"Bagiku, engkau seorang yang baik, dan itu bagiku sudah cukup. Aku tidak perduli pendapat orang lain."
"Mungkin ibunda paduka
pun menganggap hamba seorang jahat, Gusti."
"Hemm, mengapa,
Paman?"
"Mungkin ....hamba
disangka sebagai orang yang membujuk-bujuk paduka...”
"Ah, biarlah. Biar
andaikata ibuku sendiri membencimu dan menganggapmu orang jahat, aku tetap
menganggapmu seorang baik. Sekarang, Paman. Siapkan bala tentara kita. Kita
serbu Ponorogo, terus ke timur."
"Terus menyerbu
Jenggala, Gusti?" tanya Adiwijaya penuh gairah,
"Benar, Paman. Ke
Jenggala! Kita tundukkan Jenggala secara baik-baik, mengingat bahwa yang
menjadi raja di sana adalah Paman Pangeran Panji Sigit, dan permaisurinya
adalah Bibi Setyaningsih, adik ibu sendiri. Kalau mereka menghadapi kita dengan
kekerasan, terpaksa akan kutundukkan Jenggala dengan kekerasan pula. Setelah
itu, baru kita menengok ke Panjalu!"
"Baik sekali, Gusti.
Hamba siap dan sekarang juga hamba akan mengumpulkan seluruh barisan Wilis!"
kata Adiwijaya penuh kegembiraan.
Sementara itu, jauh dari
puncak Wilis, di sebelah timur kaki gunung Wilis, sebuah kereta berhenti di
dalam sebuah hutan. Limanwilis, Lembuwilis, dan NogoWilis duduk di atas tanah
bersila dan tak bergerak seperti arca. Tadi mereka menghentikan kereta,
melepaskan kuda yang mereka biarkan makan rumput, kemudian mereka duduk menanti
di bawah kereta.
Retna Wilis, dan juga Ki
Walangkoro sendiri, ternyata hanya dapat mempengaruhi Lembuwilis, Limanwilis
dan Nogowilis untuk sementara saja. Mereka bertiga ini tunduk karena terpaksa
dan tidak berani melawan. Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, hati
ketiga orang ini tergetar dan watak baik mereka yang sudah lama dipupuk oleh
Endang Patibroto selama wanita itu memimpin Padepokan Wilis, bangkit kembali.
Mereka merasa terharu sekali, apalagi menyaksikan nasib bekas junjungan mereka
yang amat menyedihkan. Memang harus diakui bahwa sebelum menjadi anak buah
Endang Patibroto, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh Wilis yang bekerja sebagai
perampok. Namun, kekejaman hati mereka sudah menipis oleh gemblengan-gemblengan
Endang Patibroto dan kini menyaksikan kekejaman hati Retna Wilis yang tega
melawan ibunya sendiri, mereka menjadi penasaran dan di dalam hati, mereka
berpihak kepada Endang Patibroto.
Begitu siuman dari
pingsannya, Endang Patibroto teringat akan puterinya dan ia mengerang, lalu
menangis tersedu-sedu. Sampai lama ia menangis, kemudian baru ia mendapatkan
dirinya berada di dalam sebuah kereta yang berhenti. Cepat ia meloncat keluar
dari dalam kereta dan melihat Limanwilis dan kedua orang adiknya duduk bersila
dengan kepala tunduk.
"Eh, kalian bertiga
mengapa berada di sini?" Limanwilis menyembah dan berkata,
"Hamba bertiga diutus
oleh Gusti Puteri Retna Wilis untuk mengantar Paduka dengan kereta sampai di
kaki Wilis, kemudian hamba bertiga disuruh meninggalkan kereta. Akan tetapi,
hamba tidak tega meninggalkan Paduka di sini, Gusti. Dan, jika kiranya Paduka
sudi mengampuni hamba bertiga kakak-beradik, hamba ingin bersuwita (menghamba)
kepada Paduka, ingin mengiringkan Paduka kembali ke Panjalu. Hamba tidak
sanggup lagi menjadi kawula Wilis yang ternyata menyeleweng daripada kebenaran,
Gusti." Endang Patibroto menarik napas panjang dan menghapus air matanya.
