"Tidak mungkin menghadap gusti sinuwun. Beliau sedang sakit, tidak dapat menerima siapapun juga!"
"Kami telah mendengar
akan berita itu. Justeru karena beliau sakit maka gusti sinuwum Panjalu
mengutus kami untuk menjenguk dan mempersembahkan surat."
Ni Dewi Nilamanik tersenyum
mengejek.
"Andika semenjak dahulu
keras kepala, Tejolaksono. Baiklah, kalian diperkenankan menghadap, akan tetapi
harus kami kawal agar kalian jangan sampai mendatangkan kekacauan di
sini!"
"Sesukamulah. Yang
penting bagi kami melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh gusti sinuwun
kepada kami sebagai utusan."
Ni Dewi Nilamanik
mengeluarkan seruan memerintah dan pasukan pengawal membuka jalan dan pintu
gerbang pun dibuka lebar-lebar. Tejolaksono dapat merasakan sesuatu yang
mengancam, akan tetapi ketika ia melirik puteranya, ia melihat wajah Bagus Seta
tetap tenang saja, maka ia pun lalu mengangguk dan melangkah masuk diikuti oleh
semua rombongannya dengan sikap penuh kewaspadaan. Baru kurang lebih dua ratus
langkah mereka berjalan, tiba-tiba dari luar pintu gerbang masuk barisan yang
besar jumlahnya dan pintu gerbang ditutup, kemudian terdengar suara ketawa
disusul suara nyaring,
"Huah-ha-ha-ha, pintu
gerbang maut. Ada jalan masuk tidak ada jalan keluar! Tejolaksono, serahkan
surat rajamu itu kepada kami dan menyerahlah, dengan demikian ada kemungkinan
kalian terbebas dari kematian!"
Keluarga sakti itu berdiri
tegak dalam keadaan siap waspada dan mereka melihat munculnya Wasi Bagaspati
dan Warutama yang memimpin barisan pengawal yang segera bergabung dengan
barisan yang baru masuk dari luar pintu gerbang sehingga tempat itu kini
terkurung oleh barisan yang jumlahnya tidak kurang dari seribu orang!
"Wasi Bagaspati! Kami
adalah utusan-utusan raja! Biarpun andika datang dari Kerajaan Cola, akan
tetapi kurasa di sana pun terdapat peraturan bahwa utusan tidak boleh
diganggu!"
"Utusan atau bukan,
engkau harus tunduk akan peraturan di sini. Sang prabu sedang sakit, tak boleh
diganggu maka surat itu harus diberikan kepada kami. Kalau menolak, berarti
engkau akan mengacaukan menjelang penobatan raja baru di sini!"
Endang Patibroto yang
melihat munculnya Warutama, tiba-tiba menjadi merah sekali wajahnya dan
sepasang matanya menyinarkan api yang seolah-olah hendak membakar patih itu.
"Sindupati manusia
keparat, jahanam berwatak iblis dan keji! Tibalah saatnya engkau mampus di
tangan Endang Patibroto!" Sambil memaki Endang Patibroto sudah melompat
seperti terbang saja, tubuhnya melayang dan menyambar ke arah Warutama dengan
pukulan sakti Wisangnala selagi tubuhnya masih di udara. Warutama tidak menjadi
terkejut karena memang dia sudah bersiap-siap menghadapi pertemuan dengan musuh
besarnya ini yang tentu saja takkan berani ia lakukan kalau saja ia tidak
mengandalkan kesaktian Wasi Bagaspati, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro dan
ribuan orang pengawal. Kini melihat wanita sakti yang ditakutinya itu menerjang
maju dengan dahsyat, ia cepat menggulingkan tubuh ke atas tanah dan
menggelinding pergi, lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam barisan
pengawal.
