"Oohhh, kalian ini bukankah para prajurit Jenggala? Apakah benar kalian tidak mengenal aku ataukah sudah buta matamu? Aku adalah junjunganmu, selir kinasih (tersayang) sang prabu, Suminten."
Kembali dua puluh orang itu tertawa
bergelak. Suminten? Baru pakaiannya saja pakaian sederhana, pakaian. wanita
dusun, wanita petani, mengaku sebagai Suminten?
"Wah, jadi paduka ini
Gusti Puteri Suminten? Kalau begitu kebetulan sekali, karena Gusti Puteri
terkenal paling doyan pria-pria muda dan kuat. Kebetulan kami dua puluh orang
adalah pria-pria yang kuat, ha-ha-ha!" Kembali mereka berebut maju,
berlomba dulu untuk memeluk dan menggerayang tubuh yang padat itu.
Suminten menjerit-jerit,
kemaki-maki, meronta-ronta, akan tetapi apakah dayanya menghadapi dua puluh
orang laki-laki yang kasar? Akhirnya ia menjerit-jerit dan menangis, namun
apapun yang dilakukan malah seakan-akan menambah gairah dua puluh orang pria
yang memperkosanya berganti-ganti itu. Sampai malam tiba barulah mereka melepaskan
Suminten yang menggeletak pingsan di pinggir hutan, meninggalkan perempuan ini
sambil tertawa-tawa puas dan memuji-muji. Kemudian mereka melanjutkan
perjalanan untuk mengacau kampung-kampung, mencari rampasan-rampasan baru,
mencari calon korban mereka, wanita-wanita baru.
Pada keesokan harinya,
pagi-pagi sekali Suminten merangkak sambil merintih-rintih, pakaiannya
robek-robek, pakaian yang direnggutkan secara kasar oleh banyak tangan, yang
terpaksa dipakainya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat, untuk menahan
serangan hawa dingin pagi itu. Kemudian, setelah merangkak seperti seekor
anjing sakit untuk beberapa lamanya, kadang-kadang jatuh dan menangis, akhirnya
ia dapat bangkit berdiri, berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia berhenti, menengadah
dan tertawa kecicikan, kemudian menangis lagi, tertawa lagi. Menjelang tengah
hari ia bertemu dengan dua orang pemburu di dalam hutan, dua orang pemburu yang
lebih pantas disebut orang hutan daripada manusia, liar dan kasar karena lebih
sering berada di hutan memburu binatang dari pada hidup di masyarakat ramai.
"Hi-hik, ke sinilah,
wong bagus! Ke sinilah kalian berdua! Lihat, apakah tubuhku tidak denok dan
montok? Apakah rambutku tidak hitam panjang dan halus? Wajahku cantik dan
tubuhnya hangat! Ke sinilah kalian.... !”
Sejenak dua orang pria itu
saling pandang, akan tetapi kemudian mereka terbelalak memandang ketika
Suminten menanggalkan pakaiannya yang compang-camping, memperlihatkan tubuh
yang benar-benar mempesonakan dua orang pemburu itu. Sungguh, selama hidup
mereka, belum pernah mereka menyaksikan bentuk tubuh seindah ini! Dan wajah
itu, biarpun agak kotor dan rambutnya kusut, namun harus mereka akui cantik
manis dan rambutnya benar-benar hitam panjang dan berombak. Setankah wanita
itu? Siluman yang menggoda mereka?
