Retna Wilis dan Ki Surobledug mengalami guncangan hati pada saat yang sama. Ketika mendengar nama Ki Surobledug, teringatlah Retna Wilis kepada kakek ini. Di lain pihak, begitu menyaksikan wajah sang ratu, Ki Surobledug menjadi pucat wajahnya karena dia segera mengenal wajah dara perkasa yang dahulu membunuh empat orang anak murid Panembahan Ki Ageng Kelud, dan pernah merobohkannya, bahkan yang hampir saja membunuh dia dan Ki Ageng Kelud! Kiranya murid Nini Bumigarba yang menjadi ratu di Wilis! Kenyataan ini membuat ia termangu penuh kegentaran hati. Pantas saja dianggap sebagai seorang dara yang memiliki ilmu kepandaian seperti siluman, kiranya dara siluman itu sendiri yang menjadi ratu di sini! Akan tetapi, sebagai utusan kadipaten ia tidak berani mencampurkan urusan pribadinya dan ia pura-pura tidak mengenal ratu itu. Retna Wilis tersenyum dan suaranya mengandung hawa dingin ketika ia berkata,
"Hemm, Ki Surobledug.
Kiranya andika yang menjadi utusan Ponorogo. Hemm, aku menerima baik uluran
tangan Adipati Ponorogo untuk bersahabat. Akan tetapi persembahan hanya dapat
kuterima sebagai persembahan Kadipaten Ponorogo yang tunduk dan mengakui
Kerajaan Wilis sebagai kerajaan terbesar, mengakui kedaulatanku sebagai Ratu
Wilis. Jika Kadipaten Ponorogo suka mentaati semua permintaanku, aku akan
menganggapnya sebagai kadipaten yang membantu dan sepatutnya dijadikan sahabat.
Pertama-tama aku akan mengajak barisan Kadipaten Ponorogo untuk membantuku
menaklukkan semua kerajaan kecil dan kadipaten di sebelah timur sampai di
Kerajaan Panjalu."
"Wah, ini tidak
mungkin!" Ki Surobledug berseru kaget.
"Hemm, apanya yang
tidak mungkin, Ki Surobledug? Lanjutkan ucapanmu."
Kini Ki Surobledug yang
kaget sekali mendengarkan ucapan ratu itu, tidak ragu-ragu lagi memandang wajah
cantik jelita dan masih remaja itu, dan sinar mata mereka saling menentang. Ki
Surobledug merasa betapa tengkuknya menjadi dingin ketika bertemu pandang, akan
tetapi dengan penuh semangat ia berkata,
"Ampunkan hamba, Gusti
Puteri. Hamba tahu betul bahwa tidaklah mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk
menyerang kadipaten-kadipaten dan kerajaan-kerajaan kecil di sebelah timur,
untuk membantu kerajaan paduka. Oleh karena daerah itu adalah termasuk dalam
kekuasaan Kerajaan Panjalu. Tidak mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk
menyerang daerah Panjalu, karena Kerajaan Panjalu merupakan Kerajaan yang
dijunjung tinggi oleh Ponorogo. Tidak mungkin Gusti."
Tiba-tiba terdengar suara Ki
Walangkoro yang besar dan nyaring.
"Apa yang tidak mungkin
bagi gusti puteri kami? Tidak ada hal yang tidak mungkin! Engkau lancang mulut,
heh, utusan gemblung!"
Ki Surobledug menoleh dan
sejenak kedua orang tinggi besar itu bertemu pandang. Kemudian terdengar suara
Ki Patih Adiwijaya yang tegas dan mantap,
"Heh, utusan Ponorogo!
Andika hanya seorang utusan. Tahukah andika kewajiban seorang utusan? Hanya
menyampaikan pesan junjunganmu dan menerima balasan dari kerajaan yang kau
kunjungi. Mengapa kini andika lancang sekali berani mengemukakan pandapat pribadi
andika?"
