Perawan Lembah Wilis; Bagian 177


Karena ada persatuan maka timbul perpisahan, juga persatuan timbul dari perpisahan. Saya percaya akan datang saatnya kita semua bertemu dengan adinda Retna Wilis. Marilah kita sama berprihatin dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa semoga segala kekeliruan-kekeliruan kita diampuni dan semoga kita selalu diperingatkan agar tidak menyeleweng daripada Darma."
Tejolaksono memegang tangan puteranya dan memandang penuh keharuan.
"Ucapanmu memang benar, Puteraku. Akan tetapi, duh puteraku Bagus Seta, engkau masih begini muda akan tetapi seolah-olah sudah menjauhkan duniawi, Bagus Seta, apakah engkau tidak ingin menikmati kesenangan hidup di dunia ini?"
Ayu Candra juga memandang wajah puteranya dengan penuh iba. Ia mengerti akan maksud kata-kata suaminya, juga Endang Patibroto mengerti. Mereka bertiga memandang Bagus Seta yang masih begitu muda akan tetapi yang sudah mencapai taraf hidup seperti pendeta linuwih.

Bagus Seta tersenyum menyaksikan pandang mata penuh keprihatinan dan iba dari ketiga orang tua itu.
"Wahai, Kanjeng Rama dan kedua Ibunda yang tercinta! Tentu saja saya dapat menikmati kebahagiaan hidup. Akan tetapi saya tidak ingin karena keinginan menimbulkan kekecewaan dan siapa mengejar kesenangan akan bertemu dengan kesusahan. Betapapun indahnya api, kalau kita sudah tahu bahwa api itu panas membakar, mengapa kita hendak menjangkau dengan tangan? Saya tidak menjauhkan diri dari duniawi, Kanjeng Rama, karena saya sendiri adalah isi duniawi. Kalau sudah menjadi satu, mengapa dicari lagi? Mengapa mengejar bayangan yang menjadi satu dengan badan?"
Tiga orang itu mendengarkan dengan takjub, tak tahu harus berkata apa karena terpesona oleh ucapan-ucapan yang begitu dalam maknanya, yang sukar dimengerti oleh pikiran namun yang dapat menyentuh RASA.
"Duhai Puteraku Bagus Seta. Jawablah dengan sesungguhnya pertanyaanku ini dan aku akan puas sudah. Adakah engkau berbahagia, Anakku?"
Bagus Seta tersenyum lebar, lalu menjawab,
"Kanjeng Rama, apakah bahagia itu? Aku tidak butuh akan bahagia itu, Kanjeng Rama."
Mendengar javvaban ini, Tejolaksono seperti diingatkan dan bangkit berdiri dari tempat duduknya, merangkul puteranya dan berkata dengan suara menggetar,
"Aduh, Puteraku ...jawabanmu mengingatkan aku akan jawaban petani sederhana dahulu itu ... ! Ah, tentu engkau sudah lupa. Ketika engkau masih kecil, kuajak berburu binatang, di tengah jalan aku bertemu dengan seorang petani di tepi sawah. Ketika kutanya apakah dia berbahagia, dia juga menjawab sepertimu tadi. Tidak membutuhkan bahagia!"
Bagus Seta memimpin tangan ayahnya agar duduk kembali, kemudian ia berkata dengan wajah sungguh-sungguh,
"Dan dia itu benar, Kanjeng Rama! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan bahagia! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan apa-apa! Mengapa butuh? Mengapa mengharapkan sesuatu? Mengapamenginginkan sesuatu? Barang apa yang diinginkan memang indah, akan tetapi sekali terdapat akan lenyap keindahannya. Yang tidak membutuhkan sesuatu berarti sudah mendapatkan semuanya, Kanjeng Rama! Adakah manusia yang lebih suci dan lebih bahagia daripada seorang bayi? Karena bayi tidak menginginkan sesuatu, tidak membutuhkan sesuatu, dialah manusia paling bahagia. WAJAR itullah BAHAGIA! HIDUP itulah BAHACIA! Kalau saya ditanya apakah saya senang atau susah, dengan segala kesungguhan hati saya akan menjawab bahwa saya tidak senang juga tidak susah, tidak duka juga tidak suka. Segala peristiwa yang terjadi adalah wajar dan sudah semestinya. Untuk menghadapi setiap peristiwa, kita dianugerahi akal budi dan pikiran yang boleh kita pergunakan sebagai hak kita: Menghadapi urusan yang tidak benar boleh kita benarkan dengan alat dan panca indera kita, dan ini menjadi kewajiban kita. Kalau ada orang yang suka menikmati kesenangan, boleh saja karena kesenangan yang dapat dinikmatinya itu pun merupakan anugerah, hanya dia pun harus siap pula merasakan kesusahan yang menjadi saudara kembar kesenangannya. Ah, kiranya Kanjeng Rama dan Kanjeng lbu berdua sudah cukup maklum akan pengertian ini, karena saya sendiri pun hanya mengulang saja."

