"Dan engkau hendak melawan dan menentang ayahmu yang menjadi patih di Panjalu? Menentang bibimu yang menjadi permaisuri di Jenggala?"
"Kalau perlu, apa boleh
buat. Aku akan terpaksa melawan dan menundukkan siapa saja yang menentangku,
yang menghalangi cita-citaku."
"Anak durhaka, kalau
begitu, apakah engkaupun hendak menentang aku?" Endang Patibroto sudah
mulai marah lagi.
"Ibu, aku tidak akan
menentang siapa saja, apalagi Ibu. Aku hanya melawan siapa pun juga yang
menentangku."
"Bagus! Kalau aku
melarangmu melanjutkan cita-cita gila ini? Kalau aku, ibumu sendiri,
menentangmu? Apakah engkau juga hendak melawan aku?"
Retna Wilis tersenyum dingin
sehingga Endang Patibroto sendiri yang biasanya amat digentari orang, kini
merasa mengkirik. Senyum puterinya itu amat manis, akan tetapi seperti senyum
iblis yang mengandung ancaman maut!
"Tidak ada seorang pun
di dunia ini, juga lbu sendiri tidak, yang akan dapat menghalangi cita-citaku,
yang akan menghentikan usahaku menundukkan dunia, kecuali kematian."
"Anak durhaka, kalau
begitu aku lebih suka melihat anakku mati daripada melihatnya hidup
tersesat!"
"Ibu hendak membunuhku?
Tidak akan bisa, Ibu. Ibu takkan dapat menangkan aku. Lebih baik Ibu hidup
mulia dan bahagia di sini, kusembah-sembah menjadi junjunganku. Atau kalau Ibu
lebih suka menjauhiku, kembalilah saja Ibu kepada suami Ibu, dan harap jangan
mencampuri urusanku."
"Bocah iblis! Aku sudah
melahirkan engkau, aku pula yang membunuh engkau!" Endang Patibroto
membentak dan meloncat maju mengirim serangan maut. Wanita perkasa ini dengan
hati hancur melihat kenyataan betapa anaknya benar-benar telah terpengaruh
watak yang aneh dan seperti iblis, dan kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan
malapetaka dan terutama sekali akan merusak dan mencemarkan nama baik orang
tuanya. Dia mengenal puterinya dan tahu bahwa bujukan-bujukan takkan berhasil
lagi kalau Retna Wilis sudah mengambil keputusan seperti itu. Daripada melihat
puterinya yang tercinta menyeleweng, menjadi pemberontak, mengacaukan
kerajaan-kerajaan, menimbulkan malapetaka dan pembunuhan-pembunuhan akibat
perang yang ditimbulkan, mendatangkan kedukaan kepada semua keluarga, lebih
baik ia melihat puterinya itu mati di depan kakinya sendiri. Karena ia dapat
menduga bahwa sebagai murid Nini Bumigarba, puterinya ini tentu memiliki
kesaktian yang luar biasa, maka sekali menyerang Endang Patibroto sudah
meloncat dengan gerakan Bayutantra dan tangan kanannya yang terbuka telah
menampar muka Retna Wilis dengan Aji Gelap Musti.
"Plakkk!" Pipi
kiri Retna Wilis yang berkulit halus itu kena ditampar karena memang dara
perkasa ini sama sekali tidak mengelak, hanya mengerahkan kekuatan saktinya
melindungi kepalanya. Akan tetapi ia tidak roboh, hanya bergoyang sedikit. ia
telah menerima tamparan sakti ibunya itu dengan mata terbuka, berkedip pun
tidak. Bibirnya sedikit pecah ujungnya sehingga meneteslah darah dari ujung
mulut.
"Retna Wilis ....Anakku
....!”
Endang Patibroto menjerit
dan menubruk puterinya, merangkul, menciumi muka anaknya, mencium beberapa
tetes darah yang menitik di pipi itu.
"Retna Wilis ........
ah, betapa engkau menyiksa hati ibumu! Anakku, mengapa engkau tidak mentaati
permintaan ibumu? Marilah, Angger, anakku bocah ayu, marilah engkau ikut
bersama ibumu....!”
