Perawan Lembah Wilis; Bagian 178


Melihat mereka maju dengan golok terhunus, ia mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya berkelebat menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika tubuh sembilan orang itu berturut-turut roboh dengan kepala pecah semua dan tewas di saat itu juga. Betapa mereka dapat bertahan menghadapi tamparan-tamparan yang mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila itu? Tubuh orang itu mati dalam keadaan utuh, akan tetapi kepalanya hancur semua sehingga sukar untuk mengenal mereka lagi. Darah dan otak mengotori rumput-rumput hijau dan keadaan di situ sungguh amat mengerikan. Munculnya pasukan lain yang lebih besar, ada tiga puluh orang jumlahnya, membuat Endang Patibroto menjadi lebih beringas lagi. Kalau perlu, akan dibasminya semua orang-orang yang mencemarkan nama Wilis ini! Dia sudah meloncat ke depan dan berseru,
"Manusia-manusia biadab, majulah kalian semua! Saat ini adalah saat kematian kalian semua!"

Tiba-tiba seorang di antara mereka berseru,
"Gusti Puteri Endang Patibroto ....!!" orang itu segera menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh teman-temannya yang segera mengenal wanita sakti itu. Mereka yang tidak pernah melihat Endang Patibroto karena mereka adalah orang-orang baru, begitu mendengar disebutnya nama ini dan melihat teman-temannya berlutut, segera membuang golok dan berlutut pula. Mereka sudah mendengar bahwa Endang Patibroto adalah pendiri Padepokan Wilis, dan bahkan menjadi ibu dari ratu, mereka!
Dengan napas terengah-engah saking marahnya, Endang Patibroto memandang beberapa wajah yang dikenalnya dan ia membentak, "Bedebah kalian semua! Di mana Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis? Hayo suruh mereka cepat menghadap aku di sini!"
Sementara itu dari jarak yang jauh, ada orang yang menonton peristiwa ini dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Kemudian orang ini diam-diam menyelinap di antara gerombolan pohon dan melarikan diri dari tempat itu. Orang ini bukan lain adalah Ki Patih Adiwijaya atau Warutama atau Sindupati! Dari jauh ia mendengar suara ribut-ribut dan dia sudah lari menghampiri. Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, ia merasa seolah-olah jantungnya menjadi beku dan hampir ia terkencing-kencing saking takutnya.
Kebetulan sekali ketiga orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembantu Endang Patibroto, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, berada tidak jauh dari lereng itu. Mendengar suara ribut-ribut mereka cepat berlari menghampiri dan ketika melihat Endang Patibroto berdiri tegak dan didekatnya ada mayat sepuluh orang perajurit Wilis yang kepalanya remuk semua, mereka menjadi pucat dan cepat lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Endang Patibroto.
"Gusti Puteri ....!!"
Melihat ketiga orang bekas pembantunya yang ia pasrahi Padepokan Wilis Endang Ptibroto menggeget giginya menahan marah.
"Hemm, apakah yang kalian bertiga telah lakukan? Apakah yang merubah keadaan Wilis? Beginikah kalian menjalankan kewajiban kalian membawa para satria Wilis, menjadi gerombolan-gerombolan manusia biadab?" Sambil berkata demikian, kaki Endang Patibroto bergerak dan cepat sekali kaki itu sudah menendangi tubuh ketiga orang tokoh Wilis itu sehingga mereka bertiga jatuh bergulingan. Tentu saja Endang Patibroto tidak mempergunakan seluruh tenaga, karena kalau hal ini ia lakukan, tentu ketiga orang itu telah tewas dengan sekali tendang saja. Namun tendangan yang bagi Endang Patibroto perlahan saja itu, bagi ketiga orang saudara Wilis ini merupakan sambaran halilintar yang membuat mereka mengaduh-aduh sambil memegangi kepala mereka.
"Aduh, Gusti Puteri .... !" Mereka bersambat.
"Plak-plak-plak!" Kembali Endang Patibroto menendang disusul makian-makiannya,
"Kalian semestinya dibunuh! Kalian tidak patut dibiarkan hidup. Keparat kalian, Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis!"
"Aduh tobat ...!” Limanwilis mengeluh dan roboh terlentang.
"Ampun, Gusti ...., ampunkan hamba !" Lembuwilis juga roboh terlentang dan menutupi mukanya seperti orang menangis.
"Aduhhh ....Gusti Puteri ...aduh, bunuh saja hamba" Nogowilis meraung-raung karena hampir tidak kuat menahan rasa nyeri terkena tendangan kedua kalinya ini.
"Memang aku akan bunuh kalian! Aku akan bunuh kalian dengan tendangan ke tiga kalau kalian tidak lekas menceritakan apa yang telah kalian perbuat di sini!"

