Perawan Lembah Wilis; Bagian 176


Retna Wilis dan Ki Surobledug mengalami guncangan hati pada saat yang sama. Ketika mendengar nama Ki Surobledug, teringatlah Retna Wilis kepada kakek ini. Di lain pihak, begitu menyaksikan wajah sang ratu, Ki Surobledug menjadi pucat wajahnya karena dia segera mengenal wajah dara perkasa yang dahulu membunuh empat orang anak murid Panembahan Ki Ageng Kelud, dan pernah merobohkannya, bahkan yang hampir saja membunuh dia dan Ki Ageng Kelud! Kiranya murid Nini Bumigarba yang menjadi ratu di Wilis! Kenyataan ini membuat ia termangu penuh kegentaran hati. Pantas saja dianggap sebagai seorang dara yang memiliki ilmu kepandaian seperti siluman, kiranya dara siluman itu sendiri yang menjadi ratu di sini! Akan tetapi, sebagai utusan kadipaten ia tidak berani mencampurkan urusan pribadinya dan ia pura-pura tidak mengenal ratu itu. Retna Wilis tersenyum dan suaranya mengandung hawa dingin ketika ia berkata,
"Hemm, Ki Surobledug. Kiranya andika yang menjadi utusan Ponorogo. Hemm, aku menerima baik uluran tangan Adipati Ponorogo untuk bersahabat. Akan tetapi persembahan hanya dapat kuterima sebagai persembahan Kadipaten Ponorogo yang tunduk dan mengakui Kerajaan Wilis sebagai kerajaan terbesar, mengakui kedaulatanku sebagai Ratu Wilis. Jika Kadipaten Ponorogo suka mentaati semua permintaanku, aku akan menganggapnya sebagai kadipaten yang membantu dan sepatutnya dijadikan sahabat. Pertama-tama aku akan mengajak barisan Kadipaten Ponorogo untuk membantuku menaklukkan semua kerajaan kecil dan kadipaten di sebelah timur sampai di Kerajaan Panjalu."
"Wah, ini tidak mungkin!" Ki Surobledug berseru kaget.
"Hemm, apanya yang tidak mungkin, Ki Surobledug? Lanjutkan ucapanmu."
Kini Ki Surobledug yang kaget sekali mendengarkan ucapan ratu itu, tidak ragu-ragu lagi memandang wajah cantik jelita dan masih remaja itu, dan sinar mata mereka saling menentang. Ki Surobledug merasa betapa tengkuknya menjadi dingin ketika bertemu pandang, akan tetapi dengan penuh semangat ia berkata,
"Ampunkan hamba, Gusti Puteri. Hamba tahu betul bahwa tidaklah mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk menyerang kadipaten-kadipaten dan kerajaan-kerajaan kecil di sebelah timur, untuk membantu kerajaan paduka. Oleh karena daerah itu adalah termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Panjalu. Tidak mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk menyerang daerah Panjalu, karena Kerajaan Panjalu merupakan Kerajaan yang dijunjung tinggi oleh Ponorogo. Tidak mungkin Gusti."

