Perawan Lembah Wilis; Bagian 172


Ternyata kulit semangka itu telah menghancurkan kulit dan menempel pada tulang rahangnya menggantikan kulitnya sehingga kalau dibeset sama halnya dengan mengupas kulit mukanya. Saking nyerinya, Kardi roboh dan mengerang kesakitan. Sejenak kawannya laki-laki kasar itu terkejut dan tercengang. Akan tetapi kemarahan mereka bangkit dan dua orang, satu di antaranya adalah si jenggot tebal tadi, sudah menubruk maju dengan kedua tangan terpentang untuk menangkap perawan yang mereka anggap selain cantik manis denok juga sombong dan galak itu. Ingin mereka merobek-robek pakaian garis itu dan beramai-ramai melahapnya seperti sekumpulan serigala kelaparan melahap dan merobek-robek daging seekor domba muda.
"Plak-plak !!" Kembali tangan kiri Retna Wilis bergerak tanpa ia menggerakkan kedua kakinya yang masih terpentang dengan tubuh tegak. Karena sekali ini yang menyambut dada dan kepala kedua orang itu bukan kulit semangka melainkan jari tangannya, si kumis tebal roboh dengan tulang dada patah-patah sedangkan kawannya roboh dengan kepala pecah dan otaknya muncrat bersama darah. Keduanya tewas seketika dengan mata mendelik dan dalam keadaan yang mengerikan sekali.
"Hayoh, siapa lagi yang bosan hidup?" Retna Wilis membentak, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi, kedua tangannya bertolak pinggang dan ia berdiri tegak, sikapnya gagah dan garang sekali. Akan tetapi sekumpulan prajurit Jenggala itu adalah orang-orang kasar yang tidak dapat mengenal orang sakti. Melihat tiga orang kawan mereka roboh, mereka menjadi marah sekali. Kesempatan itu dipergunakan oleh empat orang anggota gerombolan yang berdiri terdekat di belakang Retna Wilis untuk menggerakkan golok mereka menyerbu dari belakang, membacokkan senjata mereka ke arah tubuh belakang dan kepala Retna Wilis.
"Syuuuutttt ..... plak-plak-plak-plakk!!" Tubuh Retna Wilis diputar membalik, kedua tangannya dengan jari terbuka menyambar empat kali. Empat batang golok lawan terbang disusul robohnya tubuh mereka yang tak mungkin dapat bangun kembali karena sekali tampar saja cukup bagi Retna Wilis untuk membuat kepala mereka retak dan dada mereka pecah! Robohnya empat orang ini seolah-olah merupakan tanda bagi semua laki-laki di situ untuk menerjang maju. Retna Wilis mengeluarkan seruan marah dan kecewa, akan tetapi ia tidak pernah menggeser kedua kakinya, hanya tubuh atasnya saja berputar ke sana ke mari dan kedua tangannya membagi-bagi tamparan maut. Tidak ada yang harus dipukul dua kali karena sekali tampar saja nyawa mereka dipaksa meninggalkan raga. Bagaikan sekumpulan laron menerjang api, para bekas prajurit Jenggala itu menyerbu untuk mati.

