadarkan kembali, ketiga orang itu menjadi terheran- heran dan bertanya,
"Mengapa ..... mengapa aku rebah di sini .......?"
Tejolaksono lalu menceritakan bahwa mereka menjadi korban racun senjata rahasia Wasi Bagaspati, dan tertolong oleh mustika Ular Wilis. Hati mereka menjadi lega, dan sri baginda yang tadinya marah dan kecewa, setelah tahu duduknya perkara, juga tersenyum kembali dan mengutuk kejahatan Wasi Bagaspati.

Ketika Tejolaksono dan Bagus Seta melakukan penggeledahan dan pemeriksaan, diantar oleh Pangeran Panji Sigit yang mengenal semua tempat di istana, tentu saja mereka tidak menemukan jejak Suminten, Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama. Ke manakah perginya tiga orang yang merupakan persekutuan yang menjadi biang keladi semua kekacauan itu? Begitu mendengar akan penyerbuan barisan Panjalu, mendengar betapa Ki Kolohangkoro tewas, Ni Dewi Nilamanik dan Wasi Bagaspati melarikan diri, para perwira kaki tangan mereka tewas dan barisan mereka terdesak kocar-kacir, tiga orang itu tentu saja tidak tinggal diam. Tergesa-gesa mereka itu berunding untuk melarikan diri bersama melalui jalan rahasia dari belakang istana. Warutama bergegas pulang ke kepatihan untuk meninggalkan pesan kepada kedua isterinya. Akan tetapi apakah yang ia dapatkan? Kedua isterinya itu, Wulandari dan Dyah Handini, ibu dan anak, sedang bertengkar ramai! Ucapan terakhir yang didengarnya ketika ia masuk adalah ucapan isterinya yang tua, Wulandari,
"Tahukah engkau siapa dia itu? Dia adalah ayahmu sendirl, ayah kandungmu! Nah, sekarang engkau ketahui manusia macam apa adanya suamimu, suami kita. Dia manusia terkutuk yang telah memperisteri anaknya sendiri! Betapa maluku nanti menghadapi dimas Panji Sigit dan para pangeran lainnya, betapa aku telah terperosok ke lembah kehinaan dengan menjadi barang permainan manusia macam Sindupati! Ya, menjadi benda permainanlah kita berdua ini, Anakku. Ingat saja apa yang biasa ia lakukan kepada kita berdua selama ini. Tak tahu malu! Ahhh, lebih baik aku mati saja .......... !”
"Ibu ......!”. Dyah Handini menjerit.
"Kalau dia ayahku, mengapa ibu tidak memberi tahu dahulu? Ahh, kalau aku tahu .... hemm, akan kubunuh dia!”

Tiba-tiba daun pintu terbuka dan Warutama atau Sindupati muncul di depan ibu dan anak yang menjadi pucat wajahnya itu. Tak lama kemudian terdengar jerit-jerit mengerikan di dalam kamar itu dan ketika Sindupati keluar dari istana kepatihan membawa benda-benda emas dan intan yang berharga, ia melirik untuk terakhir kalinya kepada dua batang tubuh wanita yang menggeletak tak bernyawa lagi di dalam kamar itu dan ia menyeringai ke arah mayat Wulandari dan Dyah Handini! Kalau saja ia tidak mendengar percakapan mereka, tidak perlu ia membunuh mereka, demikian ia menghibur diri sendiri ketika ia bergegas pergi ke taman sari milik pribadi Suminten untuk berkumpul dengan dua orang rekannya di sana kemudian bersama-sama melarikan diri.
Suminten dan Pangeran Kukutan muncul dengan tergesa-gesa pula. Pangeran Kukutan membawa sebuah buntalan besar dan berat, agaknya penuh dengan benda-benda berharga dan melihat kedua orang itu, Sindupati tertawa. Dia tidaklah seperti Suminten dan Pangeran Kukutan yang kelihatan ketakutan. Dalam keadaan seperti itu, kehilangan kemuliaan dan kemewahan sebagai patih, Sindupati masih mampu tertawa, mentertawakan Suminten dan Pangeran Kukutan yang berpakaian seperti petani-petani biasa!
"Lebih aman memakai pakaian rakyat biasa dalam pelarian," kata Pangeran Kukutan menangkis tertawaan Sindupati ketika mereka mulai berjalan memasuki lorong rahasia yang menembus keluar kota raja tanpa melalui pintu gerbang, melainkan keluar melalui terowongan yang dibuat menembus di bawah pintu gerbang itu.
"Memang kalian amat pantas berpakaian seperti itu," kata Sindupati. Suminten melerok marah, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia diam saja hanya mengerutkan alisnya penuh keprihatinan. Diam-diam ia mengutuk Wasi Bagaspati dan kaki tangannya yang ternyata tidak mampu mempertahankan Jenggala, dan diam-diam ia mengutuk Pangeran Kukutan yang begitu tidak sabar untuk cepat- cepat menjadi raja sehingga mereka harus memaksa sang prabu untuk menobatkan Pangeran Kukutan menjadi raja. Kalau saja tidak terlalu tergesa-gesa dan membiarkan
keadaan berjalan seperti biasa, tentu tidak akan memancing datangnya serbuan dari Panjalu. Kalau saja ..... kalau.... kalau ... ah, tidak perlu segala penyesalan itu. Yang penting sekarang melarikan diri agar jangan sampai tertangkap. Ia ngeri memikirkan kalau sampai dia ditawan oleh Kerajaan Jenggala. Masa depannya tidak terlalu gelap, Pangeran Kukutan adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan dan mencintanya. Dan mereka membawa bekal yang cukup banyak untuk kebutuhan mereka.

