Perawan Lembah Wilis; Bagian 173


Sindupati mengambil sikap seperti orang tercengang dan keheranan, lalu berkata, suaranya halus,
"Duhai puteri remaja yang mempunyai wibawa dan sinar kesaktian, adakah andika yang memimpin rombongan orang-orang gagah ini?"

Senang hati Retno Wilis mendengar ucapan yang halus dan penuh hormat ini. ia memandang dengan penuh perhatian, kemudian menjawab,
"Sungguh tepat ucapan Paman yang awas paningal. Saya Puteri Retna Wilis yang memimpin pasukan ini, hendak menghadap Ibunda Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis. Siapakah andika, Paman?"
Mendengar ini Sindupati cepat membungkuk dan menyembah dengan hormat.
"Duh Sang Puteri, kiranya paduka adalah puteri ketua Padepokan Wilis! Pantas saja menyinarkan cahaya cemerlang, cahaya kesaktian yang menakjubkan. Saya bernama Adiwijaya, seorang pertapa biasa yang bertapa di Pagunungan Seribu. Telah beberapa pekan saya datang ke Wilis dengan maksud mengunjungi Padepokan Wilis yang amat terkenal, untuk menghaturkan sembah hormat kepada ketua Wilis yang sakti mandraguna dan bijaksana, serta menawarkan bantuan tenaga saya yang tidak seberapa ini untuk perikemanusiaan. Siapa kira, sampai di sini saya merasa kecewa sekali karena tidak dapat berjumpa dengan ibunda yang mulia, bahkan menyaksikan kenyataan yang amat tidak menyenangkan hati."
Retna Wilis mengerutkan alisnya.
"Ah Paman Adiwijaya, apakah yang terjadi? Ke manakah perginya ibuku dan Siapa kini yang berada di puncak?"
"Saya mendengar bahwa telah lama sekali ibunda meninggalkan Wilis dan semenjak itu, kekuasaan Padepokan Wilis berada di tangan ketiga orang gagah Limanwilis dan dua orang adiknya."
"Ah, ketiga paman Wilis masih berada di puncak? Syukurlah!"
"Akan tetapi, Sang Puteri, ternyata keadaan tidaklah begitu menyenangkan seperti yang paduka kira. Kini puncak telah dikuasai oleh seorang ketua baru, dan Padepokan Wilis telah berubah menjadi Gerombolan Wilis!"
"Apa? Siapa yang berkuasa di sana?"
"Ketiga orang gagah Wilis telah ditundukkan oleh seorang tokoh jahat yang bernama Ki Walangkoro, seorang tokoh hitam yang kabarnya datang dari Madura."
"Apa? Si keparat!" Retna Wilis menoleh ke belakang dan berkata kepada anak buahnya,
"Bersiaplah kalian membuktikan kesetiaan kalian kepadaku! Kita serbu puncak Wilis!"
"Hamba siap, Gusti Puteri!" Teriakan-teriakan ini terdengar dari mulut para bekas prajurit Jenggala sehingga hati Sindupati yang kini berganti nama Adiwijaya menjadi makin kagum. Puteri remaja ini benar-benar hebat, pikirnya. Tidak saja memiliki kesaktian yang mengerikan, juga amat berwibawa.
"Saya pun siap membantu paduka, Gusti Puteri," katanya hormat.
Berseri wajah Retna Wilis.
"Bagus, Paman Adiwijaya. Aku girang sekali menerima bantuanmu, dan percayalah, engkau tidak akan rugi menghambakan diri kepadaku. Kelak aku akan menaklukkan seluruh kerajaan dan kalau andika memang benar setia dan berjasa, aku tidak akan melupakan bantuan-bantuanmu."
"Hamba dapat melihat seorang yang sakti dan pandai, Gusti Puteri, dan hamba akan mempertaruhkan jiwa raga hamba untuk membela Paduka."
"Bagus! Hayo kita mendaki terus!"