Tiga orang itu masih mengaduh-aduh karena belum mampu bercerita ketika pada saat itu terdengar bentakan nyaring,
"Eh-eh, iblis dari mana berani datang mengacau di sini?"
Endang Patibroto memandang dengan mata beringas. Yang muncul ini adalah ki patih muda dari Wilis, yaitu Ki Walangkoro sendiri. Ketika laki-laki tinggi besar ini melihat seorang wanita menghajar ketiga orang pembantunya dan melihat sepuluh orang anak buahnya menggeletak dengan kepala pecah, melihat puluhan orang prajurit Wilis lainnya berlutut dengan mata terbelalak dan muka pucat ketakutan, ia menjadi marah sekali.
"Setan alas! Engkaulah yang menjadi biang keladi di sini? Engkau kepala di sini, keparat jahanam?" Endang Patibroto memaki dengan suara mendesis-desis saking marahnya.
"Eh-eh, babo-babo si wanita keparat! Berani engkau menghina Ki Walangkoro, patih muda Kerajaan Wilis?" Ki Walangkoro marah sekali dan menerjang maju. Akan tetapi Endang Patibroto tidak menanti dia diserang, karena dia pun sudah menerjang maju memapaki dengan pukulan tangannya, sedangkan tangan yang kiri menangkis lengan lawan.
"Plak-desss ......!!”
"Aduhhhh ....!" Ki Walangkoro terjengkang dan menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas. Memang panas rasa dadanya yang terkena pukulan tangan Endang Patibroto karena wanita sakti ini menggunakan Aji Wisangnolo yang panasnya melebihi kawah Candradimuka! Kalau saja Ki Walangkoro tidak memandang rendah, tentu dia lebih berhati-hati menghadapi wanita sakti itu. Betapapun hebatnya, terkena pukulan Wisangnolo ia seperti cacing terkena abu panas, menggeliat-geliat dan mengaduh-aduh, sukar untuk bangun kembali sungguhpun kekebalannya telah melindunginya. Kalau ia tidak kebal sekali, tentu telah gosong dadanya dan melayang nyawanya terkena pukulan ampuh itu.
"Aduh, Gusti Puteri, ampunkan hamba....sesungguhnya, hamba bertiga hanyalah terpaksa. Mula-mula, setelah paduka pergi, kami melakukan tugas seperti yang paduka perintahkan ..." Lembuwilis mulai bercerita setelah ia berhasil bangkit dan duduk bersila sambil menyembah-nyembah.
"Akan tetapi kemudian muncul Ki Walangkoro ini, kami tidak sanggup melawannya. Kami dikalahkan dan kedudukan di Wilis dia rampas. Padepokan Wilis diganti menjadi Gerombolan Wilis. Kami tidak berdaya ..”