Merah wajah Ki Surobledug
ketika ia menatap wajah Adiwijaya. Merah karena malu. Tentu saja ia maklum
bahwa memang sikapnya tidak dapat dikatakan benar, bahkan melanggar peraturan
yang lajim. Menurut aturan, seorang utusan tidak boleh diganggu sama sekali,
akan tetapi juga sebagai utusan sama dengan benda mati, hanya menyampaikan
pesan dan menerima balasan. Kini diserang oleh ucapan Adiwijaya yang tepat, ia
menjadi bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tadi ia kelepasan bicara
saking kaget dan marahnya mendengar Ratu Wilis menganggap Ponorogo sebagai
kerajaan yang lebih rendah dan mengajak, atau memerintahkan dengan halus, untuk
mengkhianati Panjalu!
"Ki Surobledug, apa
jawabmu?" Tiba-tiba Retna Wilis bertanya, suaranya tetap halus namun mengandung
desakan yang tak mungkin dapat ditangkis lagi.
Ki Surobledug menahan napas
panjang. Tidak ada jalan lain baginya untuk mengelak dan menarik kembali
kata-katanya dan karena ia merasa benar, ia tidak menjadi takut lalu berkata,
"Mohon ampun, Gusti Puteri.
Sesungguhnya hamba pun mengerti akan tugas dan kewajiban hamba sebagai utusan,
mengerti bahwa sebagai utusan hamba tidak boleh bicara mengemukakan pendapat
pribadi hamba. Akan tetapi, hamba yakin bahwa pendapat hamba ini juga menjadi
pendapat gusti adipati di Ponorogo. Kadipaten Ponorogo mengulurkan tangan
kepada Kerajaan Wilis, apalagi mengingat bahwa kabarnya paduka adalah puteri
dari Sang Puteri Endang Patibroto yang kami hormati, dan tentu saja Kadipaten
Ponorogo mengakui kedaulatan paduka sebagai ratu di Wilis. Akan tetapi, kalau
Kadipaten Ponorogo diajak untuk menyerang daerah Kadipaten di Panjalu, hal ini
sama sekali tidak mungkin dapat dilakukan oleh Kadipaten Ponorogo."
Hening sejenak setelah ki
warok itu bicara dengan suara lantang. Semua orang menjadi ngeri. Belum pernah
ada orang berani menentang keputusan atau perintah sang ratu, karena menentang
sedikit saja berarti mati dalam keadaan mengerikan. Semua orang menanti, dan
mereka tidak akan heran kalau pada saat itu sang ratu menggerakkan tangan,
sekali bergerak saja membunuh utusan itu dengan hawa pukulan tangannya. Akan
tetapi, hanya terdengar Retna Wilis menarik napas panjang dan berkata,
"Ki Surobledug, apakah
andika tidak mengenalku?"
Ki Surobledug mengangguk.
"Hamba .... mengenal
paduka, Gusti Puteri yang sakti mandraguna."
"Engkau tahu betul
bahwa sekali ada niat di hatiku, membunuhmu sama mudahnya dengan membalikkan
telapak tanganku?"
Kembali....Surobledug....
mengangguk.
"Hamba mengerti,
Gusti."
Suara Retna Wilis meninggi,
penuh wibawa,
"Kalau begitu, andika
tentunya tidak buta untuk melihat bahwa Kadipaten Ponorogo tidak mungkin dapat
menolak perintahku, tidak mungkin dapat menentangku? Menentangku berarti hancur
lebur, Ki Surobledug!"
"Hamba mengerti, Gusti.
Akan tetapi, negara yang besar harus memiliki pendirian sebagai seorang satria
yang juga menjadi pendirian Sang Adipati Ponorogo. Kami adalah orang-orang yang
menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kesetiaan. Biarpun hancur lebur,
kalau Ponorogo tetap setia Panjalu, berarti hancur sebagai sebuah kerajaan
besar. Apakah artinya hidup kalau menjadi pengkhianat? Ponorogo takkan pernah
menjadi pengkhianat, Gusti."
"Eh, Ki Surobledug.
Apakah pangkatmu di Ponorogo?"