Sebagai jawaban ucapan Retna Wilis yang penuh semangat ini terdengarlah sorak sorai lima puluh orang anak buahnya itu dan tiba-tiba terdengar sorakan jawaban yang bergemuruh dari atas. Retna Wilis mengangkat tangan mencegah anak buahnya bergerak maju dan sambil bertolak pinggang dara perkasa ini memandang ke depan. Adiwijaya cepat menghampiri Retna Wilis dan berdiri di sebelah kanannya, juga memandang ke depan. Pasukan yang turun dari atas puncak itu jumlahnya seratus orang lebih, dipimpin oleh seorang kakek tinggi besar seperti raksasa. Sangat besar dan tinggi tubuh kakek ini sehingga tiga orang tokoh Wilis, yaitu Limanwilis dan dua orang adiknya yang termasuk orang-orang tinggi besar kelihatan kecil, hanya setinggi pundak kakek itu! Rombongan ini bersorak gembira ketika melihat ada rombongan lain yang mereka anggap sebagai calon-calon korban yang tentu akan dapat dipreteli pakaian dan senjatanya, apalagi melihat ada seorang gadis remaja cantik sekali berada di antara mereka. Akan tetapi tiba-tiba mereka itu berhenti ketika terdengar gadis remaja itu mengeluarkan suara yang amat nyaring dan membuat jantung mereka bergetar,
"Hai para satria Wilis! Beginikah kalian menyambut gusti puteri kalian? Paman Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, apakah mata kalian sudah lamur sehingga tidak mengenal aku?"
Limanwilis dan kedua adiknya, juga para bekas anak buah Endang Patibroto, memandang dengan mata terbelalak. Anak tetapi anak buah-anak buah baru yang tadinya merupakan anak buah Ki Walangkoro yang kini digabungkan dengan anak buah Wilis, tertawa bergelak.
"Waduh, perawan remaja yang genit dan galak!"
Adapun Ki Walangkoro yang juga memiliki kesaktian dan bermata awas, dapat mengenal sinar kesaktian memancar keluar dari wajah dara perkasa itu, menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya seperti geluduk di musim hujan,
"Heh, babo-babo, siapakah andika bocah kemarin sore yang bermulut besar?"
"Hemm, engkau tentu si Walangkoro yang mengacau di Wilis! Mau tahu siapa aku? Akulah Perawan Lembah Wilis, akulah Puteri Retna Wilis. Setelah ibuku Endang Patibroto meninggalkan Wilis, andika lancang berani mengacau di sini, ya? Agaknya engkau sudah bosan hidup, Walangkoro!"

