Ternyata kulit semangka itu telah menghancurkan kulit dan menempel pada tulang rahangnya menggantikan kulitnya sehingga kalau dibeset sama halnya dengan mengupas kulit mukanya. Saking nyerinya, Kardi roboh dan mengerang kesakitan. Sejenak kawannya laki-laki kasar itu terkejut dan tercengang. Akan tetapi kemarahan mereka bangkit dan dua orang, satu di antaranya adalah si jenggot tebal tadi, sudah menubruk maju dengan kedua tangan terpentang untuk menangkap perawan yang mereka anggap selain cantik manis denok juga sombong dan galak itu. Ingin mereka merobek-robek pakaian garis itu dan beramai-ramai melahapnya seperti sekumpulan serigala kelaparan melahap dan merobek-robek daging seekor domba muda.
"Plak-plak !!"
Kembali tangan kiri Retna Wilis bergerak tanpa ia menggerakkan kedua kakinya
yang masih terpentang dengan tubuh tegak. Karena sekali ini yang menyambut dada
dan kepala kedua orang itu bukan kulit semangka melainkan jari tangannya, si
kumis tebal roboh dengan tulang dada patah-patah sedangkan kawannya roboh
dengan kepala pecah dan otaknya muncrat bersama darah. Keduanya tewas seketika
dengan mata mendelik dan dalam keadaan yang mengerikan sekali.
"Hayoh, siapa lagi yang
bosan hidup?" Retna Wilis membentak, sepasang matanya mengeluarkan sinar
berapi, kedua tangannya bertolak pinggang dan ia berdiri tegak, sikapnya gagah
dan garang sekali. Akan tetapi sekumpulan prajurit Jenggala itu adalah
orang-orang kasar yang tidak dapat mengenal orang sakti. Melihat tiga orang
kawan mereka roboh, mereka menjadi marah sekali. Kesempatan itu dipergunakan
oleh empat orang anggota gerombolan yang berdiri terdekat di belakang Retna
Wilis untuk menggerakkan golok mereka menyerbu dari belakang, membacokkan
senjata mereka ke arah tubuh belakang dan kepala Retna Wilis.
"Syuuuutttt .....
plak-plak-plak-plakk!!" Tubuh Retna Wilis diputar membalik, kedua
tangannya dengan jari terbuka menyambar empat kali. Empat batang golok lawan
terbang disusul robohnya tubuh mereka yang tak mungkin dapat bangun kembali
karena sekali tampar saja cukup bagi Retna Wilis untuk membuat kepala mereka
retak dan dada mereka pecah! Robohnya empat orang ini seolah-olah merupakan
tanda bagi semua laki-laki di situ untuk menerjang maju. Retna Wilis
mengeluarkan seruan marah dan kecewa, akan tetapi ia tidak pernah menggeser
kedua kakinya, hanya tubuh atasnya saja berputar ke sana ke mari dan kedua
tangannya membagi-bagi tamparan maut. Tidak ada yang harus dipukul dua kali
karena sekali tampar saja nyawa mereka dipaksa meninggalkan raga. Bagaikan
sekumpulan laron menerjang api, para bekas prajurit Jenggala itu menyerbu untuk
mati.
Setelah lebih dari setengah
jumlah mereka roboh binasa, barulah sisanya seperti terbuka mata mereka, dan
serta merta mereka menjatuhkan diri berlutut, melempar golok dan menyembah
minta ampun. Retna Wilis berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat yang
berserakan, wajahnya berseri, mulutnya tersenyum puas, kedua tangan di pinggang
ia mengugguk-angguk.
"Bagus, baru kalian
mengenal kesaktian Perawan Lembah Wilis, ya? Mulai sekarang, kalian menjadi
anak buahku, calon anak buah Kerajaan Wilis dan kalian harus menyebut aku Gusti
Puteri Retna Wilis. Sekarang kalian ikuti aku ke Gunung Wilis, tidak melakukan
sesuatu tanpa ijinku. Siapa membantah?"
Tidak ada yang berani
membantah, hanya ada seorang di antara mereka yang agak tua memandang
mayat-mayat itu dan bertanya dengan suara gemetar.