Setelah lebih dari setengah jumlah mereka roboh binasa, barulah sisanya seperti terbuka mata mereka, dan serta merta mereka menjatuhkan diri berlutut, melempar golok dan menyembah minta ampun. Retna Wilis berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat yang berserakan, wajahnya berseri, mulutnya tersenyum puas, kedua tangan di pinggang ia mengugguk-angguk.
"Bagus, baru kalian mengenal kesaktian Perawan Lembah Wilis, ya? Mulai sekarang, kalian menjadi anak buahku, calon anak buah Kerajaan Wilis dan kalian harus menyebut aku Gusti Puteri Retna Wilis. Sekarang kalian ikuti aku ke Gunung Wilis, tidak melakukan sesuatu tanpa ijinku. Siapa membantah?"
Tidak ada yang berani membantah, hanya ada seorang di antara mereka yang agak tua memandang mayat-mayat itu dan bertanya dengan suara gemetar.
“Maaf, Gusti Puteri. Bagaimana dengan mayat-mayat ini ....?”
"Bagaimana lagi? Tinggalkan saja. Mereka menjadi bagian binatang-binatang hutan. Hayo berangkat!"
Lima belas orang bekas prajurit Jenggala itu bangkit berdiri dan memandang junjungan baru itu dengan penuh kagum dan rasa takut. Tahulah mereka, bahwa wanita muda, gadis remaja ini dalah seorang yang selain sakti mandrauna, juga memiliki kekerasan hati yang menggiriskan. Retna Wilis dahulu seringkali mendapat nasehat-nasehat gurunya tentang memimpin anak buah. Maka kini pun, biar dia sendiri dapat menahan tidak makan minum sampai berhari-hari, dia memperhatikan keperluan anak buahnya dan membolehkan mereka itu mengambil hasil-hasil sawah di luar dusun-dusun untuk dimakan.
Akan tetapi ia sama sekali melarang mereka mengganggu pedusunan.
"Semua rakyat adalah calon rakyatku, mulai sekarang mereka harus diberi pengertian bahwa di Wilis terdapat Kerajaan Wilis yang jaya dan yang membutuhkan bantuan-bantuan rakyat sebagai pasukan-pasukan Wilis."
Dua hari kemudian, setelah mereka tiba di kaki Gunung Wilis, rombongan lima belas orang yang dipimpin Retna Wilis ini bertemu dengan prajurit pelarian lain dari Jenggala yang berjumlah lima puluhan orang, dikepalai oleh seorang bekas perwira yang ikut melarikan diri. Perwira ini bertubuh tinggi besar, dan sepasang matanya amat menakutkan, lebar dan agaknya tak pernah berkedip, melotot terus seperti mata orang yang selalu marah.
"Heh, kalian juga berkeliaran sampai di sini?" Laki-laki bermata lebar itu menegur bekas anak buahnya.
"Dan kalian mendapatkan seorang dara begini hebat? Berikan kepadaku dan kalian lebih baik menggabung dengan pasukanku, kami hendak menyerbu Wilis dan menduduki puncak itu untuk menjadi markas kita." Mata yang melotot itu memandang Retna Wilis penuh gairah.
"Eh ... ahh ... Kakang Barun ....jangan bicara begitu .... beliau ini adalah junjungan dan pemimpin kami... Gusti Puteri Retna Wilis. Lebih baik Andika semua menyerah dan menjadi anak buah Wilis, menyembah pemimpin kami yang sakti mandraguna ini ....”
"Huah-ha-ha-ha! Apakah kalian sudah gila semua? Aku menyembah dara ini? Heh-heh, minggirlah biar kutangkap dia dan menjadi kekasihku!" Barun sudah melangkah maju akan tetapi Retna Wilis membentak, "Berhenti!!" Bentakan dara ini mengandung wibawa mujijat sehingga Barun tersentak kaget, tidak dapat melangkah maju lagi. Akan tetapi dasar dia seorang yang telah menganggap diri sendiri amat digdaya, hanya sebentar ia terkejut dan tertawa lagi.
"Ha-ha, engkau sungguh denok akan tetapi galak. Aku senang akan dara yang penuh semangat sepertimu, manis. Namamu Retna Wilis? Aduh, terhadap aku jangan galak, bocah ayu."
"Barun dan semua anak buahmu, lekas kalian berlutut menyembah aku. Akulah calon ratu di Wilis dan calon ratu kerajaan besar yang menaklukkan seluruh kerajaan! Menyembahlah sebelum terlambat, karena sekali aku bergerak, engkau dan teman-temanmu yang melawanku akan mampus!" Sambil berkata demikian, ibu jari kaki Retna Wilis mencokel tanah dan segumpal tanah campur pasir melayang ke atas, disambarnya dengan tangan kanan. Akan tetapi Barun menoleh ke belakang, memandang kawan-kawannya dan tertawalah laki ini bergelak-gelak. Teman-temannya juga karena selama hidup mereka sekali ini melihat dan mendengar seorang gadis remaja mengeluarkan ancaman seperti itu.
"Huah-ha-ha-heh-heh, engkau sungguh lucu sekali! Hayo, kawan-kawan, kita maju dan melihat apa yang akan dilakukan dara jelita ini!" Sesungguhnya, biarpun hatinya tidak percaya dan tidak takut akan ancaman Retna Wilis, namun bertemu pandang dengan dara itu mendatangkan sesuatu yang menyeramkan hatinya, maka Barun mengajak teman-temannya maju bersama. Ada tujuh orang yang dengan penuh gairah meloncat maju mendampingi Barun, siap untuk menangkap dara yang cantik itu. Delapan orang itu lalu menghampiri Retna Wilis dengan muka menyeringai.
"Heh-heh-heh, hayo engkau akan dapat berbuat apa, bocah kewek?" Barun mengejek, hatinya besar karena ada tujuh orang yang pembantunya mendampinginya. Jarak antara delapan orang itu dengan Retna Wilis masih ada empat meter, dan Retna Wilis yang ingin mendapatkan anak buah sebanyaknya itu membentak lagi,
"Berlututlah sebelum terlambat!"