"Kehendak Hyang Widdhi
Wisesa tak dapat diubah dan dibantah. Retna Wilis telah menyeleweng jauh sekali
setelah dia menjadi murid Nini Bumigarba dan memiliki kesaktian yang tidak
lumrah manusia. Kalian bertiga telah mengalami dan melihat perkembangan
semenjak dia lahir di puncak Wilis sampai dia diculik Nini Bumigarba. Aduh,
Kakang Limanwilis.... apakah yang harus kulakukan ... ?" Endang Patibroto
menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Tiga orang tokoh Wilis itu
memandang bekas junjungan, mereka dengan muka keruh, penuh keharuan. Belum
pernah selama mereka menghamba kepada wanita sakti ini yang terkenal keras
hati, mereka melihat wanita ini menangis seperti itu.
"Duh, Gusti Puteri
Endang Patibroto. Memang sesungguhnyalah Sang Hyang Widdhi tak dapat diubah dan
dibantah, karena itu manusia hanya dapat menyerahkan kepada kekuasaanNya. Akan
tetapi, manusia berwenang untuk berusaha dan berikhtiar. Kalau Paduka suka
menurut anjuran hamba, lebih baik Paduka hamba antar kembali ke Panjalu dan
melaporkan hal ini kepada Kerajaan Panjalu." Endang Patibroto mengangguk,
lalu memasuki kereta kembali. Tiga orang kakek itu pun naik ke atas kereta
seperti tadi dan kuda-kuda yang telah dipasang di depan kereta sebelum mereka
naik, dijalankan melaju ke timur.
"Andika bertiga belum
tahu, Kakang Wilis. Suamiku, ayah Retna Wilis adalah Ki Patih Tejolaksono di
Panjalu."
"Ahhh ......!!"
Tiga orang itu mengangguk-angguk.
Tentu saja mereka sudah
mendengar akan nama Tejolaksono, seorang tokoh yang memiliki kesaktian lebih
tinggi daripada Endang Patibroto sendiri. Ibunya seorang wanita yang tiada
bandingnya, ayahnya seorang tokoh sakti di kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala,
gurunya seorang nenek sesakti iblis sendiri, pantas saja Retna Wilis menjadi
seorang dara yang hebatnya sampai mengerikan hati para jagoan Wilis ini!
Dengan sikap yang amat
gagah, Retna Wilis berdiri di tempat yang menonjol tinggi. Di bagian bawah,
memenuhi lereng sekitar puncak, berkumpullah ribuan orang prajurit Wilis yang
sudah bergabung dengan sebagian rakyat dari daerah-daerah yang sudah
ditaklukkan.
"Para prajuritku yang
setia!" Suara dara itu melengking tinggi dan dapat terdengar sampai jauh
sehingga prajurit yang berdiri paling belakang dapat mendengar dengan jelas.
"Karena Ponorogo
menentang kekuasaan kerajaan kita, kini tiba saatnya bagi kita untuk menggempur
Ponorogo! Kita harus dapat membuktikan bahwa Kerajaan Wilis adalah kerajaan
terbesar di seluruh jagat!"
Sorak-sorai gegap-gempita,
menyambut ucapan Retna Wilis ini. Setelah semua persiapan dilakukan,
berangkatlah barisan besar ini turun dari lereng Wilis, dipimpin oleh Retna
Wilis yang didampingi oleh Patih Adiwijaya.
Biarpun kehilangan
pembantu-pembantu yang pandai, yaitu Ki Walangkoro yang tewas di tangan Endang
Patibroto, juga Lembuwilis dan kedua orang adiknya yang tidak kembali ke Wilis
ketika mengantar Endang Patibroto turun dari puncak, namun sedikit pun Retna
Wilis tidak menjadi gentar. Melihat sikap dara ini, Adiwijaya yang tadinya
merasa ragu-ragu apakah mereka akan dapat menundukkan Ponorogo yang terkenal
memiliki barisan kuat dan banyak orang sakti, menjadi besar hati dan yakin
bahwa di bawah pimpinan seorang seperti Retna Wilis, mereka akan dapat
mengalahkan Ponorogo.
