Retna Wilis tertawa, suara ketawanya dingin mengejek, membuat mereka yang mendengar menjadi mengkirik. Akan tetapi diam-diam Surobledug telah memberi isyarat dan tiba-tiba terdengar suara bersautan dan ratusan anak panah menyambar ke arah tubuh Retna Wilis! Melihat ini, Retna Wilis cepat memutar cambuknya sehingga anak-anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya runtuh semua. Akan tetapi tiba-tiba kuda yang ditungganginya meringkik keras dan roboh terguling. Retna Wilis kaget dan marah. Kudanya telah menjadi korban anak panah musuh, ia meloncat dari punggung kuda. Akan tetapi karena ia kurang pandai menunggang kuda dan tidak biasa, ia lupa bahwa kakinya masih terkait dan ketika ia meloncat tentu saja tubuhnya terpelanting dan ia terbawa roboh bersama kuda, sebelah kakinya terhimpit tubuh kudanya yang berkelojotan. Pada saat itu, Patih Adiwijaya meloncat dari atas kudanya langsung menolong sang puteri, menarik tubuh kuda dan membantu Retna Wilis yang hendak disambarnya dari tempat berbahaya itu karena kini banyak anak panah melayang lagi diikuti para warok yang dipimpin Ki Warok Surobledug menerjang dengan senjata mereka.
Adiwijaya berhasil menyambar
tubuh Retna Wilis, akan tetapi ia merupakan perisai dan biarpun Retna Wilis yang
melihat datangnya anak panah itu cepat menggerakkan tangan memukul anak-anak
panah itu dengan hawa sakti, tetap saja ada sebatang anak panah menancap di
pundak Adiwijaya!
"Ah, Paman, mengapa
engkau menoIongku? Engkau terluka sendiri .......”. Retna Wilis berkata penuh
sesal. Kalau hanya jatuh tertindih tubuh kuda begitu saja, bukan apa-apa
baginya dan tidak ditolong sekali pun dia mampu menolong diri sendiri.
Adiwijaya terhuyung dan menggigit bibir ketika Retna Wilis mencabut anak panah
itu yang ternyata mengandung racun!
"Cepat mundurlah dan
obati lukamu!" kemudian sekali tangannya bergerak ke belakang, ia telah
mencabut pedang dan tampaklah sinar berkilat menyilaukan mata. Pedang Sapudenda
telah berada di tangannya, dan sekali memekik nyaring tubuh dara perkasa ini
sudah mencelat ke depan, disambut oleh rombongan warok. Kini dara itu tidak
lagi menunggang kuda, maka gerakannya makin dahsyat mengerikan. Tampak sinar
pedangnya seperti kilat menyambar-nyambar di musim hujan dan terdengarlah
jerit-jerit kematian dari tujuh orang warok termasuk Ki Surobledug sendiri yang
putus batang lehernya disambar pedang Sapudenta!
"Sungguh kejam ........
!" Ki Ageng Kelud berseru dan menerjang maju dengan gerakannya yang
seperti garuda melayang. Serangannya hebat sekali dan kali ini kakek itu
menggerakkan sebatang tongkat akar cendana yang menyambar ke arah kepala Retna
Wilis. Selain hantaman tongkat di tangan Ki Ageng Kelud ini, masih ada sambaran
senjata-senjata pusaka yang berupa kolor ajimat, digerakkan oleh tangan Ki Warok
Dwipasekti dan tiga orang warok sakti lainnya. Retna Wilis kini sudah marah
sekali, wajahnya yang cantik jelita berubah beringas, matanya bersinar-sinar
seperti memancarkan api, hidungnya berkembang kempis, mulutnya tersenyun dingin
penuh ejekan. Melihat datangnya serangan lima orang sakti itu, ia hanya
menyambut tongkat Ki Ageng Kelud. Tangan kirinya bergerak menangkap tongkat,
tangan kanan yang memegang pedang menusuk dan..... darah muncrat dari dada
kakek itu yang ditembusi pedang Sapudenta sampai ke punggung. Biarpun sudah tua
dan kini pedang pusaka yang luar biasa ampuhnya menembus dadanya, namun Ki
Ageng Kelud adalah seorang yang gentur tapa, seorang sakti mandraguna yang
sudah dapat mengatasi perasaan nyeri. Ia seperti tidak merasakan nyeri sama
sekali, malah tertawa dan kedua tangannya mencengkeram ke arah kepala dan leher
Retna Wilis! Dara perkasa ini berseru kagum, tidak memperdulikan empat buah
senjata kolor yang menghantam tubuhnya, bahkan terus membelit kaki dan
pinggangnya, namun ia menyambut cengkeraman Ki Ageng Kelud dengan pukulan
tangan kiri, menggunakan Aji Wisalangking. Pukulannya cepat sekali, membuat
kedua tangan kakek itu terpental, terus menghantam kepala dan sekali ini Ki
Ageng Kelud tidak kuat bertahan, tubuhnya terpental, pedang tercabut dan
robohlah tubuh kakek itu dalam keadaan hangus bagian mukanya!
