Karena ada persatuan maka timbul perpisahan, juga persatuan timbul dari perpisahan. Saya percaya akan datang saatnya kita semua bertemu dengan adinda Retna Wilis. Marilah kita sama berprihatin dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa semoga segala kekeliruan-kekeliruan kita diampuni dan semoga kita selalu diperingatkan agar tidak menyeleweng daripada Darma."
Tejolaksono memegang tangan
puteranya dan memandang penuh keharuan.
"Ucapanmu memang benar,
Puteraku. Akan tetapi, duh puteraku Bagus Seta, engkau masih begini muda akan
tetapi seolah-olah sudah menjauhkan duniawi, Bagus Seta, apakah engkau tidak
ingin menikmati kesenangan hidup di dunia ini?"
Ayu Candra juga memandang
wajah puteranya dengan penuh iba. Ia mengerti akan maksud kata-kata suaminya,
juga Endang Patibroto mengerti. Mereka bertiga memandang Bagus Seta yang masih
begitu muda akan tetapi yang sudah mencapai taraf hidup seperti pendeta
linuwih.
Bagus Seta tersenyum
menyaksikan pandang mata penuh keprihatinan dan iba dari ketiga orang tua itu.
"Wahai, Kanjeng Rama
dan kedua Ibunda yang tercinta! Tentu saja saya dapat menikmati kebahagiaan
hidup. Akan tetapi saya tidak ingin karena keinginan menimbulkan kekecewaan dan
siapa mengejar kesenangan akan bertemu dengan kesusahan. Betapapun indahnya
api, kalau kita sudah tahu bahwa api itu panas membakar, mengapa kita hendak
menjangkau dengan tangan? Saya tidak menjauhkan diri dari duniawi, Kanjeng
Rama, karena saya sendiri adalah isi duniawi. Kalau sudah menjadi satu, mengapa
dicari lagi? Mengapa mengejar bayangan yang menjadi satu dengan badan?"
Tiga orang itu mendengarkan
dengan takjub, tak tahu harus berkata apa karena terpesona oleh ucapan-ucapan
yang begitu dalam maknanya, yang sukar dimengerti oleh pikiran namun yang dapat
menyentuh RASA.
"Duhai Puteraku Bagus
Seta. Jawablah dengan sesungguhnya pertanyaanku ini dan aku akan puas sudah.
Adakah engkau berbahagia, Anakku?"
Bagus Seta tersenyum lebar,
lalu menjawab,
"Kanjeng Rama, apakah
bahagia itu? Aku tidak butuh akan bahagia itu, Kanjeng Rama."
Mendengar javvaban ini,
Tejolaksono seperti diingatkan dan bangkit berdiri dari tempat duduknya,
merangkul puteranya dan berkata dengan suara menggetar,
"Aduh, Puteraku
...jawabanmu mengingatkan aku akan jawaban petani sederhana dahulu itu ... !
Ah, tentu engkau sudah lupa. Ketika engkau masih kecil, kuajak berburu
binatang, di tengah jalan aku bertemu dengan seorang petani di tepi sawah.
Ketika kutanya apakah dia berbahagia, dia juga menjawab sepertimu tadi. Tidak
membutuhkan bahagia!"
Bagus Seta memimpin tangan
ayahnya agar duduk kembali, kemudian ia berkata dengan wajah sungguh-sungguh,
"Dan dia itu benar,
Kanjeng Rama! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan bahagia!
Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan apa-apa! Mengapa butuh? Mengapa
mengharapkan sesuatu? Mengapamenginginkan sesuatu? Barang apa yang diinginkan
memang indah, akan tetapi sekali terdapat akan lenyap keindahannya. Yang tidak
membutuhkan sesuatu berarti sudah mendapatkan semuanya, Kanjeng Rama! Adakah
manusia yang lebih suci dan lebih bahagia daripada seorang bayi? Karena bayi
tidak menginginkan sesuatu, tidak membutuhkan sesuatu, dialah manusia paling
bahagia. WAJAR itullah BAHAGIA! HIDUP itulah BAHACIA! Kalau saya ditanya apakah
saya senang atau susah, dengan segala kesungguhan hati saya akan menjawab bahwa
saya tidak senang juga tidak susah, tidak duka juga tidak suka. Segala
peristiwa yang terjadi adalah wajar dan sudah semestinya. Untuk menghadapi
setiap peristiwa, kita dianugerahi akal budi dan pikiran yang boleh kita
pergunakan sebagai hak kita: Menghadapi urusan yang tidak benar boleh kita
benarkan dengan alat dan panca indera kita, dan ini menjadi kewajiban kita.