Kini terdengar seruan-seruan kaget dan heran dari mulut Limanwilis dan kedua orang adiknya, juga dari anak buah Wilis. Mereka teringat dan memandang gadis itu dengan mata terbelalak. Anak perempuan yang dulu lenyap diculik nenek mengerikan itu kini telah pulang dan menjadi seorang dara remaja yang serupa benar dengan Endang Patibroto, sama cantik jelita dan sama gagah, bahkan jauh lebih galak dan berwibawa! Akan tetapi karena mereka itu sudah merasa menyeleweng dan menghamba kepada pemimpin baru, dan karena kehidupan sebagai gerombolan lebih menyenangkan bagi mereka daripada hidup sebagai anggota-anggota padepokan yang berdisiplin dan tidak memungkinkan mereka mengumbar nafsu angkara murka, mereka diam saja dan hendak melihat dulu bagaimana sikap pemimpin mereka yang baru dan yang sudah mereka ketahui kesaktiannya itu.
"Babo-babo, si keparat!" Ki Walangkoro memaki.
"Dahulu aku mencari Endang Patibroto untuk kutundukkan dan kuangkat menjadi permaisuriku, akan tetapi dia telah minggat. Kini muncul puterinya yang lebih jelita, lebih denok dan lebih muda. Retna Wilis, eman-eman engkau bocah ayu kalau berani menentang Ki Walangkoro! Lebih baik engkau menyerah, menjadi kekasihku, menjadi permaisuriku, sehingga engkau tetap akan disembah-sembah seluruh anak buah di Wilis. Menyerahlah, wong ayu!" Ki Walangkoro bukanlah seorang pria yang mata keranjang, akan tetapi menyaksikan seorang dara yang begini denok dan jelita, gairahnya timbul dan ia hampir tidak kuat menahan gelora nafsunya, ingin terus memondong dara itu dan dibawa lari ke dalam kamarnya.
"Jahanam bermulut kotor!" Tiba-tiba Adiwijaya meloncat maju, gerakannya trengginas dan sikapnya masih tenang, namun matanya menyorotkan kemarahan. Sekali ini Adiwijaya benar-benar marah, bukan pura-pura atau hendak mencari muka kepada Retna Wilis. Entah bagaimana, begitu bertemu dengan dara ini, hatinya benar-benar tunduk dan timbul rasa kagum, menyayang dan hormat, sehingga ia tidak suka mendengar orang lain memaki dan menghina gadis itu. Ia lalu menoleh kepada Retna Wilis dan berkata dengan halus,
"Gusti Puteri, perkenankanlah hamba menghajar buto (raksasa) yang bermulut lancang dan kotor ini!" Berseri wajah Retna Wilis.
"Paman Adiwijaya, dia memiliki sedikit kepandaian, apakah andika mampu melawannya?"
"Gusti Puteri, untuk memukul seekor anjing korengan mengapa harus menggunakan tongkat besar? Sayang tangan Paduka yang akan menjadi kotor kalau menyentuh tubuhnya yang menjijikkan. Hamba akan mencobanya dan hamba rela mati membela Paduka."

Retna Wilis tersenyum. Sikap orang tua ini benar-benar menyenangkan hatinya.
"Jangan khawatir, Paman. Aku tidak akan membiarkan kadal buduk ini mencelakakan seorang pembantu sebaik Paman. Maju dan lawanlah!" Adiwijaya lalu membalikkan tubuhnya lagi menghadapi Ki Walangkoro, dan dengan sikap tenang ia mencawatkan sarungnya ke belakang dan mengikatkan ujungnya kuat-kuat di pinggang. Kemudian ia berkata lantang,
"Ki Walangkoro! Wilis adalah milik Gusti Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis, akan tetapi engkau telah lancang merampasnya selagi ketuanya tidak ada. Kini Gusti Puteri Retna Wilis telah pulang dan kalau memang engkau tahu diri, sebaiknya engkau bertekuk lutut dan menakluk, bersama semua pengikutmu menghambakan diri kepada Gusti Puteri. Kalau engkau merasa kuat, cobalah engkau melawan aku. Adiwijaya siap menghadapimu membela kedaulatan Gusti Puteri Retna Wilis!"
Ki Walangkoro memandang Adiwijaya dengan tertawa mengejek dan memandang rendah.
"Namamu Adiwijaya, heh? Omonganmu sungguh menjemukan! Dilihat jumlahnya pengikut, pasukanku dua kali lebih banyak daripada pengikut Retna Wilis! Dilihat pemimpinnya, aku jauh lebih patut dan lebih gagah daripada engkau yang mengaku menjadi pembantunya. Adiwijaya, kulihat engkau lumayan juga, memiliki kesaktian. Apakah tidak lebih baik engkau menjadi pembantuku saja dan Retna Wilis menjadi isteriku? Dengan demikian, keadaan kita menjadi lebih kuat!"
"Si bedebah!" Teriakan ini keluar dari mulut Retna Wilis dan gadis ini saking marahnya sudah mengipatkan lengan lengannya ke arah Ki Walangkoro, dan anehnya ....tubuh raksasa yang tinggi besar itu terpelanting seolah-olah ditumbuk palu godam atau diseruduk banteng. Padahal jarak antara dia dan gadis itu ada tiga meter dan dia terpelanting roboh hanya oleh angin kipatan tangan dara perkasa itu! Kembali Adiwijaya kagum dan ngeri. Dara itu benar-benar sakti mandraguna dan ia bergidik memikirkan betapa ngerinya kalau harus bertanding melawan gadis yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini! Akan tetapi Ki Walangkoro adalah orang kasar. Dia hanya terbelalak dan merasa heran mengapa dadanya seperti didorong angin badai yang dahsyat tadi. Dia tidak mau mengerti bahkan menjadi marah karena malu. Dengan suara menggereng seperti harimau terluka ia menubruk maju, maksudnya hendak mencengkeram Retna Wilis akan tetapi ia disambut oleh pukulan tangan Adiwijaya ke arah dadanya.
"Desss !!" Ki Walangkoro menangkis dan kedua lengan yang amat kuat bertemu, akibatnya tubuh Adiwijaya terlempar ke belakang sedangkan Ki Walangkoro terhuyung saja.
"Huah-ha-ha-ha! Adiwijaya, sedemikian saja kekuatanmu dan engkau berani menantang Ki Walangkoro?" Raksasa itu terbahak dan anak buahnya juga tertawa-tawa girang karena dalam gerakan pertama ini jelas tampak bahwa pemimpin mereka lebih besar tenaganya.

