Akan tetapi, dengan bantuan Adiwijaya yang berpengalaman sebagai Patih Jenggala, dan Walangkoro yang sudah biasa memimpin gerombolan perampok, Kerajaan Wilis ini dapat berjalan dengan maju pesat. Bukan saja dapat mempergunakan tenaga para rakyatnya, juga dapat mendatangkan kesejahteraan. Sudah terlalu lama rakyat tertindas oleh pembesar-pembesar lalim, apalagi ketika Jenggala mengalami kesuraman, dan banyak terjadi perang selama beberapa tahun ini. Kini mereka menyaksikan kemajuan Kerajaan Wilis, timbul harapan mereka untuk dapat hidup baik dan makin banyaklah rakyat dari daerah-daerah yang agak jauh berdatangan untuk mencari perlindungan di bawah pimpinan gusti puteri yang dikabarkan sebagai penjelmaan seorang Dewi yang turun dari kahyangan dan, yang bertugas mendatangkan kebahagian, bagi kehidupan mereka yang tertindas!
Dalam waktu beberapa bulan
saja nama Kerajaan Wilis yang dipimpin oleh puteri sakti mandraguna itu menjadi
terkenal sampai jauh dari Wilis. Daerah yang jauh di sekeliling Wilis menjadi
geger dan gempar karena munculnya puteri jelita dengan pasukannya yang tidak
berapa besar itu memang hebat sekali, setiap kali keluar pasti menaklukkan
musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari kabar tentang kesaktian yang luar
biasa dari Puteri Retna Wilis ditambahi bumbu-bumbu yang berlebihan mengagetkan
semua orang yang mendengarnya.
Di antara daerah yang agak
jauh, hanya daerah Ponorogo yang masih belum takluk kepada Kerajaan Wilis.
Daerah-daerah lain, yang lebih jauh sekali pun dari Ponorogo, banyak yang
takluk tanpa diperangi. Akan tetapi Ponorogo lain lagi. Daerah ini memang
merupakan daerah yang kuat dan yang sejak dahulu juga tidak tunduk kepada
Kerajaan Mataram lama. Hal ini adalah karena Ponorogo mempunyai banyak orang
sakti dan kerajaan-kerajaan besar menganggap lebih aman untuk menarik Ponorogo
sebagai kerajaan sahabat daripada sebagal musuh atau taklukan. Andaikata
ditaklukkan sekali pun, sifat tokoh-tokohnya yang selalu tidak mau ditundukkan
akan mengadakan pemberontakan setiap ada kesempatan. Warok-warok Ponorogo
memiliki kesaktian yang menggiriskan dan bala tentaranya amat kuat. Pada waktu
itu, yang menjadi adipati di Ponorogo adalah Adipati Diroprakosa, seorang yang
berusia empat puluh tahun lebih, selain sakti mandraguna, juga pandai mengatur
pemerintahan. Sang adipati ini berhubungan baik sekali dengan Kerajaan Panjalu
dan karena maklum akan kejayaan Panjalu, maka sungguhpun tidak secara resmi,
namun Adipati Diroprakosa menganggap Panjalu sebagai kerajaan induk, atau
sebagai kerajaan yang menjadi atasannya. Apalagi setelah ia menikah dengan
puteri Ki Patih Suroyudo, hubungan antara Kadipaten Ponorogo dengan Panjalu
menjadi makin baik. Seperti keadaan Ponorogo semenjak dahulu, pada waktu itu
Ponorogo juga mempunyai banyak sekali jagoan-jagoan yang membantu kadipaten,
bahkan mereka itu, warok-warok yang digdaya, menjadi tulang punggung yang
menegakkan ketenaran nama Kadipaten Ponorogo. Yang mengepalai para warok yang
menjadi tokoh yang berpengaruh adalah Ki Warok Surobledug. Bukan karena
dia yang paling sakti di
antara para warok, sama sekali tidak karena masih ada yang lebih sakti daripada
Ki Surobledug, akan tetapi karena Ki Surobledug adalah paman sang adipati, maka
tentu saja dia berpengaruh dan berkuasa. Di samping ini, Surobledug seorang
yang bijaksana dan pandai bersiasat di samping banyak sekali sahabat-sahabatnya
di antara para orang sakti. Pada waktu itu, Adipati Ponorogo dan para warok
sudah mendengar akan nama kerajaan baru di puncak Wilis, dan mengikuti
perkembangan kerajaan itu dengan penuh perhatian. Ki Surobledug sudah
berkali-kali berunding dengan sang adipati dan para tokoh lain dan mulailah
Kadipaten Ponorogo mempersiapkan diri untuk menanggulangi Kerajaan Wilis yang
makin lama makin meluas wilayahnya itu. Penjagaan diperkuat, pasukan-pasukan
dipersiapkan di perbatasan yang menjadi wilayah Ponorogo, setiap pasukan
diperkuat oleh beberapa orang warok yang memiliki ilmu kedigdayaan.