Kalau ada orang yang suka menikmati kesenangan, boleh saja karena kesenangan
yang dapat dinikmatinya itu pun merupakan anugerah, hanya dia pun harus siap
pula merasakan kesusahan yang menjadi saudara kembar kesenangannya. Ah, kiranya
Kanjeng Rama dan Kanjeng lbu berdua sudah cukup maklum akan pengertian ini,
karena saya sendiri pun hanya mengulang saja."
Tejolaksono dan kedua orang
isterinya adalah orang-orang yang selain sakti mandraguna, juga sudah banyak
mempelajari soal-soal kebatinan, maka tentu saja mereka dapat mengerti ucapan
putera mereka itu dan dapat menyelami isinya. Mereka menjadi kagum sekali dan
sedikitpun tidak dapat menyalahkan pendirian putera mereka. Dan ternyata
kemudian bahwa ucapan putera mereka itu selain mengandung filsafat yang
mempunyai makna amat dalam, juga mengandung ramalan atau peringatan yang tepat.
Hal ini ternyata ketika tiba
utusan dari Ponorogo yang minta bantuan Panjalu karena kadipaten itu terancam
oleh Kerajaan Wilis.
"Kerajaan Wilis?"
Endang Patibroto berseru kaget ketika mendengar berita itu.
"Apa artinya ini? Wilis
adalah wilayah Padepokan Wilis, tidak ada kerajaan di sana!"
"Sudah terlalu lama
Adinda meninggalkan Wilis, siapa tahu akan perubahan yang terjadi di sana? Akan
tetapi kurasa surat dari Adipati Diroprakosa yang ditujukan secara pribadi
kepadaku ini akan membuka rahasia itu."
Tejolaksono membaca surat
itu, dipandang oleh Bagus seta yang bersikap tenang sekali dan oleh kedua orang
isterinya yang memandang dengan rasa ingin tahu benar. Kedua orang wanita itu
kaget sekali ketika melihat betapa wajah suami mereka berubah, sebentar pucat
dan sebentar merah. Setelah selesai membaca surat itu, terdengar ki patih
mengerang perlahan dan kemudian seolah-olah menekan hatinya ia menarik napas
panjang dan memandang kedua orang isterinya dengan mata seperti orang bingung.
"Apakah yang
terjadi?" Endang Patibroto bertanya.
"Apakah isi surat
itu?" Ayu Candra juga bertanya.
"Kalian bacalah
sendiri, hanya kuminta agar engkau bersikap tenang dan kuatkan hatimu, Adinda
Endang Patibroto."
Endang Patibroto adalah
seorang yang berwatak keras dan penuh semangat yang menyala-nyala. Mendengar
ucapan suaminya itu, secepat kilat ia menerima surat itu dan membacanya bersama
Ayu Candra. Ketika ia membaca penuturan Adipati Diroprakosa yang minta bantuan
Tejolaksono karena Ponorogo terancam bahaya hebat dari Wilis yang kini merupakan
kerajaan yang dikepalai oleh Ratu Wilis yang bernama Puteri Retna Wilis, wajah
Endang Patibroto menjadi merah sekali, sedangkan Ayu Candra membaca dengan
wajah pucat, kemudian memandang suaminya dengan mata terbelalak.
"Bedebah nenek siluman
itu!" Endang Patibroto mengepal tangannya dengan wajah mangar-mangar
(kemerahan).
"Dia telah merusak
anakku, menyeratnya ke dalam kesesatan!"
