Gerakan ini tidak tersangka-sangka, bahkan Retna Wilis sendiri memandang kagum. Baru sekali ini ia melihat gaya yang sedemikian anehnya dalam pertempuran, mengelak sambil bergulingan akan tetapi dalam bergulung-gulung ini dapat menyerang lawan. Ternyata cara bergulingan itu bukan sembarang mengelak, melainkan bergulingan dengan teratur, seperti langkah-langkah yang diperhitungkan. Retna Wilis tidak tahu bahwa itulah Aji Trenggilingwesi yang memang menjadi keahlian Adiwijaya atau Raden Sindupati. Seperti pernah diceritakan dahulu, Adiwijaya ini dahulunya seorang perwira Jenggala yang sebetulnya sudah mendapat kepercayaan sang prabu dan menjadi pengawal istana. Ketika ia berani mengganggu seorang puteri, maka ia melarikan diri ke Balidwipa dan di sana dalam perantauannya, dia mempelajari bermacam ilmu kepandaian sehingga ia menjadi seorang sakti. Setelah memiliki kepandaian, dia menghambakan diri kepada Adipati Blambangan yang kemudian hancur oleh serbuan bala tentara gabungan dari Jenggala dan Panalu, yang dipimpin oleh Endang Patibroto dan Pangeran Darmokusumo. Kembali Raden Sindupati menjadi seorang kelana dan setelah berganti nama menjadi Warutama ia berhasil menduduki pangkat patih di Jenggala, menjadi sekutu Suminten dan Pangeran Kukutan. Kini, kembali dia berganti nama Adiwijaya, mukanya telah berubah, jenggotnya yang rapi dan gemuk menutupi luka di dagu, kumisnya pendek, sikapnya berubah sama sekali dan memang Raden Sindupati memiliki kepandaian menyamar. Kalau perlu, dia dapat menyamar sebagai seorang wanita! Kepandaian seperti ini pada waktu itu disebut aji mencala-putera-mencala-puteri.
Pukulan Adiwijaya yang
mengenai tengkuk Ki Walangkoro amat hebatnya. Biarpun raksasa ini terkenal
kebal dan kuat, namun pukulan yang datangnya tak tersangka-sangka dan disertai
tenaga sakti yang kuat, juga mengenai tengkuknya, membuat ia terjungkal dan
beberapa lamanya dunia ini seperti diombang-ambingkan ombak besar baginya dan
di siang hari itu turun hujan bintang! Ki Walangkoro bangkit dan
menggoyang-goyang kepalanya yang besar, seperti seekor harimau menggoyang
badannya yang basah, kemudian matanya menjadi merah saking marahnya ketika ia
memandang Adiwijaya yang berdiri tenang di depannya sambil bertolak pinggang.
Ia menggereng, kemudian menerjang maju seperti badai mengamuk. Kedua lengannya
yang panjang menyambar
dan sebelum Adiwijaya sempat
mengelak, ia sudah kena ditangkap pinggangnya, diangkat dan dibanting.
"Brukkkk ......!!”
Tubuh Adiwijaya dibanting, debu mengebul dan Adiwijaya hanya gelayaran
(terhuyung) saja karena ketika dibanting dia telah dapat menggunakan
kegesitannya sehingga dapat meloncat lagi ke atas.
"Engkau kuat sekali,
Walangkoro!" kata Adiwijaya dan pada saat Walangkoro menubruk lagi, dia
sudah melesat ke samping, menyambar lengan raksasa itu dari kanan dan memutar
lengan, terus mengangkat dan membanting.
"Bresss ....!!” Debu
mengebul lebih tebal dan tubuh raksasa yang terbanting itu sejenak tak dapat
bergerak. Kepala Ki Walangkoro pening dan setengah merangkak, baru ia dapat
bangun kembali. Keheranan mulai terbayang di sepasang matanya yang lebar. Tanpa
menjawab ia lalu maju memukul Adiwijaya yang hendak memperlihatkan
kedigdayaannya kepada Retna Wilis, sengaja mengerahkan tenaga dalam dan
menerima pukulan lawan. Dadanya terpukul, tubuhnya bergoyang dan kakinya mundur
dua langkah, akan tetapi mulutnya tetap tersenyum. Kemudian ia balas memukul
dan sekali ini agaknya Ki Walangkoro juga ingin memamerkan kekebalannya. Ketika
kepalan tangan Adiwijaya mengenai dadanya, tubuhnya hanya bergoyang, ia tidak
melangkah mundur, akan tetapi napasnya menjadi sesak dan tanpa dapat ditahannya
lagi ia menggunakan kedua tangan menekan-nekan dadanya!
