Melihat mereka maju dengan golok terhunus, ia mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya berkelebat menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika tubuh sembilan orang itu berturut-turut roboh dengan kepala pecah semua dan tewas di saat itu juga. Betapa mereka dapat bertahan menghadapi tamparan-tamparan yang mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila itu? Tubuh orang itu mati dalam keadaan utuh, akan tetapi kepalanya hancur semua sehingga sukar untuk mengenal mereka lagi. Darah dan otak mengotori rumput-rumput hijau dan keadaan di situ sungguh amat mengerikan. Munculnya pasukan lain yang lebih besar, ada tiga puluh orang jumlahnya, membuat Endang Patibroto menjadi lebih beringas lagi. Kalau perlu, akan dibasminya semua orang-orang yang mencemarkan nama Wilis ini! Dia sudah meloncat ke depan dan berseru,
"Manusia-manusia
biadab, majulah kalian semua! Saat ini adalah saat kematian kalian semua!"
Tiba-tiba seorang di antara
mereka berseru,
"Gusti Puteri Endang
Patibroto ....!!" orang itu segera menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh
teman-temannya yang segera mengenal wanita sakti itu. Mereka yang tidak pernah
melihat Endang Patibroto karena mereka adalah orang-orang baru, begitu
mendengar disebutnya nama ini dan melihat teman-temannya berlutut, segera
membuang golok dan berlutut pula. Mereka sudah mendengar bahwa Endang Patibroto
adalah pendiri Padepokan Wilis, dan bahkan menjadi ibu dari ratu, mereka!
Dengan napas terengah-engah
saking marahnya, Endang Patibroto memandang beberapa wajah yang dikenalnya dan
ia membentak, "Bedebah kalian semua! Di mana Limanwilis, Lembuwilis dan
Nogowilis? Hayo suruh mereka cepat menghadap aku di sini!"
Sementara itu dari jarak
yang jauh, ada orang yang menonton peristiwa ini dengan wajah pucat dan
keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Kemudian orang ini diam-diam
menyelinap di antara gerombolan pohon dan melarikan diri dari tempat itu. Orang
ini bukan lain adalah Ki Patih Adiwijaya atau Warutama atau Sindupati! Dari jauh
ia mendengar suara ribut-ribut dan dia sudah lari menghampiri. Akan tetapi
begitu melihat Endang Patibroto, ia merasa seolah-olah jantungnya menjadi beku
dan hampir ia terkencing-kencing saking takutnya.
Kebetulan sekali ketiga
orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembantu Endang Patibroto, yaitu
Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, berada tidak jauh dari lereng itu.
Mendengar suara ribut-ribut mereka cepat berlari menghampiri dan ketika melihat
Endang Patibroto berdiri tegak dan didekatnya ada mayat sepuluh orang perajurit
Wilis yang kepalanya remuk semua, mereka menjadi pucat dan cepat lari
menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Endang Patibroto.
"Gusti Puteri
....!!"
Melihat ketiga orang bekas
pembantunya yang ia pasrahi Padepokan Wilis Endang Ptibroto menggeget giginya
menahan marah.
"Hemm, apakah yang
kalian bertiga telah lakukan? Apakah yang merubah keadaan Wilis? Beginikah
kalian menjalankan kewajiban kalian membawa para satria Wilis, menjadi
gerombolan-gerombolan manusia biadab?" Sambil berkata demikian, kaki
Endang Patibroto bergerak dan cepat sekali kaki itu sudah menendangi tubuh
ketiga orang tokoh Wilis itu sehingga mereka bertiga jatuh bergulingan. Tentu
saja Endang Patibroto tidak mempergunakan seluruh tenaga, karena kalau hal ini ia
lakukan, tentu ketiga orang itu telah tewas dengan sekali tendang saja. Namun
tendangan yang bagi Endang Patibroto perlahan saja itu, bagi ketiga orang
saudara Wilis ini merupakan sambaran halilintar yang membuat mereka
mengaduh-aduh sambil memegangi kepala mereka.