"Tejolaksono, kalian
hendak memberontak? Pengawal, tangkap mereka!” bentak Wasi Bagaspati sambil
tertawa-tawa saking girangnya karena ia merasa yakin bahwa kalau keluarga sakti
ini dapat dibasmi, tentu penghalang yang amat besar bagi cita-citanya akan
lenyap. Yang paling kuat di antara rombongan itu adalah pemuda remaja aneh
putera Tejolaksono, akan tetapi di situ ada dia yang akan dapat melawannya, dan
dibantu oleh ribuan pengawal, tak mungkin pihaknya akan kalah.
Tejolaksono dan keluarganya
diserbu oleh orang-orang tinggi besar, yaitu murid-murid Sang Wasi Bagaspati,
juga Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik sudah menerjang maju. Tejolaksono
dan keluarganya cepat bergerak membela diri, sedangkan Endang Patibroto segera
melepas panah api yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk memberi tanda kepada
barisan Panjalu yang menanti-nanti di luar kota raja untuk melihat munculnya
tanda ini. Wasi Bagaspati yang ingin cepat-cepat membasmi keluarga sakti yang
merupakan penghalang besar bagi pelaksanaan tugasnya, bahkan merupakan ancaman
bagi kemajuan yang telah dicapai, mengeluarkan pekik menyeramkan, kedua
lengannya diangkat ke atas agak melengkung dan tiba-tiba dari sepuluh jari
tangannya meluncur sinar merah seperti kilat membubung ke atas kemudian menukik
turun menyerang kepala Tejolaksono sekeluarga yang delapan orang jumlahnya itu.
Karena Tejolaksono sekeluarga sedang dikeroyok banyak lawan, tentu saja
serangan yang datangnya dari atas ini sukar untuk mereka hindarkan, akan tetapi
pada saat itu, Bagus Seta yang masih belum turun tangan berseru,
"Wasi Bagaspati, tidak
malukah andika bermain curang?" Pemuda remaja itu mengangkat tangan
kanannya ke atas dan dari telapak tangannya itu menyambar sinar putih yang
melengkung panjang dan membentuk lingkaran besar sekali melindungi di atas
kepala Tejolaksono sekeluarga. Ketika sinar-sinar merah itu menukik turun dan
bertemu dengan lingkaran putih, sinar-sinar merah itu terpental jauh kemudian
lenyap disusul pekik Wasi Bagaspati yang menjadi marah sekali.
"Heh si keparat Bagus
Seta! Sekali ini aku akan membasmi dan membunuh seluruh keluargamu, kemudian
menghancurkan Panjalu!"
Bagus Seta tetap tenang
ketika menjawab,
"Wasi Bagaspati, andika
siapakah berani bicara tentang membunuh? Seolah-olah andika berkuasa akan mati
hidupnya manusia?"
"Kematian kalian telah
berada di telapak tanganku, dan engkau masih berani bicara sombong?
Huah-ha-ha-ha! Dikepung ribuan orang prajurit, masih ada lagi laksaan prajurit
sebagai cadangan, kalian hendak terbang ke mana? Andaikan bersayap sekalipun,
kalian takkan dapat lobos dari kematian!"
"Wasi Bagaspati, mati
hidup berada di tangan Sang Hyang Widhi, bagaimana andika berani mengeluarkan
ucapan seperti itu? Apabila Hyang Widhi tidak menghendaki seseorang mati, biar
dia dikeroyok anak panah sejuta pun tidak akan mengenainya. Sebaliknya apabila
kematian orang itu sudah dikehendaki Hyang Widhi, tidak ada kekuasaan di dunia
ini dapat mencegahnya! Karena itu, kami menyandarkan dan menyerahkan diri ke
dalam tangan Hyang Widhi dan jika kematian kami belum dikehendaki-Nya, segala
usahamu untuk membunuh kami takkan berhasil, Wasi Bagaspati!"
"Babo-babo, si keparat!
Sang Hyang-Shiwa berhak mencabut dan membinasakan setiap orang! Lihatlah
ini!" Wasi Bagaspati kembali mengangkat tangannya, kini hanya tangan
kirinya yang mengeluarkan asap menghitam yang melayang ke arah kepala keluarga
sakti itu. Asap tebal hitam dan seperti hidup gerakannya, bahkan mengeluarkan
suara mendesis seperti ular mengamuk.