Dua titik air mata menetes
dari sepasang mata Retna Wilis. Akan tetapi mulutnya tersenyum dingin dan
biarpun ia dipeluk dan dibelai, diciumi ibunya, ia tetap tenang, hanya mengelus
pundak ibunya.
"Ibu, mengapa pula
ibuku sendiri yang hendak menghalangi cita-citaku? Mengapa Ibu hendak merusak
kebahagiaanku?"
"Engkau keliru, Retna.
Cita-cita itu tidak akan membawamu kepada kebahagiaan, melainkan kesengsaraan
karena pelaksanaannya akan menimbulkan bencana hebat. Kebahagiaanmu adalah
bersama ibumu, bersama ayah dan keluargamu. Marilah Retna, percayalah bahwa ibu
menentang kehendakmu ini demi cintanya kepadamu. Marilah, Anakku, sebelum
terlambat ....“
"Tidak Ibu. Terserah
penilaian Ibu, akan tetapi aku tetap akan melanjutkan cita-citaku ini."
Perlahan-lahan Endang
Patibroto melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, ia terisak menahan
tangis, memandang tajam lalu berkata lirih,
"Kalau begitu, sebelum
engkau menyebar kematian di antara manusia-manusia yang tidak berdosa, lebih
dulu kaubunuhlah ibumu ini!"
Endang Patibroto kini sudah
marah kembali, kemarahan yang bercampur dengan putus asa. Hatinya sakit sekali,
seperti ditusuk-tusuk keris. Anaknya yang begini cantik jelita, begini gagah
perkasa, begini sakti sehingga tamparan Gelap Musti diterimanya tanpa berkedip
dan hanya membuat ujung bibirnya berdarah sedikit. Betapa akan bangga hatinya,
betapa akan bahagia hatinya kalau dapat menuntun anaknya ini dan
memperkenalkannya kepada ayah anak ini, Ki Patih Tejolaksono. Akan tetapi
kenyataannya adalah sebaliknya, amat pahit dan menyakitkan hatinya.
"Ibu, lebih baik Ibu
pulang kembali saja ke Panjalu." Retna Wilis berkata dan sikapnya dingin
sekali.
"Engkau atau aku harus
mati di sini!"
Endang Patibroto membentak
dan kini ia maju menyerang sambil mengeluarkan pekik dahsyat. Wanita ini telah
mengeluarkan Aji Sardulo Bairowo dan pekiknya melengking tinggi menggetarkan
permukaan lembah gunung Wilis. Semua anak buah Wilis yang berdatangan di tempat
itu, terkejut mendengar pekik ini, jantung mereka tergetar dan mereka yang
tidak kuat sudah jatuh berlutut dengan tubuh menggigil, yang agak kuat masih
berdiri dengan muka pucat dan mata terbelakak memandang ibu dan puterinya yang
hebat itu.
Pekik Sakti Sardulo Bairowo
sama sekali tidak mempengaruhi Retna Wilis, dan melihat pukulan ibunya yang amat
hebat dan ampuh menghantam kepalanya, Retna Wilis menggerakkan lengan
menangkis. Dua lengan yang sama halusnya bertemu dahsyat dan akibatnya tubuh
Endang Patibroto terpelanting! Wanita perkasa itu mendengus marah dan
penasaran, meloncat bangun dan menerjang kembali. Retna Wilis yang maklum akan
kesaktian ibunya, sudah mengerahkan aji kesaktiannya ke dalam kedua lengannya,
lalu menangkis kembali. Dan sekali lagi tubuh ibunya terpelanting. Namun Endang
Patibroto sudah bangkit dan menyerang lagi. Wanita yang hancur hatinya ini
sudah mengambil keputusan nekat untuk mengadu nyawa dengan anaknya. Ia
menyerang secara bertubi-tubi. Retna Wilis hanya mengelak dan setiap kali ia
menangkis ibunya tentu terguling, akan tetapi tidak pernah ia balas memukul
ibunya. Pertandingan ini berjalan seru dan lama sekali, akan tetapi setiap kali
bertemu lengan, selalu Endang Patibroto yang terguling roboh. Makin lama Endang
Patibroto menjadi makin penasaran dan marah, akhirnya ia menjadi mata gelap.