Peri? Andaikata mereka tidak
berdua, tentu seorang diri saja mereka akan lari saking ngeri. Akan tetapi
karena mereka berdua, mereka kini malah menghampiri dan begitu tangan mereka
menyentuh lengan Suminten dan mendapat kenyataan bahwa si cantik itu
benar-benar seorang manusia, keduanya lalu berebut untuk mendapatkan wanita
menggairahkan ini lebih dulu! Suminten menyambut
mereka dengan pelukan mesra
dan tertawa terkekeh-kekeh. Beberapa hari kemudian, setiap orang pria yang
berjumpa dengan Suminten tentu lari dan dikejar-kejarnya sambil tertawa-tawa
dan mengeluarkan kata-kata merayu, menawarkan tubuhnya. Akan tetapi setiap
orang laki-laki yang melihatnya menjadi amat jijik dan melarikan diri. Siapa
orangnya sudi berdekatan dengan seorang wanita yang kurus kotor, bermuka pucat
dan jelas miring otaknya? Akhirnya, tidak sampai sebulan kemudian, orang mendapatkan
tubuh Suminten yang telanjang bulat dan kurus kering menggetak mati di dekat
sungai, agaknya kelaparan atau kedinginan. Suminten, bekas selir terkasih,
bahkan bekas orang yang paling berkuasa di Jenggala, mati sebagai seorang
pengemis gila yang tak dikenal orang, dan dikuburkan orang hanya karena orang
lain tidak mau terganggu mayat membusuk, tidak ada yang berkabung untuknya, tidak
ada yang menangisi kematiannya, bahkan tidak ada yang mengenal siapakah wanita
terlantar yang mati itu. Sungguh akhir hidup yang menyedihkan. Inilah keadaan
Suminten.
Retna Wilis berseru girang
sekali ketika ia melihat bintang yang setiap malam dipandangnya itu melayang
jatuh menjadi sinar yang panjang. Itulah tanda bagi dia untuk diperbolehkan
meninggalkan pantai yang sunyi ini seperti yang dipesankan gurunya, Nini
Bumigarba yang telah lenyap bersama Bhagawan Ekadenta di Laut Selatan. Setelah
merasa yakin bahwa bintang yang dimaksudkan gurunya itu betul-betul telah
runtuh dan tidak tampak lagi di angkasa, Retna Wilis lalu melangkah perlahan
menuju tepi laut. Sampai lama ia memandang ke arah laut, seolah-olah ia hendak
minta doa restu gurunya. Ia termenung seperti telah berubah menjadi arca dewi
menjaga pantai dan baru sadar ketika ada benda berat menindih kakinya. Ia
menunduk dan melihat seekor kura-kura besar di depan kakinya. Kiranya kura-kura
yang pernah membantunya mengambil pedang pusaka Sapudenta itulah yang tadi
mendekam di kakinya.
"Eh, Kukura yang baik,
malam ini adalah malam terakhir aku berada di sini. Bawalah aku berjalan di
sepanjang pantai, Kukura."
Retna Wilis lalu duduk di
atas punggung kura-kura raksasa itu dan dengan mendorong-dorong leher binatang
itu, ia dapat mengendarai binatang itu berjalan-jalan bersama Kukura menikmati
angin laut dan pemandangan indah ombak-ombak laut ditimpa sinar bulan yang
keemasan. Ketika matahari muncul kemerahan di permukaan laut sebelah timur,
barulah Retna Wilis menyuruh pergi yang kembali ke laut, kemudian ia pun mandi
sampai puas dan berganti pakaiannya yang serba hijau. Rambutnya yang hitam
panjang ia gelung sebagian di atas kepala dan membiarkan sisa rambut itu
terurai ke belakang. Pakaiannya ringkas dan ketat, pedangnya ia ikat di
belakang punggung, wajahnya berseri dan segar ketika akhirnya gadis remaja ini
meninggalkan pantai dan berjalan ke utara. Ia hanya ingat bahwa letak Gunung
Wilis adalah di barat, dan bahwa untuk menuju ke Gunung Wilis ia harus meninggalkan
pantai itu menuju ke utara, kemudian ia akan membelok ke barat.
