Perawan Lembah Wilis; Bagian 171


"Oohhh, kalian ini bukankah para prajurit Jenggala? Apakah benar kalian tidak mengenal aku ataukah sudah buta matamu? Aku adalah junjunganmu, selir kinasih (tersayang) sang prabu, Suminten."
Kembali dua puluh orang itu tertawa bergelak. Suminten? Baru pakaiannya saja pakaian sederhana, pakaian. wanita dusun, wanita petani, mengaku sebagai Suminten?
"Wah, jadi paduka ini Gusti Puteri Suminten? Kalau begitu kebetulan sekali, karena Gusti Puteri terkenal paling doyan pria-pria muda dan kuat. Kebetulan kami dua puluh orang adalah pria-pria yang kuat, ha-ha-ha!" Kembali mereka berebut maju, berlomba dulu untuk memeluk dan menggerayang tubuh yang padat itu.
Suminten menjerit-jerit, kemaki-maki, meronta-ronta, akan tetapi apakah dayanya menghadapi dua puluh orang laki-laki yang kasar? Akhirnya ia menjerit-jerit dan menangis, namun apapun yang dilakukan malah seakan-akan menambah gairah dua puluh orang pria yang memperkosanya berganti-ganti itu. Sampai malam tiba barulah mereka melepaskan Suminten yang menggeletak pingsan di pinggir hutan, meninggalkan perempuan ini sambil tertawa-tawa puas dan memuji-muji. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan untuk mengacau kampung-kampung, mencari rampasan-rampasan baru, mencari calon korban mereka, wanita-wanita baru.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Suminten merangkak sambil merintih-rintih, pakaiannya robek-robek, pakaian yang direnggutkan secara kasar oleh banyak tangan, yang terpaksa dipakainya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat, untuk menahan serangan hawa dingin pagi itu. Kemudian, setelah merangkak seperti seekor anjing sakit untuk beberapa lamanya, kadang-kadang jatuh dan menangis, akhirnya ia dapat bangkit berdiri, berjalan terhuyung-huyung. Tiba-tiba ia berhenti, menengadah dan tertawa kecicikan, kemudian menangis lagi, tertawa lagi. Menjelang tengah hari ia bertemu dengan dua orang pemburu di dalam hutan, dua orang pemburu yang lebih pantas disebut orang hutan daripada manusia, liar dan kasar karena lebih sering berada di hutan memburu binatang dari pada hidup di masyarakat ramai.
"Hi-hik, ke sinilah, wong bagus! Ke sinilah kalian berdua! Lihat, apakah tubuhku tidak denok dan montok? Apakah rambutku tidak hitam panjang dan halus? Wajahku cantik dan tubuhnya hangat! Ke sinilah kalian.... !”
Sejenak dua orang pria itu saling pandang, akan tetapi kemudian mereka terbelalak memandang ketika Suminten menanggalkan pakaiannya yang compang-camping, memperlihatkan tubuh yang benar-benar mempesonakan dua orang pemburu itu. Sungguh, selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan bentuk tubuh seindah ini! Dan wajah itu, biarpun agak kotor dan rambutnya kusut, namun harus mereka akui cantik manis dan rambutnya benar-benar hitam panjang dan berombak. Setankah wanita itu? Siluman yang menggoda mereka?
Peri? Andaikata mereka tidak berdua, tentu seorang diri saja mereka akan lari saking ngeri. Akan tetapi karena mereka berdua, mereka kini malah menghampiri dan begitu tangan mereka menyentuh lengan Suminten dan mendapat kenyataan bahwa si cantik itu benar-benar seorang manusia, keduanya lalu berebut untuk mendapatkan wanita menggairahkan ini lebih dulu! Suminten menyambut
mereka dengan pelukan mesra dan tertawa terkekeh-kekeh. Beberapa hari kemudian, setiap orang pria yang berjumpa dengan Suminten tentu lari dan dikejar-kejarnya sambil tertawa-tawa dan mengeluarkan kata-kata merayu, menawarkan tubuhnya. Akan tetapi setiap orang laki-laki yang melihatnya menjadi amat jijik dan melarikan diri. Siapa orangnya sudi berdekatan dengan seorang wanita yang kurus kotor, bermuka pucat dan jelas miring otaknya? Akhirnya, tidak sampai sebulan kemudian, orang mendapatkan tubuh Suminten yang telanjang bulat dan kurus kering menggetak mati di dekat sungai, agaknya kelaparan atau kedinginan. Suminten, bekas selir terkasih, bahkan bekas orang yang paling berkuasa di Jenggala, mati sebagai seorang pengemis gila yang tak dikenal orang, dan dikuburkan orang hanya karena orang lain tidak mau terganggu mayat membusuk, tidak ada yang berkabung untuknya, tidak ada yang menangisi kematiannya, bahkan tidak ada yang mengenal siapakah wanita terlantar yang mati itu. Sungguh akhir hidup yang menyedihkan. Inilah keadaan Suminten.

