Perawan Lembah Wilis; Bagian 180


"Bagiku, engkau seorang yang baik, dan itu bagiku sudah cukup. Aku tidak perduli pendapat orang lain."
"Mungkin ibunda paduka pun menganggap hamba seorang jahat, Gusti."
"Hemm, mengapa, Paman?"
"Mungkin ....hamba disangka sebagai orang yang membujuk-bujuk paduka...”
"Ah, biarlah. Biar andaikata ibuku sendiri membencimu dan menganggapmu orang jahat, aku tetap menganggapmu seorang baik. Sekarang, Paman. Siapkan bala tentara kita. Kita serbu Ponorogo, terus ke timur."
"Terus menyerbu Jenggala, Gusti?" tanya Adiwijaya penuh gairah,
"Benar, Paman. Ke Jenggala! Kita tundukkan Jenggala secara baik-baik, mengingat bahwa yang menjadi raja di sana adalah Paman Pangeran Panji Sigit, dan permaisurinya adalah Bibi Setyaningsih, adik ibu sendiri. Kalau mereka menghadapi kita dengan kekerasan, terpaksa akan kutundukkan Jenggala dengan kekerasan pula. Setelah itu, baru kita menengok ke Panjalu!"
"Baik sekali, Gusti. Hamba siap dan sekarang juga hamba akan mengumpulkan seluruh barisan Wilis!" kata Adiwijaya penuh kegembiraan.

Sementara itu, jauh dari puncak Wilis, di sebelah timur kaki gunung Wilis, sebuah kereta berhenti di dalam sebuah hutan. Limanwilis, Lembuwilis, dan NogoWilis duduk di atas tanah bersila dan tak bergerak seperti arca. Tadi mereka menghentikan kereta, melepaskan kuda yang mereka biarkan makan rumput, kemudian mereka duduk menanti di bawah kereta.
Retna Wilis, dan juga Ki Walangkoro sendiri, ternyata hanya dapat mempengaruhi Lembuwilis, Limanwilis dan Nogowilis untuk sementara saja. Mereka bertiga ini tunduk karena terpaksa dan tidak berani melawan. Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, hati ketiga orang ini tergetar dan watak baik mereka yang sudah lama dipupuk oleh Endang Patibroto selama wanita itu memimpin Padepokan Wilis, bangkit kembali. Mereka merasa terharu sekali, apalagi menyaksikan nasib bekas junjungan mereka yang amat menyedihkan. Memang harus diakui bahwa sebelum menjadi anak buah Endang Patibroto, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh Wilis yang bekerja sebagai perampok. Namun, kekejaman hati mereka sudah menipis oleh gemblengan-gemblengan Endang Patibroto dan kini menyaksikan kekejaman hati Retna Wilis yang tega melawan ibunya sendiri, mereka menjadi penasaran dan di dalam hati, mereka berpihak kepada Endang Patibroto.
Begitu siuman dari pingsannya, Endang Patibroto teringat akan puterinya dan ia mengerang, lalu menangis tersedu-sedu. Sampai lama ia menangis, kemudian baru ia mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kereta yang berhenti. Cepat ia meloncat keluar dari dalam kereta dan melihat Limanwilis dan kedua orang adiknya duduk bersila dengan kepala tunduk.
"Eh, kalian bertiga mengapa berada di sini?" Limanwilis menyembah dan berkata,
"Hamba bertiga diutus oleh Gusti Puteri Retna Wilis untuk mengantar Paduka dengan kereta sampai di kaki Wilis, kemudian hamba bertiga disuruh meninggalkan kereta. Akan tetapi, hamba tidak tega meninggalkan Paduka di sini, Gusti. Dan, jika kiranya Paduka sudi mengampuni hamba bertiga kakak-beradik, hamba ingin bersuwita (menghamba) kepada Paduka, ingin mengiringkan Paduka kembali ke Panjalu. Hamba tidak sanggup lagi menjadi kawula Wilis yang ternyata menyeleweng daripada kebenaran, Gusti." Endang Patibroto menarik napas panjang dan menghapus air matanya.
"Kehendak Hyang Widdhi Wisesa tak dapat diubah dan dibantah. Retna Wilis telah menyeleweng jauh sekali setelah dia menjadi murid Nini Bumigarba dan memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia. Kalian bertiga telah mengalami dan melihat perkembangan semenjak dia lahir di puncak Wilis sampai dia diculik Nini Bumigarba. Aduh, Kakang Limanwilis.... apakah yang harus kulakukan ... ?" Endang Patibroto menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Tiga orang tokoh Wilis itu memandang bekas junjungan, mereka dengan muka keruh, penuh keharuan. Belum pernah selama mereka menghamba kepada wanita sakti ini yang terkenal keras hati, mereka melihat wanita ini menangis seperti itu.
"Duh, Gusti Puteri Endang Patibroto. Memang sesungguhnyalah Sang Hyang Widdhi tak dapat diubah dan dibantah, karena itu manusia hanya dapat menyerahkan kepada kekuasaanNya. Akan tetapi, manusia berwenang untuk berusaha dan berikhtiar. Kalau Paduka suka menurut anjuran hamba, lebih baik Paduka hamba antar kembali ke Panjalu dan melaporkan hal ini kepada Kerajaan Panjalu." Endang Patibroto mengangguk, lalu memasuki kereta kembali. Tiga orang kakek itu pun naik ke atas kereta seperti tadi dan kuda-kuda yang telah dipasang di depan kereta sebelum mereka naik, dijalankan melaju ke timur.
"Andika bertiga belum tahu, Kakang Wilis. Suamiku, ayah Retna Wilis adalah Ki Patih Tejolaksono di Panjalu."
"Ahhh ......!!" Tiga orang itu mengangguk-angguk.
Tentu saja mereka sudah mendengar akan nama Tejolaksono, seorang tokoh yang memiliki kesaktian lebih tinggi daripada Endang Patibroto sendiri. Ibunya seorang wanita yang tiada bandingnya, ayahnya seorang tokoh sakti di kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala, gurunya seorang nenek sesakti iblis sendiri, pantas saja Retna Wilis menjadi seorang dara yang hebatnya sampai mengerikan hati para jagoan Wilis ini!