Tiba-tiba terdengar suara Ki Walangkoro yang besar dan nyaring.
"Apa yang tidak mungkin bagi gusti puteri kami? Tidak ada hal yang tidak mungkin! Engkau lancang mulut, heh, utusan gemblung!"
Ki Surobledug menoleh dan sejenak kedua orang tinggi besar itu bertemu pandang. Kemudian terdengar suara Ki Patih Adiwijaya yang tegas dan mantap,
"Heh, utusan Ponorogo! Andika hanya seorang utusan. Tahukah andika kewajiban seorang utusan? Hanya menyampaikan pesan junjunganmu dan menerima balasan dari kerajaan yang kau kunjungi. Mengapa kini andika lancang sekali berani mengemukakan pandapat pribadi andika?"
Merah wajah Ki Surobledug ketika ia menatap wajah Adiwijaya. Merah karena malu. Tentu saja ia maklum bahwa memang sikapnya tidak dapat dikatakan benar, bahkan melanggar peraturan yang lajim. Menurut aturan, seorang utusan tidak boleh diganggu sama sekali, akan tetapi juga sebagai utusan sama dengan benda mati, hanya menyampaikan pesan dan menerima balasan. Kini diserang oleh ucapan Adiwijaya yang tepat, ia menjadi bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tadi ia kelepasan bicara saking kaget dan marahnya mendengar Ratu Wilis menganggap Ponorogo sebagai kerajaan yang lebih rendah dan mengajak, atau memerintahkan dengan halus, untuk mengkhianati Panjalu!
"Ki Surobledug, apa jawabmu?" Tiba-tiba Retna Wilis bertanya, suaranya tetap halus namun mengandung desakan yang tak mungkin dapat ditangkis lagi.
Ki Surobledug menahan napas panjang. Tidak ada jalan lain baginya untuk mengelak dan menarik kembali kata-katanya dan karena ia merasa benar, ia tidak menjadi takut lalu berkata,
"Mohon ampun, Gusti Puteri. Sesungguhnya hamba pun mengerti akan tugas dan kewajiban hamba sebagai utusan, mengerti bahwa sebagai utusan hamba tidak boleh bicara mengemukakan pendapat pribadi hamba. Akan tetapi, hamba yakin bahwa pendapat hamba ini juga menjadi pendapat gusti adipati di Ponorogo. Kadipaten Ponorogo mengulurkan tangan kepada Kerajaan Wilis, apalagi mengingat bahwa kabarnya paduka adalah puteri dari Sang Puteri Endang Patibroto yang kami hormati, dan tentu saja Kadipaten Ponorogo mengakui kedaulatan paduka sebagai ratu di Wilis. Akan tetapi, kalau Kadipaten Ponorogo diajak untuk menyerang daerah Kadipaten di Panjalu, hal ini sama sekali tidak mungkin dapat dilakukan oleh Kadipaten Ponorogo."