Melihat betapa raksasa tinggi besar ini tidak tewas oleh pukulannya. Endang Patibroto percaya bahwa ketiga orang Wilis ini tidak akan mampu menandingi si tinggi besar itu.
"Kemudian bagaimana .....?” bentaknya.
"Lalu, aduhhh .... dada hamba....” Limanwilis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Melihat ini Lembuwilis yang sudah bangkit lalu melanjutkan,
"Hamba bertiga dipaksa menjadi anak buahnya. Kemudian, beberapa bulan yang lalu muncullah Gusti Puteri Retna Wilis ...ya ....puteri paduka yang lenyap dulu ...“
"Lanjutkan!" bentak Endang Patibroto seolah-olah mendengar pernyataan bahwa Retna Wilis adalah puterinya membuat hatinya tertusuk.
"Beliau telah menjadi seorang yang amat sakti, Gusti. Dengan mudah Ki Walangkoro ditaklukkan, kemudian malah dijadikan patih muda dan sekarang gusti Retna Wilis membangun sebuah kerajaan Wilis ...”
"Hemmm ........ , keparat ini pun bertanggung jawab!" Endang Patibroto berseru marah, sekali meloncat ia telah berada dekat tubuh Ki Walangkoro yang kini sudah merangkak bangun. Akan tetapi sebelum Ki Walangkoro sempat berdiri, Endang Patibroto mengayun tangannya. Sebuah pukulan dengan Aji Pethit Nogo menyambar kepala bekas pemimpin Gerombolan Wilis.
"Dukkk!" Berkat aji kekabalan yang amat kuat, kepala itu tidak remuk, akan tetapi tubuh itu terpelanting dalam keadaan tidak bernyawa karena pukulan sakti itu menggocang otaknya yang menjadi awut-awutan di dalam kepala.
Pada saat itu terdengar seruan-seruan,
"Gusti Puteri datang ......!”
Endang Patibroto mengangkat mukanya, memandang sesosok tubuh ramping yang datang bagaikan terbang cepatnya. Seorang gadis yang amat cantik, berpakaian serba hijau, gilang-gemilang perhiasan yang terpasang di telinga dan ikat pinggangnya, seorang dara remaja yang luar biasa cantiknya, membuat Endang Patibroto ternganga. Sejenak hatinya penuh kebanggaan, namun segera terganti kepahitan dan kekecewaan. Yang datang adalah Retna Wilis, ia mendapat laporan seorang anak buahnya bahwa ada orang mengamuk membunuhi prajuritnya. Dengan kemarahan meluap dara ini meninggalkan istana dan berlari cepat menuju ke lereng itu.
"Siapa berani ... " Tiba-tiba kata-katanya terhenti dan bagaikan kena pesona ia memandang Endang Patibroto yang berdiri tegak di depannya, kemudian kakinya melangkah maju menghampiri Endang Patibroto.
"Ibu ....! Ibu ...??" Panggilan pertama amat mesra, penuh kerinduan, panggilan ke dua bernada ragu-ragu dan
agak dingin.
"Retna Wilis ....!!!" Bentakan Endang Patibroto amat janggal didengar. Mengandung pencetusan rasa rindu, dicampur kemarahan, teguran, dan kedukaan. Retna Wilis memandang ibunya, kemudian pandang matanya bergerak, memandang ke arah tubuh sepuluh orang prajurit yang kepalanya hancur, memandang mayat Ki Walangkoro yang tidak terluka, kemudian melihat kepada tiga orang kakak beradik Wilis yang mukanya bengkak-bengkak dan masih merintih-rintih, kepada para prajurit yang berlutut di depan ibunya, akhirnya ia kembali memandang ibunya.
"Ah, kiranya Kanjeng Ibu yang datang mengamuk. Hemmm, orang-orang sial itu memang patut dibunuh, berani menentang Ibu ...”
