Perawan Lembah Wilis; Bagian 175


Akan tetapi, dengan bantuan Adiwijaya yang berpengalaman sebagai Patih Jenggala, dan Walangkoro yang sudah biasa memimpin gerombolan perampok, Kerajaan Wilis ini dapat berjalan dengan maju pesat. Bukan saja dapat mempergunakan tenaga para rakyatnya, juga dapat mendatangkan kesejahteraan. Sudah terlalu lama rakyat tertindas oleh pembesar-pembesar lalim, apalagi ketika Jenggala mengalami kesuraman, dan banyak terjadi perang selama beberapa tahun ini. Kini mereka menyaksikan kemajuan Kerajaan Wilis, timbul harapan mereka untuk dapat hidup baik dan makin banyaklah rakyat dari daerah-daerah yang agak jauh berdatangan untuk mencari perlindungan di bawah pimpinan gusti puteri yang dikabarkan sebagai penjelmaan seorang Dewi yang turun dari kahyangan dan, yang bertugas mendatangkan kebahagian, bagi kehidupan mereka yang tertindas!
Dalam waktu beberapa bulan saja nama Kerajaan Wilis yang dipimpin oleh puteri sakti mandraguna itu menjadi terkenal sampai jauh dari Wilis. Daerah yang jauh di sekeliling Wilis menjadi geger dan gempar karena munculnya puteri jelita dengan pasukannya yang tidak berapa besar itu memang hebat sekali, setiap kali keluar pasti menaklukkan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari kabar tentang kesaktian yang luar biasa dari Puteri Retna Wilis ditambahi bumbu-bumbu yang berlebihan mengagetkan semua orang yang mendengarnya.