Tejolaksono dan kedua orang isterinya adalah orang-orang yang selain sakti mandraguna, juga sudah banyak mempelajari soal-soal kebatinan, maka tentu saja mereka dapat mengerti ucapan putera mereka itu dan dapat menyelami isinya. Mereka menjadi kagum sekali dan sedikitpun tidak dapat menyalahkan pendirian putera mereka. Dan ternyata kemudian bahwa ucapan putera mereka itu selain mengandung filsafat yang mempunyai makna amat dalam, juga mengandung ramalan atau peringatan yang tepat.
Hal ini ternyata ketika tiba utusan dari Ponorogo yang minta bantuan Panjalu karena kadipaten itu terancam oleh Kerajaan Wilis.
"Kerajaan Wilis?" Endang Patibroto berseru kaget ketika mendengar berita itu.
"Apa artinya ini? Wilis adalah wilayah Padepokan Wilis, tidak ada kerajaan di sana!"
"Sudah terlalu lama Adinda meninggalkan Wilis, siapa tahu akan perubahan yang terjadi di sana? Akan tetapi kurasa surat dari Adipati Diroprakosa yang ditujukan secara pribadi kepadaku ini akan membuka rahasia itu."
Tejolaksono membaca surat itu, dipandang oleh Bagus seta yang bersikap tenang sekali dan oleh kedua orang isterinya yang memandang dengan rasa ingin tahu benar. Kedua orang wanita itu kaget sekali ketika melihat betapa wajah suami mereka berubah, sebentar pucat dan sebentar merah. Setelah selesai membaca surat itu, terdengar ki patih mengerang perlahan dan kemudian seolah-olah menekan hatinya ia menarik napas panjang dan memandang kedua orang isterinya dengan mata seperti orang bingung.
"Apakah yang terjadi?" Endang Patibroto bertanya.
"Apakah isi surat itu?" Ayu Candra juga bertanya.
"Kalian bacalah sendiri, hanya kuminta agar engkau bersikap tenang dan kuatkan hatimu, Adinda Endang Patibroto."
Endang Patibroto adalah seorang yang berwatak keras dan penuh semangat yang menyala-nyala. Mendengar ucapan suaminya itu, secepat kilat ia menerima surat itu dan membacanya bersama Ayu Candra. Ketika ia membaca penuturan Adipati Diroprakosa yang minta bantuan Tejolaksono karena Ponorogo terancam bahaya hebat dari Wilis yang kini merupakan kerajaan yang dikepalai oleh Ratu Wilis yang bernama Puteri Retna Wilis, wajah Endang Patibroto menjadi merah sekali, sedangkan Ayu Candra membaca dengan wajah pucat, kemudian memandang suaminya dengan mata terbelalak.
"Bedebah nenek siluman itu!" Endang Patibroto mengepal tangannya dengan wajah mangar-mangar (kemerahan).
"Dia telah merusak anakku, menyeratnya ke dalam kesesatan!"
"Hemm, harap jangan marah dulu, Diajeng. Kita belum menyaksikannya dengan mata sendiri. Andaikata benar terjadi seperti laporan itu, yaitu bahwa Retna Wilis membentuk kerajaan di Wilis dan hendak menaklukkan seluruh kadipaten dan kerajaan yang ada, tentu ada sebab-sebabnya. Sebaiknya mari kita semua berangkat ke Wilis dan menemuinya. Kurasa setelah bertemu dengan engkau dan aku, setelah mendengar nasehat-nasehat kita, dia akan mengubah kemauannya yang aneh itu."
"Tidak, Kakanda. Biarlah sekarang juga saya berangkat sendiri ke Wilis. Wilis adalah tempatku, dan anak buah di sana semua tunduk kepadaku. Biar kudatangi Retna Wilis dan kubawa dia ke sini!"

