Perawan Lembah Wilis; Bagian 179


"Dan engkau hendak melawan dan menentang ayahmu yang menjadi patih di Panjalu? Menentang bibimu yang menjadi permaisuri di Jenggala?"
"Kalau perlu, apa boleh buat. Aku akan terpaksa melawan dan menundukkan siapa saja yang menentangku, yang menghalangi cita-citaku."
"Anak durhaka, kalau begitu, apakah engkaupun hendak menentang aku?" Endang Patibroto sudah mulai marah lagi.
"Ibu, aku tidak akan menentang siapa saja, apalagi Ibu. Aku hanya melawan siapa pun juga yang menentangku."
"Bagus! Kalau aku melarangmu melanjutkan cita-cita gila ini? Kalau aku, ibumu sendiri, menentangmu? Apakah engkau juga hendak melawan aku?"
Retna Wilis tersenyum dingin sehingga Endang Patibroto sendiri yang biasanya amat digentari orang, kini merasa mengkirik. Senyum puterinya itu amat manis, akan tetapi seperti senyum iblis yang mengandung ancaman maut!
"Tidak ada seorang pun di dunia ini, juga lbu sendiri tidak, yang akan dapat menghalangi cita-citaku, yang akan menghentikan usahaku menundukkan dunia, kecuali kematian."
"Anak durhaka, kalau begitu aku lebih suka melihat anakku mati daripada melihatnya hidup tersesat!"
"Ibu hendak membunuhku? Tidak akan bisa, Ibu. Ibu takkan dapat menangkan aku. Lebih baik Ibu hidup mulia dan bahagia di sini, kusembah-sembah menjadi junjunganku. Atau kalau Ibu lebih suka menjauhiku, kembalilah saja Ibu kepada suami Ibu, dan harap jangan mencampuri urusanku."
"Bocah iblis! Aku sudah melahirkan engkau, aku pula yang membunuh engkau!" Endang Patibroto membentak dan meloncat maju mengirim serangan maut. Wanita perkasa ini dengan hati hancur melihat kenyataan betapa anaknya benar-benar telah terpengaruh watak yang aneh dan seperti iblis, dan kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan malapetaka dan terutama sekali akan merusak dan mencemarkan nama baik orang tuanya. Dia mengenal puterinya dan tahu bahwa bujukan-bujukan takkan berhasil lagi kalau Retna Wilis sudah mengambil keputusan seperti itu. Daripada melihat puterinya yang tercinta menyeleweng, menjadi pemberontak, mengacaukan kerajaan-kerajaan, menimbulkan malapetaka dan pembunuhan-pembunuhan akibat perang yang ditimbulkan, mendatangkan kedukaan kepada semua keluarga, lebih baik ia melihat puterinya itu mati di depan kakinya sendiri. Karena ia dapat menduga bahwa sebagai murid Nini Bumigarba, puterinya ini tentu memiliki kesaktian yang luar biasa, maka sekali menyerang Endang Patibroto sudah meloncat dengan gerakan Bayutantra dan tangan kanannya yang terbuka telah menampar muka Retna Wilis dengan Aji Gelap Musti.
"Plakkk!" Pipi kiri Retna Wilis yang berkulit halus itu kena ditampar karena memang dara perkasa ini sama sekali tidak mengelak, hanya mengerahkan kekuatan saktinya melindungi kepalanya. Akan tetapi ia tidak roboh, hanya bergoyang sedikit. ia telah menerima tamparan sakti ibunya itu dengan mata terbuka, berkedip pun tidak. Bibirnya sedikit pecah ujungnya sehingga meneteslah darah dari ujung mulut.
"Retna Wilis ....Anakku ....!”
Endang Patibroto menjerit dan menubruk puterinya, merangkul, menciumi muka anaknya, mencium beberapa tetes darah yang menitik di pipi itu.
"Retna Wilis ........ ah, betapa engkau menyiksa hati ibumu! Anakku, mengapa engkau tidak mentaati permintaan ibumu? Marilah, Angger, anakku bocah ayu, marilah engkau ikut bersama ibumu....!”
Dua titik air mata menetes dari sepasang mata Retna Wilis. Akan tetapi mulutnya tersenyum dingin dan biarpun ia dipeluk dan dibelai, diciumi ibunya, ia tetap tenang, hanya mengelus pundak ibunya.
"Ibu, mengapa pula ibuku sendiri yang hendak menghalangi cita-citaku? Mengapa Ibu hendak merusak kebahagiaanku?"
"Engkau keliru, Retna. Cita-cita itu tidak akan membawamu kepada kebahagiaan, melainkan kesengsaraan karena pelaksanaannya akan menimbulkan bencana hebat. Kebahagiaanmu adalah bersama ibumu, bersama ayah dan keluargamu. Marilah Retna, percayalah bahwa ibu menentang kehendakmu ini demi cintanya kepadamu. Marilah, Anakku, sebelum terlambat ....“
"Tidak Ibu. Terserah penilaian Ibu, akan tetapi aku tetap akan melanjutkan cita-citaku ini."