Namun, tentu saja delapan orang laki-laki tinggi besar itu tidak suka mentaati perintah ini dan mereka tetap melangkah maju. "Mampuslah kalau begitu!" Retna Wilis mengayun tangannya dan sinar hitam ke arah delapan orang itu. Itulah tanah pasir yang dicongkel ibu jari kakinya tadi dan biarpun hanya pasir dan tanah biasa, namun berada di tangan Retna Wilis berubahlah menjadi senjata yang amat dahsyat mengerikan karena dia mempergunakan Aji Pasir Sakti! Begitu sinar-sinar hitam itu menyambar, delapan orang itu menjerit-jerit dan roboh bergulingan, berkelojotan seperti cacing-cacing terkena abu papas karena muka mereka telah ditembusi pasir-pasir halus itu sampai masuk ke dalam otak! Sisa anak buah Barun terbelalak dan pucat sekali. Barulah mereka kini percaya bahwa gadis remaja ini amatlah sakti. Seketika kecut dan takutlah hati mereka dan cepat-cepat mereka menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah minta ampun. Retna Wilis tersenyum, senyum dingin yang menyeramkan, kemudian berkata,
"Akulah Gusti Puteri Retna Wilis, Perawan Lembah Wilis yang tidak suka dibantah. Siapa lagi yang sudah bosan hidup?"
Kini semua orang, termasuk lima belas orang pengikutnya tadi, berlutut semua dan tidak berani berkutik. Baru sekali ini selama hidup mereka, orang-orang kasar ini benar-benar kagum, tunduk dan takut, juga merasa bangga bahwa mereka dapat menghambakan diri kepada seorang yang sesakti ini. Dengan seorang pemimpin seperti dara ini, mereka percaya akan dapat menaklukkan seluruh kerajaan. Beramai-ramai mereka menyembah,
"Hamba sekalian taat akan segala perintah Gusti Puteri!" Demikian mereka berkata.
Dari tempat yang agak jauh, ada seorang laki-laki yang bersembunyi di atas pohon dan menyaksikan semua peristiwa ia memandang dengan rata terbelalak, dan melihat sepak terjang Retna Wilis ketika membunuh delapan orang itu, ia bergidik dan menggumam,
"Hebat.... hebat..... , selama hidupku baru sekali ini menyaksikan seorang dara remaja sehebat itu .... Ah, kiranya Endang Patibroto sendiri tidaklah sehebat itu kepandaiannya. Barun memiliki kesaktian lumayan, akan tetapi dengan tujuh orang kawannya terbunuh hanya oleh sambitan tanah pasir!" Laki-laki ini diam-diam menjadi kagum sekali dan juga jerih, padahal dia bukanlah seorang laki-laki biasa. Sama sekali bukan. Dia adalah seorang yang memiliki kedigdayaan, bahkan dapat disebut seorang yang sakti mandraguna karena dia ini bukan lain adalah bekas patih Jenggala, Ki Patih Warutama yang dahulu bernama Raden Sindupati!

