Perawan Lembah Wilis; Bagian 181


Retna Wilis tertawa, suara ketawanya dingin mengejek, membuat mereka yang mendengar menjadi mengkirik. Akan tetapi diam-diam Surobledug telah memberi isyarat dan tiba-tiba terdengar suara bersautan dan ratusan anak panah menyambar ke arah tubuh Retna Wilis! Melihat ini, Retna Wilis cepat memutar cambuknya sehingga anak-anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya runtuh semua. Akan tetapi tiba-tiba kuda yang ditungganginya meringkik keras dan roboh terguling. Retna Wilis kaget dan marah. Kudanya telah menjadi korban anak panah musuh, ia meloncat dari punggung kuda. Akan tetapi karena ia kurang pandai menunggang kuda dan tidak biasa, ia lupa bahwa kakinya masih terkait dan ketika ia meloncat tentu saja tubuhnya terpelanting dan ia terbawa roboh bersama kuda, sebelah kakinya terhimpit tubuh kudanya yang berkelojotan. Pada saat itu, Patih Adiwijaya meloncat dari atas kudanya langsung menolong sang puteri, menarik tubuh kuda dan membantu Retna Wilis yang hendak disambarnya dari tempat berbahaya itu karena kini banyak anak panah melayang lagi diikuti para warok yang dipimpin Ki Warok Surobledug menerjang dengan senjata mereka.
Adiwijaya berhasil menyambar tubuh Retna Wilis, akan tetapi ia merupakan perisai dan biarpun Retna Wilis yang melihat datangnya anak panah itu cepat menggerakkan tangan memukul anak-anak panah itu dengan hawa sakti, tetap saja ada sebatang anak panah menancap di pundak Adiwijaya!
"Ah, Paman, mengapa engkau menoIongku? Engkau terluka sendiri .......”. Retna Wilis berkata penuh sesal. Kalau hanya jatuh tertindih tubuh kuda begitu saja, bukan apa-apa baginya dan tidak ditolong sekali pun dia mampu menolong diri sendiri. Adiwijaya terhuyung dan menggigit bibir ketika Retna Wilis mencabut anak panah itu yang ternyata mengandung racun!
"Cepat mundurlah dan obati lukamu!" kemudian sekali tangannya bergerak ke belakang, ia telah mencabut pedang dan tampaklah sinar berkilat menyilaukan mata. Pedang Sapudenda telah berada di tangannya, dan sekali memekik nyaring tubuh dara perkasa ini sudah mencelat ke depan, disambut oleh rombongan warok. Kini dara itu tidak lagi menunggang kuda, maka gerakannya makin dahsyat mengerikan. Tampak sinar pedangnya seperti kilat menyambar-nyambar di musim hujan dan terdengarlah jerit-jerit kematian dari tujuh orang warok termasuk Ki Surobledug sendiri yang putus batang lehernya disambar pedang Sapudenta!
"Sungguh kejam ........ !" Ki Ageng Kelud berseru dan menerjang maju dengan gerakannya yang seperti garuda melayang. Serangannya hebat sekali dan kali ini kakek itu menggerakkan sebatang tongkat akar cendana yang menyambar ke arah kepala Retna Wilis. Selain hantaman tongkat di tangan Ki Ageng Kelud ini, masih ada sambaran senjata-senjata pusaka yang berupa kolor ajimat, digerakkan oleh tangan Ki Warok Dwipasekti dan tiga orang warok sakti lainnya. Retna Wilis kini sudah marah sekali, wajahnya yang cantik jelita berubah beringas, matanya bersinar-sinar seperti memancarkan api, hidungnya berkembang kempis, mulutnya tersenyun dingin penuh ejekan. Melihat datangnya serangan lima orang sakti itu, ia hanya menyambut tongkat Ki Ageng Kelud. Tangan kirinya bergerak menangkap tongkat, tangan kanan yang memegang pedang menusuk dan..... darah muncrat dari dada kakek itu yang ditembusi pedang Sapudenta sampai ke punggung. Biarpun sudah tua dan kini pedang pusaka yang luar biasa ampuhnya menembus dadanya, namun Ki Ageng Kelud adalah seorang yang gentur tapa, seorang sakti mandraguna yang sudah dapat mengatasi perasaan nyeri. Ia seperti tidak merasakan nyeri sama sekali, malah tertawa dan kedua tangannya mencengkeram ke arah kepala dan leher Retna Wilis! Dara perkasa ini berseru kagum, tidak memperdulikan empat buah senjata kolor yang menghantam tubuhnya, bahkan terus membelit kaki dan pinggangnya, namun ia menyambut cengkeraman Ki Ageng Kelud dengan pukulan tangan kiri, menggunakan Aji Wisalangking. Pukulannya cepat sekali, membuat kedua tangan kakek itu terpental, terus menghantam kepala dan sekali ini Ki Ageng Kelud tidak kuat bertahan, tubuhnya terpental, pedang tercabut dan robohlah tubuh kakek itu dalam keadaan hangus bagian mukanya!