“Maaf, Gusti Puteri.
Bagaimana dengan mayat-mayat ini ....?”
"Bagaimana lagi?
Tinggalkan saja. Mereka menjadi bagian binatang-binatang hutan. Hayo
berangkat!"
Lima belas orang bekas
prajurit Jenggala itu bangkit berdiri dan memandang junjungan baru itu dengan
penuh kagum dan rasa takut. Tahulah mereka, bahwa wanita muda, gadis remaja ini
dalah seorang yang selain sakti mandrauna, juga memiliki kekerasan hati yang
menggiriskan. Retna Wilis dahulu seringkali mendapat nasehat-nasehat gurunya
tentang memimpin anak buah. Maka kini pun, biar dia sendiri dapat menahan tidak
makan minum sampai berhari-hari, dia memperhatikan keperluan anak buahnya dan
membolehkan mereka itu mengambil hasil-hasil sawah di luar dusun-dusun untuk
dimakan.
Akan tetapi ia sama sekali
melarang mereka mengganggu pedusunan.
"Semua rakyat adalah
calon rakyatku, mulai sekarang mereka harus diberi pengertian bahwa di Wilis
terdapat Kerajaan Wilis yang jaya dan yang membutuhkan bantuan-bantuan rakyat
sebagai pasukan-pasukan Wilis."
Dua hari kemudian, setelah
mereka tiba di kaki Gunung Wilis, rombongan lima belas orang yang dipimpin
Retna Wilis ini bertemu dengan prajurit pelarian lain dari Jenggala yang
berjumlah lima puluhan orang, dikepalai oleh seorang bekas perwira yang ikut
melarikan diri. Perwira ini bertubuh tinggi besar, dan sepasang matanya amat
menakutkan, lebar dan agaknya tak pernah berkedip, melotot terus seperti mata
orang yang selalu marah.
"Heh, kalian juga
berkeliaran sampai di sini?" Laki-laki bermata lebar itu menegur bekas
anak buahnya.
"Dan kalian mendapatkan
seorang dara begini hebat? Berikan kepadaku dan kalian lebih baik menggabung
dengan pasukanku, kami hendak menyerbu Wilis dan menduduki puncak itu untuk
menjadi markas kita." Mata yang melotot itu memandang Retna Wilis penuh
gairah.
"Eh ... ahh ... Kakang
Barun ....jangan bicara begitu .... beliau ini adalah junjungan dan pemimpin
kami... Gusti Puteri Retna Wilis. Lebih baik Andika semua menyerah dan menjadi
anak buah Wilis, menyembah pemimpin kami yang sakti mandraguna ini ....”
"Huah-ha-ha-ha! Apakah
kalian sudah gila semua? Aku menyembah dara ini? Heh-heh, minggirlah biar
kutangkap dia dan menjadi kekasihku!" Barun sudah melangkah maju akan
tetapi Retna Wilis membentak, "Berhenti!!" Bentakan dara ini
mengandung wibawa mujijat sehingga Barun tersentak kaget, tidak dapat melangkah
maju lagi. Akan tetapi dasar dia seorang yang telah menganggap diri sendiri
amat digdaya, hanya sebentar ia terkejut dan tertawa lagi.
"Ha-ha, engkau sungguh
denok akan tetapi galak. Aku senang akan dara yang penuh semangat sepertimu,
manis. Namamu Retna Wilis? Aduh, terhadap aku jangan galak, bocah ayu."
"Barun dan semua anak
buahmu, lekas kalian berlutut menyembah aku. Akulah calon ratu di Wilis dan
calon ratu kerajaan besar yang menaklukkan seluruh kerajaan! Menyembahlah
sebelum terlambat, karena sekali aku bergerak, engkau dan teman-temanmu yang
melawanku akan mampus!" Sambil berkata demikian, ibu jari kaki Retna Wilis
mencokel tanah dan segumpal tanah campur pasir melayang ke atas, disambarnya
dengan tangan kanan. Akan tetapi Barun menoleh ke belakang, memandang
kawan-kawannya dan tertawalah laki ini bergelak-gelak. Teman-temannya juga
karena selama hidup mereka sekali ini melihat dan mendengar seorang gadis
remaja mengeluarkan ancaman seperti itu.