"Ah, tidak salah. Tentu dia ini yang dahulu diambil murid Nini Bumigarba! Dan dia adalah puteri Endang Patibroto!" Sindupati menarik napas panjang. Dia tidak berani memperlihatkan diri karena biarpun gadis itu murid Nini Bumigarba, akan tetapi karena puteri Endang Ptibroto, dia tidak tahu bagaimana sikap gadis itu kalau melihatnya. Akan tetapi, apakah gadis itu tahu kalau dia musuh Endang Patibroto? Ia memperkosa Endang Patibroto dan ia tidak percaya bahwa Endang Patibroto mau menceritakan aib yang dideritanya itu kepada orang lain, kepada puterinya sekalipun! Betapapun juga, dia harus berhati-hati dan tidak berani memperlihatkan diri. Setelah Retna Wilis mengajak anak buahnya pergi mendaki Gunung Wilis, Sindupati hanya mengikuti mereka dari jarak yang jauh dan cukup aman. Pria yang cerdik ini segera mencari akal dan karena Retna Wilis yang membawa pasukan itu melakukan perjalanan lambat, ia mengerahkan kesaktiannya dan lari mendahului rombongan itu untuk mendaki puncak Wilis. Mudah saja bagi Sindupati untuk mencari keterangan dan betapa girang hatinya bahwa Endang Patibroto kini tidak berada lagi di Wilis. Tadinya ketika ia melihat munculnya Endang Patibroto di Kota Raja Jenggala, ia mengira wanita itu masih memimpin Pondok Wilis. Akan tetapi setelah menyelidiki di puncak Wilis, ia mendapatkan berita yang amat menggirangkan hatinya, yaitu bahwa Wilis telah lama ditinggalkan wanita yang ditakutinya itu dan kini bahkan telah dipimpin oleh seorang "raja" baru, yang telah menaklukkan ketiga orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembatu-pembantu utama Endang Patibroto, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis. Kepala atau "raja" baru ini adalah seorang manusia bertubuh raksasa yang bernama Ki Walangkoro, yang kabarnya amat digdaya dan ditakuti semua anak buah Wilis. Kalau dulu di bawah pimpinan Endang Patibroto di situ berdiri Padepokan Wilis dan para anak buahnya disebut satria-satria Wilis, kini keadaan mereka berubah sama sekali dan kembali mereka menjadi Gerombolan Wilis yang ditakuti penduduk di sekitar Gunung Wilis. Mendengar berita ini, Sindupati cepat membuat persiapan-persiapan. Ketika Retna Wilis dan lima puluh orang lebih anak buahnya mendaki sampai di lereng Wilis, tiba-tiba perjalanan mereka dihadang oleh seorang pria yang tampan dan gagah dan biarpun usianya sudah lima puluh tahun, namun masih tampan ganteng dan menarik. Baik bentuk rambutnya, tarikan mukanya, dan pakaiannya, semua tidak ada bekas-bekasnya bahwa pria ini adalah bekas patih di Jenggala! Kini Sindupati telah berubah menjadi seorang yang sikapnya seperti seorang pertapa, halus gerak-geriknya, tenang pandang matanya. Bahkan lima puluhan orang pengikut Retna Wilis itu tidak ada yang mengenalnya, ketika pria itu berdiri menghadang dengan sikap tenang. Melihat keadaan dan sikap pria ini, Retna Wilis yang dapat mengenal orang pandai, melarang anak buahnya turun tangan dan dia sendiri yang melangkah, maju paling depan, memandang pria itu penuh perhatian lalu berkata,
"Siapakah Andika dan ada keperluan apakah Andika menghadang perjalanan kami?"

<<< Bagian 171                                                                                       Bagian 173 >>>

No comments:

Post a Comment