Retna Wilis tadi sengaja menghadapi Ki Ageng Kelud yang ia tahu amat sakti, tidak memperdulikan hantaman empat buah kolor jimat di tangan empat orang warok sakti. Biarpun hanya kolor, akan tetapi bukan kolor sembarangan karena dengan senjata kolor ini, warok-warok sakti itu sanggup untuk sekali pukul menghancurkan batu karang dan menumbangkan pohon jati sebesar orang! Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika kolor mereka mengenai tubuh Retna Wilis, dara itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, dan kolor-kolor itu mengenai tubuhnya sama sekali tidak dirasakannya, seolah-olah hanya empat ekor lalat yang hinggap di tubuh. Melihat dara itu menusuk dada Ki Ageng Kelud dengan pedang, kemudian memukul hangus kepala kakek itu, empat orang warok itu menjadi marah dan penasaran. Kolor mereka yang tadi memukul tanpa hasil, terus melibat. Dua buah melibat pinggang, dan yang dua buah lagi membelit kedua kaki gadis itu, kemudian mereka mengerahkan seluruh tenaga dan bersama-sama mereka membetot untuk membikin tubuh dara itu terguling. Tenaga Ki Warok Dwipasekti dan tiga orang kawannya itu amat besar. Tarikan mereka tidak akan kalah oleh tenaga tarikan empat ekor kerbau jantan. Akan tetapi Retna Wilis tetap berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, tangan kanan memegang pedang melintang di depan dada, tangan kiri diangkat ke atas dan tubuhnya sedikit pun tidak bergeming! Jangankan baru empat warok sakti, biar ditambah sepuluh kali lipat, belum tentu akan kuat menggeser gadis itu yang mengerahkan Aji Argoselo. Kalau sudah mengerahkan aji seperti itu, tubuh dara itu seolah-olah berubah menjadi gunung batu, kedua kakinya seperti telah berakar di bumi! Empat orang warok itu mendengus-dengus mengerahkan tenaga dan ketika Retna Wilis menggerakkan pedang Sapudenta, pedang itu berubah menjadi sinar berkelebat dan empat buah kepala warok itu mencelat terlepas dari tubuh mereka yang masih menarik-narik kolor! Retna Wilis meloncat mundur menghindarkan darah yang muncrat-muncrat dan robohlah empat batang tubuh yang sudah tidak berkepala lagi itu. Para warok menjadi marah bukan main, akan tetapi kini Retna Wilis sudah mengamuk dengan pedangnya. Senjata berupa apapun juga dari para pengeroyoknya pasti terbabat putus oleh pedang Sapudenta, dan disusul muncratnya darah dari bagian tubuh yang ikut terbabat dan menjadi buntung. Sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan mayat para tokoh sakti yang membantu Ponorogo. Sementara itu, setelah mengobati lukanya di pundak, Adiwijaya terus memimpin tentaranya menghajar pasukan-pasukan musuh. Karena pihak Ponorogo melihat betapa para warok dan orang-orang sakti terbasmi oleh Retna Wilis, hati mereka menjadi gentar sekali.

