Sindupati mengambil sikap seperti orang tercengang dan keheranan, lalu berkata, suaranya halus,
"Duhai puteri remaja
yang mempunyai wibawa dan sinar kesaktian, adakah andika yang memimpin
rombongan orang-orang gagah ini?"
Senang hati Retno Wilis
mendengar ucapan yang halus dan penuh hormat ini. ia memandang dengan penuh
perhatian, kemudian menjawab,
"Sungguh tepat ucapan
Paman yang awas paningal. Saya Puteri Retna Wilis yang memimpin pasukan ini,
hendak menghadap Ibunda Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis.
Siapakah andika, Paman?"
Mendengar ini Sindupati
cepat membungkuk dan menyembah dengan hormat.
"Duh Sang Puteri,
kiranya paduka adalah puteri ketua Padepokan Wilis! Pantas saja menyinarkan
cahaya cemerlang, cahaya kesaktian yang menakjubkan. Saya bernama Adiwijaya,
seorang pertapa biasa yang bertapa di Pagunungan Seribu. Telah beberapa pekan
saya datang ke Wilis dengan maksud mengunjungi Padepokan Wilis yang amat
terkenal, untuk menghaturkan sembah hormat kepada ketua Wilis yang sakti
mandraguna dan bijaksana, serta menawarkan bantuan tenaga saya yang tidak
seberapa ini untuk perikemanusiaan. Siapa kira, sampai di sini saya merasa
kecewa sekali karena tidak dapat berjumpa dengan ibunda yang mulia, bahkan menyaksikan
kenyataan yang amat tidak menyenangkan hati."
Retna Wilis mengerutkan
alisnya.
"Ah Paman Adiwijaya,
apakah yang terjadi? Ke manakah perginya ibuku dan Siapa kini yang berada di
puncak?"
"Saya mendengar bahwa
telah lama sekali ibunda meninggalkan Wilis dan semenjak itu, kekuasaan
Padepokan Wilis berada di tangan ketiga orang gagah Limanwilis dan dua orang
adiknya."
"Ah, ketiga paman Wilis
masih berada di puncak? Syukurlah!"
"Akan tetapi, Sang
Puteri, ternyata keadaan tidaklah begitu menyenangkan seperti yang paduka kira.
Kini puncak telah dikuasai oleh seorang ketua baru, dan Padepokan Wilis telah
berubah menjadi Gerombolan Wilis!"
"Apa? Siapa yang
berkuasa di sana?"
"Ketiga orang gagah
Wilis telah ditundukkan oleh seorang tokoh jahat yang bernama Ki Walangkoro,
seorang tokoh hitam yang kabarnya datang dari Madura."
"Apa? Si keparat!"
Retna Wilis menoleh ke belakang dan berkata kepada anak buahnya,
"Bersiaplah kalian
membuktikan kesetiaan kalian kepadaku! Kita serbu puncak Wilis!"
"Hamba siap, Gusti Puteri!"
Teriakan-teriakan ini terdengar dari mulut para bekas prajurit Jenggala
sehingga hati Sindupati yang kini berganti nama Adiwijaya menjadi makin kagum.
Puteri remaja ini benar-benar hebat, pikirnya. Tidak saja memiliki kesaktian
yang mengerikan, juga amat berwibawa.
"Saya pun siap membantu
paduka, Gusti Puteri," katanya hormat.
Berseri wajah Retna Wilis.
"Bagus, Paman
Adiwijaya. Aku girang sekali menerima bantuanmu, dan percayalah, engkau tidak
akan rugi menghambakan diri kepadaku. Kelak aku akan menaklukkan seluruh
kerajaan dan kalau andika memang benar setia dan berjasa, aku tidak akan
melupakan bantuan-bantuanmu."
"Hamba dapat melihat
seorang yang sakti dan pandai, Gusti Puteri, dan hamba akan mempertaruhkan jiwa
raga hamba untuk membela Paduka."
"Bagus! Hayo kita
mendaki terus!"