"Retna Wilis! Apa yang telah kaulakukan di sini??" Retna Wilis yang sudah menghampiri ibunya untuk memeluk, menghentikan langkahnya dan dengan sikap dingin menggerakkan pundaknya. Ibunya datang-datang marah kepadanya dan tidak ada sikap mesra, maka kerinduannya pun menipis dan kegirangannya lenyap.
"Apa yang kulakukan, Ibu? Tidak ada hal yang menyusahkan hatimu telah kulakukan. Bahkan sebaliknya. Anakmu datang sebagai seorang ratu besar yang berhasil menghimpun tenaga dan berhasil menundukkan banyak kadipaten …….”
"Retna Wilis! Mengapa engkau menyeleweng seperti ini?"
"Eh, Ibu. Menyeleweng bagaimanakah yang Ibu maksudkan? Aku membentuk kerajaan dan akan kutaklukkan seluruh kerajaan, termasuk Panjalu dan Jenggala! Kelak akulah yang akan menjadi ratu dari seluruh Jawa-dwipa! Dan ibu akan menjadi ibu suri yang disembah-sembah manusia sejagat!"
"Gila! Apakah engkau sudah gila, Retna Wilis? Tidak boleh engkau melakukan hal ini! Ibumu adalah kawula Panjalu dan ayahmu adalah Patih Panjalu. Bagaimana engkau berani memberontak terhadap Panjalu? Engkau tidak boleh melakukan hal ini!"
"Hemm! Siapa yang hendak melarangku, Ibu? Tidak ada orang yang dapat melarangku!"
"Aku yang melarangmu! !"
"Ibu, engkau sungguh tidak adil. Ingatlah semenjak kecil aku Ibu bawa lari dalam kandungan sampai besar di Wilis ini, jauh dari ayah yang tidak memperdulikan nasib kita. Ibu terlunta-lunta, dan bukan itu saja. Aku mendengar riwayat Ibu sebagai mantu Jenggala yang disia-siakan, dimusuhi oleh Kerajaan Jenggala dan Panjalu, difitnah, bahkan pangeran yang menjadi suami ibu dibunuh! Ibu telah dihina dan dibikin sengsara hidup Ibu, dan Ibu masih mau menjadi kawula Panjalu? Apakah kita ini kalah oleh keluarga Kerajaan Panjalu dan Jenggala? Apakah kita harus merangkak-rangkak di depan ayah yang telah menyia-nyiakan Ibu? Tidak, seribu kali tidak! Aku berhasil mendapatkan ilmu, dan ilmu ini akan kupergunakan untuk membalas dendam penderitaan Ibu. Akan kutaklukkan Panjalu dan Jenggala. Akan kupaksa ayah bertekuk lutut di depan ibu. Akan kuangkat Ibu menjadi ibu suri yang dimuliakan orang sejagat! Akan ........ “
"Cukup omongan gila itu! Retna Wilis, anak siapakah engkau?"
"Anak Ibu, tentu saja kalau Ibu mau mengakuinya."
"Hemm, kalau engkau masih ingat bahwa engkau adalah anakku, engkau harus mentaati perintahku! Mulai hari ini juga, bubarkan Gerombolan Wilis ini, bubarkan kerajaanmu dan engkau ikutlah bersamaku ke Panjalu, bertemu dengan ayahmu, berkumpul dengan semua keluarga. Tahukah engkau bahwa bibimu Setyaningsih kini telah menjadi ratu di Jenggala? Dia telah menjadi permaisuri raja di Jenggala! Dan kita semua sekeluarga akan menjadi satu, betapa bahagianya, Nak ....." Leher Endang Patibroto serasa tercekik oleh keharuan ketika ia mengeluarkan ucapan ini.

Akan tetapi Retna Wilis tersenyum pahit dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, Ibu. Aku tidak sudi mengemis-ngemis anugerah orang lain. Aku tidak sudi membonceng kemuliaan orang lain. Sebaiknya kalau Ibu merestui cita-citaku dan ikut membantuku. Ingat, Ibu. Dahulu Endang Patibroto merupakan tokoh wanita tanpa tanding. Kalau kini Endang Patibroto bergerak di samping puterinya, Retna Wilis, kutanggung dunia ini akan berada di telapak tangan kita!"

<<< Bagian 177                                                                                      Bagian 179 >>>

No comments:

Post a Comment