Kini mereka telah tiba di luar kota raja. Sunyi di sini karena pertempuran beralih ke dalam kota raja yang masih terdengar dari situ. Hanya mayat-mayat bergelimpangan dan rintihan mereka yang terluka saja yang terdapat di luar dinding kota raja. Suminten bergidik dan mereka melanjutkan perjalanan ke barat. Setelah agak jauh dari kota raja, dan tiba di pinggir persawahan yang juga sunyi karena para penduduknya pergi mengungsi begitu terjadi perang, hati Suminten agak lapang.
Tiba-tiba Sindupati berkata,
"Berikan buntalan itu kepadaku!"
Ucapan ini terdengar oleh Suminten dan Pangeran Kukutan seperti suara halilintar di tengah hari! Mereka memandang kepada Sindupati atau Warutama dengan wajah pucat dan mata terbelalak. Pangeran Kukutan bertanya kasar dan marah,
"Apakah maksudmu dengan ucapan itu?"
"Apa maksudku? Maksudku jelas! Tidak patut seorang petani miskin seperti Andika ini membawa-bawa sebuntal barang-barang berharga milik istana pula. Kesinikan, berikan kepadaku!"
"Jangan main-main, Paman patih ..... "
"Aku bukan patih lagi dan Andika bukan pula pangeran, melainkan orang-orang pelarian, ha-ha-ha! Ayo berikan, ataukah harus kupaksa?"
"Tidak! Tidak boleh! Milikku sekarang hanya tinggal ini... tidak boleh!"
Suminten tak dapat berkata apa-apa, hanya memandang kepada Sindupati penuh kebencian.
"Berani engkau membantah Sindupati? Ha-ha-ha!" Sindupati meraih untuk merampas buntalan, akan tetapi Pangeran Kukutan mengelak, bahkan lalu memukul ke arah lambung Sindupati dengan nekat. Sindupati cepat menangkis dan balas memukul. Maka berkelahilah kedua orang bekas sekutu itu memperebutkan sebuntal barang-barang berharga! Akan tetapi, Pangeran Kukutan tentu saja bukanlah lawan seimbang dari Sindupati yang telah memiliki kesaktian, maka dalam beberapa belas gebrakan saja, buntalan dapat dirampas dan tubuh Pangeran Kukutan menggeletak di galengan sawah dengan kepala pecah. Pangeran yang tadinya sudah menjadi putera mahkota, yang nyaris menjadi raja di Jenggala dalam waktu beberapa pekan lagi, kini menggeletak mati sebagai seorang petani di pinggir sawah!
Suminten menghampiri Sindupati dan merangkul pinggang pria itu, menggeser-geserkan tubuh depannya dan berbisik,
"Tepat sekali apa yang kau lakukan ini, Warutama..... eh, ataukah Kakang Sindupati? Kakang Sindupati lebih gagah terdengarnya. Tadi memang aku sudah ada pikiran untuk minta kepada Andika melenyapkan saja pangeran menyebalkan ini. Mari kita lekas pergi dari sini, kekasih pujaan hatiku ....!!”