"Hamba hanya seorang
penasehat saja yang mengepalai warok-warok di Ponorogo.”
"Bagaimana andika
begitu yakin bahwa pendirian Adipati Ponorogo sama dengan pendirianmu?"
"Sang adipati adalah
keponakan hamba dan pendiriannya dalam hal ini tidak ada bedanya dengan
pendirian hamba."
"Wah-wah-wah, si
keparat Surobledug! Gusti Puteri, perkenankan hamba menghancurkan kepala warok
sombong ini!" tiba-tiba Ki Walangkoro berkata dengan mata melotot.
Retna Wilis mengangkat
tangan menyuruh patih muda itu diam, kemudian ia berkata kepada Surobledug,
"Alangkah mudahnya
bagiku untuk membunuh andika dan anak buah andika, Surobledug. Dan alangkah
mudahnya bagiku untuk menyerbu dan menghancurkan Ponorogo. Akan tetapi aku
tidak akan membunuhmu dan aku masih memberi kesempatan kepada Ponorogo untuk
mempertimbangkan perintahku. Aku kagum akan keberanianmu, akan tetapi juga geli
hatiku menyaksikan kebodohanmu. Nah, sekarang pulanglah, andika, dan sampaikan
kepada junjunganmu, juga keponakanmu, sang adipati di Ponorogo bahwa aku
memberi waktu kepadanya selama satu bulan, dia sendiri harus datang menghadap
padaku dan menyatakan ketaatannya akan perintahku, mempersiapkan bala tentara
yang harus membantuku menaklukkan kadipaten-kadipaten lain di sebelah timur.
Kalau dalam waktu sebulan dia tidak menghadap, berarti dia menentang dan jangan
tanya tentang dosa kalau aku akan membikin Ponorogo menjadi karang abang
(lautan api). Nah, pergilah engkau, bawa kembali barang-barangmu karena aku
tidak membutuhkan persembahan orang yang tidak mau tunduk kepadaku!"
Surobledug maklum bahwa
bicara lagi tidak akan ada gunanya, bahkan sama dengan bunuh diri, maka ia
menyembah lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengangkat kembali
barang-barang persembahan sebanyak tiga peti itu dan keluar dari halaman istana
dan kembali menuruni lereng Wilis, kembali ke Ponorogo. Setibanya di Ponorogo,
Ki Surobledug langsung menghadap kadipaten dan betapa kagetnya sang adipati dan
para tokoh Ponorogo ketika mendengar laporan Ki Surobledug yang berkata dengan
suara cemas,
"Waduh, celaka,
Puteranda Adipati! Kiranya siluman betina itu benar-benar siluman murid Nini
Bumigarba! Sungguh mengherankan bagai mana puteri dari Sang Puteri Endang
Patibroto menjadi siluman betina seperti itu!" Dia lalu menuturkan semua
pengalamannya ketika menghadap Ratu Wilis dan menutup penuturannya dengan kata-kata,
"Kita pasti akan
digempur dan agaknya amatlah sukar mencari orang yang akan sanggup menandingi
kesaktian Retna Wilis!"
Sang Adipati Diroprakosa
mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang.
"Kita harus berusaha.
Sikapmu benar sekali, Paman. Memang bagiku sendiri, lebih baik mati bersama
kadipaten ini yang dihancurkan daripada hidup menjadi pengkhianat yang
menyerang daerah Panjalu. Tidak ada lain jalan lagi, kita harus mempersiapkan
barisan, menjaga kuat-kuat Kadipaten Ponorogo dan kita harus mencari bala
bantuan orang-orang sakti."