Retna Wilis berseru girang sekali ketika ia melihat bintang yang setiap malam dipandangnya itu melayang jatuh menjadi sinar yang panjang. Itulah tanda bagi dia untuk diperbolehkan meninggalkan pantai yang sunyi ini seperti yang dipesankan gurunya, Nini Bumigarba yang telah lenyap bersama Bhagawan Ekadenta di Laut Selatan. Setelah merasa yakin bahwa bintang yang dimaksudkan gurunya itu betul-betul telah runtuh dan tidak tampak lagi di angkasa, Retna Wilis lalu melangkah perlahan menuju tepi laut. Sampai lama ia memandang ke arah laut, seolah-olah ia hendak minta doa restu gurunya. Ia termenung seperti telah berubah menjadi arca dewi menjaga pantai dan baru sadar ketika ada benda berat menindih kakinya. Ia menunduk dan melihat seekor kura-kura besar di depan kakinya. Kiranya kura-kura yang pernah membantunya mengambil pedang pusaka Sapudenta itulah yang tadi mendekam di kakinya.
"Eh, Kukura yang baik, malam ini adalah malam terakhir aku berada di sini. Bawalah aku berjalan di sepanjang pantai, Kukura."
Retna Wilis lalu duduk di atas punggung kura-kura raksasa itu dan dengan mendorong-dorong leher binatang itu, ia dapat mengendarai binatang itu berjalan-jalan bersama Kukura menikmati angin laut dan pemandangan indah ombak-ombak laut ditimpa sinar bulan yang keemasan. Ketika matahari muncul kemerahan di permukaan laut sebelah timur, barulah Retna Wilis menyuruh pergi yang kembali ke laut, kemudian ia pun mandi sampai puas dan berganti pakaiannya yang serba hijau. Rambutnya yang hitam panjang ia gelung sebagian di atas kepala dan membiarkan sisa rambut itu terurai ke belakang. Pakaiannya ringkas dan ketat, pedangnya ia ikat di belakang punggung, wajahnya berseri dan segar ketika akhirnya gadis remaja ini meninggalkan pantai dan berjalan ke utara. Ia hanya ingat bahwa letak Gunung Wilis adalah di barat, dan bahwa untuk menuju ke Gunung Wilis ia harus meninggalkan pantai itu menuju ke utara, kemudian ia akan membelok ke barat.
Apakah ibunya masih berada di puncak Wilis? Apakah Padepokan Wilis masih berdiri dan ibunya masih menjadi pemimpin Padepokan Wilis? Dia teringat akan nasehat gurunya,
"Kelak engkau harus menjadi puteri yang menguasai seluruh jagad. Dengan demikian, tidak percuma engkau berpayah-payah belajar di sini dan tidak percuma menjadi murid Nini Bumigarba. Engkau pergilah ke Wilis, himpun kekuatan barisanmu dari Wilis dan kemudian taklukkan semua kerajaan sampai bertekuk di depan kakimu. Ajaklah ibumu, akan tetapi kalau Endang Patibroto menghalangi cita-citamu, tantanglah dia! Biar ibu sendiri kalau menghalangi cita-citamu, tak perlu ditaati, karena engkau adalah seorang puteri yang paling sakti di dunia ini, bukan seorang kanak-kanak yang harus menurut apa saja yang dikatakan ibumu!"
Di dalam sudut hatinya, Retna Wilis tidak setuju kalau dia harus menentang ibunya, namun sanjungan-sanjungan gurunya menghidupkan sebuah tekad di hatinya, yaitu bahwa dia harus menguasai jagad sebagai seorang ratu yang tiada bandingnya! Kalau ibunya menentang, hemm .... bagaimana nanti sajalah. Ia sudah mendengar dari ibunya betapa ayahnya adalah Adipati Tejolaksono dan betapa ibunya terpaksa meninggalkan ayahnya itu karena ibunya hanyalah seorang selir! Ibunya hidup merana, mengasingkan diri di Wilis. Karena itu, ia akan mengangkat derajat ibunya, akan membuka mata ayahnya yang bernama Adipati Tejolaksono itu bahwa ibunya bukan seorang wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang menjadi ibu Ratu Dunia! Ayahnya dan isteri ayahnya itu kelak akan ia taklukkan dan ia paksa untuk bertekuk lutut di depan ibunya, untuk minta ampun! Dengan semangat menyala-nyala dan wajah berseri penuh keyakinan bahwa semua cita-citanya pasti akan berhasil, Retna Wilis melakukan perjalanan cepat ke utara. Akan tetapi sebagai seorang yang bertahun-tahun hidup di pantai, kini di sepanjang memasuki hutan-hutan dan melihat buah-buahan, Retna Wilis yang sesungguhnya hanyalah seorang gadis remaja itu seringkali berhenti memetik buah-buah dan kembang-kembang!