Sindupati menunduk dan memandang rambut yang halus dan harum itu dengan mata terbelalak. Ia bergidik dan muak. Alangkah berbahayanya perempuan ini, melebihi seekor ular welang! Akan tetapi ia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, engkau boleh ikut bersamaku, Suminten. Engkau masih banyak gunanya bagiku, bukankah begitu, manis?" Ia menunduk dan mencium pipi wanita itu, akan tetapi Suminten merangkulnya dan membalas dengan mencium bibirnya amat mesra .....dan penuh nafsu berahi.
"Tentu saja, Kakang Sindupati, kita dapat saling bekerja sama dengan mesra dan cocok untuk waktu yang lama sekali."
Kedua orang itu melangkah lagi ke barat tanpa menengok satu kali pun kepada mayat Pangeran Kukutan yang mengelatak di pinggir sawah dengan hidung, mulut, dan telinga mengalirkan darah itu. Dan tak jauh dari situ, di sebelah barat, kini mulailah mereka bertemu dengan rombongan-rombongan tentara yang melarikan diri!
Tentara Jenggala yang lari kacau-balau karena kehilangan pimpinan. Kalau pasukan sudah tidak ada yang memimpin, tidak ada yang ditakuti lagi, tidak ada disiplin dan hukum, tentu saja terjadi perbuatan-perbuatan pelanggaran yang akibatnya mendatangkan derita bagi rakyat. Demikian pula sisa-sisa pasukan Jenggalla yang melarikan diri ini, di sepanjang jalan tentu saja mengganggu dusun-dusun, mengambil makanan dengan paksa, mengangkut benda-benda berharga, menculik dan memperkosa gadis-gadis remaja. Pendeknya, tidak ada perbuatan kekarasan yang menjadi pantangan bagi mereka.
"Eh ......Gusti Patih, nih! Hendak pergi ke manakah, Gusti Patih?" Seorang di antara mereka yang agaknya mabuk tuak yang dirampasnya dari penduduk dusun, bertanya secara kurang ajar kepada Sindupati yang segera dikurung oleh dua puluh orang prajurit yang menyeringai dan memandang dengan penuh nafsu dan kekaguman kepada Suminten.
"Wah, Gusti Patih pandai sekali mendapatkan seorang yang begini denok!" seorang lain berkata.
"Dan bekalnya banyak benar, sebuntal besar. Bagi-bagi dong, Gusti Patih!"
Sindupati tertawa. Ia mengenal baik orang-orang kasar seperti ini sehingga tidak perlu ia tersinggung. Ia malah tertawa dan berkata,
"Kita sudah kalah, tidak perlu main patih-patihan lagi. Ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha-ha!" Mereka semua tertawa bergelak, mulut mereka terbuka lebar-lebar sehingga Suminten dapat melihat rongga mulut yang lebar-lebar dan merah di balik gigi yang kuning-kuning.

"Buntalan ini tak dapat kubagi, kalian boleh mencari sendiri di jalan. Adapun ini.... kalau kalian suka, boleh kalian miliki. Aku sudah bosan dengan dia!" Sindupati mendorong tubuh Suminten sehingga terhuyung-huyung dan belasan pasang lengan menerimanya dengan penuh gairah.
"Tidak....tidak ....jangan .....Sindupati.... ah, jangan .....”
Sindupati menengok dan tertawa, lalu pergi tanpa menoleh lagi biarpun ia mendengar jerit Suminten, malah berlari makin cepat sehingga akhirnya ia tidak mendengar apa-apa lagi, baru ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan biasa, memutar otak ke mana ia akan menujukan kakinya mencari petualangan baru tanpa menyesali kegagalannya di Jenggala setelah ia hampir tiba di puncak tertinggi. Ia tidak perlu menyesal, tidak perlu kecewa, hanya sebuah hal yang selalu menjadi ganjalan hatinya, yaitu dendam Endang Patibroto terhadap dirinya. Hal inilah yang membuat ia selalu gelisah dan tidak dapat memkmati hidup. Ia merasa menyesal sekali dan menyumpahi kekeliruannya ketika ia tidak dapat menahan nafsu dan berani memperkosa wanita sakti yang baru mengingatnya saja sudah membuat bulu tengkuknya meremang itu.
"Jangan .......... Mundur semua kalian, manusia-manusia biadab! Tidak tahukah kalian siapa aku? Butakah mata kalian tidak mengenal junjungan kalian? Bedebah kamu semua, kurang ajar, lepaskan tanganku!" Suminten menjerit dan memaki.
Dua puluh orang laki-laki kasar itu terbelalak, lalu tertawa bergelak dan menganggap lucu sikap wanita dusun yang amat cantik jelita ini. Biarpun kulitnya tetap agak hitam seperti kulit wanita petani, namun halus bukan main.
"Duhai puteri jelita, mohon beribu ampun kalau hamba sekalian, tidak mengenal siapa gerangan paduka puteri ini. Sudilah kiranya paduka puteri berkenan memperkenalkan diri agar hamba sekalian dapat memberi hormat sebagaimana layaknya," demikian berkata seorang di antar mereka dengan suara dan sikap dibuat-buat sehingga semua temannya tertawa geli dan juga berpura-pura dengan sembah hormat sambil cekikikan seperti sekumpulan anak-anak nakal.

<<< Bagian 169                                                                                      Bagian 171 >>>

No comments:

Post a Comment