"Aduh, Gusti Puteri
.... !" Mereka bersambat.
"Plak-plak-plak!"
Kembali Endang Patibroto menendang disusul makian-makiannya,
"Kalian semestinya
dibunuh! Kalian tidak patut dibiarkan hidup. Keparat kalian, Limanwilis,
Lembuwilis dan Nogowilis!"
"Aduh tobat ...!”
Limanwilis mengeluh dan roboh terlentang.
"Ampun, Gusti ....,
ampunkan hamba !" Lembuwilis juga roboh terlentang dan menutupi mukanya
seperti orang menangis.
"Aduhhh ....Gusti
Puteri ...aduh, bunuh saja hamba" Nogowilis meraung-raung karena hampir
tidak kuat menahan rasa nyeri terkena tendangan kedua kalinya ini.
"Memang aku akan bunuh
kalian! Aku akan bunuh kalian dengan tendangan ke tiga kalau kalian tidak lekas
menceritakan apa yang telah kalian perbuat di sini!"
Tiga orang itu masih mengaduh-aduh
karena belum mampu bercerita ketika pada saat itu terdengar bentakan nyaring,
"Eh-eh, iblis dari mana
berani datang mengacau di sini?"
Endang Patibroto memandang
dengan mata beringas. Yang muncul ini adalah ki patih muda dari Wilis, yaitu Ki
Walangkoro sendiri. Ketika laki-laki tinggi besar ini melihat seorang wanita
menghajar ketiga orang pembantunya dan melihat sepuluh orang anak buahnya
menggeletak dengan kepala pecah, melihat puluhan orang prajurit Wilis lainnya
berlutut dengan mata terbelalak dan muka pucat ketakutan, ia menjadi marah
sekali.
"Setan alas! Engkaulah
yang menjadi biang keladi di sini? Engkau kepala di sini, keparat
jahanam?" Endang Patibroto memaki dengan suara mendesis-desis saking
marahnya.
"Eh-eh, babo-babo si
wanita keparat! Berani engkau menghina Ki Walangkoro, patih muda Kerajaan
Wilis?" Ki Walangkoro marah sekali dan menerjang maju. Akan tetapi Endang
Patibroto tidak menanti dia diserang, karena dia pun sudah menerjang maju
memapaki dengan pukulan tangannya, sedangkan tangan yang kiri menangkis lengan
lawan.
"Plak-desss ......!!”
"Aduhhhh ....!" Ki
Walangkoro terjengkang dan menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas.
Memang panas rasa dadanya yang terkena pukulan tangan Endang Patibroto karena
wanita sakti ini menggunakan Aji Wisangnolo yang panasnya melebihi kawah Candradimuka!
Kalau saja Ki Walangkoro tidak memandang rendah, tentu dia lebih berhati-hati
menghadapi wanita sakti itu. Betapapun hebatnya, terkena pukulan Wisangnolo ia
seperti cacing terkena abu panas, menggeliat-geliat dan mengaduh-aduh, sukar
untuk bangun kembali sungguhpun kekebalannya telah melindunginya. Kalau ia
tidak kebal sekali, tentu telah gosong dadanya dan melayang nyawanya terkena
pukulan ampuh itu.
"Aduh, Gusti Puteri,
ampunkan hamba....sesungguhnya, hamba bertiga hanyalah terpaksa. Mula-mula,
setelah paduka pergi, kami melakukan tugas seperti yang paduka perintahkan
..." Lembuwilis mulai bercerita setelah ia berhasil bangkit dan duduk
bersila sambil menyembah-nyembah.
"Akan tetapi kemudian
muncul Ki Walangkoro ini, kami tidak sanggup melawannya. Kami dikalahkan dan
kedudukan di Wilis dia rampas. Padepokan Wilis diganti menjadi Gerombolan
Wilis. Kami tidak berdaya ..”
Melihat betapa raksasa
tinggi besar ini tidak tewas oleh pukulannya. Endang Patibroto percaya bahwa
ketiga orang Wilis ini tidak akan mampu menandingi si tinggi besar itu.
"Kemudian bagaimana
.....?” bentaknya.