"Kanjeng Rama sekalian,
harap menahan napas sejenak!" Bagus Seta berkata dengan suara lirih akan
tetapi hebatnya, suara ini seolah-olah merupakan bisikan di dekat telinga tujuh
orang ayah bunda dan paman bibinya yang sedang dikeroyok banyak musuh. Untung
mereka diberitahu oleh bisikan Bagus Seta karena asap hitam yang hanya
menyerang mereka itu sebelum datang menyambar,
dari jauh sudah lebih dulu
menyerang dengan baunya yang mengandung hawa beracun.
Bagus Seta mengangkat pula
tangan kirinya dan keluarlah asap putih yang bergerak cepat naik menyusul asap
hitam. Terjadi pergumulan antara dua asap hitam putih di udara, akan tetapi
jelas tampak betapa asap hitam itu digulung dan dihimpit dan akhirnya asap
hitam seperti seekor anjing kalah bergumul, melayang kembali ke telapak tangan
Wasi Bagaspati.
"Auuunggghhh .....
!" Wasi Bagaspati memekik-mekik dan mukanya menjadi merah sekali dan
mencorong seolah-olah telah menjadi bara api, kedua matanya berkilat-kilat,
giginya berkerot-kerot, menyeramkan sekali. Menurutkan kemarahannya ingin ia
mengeluarkan senjata Cakranya yang sebetulnya tidak boleh dikeluarkan secara
sembarangan saja, akan tetapi ia teringat akan bunga Cempaka Putih yang
dimiliki pemuda itu, maka ia menahan kemarahannya ini dan cepat menubruk maju
dan menyerang Bagus Seta mempergunakan kedua tangannya. Kini ia hendak membunuh
pemuda ini menggunakan tenaga kasar, karena dalam hal pertandingan menggunakan
batin ia tidak berhasil. Bagus Seta cepat menggerakkan tubuhnya menyambut dan
mulailah kedua orang yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini
bertanding dengan seru, tubuh mereka berkelebatan dan lenyap dari pandangan
mata orang biasa, yang tampak hanyalah dua gulungan sinar merah dan putih dari
pakaian mereka.
Sementara itu, anggota
keluarga lain sedang mengalami pengeroyokan yang amat berat. Joko Pramono dan
Pusporini yang ingin menebus kekalahan mereka dari Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi
Nilamanik lima enam tahun yang lalu, sudah menerjang dua orang musuh ini dan
mereka telah terlibat dalam pertandingan yang amat seru. Joko Pramono
menghadapi Ki Kolohangkoro dan Pusporini yang sudah marah sekali itu berhadapan
dengan Ni Dewi Nilamanik. Untung bagi kedua orang muda ini yang menghadapi
lawan berat karena gerakan mereka dalam pertandingan ini amat cepat sehingga
pihak pengawal tidak ada yang berani ikut mengeroyok. Mereka tidak mampu
mengikuti kecepatan empat orang yang bertanding ini sehingga kalau mengeroyok,
besar bahayanya akan mengganggu pergerakan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi
Nilamanik sendiri. Dan karena kini tingkat kepandaian dua orang murid Resi
Mahesapati itu amat tinggi, maka mereka berdua dapat mendesak lawan yang makin
lama merasa betapa kuat dan beratnya dua orang lawan muda itu. Keadaan anggota
keluarga sakti lainnya lebih payah lagi. Tejolaksono dan Endang Patibroto yang
sudah lebih banyak pengalamannya dalam perang dan pertandingan- pertandingan
keroyokan, mengamuk dengan hebat dan sepak terjang suami isteri ini amat
menggiriskan. Pasukan pengawal yang kena diterjang mereka seperti
mentimun-mentimum bertemu durian, mawut dan kocar-kacir, banyak yang tewas.