"Dahulu Wilis dipimpin
oleh Sang Puteri Endang Patibroto dan pada saat Padepokan Wilis masih berdiri,
kita tidak pernah bentrok dengan Padepokan Wilis. Bahkan kita mengalami
bantuan-bantuan para ksatria Wilis yang membersihkan perampok-perampok yang
mengacau di perbatasan," demikian Adipati Diroprakosa berkata.
"Kemudian terdengar
berita bahwa Sang Puteri Endang Patibroto yang namanya sudah terkenal di kolong
langit meninggalkan Wilis, kemudian Wilis dikuasai oleh gerombolan liar yang
dipimpin oleh seorang yang bernama Ki Walangkoro. Kita sudah mendengar akan
keganasan mereka, akan tetapi karena mereka itu yang menamakan diri Gerombolan
Wilis tidak pernah berani mengganggu wilayah kita, maka kita pun mendiamkan
saja. Sekarang, terjadi perubahan besar di sana dan telah didirikan kerajaan
yang menaklukkan banyak daerah. Agaknya mereka itu tentu akan menyerang kita,
hanya menanti saatnya saja."
"Benarlah demikian,
Puteranda Adipati," kata Ki Warok Surobledug.
"Kabarnya yang memimpin
Kerajaan Wilis juga seorang puteri, malah kabarnya masih remaja akan tetapi
memiliki kesaktian yang dahsyat. Sungguh mengherankan dan saya ingin sekali
menyaksikan sampai di mana kebenaran kabar-kabar yang kita dengar."
"Kakang Suro, aku mendengar bahwa puteri itu memiliki kepandaian yang
tidak lumrah manusia, seperti siluman, bisa menghilang dan kalau membunuh lawan
tidak usah menyentuh tubuh lawan itu!" kata Ki Warok Dwipasakti, seorang
warok yang bertubuh kecil kurus akan tetapi sesungguhnya warok ini amat sakti
karena dia adalah murid pertama dari Ki Ageng Kelud, seorang panembahan yang
sakti mandraguna. Biarpun usianya masih muda, akan tetapi warok kurus ini
sesungguhnya memiliki kedigdayaan yang melebihi Ki Surobledug sendiri.
"Hemm, berita-berita
seperti itu sukar dipercaya, suka dilebih-lebihkan. Betapapun pandainya seorang
manusia kalau dia melakukan hal-hal yang tidak benar, akhirnya tentu dia akan
jatuh. Kita tidak perlu takut," kata Ki Surobledug penasaran.
"Wawasan Paman Suro
benar dan tepat sekali," kata Adipati Diroprakosa.
"Memang kita tidak usah
gentar menghadapi kekuasaan yang sewenang-wenang. Apalagi Kerajaan Panjalu
tentu tidak akan tinggal diam kalau kekuasaan itu makin merajalela. Betapapun
juga, kita tidak boleh lengah dan sebaiknya kalau kita mengadakan penyelidikan
ke sana."
Akan tetapi dapat
dibayangkan betapa kagetnya para tokoh Ponorogo itu ketika penyelidikan
dilakukan, mereka mendengar bahwa sang puteri yang kini menguasai Wilis, yang
menjadi ratu di sana dan bernama Puteri Retna Wilis, adalah puteri dari Endang
Patibroto!
"Ajaib!" seru Ki
Surobledug ketika sang adipati mengadakan persidangan lagi.