Tejolaksono yang belum pernah melihat puterinya, mengangguk-angguk karena dia belum tahu akan watak puterinya itu, akan tetapi melihat watak ibunya, agaknya watak Retna Wilis tidak akan jauh bedanya, tentu keras hati dan keras kepala. Kalau mereka semua datang, mungkin akan menimbulkan rasa malu sehingga bangkit wataknya yang keras dan nekat! Watak Endang Patibroto dahulu juga begitu, kalau dilarang dengan kekerasan, siapapun akan ditantang!
"Bagaimana pendapatmu, puteraku Bagus Seta?" Biarpun pemuda itu puteranya, namun Tejolaksono maklum bahwa di antara mereka semua, Bagus Seta inilah merupakan orang yang paling boleh diandalkan pendapatnya.
"Ibunda Endang Patibroto benar sekali kalau Ibunda saja yang pergi membujuk adinda Retna Wilis. Ada akibat tentu ada sebabnya, dan perbuatan adinda Retna Wilis membangun kerajaan dan membangkitkan perang tentu ada sebab-sebabnya pula."
Dengan hati tidak karuan rasanya, kemarahan yang ditahan-tahan dan juga kegirangan tersembunyi karena akan bertemu dengan puterinya yang hilang, Endang Patibroto berangkat ke Wilis. Dia melakukan perjalanan cepat dengan menunggang seekor kuda yang besar dan baik. Tidak ada seorang pun pengikut dibawanya karena dalam keadaan seperti itu, Endang Patibroto kembali menjadi seorang pendekar wanita yang perkasa. Biarpun usianya sudah makin tua, sudah empat puluh lima tahun, namun ketika wanita ini menunggang kuda dan membalapkan kudanya ini, wajahnya masih halus tanpa keriput dan kemerah-merahan, rambutnya berkibar panjang dan masih hitam mulus, dari jauh ia tampak seperti seorang wanita muda yang selain cantik jelita, juga gagah perkasa! Saking hebatnya gelora dalam hatinya mendengar bahwa puterinya yang hilang, yang selama ini membuat hidupnya merana, kini telah kembali ke Wilis dan menjadi ratu yang hendak menaklukkan semua kerajaan, Endang Patibroto tidak lagi mau berhenti untuk mencari berita. Terus saja ia membalapkan kudanya menuju ke gunung Wilis. Hatinya penuh dengan rasa rindu, kegirangan yang bercampur dengan kemarahan sehingga ia lupa pula bahwa kudanya, betapapun baiknya, tidak memiliki daya tahan seperti tubuhnya yang terlatih. Setelah kudanya itu roboh terguling barulah Endang Patibroto teringat bahwa ia telah membalapkan kudanya selama sehari semalam tanpa henti. Ia meloncat ketika kudanya terguling dan melihat bahwa kuda itu tak dapat tertolong lagi. Akan tetapi gairah hatinya membuat ia enggan menghentikan perjalanannya karena kuda ini. Ia menyambar buntalan bekal pakaiannya lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan aji kesaktian herlari secepat kijang.
Dua hari kemudian tibalah Endang Patibroto di kaki gunung Wilis. Hari masih pagi sekali dan dia merasa tubuhnya amat lelah, akan tetapi karena keinginan hatinya untuk segera berhadapan dengan puterinya, ia tidak berhenti dan terus mendaki gunung itu. Ketika ia berlari sampai ke lereng bukit, ia bertemu dengan sepasukan prajurit Wilis. Sungguh sial bagi nasib pasukan yang jumlahnya sepuluh orang ini karena mereka adalah prajurit-prajurit baru yang tidak mengenal Endang Patibroto. Ketika mereka melihat seorang wanita cantik berjalan cepat mendaki lereng, mereka lalu menghadang dan seorang di antara mereka berseru,
"Heh, engkau ini wanita dari mana dan siapa berani mendaki lereng Wilis?" Endang Patibroto memandang penuh perhatian.
Ia melihat sepuluh orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hijau yang gagah, akan tetapi sikap mereka jauh sekali bedanya dengan anak buahnya dahulu. Dahulu ia menanamkan watak satria, melarang keras anak buahnya dengan ancaman hukuman mati bagi anak buahnya yang berani mengganggu wanita. Akan tetapi sepuluh orang ini memandangnya dengan sinar mata penuh nafsu dan gairah. Bahkan yang memimpin pasukan itu menyeringai kepadanya.
"Aku hendak bertemu dengan Ratu Wilis. Kalian ini siapakah?"