"Huah-ha-ha-heh-heh,
engkau sungguh lucu sekali! Hayo, kawan-kawan, kita maju dan melihat apa yang
akan dilakukan dara jelita ini!" Sesungguhnya, biarpun hatinya tidak
percaya dan tidak takut akan ancaman Retna Wilis, namun bertemu pandang dengan
dara itu mendatangkan sesuatu yang menyeramkan hatinya, maka Barun mengajak
teman-temannya maju bersama. Ada tujuh orang yang dengan penuh gairah meloncat
maju mendampingi Barun, siap untuk menangkap dara yang cantik itu. Delapan
orang itu lalu menghampiri Retna Wilis dengan muka menyeringai.
"Heh-heh-heh, hayo
engkau akan dapat berbuat apa, bocah kewek?" Barun mengejek, hatinya besar
karena ada tujuh orang yang pembantunya mendampinginya. Jarak antara delapan
orang itu dengan Retna Wilis masih ada empat meter, dan Retna Wilis yang ingin
mendapatkan anak buah sebanyaknya itu membentak lagi,
"Berlututlah sebelum
terlambat!"
Namun, tentu saja delapan
orang laki-laki tinggi besar itu tidak suka mentaati perintah ini dan mereka
tetap melangkah maju. "Mampuslah kalau begitu!" Retna Wilis mengayun
tangannya dan sinar hitam ke arah delapan orang itu. Itulah tanah pasir yang
dicongkel ibu jari kakinya tadi dan biarpun hanya pasir dan tanah biasa, namun
berada di tangan Retna Wilis berubahlah menjadi senjata yang amat dahsyat
mengerikan karena dia mempergunakan Aji Pasir Sakti! Begitu sinar-sinar hitam
itu menyambar, delapan orang itu menjerit-jerit dan roboh bergulingan,
berkelojotan seperti cacing-cacing terkena abu papas karena muka mereka telah
ditembusi pasir-pasir halus itu sampai masuk ke dalam otak! Sisa anak buah
Barun terbelalak dan pucat sekali. Barulah mereka kini percaya bahwa gadis
remaja ini amatlah sakti. Seketika kecut dan takutlah hati mereka dan
cepat-cepat mereka menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah minta ampun.
Retna Wilis tersenyum, senyum dingin yang menyeramkan, kemudian berkata,
"Akulah Gusti Puteri Retna
Wilis, Perawan Lembah Wilis yang tidak suka dibantah. Siapa lagi yang sudah
bosan hidup?"
Kini semua orang, termasuk
lima belas orang pengikutnya tadi, berlutut semua dan tidak berani berkutik.
Baru sekali ini selama hidup mereka, orang-orang kasar ini benar-benar kagum,
tunduk dan takut, juga merasa bangga bahwa mereka dapat menghambakan diri
kepada seorang yang sesakti ini. Dengan seorang pemimpin seperti dara ini,
mereka percaya akan dapat menaklukkan seluruh kerajaan. Beramai-ramai mereka
menyembah,
"Hamba sekalian taat
akan segala perintah Gusti Puteri!" Demikian mereka berkata.
Dari tempat yang agak jauh,
ada seorang laki-laki yang bersembunyi di atas pohon dan menyaksikan semua
peristiwa ia memandang dengan rata terbelalak, dan melihat sepak terjang Retna
Wilis ketika membunuh delapan orang itu, ia bergidik dan menggumam,
"Hebat.... hebat..... ,
selama hidupku baru sekali ini menyaksikan seorang dara remaja sehebat itu ....
Ah, kiranya Endang Patibroto sendiri tidaklah sehebat itu kepandaiannya. Barun
memiliki kesaktian lumayan, akan tetapi dengan tujuh orang kawannya terbunuh
hanya oleh sambitan tanah pasir!" Laki-laki ini diam-diam menjadi kagum
sekali dan juga jerih, padahal dia bukanlah seorang laki-laki biasa. Sama
sekali bukan. Dia adalah seorang yang memiliki kedigdayaan, bahkan dapat
disebut seorang yang sakti mandraguna karena dia ini bukan lain adalah bekas
patih Jenggala, Ki Patih Warutama yang dahulu bernama Raden Sindupati!