Para anak buah kedua pihak
bersorak-sorak menyaksikan pertandingan hebat ini. Dan bagaikan dua ekor ayam
jantan, dua orang perkasa ini lalu saling menerjang lagi, lebih dahsyat
daripada tadi. Mereka saling pukul, saling tendang, bergumul, piting-memiting,
banting-membanting sehingga debu mengebul tinggi. Diam-diam Retna Wilis yang
memperhatikan jalannya pertandingan, menjadi girang dan kagum. Dia maklum bahwa
keduanya dapat menjadi pembantu-pembantunya yang cakap, maka dia tidak ingin
melihat seorang di antara mereka tewas. Ketika melihat betapa makin lama Ki
Walangkoro makin terdesak, makin sering menerima pukulan dan sudah terhuyung,
ia mengerti bahwa kalau dilanjutkan, raksasa yang amat berani dan pantang
mundur itu tentu akan tewas.
"Cukuplah Paman
Adiwijaya!" Ia berseru. Mendengar ini, Adiwijaya yang sudah hampir menang
itu cepat meloncat ke belakang. Ia pun seorang cerdik, maklum bahwa
junjungannya yang baru ini ingin menarik raksasa itu sebagai pembantu. Ia pun
maklum bahwa dalam menyusun kekuatan, makin banyak pembantu yang digdaya makin
baik, maka ia mundur sambil tersenyum dan berkata kepada Ki Walangkoro,
"Walangkoro, andika
mengagumkan sekali! Andika seorang yang digdaya!"
Ki Walangkoro berdiri dengan
napas terengah-engah dan tubuhnya yang besar dan kokoh seperti batang pohon
beringin itu penuh keringat. Ia pun memandang kagum kepada Adiwijaya. Biarpun
dia seorang yang kasar, namun dia tidak bodoh dan dia mengenal orang pandai,
harus mengaku bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, dia tidak akan kuat
bertahan lagi. Adiwijaya terlampau kuat baginya. Pukulan Adiwijaya tidak
terlalu keras, akan tetapi mengandung tenaga mujijat yang seakan-akan
menggetarkan isi dadanya. Selain itu, juga Adiwijaya memiliki kecepatan gerakan
yang sukar ia lawan sehingga dalam pertandingan itu, dia lebih banyak menerima
pukulan daripada memukul.
"Heemmm ....harus
kuakui bahwa andika amat digdaya. Kalau andika yang hendak merampas kedudukan
di Wilis, aku suka mengalah dan suka menjadi pembantu andika karena jelas bahwa
aku akan kalah kalau pertandingan dilanjutkan. Akan tetapi kalau dia ini
...hemmm, bagaimana seorang laki-laki perkasa macam kita ini harus menghambakan
diri kepada seorang wanita yang masih bocah?"
"Ha-ha, Walangkoro,
sungguh percuma saja menganggap dirimu digdaya dan berpengalaman kalau matamu
masih begitu buta tidak dapat melihat seorang sakti mandraguna," kata
Adiwijaya sambil tertawa.
Melihat kepala gerombolan
Wilis itu agaknya belum mau tunduk kepadanya, Retna Wilis lalu melangkah maju
dan berkata,
"Paman Walangkoro,
kalau dalam segebrakan saja aku dapat merobohkan engkau, apakah engkau masih belum
percaya akan kesaktianku?"
"Apa? Andika akan
merobohkan aku dalam segebrakan saja? Wahai, puteri muda belia yang suaranya
nyaring melebihi halilintar, yang bicaranya tinggi mengatasi puncak Wilis!