Hening sejenak setelah ki warok itu bicara dengan suara lantang. Semua orang menjadi ngeri. Belum pernah ada orang berani menentang keputusan atau perintah sang ratu, karena menentang sedikit saja berarti mati dalam keadaan mengerikan. Semua orang menanti, dan mereka tidak akan heran kalau pada saat itu sang ratu menggerakkan tangan, sekali bergerak saja membunuh utusan itu dengan hawa pukulan tangannya. Akan tetapi, hanya terdengar Retna Wilis menarik napas panjang dan berkata,
"Ki Surobledug, apakah andika tidak mengenalku?"
Ki Surobledug mengangguk.
"Hamba .... mengenal paduka, Gusti Puteri yang sakti mandraguna."
"Engkau tahu betul bahwa sekali ada niat di hatiku, membunuhmu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tanganku?"
Kembali....Surobledug.... mengangguk.
"Hamba mengerti, Gusti."
Suara Retna Wilis meninggi, penuh wibawa,
"Kalau begitu, andika tentunya tidak buta untuk melihat bahwa Kadipaten Ponorogo tidak mungkin dapat menolak perintahku, tidak mungkin dapat menentangku? Menentangku berarti hancur lebur, Ki Surobledug!"
"Hamba mengerti, Gusti. Akan tetapi, negara yang besar harus memiliki pendirian sebagai seorang satria yang juga menjadi pendirian Sang Adipati Ponorogo. Kami adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kesetiaan. Biarpun hancur lebur, kalau Ponorogo tetap setia Panjalu, berarti hancur sebagai sebuah kerajaan besar. Apakah artinya hidup kalau menjadi pengkhianat? Ponorogo takkan pernah menjadi pengkhianat, Gusti."
"Eh, Ki Surobledug. Apakah pangkatmu di Ponorogo?"
"Hamba hanya seorang penasehat saja yang mengepalai warok-warok di Ponorogo.”
"Bagaimana andika begitu yakin bahwa pendirian Adipati Ponorogo sama dengan pendirianmu?"
"Sang adipati adalah keponakan hamba dan pendiriannya dalam hal ini tidak ada bedanya dengan pendirian hamba."
"Wah-wah-wah, si keparat Surobledug! Gusti Puteri, perkenankan hamba menghancurkan kepala warok sombong ini!" tiba-tiba Ki Walangkoro berkata dengan mata melotot.
Retna Wilis mengangkat tangan menyuruh patih muda itu diam, kemudian ia berkata kepada Surobledug,
"Alangkah mudahnya bagiku untuk membunuh andika dan anak buah andika, Surobledug. Dan alangkah mudahnya bagiku untuk menyerbu dan menghancurkan Ponorogo. Akan tetapi aku tidak akan membunuhmu dan aku masih memberi kesempatan kepada Ponorogo untuk mempertimbangkan perintahku. Aku kagum akan keberanianmu, akan tetapi juga geli hatiku menyaksikan kebodohanmu. Nah, sekarang pulanglah, andika, dan sampaikan kepada junjunganmu, juga keponakanmu, sang adipati di Ponorogo bahwa aku memberi waktu kepadanya selama satu bulan, dia sendiri harus datang menghadap padaku dan menyatakan ketaatannya akan perintahku, mempersiapkan bala tentara yang harus membantuku menaklukkan kadipaten-kadipaten lain di sebelah timur. Kalau dalam waktu sebulan dia tidak menghadap, berarti dia menentang dan jangan tanya tentang dosa kalau aku akan membikin Ponorogo menjadi karang abang (lautan api). Nah, pergilah engkau, bawa kembali barang-barangmu karena aku tidak membutuhkan persembahan orang yang tidak mau tunduk kepadaku!"

Surobledug maklum bahwa bicara lagi tidak akan ada gunanya, bahkan sama dengan bunuh diri, maka ia menyembah lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengangkat kembali barang-barang persembahan sebanyak tiga peti itu dan keluar dari halaman istana dan kembali menuruni lereng Wilis, kembali ke Ponorogo. Setibanya di Ponorogo, Ki Surobledug langsung menghadap kadipaten dan betapa kagetnya sang adipati dan para tokoh Ponorogo ketika mendengar laporan Ki Surobledug yang berkata dengan suara cemas,
"Waduh, celaka, Puteranda Adipati! Kiranya siluman betina itu benar-benar siluman murid Nini Bumigarba! Sungguh mengherankan bagai mana puteri dari Sang Puteri Endang Patibroto menjadi siluman betina seperti itu!" Dia lalu menuturkan semua pengalamannya ketika menghadap Ratu Wilis dan menutup penuturannya dengan kata-kata,
"Kita pasti akan digempur dan agaknya amatlah sukar mencari orang yang akan sanggup menandingi kesaktian Retna Wilis!"
Sang Adipati Diroprakosa mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang.
"Kita harus berusaha. Sikapmu benar sekali, Paman. Memang bagiku sendiri, lebih baik mati bersama kadipaten ini yang dihancurkan daripada hidup menjadi pengkhianat yang menyerang daerah Panjalu. Tidak ada lain jalan lagi, kita harus mempersiapkan barisan, menjaga kuat-kuat Kadipaten Ponorogo dan kita harus mencari bala bantuan orang-orang sakti."
Ponorogo lalu sibuk mengatur persiapan untuk menanggulangi ancaman bahaya hebat yang datangnya dari Kerajaan Wilis yang baru itu. Utusan-utusan dikirim ke pelbagai tempat untuk minta bantuan orang-orang sakti, di antaranya Panembahan Ki Ageng Kelud, para pertapa-pertapa dan orang-orang sakti lainnya. Juga ada utusan yang dikirim ke Kerajaan Panjalu untuk mencari bala bantuan, disertai surat dari Adipati Diroprakosa sendiri yang harus disampaikan secara pribadi kepada Ki Patih Tejolaksono karena menurut pendapat para tokoh Ponorogo, kiranya hanyalah Ki Patih Tejolaksono sajalah orangnya yang akan cukup kuat untuk menandingi Retna Wilis.