Retna Wilis tadi sengaja
menghadapi Ki Ageng Kelud yang ia tahu amat sakti, tidak memperdulikan hantaman
empat buah kolor jimat di tangan empat orang warok sakti. Biarpun hanya kolor,
akan tetapi bukan kolor sembarangan karena dengan senjata kolor ini,
warok-warok sakti itu sanggup untuk sekali pukul menghancurkan batu karang dan
menumbangkan pohon jati sebesar orang! Akan tetapi betapa kaget hati mereka
ketika kolor mereka mengenai tubuh Retna Wilis, dara itu sama sekali tidak
mengelak atau menangkis, dan kolor-kolor itu mengenai tubuhnya sama sekali
tidak dirasakannya, seolah-olah hanya empat ekor lalat yang hinggap di tubuh.
Melihat dara itu menusuk dada Ki Ageng Kelud dengan pedang, kemudian memukul
hangus kepala kakek itu, empat orang warok itu menjadi marah dan penasaran.
Kolor mereka yang tadi memukul tanpa hasil, terus melibat. Dua buah melibat
pinggang, dan yang dua buah lagi membelit kedua kaki gadis itu, kemudian mereka
mengerahkan seluruh tenaga dan bersama-sama mereka membetot untuk membikin
tubuh dara itu terguling. Tenaga Ki Warok Dwipasekti dan tiga orang kawannya
itu amat besar. Tarikan mereka tidak akan kalah oleh tenaga tarikan empat ekor
kerbau jantan. Akan tetapi Retna Wilis tetap berdiri tegak dengan kedua kaki
terpentang lebar, tangan kanan memegang pedang melintang di depan dada, tangan
kiri diangkat ke atas dan tubuhnya sedikit pun tidak bergeming! Jangankan baru
empat warok sakti, biar ditambah sepuluh kali lipat, belum tentu akan kuat
menggeser gadis itu yang mengerahkan Aji Argoselo. Kalau sudah mengerahkan aji
seperti itu, tubuh dara itu seolah-olah berubah menjadi gunung batu, kedua
kakinya seperti telah berakar di bumi! Empat orang warok itu mendengus-dengus
mengerahkan tenaga dan ketika Retna Wilis menggerakkan pedang Sapudenta, pedang
itu berubah menjadi sinar berkelebat dan empat buah kepala warok itu mencelat
terlepas dari tubuh mereka yang masih menarik-narik kolor! Retna Wilis meloncat
mundur menghindarkan darah yang muncrat-muncrat dan robohlah empat batang tubuh
yang sudah tidak berkepala lagi itu. Para warok menjadi marah bukan main, akan
tetapi kini Retna Wilis sudah mengamuk dengan pedangnya. Senjata berupa apapun
juga dari para pengeroyoknya pasti terbabat putus oleh pedang Sapudenta, dan
disusul muncratnya darah dari bagian tubuh yang ikut terbabat dan menjadi
buntung. Sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan mayat para tokoh sakti
yang membantu Ponorogo. Sementara itu, setelah mengobati lukanya di pundak,
Adiwijaya terus memimpin tentaranya menghajar pasukan-pasukan musuh. Karena
pihak Ponorogo melihat betapa para warok dan orang-orang sakti terbasmi oleh
Retna Wilis, hati mereka menjadi gentar sekali.