Apakah ibunya masih berada
di puncak Wilis? Apakah Padepokan Wilis masih berdiri dan ibunya masih menjadi
pemimpin Padepokan Wilis? Dia teringat akan nasehat gurunya,
"Kelak engkau harus
menjadi puteri yang menguasai seluruh jagad. Dengan demikian, tidak percuma
engkau berpayah-payah belajar di sini dan tidak percuma menjadi murid Nini
Bumigarba. Engkau pergilah ke Wilis, himpun kekuatan barisanmu dari Wilis dan
kemudian taklukkan semua kerajaan sampai bertekuk di depan kakimu. Ajaklah
ibumu, akan tetapi kalau Endang Patibroto menghalangi cita-citamu, tantanglah
dia! Biar ibu sendiri kalau menghalangi cita-citamu, tak perlu ditaati, karena
engkau adalah seorang puteri yang paling sakti di dunia ini, bukan seorang
kanak-kanak yang harus menurut apa saja yang dikatakan ibumu!"
Di dalam sudut hatinya,
Retna Wilis tidak setuju kalau dia harus menentang ibunya, namun
sanjungan-sanjungan gurunya menghidupkan sebuah tekad di hatinya, yaitu bahwa
dia harus menguasai jagad sebagai seorang ratu yang tiada bandingnya! Kalau
ibunya menentang, hemm .... bagaimana nanti sajalah. Ia sudah mendengar dari
ibunya betapa ayahnya adalah Adipati Tejolaksono dan betapa ibunya terpaksa
meninggalkan ayahnya itu karena ibunya hanyalah seorang selir! Ibunya hidup
merana, mengasingkan diri di Wilis. Karena itu, ia akan mengangkat derajat
ibunya, akan membuka mata ayahnya yang bernama Adipati Tejolaksono itu bahwa
ibunya bukan seorang wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang menjadi
ibu Ratu Dunia! Ayahnya dan isteri ayahnya itu kelak akan ia taklukkan dan ia
paksa untuk bertekuk lutut di depan ibunya, untuk minta ampun! Dengan semangat
menyala-nyala dan wajah berseri penuh keyakinan bahwa semua cita-citanya pasti
akan berhasil, Retna Wilis melakukan perjalanan cepat ke utara. Akan tetapi
sebagai seorang yang bertahun-tahun hidup di pantai, kini di sepanjang memasuki
hutan-hutan dan melihat buah-buahan, Retna Wilis yang sesungguhnya hanyalah
seorang gadis remaja itu seringkali berhenti memetik buah-buah dan
kembang-kembang!
Ketika Retna Wilis sedang
duduk di bawah pohon dan dengan nikmatnya makan buah semangka yang dipetiknya
di jalan tadi, tiba-tiba ia mengerutkan keningnya dan menghentikan sebentar
gerakannya makan semangka. Akan tetapi ia segera melanjutkan menggerogoti
semangka yang merah dan manis itu, tidak peduli akan bayangan banyak orang yang
sedang memasuki hutan itu dan menuju ke tempat ia duduk. Rombongan orang itu
terdiri dari tiga puluh orang lebih laki-laki yang kasar dan memegang bermacam
senjata tajam. Mereka berjalan sambil berkelakar dengan suara kasar dan yang
mereka bicarakan adalah pengalaman-pengalaman mereka di sepanjang perjalanan
melarikan diri dari Jenggala, pengalaman membakar rumah penduduk, merampok dan
terutama sekali tentang wanita- wanita yang mereka perkosa.
"Ha-ha-ha, lebih senang
begini, kawan-kawan!"
Terdengar suara yang parau
dan paling kasar di antara yang lainnya.
"Dahulu yang
manis-manis dihabiskan oleh para pangeran sendiri, dan para perwira. Kini kita
bebas dan setiap menginginkan wanita tinggal ambil saja, ha-ha-ha!"
"Benar! Selama menjadi
prajurit di Jenggala aku tidak pernah mendapat kesempatan menikmati wanita
seperti malam tadi, ha-ha-ha!"
Mendengar ini, bangkit perhatian
Retna Wilis. Hemm, jadi mereka ini prajurit-prajurit Jenggala yang melarikan
diri! Dia membutuhkan anak buah dan mereka ini baik sekali dijadikan anak buah
ibunya di Wilis. Akan tetapi ia melanjutkan menghabiskan semangka di tangannya.
"Wahhhh ....peri
kahyangan....!!"