Kalau betul demikian, aku Ki Walangkoro akan menyembah telapak kaki
andika!" kata Ki Walangkoro sambil menyeringai, tidak percaya akan ada
orang yang sanggup merobohkannya dalam segebrakan saja, apalagi
seorang wanita setengah
dewasa seperti Retna Wilis. Retna Wilis tersenyum, akan tetapi senyumnya hanya
sedetik, cemerlang seperti menyambarnya kilat di angkasa.
"Kalau begitu, mari
kita coba, Paman Walangkoro. Seranglah aku!"
Walangkoro dapat mengerti
bahwa kalau tidak memiliki kesaktian yang hebat, tidak nanti dara remaja ini
berani menantang seperti itu. Dia tahu bahwa dara ini tentu digdaya sekali dan
agaknya dia tidak akan dapat menang, buktinya Adiwijaya yang demikian sakti pun
menjadi hambanya. Akan tetapi, kini dia tidak mengharapkan menang, melainkan
hendak mempertahankan diri agar tidak sampai roboh dalam segebrakan. Betapapun
juga, dia tetap penasaran tidak dapat percaya bahwa dara ini betapapun
saktinya, akan mampu merobohkannya dalam segebrakan. Maka ia lalu mengerahkan
seluruh tenaganya, memusatkan perhatiannya dan bersiap menjaga diri sekokoh mungkin
dengan memasang aji kekebalannya di seluruh tubuh sambil menjaga bagian tubuh
yang tak dapat ia tembusi dengan aji kekebalan.
"Jaga serangan!!"
ia berseru keras untuk mengguncang ketenangan lawan, tubuhnya yang tinggi besar
menerjang ke depan seperti serudukan seeker banteng. Terjangan ini kuat dan
cepat, lengan kanan yang panjang dipergunakan untuk mendorong atau memukul ke
arah perut Retna Wilis, sedang lengan kiri tetap menjaga depan tubuh sendiri,
kedua kaki kokoh kuat menjaga segala kemungkinan. Pendeknya, dalam penyerangan
ini, Walangkoro hanya mempergunakan setengah bagian tenaga dan perhatiannya
untuk menyerang karena yang setengahnya lagi ia pergunakan untuk menjaga diri
agar jangan sampai kena dirobohkan lawan dalam segebrakan. Retna Wilis memandang
lagak lawan dan mulutnya mengembangkan senyum tipis, ia tetap tenang menghadapi
terjangan lawannya sambil mengukur jarak. Setelah tubuh lawan yang menerjangnya
cukup dekat, hanya satu meter lagi di depannya, dara perkasa ini menggerakkan
tangan kirinya seperti orang menampar dari kiri. Akan tetapi gerakan ini
bukanlah tamparan biasa saja karena dara ini telah mengerahkan hawa sakti dari
tubuhnya, menyalurkan tenaga mujijat ke dalam tangan yang menampar dengan Aji
Pancaroba. Kekuatan yang terkandung dalam aji ini seperti taufan mengamuk dan
memang daya pukulan jarak jauh ini seperti hembusan angin taufan yang dahsyat
sekali. Ketika kena disambar angin pukulan Pancaroba, seketika tubuh raksasa
itu terpelanting, tak kuasa lagi kedua kakinya menahan tubuhnya dan ia roboh
bergulingan!
Terdengar Adiwijaya tertawa
bergelak dan diam-diam ia memuji diri sendiri yang berpemandangan awas, sudah
percaya dan yakin akan kesaktian luar biasa dari dara ini, tidak seperti
Walangkoro yang hendak mengujinya. Diam-diam Adiwijaya selain merasa kagum juga
ngeri menyaksikan betapa seorang dara semuda itu telah memiliki kesaktian
sehebat itu!
Akan tetapi Walangkoro
adalah seorang yang bodoh dan kasar. Dia merasa terlalu aneh dapat dirobohkan
benar-benar oleh gadis itu dalam segebrakan saja dan hal ini membuatnya
penasaran sekali ia meloncat bangun dengan mata merah saking marah dan
penasaran.
"Wahai puteri yang
sakti mandraguna! Andika menggunakan aji setan!"