Ketika pasukan Wilis menyerbu kadipaten, sisa pasukan Ponorogo bersama Adipati Diroprakosa melarikan diri menuju ke Panjalu. Ketika Retna Wilis dan pasukannya memasuki kadipaten, di depan istana kadipaten, Adiwijaya roboh pingsan. Luka di pundaknya memang tidak hebat, akan tetapi karena luka itu terkena racun yang terkandung di ujung anak panah, dan dia tidak beristirahat melainkan memimpin terus barisannya, kini racun mulai bekerja dan dia roboh pingsan. Retna Wilis cepat memerintahkan beberapa orang perwira untuk menggotong tubuh patihnya itu memasuki kadipaten dan dia sendiri yang merawat luka patihnya yang setia itu. Ketika siuman dan mendapatkan dirinya dirawat sendiri oleh Retna Wilis, Adiwijaya menjadi terharu. Baru pertama kali ini selama hidupnya ia merasa terharu, perawatan Retna Wilis menyentuh hatinya, seolah-olah ia menjadi seorang ayah yang dirawat seorang puterinya.
"Ah, harap Paduka jangan melelahkan diri. Sudah sepatutnya hamba terluka, memang hamba sendiri yang salah dan lancang. Hamba lupa bahwa biarpun jatuh, Paduka tidak akan mungkin dapat celaka di tangan musuh. Hamba kaget dan panik sehingga lancang menolong sehingga hamba sendiri yang terluka. Sudah sepatutnya, memang hamba bodoh sekali ..." katanya, hatinya merasa sungkan juga melihat betapa dara perkasa yang dipuja dan dikaguminya itu mencuci sendiri luka di pundaknya, memberi obat dan membalutnya.
"Eh, Paman Adiwijaya, mengapa sungkan-sungkan? Biarlah kubalut baik-baik lukamu. Engkau terkena racun. Engkau telah menolongku, dan hal itu kuanggap bahwa Paman telah menolong nyawaku, telah melepas budi besar."
"Paduka terlampau sakti, tak mungkin akan dapat dicelakai lawan. Luar biasa sekali. Selama hidupku, belum pernah hamba menyaksikan sepak terjang seorang panglima perang seperti Paduka"
Setelah pasukan Ponorogo melarikan diri, pasukan-pasukan Wilis berpesta-pora dalam melakukan pengejaran. Pengejaran itu hanya sebagai alasan belaka, sesungguhnya mereka itu berpesta-pora melakukan perampokan-perampokan, bukan hanya harta benda yang direnggut, juga kehormatan-kehormatan wanita cantik. Merampok barang, memperkosa wanita, membunuh, menyiksa! Di antara sorak-sorai gembira, sorak kemenangan itu tertutuplah isak tangis dan lengking kematian dari rakyat yang tinggal di sekitar Ponorogo.