Ketika Retna Wilis sedang duduk di bawah pohon dan dengan nikmatnya makan buah semangka yang dipetiknya di jalan tadi, tiba-tiba ia mengerutkan keningnya dan menghentikan sebentar gerakannya makan semangka. Akan tetapi ia segera melanjutkan menggerogoti semangka yang merah dan manis itu, tidak peduli akan bayangan banyak orang yang sedang memasuki hutan itu dan menuju ke tempat ia duduk. Rombongan orang itu terdiri dari tiga puluh orang lebih laki-laki yang kasar dan memegang bermacam senjata tajam. Mereka berjalan sambil berkelakar dengan suara kasar dan yang mereka bicarakan adalah pengalaman-pengalaman mereka di sepanjang perjalanan melarikan diri dari Jenggala, pengalaman membakar rumah penduduk, merampok dan terutama sekali tentang wanita- wanita yang mereka perkosa.
"Ha-ha-ha, lebih senang begini, kawan-kawan!"
Terdengar suara yang parau dan paling kasar di antara yang lainnya.
"Dahulu yang manis-manis dihabiskan oleh para pangeran sendiri, dan para perwira. Kini kita bebas dan setiap menginginkan wanita tinggal ambil saja, ha-ha-ha!"
"Benar! Selama menjadi prajurit di Jenggala aku tidak pernah mendapat kesempatan menikmati wanita seperti malam tadi, ha-ha-ha!"
Mendengar ini, bangkit perhatian Retna Wilis. Hemm, jadi mereka ini prajurit-prajurit Jenggala yang melarikan diri! Dia membutuhkan anak buah dan mereka ini baik sekali dijadikan anak buah ibunya di Wilis. Akan tetapi ia melanjutkan menghabiskan semangka di tangannya.
"Wahhhh ....peri kahyangan....!!"
Seketika suara ribut-ribut tadi berhenti dan tiga puluh orang laki-laki itu mengurung Retna Wilis dengan mata terbelalak kagum dan mulut mengilar seperti macan-macan kelaparan melihat seekor domba gemuk. Retna Wilis hanya melirik sebentar, terus menghabiskan semangkanya. Kemudian sambil memegang kulit semangka ia berdiri dan kembali terdengar seruan
"wah-wah-wah!" saking kagum mereka. Setelah gadis itu berdiri, bukan hanya wajah cantik itu yang mereka kagumi, melainkan juga bentuk tubuh yang ramping padat dan denok.
"Kalian ini prajurit-prajurit pelarian dari Jenggala? Apakah mereka yang berkuasa di Jenggala benar sudah hancur dan kalian kehilangan pekerjaan? Kalau kalian mau, mulai saat ini boleh kalian menghambakan diri kepadaku dan kelak kalian akan dapat menjadi prajurit-prajurit dari kerajaan terbesar di seluruh dunia!"