Dengan sikap yang amat gagah, Retna Wilis berdiri di tempat yang menonjol tinggi. Di bagian bawah, memenuhi lereng sekitar puncak, berkumpullah ribuan orang prajurit Wilis yang sudah bergabung dengan sebagian rakyat dari daerah-daerah yang sudah ditaklukkan.
"Para prajuritku yang setia!" Suara dara itu melengking tinggi dan dapat terdengar sampai jauh sehingga prajurit yang berdiri paling belakang dapat mendengar dengan jelas.
"Karena Ponorogo menentang kekuasaan kerajaan kita, kini tiba saatnya bagi kita untuk menggempur Ponorogo! Kita harus dapat membuktikan bahwa Kerajaan Wilis adalah kerajaan terbesar di seluruh jagat!"
Sorak-sorai gegap-gempita, menyambut ucapan Retna Wilis ini. Setelah semua persiapan dilakukan, berangkatlah barisan besar ini turun dari lereng Wilis, dipimpin oleh Retna Wilis yang didampingi oleh Patih Adiwijaya.
Biarpun kehilangan pembantu-pembantu yang pandai, yaitu Ki Walangkoro yang tewas di tangan Endang Patibroto, juga Lembuwilis dan kedua orang adiknya yang tidak kembali ke Wilis ketika mengantar Endang Patibroto turun dari puncak, namun sedikit pun Retna Wilis tidak menjadi gentar. Melihat sikap dara ini, Adiwijaya yang tadinya merasa ragu-ragu apakah mereka akan dapat menundukkan Ponorogo yang terkenal memiliki barisan kuat dan banyak orang sakti, menjadi besar hati dan yakin bahwa di bawah pimpinan seorang seperti Retna Wilis, mereka akan dapat mengalahkan Ponorogo.
Mula-mula Retna Wilis tidak mau menunggang kuda. Semenjak kecil ia belum pernah naik kuda dan ketika menjadi murid Nini Bumigarba di pantai Taut, yang biasa dijadikan binatang tunggangan hanyalah seekor kura-kura raksasa! Akan tetapi Adiwijaya menasehatinya,
"Paduka pada saat seperti ini merupakan panglima besar barisan Wilis. Bagaimanakah seorang panglima memimpin bala tentaranya dengan berjalan kaki. Hal ini akan merendahkan nama Paduka, Gusti." Karena nasehat ini, terpaksalah Retna Wilis menunggang seekor kuda putih dan biarpun ia tampak makin gagah mengagumkan, namun sesungguhnya ia merasa kurang leluasa harus menunggang kuda. Akan tetapi setelah menunggang sehari lamanya, ia mulai terbiasa dan merasa lebih enak, sungguhpun ia akan seribu kali memilih jalan kaki dalam menghadapi lawan daripada di punggung seekor kuda.