"Hemm, harap jangan
marah dulu, Diajeng. Kita belum menyaksikannya dengan mata sendiri. Andaikata
benar terjadi seperti laporan itu, yaitu bahwa Retna Wilis membentuk kerajaan
di Wilis dan hendak menaklukkan seluruh kadipaten dan kerajaan yang ada, tentu
ada sebab-sebabnya. Sebaiknya mari kita semua berangkat ke Wilis dan
menemuinya. Kurasa setelah bertemu dengan engkau dan aku, setelah mendengar
nasehat-nasehat kita, dia akan mengubah kemauannya yang aneh itu."
"Tidak, Kakanda.
Biarlah sekarang juga saya berangkat sendiri ke Wilis. Wilis adalah tempatku,
dan anak buah di sana semua tunduk kepadaku. Biar kudatangi Retna Wilis dan
kubawa dia ke sini!"
Tejolaksono yang belum
pernah melihat puterinya, mengangguk-angguk karena dia belum tahu akan watak
puterinya itu, akan tetapi melihat watak ibunya, agaknya watak Retna Wilis
tidak akan jauh bedanya, tentu keras hati dan keras kepala. Kalau mereka semua
datang, mungkin akan menimbulkan rasa malu sehingga bangkit wataknya yang keras
dan nekat! Watak Endang Patibroto dahulu juga begitu, kalau dilarang dengan
kekerasan, siapapun akan ditantang!
"Bagaimana pendapatmu,
puteraku Bagus Seta?" Biarpun pemuda itu puteranya, namun Tejolaksono
maklum bahwa di antara mereka semua, Bagus Seta inilah merupakan orang yang
paling boleh diandalkan pendapatnya.
"Ibunda Endang
Patibroto benar sekali kalau Ibunda saja yang pergi membujuk adinda Retna
Wilis. Ada akibat tentu ada sebabnya, dan perbuatan adinda Retna Wilis
membangun kerajaan dan membangkitkan perang tentu ada sebab-sebabnya
pula."
Dengan hati tidak karuan
rasanya, kemarahan yang ditahan-tahan dan juga kegirangan tersembunyi karena
akan bertemu dengan puterinya yang hilang, Endang Patibroto berangkat ke Wilis.
Dia melakukan perjalanan cepat dengan menunggang seekor kuda yang besar dan
baik. Tidak ada seorang pun pengikut dibawanya karena dalam keadaan seperti
itu, Endang Patibroto kembali menjadi seorang pendekar wanita yang perkasa.
Biarpun usianya sudah makin tua, sudah empat puluh lima tahun, namun ketika
wanita ini menunggang kuda dan membalapkan kudanya ini, wajahnya masih halus
tanpa keriput dan kemerah-merahan, rambutnya berkibar panjang dan masih hitam
mulus, dari jauh ia tampak seperti seorang wanita muda yang selain cantik
jelita, juga gagah perkasa! Saking hebatnya gelora dalam hatinya mendengar
bahwa puterinya yang hilang, yang selama ini membuat hidupnya merana, kini
telah kembali ke Wilis dan menjadi ratu yang hendak menaklukkan semua kerajaan,
Endang Patibroto tidak lagi mau berhenti untuk mencari berita. Terus saja ia
membalapkan kudanya menuju ke gunung Wilis. Hatinya penuh dengan rasa rindu,
kegirangan yang bercampur dengan kemarahan sehingga ia lupa pula bahwa kudanya,
betapapun baiknya, tidak memiliki daya tahan seperti tubuhnya yang terlatih.
Setelah kudanya itu roboh terguling barulah Endang Patibroto teringat bahwa ia
telah membalapkan kudanya selama sehari semalam tanpa henti. Ia meloncat ketika
kudanya terguling dan melihat bahwa kuda itu tak dapat tertolong lagi. Akan
tetapi gairah hatinya membuat ia enggan menghentikan perjalanannya karena kuda
ini. Ia menyambar buntalan bekal pakaiannya lalu melanjutkan perjalanan dengan
menggunakan aji kesaktian herlari secepat kijang.