Ponorogo lalu sibuk mengatur
persiapan untuk menanggulangi ancaman bahaya hebat yang datangnya dari Kerajaan
Wilis yang baru itu. Utusan-utusan dikirim ke pelbagai tempat untuk minta
bantuan orang-orang sakti, di antaranya Panembahan Ki Ageng Kelud, para
pertapa-pertapa dan orang-orang sakti lainnya. Juga ada utusan yang dikirim ke
Kerajaan Panjalu untuk mencari bala bantuan, disertai surat dari Adipati
Diroprakosa sendiri yang harus disampaikan secara pribadi kepada Ki Patih
Tejolaksono karena menurut pendapat para tokoh Ponorogo, kiranya hanyalah Ki
Patih Tejolaksono sajalah orangnya yang akan cukup kuat untuk menandingi Retna
Wilis.
Ki Patih Tejolaksono baru
saja kembali dari Jenggala bersama kedua orang isterinya dan dengan Bagus Seta.
Setelah kekacauan di Jenggala dapat ditundukkan, Pangeran Panji Sigit diangkat
menjadi raja di Jenggala dan pesta perayaan untuk menobatkan raja baru ini
dimeriahkan dengan pesta pernikahan antara Joko Pramono dengan Pusporini. Joko
Pramono diangkat menjadi patih di Jenggala! Setelah pesta selesai, Joko Pramono
yang menjadi patih tinggal di Jenggala, di kepatihan. Permaisuri Jenggala yang
tadinya diasingkan, kini kembali ke keraton sebagai ibu suri yang dihormati.
Berbahagialah penghidupan Pangeran Panji Sigit yang kini menjadi Prabu Jenggala
bersama Setyaningsih yang menjadi permaisurinya dan Joko Pramono yang menjadi
patih di samping Pusporini.
"Nah, sekarang barulah
lega hatiku," kata Tejolaksono ketika ia bersama Endang Patibroto, Ayu
Candra, dan Bagus Seta duduk di ruangan belakang kepatihan Panjalu. Tejolaksono
menghela napas panjang dan kelihatan gembira sekali.
"Setelah urusan di
Jenggala beres, lapang dadaku dan kehidupan keluarga kita akan aman dan
tenteram. Hanya sayang, anakku Retna Wilis belum juga dapat diketahui di mana
adanya."
Endang Patibroto mengerutkan
keningnya.
"Setelah keadaan beres,
aku sendiri akan pergi mencarinya." Ayu Candra memegang lengan madunya dan
berkata membujuk,
"Adinda Endang
Patibroto, baru saja kita dapat berkumpul dalam keadaan damai dan tenteram,
mengapa engkau hendak pergi lagi? Janganlah, Adinda. Biar nanti kita menyebar
orang untuk mencari Retna Wilis. Setelah keadaan aman kembali, kiraku tidak
akan begitu sukar lagi mencarinya. Hendaknya Adinda dapat memenuhi permintaanku
ini agar keluarga kita dapat berkumpul dan kebahagiaan yang baru sekarang dapat
kita kenyam ini tidak akan menjadi hambar."
Endang Patibroto memandang
madunya, memandang suaminya dan memang hatinya merasa berat kalau dia disuruh
berpisah lagi. Melihat keadaan orang-orang tua itu, Bagus Seta berkata,
"Kanjeng Rama dan
Kanjeng Ibu berdua. Bagi mereka yang belum dapat membebaskan diri daripada
belenggu, dunia ini penuh dengan suka duka. Penuh dengan kedukaan bagi mereka
yang mau berduka, dan penuh dengan kesukaan bagi mereka yang mau bersuka. Suka
dan duka timbul dari hati pribadi. Suka duka merupakan mata rantai yang
sambung-menyambung dan tidak kunjung putus. Kalau kita sudah mau bersuka, kita
harus siap untuk menerima duka. Segala peristiwa di dunia ini sudah diatur oleh
hukum karma yang menjadi belenggu. Hanya mereka yang sudah sadar dan bebas
barulah dapat melenyapkan pengaruh hukum karma atas dirinya. Saya harap Rama
dan Ibu berdua suka selalu waspada, di samping ikhtiar, kita harus selalu
menyandarkan segalanya kepada kekuasaan Maha Tinggi yang sudah mengatur
semuanya. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan, sebaliknya tidak ada pula
perpisahan tanpa pertemuan.
No comments:
Post a Comment