Sebagai jawaban ucapan Retna
Wilis yang penuh semangat ini terdengarlah sorak sorai lima puluh orang anak
buahnya itu dan tiba-tiba terdengar sorakan jawaban yang bergemuruh dari atas.
Retna Wilis mengangkat tangan mencegah anak buahnya bergerak maju dan sambil
bertolak pinggang dara perkasa ini memandang ke depan. Adiwijaya cepat
menghampiri Retna Wilis dan berdiri di sebelah kanannya, juga memandang ke
depan. Pasukan yang turun dari atas puncak itu jumlahnya seratus orang lebih,
dipimpin oleh seorang kakek tinggi besar seperti raksasa. Sangat besar dan
tinggi tubuh kakek ini sehingga tiga orang tokoh Wilis, yaitu Limanwilis dan
dua orang adiknya yang termasuk orang-orang tinggi besar kelihatan kecil, hanya
setinggi pundak kakek itu! Rombongan ini bersorak gembira ketika melihat ada
rombongan lain yang mereka anggap sebagai calon-calon korban yang tentu akan
dapat dipreteli pakaian dan senjatanya, apalagi melihat ada seorang gadis
remaja cantik sekali berada di antara mereka. Akan tetapi tiba-tiba mereka itu
berhenti ketika terdengar gadis remaja itu mengeluarkan suara yang amat nyaring
dan membuat jantung mereka bergetar,
"Hai para satria Wilis!
Beginikah kalian menyambut gusti puteri kalian? Paman Limanwilis, Lembuwilis dan
Nogowilis, apakah mata kalian sudah lamur sehingga tidak mengenal aku?"
Limanwilis dan kedua
adiknya, juga para bekas anak buah Endang Patibroto, memandang dengan mata
terbelalak. Anak tetapi anak buah-anak buah baru yang tadinya merupakan anak
buah Ki Walangkoro yang kini digabungkan dengan anak buah Wilis, tertawa
bergelak.
"Waduh, perawan remaja
yang genit dan galak!"
Adapun Ki Walangkoro yang
juga memiliki kesaktian dan bermata awas, dapat mengenal sinar kesaktian
memancar keluar dari wajah dara perkasa itu, menudingkan telunjuknya dan
berkata, suaranya seperti geluduk di musim hujan,
"Heh, babo-babo,
siapakah andika bocah kemarin sore yang bermulut besar?"
"Hemm, engkau tentu si
Walangkoro yang mengacau di Wilis! Mau tahu siapa aku? Akulah Perawan Lembah
Wilis, akulah Puteri Retna Wilis. Setelah ibuku Endang Patibroto meninggalkan
Wilis, andika lancang berani mengacau di sini, ya? Agaknya engkau sudah bosan
hidup, Walangkoro!"
Kini terdengar seruan-seruan
kaget dan heran dari mulut Limanwilis dan kedua orang adiknya, juga dari anak
buah Wilis. Mereka teringat dan memandang gadis itu dengan mata terbelalak.
Anak perempuan yang dulu lenyap diculik nenek mengerikan itu kini telah pulang
dan menjadi seorang dara remaja yang serupa benar dengan Endang Patibroto, sama
cantik jelita dan sama gagah, bahkan jauh lebih galak dan berwibawa! Akan
tetapi karena mereka itu sudah merasa menyeleweng dan menghamba kepada pemimpin
baru, dan karena kehidupan sebagai gerombolan lebih menyenangkan bagi mereka
daripada hidup sebagai anggota-anggota padepokan yang berdisiplin dan tidak
memungkinkan mereka mengumbar nafsu angkara murka, mereka diam saja dan hendak
melihat dulu bagaimana sikap pemimpin mereka yang baru dan yang sudah mereka
ketahui kesaktiannya itu.
"Babo-babo, si
keparat!" Ki Walangkoro memaki.