Mula-mula Retna Wilis tidak
mau menunggang kuda. Semenjak kecil ia belum pernah naik kuda dan ketika
menjadi murid Nini Bumigarba di pantai Taut, yang biasa dijadikan binatang
tunggangan hanyalah seekor kura-kura raksasa! Akan tetapi Adiwijaya
menasehatinya,
"Paduka pada saat
seperti ini merupakan panglima besar barisan Wilis. Bagaimanakah seorang
panglima memimpin bala tentaranya dengan berjalan kaki. Hal ini akan
merendahkan nama Paduka, Gusti." Karena nasehat ini, terpaksalah Retna
Wilis menunggang seekor kuda putih dan biarpun ia tampak makin gagah
mengagumkan, namun sesungguhnya ia merasa kurang leluasa harus menunggang kuda.
Akan tetapi setelah menunggang sehari lamanya, ia mulai terbiasa dan merasa
lebih enak, sungguhpun ia akan seribu kali memilih jalan kaki dalam menghadapi
lawan daripada di punggung seekor kuda.
Sementara itu, Kadipaten
Ponorogo yang tentu saja tidak sudi tunduk terhadap perintah Retna Wilis yang
amat hina, sudah pula melakukan persiapan untuk berperang. Barisan-barisan
telah disiapkan, bala bantuan sudah datang, hanya bantuan dari Panjalu yang
belum datang karena Ki Patih Tejolaksono menahan pengiriman bantuan spasukan ke
Ponorogo, menanti kembalinya Endang Patibroto yang hendak mencegah puterinya
melakukan penyerbuan-penyerbuan yang merupakan pemberontakan itu. Di Ponorogo
telah berkumpul orang-orang sakti untuk membantu perjuangan kadipaten ini
menghadapi ancaman Kerajaan Wilis yang baru sekali itu mereka dengar. Akan
tetapi para orang sakti ini tidak lagi berani memandang rendah dara remaja yang
kabarnya menjadi ratu di Wilis ketika mereka mendengar sendiri dari mulut
Panembahan Ki Ageng Kelud betapa saktinya dara itu di waktu masih kecil dahulu.
Apalagi ketika mendengar bahwa dara itu adalah murid Nini Bumigarba, tengkuk
mereka meremang dan tahulah mereka bahwa bukan hanya Ponorogo yang terancam,
juga nyawa mereka sendiri. Akan tetapi, sebagai orang-orang berilmu yang
membela kebenaran, mereka tidak merasa gentar dan siap menghadapi lawan.
Bentrokan pertama antara kedua pasukan Ponorogo dan Wilis terjadi di tapal
batas. Ternyata oleh barisan Wilis bahwa ketenaran nama barisan Ponorogo memang
tidak kosong belaka. Semenjak bentrokan pertama, pasukan-pasukan Ponorogo
mengadakan perlawanan sengit dan mereka itu selain memiliki anak buah yang
kuat-kuat dan pantang mundur, juga dipimpin oleh perwira-perwira yang berpengalaman
dan pandai mengatur barisan. Untung bagi bala tentara Wilis bahwa di pihak
mereka ada Ki Patih Adiwijaya. Seperti telah diketahui, patih ini adalah
seorang prajurit kawakan yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam perang.
Pernah menjadi perwira Jenggala, menjadi panglima Blambangan, kemudian menjadi
patih di Jenggala pula. Maka Patih Adiwijaya dapat mengimbangi siasat perang
pihak lawan. Adapun untuk pertandingan perang campuh itu sendiri, semua
prajurit Wilis menjadi besar hatinya menyaksikan sepak terjang ratu mereka,
Retna Wilis. Dara ini benar-benar mengerikan sekali sepak terjangnya. Ke mana
saja ia mengajukan kudanya, pasti barisan lawan cerai-berai dan korban jatuh
bertumpang-tindih dan bertumpuk-tumpuk!
Hal ini banyak sekali
pengaruhnya, terhadap lawan dan anak buah sendiri. Pihak lawan menjadi gentar
sekali dan pihak anak buah menjadi besar hati. Karena sepak terjang Retna Wilis
yang selain mempergunakan kesaktian kedua tangannya juga menggunakan ilmu hitam
semacam sihir, maka buyarlah pihak musuh. Setiap siasat dan pasangan barisan
diimbangi dengan pasangan lain oleh Patih Adiwijaya dan selalu pasangan barisan
lawan buyar oleh amukan Retna Wilis dan para pasukannya.