Sambil menyerang, ia melepaskan banyak panah tangan yang menyambar seperti
kilat cepatnya menuiu tubuh anaknya. Retna Wilis mengeluarkan suara pekik
melengking dan semua anak panah yang mengenai tubuhnya runtuh, tidak sebatang
pun dapat melukai kalitnya!
"Ibu takkan menang
melawanku, lebih baik ibu pergi."
"Anak durhaka!"
Endang Patibroto menyerang lagi, kini pukulan Wisangnolo yang ia pergunakan
amat dahsyatnya karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Retna Wilis
mendorongkan tangannya memapaki telapak, tangan ibunya.
"Desss!!" Dua
tenaga mujijat bertemu dan terdengar Endang Patibroto mengeluarkan rintihan
lirih dan tubuhnya yang terguling lagi tak dapat bangun kembali karena ia telah
roboh pingsan, tergetar oleh hawa pukulannya sendiri yang membalik ketika
terbentur hawa sakti dari tangan RetnaWilis.
Sejenak Retna Wilis berdiri
termangu memandang tubuh ibunya. Ia menggunakan ujung baju menghapus keringat
di dahinya. Ibunya adalah seorang lawan yang tangguh dan andaikata dia tidak
memiliki tenaga sakti yang hebat, tentu dia sendiri sudah terluka parah di
sebelah dalam tubuhnya. Perlahan-lahan dihampirinya tubuh ibunya, dipondong dan
diangkatnya, dipeluk dan diciumnya dahi ibunya dengan kemesraan seorang anak
kepada ibunya. Akan tetapi ia segera menekan perasaan dan pandang matanya berubah
dingin kembali ketika ia berkata memerintah.
"Keluarkan kereta, dan
antarkan ibu ini turun gunung. Tinggalkan kereta di bawah kaki gunung."
Perintah ini ia tujukan
kepada Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis. Biarpun tiga orang ini masih
sakit-sakit tubuhnya akibat tendangan-tendangan Endang Patibroto tadi,
mendengar perintah itu cepat mereka bertiga mengambil kereta. Retna Wilis
memondong tubuh ibunya, membawanya ke dalam kereta, membaringkan tubuh ibunya
di dalam kereta, sekali lagi mencium dahi ibunya dan berbisik lirih,
"Ibu !" kemudian
ia turun dari kereta memberi isyarat kepada ketiga orang tokoh Wilis itu untuk
berangkat.
Lembuwilis dan Nogowilis
duduk mengendarai kuda penarik kereta, sedangkan Limanwilis yang tertua duduk
menjaga Endang Patibroto di dalam kereta, kemudian kereta pun berangkat
menuruni gunung Wilis. Retna Wilis berdiri tegak memandang, dua titik air mata
menetes turun. Akan tetapi setelah menghela napas ia lalu menghapus air
matanya, memutar tubuhnya memandang anak buahnya yang berlutut dan berkata,
"Mulai hari ini,
siapkan semua pasukan. Hei!, di mana Paman Patih??"
Tak seorang pun di antara
para anak buah Wilis tahu ke mana perginya Patih Adiwijaya.
"Mungkin gusti patih
sedang melakukan pemeriksaan di perbatasan, Gusti Puteri!" akhirnya
terdengar jawaban seorang perwira.
"Biarlah, kalau sudah
datang suruh ia menghadap. Beritahukan kepada semua pasukan agar berkumpul,
juga kerahkan seluruh rakyat yang sudah takluk untuk siap membantu gerakan
kita. Secepatnya kita akan menyerbu Ponorogo!"
Para anak buah Wilis
bersorak gembira. Penyerbuan ke suatu tempat berarti perang, dan perang berarti
pula kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan-kesempatan bagi mereka untuk
menikmati kesenangan, selain membunuh musuh di bawah pimpinan orang-orang
sakti, juga kesempatan itu dapat mereka pergunakan untuk memperoleh
barang-barang berharga dan wanita-wanita cantik.