Perlahan-lahan Endang Patibroto melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, ia terisak menahan tangis, memandang tajam lalu berkata lirih,
"Kalau begitu, sebelum engkau menyebar kematian di antara manusia-manusia yang tidak berdosa, lebih dulu kaubunuhlah ibumu ini!"
Endang Patibroto kini sudah marah kembali, kemarahan yang bercampur dengan putus asa. Hatinya sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk keris. Anaknya yang begini cantik jelita, begini gagah perkasa, begini sakti sehingga tamparan Gelap Musti diterimanya tanpa berkedip dan hanya membuat ujung bibirnya berdarah sedikit. Betapa akan bangga hatinya, betapa akan bahagia hatinya kalau dapat menuntun anaknya ini dan memperkenalkannya kepada ayah anak ini, Ki Patih Tejolaksono. Akan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya, amat pahit dan menyakitkan hatinya.
"Ibu, lebih baik Ibu pulang kembali saja ke Panjalu." Retna Wilis berkata dan sikapnya dingin sekali.
"Engkau atau aku harus mati di sini!"
Endang Patibroto membentak dan kini ia maju menyerang sambil mengeluarkan pekik dahsyat. Wanita ini telah mengeluarkan Aji Sardulo Bairowo dan pekiknya melengking tinggi menggetarkan permukaan lembah gunung Wilis. Semua anak buah Wilis yang berdatangan di tempat itu, terkejut mendengar pekik ini, jantung mereka tergetar dan mereka yang tidak kuat sudah jatuh berlutut dengan tubuh menggigil, yang agak kuat masih berdiri dengan muka pucat dan mata terbelakak memandang ibu dan puterinya yang hebat itu.
Pekik Sakti Sardulo Bairowo sama sekali tidak mempengaruhi Retna Wilis, dan melihat pukulan ibunya yang amat hebat dan ampuh menghantam kepalanya, Retna Wilis menggerakkan lengan menangkis. Dua lengan yang sama halusnya bertemu dahsyat dan akibatnya tubuh Endang Patibroto terpelanting! Wanita perkasa itu mendengus marah dan penasaran, meloncat bangun dan menerjang kembali. Retna Wilis yang maklum akan kesaktian ibunya, sudah mengerahkan aji kesaktiannya ke dalam kedua lengannya, lalu menangkis kembali. Dan sekali lagi tubuh ibunya terpelanting. Namun Endang Patibroto sudah bangkit dan menyerang lagi. Wanita yang hancur hatinya ini sudah mengambil keputusan nekat untuk mengadu nyawa dengan anaknya. Ia menyerang secara bertubi-tubi. Retna Wilis hanya mengelak dan setiap kali ia menangkis ibunya tentu terguling, akan tetapi tidak pernah ia balas memukul ibunya. Pertandingan ini berjalan seru dan lama sekali, akan tetapi setiap kali bertemu lengan, selalu Endang Patibroto yang terguling roboh. Makin lama Endang Patibroto menjadi makin penasaran dan marah, akhirnya ia menjadi mata gelap. Sambil menyerang, ia melepaskan banyak panah tangan yang menyambar seperti kilat cepatnya menuiu tubuh anaknya. Retna Wilis mengeluarkan suara pekik melengking dan semua anak panah yang mengenai tubuhnya runtuh, tidak sebatang pun dapat melukai kalitnya!
"Ibu takkan menang melawanku, lebih baik ibu pergi."
"Anak durhaka!" Endang Patibroto menyerang lagi, kini pukulan Wisangnolo yang ia pergunakan amat dahsyatnya karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Retna Wilis mendorongkan tangannya memapaki telapak, tangan ibunya.
"Desss!!" Dua tenaga mujijat bertemu dan terdengar Endang Patibroto mengeluarkan rintihan lirih dan tubuhnya yang terguling lagi tak dapat bangun kembali karena ia telah roboh pingsan, tergetar oleh hawa pukulannya sendiri yang membalik ketika terbentur hawa sakti dari tangan RetnaWilis.