"Puteri Endang
Patibroto adalah seorang puteri sakti mandraguna dan bijaksana, yang mendirikan
Padepokan Wilis dan anak buahnya adalah satria Wilis, akan tetapi mengapa kini
puterinya menjadi ratu yang menaklukkan seluruh daerah sekitarnya dan kabarnya
amat ganas membunuh orang-orang yang tidak mau tunduk kepadanya?"
"Mengherankan,"
kata sang adipati.
"Akan tetapi kita harus
berhati-hati dan tidak boleh sembrono. Sebaiknya kalau saya mengirim utusan ke
sana, selain untuk memperkenalkan diri juga untuk mengajukan penawaran
persahabatan. Kalau memang benar Kerajaan Wilis adalah puteri Endang Patibroto,
sekali-kali kita tidak boleh memusuhinya. Apalagi mengingat bahwa puteri Endang
Patibroto yang kita hormati itu adalah seorang tokoh Jenggala dan
Panjalu."
"Benar," Ki
Surobledug mengangguk mempenarkan.
"Malah kabarnya dalam
perang yang dilakukan oleh Panjalu untuk menundukkan kekuasaan jahat di
Jenggala, Puteri Endang Patibroto juga ikut berjasa."
"Sekarang begini, Paman
Surobledug. Paman sendiri memimpin pasukan kecil pergi mendaki puncak Wilis,
menghadap sang ratu untuk menyelidiki sendiri, membawa salam perkenalan dan
hormat dari saya disertai beberapa barang hadiah sebagai tanda
persahabatan."
Demikianlah, sebuah pasukan
terdiri dari dua losin orang dibentuk dan pada keesokan harinya, berangkatlah
Ki Warok Surobledug sendiri memimpin pasukannya pergi ke Wilis. Baru saja tiba
di perbatasan, mereka telah dihadang oleh pasukan Wilis yang pakaiannya serba
hijau, terdiri dari orang-orang kasar yang kelihatannya kuat. Melihat pasukan
yang terdiri dari lima puluh orang yang berpakaian serba hijau itu, Ki
Surobledug lalu memberi tanda kepada pasukannya yang berpakaian serba hitam
untuk berhenti, kemudian ia melangkah maju dan memberi hormat kepada komandan
pasukan Wilis.
"Hei, pasukan dari
manakah ini berani melanggar wilayah kami? Apakah tidak tahu bahwa wilayah ini
adalah perbatasan yang dikuasai Kerajaan Wilis dan tidak boleh ada orang asing
memasukinya tanpa izin?" berkata komandan pasukan yang masih muda dan
berkumis tebal.
Biarpun komandan pasukan
yang berkumis tebal itu termasuk seorang laki-laki gagah yang tinggi besar
bentuk tubuhnya, namun dibandingkan dengan Ki Warok Surobledug, ia masih
kelihatan kecil! Ki Surobledug menjawab dengan suara halus akan tetapi dengan
sikap gagah,
"Kami adalah pasukan
utusan sang adipati di Ponorogo, bermaksud naik ke puncak Wilis untuk menghadap
Sang Ratu Wilis."
Pasukan berpakaian hijau itu
mengeluarkan suara berisik ketika mendengar bahwa pasukan pakaian hitam ini
adalah pasukan Pcnorogo yang terkenal. Kemudian perwira berkumis itu berkata,
"Hemm, ada keperluan
apakah pasukan Ponorogo hendak menghadap ratu junjungan kami?"
Ki Surobledug mengerutkan
alisnya yang tebal.
"Eh, kisanak. Aku
adalah seorang utusan adipati. Sebagai utusan, hanya kepada sang ratu di Wilis
sajalah aku dapat menyampaikan apa yang ditugaskan oleh sesembahan kami.
Hendaknya andika mengerti akan peraturan itu dan suka membawa kami menghadap
sang ratu di Wilis."
Perwira itu berpikir
sejenak. Dia tidak berani bertindak sembarangan, apalagi ratunya amat bengis
terhadap anak buah yang salah tindak, sungguhpun di lain kesempatan ratunya itu
amat ramah dan murah tangan terhadap anak buahnya. Ia tahu pula bahwa biarpun
ada desas-desus bahwa ratu mereka merencanakan untuk menyerbu Ponorogo, namun
kalau belum ada perintah, tidak berani ia berlancang tangan memusuhi pasukan
Ponorogo yang berpakaian hitam dan rata-rata anak buahnya bertubuh tinggi besar
dan bersikap angker ini.