Dua hari kemudian tibalah
Endang Patibroto di kaki gunung Wilis. Hari masih pagi sekali dan dia merasa
tubuhnya amat lelah, akan tetapi karena keinginan hatinya untuk segera
berhadapan dengan puterinya, ia tidak berhenti dan terus mendaki gunung itu.
Ketika ia berlari sampai ke lereng bukit, ia bertemu dengan sepasukan prajurit
Wilis. Sungguh sial bagi nasib pasukan yang jumlahnya sepuluh orang ini karena
mereka adalah prajurit-prajurit baru yang tidak mengenal Endang Patibroto.
Ketika mereka melihat seorang wanita cantik berjalan cepat mendaki lereng,
mereka lalu menghadang dan seorang di antara mereka berseru,
"Heh, engkau ini wanita
dari mana dan siapa berani mendaki lereng Wilis?" Endang Patibroto memandang
penuh perhatian.
Ia melihat sepuluh orang
laki-laki tinggi besar berpakaian serba hijau yang gagah, akan tetapi sikap
mereka jauh sekali bedanya dengan anak buahnya dahulu. Dahulu ia menanamkan
watak satria, melarang keras anak buahnya dengan ancaman hukuman mati bagi anak
buahnya yang berani mengganggu wanita. Akan tetapi sepuluh orang ini
memandangnya dengan sinar mata penuh nafsu dan gairah. Bahkan yang memimpin
pasukan itu menyeringai kepadanya.
"Aku hendak bertemu
dengan Ratu Wilis. Kalian ini siapakah?"
Endang Patibroto balas tanya
tanpa menyebutkan namanya, sikapnya angkuh dan galak. Mendengar ada orang
wanita yang begitu saja hendak bertemu dengan ratu mereka, tanpa menyebut gusti
dan sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat, sepuluh orang itu
menjadi marah dan pemimpin mereka tertawa bergelak.
"Wah-wah, dari mana
datangnya wanita yang miring otaknya ini? Eman-eman (sayang) sekali, begini
cantik jelita kok miring otaknya. Marilah manis, mari kuobati penyakitmu, mari
sini, engkau akan terobati dalam pelukanku. Apakah sudah terlalu lama engkau
menjanda sehingga kekeringan dan kesepian membuatmu menjadi gila?"
Laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak meraih tubuh Endang Patibroto.
Endang Patibroto hanya
mengeluarkan suara mendengus "hemmm .....!!", kakinya bergerak
seperti kilat menyambar dan terdengar suara "krekkk!" disusul
menjeritnya laki-laki itu karena tulang lengannya patah-patah dan remuk di
bagian yang dicium kaki Endang Patibroto!
"Aduh tanganku
...lenganku !” Laki-Iaki itu mengeluh dan memegangi lengan kanannya dengan
tangan kiri.
"Keparat,
mampuslah!" Endang Patibroto membentak dan kembali tubuhnya bergerak, kini
jari tangannya yang menyambar dengan tempilingan keras ke arah kepala orang
itu.
"Prokk!" Kepala
itu remuk dan otaknya muncrat bersama darah, tubuhnya terkulai tak bernyawa
lagi!
Melihat ini, sembilan orang
anak buah pasukan itu menjadi marah bukan main. Mereka membentak,
"Perempuan
gila!" Dan mereka telah menerjang maju dengan senjata golok mereka. Endang
Patibroto menjadi makin marah. Sebenarnya wanita ini sudah banyak berubah
semenjak ia berdekatan dengan suaminya, Ki Patih Tejolaksono. Wataknya yang
keras sudah agak jinak, dan kalau saja ia tidak berada dalam keadaan begitu
marah terhadap puterinya, kiranya ia akan dapat mengampuni orang-orang ini.
Akan tetapi ia sedang marah dan kecewa mendengar tentang puterinya, apalagi
ketika melihat kenyataan betapa anak buah puterinya begini buruk wataknya,
kemarahannya terhadap puterinya memuncak dan ia timpakan semua kepada
orang-orang sial itu.
No comments:
Post a Comment