Di antara daerah yang agak jauh, hanya daerah Ponorogo yang masih belum takluk kepada Kerajaan Wilis. Daerah-daerah lain, yang lebih jauh sekali pun dari Ponorogo, banyak yang takluk tanpa diperangi. Akan tetapi Ponorogo lain lagi. Daerah ini memang merupakan daerah yang kuat dan yang sejak dahulu juga tidak tunduk kepada Kerajaan Mataram lama. Hal ini adalah karena Ponorogo mempunyai banyak orang sakti dan kerajaan-kerajaan besar menganggap lebih aman untuk menarik Ponorogo sebagai kerajaan sahabat daripada sebagal musuh atau taklukan. Andaikata ditaklukkan sekali pun, sifat tokoh-tokohnya yang selalu tidak mau ditundukkan akan mengadakan pemberontakan setiap ada kesempatan. Warok-warok Ponorogo memiliki kesaktian yang menggiriskan dan bala tentaranya amat kuat. Pada waktu itu, yang menjadi adipati di Ponorogo adalah Adipati Diroprakosa, seorang yang berusia empat puluh tahun lebih, selain sakti mandraguna, juga pandai mengatur pemerintahan. Sang adipati ini berhubungan baik sekali dengan Kerajaan Panjalu dan karena maklum akan kejayaan Panjalu, maka sungguhpun tidak secara resmi, namun Adipati Diroprakosa menganggap Panjalu sebagai kerajaan induk, atau sebagai kerajaan yang menjadi atasannya. Apalagi setelah ia menikah dengan puteri Ki Patih Suroyudo, hubungan antara Kadipaten Ponorogo dengan Panjalu menjadi makin baik. Seperti keadaan Ponorogo semenjak dahulu, pada waktu itu Ponorogo juga mempunyai banyak sekali jagoan-jagoan yang membantu kadipaten, bahkan mereka itu, warok-warok yang digdaya, menjadi tulang punggung yang menegakkan ketenaran nama Kadipaten Ponorogo. Yang mengepalai para warok yang menjadi tokoh yang berpengaruh adalah Ki Warok Surobledug. Bukan karena
dia yang paling sakti di antara para warok, sama sekali tidak karena masih ada yang lebih sakti daripada Ki Surobledug, akan tetapi karena Ki Surobledug adalah paman sang adipati, maka tentu saja dia berpengaruh dan berkuasa. Di samping ini, Surobledug seorang yang bijaksana dan pandai bersiasat di samping banyak sekali sahabat-sahabatnya di antara para orang sakti. Pada waktu itu, Adipati Ponorogo dan para warok sudah mendengar akan nama kerajaan baru di puncak Wilis, dan mengikuti perkembangan kerajaan itu dengan penuh perhatian. Ki Surobledug sudah berkali-kali berunding dengan sang adipati dan para tokoh lain dan mulailah Kadipaten Ponorogo mempersiapkan diri untuk menanggulangi Kerajaan Wilis yang makin lama makin meluas wilayahnya itu. Penjagaan diperkuat, pasukan-pasukan dipersiapkan di perbatasan yang menjadi wilayah Ponorogo, setiap pasukan diperkuat oleh beberapa orang warok yang memiliki ilmu kedigdayaan.
"Dahulu Wilis dipimpin oleh Sang Puteri Endang Patibroto dan pada saat Padepokan Wilis masih berdiri, kita tidak pernah bentrok dengan Padepokan Wilis. Bahkan kita mengalami bantuan-bantuan para ksatria Wilis yang membersihkan perampok-perampok yang mengacau di perbatasan," demikian Adipati Diroprakosa berkata.
"Kemudian terdengar berita bahwa Sang Puteri Endang Patibroto yang namanya sudah terkenal di kolong langit meninggalkan Wilis, kemudian Wilis dikuasai oleh gerombolan liar yang dipimpin oleh seorang yang bernama Ki Walangkoro. Kita sudah mendengar akan keganasan mereka, akan tetapi karena mereka itu yang menamakan diri Gerombolan Wilis tidak pernah berani mengganggu wilayah kita, maka kita pun mendiamkan saja. Sekarang, terjadi perubahan besar di sana dan telah didirikan kerajaan yang menaklukkan banyak daerah. Agaknya mereka itu tentu akan menyerang kita, hanya menanti saatnya saja."
"Benarlah demikian, Puteranda Adipati," kata Ki Warok Surobledug.
"Kabarnya yang memimpin Kerajaan Wilis juga seorang puteri, malah kabarnya masih remaja akan tetapi memiliki kesaktian yang dahsyat. Sungguh mengherankan dan saya ingin sekali menyaksikan sampai di mana kebenaran kabar-kabar yang kita dengar." "Kakang Suro, aku mendengar bahwa puteri itu memiliki kepandaian yang tidak lumrah manusia, seperti siluman, bisa menghilang dan kalau membunuh lawan tidak usah menyentuh tubuh lawan itu!" kata Ki Warok Dwipasakti, seorang warok yang bertubuh kecil kurus akan tetapi sesungguhnya warok ini amat sakti karena dia adalah murid pertama dari Ki Ageng Kelud, seorang panembahan yang sakti mandraguna. Biarpun usianya masih muda, akan tetapi warok kurus ini sesungguhnya memiliki kedigdayaan yang melebihi Ki Surobledug sendiri.
"Hemm, berita-berita seperti itu sukar dipercaya, suka dilebih-lebihkan. Betapapun pandainya seorang manusia kalau dia melakukan hal-hal yang tidak benar, akhirnya tentu dia akan jatuh. Kita tidak perlu takut," kata Ki Surobledug penasaran.
"Wawasan Paman Suro benar dan tepat sekali," kata Adipati Diroprakosa.
"Memang kita tidak usah gentar menghadapi kekuasaan yang sewenang-wenang. Apalagi Kerajaan Panjalu tentu tidak akan tinggal diam kalau kekuasaan itu makin merajalela. Betapapun juga, kita tidak boleh lengah dan sebaiknya kalau kita mengadakan penyelidikan ke sana."