"Lalu, aduhhh .... dada
hamba....” Limanwilis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Melihat ini
Lembuwilis yang sudah bangkit lalu melanjutkan,
"Hamba bertiga dipaksa
menjadi anak buahnya. Kemudian, beberapa bulan yang lalu muncullah Gusti Puteri
Retna Wilis ...ya ....puteri paduka yang lenyap dulu ...“
"Lanjutkan!"
bentak Endang Patibroto seolah-olah mendengar pernyataan bahwa Retna Wilis
adalah puterinya membuat hatinya tertusuk.
"Beliau telah menjadi
seorang yang amat sakti, Gusti. Dengan mudah Ki Walangkoro ditaklukkan,
kemudian malah dijadikan patih muda dan sekarang gusti Retna Wilis membangun
sebuah kerajaan Wilis ...”
"Hemmm ........ ,
keparat ini pun bertanggung jawab!" Endang Patibroto berseru marah, sekali
meloncat ia telah berada dekat tubuh Ki Walangkoro yang kini sudah merangkak
bangun. Akan tetapi sebelum Ki Walangkoro sempat berdiri, Endang Patibroto mengayun
tangannya. Sebuah pukulan dengan Aji Pethit Nogo menyambar kepala bekas
pemimpin Gerombolan Wilis.
"Dukkk!" Berkat
aji kekabalan yang amat kuat, kepala itu tidak remuk, akan tetapi tubuh itu
terpelanting dalam keadaan tidak bernyawa karena pukulan sakti itu menggocang
otaknya yang menjadi awut-awutan di dalam kepala.
Pada saat itu terdengar
seruan-seruan,
"Gusti Puteri datang
......!”
Endang Patibroto mengangkat
mukanya, memandang sesosok tubuh ramping yang datang bagaikan terbang cepatnya.
Seorang gadis yang amat cantik, berpakaian serba hijau, gilang-gemilang
perhiasan yang terpasang di telinga dan ikat pinggangnya, seorang dara remaja
yang luar biasa cantiknya, membuat Endang Patibroto ternganga. Sejenak hatinya
penuh kebanggaan, namun segera terganti kepahitan dan kekecewaan. Yang datang
adalah Retna Wilis, ia mendapat laporan seorang anak buahnya bahwa ada orang
mengamuk membunuhi prajuritnya. Dengan kemarahan meluap dara ini meninggalkan
istana dan berlari cepat menuju ke lereng itu.
"Siapa berani ...
" Tiba-tiba kata-katanya terhenti dan bagaikan kena pesona ia memandang
Endang Patibroto yang berdiri tegak di depannya, kemudian kakinya melangkah
maju menghampiri Endang Patibroto.
"Ibu ....! Ibu
...??" Panggilan pertama amat mesra, penuh kerinduan, panggilan ke dua
bernada ragu-ragu dan
agak dingin.
"Retna Wilis
....!!!" Bentakan Endang Patibroto amat janggal didengar. Mengandung
pencetusan rasa rindu, dicampur kemarahan, teguran, dan kedukaan. Retna Wilis
memandang ibunya, kemudian pandang matanya bergerak, memandang ke arah tubuh
sepuluh orang prajurit yang kepalanya hancur, memandang mayat Ki Walangkoro
yang tidak terluka, kemudian melihat kepada tiga orang kakak beradik Wilis yang
mukanya bengkak-bengkak dan masih merintih-rintih, kepada para prajurit yang
berlutut di depan ibunya, akhirnya ia kembali memandang ibunya.
"Ah, kiranya Kanjeng
Ibu yang datang mengamuk. Hemmm, orang-orang sial itu memang patut dibunuh,
berani menentang Ibu ...”
"Retna Wilis! Apa yang
telah kaulakukan di sini??" Retna Wilis yang sudah menghampiri ibunya
untuk memeluk, menghentikan langkahnya dan dengan sikap dingin menggerakkan
pundaknya. Ibunya datang-datang marah kepadanya dan tidak ada sikap mesra, maka
kerinduannya pun menipis dan kegirangannya lenyap.