Ketika pasukan Wilis
menyerbu kadipaten, sisa pasukan Ponorogo bersama Adipati Diroprakosa melarikan
diri menuju ke Panjalu. Ketika Retna Wilis dan pasukannya memasuki kadipaten,
di depan istana kadipaten, Adiwijaya roboh pingsan. Luka di pundaknya memang
tidak hebat, akan tetapi karena luka itu terkena racun yang terkandung di ujung
anak panah, dan dia tidak beristirahat melainkan memimpin terus barisannya,
kini racun mulai bekerja dan dia roboh pingsan. Retna Wilis cepat memerintahkan
beberapa orang perwira untuk menggotong tubuh patihnya itu memasuki kadipaten
dan dia sendiri yang merawat luka patihnya yang setia itu. Ketika siuman dan
mendapatkan dirinya dirawat sendiri oleh Retna Wilis, Adiwijaya menjadi
terharu. Baru pertama kali ini selama hidupnya ia merasa terharu, perawatan
Retna Wilis menyentuh hatinya, seolah-olah ia menjadi seorang ayah yang dirawat
seorang puterinya.
"Ah, harap Paduka
jangan melelahkan diri. Sudah sepatutnya hamba terluka, memang hamba sendiri
yang salah dan lancang. Hamba lupa bahwa biarpun jatuh, Paduka tidak akan
mungkin dapat celaka di tangan musuh. Hamba kaget dan panik sehingga lancang
menolong sehingga hamba sendiri yang terluka. Sudah sepatutnya, memang hamba
bodoh sekali ..." katanya, hatinya merasa sungkan juga melihat betapa dara
perkasa yang dipuja dan dikaguminya itu mencuci sendiri luka di pundaknya,
memberi obat dan membalutnya.
"Eh, Paman Adiwijaya,
mengapa sungkan-sungkan? Biarlah kubalut baik-baik lukamu. Engkau terkena
racun. Engkau telah menolongku, dan hal itu kuanggap bahwa Paman telah menolong
nyawaku, telah melepas budi besar."
"Paduka terlampau
sakti, tak mungkin akan dapat dicelakai lawan. Luar biasa sekali. Selama
hidupku, belum pernah hamba menyaksikan sepak terjang seorang panglima perang
seperti Paduka"
Setelah pasukan Ponorogo
melarikan diri, pasukan-pasukan Wilis berpesta-pora dalam melakukan pengejaran.
Pengejaran itu hanya sebagai alasan belaka, sesungguhnya mereka itu
berpesta-pora melakukan perampokan-perampokan, bukan hanya harta benda yang
direnggut, juga kehormatan-kehormatan wanita cantik. Merampok barang,
memperkosa wanita, membunuh, menyiksa! Di antara sorak-sorai gembira, sorak
kemenangan itu tertutuplah isak tangis dan lengking kematian dari rakyat yang
tinggal di sekitar Ponorogo.
"Aduh, Kakangmas ...,
apa yang harus kulakukan..... Aduh dewata, lebih baik dicabut saja nyawa Endang
Patibroto daripada menderita batin seperti ini...”. Endang Patibroto mengeluh
dan menangis di dalam kereta sehingga Limanwilis yang duduk pula di situ hanya
melongo dan menghela napas panjang dengan hati penuh iba. Dia tidak dapat
menghibur, maklum betapa hancur hati junjungannya itu. Ketika akhirnya kereta
itu memasuki halaman Kepatihan Panjalu, Endang Patibroto meloncat turun dan
lari memasuki kepatihan dengan agak terhuyung. Patih Tejolaksono bersama Ayu
Candra dengan kaget sekali menyambut kedatangan Endang Patibroto yang masuk
sambil menangis. Lebih-lebih lagi rasa kaget dan cemas hati Patih Tejolaksono
ketika Endang Patibroto menubruk kakinya dan menangis,
"Aduh, Kakangmas ...
bagaimana dengan anak kita itu ..., apakah yang harus kulakukan, Kakangmas?”
Ayu Candra cepat merangkul
pundak madunya.
"Dinda Endang ....ada
apakah? Apa yang terjadi? Bagaimana Retna Wilis?” Ayu Candra sudah pula
menangis melihat madunya tersedu-sedu seperti itu.