"Hamm, baiklah, akan
tetapi bersumpahlah bahwa kalian menghadap gusti puteri kami dengan itikad
baik!" Ki Warok Surobledug tertawa bergelak.
"Andika ini lucu
sekali, kisanak! Tanpa bersumpah sekali pun mudah dilihat bahwa kami membawa
maksud baik dari junjungan kami. Kalau dengan niat buruk, masa kami hanya
datang dengan dua lusin prajurit yang membawa tiga buah peti besar berisi
barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada ratu kalian?"
Perwira muda itu
mengangguk-angguk dan matanya ditujukan kepada tiga buah peti berukir yang
digotong oleh prajurit-prajurit berpakaian hitam itu.
"Baiklah, mari kalian
ikut bersama kami."
Di sepanjang perjalanan
menuju ke gunung Wilis, rombongan prajurit berpakaian hitam itu menjadi
tontonan orang dan mereka ini lebih tertarik lagi ketika mendengar bahwa mereka
adalah pasukan Ponorogo yang terkenal digdaya. Namun berkat kawalan pasukan
Wilis yang menjaga perbatasan, perjalanan mereka mendaki gunung Wilis berjalan
dengan lancar tanpa gangguan. Diam-diam Ki Surobledug memperhatikan keadaan di
sepanjang perjalanan, dan melihat dusun-dusun baru yang dibangun sepanjang
jalan dari kaki sampai ke lereng Wilis, diam-diam ia kagum dan memuji
kebijaksanaan ratu kerajaan baru ini. Ketika Retna Wilis mendengar dari
pelaporan para penjaga bahwa serombongan utusan Kadipaten Ponorogo mohon
menghadap, dia cepat mempersiapkan penyambutan di pendopo istananya yang baru
dibangun, bahkan yang belum selesai dibangun dan diperbaiki. Selain dia
sendiri, juga Ki Adiwijaya yang ia angkat menjadi patih, dan Ki Walangkoro yang
menjadi patih muda, ikut pula hadir menyambut rombongan dua lusin prajurit yang
dikepalai seorang warok tua yang bertubuh tinggi besar. Sebagai seorang yang
tahu akan tata susila, Ki Warok Surobledug menghadap Ratu Wilis dengan sembah
sujut dan penuh hormat tanpa berani mengangkat muka memandang wajah sang ratu.
Ia akan mencari kesempatan nanti untuk memandang dan mengenal wajah junjungan
baru di Wilis yang dikabarkan sakti mandraguna seperti siluman itu. Di lain
pihak, dialah yang menjadi pusat perhatian dan begitu Retna Wilis memandang
wajah warok itu, dia mengerutkan kening. Dia merasa kenal kakek tinggi besar
ini, akan tetapi dia telah lupa lagi entah di mana dia pernah berjumpa
dengannya. Adapun Adiwijaya dan Walangkoro memandang warok itu dan diam-diam
harus mengakui bahwa kakek ini akan merupakan lawan yang berat. Kalau banyak
tokoh Ponorogo seperti kakek ini, benarlah berita bahwa Ponorogo memiliki
banyak tokoh sakti.
"Paman, andika siapakah
dan apa maksudmu membawa pasukan menghadap padaku?" Retna Wilis bertanya
dan diam-diam Ki Surobledug tercengang mendengar suara yang halus, merdu dan
sama sekali tidak seperti suara orang-orang sakti mandraguna itu.
Namun ia menyembah dan
menjawab,
"Hamba pemimpin pasukan
ini sebagai utusan gusti hamba adipati di Ponorogo dengan membawa salam
persahabatan dan barang-barang persembahan untuk dihaturkan paduka, Gusti.
Hamba Ki Surobledug menghaturkan sembah." Sambil berkata demikian, Ki
Surobledug menyembah dan menggunakan kesempatan itu untuk menengadah dan
memandang wajah sang ratu yang demikian menggegerkan daerah Wilis.
No comments:
Post a Comment