"Ah, tidak salah. Tentu
dia ini yang dahulu diambil murid Nini Bumigarba! Dan dia adalah puteri Endang
Patibroto!" Sindupati menarik napas panjang. Dia tidak berani
memperlihatkan diri karena biarpun gadis itu murid Nini Bumigarba, akan tetapi
karena puteri Endang Ptibroto, dia tidak tahu bagaimana sikap gadis itu kalau
melihatnya. Akan tetapi, apakah gadis itu tahu kalau dia musuh Endang
Patibroto? Ia memperkosa Endang Patibroto dan ia tidak percaya bahwa Endang
Patibroto mau menceritakan aib yang dideritanya itu kepada orang lain, kepada
puterinya sekalipun! Betapapun juga, dia harus berhati-hati dan tidak berani
memperlihatkan diri. Setelah Retna Wilis mengajak anak buahnya pergi mendaki
Gunung Wilis, Sindupati hanya mengikuti mereka dari jarak yang jauh dan cukup
aman. Pria yang cerdik ini segera mencari akal dan karena Retna Wilis yang
membawa pasukan itu melakukan perjalanan lambat, ia mengerahkan kesaktiannya
dan lari mendahului rombongan itu untuk mendaki puncak Wilis. Mudah saja bagi
Sindupati untuk mencari keterangan dan betapa girang hatinya bahwa Endang Patibroto
kini tidak berada lagi di Wilis. Tadinya ketika ia melihat munculnya Endang
Patibroto di Kota Raja Jenggala, ia mengira wanita itu masih memimpin Pondok
Wilis. Akan tetapi setelah menyelidiki di puncak Wilis, ia mendapatkan berita
yang amat menggirangkan hatinya, yaitu bahwa Wilis telah lama ditinggalkan
wanita yang ditakutinya itu dan kini bahkan telah dipimpin oleh seorang
"raja" baru, yang telah menaklukkan ketiga orang tokoh Wilis yang
dulu menjadi pembatu-pembantu utama Endang Patibroto, yaitu Limanwilis,
Lembuwilis dan Nogowilis. Kepala atau "raja" baru ini adalah seorang
manusia bertubuh raksasa yang bernama Ki Walangkoro, yang kabarnya amat digdaya
dan ditakuti semua anak buah Wilis. Kalau dulu di bawah pimpinan Endang
Patibroto di situ berdiri Padepokan Wilis dan para anak buahnya disebut
satria-satria Wilis, kini keadaan mereka berubah sama sekali dan kembali mereka
menjadi Gerombolan Wilis yang ditakuti penduduk di sekitar Gunung Wilis.
Mendengar berita ini, Sindupati cepat membuat persiapan-persiapan. Ketika Retna
Wilis dan lima puluh orang lebih anak buahnya mendaki sampai di lereng Wilis,
tiba-tiba perjalanan mereka dihadang oleh seorang pria yang tampan dan gagah
dan biarpun usianya sudah lima puluh tahun, namun masih tampan ganteng dan menarik.
Baik bentuk rambutnya, tarikan mukanya, dan pakaiannya, semua tidak ada
bekas-bekasnya bahwa pria ini adalah bekas patih di Jenggala! Kini Sindupati
telah berubah menjadi seorang yang sikapnya seperti seorang pertapa, halus
gerak-geriknya, tenang pandang matanya. Bahkan lima puluhan orang pengikut
Retna Wilis itu tidak ada yang mengenalnya, ketika pria itu berdiri menghadang
dengan sikap tenang. Melihat keadaan dan sikap pria ini, Retna Wilis yang dapat
mengenal orang pandai, melarang anak buahnya turun tangan dan dia sendiri yang
melangkah, maju paling depan, memandang pria itu penuh perhatian lalu berkata,
"Siapakah Andika dan
ada keperluan apakah Andika menghadang perjalanan kami?"
No comments:
Post a Comment