Sementara itu, Kadipaten Ponorogo yang tentu saja tidak sudi tunduk terhadap perintah Retna Wilis yang amat hina, sudah pula melakukan persiapan untuk berperang. Barisan-barisan telah disiapkan, bala bantuan sudah datang, hanya bantuan dari Panjalu yang belum datang karena Ki Patih Tejolaksono menahan pengiriman bantuan spasukan ke Ponorogo, menanti kembalinya Endang Patibroto yang hendak mencegah puterinya melakukan penyerbuan-penyerbuan yang merupakan pemberontakan itu. Di Ponorogo telah berkumpul orang-orang sakti untuk membantu perjuangan kadipaten ini menghadapi ancaman Kerajaan Wilis yang baru sekali itu mereka dengar. Akan tetapi para orang sakti ini tidak lagi berani memandang rendah dara remaja yang kabarnya menjadi ratu di Wilis ketika mereka mendengar sendiri dari mulut Panembahan Ki Ageng Kelud betapa saktinya dara itu di waktu masih kecil dahulu. Apalagi ketika mendengar bahwa dara itu adalah murid Nini Bumigarba, tengkuk mereka meremang dan tahulah mereka bahwa bukan hanya Ponorogo yang terancam, juga nyawa mereka sendiri. Akan tetapi, sebagai orang-orang berilmu yang membela kebenaran, mereka tidak merasa gentar dan siap menghadapi lawan. Bentrokan pertama antara kedua pasukan Ponorogo dan Wilis terjadi di tapal batas. Ternyata oleh barisan Wilis bahwa ketenaran nama barisan Ponorogo memang tidak kosong belaka. Semenjak bentrokan pertama, pasukan-pasukan Ponorogo mengadakan perlawanan sengit dan mereka itu selain memiliki anak buah yang kuat-kuat dan pantang mundur, juga dipimpin oleh perwira-perwira yang berpengalaman dan pandai mengatur barisan. Untung bagi bala tentara Wilis bahwa di pihak mereka ada Ki Patih Adiwijaya. Seperti telah diketahui, patih ini adalah seorang prajurit kawakan yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam perang. Pernah menjadi perwira Jenggala, menjadi panglima Blambangan, kemudian menjadi patih di Jenggala pula. Maka Patih Adiwijaya dapat mengimbangi siasat perang pihak lawan. Adapun untuk pertandingan perang campuh itu sendiri, semua prajurit Wilis menjadi besar hatinya menyaksikan sepak terjang ratu mereka, Retna Wilis. Dara ini benar-benar mengerikan sekali sepak terjangnya. Ke mana saja ia mengajukan kudanya, pasti barisan lawan cerai-berai dan korban jatuh bertumpang-tindih dan bertumpuk-tumpuk!
Hal ini banyak sekali pengaruhnya, terhadap lawan dan anak buah sendiri. Pihak lawan menjadi gentar sekali dan pihak anak buah menjadi besar hati. Karena sepak terjang Retna Wilis yang selain mempergunakan kesaktian kedua tangannya juga menggunakan ilmu hitam semacam sihir, maka buyarlah pihak musuh. Setiap siasat dan pasangan barisan diimbangi dengan pasangan lain oleh Patih Adiwijaya dan selalu pasangan barisan lawan buyar oleh amukan Retna Wilis dan para pasukannya.