"Hemm, bagaimanakah
kehendakmu, Paman Walangkoro?"
"Coba andika merobohkan
aku dengan tenaga, dengan tebalnya kulit dan kerasnya tulang!"
"Andika keras kepala!
Majulah!" Retna Wilis menantang.
Walangkoro mendengus dan
meloncat ke depan, kini ia menggunakan kedua lengannya yang sebesar kaki
manusia biasa itu untuk memukul sambil mengerahkan tenaganya. Retna Wilis
menyambut dengan tenang, mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari terbalik
menangkis kedua pukulan tangan lawan itu, tangannya yang miring menebas ke arah
kedua lengan lawan yang besar dan kuat.
"Wuut-wuut .....krek-krekkk!"
Walangkoro menggereng
kesakitan dan terhuyung ke belakang, kedua lengannya tergantung di kanan kiri
dengan tulang patah, ia terbelalak, tidak merintih, memandang kepada Retna
Wilis dengan mata terbelalak penuh keheranan, kekagetan, dan kekaguman yang
mendalam. Kemudian, kedua kakinya bertekuk lutut dan ia menggerakkan kedua
lengannya yang sudah patah tulangnya, berusaha menyembah kaku karena lengannya
seperti lumpuh, mulutnya berkata,
"Hamba Walangkoro
menghaturkan sembah kepada Gusti Puteri Retna Wilis yang mulai, saat ini
menjadi junjungan dan sesembahan hamba."
Retna Wilis tersenyum girang
melihat Walangkoro yang berlutut menyembahnya, di belakang raksasa ini semua
anak buah gerombolan Wilis juga berlutut dan menyembah dengan muka membayangkan
rasa takut.
"Baiklah, Paman
Walangkoro. Aku menerima engkau dan semua anak buahmu menjadi pasukanku. Engkau
membantu Paman Adiwijaya, adapun para Paman Wilis ketiganya menjadi
pembantu-pembantumu. Sekarang mari kita naik ke puncak."
Berangkatlah mereka semua
mendaki puncak Wilis setelah Walangkoro dibantu oleh Adiwijaya membalut kedua
lengannya yang patah tulangnya dan oleh Adiwijaya diberi obat daun-daun yang
mempunyai khasiat mempercepat penyambungan tulang patah. Mulai hari itu, Retna
Wilis menjadi pemimpin pasukan yang jumlahnya hampir dua ratus orang terdiri
dari bekas-bekas anak buah pasukan Jenggala dan anak buah Padepokan Wilis yang
ditambah anak buah gerombolan Wilis. Akan tetapi Retna Wilis tidak
mempergunakan nama padepokan, apalagi gerombolan, dia kini mendirikan sebuah
"kerajaan" kecil, yang disebut Kerajaan Wilis. Adapun Retna Wilis
sendiri menjadi ratunya yang oleh para anak buahnya disebut Gusti Puteri Retna
Wilis. Mulailah dara remaja yang amat luar biasa ini menghimpun kekuatan dan mulailah
ia memimpin sendiri anak buahnya untuk menaklukkan seluruh daerah yang termasuk
wilayah.
Banyak sekali gerombolan
perampok ia taklukkan dan dijadikan anak buahnya, bahkan dusun-dusun di kaki
Wilis mulai ia serbu, yang menentang dibunuh, yang takluk dijadikan anak
buahnya sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, "kerajaan" Wilis
memiliki pasukan yang besar jumlahnya, ribuan orang, dan di lereng-lereng Wilis
kini dibangun dusun-dusun baru yang dijadikan tempat tinggal para anak buahnya
beserta keluarga mereka.
Retna Wilis
sendiri hanya memiliki kesaktian yang luar biasa. Tentu saja dalam hal memimpin
orang sedemikian banyaknya sebagai seorang ratu, ia tidak mempunyai pengalaman
sama sekali. Tidaklah mudah memimpin orang-orang yang terdiri dari pelbagai
macam golongan itu, bahkan amat sukar menundukkan orang-orang yang tadinya
adalah gerombolan perampok yang ganas.
No comments:
Post a Comment