Sejenak Retna Wilis berdiri termangu memandang tubuh ibunya. Ia menggunakan ujung baju menghapus keringat di dahinya. Ibunya adalah seorang lawan yang tangguh dan andaikata dia tidak memiliki tenaga sakti yang hebat, tentu dia sendiri sudah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya. Perlahan-lahan dihampirinya tubuh ibunya, dipondong dan diangkatnya, dipeluk dan diciumnya dahi ibunya dengan kemesraan seorang anak kepada ibunya. Akan tetapi ia segera menekan perasaan dan pandang matanya berubah dingin kembali ketika ia berkata memerintah.
"Keluarkan kereta, dan antarkan ibu ini turun gunung. Tinggalkan kereta di bawah kaki gunung."
Perintah ini ia tujukan kepada Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis. Biarpun tiga orang ini masih sakit-sakit tubuhnya akibat tendangan-tendangan Endang Patibroto tadi, mendengar perintah itu cepat mereka bertiga mengambil kereta. Retna Wilis memondong tubuh ibunya, membawanya ke dalam kereta, membaringkan tubuh ibunya di dalam kereta, sekali lagi mencium dahi ibunya dan berbisik lirih,
"Ibu !" kemudian ia turun dari kereta memberi isyarat kepada ketiga orang tokoh Wilis itu untuk berangkat.
Lembuwilis dan Nogowilis duduk mengendarai kuda penarik kereta, sedangkan Limanwilis yang tertua duduk menjaga Endang Patibroto di dalam kereta, kemudian kereta pun berangkat menuruni gunung Wilis. Retna Wilis berdiri tegak memandang, dua titik air mata menetes turun. Akan tetapi setelah menghela napas ia lalu menghapus air matanya, memutar tubuhnya memandang anak buahnya yang berlutut dan berkata,
"Mulai hari ini, siapkan semua pasukan. Hei!, di mana Paman Patih??"
Tak seorang pun di antara para anak buah Wilis tahu ke mana perginya Patih Adiwijaya.
"Mungkin gusti patih sedang melakukan pemeriksaan di perbatasan, Gusti Puteri!" akhirnya terdengar jawaban seorang perwira.
"Biarlah, kalau sudah datang suruh ia menghadap. Beritahukan kepada semua pasukan agar berkumpul, juga kerahkan seluruh rakyat yang sudah takluk untuk siap membantu gerakan kita. Secepatnya kita akan menyerbu Ponorogo!"
Para anak buah Wilis bersorak gembira. Penyerbuan ke suatu tempat berarti perang, dan perang berarti pula kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan-kesempatan bagi mereka untuk menikmati kesenangan, selain membunuh musuh di bawah pimpinan orang-orang sakti, juga kesempatan itu dapat mereka pergunakan untuk memperoleh barang-barang berharga dan wanita-wanita cantik.