Ki Patih Tejolaksono baru saja kembali dari Jenggala bersama kedua orang isterinya dan dengan Bagus Seta. Setelah kekacauan di Jenggala dapat ditundukkan, Pangeran Panji Sigit diangkat menjadi raja di Jenggala dan pesta perayaan untuk menobatkan raja baru ini dimeriahkan dengan pesta pernikahan antara Joko Pramono dengan Pusporini. Joko Pramono diangkat menjadi patih di Jenggala! Setelah pesta selesai, Joko Pramono yang menjadi patih tinggal di Jenggala, di kepatihan. Permaisuri Jenggala yang tadinya diasingkan, kini kembali ke keraton sebagai ibu suri yang dihormati. Berbahagialah penghidupan Pangeran Panji Sigit yang kini menjadi Prabu Jenggala bersama Setyaningsih yang menjadi permaisurinya dan Joko Pramono yang menjadi patih di samping Pusporini.
"Nah, sekarang barulah lega hatiku," kata Tejolaksono ketika ia bersama Endang Patibroto, Ayu Candra, dan Bagus Seta duduk di ruangan belakang kepatihan Panjalu. Tejolaksono menghela napas panjang dan kelihatan gembira sekali.
"Setelah urusan di Jenggala beres, lapang dadaku dan kehidupan keluarga kita akan aman dan tenteram. Hanya sayang, anakku Retna Wilis belum juga dapat diketahui di mana adanya."
Endang Patibroto mengerutkan keningnya.
"Setelah keadaan beres, aku sendiri akan pergi mencarinya." Ayu Candra memegang lengan madunya dan berkata membujuk,
"Adinda Endang Patibroto, baru saja kita dapat berkumpul dalam keadaan damai dan tenteram, mengapa engkau hendak pergi lagi? Janganlah, Adinda. Biar nanti kita menyebar orang untuk mencari Retna Wilis. Setelah keadaan aman kembali, kiraku tidak akan begitu sukar lagi mencarinya. Hendaknya Adinda dapat memenuhi permintaanku ini agar keluarga kita dapat berkumpul dan kebahagiaan yang baru sekarang dapat kita kenyam ini tidak akan menjadi hambar."
Endang Patibroto memandang madunya, memandang suaminya dan memang hatinya merasa berat kalau dia disuruh berpisah lagi. Melihat keadaan orang-orang tua itu, Bagus Seta berkata,
"Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu berdua. Bagi mereka yang belum dapat membebaskan diri daripada belenggu, dunia ini penuh dengan suka duka. Penuh dengan kedukaan bagi mereka yang mau berduka, dan penuh dengan kesukaan bagi mereka yang mau bersuka. Suka dan duka timbul dari hati pribadi. Suka duka merupakan mata rantai yang sambung-menyambung dan tidak kunjung putus. Kalau kita sudah mau bersuka, kita harus siap untuk menerima duka. Segala peristiwa di dunia ini sudah diatur oleh hukum karma yang menjadi belenggu. Hanya mereka yang sudah sadar dan bebas barulah dapat melenyapkan pengaruh hukum karma atas dirinya. Saya harap Rama dan Ibu berdua suka selalu waspada, di samping ikhtiar, kita harus selalu menyandarkan segalanya kepada kekuasaan Maha Tinggi yang sudah mengatur semuanya. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan, sebaliknya tidak ada pula perpisahan tanpa pertemuan.

<<< Bagian 175                                                                                      Bagian 177 >>>

No comments:

Post a Comment