Endang Patibroto balas tanya tanpa menyebutkan namanya, sikapnya angkuh dan galak. Mendengar ada orang wanita yang begitu saja hendak bertemu dengan ratu mereka, tanpa menyebut gusti dan sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat, sepuluh orang itu menjadi marah dan pemimpin mereka tertawa bergelak.
"Wah-wah, dari mana datangnya wanita yang miring otaknya ini? Eman-eman (sayang) sekali, begini cantik jelita kok miring otaknya. Marilah manis, mari kuobati penyakitmu, mari sini, engkau akan terobati dalam pelukanku. Apakah sudah terlalu lama engkau menjanda sehingga kekeringan dan kesepian membuatmu menjadi gila?" Laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak meraih tubuh Endang Patibroto.
Endang Patibroto hanya mengeluarkan suara mendengus "hemmm .....!!", kakinya bergerak seperti kilat menyambar dan terdengar suara "krekkk!" disusul menjeritnya laki-laki itu karena tulang lengannya patah-patah dan remuk di bagian yang dicium kaki Endang Patibroto!
"Aduh tanganku ...lenganku !” Laki-Iaki itu mengeluh dan memegangi lengan kanannya dengan tangan kiri.
"Keparat, mampuslah!" Endang Patibroto membentak dan kembali tubuhnya bergerak, kini jari tangannya yang menyambar dengan tempilingan keras ke arah kepala orang itu.
"Prokk!" Kepala itu remuk dan otaknya muncrat bersama darah, tubuhnya terkulai tak bernyawa lagi!
Melihat ini, sembilan orang anak buah pasukan itu menjadi marah bukan main. Mereka membentak,
"Perempuan gila!" Dan mereka telah menerjang maju dengan senjata golok mereka. Endang Patibroto menjadi makin marah. Sebenarnya wanita ini sudah banyak berubah semenjak ia berdekatan dengan suaminya, Ki Patih Tejolaksono. Wataknya yang keras sudah agak jinak, dan kalau saja ia tidak berada dalam keadaan begitu marah terhadap puterinya, kiranya ia akan dapat mengampuni orang-orang ini. Akan tetapi ia sedang marah dan kecewa mendengar tentang puterinya, apalagi ketika melihat kenyataan betapa anak buah puterinya begini buruk wataknya, kemarahannya terhadap puterinya memuncak dan ia timpakan semua kepada orang-orang sial itu.

<<< Bagian 176                                                                                      Bagian 178 >>>

No comments:

Post a Comment