Pertempuran itu hanya
berlangsung setengah hari. Pihak pasukan Ponorogo terdesak mundur dan biarpun
semangat tempur para prajurit masih tinggi, namun para perwira yang menyaksikan
betapa pasukan mereka hancur seperti rumput dibabat di bawah amukan Retna Wilis
dan anak buahnya, segera memberi aba-aba kepada pasukan-pasukannya untuk
mundur. Retna Wilis berteriak nyaring, meneriakkan aba-aba kepada para
barisannya untuk mengejar dan menyerbu terus. Di sepanjang perjalanan menuju ke
Kadipaten Ponorogo, mereka bertemu dengan pasukan-pasukan baru, namun mereka
maju terus sehingga tubuh semua prajurit berlumuran darah lawan. Mereka
bergerak seperti kemasukan iblis, tertawa-tawa dan bersorak-sorak, apalagi
karena sepak-terjang Retna Wilis makin buas dan ganas. Segenggam pasir di
tangan Retna Wilis, sekali disambitkan dapat merobohkan puluhan orang lawan!
Itulah Aji Pasir sekti. Masih baik bagi para prajurit Ponorogo bahwa
gerakan-gerakan dara perkasa itu dihalangi oleh kedudukannya di atas kuda.
Andaikata dia mengamuk tanpa menunggang kuda, tentu akan lebih mengerikan lagi
akibatnya.
Retna Wilis yang menyetujui
nasehat patihnya, tidak pernah turun dari punggung kudanya. Makin dekat serbuan
para perajurit Wilis ke kadipaten, makin kuatlah perlawanan prajurit-prajurit
Ponorogo, bahkan kini orang-orang sakti di pihak barisan Ponorogo sudah mulai
membantu pula. Begitu orang-orang sakti yang dipimpin oleh Panembahan Ki Ageng
Kelud dan para warok yang jumlahnya ada lima puluh orang itu menyerbu, barisan
Wilis menjadi kacau-balau. Tidak kuat mereka menandingi serbuan orang-orang
sakti ini yang mengamuk seperti api menjalar, makin lama makin ganas dan
merobohkan banyak korban. Melihat ini, Patih Adiwijaya memberi aba-aba kepada
pasukan yang menghadapi rombongan orang sakti itu untuk mundur dan ia mendekati
junjungannya memberi laporan karena maklum bahwa dia sendiri tidak akan kuat
menanggulangi amukan orang-orang sakti itu. Satu-satunya orang yang akan dapat
menghancurkan mereka hanyalah Sang Ratu Wilis sendiri. Mendengar laporan
patihnya, Retna Wilis mengeluarkan teriakan garang lalu membedal kudanya ke
depan, membuka jalan berdarah merobohkan setiap lawan yang menghadangnya sampai
ia tiba berdepan dengan rombongan warok yang dipimpin oleh Panembahan Ki Ageng
Kelud dan Ki Warok Surobledug!
"Ha, kita bertemu lagi
untuk yang terakhir kalinya, Surobledug dan engkau Ki Ageng Kelud. Terakhir
kali kataku karena sekali ini kalian semua takkan terlepas dari maut di
tanganku!" kata Retna Wilis sambil menudingkan cambuk di tangan kirinya.
Semenjak mengamuk tadi, Retna Wilis hanya menggunakan cambuk kuda, kedua tangan
dan kakinya saja, tidak pernah menyentuh gagang pedangnya.
"Retna Wilis, engkau
perempuan berwatak iblis! Kematian hanya berada di tangan Sang Hyang Widdhi,
sekali-kali bukan di tangan iblis seperti engkau!" Ki Warok Surobledug
membentak.
"Retna Wilis,
kejahatanmu melampaui takaran, terpaksa kami turun tangan!" Panembahan Ki
Ageng Kelud juga berkata sambil menudingkan tongkatnya.
No comments:
Post a Comment