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya para tokoh Ponorogo itu ketika penyelidikan dilakukan, mereka mendengar bahwa sang puteri yang kini menguasai Wilis, yang menjadi ratu di sana dan bernama Puteri Retna Wilis, adalah puteri dari Endang Patibroto!
"Ajaib!" seru Ki Surobledug ketika sang adipati mengadakan persidangan lagi.
"Puteri Endang Patibroto adalah seorang puteri sakti mandraguna dan bijaksana, yang mendirikan Padepokan Wilis dan anak buahnya adalah satria Wilis, akan tetapi mengapa kini puterinya menjadi ratu yang menaklukkan seluruh daerah sekitarnya dan kabarnya amat ganas membunuh orang-orang yang tidak mau tunduk kepadanya?"
"Mengherankan," kata sang adipati.
"Akan tetapi kita harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono. Sebaiknya kalau saya mengirim utusan ke sana, selain untuk memperkenalkan diri juga untuk mengajukan penawaran persahabatan. Kalau memang benar Kerajaan Wilis adalah puteri Endang Patibroto, sekali-kali kita tidak boleh memusuhinya. Apalagi mengingat bahwa puteri Endang Patibroto yang kita hormati itu adalah seorang tokoh Jenggala dan Panjalu."
"Benar," Ki Surobledug mengangguk mempenarkan.
"Malah kabarnya dalam perang yang dilakukan oleh Panjalu untuk menundukkan kekuasaan jahat di Jenggala, Puteri Endang Patibroto juga ikut berjasa."
"Sekarang begini, Paman Surobledug. Paman sendiri memimpin pasukan kecil pergi mendaki puncak Wilis, menghadap sang ratu untuk menyelidiki sendiri, membawa salam perkenalan dan hormat dari saya disertai beberapa barang hadiah sebagai tanda persahabatan."
Demikianlah, sebuah pasukan terdiri dari dua losin orang dibentuk dan pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Warok Surobledug sendiri memimpin pasukannya pergi ke Wilis. Baru saja tiba di perbatasan, mereka telah dihadang oleh pasukan Wilis yang pakaiannya serba hijau, terdiri dari orang-orang kasar yang kelihatannya kuat. Melihat pasukan yang terdiri dari lima puluh orang yang berpakaian serba hijau itu, Ki Surobledug lalu memberi tanda kepada pasukannya yang berpakaian serba hitam untuk berhenti, kemudian ia melangkah maju dan memberi hormat kepada komandan pasukan Wilis.
"Hei, pasukan dari manakah ini berani melanggar wilayah kami? Apakah tidak tahu bahwa wilayah ini adalah perbatasan yang dikuasai Kerajaan Wilis dan tidak boleh ada orang asing memasukinya tanpa izin?" berkata komandan pasukan yang masih muda dan berkumis tebal.
Biarpun komandan pasukan yang berkumis tebal itu termasuk seorang laki-laki gagah yang tinggi besar bentuk tubuhnya, namun dibandingkan dengan Ki Warok Surobledug, ia masih kelihatan kecil! Ki Surobledug menjawab dengan suara halus akan tetapi dengan sikap gagah,
"Kami adalah pasukan utusan sang adipati di Ponorogo, bermaksud naik ke puncak Wilis untuk menghadap Sang Ratu Wilis."
Pasukan berpakaian hijau itu mengeluarkan suara berisik ketika mendengar bahwa pasukan pakaian hitam ini adalah pasukan Pcnorogo yang terkenal. Kemudian perwira berkumis itu berkata,
"Hemm, ada keperluan apakah pasukan Ponorogo hendak menghadap ratu junjungan kami?"
Ki Surobledug mengerutkan alisnya yang tebal.
"Eh, kisanak. Aku adalah seorang utusan adipati. Sebagai utusan, hanya kepada sang ratu di Wilis sajalah aku dapat menyampaikan apa yang ditugaskan oleh sesembahan kami. Hendaknya andika mengerti akan peraturan itu dan suka membawa kami menghadap sang ratu di Wilis."