Pertempuran itu hanya berlangsung setengah hari. Pihak pasukan Ponorogo terdesak mundur dan biarpun semangat tempur para prajurit masih tinggi, namun para perwira yang menyaksikan betapa pasukan mereka hancur seperti rumput dibabat di bawah amukan Retna Wilis dan anak buahnya, segera memberi aba-aba kepada pasukan-pasukannya untuk mundur. Retna Wilis berteriak nyaring, meneriakkan aba-aba kepada para barisannya untuk mengejar dan menyerbu terus. Di sepanjang perjalanan menuju ke Kadipaten Ponorogo, mereka bertemu dengan pasukan-pasukan baru, namun mereka maju terus sehingga tubuh semua prajurit berlumuran darah lawan. Mereka bergerak seperti kemasukan iblis, tertawa-tawa dan bersorak-sorak, apalagi karena sepak-terjang Retna Wilis makin buas dan ganas. Segenggam pasir di tangan Retna Wilis, sekali disambitkan dapat merobohkan puluhan orang lawan! Itulah Aji Pasir sekti. Masih baik bagi para prajurit Ponorogo bahwa gerakan-gerakan dara perkasa itu dihalangi oleh kedudukannya di atas kuda. Andaikata dia mengamuk tanpa menunggang kuda, tentu akan lebih mengerikan lagi akibatnya.
Retna Wilis yang menyetujui nasehat patihnya, tidak pernah turun dari punggung kudanya. Makin dekat serbuan para perajurit Wilis ke kadipaten, makin kuatlah perlawanan prajurit-prajurit Ponorogo, bahkan kini orang-orang sakti di pihak barisan Ponorogo sudah mulai membantu pula. Begitu orang-orang sakti yang dipimpin oleh Panembahan Ki Ageng Kelud dan para warok yang jumlahnya ada lima puluh orang itu menyerbu, barisan Wilis menjadi kacau-balau. Tidak kuat mereka menandingi serbuan orang-orang sakti ini yang mengamuk seperti api menjalar, makin lama makin ganas dan merobohkan banyak korban. Melihat ini, Patih Adiwijaya memberi aba-aba kepada pasukan yang menghadapi rombongan orang sakti itu untuk mundur dan ia mendekati junjungannya memberi laporan karena maklum bahwa dia sendiri tidak akan kuat menanggulangi amukan orang-orang sakti itu. Satu-satunya orang yang akan dapat menghancurkan mereka hanyalah Sang Ratu Wilis sendiri. Mendengar laporan patihnya, Retna Wilis mengeluarkan teriakan garang lalu membedal kudanya ke depan, membuka jalan berdarah merobohkan setiap lawan yang menghadangnya sampai ia tiba berdepan dengan rombongan warok yang dipimpin oleh Panembahan Ki Ageng Kelud dan Ki Warok Surobledug!
"Ha, kita bertemu lagi untuk yang terakhir kalinya, Surobledug dan engkau Ki Ageng Kelud. Terakhir kali kataku karena sekali ini kalian semua takkan terlepas dari maut di tanganku!" kata Retna Wilis sambil menudingkan cambuk di tangan kirinya. Semenjak mengamuk tadi, Retna Wilis hanya menggunakan cambuk kuda, kedua tangan dan kakinya saja, tidak pernah menyentuh gagang pedangnya.
"Retna Wilis, engkau perempuan berwatak iblis! Kematian hanya berada di tangan Sang Hyang Widdhi, sekali-kali bukan di tangan iblis seperti engkau!" Ki Warok Surobledug membentak.
"Retna Wilis, kejahatanmu melampaui takaran, terpaksa kami turun tangan!" Panembahan Ki Ageng Kelud juga berkata sambil menudingkan tongkatnya.

<<< Bagian 179                                                                                      Bagian 181 >>>

No comments:

Post a Comment