Makin banyak datangnya pengeroyokan, makin gembira dan bersemangat dua orang
perkasa ihi mengamuk. Ayu Candra juga mengamuk, akan tetapi seperti halnya
Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit, kepalanya menjadi pening melihat
banyaknya pengeroyokan yang makin banyak itu. Ia menjadi jijik dan ngeri
seperti orang dikeroyok ribuan semut dan kalau pengeroyokan itu dilanjutkan
terus, agaknya tiga orang inilah yang takkan kuat bertahan. Siapa yang tidak
menjadi jijik dan ngeri kalau melihat para pengawal itu seperti kemasukan
setan, roboh satu maju dua, roboh dua maju empat dan selalu berlipat ganda
sehingga mayat telah bertumpuk malang melintang?
Karena ngeri dan gentar,
sebuah mata tombak berhasil melukai ujung pundak Ayu Candra. Biarpun hanya
kulit dan sedikit daging saja yang terluka, namun Ayu Candra terhuyung-huyung
bukan karena luka itu melainkan karena pening kepalanya menyaksikan para
pengeroyok yang amat besar jumlahnya, seperti ombak samudera hendak menelan
dirinya. Dalam keadaan terhuyung ini, lima tombak meluncur ke arah tubuhnya,
sedangkan dalam detik itu Ayu Candra memejamkan mata untuk mengusir kepeningan
kepalanya.
"Dinda ......... awas
.........” Tejolaksono berseru dan suara suaminya ini menyadarkan Ayu Candra.
Ketika memejamkan matanya tadi, ia merasa betapa nikmatnya kehilangan semua
pengeroyok yang tak tampak lagi, betapa nikmatnya menjauhkan diri dari
pengeroyokan yang menjijikkan itu sehingga ia terlena dan lengah. Cepat ia
membuka matanya dan kaget melihat lima ujung tombak sudah meluncur dekat. Ia
segera melempar diri ke belakang dan bergulingan. Tejolaksono sudah memaksa
diri meninggalkan para pengeroyoknya dengan sebuah loncatan tinggi, kemudian
tubuhnya menukik ke bawah dan menggunakan kakinya menerjang lima orang yang
menyerang Ayu Candra itu. Lima orang itu menjerit dan tubuh mereka terpelanting
ke kanan kiri seperti disambar halilintar. Dua orang di antara mereka pecah
kepalanya dan yang tiga orang patah tulang lengannya.
"Kenapa, isteriku
......... ?" Tejolaksono memeluk Ayu Candra.
Ayu Candra tersenyum.
"Tidak apa-apa,
Kakangmas, hanya ......... tadi agak pening melihat banyaknya setan-setan
ini!"
Mereka tak sempat banyak
bicara karena kembali mereka telah dikurung dan dikeroyok. Kini Tejolaksono
bertanding dekat isterinya yang tidaklah begitu sakti seperti Endang Patibroto
sehingga ia akan dapat melindunginya. Endang Patibroto memang amat menggiriskan
sepak-terjangnya. Ke manapun ia berkelebat, di sana tentu tampak para pengawal
bergelimpangan dan Cara Endang Patribroto mengamuk juga membikin kacau barisan
lawan. Wanita sakti ini tidak hanya mengamuk di suatu tempat tertentu,
melainkan berpindah-pindah, meloncat ke sana ke mari seperti tingkah seekor
burung elang menyambari sekumpulan anak ayam.
Hal ini ada sebabnya. Endang
Patibroto amat membenci Sindupati yang kini telah menjadi Patih Warutama jahat
yang pernah memperkosanya di puncak Wilis itu harus dibunuhnya karena kalau dia
tidak dapat membalas dendam ini, selamanya ia akan hidup menderita penasaran
dan sakit hati. Tadi ia tidak berhasil menyerang Warutama yang menyelinap di
antara para pengawal, maka kini Endang Patibroto menerjang ke sana ke mari
untuk mencari musuh besarnya itu.
No comments:
Post a Comment