Namun Retna Wilis memandang tenang dan diam-diam ia merasa kagum dan senang terhadap pembantunya ini. Dalam pertemuan tenaga tadi, ia pun maklum bahwa dalam hal tenaga kasar, Ki Walangkoro memang kuat, akan tetapi biarpun tubuh pembantunya mencelat ke belakang, bukan sekali-kali karena terpental, melainkan karena sengaja pembantunya itu menggunakan tenaga lawan untuk meloncat ke belakang sehingga mematahkan daya pukulan lawan. Sebaliknya, Ki Walangkoro yang menerima pukulan itu dengan tangkisan yang didasari tenaga kasar, biarpun kelihatannya hanya terhuyung bahkan mengeluarkan ucapan mengejek, sebetulnya di dalam dada raksasa ini terasa sesak dan perutnya mual.
"Tertawalah, Ki Walangkoro. Akan tetapi aku belum kalah!" Adiwijaya menjawab dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan amat cepatnya, kemudian begitu kaki tangannya bergerak, dia sudah mengirim pukulan bertubi-tubi dengan kedua tangan disusul tendangan kakinya mengarah lambung.
"Eh-eh ........ !" Ki Walangkoro mendengus, agak bingung menyaksikan lawannya bergerak begitu cepat sehingga tubuh lawannya seolah-olah menjadi empat. Dia menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan kekar itu untuk menangkis, juga untuk balas menyerang dengan cengkeraman dan pukulan. Akan tetapi ia kalah cepat dan ketika ia terlambat menangkis, perutnya terkena tendangan Adiwijaya sehingga terdengar suara "bukkk!" yang keras. Amat mengherankan ketika terlihat oleh para penonton akibat tendangan ini karena tubuh Adiwijaya sendiri yang terlempar ke belakang! Perut itu amat keras dan kuat, dan memang tubuh Ki Walangkoro memiliki kekebalan yang mengagumkan.
"Ha-ha-ha! Mampuslah kau, Adiwijaya!" Ki Walangkoro kini menubruk maju seperti seekor gajah menggulingkan diri. Baru terhimpit tubuh raksasa itu saja sudah akan cukup membuat tubuh Adiwijaya gepeng. Akan tetapi dengan cekatan sekali tubuh Adiwijaya bergulingan dan Ki Walangkoro menubruk tanah sehingga debu mengebul tebal.
"Desss!" Sebelum Ki Walangkoro sempat mengelak ketika ia menerkam tanah tadi, Adiwijaya yang bergulingan sudah cepat menghantam ke arah tubuh raksasa itu sambil bergulingan.

<<< Bagian 172                                                                                      Bagian 174 >>>

No comments:

Post a Comment