Patih Tejolaksono menghela
napas dan menekan batinnya, lalu ia mengangkat bangun tubuh Endang Patibroto
sehingga wanita itu bangkit berdiri, lalu kedua tangannya memegang pipi kiri
kanan, memaksa wajah yang basah air mata itu bertemu pandang dengannya.
Tejolaksono tersenyum, senyum penuh ketenangan dan ia berkata,
"Adinda Endang
Patibroto, ke manakah ketenanganmu? Pandanglah aku, apakah dunia sudah begitu
sempit sehingga engkau kehilangan akal? Tenanglah dan mari kita duduk di dalam
untuk membicarakan persoalan yang menyusahkan hatimu." Tejolaksono
merangkul pundak isterinya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Ayu Candra
memegang tangan Endang Ptibroto yang masih
terisak dan memandang wajah
madunya yang pucat itu dengan hati cemas.
Endang Patibroto merasa
makin seperti diremas-remas hatinya setelah ia bertemu dengan suami dan
madunya, ia menjatuhkan diri di atas pembaringan, menyembunyikan mukanya pada
bantal dan menangis lagi. Ayu Candra juga menangis dan hendak menubruknya, akan
tetapi Tejolaksono memegang pundaknya dan memberi isyarat dengan gelengan
kepala agar Ayu Candra membiarkan Endang Patibroto menangis dulu. Hal ini akan
melepaskan kerisauan hatinya. Ia mengerutkan kening memandang tubuh Endang
Patibroto yang bergoyang-goyang dalam tangisnya. Bukan watak Endang Patibroto
untuk menangis seperti itu. Tentu telah terjadi hal yang amat hebat dengan
Retna Wilis.
Benar saja, setelah
dibiarkan menangis sejenak, Endang Patibroto akhirnya dapat meredakan gelora
hatinya dan ia bangkit duduk menghapus air matanya.
"Maafkan aku,
Kakangmas, maafkan Ayunda ...”
"Dinda Endang
Patibroto, sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi?" tanya
Tejolaksono sambil memegang tangan kiri isterinya. Ayu Candra memegang tangan
kanan madunya. Pegangan suami dan madunya itu memberi kekuatan kepada Endang
Patibroto, mengertilah ia bahwa betapapun keadaannya, kedua orang itu tidak
akan membiarkan dia sengsara seorang diri. Maka diceritakanlah semua
pengalamannya, bercerita diseling isak tertahan. Mendengar cerita Endang
Patibroto, Ayu Candra memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat. Juga
Tejolaksono terkejut sekali, merasa dadanya seperti ditusuk dan ia menghela
napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
"Duh Jagat Dewa Bathara
...! Mengapa dia bisa menjadi begitu? Anakku...!” dengan wajah pucat
Tejolaksono mengeluh.
"Urusan ini hebat
sekali, harus kita laporkan kepada sang prabu dan kita rundingkan dengan
kakangmas Pangeran Darmokusumo. Dan untuk membujuk Retna Wilis, agaknya aku
sendiri yang harus menemuinya ...“
Endang Patibroto menggeleng
kepala dengan sedih.
"Agaknya akan sia-sia,
Kakangmas. Dia tidak dapat dibujuk, wataknya keras melebihi baja ...” Mendengar
ini, Tejolaksono dan Ayu Candra saling pandang.
Anak Endang Patibroto,
bagaimana tidak sakti mandraguna dan keras hati, demikian bisik hati mereka.
"Dan mempergunakan
kekerasan juga percuma. Kesaktiannya mengerikan. Segala aji kesaktian
kukeluarkan dan pada waktu itu saya sudah bertekad untuk membunuhnya saja. Akan
tetapi tidak ada pukulanku yang dapat merobohkannya, sama sekali aku tidak
berdaya melawannya! Dia memiliki kesaktian seperti Nini Bumigarba ...
mengerikan!" Tiba-tiba Endang Patibroto mengangkat muka memandang Ayu
Candra dan berkata,
"Ah, Bagus Seta! Dialah
yang akan dapat menundukkannya! Mengapa aku melupakan anak kita itu? Bagus Seta
..., di mana dia? Dialah satu-satunya orang yang boleh diharapkan untuk
menundukkan Retna Wilis, anak durhaka seperti iblis itu!"
No comments:
Post a Comment