Di bawah sorak-sorai anak buahnya, Retna Wilis lalu lari naik ke puncak, memasuki taman sari yang baru saja dibangun, kemudian menjatuhkan diri ke atas bangku di tengah-tengah taman sari. Air matanya deras mengucur. Setelah berada seorang diri, tak dapat ia menahan kekecewaan dan kedukaan hatinya mengenangkan sikap ibunya. Ia menangis dan akhirnya karena tekanan batin dan kelelahan, ia tertidur pulas di atas bangku taman sari, kedua pipinya masih basah air mata.
Sehari semalam Retna Wilis tertidur di taman itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia terbangun dengan isak tertahan. Ia melihat Patih Adiwijaya duduk bersila tak jauh dari bangku sambil menundukkan muka.. Wajah orang tua ini kelihatan berduka. Retna Wilis bangkit duduk dan baru tahu ia bahwa tubuhnya telah diselimuti jubah luar patihnya.
"Paman Adiwijaya, ah, aku tertidur di sini ....." suaranya masih mengandung isak, "berapa lama aku tertidur?" ia menyerahkan kembali jubah luar patihnya.
"Duh Gusti Puteri yang malang. Paduka tertidur semenjak kemarin siang."
"Kenapa engkau tidak membangunkan aku, Paman?" Patih itu memandang wajah Retna Wilis dengan pandang mata penuh iba hati dan prihatin.
"Hamba baru pulang siang kemarin dari memeriksa keadaan penjagaan di tapal batas timur, untuk mendengarkan gerak-gerik Ponorogo. Baru hamba mendengar akan kunjungan Ibunda Paduka dan .... ah, sungguh kasihan sekali Paduka, Gusti. Hamba ....ikut berduka dengan peristiwa yang menyedihkan itu ....”
Retna Wilis tersenyum, memandang pembantunya itu dengan sinar mata berterima kasih.
"Dan semenjak kemarin siang, engkau menungguku di sini?"
"Hamba tak berani membangunkan Paduka yang tidur pulas sambil kadang-kadang terisak. Ampunkan hamba yang berani menyelimuti Paduka dan hamba menjaga di sini, menanti Paduka terbangun."
Retna Wilis mengulurkan tangan dan menyentuh pundak patihnya.
"Paman, engkau baik sekali. Agaknya engkaulah orang yang paling baik terhadap diriku. Adapun ibuku ... ah, benar-benar aku bingung, Paman."
"Mengapa Paduka bingung? Hendaknya Paduka tenang karena setelah hamba mendengar akan semua peristiwa, hamba merasa yakin akan kebenaran paduka. Setiap manusia di dunia ini berhak untuk mencari kemuliaan, apalagi seorang sakti mandraguna seperti paduka. Hanya si manusia sendiri yang akan dapat menetukan nasib hidupnya. Paduka benar, dan hamba bersumpah untuk bersetia, untuk membela dan membantu paduka dengan taruhan nyawa hamba." Ucapan ini keluar dari hati nurani Adiwijaya karena entah bagaimana, baru sekali ini selama hidupnya ia mencinta seseorang, mencinta yang sungguh-sungguh murni, bukan cinta nafsu, melainkan cinta seorang ayah terhadap puterinya. Ia merasa kagum akan kesaktian dara ini, merasa kagum akan kecantikannya, dan timbullah rasa sayang dan setia yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
"Terima kasih, Paman. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu."
"Aduh Gusti Puteri Retna Wilis yang bijaksana dan sakti mandraguna. Hamba hanyalah seorang yang rendah, hamba seorang yang penuh dosa, hamba seorang yang banyak dimusuhi orang lain, seorang yang jahat dalam pandangan orang lain."

<<< Bagian 178                                                                                     Bagian 180 >>>

No comments:

Post a Comment