"Aduh, Kakangmas ..., apa yang harus kulakukan..... Aduh dewata, lebih baik dicabut saja nyawa Endang Patibroto daripada menderita batin seperti ini...”. Endang Patibroto mengeluh dan menangis di dalam kereta sehingga Limanwilis yang duduk pula di situ hanya melongo dan menghela napas panjang dengan hati penuh iba. Dia tidak dapat menghibur, maklum betapa hancur hati junjungannya itu. Ketika akhirnya kereta itu memasuki halaman Kepatihan Panjalu, Endang Patibroto meloncat turun dan lari memasuki kepatihan dengan agak terhuyung. Patih Tejolaksono bersama Ayu Candra dengan kaget sekali menyambut kedatangan Endang Patibroto yang masuk sambil menangis. Lebih-lebih lagi rasa kaget dan cemas hati Patih Tejolaksono ketika Endang Patibroto menubruk kakinya dan menangis,
"Aduh, Kakangmas ... bagaimana dengan anak kita itu ..., apakah yang harus kulakukan, Kakangmas?”
Ayu Candra cepat merangkul pundak madunya.
"Dinda Endang ....ada apakah? Apa yang terjadi? Bagaimana Retna Wilis?” Ayu Candra sudah pula menangis melihat madunya tersedu-sedu seperti itu.
Patih Tejolaksono menghela napas dan menekan batinnya, lalu ia mengangkat bangun tubuh Endang Patibroto sehingga wanita itu bangkit berdiri, lalu kedua tangannya memegang pipi kiri kanan, memaksa wajah yang basah air mata itu bertemu pandang dengannya. Tejolaksono tersenyum, senyum penuh ketenangan dan ia berkata,
"Adinda Endang Patibroto, ke manakah ketenanganmu? Pandanglah aku, apakah dunia sudah begitu sempit sehingga engkau kehilangan akal? Tenanglah dan mari kita duduk di dalam untuk membicarakan persoalan yang menyusahkan hatimu." Tejolaksono merangkul pundak isterinya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Ayu Candra memegang tangan Endang Ptibroto yang masih
terisak dan memandang wajah madunya yang pucat itu dengan hati cemas.
Endang Patibroto merasa makin seperti diremas-remas hatinya setelah ia bertemu dengan suami dan madunya, ia menjatuhkan diri di atas pembaringan, menyembunyikan mukanya pada bantal dan menangis lagi. Ayu Candra juga menangis dan hendak menubruknya, akan tetapi Tejolaksono memegang pundaknya dan memberi isyarat dengan gelengan kepala agar Ayu Candra membiarkan Endang Patibroto menangis dulu. Hal ini akan melepaskan kerisauan hatinya. Ia mengerutkan kening memandang tubuh Endang Patibroto yang bergoyang-goyang dalam tangisnya. Bukan watak Endang Patibroto untuk menangis seperti itu. Tentu telah terjadi hal yang amat hebat dengan Retna Wilis.
Benar saja, setelah dibiarkan menangis sejenak, Endang Patibroto akhirnya dapat meredakan gelora hatinya dan ia bangkit duduk menghapus air matanya.
"Maafkan aku, Kakangmas, maafkan Ayunda ...”
"Dinda Endang Patibroto, sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi?" tanya Tejolaksono sambil memegang tangan kiri isterinya. Ayu Candra memegang tangan kanan madunya. Pegangan suami dan madunya itu memberi kekuatan kepada Endang Patibroto, mengertilah ia bahwa betapapun keadaannya, kedua orang itu tidak akan membiarkan dia sengsara seorang diri. Maka diceritakanlah semua pengalamannya, bercerita diseling isak tertahan. Mendengar cerita Endang Patibroto, Ayu Candra memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat. Juga Tejolaksono terkejut sekali, merasa dadanya seperti ditusuk dan ia menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
"Duh Jagat Dewa Bathara ...! Mengapa dia bisa menjadi begitu? Anakku...!” dengan wajah pucat Tejolaksono mengeluh.
"Urusan ini hebat sekali, harus kita laporkan kepada sang prabu dan kita rundingkan dengan kakangmas Pangeran Darmokusumo. Dan untuk membujuk Retna Wilis, agaknya aku sendiri yang harus menemuinya ...“
Endang Patibroto menggeleng kepala dengan sedih.
"Agaknya akan sia-sia, Kakangmas. Dia tidak dapat dibujuk, wataknya keras melebihi baja ...” Mendengar ini, Tejolaksono dan Ayu Candra saling pandang.
Anak Endang Patibroto, bagaimana tidak sakti mandraguna dan keras hati, demikian bisik hati mereka.
"Dan mempergunakan kekerasan juga percuma. Kesaktiannya mengerikan. Segala aji kesaktian kukeluarkan dan pada waktu itu saya sudah bertekad untuk membunuhnya saja. Akan tetapi tidak ada pukulanku yang dapat merobohkannya, sama sekali aku tidak berdaya melawannya! Dia memiliki kesaktian seperti Nini Bumigarba ... mengerikan!" Tiba-tiba Endang Patibroto mengangkat muka memandang Ayu Candra dan berkata,
"Ah, Bagus Seta! Dialah yang akan dapat menundukkannya! Mengapa aku melupakan anak kita itu? Bagus Seta ..., di mana dia? Dialah satu-satunya orang yang boleh diharapkan untuk menundukkan Retna Wilis, anak durhaka seperti iblis itu!"

<<< Bagian 180                                                                                     Bagian 182 >>>

No comments:

Post a Comment