"Dahulu aku mencari
Endang Patibroto untuk kutundukkan dan kuangkat menjadi permaisuriku, akan
tetapi dia telah minggat. Kini muncul puterinya yang lebih jelita, lebih denok
dan lebih muda. Retna Wilis, eman-eman engkau bocah ayu kalau berani menentang
Ki Walangkoro! Lebih baik engkau menyerah, menjadi kekasihku, menjadi
permaisuriku, sehingga engkau tetap akan disembah-sembah seluruh anak buah di
Wilis. Menyerahlah, wong ayu!" Ki Walangkoro bukanlah seorang pria yang mata
keranjang, akan tetapi menyaksikan seorang dara yang begini denok dan jelita,
gairahnya timbul dan ia hampir tidak kuat menahan gelora nafsunya, ingin terus
memondong dara itu dan dibawa lari ke dalam kamarnya.
"Jahanam bermulut
kotor!" Tiba-tiba Adiwijaya meloncat maju, gerakannya trengginas dan
sikapnya masih tenang, namun matanya menyorotkan kemarahan. Sekali ini
Adiwijaya benar-benar marah, bukan pura-pura atau hendak mencari muka kepada
Retna Wilis. Entah bagaimana, begitu bertemu dengan dara ini, hatinya
benar-benar tunduk dan timbul rasa kagum, menyayang dan hormat, sehingga ia
tidak suka mendengar orang lain memaki dan menghina gadis itu. Ia lalu menoleh
kepada Retna Wilis dan berkata dengan halus,
"Gusti Puteri,
perkenankanlah hamba menghajar buto (raksasa) yang bermulut lancang dan kotor
ini!" Berseri wajah Retna Wilis.
"Paman Adiwijaya, dia
memiliki sedikit kepandaian, apakah andika mampu melawannya?"
"Gusti Puteri, untuk
memukul seekor anjing korengan mengapa harus menggunakan tongkat besar? Sayang
tangan Paduka yang akan menjadi kotor kalau menyentuh tubuhnya yang
menjijikkan. Hamba akan mencobanya dan hamba rela mati membela Paduka."
Retna Wilis tersenyum. Sikap
orang tua ini benar-benar menyenangkan hatinya.
"Jangan khawatir,
Paman. Aku tidak akan membiarkan kadal buduk ini mencelakakan seorang pembantu
sebaik Paman. Maju dan lawanlah!" Adiwijaya lalu membalikkan tubuhnya lagi
menghadapi Ki Walangkoro, dan dengan sikap tenang ia mencawatkan sarungnya ke
belakang dan mengikatkan ujungnya kuat-kuat di pinggang. Kemudian ia berkata
lantang,
"Ki Walangkoro! Wilis
adalah milik Gusti Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis, akan
tetapi engkau telah lancang merampasnya selagi ketuanya tidak ada. Kini Gusti
Puteri Retna Wilis telah pulang dan kalau memang engkau tahu diri, sebaiknya
engkau bertekuk lutut dan menakluk, bersama semua pengikutmu menghambakan diri
kepada Gusti Puteri. Kalau engkau merasa kuat, cobalah engkau melawan aku.
Adiwijaya siap menghadapimu membela kedaulatan Gusti Puteri Retna Wilis!"
Ki Walangkoro memandang
Adiwijaya dengan tertawa mengejek dan memandang rendah.
"Namamu Adiwijaya, heh?
Omonganmu sungguh menjemukan! Dilihat jumlahnya pengikut, pasukanku dua kali
lebih banyak daripada pengikut Retna Wilis! Dilihat pemimpinnya, aku jauh lebih
patut dan lebih gagah daripada engkau yang mengaku menjadi pembantunya.
Adiwijaya, kulihat engkau lumayan juga, memiliki kesaktian. Apakah tidak lebih
baik engkau menjadi pembantuku saja dan Retna Wilis menjadi isteriku? Dengan
demikian, keadaan kita menjadi lebih kuat!"
"Si bedebah!"
Teriakan ini keluar dari mulut Retna Wilis dan gadis ini saking marahnya sudah
mengipatkan lengan lengannya ke arah Ki Walangkoro, dan anehnya ....tubuh
raksasa yang tinggi besar itu terpelanting seolah-olah ditumbuk palu godam atau
diseruduk banteng. Padahal jarak antara dia dan gadis itu ada tiga meter dan
dia terpelanting roboh hanya oleh angin kipatan tangan dara perkasa itu!