"Apa yang kulakukan,
Ibu? Tidak ada hal yang menyusahkan hatimu telah kulakukan. Bahkan sebaliknya.
Anakmu datang sebagai seorang ratu besar yang berhasil menghimpun tenaga dan
berhasil menundukkan banyak kadipaten …….”
"Retna Wilis! Mengapa
engkau menyeleweng seperti ini?"
"Eh, Ibu. Menyeleweng
bagaimanakah yang Ibu maksudkan? Aku membentuk kerajaan dan akan kutaklukkan
seluruh kerajaan, termasuk Panjalu dan Jenggala! Kelak akulah yang akan menjadi
ratu dari seluruh Jawa-dwipa! Dan ibu akan menjadi ibu suri yang disembah-sembah
manusia sejagat!"
"Gila! Apakah engkau
sudah gila, Retna Wilis? Tidak boleh engkau melakukan hal ini! Ibumu adalah
kawula Panjalu dan ayahmu adalah Patih Panjalu. Bagaimana engkau berani
memberontak terhadap Panjalu? Engkau tidak boleh melakukan hal ini!"
"Hemm! Siapa yang
hendak melarangku, Ibu? Tidak ada orang yang dapat melarangku!"
"Aku yang melarangmu!
!"
"Ibu, engkau sungguh
tidak adil. Ingatlah semenjak kecil aku Ibu bawa lari dalam kandungan sampai
besar di Wilis ini, jauh dari ayah yang tidak memperdulikan nasib kita. Ibu
terlunta-lunta, dan bukan itu saja. Aku mendengar riwayat Ibu sebagai mantu
Jenggala yang disia-siakan, dimusuhi oleh Kerajaan Jenggala dan Panjalu,
difitnah, bahkan pangeran yang menjadi suami ibu dibunuh! Ibu telah dihina dan
dibikin sengsara hidup Ibu, dan Ibu masih mau menjadi kawula Panjalu? Apakah
kita ini kalah oleh keluarga Kerajaan Panjalu dan Jenggala? Apakah kita harus
merangkak-rangkak di depan ayah yang telah menyia-nyiakan Ibu? Tidak, seribu
kali tidak! Aku berhasil mendapatkan ilmu, dan ilmu ini akan kupergunakan untuk
membalas dendam penderitaan Ibu. Akan kutaklukkan Panjalu dan Jenggala. Akan
kupaksa ayah bertekuk lutut di depan ibu. Akan kuangkat Ibu menjadi ibu suri
yang dimuliakan orang sejagat! Akan ........ “
"Cukup omongan gila
itu! Retna Wilis, anak siapakah engkau?"
"Anak Ibu, tentu saja
kalau Ibu mau mengakuinya."
"Hemm, kalau engkau
masih ingat bahwa engkau adalah anakku, engkau harus mentaati perintahku! Mulai
hari ini juga, bubarkan Gerombolan Wilis ini, bubarkan kerajaanmu dan engkau
ikutlah bersamaku ke Panjalu, bertemu dengan ayahmu, berkumpul dengan semua
keluarga. Tahukah engkau bahwa bibimu Setyaningsih kini telah menjadi ratu di
Jenggala? Dia telah menjadi permaisuri raja di Jenggala! Dan kita semua
sekeluarga akan menjadi satu, betapa bahagianya, Nak ....." Leher Endang
Patibroto serasa tercekik oleh keharuan ketika ia mengeluarkan ucapan ini.
Akan tetapi Retna Wilis
tersenyum pahit dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, Ibu. Aku tidak
sudi mengemis-ngemis anugerah orang lain. Aku tidak sudi membonceng kemuliaan
orang lain. Sebaiknya kalau Ibu merestui cita-citaku dan ikut membantuku.
Ingat, Ibu. Dahulu Endang Patibroto merupakan tokoh wanita tanpa tanding. Kalau
kini Endang Patibroto bergerak di samping puterinya, Retna Wilis, kutanggung
dunia ini akan berada di telapak tangan kita!"
No comments:
Post a Comment