Sejenak tiga puluh orang laki-laki kasar itu tercengang, kemudian saling pandang dan meledaklah suara ketawa mereka. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, usianya kurang lebih tiga puluh tahun, wajahnya tampan juga dan dia terkenal paling jagoan di antara teman-temannya, juga paling ganas menghadapi wanita di sepanjang jalan pelarian mereka yang mereka ganggu, melangkah maju dan memandang Retna Wilis penuh perhatian, dengan sepasang mata berkilat penuh nafsu dan mulut menyeringai.
"Eh-eh, engkau ini perawan dari mana bicara begini besar?"
Retna Wilis tidak marah, bahkan tersenyum.
"Aku adalah Perawan Lembah Wilis, atau calon ratu yang akan menundukkan seluruh kerajaan di Nusa Jawa, termasuk Jenggala dan Panjalu!"
Kembali mereka tertegun dan kembali meledaklah suara ketawa mereka. Jagoan yang bertanya tadi lalu berkata,
"Waduh, denok. Apakah otakmu miring? Sayang kalau miring, engkau begini cantik manis dan denok. Mari kuobati penyakitmu, ditanggung engkau akan sembuh dari penyakit gilamu. Marilah manis!" Setelah berkata demikian, laki-laki itu mengulur tangan kirinya ke arah dada Retna Wilis sedangkan tangan kanannya hendak merangkul leher. Akan tetapi Retna Wilis melangkah mundur, memandang dengan muka merah dan alisnya mulai berkerut.
"Hemm, apakah kalian ini sudah bosan hidup? Lekas berlutut minta ampun dan menyatakan takluk, atau .... hemm, kubunuh kalian semua!"
"Aduh-aduh, hebat sekali kesombonganmu, cah manis! Biarlah, aku memilih mati, mati dalam pelukanmu, ha-ha- ha!" Jagoan itu mengejek lagi dan semua kawannya tertawa-tawa.
"Kardi, lekas bereskan dia, setelah engkau baru aku! Ah, sudah gemas aku ingin menggigit bibirnya yang kenes itu!" Teriak seorang laki-laki yang berkumis tebal, sekepal sebelah sambil mengelus kumisnya dan lidahnya menjilat-jilat bibir seperti orang yang kehausan melihat semangka. Jagoan yang bernama Kardi itu tertawa, kini meloncat ke depan menubruk Retna Wilis.

Gadis ini marah sekali, marah yang timbul dari kekecewaan mengapa orang-orang ini tidak mau mentaati perintahnya. Tangan kirinya yang memegang kulit semangka itu menyambar ke depan.
"Pratttt!!!" Kardi menjerit dan roboh bergulingan, mengaduh-aduh berusaha melepas kulit semangka yang melekat di pipinya. Akan tetapi begitu ditarik, darahnya menyemprot keluar dan ia menjerit-jerit kesakitan.

<<< Bagian 170                                                                                      Bagian 172 >>>

No comments:

Post a Comment