Kembali Adiwijaya kagum dan ngeri. Dara itu benar-benar sakti mandraguna dan ia
bergidik memikirkan betapa ngerinya kalau harus bertanding melawan gadis yang
memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini! Akan tetapi Ki Walangkoro adalah
orang kasar. Dia hanya terbelalak dan merasa heran mengapa dadanya seperti
didorong angin badai yang dahsyat tadi. Dia tidak mau mengerti bahkan menjadi
marah karena malu. Dengan suara menggereng seperti harimau terluka ia menubruk
maju, maksudnya hendak mencengkeram Retna Wilis akan tetapi ia disambut oleh
pukulan tangan Adiwijaya ke arah dadanya.
"Desss !!" Ki
Walangkoro menangkis dan kedua lengan yang amat kuat bertemu, akibatnya tubuh
Adiwijaya terlempar ke belakang sedangkan Ki Walangkoro terhuyung saja.
"Huah-ha-ha-ha!
Adiwijaya, sedemikian saja kekuatanmu dan engkau berani menantang Ki Walangkoro?"
Raksasa itu terbahak dan anak buahnya juga tertawa-tawa girang karena dalam
gerakan pertama ini jelas tampak bahwa pemimpin mereka lebih besar tenaganya.
Namun Retna Wilis memandang
tenang dan diam-diam ia merasa kagum dan senang terhadap pembantunya ini. Dalam
pertemuan tenaga tadi, ia pun maklum bahwa dalam hal tenaga kasar, Ki
Walangkoro memang kuat, akan tetapi biarpun tubuh pembantunya mencelat ke
belakang, bukan sekali-kali karena terpental, melainkan karena sengaja
pembantunya itu menggunakan tenaga lawan untuk meloncat ke belakang sehingga
mematahkan daya pukulan lawan. Sebaliknya, Ki Walangkoro yang menerima pukulan
itu dengan tangkisan yang didasari tenaga kasar, biarpun kelihatannya hanya
terhuyung bahkan mengeluarkan ucapan mengejek, sebetulnya di dalam dada raksasa
ini terasa sesak dan perutnya mual.
"Tertawalah, Ki
Walangkoro. Akan tetapi aku belum kalah!" Adiwijaya menjawab dan tubuhnya
sudah berkelebat ke depan amat cepatnya, kemudian begitu kaki tangannya
bergerak, dia sudah mengirim pukulan bertubi-tubi dengan kedua tangan disusul
tendangan kakinya mengarah lambung.
"Eh-eh ........ !"
Ki Walangkoro mendengus, agak bingung menyaksikan lawannya bergerak begitu
cepat sehingga tubuh lawannya seolah-olah menjadi empat. Dia menggerakkan kedua
lengannya yang panjang dan kekar itu untuk menangkis, juga untuk balas
menyerang dengan cengkeraman dan pukulan. Akan tetapi ia kalah cepat dan ketika
ia terlambat menangkis, perutnya terkena tendangan Adiwijaya sehingga terdengar
suara "bukkk!" yang keras. Amat mengherankan ketika terlihat oleh
para penonton akibat tendangan ini karena tubuh Adiwijaya sendiri yang
terlempar ke belakang! Perut itu amat keras dan kuat, dan memang tubuh Ki
Walangkoro memiliki kekebalan yang mengagumkan.
"Ha-ha-ha! Mampuslah kau,
Adiwijaya!" Ki Walangkoro kini menubruk maju seperti seekor gajah
menggulingkan diri. Baru terhimpit tubuh raksasa itu saja sudah akan cukup
membuat tubuh Adiwijaya gepeng. Akan tetapi dengan cekatan sekali tubuh
Adiwijaya bergulingan dan Ki Walangkoro menubruk tanah sehingga debu mengebul
tebal.
"Desss!"
Sebelum Ki Walangkoro sempat mengelak ketika ia menerkam tanah tadi, Adiwijaya
yang bergulingan sudah cepat menghantam ke arah tubuh raksasa itu sambil
bergulingan.
No comments:
Post a Comment