Seketika suara ribut-ribut
tadi berhenti dan tiga puluh orang laki-laki itu mengurung Retna Wilis dengan
mata terbelalak kagum dan mulut mengilar seperti macan-macan kelaparan melihat
seekor domba gemuk. Retna Wilis hanya melirik sebentar, terus menghabiskan
semangkanya. Kemudian sambil memegang kulit semangka ia berdiri dan kembali
terdengar seruan
"wah-wah-wah!"
saking kagum mereka. Setelah gadis itu berdiri, bukan hanya wajah cantik itu
yang mereka kagumi, melainkan juga bentuk tubuh yang ramping padat dan denok.
"Kalian ini
prajurit-prajurit pelarian dari Jenggala? Apakah mereka yang berkuasa di
Jenggala benar sudah hancur dan kalian kehilangan pekerjaan? Kalau kalian mau,
mulai saat ini boleh kalian menghambakan diri kepadaku dan kelak kalian akan
dapat menjadi prajurit-prajurit dari kerajaan terbesar di seluruh dunia!"
Sejenak tiga puluh orang
laki-laki kasar itu tercengang, kemudian saling pandang dan meledaklah suara
ketawa mereka. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, usianya
kurang lebih tiga puluh tahun, wajahnya tampan juga dan dia terkenal paling
jagoan di antara teman-temannya, juga paling ganas menghadapi wanita di
sepanjang jalan pelarian mereka yang mereka ganggu, melangkah maju dan
memandang Retna Wilis penuh perhatian, dengan sepasang mata berkilat penuh
nafsu dan mulut menyeringai.
"Eh-eh, engkau ini
perawan dari mana bicara begini besar?"
Retna Wilis tidak marah,
bahkan tersenyum.
"Aku adalah Perawan
Lembah Wilis, atau calon ratu yang akan menundukkan seluruh kerajaan di Nusa
Jawa, termasuk Jenggala dan Panjalu!"
Kembali mereka tertegun dan
kembali meledaklah suara ketawa mereka. Jagoan yang bertanya tadi lalu berkata,
"Waduh, denok. Apakah
otakmu miring? Sayang kalau miring, engkau begini cantik manis dan denok. Mari
kuobati penyakitmu, ditanggung engkau akan sembuh dari penyakit gilamu. Marilah
manis!" Setelah berkata demikian, laki-laki itu mengulur tangan kirinya ke
arah dada Retna Wilis sedangkan tangan kanannya hendak merangkul leher. Akan
tetapi Retna Wilis melangkah mundur, memandang dengan muka merah dan alisnya
mulai berkerut.
"Hemm, apakah kalian
ini sudah bosan hidup? Lekas berlutut minta ampun dan menyatakan takluk, atau
.... hemm, kubunuh kalian semua!"
"Aduh-aduh, hebat
sekali kesombonganmu, cah manis! Biarlah, aku memilih mati, mati dalam
pelukanmu, ha-ha- ha!" Jagoan itu mengejek lagi dan semua kawannya
tertawa-tawa.
"Kardi, lekas bereskan
dia, setelah engkau baru aku! Ah, sudah gemas aku ingin menggigit bibirnya yang
kenes itu!" Teriak seorang laki-laki yang berkumis tebal, sekepal sebelah
sambil mengelus kumisnya dan lidahnya menjilat-jilat bibir seperti orang yang
kehausan melihat semangka. Jagoan yang bernama Kardi itu tertawa, kini meloncat
ke depan menubruk Retna Wilis.
Gadis ini marah sekali,
marah yang timbul dari kekecewaan mengapa orang-orang ini tidak mau mentaati
perintahnya. Tangan kirinya yang memegang kulit semangka itu menyambar ke
depan.
"Pratttt!!!"
Kardi menjerit dan roboh bergulingan, mengaduh-aduh berusaha melepas kulit
semangka yang melekat di pipinya. Akan tetapi begitu ditarik, darahnya
menyemprot keluar dan ia menjerit-jerit kesakitan.
No comments:
Post a Comment