Di bawah sorak-sorai anak
buahnya, Retna Wilis lalu lari naik ke puncak, memasuki taman sari yang baru
saja dibangun, kemudian menjatuhkan diri ke atas bangku di tengah-tengah taman
sari. Air matanya deras mengucur. Setelah berada seorang diri, tak dapat ia
menahan kekecewaan dan kedukaan hatinya mengenangkan sikap ibunya. Ia menangis
dan akhirnya karena tekanan batin dan kelelahan, ia tertidur pulas di atas
bangku taman sari, kedua pipinya masih basah air mata.
Sehari semalam Retna Wilis
tertidur di taman itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia terbangun
dengan isak tertahan. Ia melihat Patih Adiwijaya duduk bersila tak jauh dari bangku
sambil menundukkan muka.. Wajah orang tua ini kelihatan berduka. Retna Wilis
bangkit duduk dan baru tahu ia bahwa tubuhnya telah diselimuti jubah luar
patihnya.
"Paman Adiwijaya, ah,
aku tertidur di sini ....." suaranya masih mengandung isak, "berapa lama
aku tertidur?" ia menyerahkan kembali jubah luar patihnya.
"Duh Gusti Puteri yang
malang. Paduka tertidur semenjak kemarin siang."
"Kenapa engkau tidak
membangunkan aku, Paman?" Patih itu memandang wajah Retna Wilis dengan
pandang mata penuh iba hati dan prihatin.
"Hamba baru pulang
siang kemarin dari memeriksa keadaan penjagaan di tapal batas timur, untuk
mendengarkan gerak-gerik Ponorogo. Baru hamba mendengar akan kunjungan Ibunda
Paduka dan .... ah, sungguh kasihan sekali Paduka, Gusti. Hamba ....ikut
berduka dengan peristiwa yang menyedihkan itu ....”
Retna Wilis tersenyum,
memandang pembantunya itu dengan sinar mata berterima kasih.
"Dan semenjak kemarin
siang, engkau menungguku di sini?"
"Hamba tak berani
membangunkan Paduka yang tidur pulas sambil kadang-kadang terisak. Ampunkan
hamba yang berani menyelimuti Paduka dan hamba menjaga di sini, menanti Paduka
terbangun."
Retna Wilis mengulurkan
tangan dan menyentuh pundak patihnya.
"Paman, engkau baik
sekali. Agaknya engkaulah orang yang paling baik terhadap diriku. Adapun ibuku
... ah, benar-benar aku bingung, Paman."
"Mengapa Paduka
bingung? Hendaknya Paduka tenang karena setelah hamba mendengar akan semua
peristiwa, hamba merasa yakin akan kebenaran paduka. Setiap manusia di dunia
ini berhak untuk mencari kemuliaan, apalagi seorang sakti mandraguna seperti
paduka. Hanya si manusia sendiri yang akan dapat menetukan nasib hidupnya.
Paduka benar, dan hamba bersumpah untuk bersetia, untuk membela dan membantu
paduka dengan taruhan nyawa hamba." Ucapan ini keluar dari hati nurani
Adiwijaya karena entah bagaimana, baru sekali ini selama hidupnya ia mencinta
seseorang, mencinta yang sungguh-sungguh murni, bukan cinta nafsu, melainkan
cinta seorang ayah terhadap puterinya. Ia merasa kagum akan kesaktian dara ini,
merasa kagum akan kecantikannya, dan timbullah rasa sayang dan setia yang belum
pernah ia rasakan selama hidupnya.
"Terima kasih, Paman.
Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu."
"Aduh Gusti Puteri
Retna Wilis yang bijaksana dan sakti mandraguna. Hamba hanyalah seorang yang
rendah, hamba seorang yang penuh dosa, hamba seorang yang banyak dimusuhi orang
lain, seorang yang jahat dalam pandangan orang lain."
No comments:
Post a Comment