Perwira itu berpikir sejenak. Dia tidak berani bertindak sembarangan, apalagi ratunya amat bengis terhadap anak buah yang salah tindak, sungguhpun di lain kesempatan ratunya itu amat ramah dan murah tangan terhadap anak buahnya. Ia tahu pula bahwa biarpun ada desas-desus bahwa ratu mereka merencanakan untuk menyerbu Ponorogo, namun kalau belum ada perintah, tidak berani ia berlancang tangan memusuhi pasukan Ponorogo yang berpakaian hitam dan rata-rata anak buahnya bertubuh tinggi besar dan bersikap angker ini.
"Hamm, baiklah, akan tetapi bersumpahlah bahwa kalian menghadap gusti puteri kami dengan itikad baik!" Ki Warok Surobledug tertawa bergelak.
"Andika ini lucu sekali, kisanak! Tanpa bersumpah sekali pun mudah dilihat bahwa kami membawa maksud baik dari junjungan kami. Kalau dengan niat buruk, masa kami hanya datang dengan dua lusin prajurit yang membawa tiga buah peti besar berisi barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada ratu kalian?"
Perwira muda itu mengangguk-angguk dan matanya ditujukan kepada tiga buah peti berukir yang digotong oleh prajurit-prajurit berpakaian hitam itu.
"Baiklah, mari kalian ikut bersama kami."
Di sepanjang perjalanan menuju ke gunung Wilis, rombongan prajurit berpakaian hitam itu menjadi tontonan orang dan mereka ini lebih tertarik lagi ketika mendengar bahwa mereka adalah pasukan Ponorogo yang terkenal digdaya. Namun berkat kawalan pasukan Wilis yang menjaga perbatasan, perjalanan mereka mendaki gunung Wilis berjalan dengan lancar tanpa gangguan. Diam-diam Ki Surobledug memperhatikan keadaan di sepanjang perjalanan, dan melihat dusun-dusun baru yang dibangun sepanjang jalan dari kaki sampai ke lereng Wilis, diam-diam ia kagum dan memuji kebijaksanaan ratu kerajaan baru ini. Ketika Retna Wilis mendengar dari pelaporan para penjaga bahwa serombongan utusan Kadipaten Ponorogo mohon menghadap, dia cepat mempersiapkan penyambutan di pendopo istananya yang baru dibangun, bahkan yang belum selesai dibangun dan diperbaiki. Selain dia sendiri, juga Ki Adiwijaya yang ia angkat menjadi patih, dan Ki Walangkoro yang menjadi patih muda, ikut pula hadir menyambut rombongan dua lusin prajurit yang dikepalai seorang warok tua yang bertubuh tinggi besar. Sebagai seorang yang tahu akan tata susila, Ki Warok Surobledug menghadap Ratu Wilis dengan sembah sujut dan penuh hormat tanpa berani mengangkat muka memandang wajah sang ratu. Ia akan mencari kesempatan nanti untuk memandang dan mengenal wajah junjungan baru di Wilis yang dikabarkan sakti mandraguna seperti siluman itu. Di lain pihak, dialah yang menjadi pusat perhatian dan begitu Retna Wilis memandang wajah warok itu, dia mengerutkan kening. Dia merasa kenal kakek tinggi besar ini, akan tetapi dia telah lupa lagi entah di mana dia pernah berjumpa dengannya. Adapun Adiwijaya dan Walangkoro memandang warok itu dan diam-diam harus mengakui bahwa kakek ini akan merupakan lawan yang berat. Kalau banyak tokoh Ponorogo seperti kakek ini, benarlah berita bahwa Ponorogo memiliki banyak tokoh sakti.
"Paman, andika siapakah dan apa maksudmu membawa pasukan menghadap padaku?" Retna Wilis bertanya dan diam-diam Ki Surobledug tercengang mendengar suara yang halus, merdu dan sama sekali tidak seperti suara orang-orang sakti mandraguna itu.
Namun ia menyembah dan menjawab,
"Hamba pemimpin pasukan ini sebagai utusan gusti hamba adipati di Ponorogo dengan membawa salam persahabatan dan barang-barang persembahan untuk dihaturkan paduka, Gusti. Hamba Ki Surobledug menghaturkan sembah." Sambil berkata demikian, Ki Surobledug menyembah dan menggunakan kesempatan itu untuk menengadah dan memandang wajah sang ratu yang demikian menggegerkan daerah Wilis.

<<< Bagian 174                                                                                      Bagian 176 >>>

No comments:

Post a Comment