"Husshhhh .... Adinda jangan berkata begitu." Tejolaksono merangkul isterinya.
"Betapapun juga, dia
anak kita, anak yang kita sayang ....kita harus berusaha menginsyafkannya.
Memang Bagus Seta yang agaknya memiliki kesaktian untuk menundukkannya, seperti
juga Sang Sakti Bhagawan Ekadenta tentu akan dapat menundukkan Nini
Bumigarba."
"Di mana Bagus Seta?
Harap panggil dia agar kita dapat merundingkan dan minta nasehat serta
pendapatnya," kata Endang Patibroto. Terdengar suara Ayu Candra, sayu dan
sedih karena memang ibu ini pun berduka melihat puteranya lebih pantas menjadi
pendeta daripada seorang satria.
"Berhari-hari dia hanya
mengeram diri dalam sanggar pamujan, bersamadhi ...."
"Sekali ini perlu kita
panggil dia," kata Tejolaksono.
"Biar aku sendiri yang
akan memanggilnya." Patih yang diam-diam merasa prihatin sekali itu lalu
melangkah keluar kamar meninggalkan kedua isterinya, menuju ke sanggar pamujan
di ujung taman untuk memanggil puteranya yang berhari-hari bersamadhi di tempat
itu. Endang Patibroto teringat akan Limanwilis dan dua orang adiknya, maka
bersama Ayu Candra ia segera keluar dan menemui mereka bertiga yang masih
menunggu di pendopo, kemudian memerintahkan para abdi untuk memberi tempat
istirahat
bagi tiga orang tokoh Wilis
itu.
Setelah tiba di tempat
pemujaan atau tempat samadhi, Tejolaksono melihat pintu pondok tertutup dan
dari celah-celah jendela pondok ia melihat puteranya tekun bersamadhi, duduk
bersila dan berada dalam keadaan yang hening. Hatinya menjadi tidak tega untuk
mengganggu puteranya secara kasar. Dia sendiri sebagai seorang yang ahli dalam
samadhi, mengerti betapa tidak enaknya orang yang sedang bersamadhi dibangunkan
secara kasar. Maka ia lalu bersila di luar pondok, mengheningkan cipta dan
mengarahkan seluruh kehendaknya untuk menghubungi puteranya melalui getaran
perasaannya. Tak lama kemudian, terdengarlah suara puteranya,
"Saya datang, Kanjeng
Rama!"
Tejolaksono bangkit berdiri
dan puteranya keluar pula dari tempat samadhi itu, kemudian Tejolaksono
menggandeng tangan puteranya sambil berkata,
"Bagus Seta, ibumu
Endang Patibroto sudah pulang dan ada urusan penting sekali yang ingin
dibicarakan dan minta pertimbanganmu."
Bagus Seta mengangguk dan
dengan tenang sekali keduanya memasuki istana kepatihan. Ayu Candra dan Endang
Patibroto sudah menanti di ruangan dalam di mana mereka mereka berempat dapat
bicara tanpa gangguan para abdi yang dilarang memasuki ruangan itu. Endang
Patibroto sudah agak tenang dan tidak menangis lagi, sungguhpun jelas tampak
kerisauan hatinya membayang di wajahnya yang masih pucat dan matanya yang masih
merah kebanyakan menangis. Juga Ayu Candra masih mengerutkan alis dan ada
berbekas di wajahnya bahwa dia habis menangis.
"Selamat datang,
Kanjeng Ibu!" Bagus Seta menghaturkan sembah kepada ibu tirinya yang
diterima oleh Endang Patibroto dengan rangkulan.
"Anakku Bagus Seta,
ibumu amat mengharapkan pertolonganmu untuk menyelamatkan adikmu si Retna
Wilis."
Patih Tejolaksono dan kedua
orang isterinya lalu menceritakan secara bergantian tentang keadaan Retna Wilis
yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Bagus Seta. Setelah ia mendengar
seluruhnya, pemuda yang amat tenang sikapnya ini mengangguk-angguk dan berkata,
"Patut dikasihani
keadaan adikku Retna Wilis yang dicengkeram oleh pengaruh sesat. Akan tetapi,
kalau watak adinda Retna Wilis sedemikian keras seperti yang diceritakan
Ibunda, agaknya amat tidak baik kalau dipergunakan kekerasan untuk membujuk
atau mempengaruhinya. Sedangkan Kanjeng Ibu Endang Patibroto sendiri tidak
diturut bujukannya, apalagi orang lain. Adapun digunakannya pasukan Panjalu
untuk memukul Kerajaan Wilis, sungguhpun hal ini kelak agaknya tak dapat
dihindarkan lagi, namun tentu akan mendatangkan korban amat banyak. Betapapun
juga, karena urusan Wilis ini bukan hanya urusan pribadi keluarga kita,
melainkan urusan kerajaan, akan terlalu sembrono bagi kita kalau kita
menanggulanginya sendiri. Sudah menjadi kewajiban Kanjeng Rama untuk melaporkan
hal ini kepada sang prabu untuk dirundingkan bagaimana sebaiknya menghadapi
ancaman Kerajaan Wilis. Adapun tentang diri adinda Retna Wilis sendiri, biarlah
saya akan berusaha untuk membantunya mendapatkan kesadaran. Sekarang saya mohon
diri dari Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu berdua, hari ini juga saya akan pergi
menemui adinda Retna Wilis."
"Aduh, terima kasih,
anakku angger Bagus Seta. Lapang rasa dadaku setelah engkau sanggup untuk
menemui Retna Wilis. Kalau engkau yang turun tangan, aku yakin pasti akan
berhasil, Anakku!" kata Endang Patibroto dan wajahnya yang tadinya suram
itu kini berseri gembira. Bagus Seta menundukkan mukanya.
"Segala keputusan
berada sepenuhnya di tangan Sang Hyang Widdhi, Kanjeng Ibu. Manusia hanya wajib
berikhtiar, menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Hamba mohon doa restu Paduka
bertiga."
"Berangkatlah, Bagus.
Aku membekali pangestu!" kata Tejolaksono dengan Pandang mata kagum kepada
puteranya.
"Hati-hati di jalan,
Anakku!" kata Ayu Candra, agak terharu.
"Bagus Seta, kau
tolonglah adikmu Retna Wilis ... " berkata Endang Patibroto dengan suara
memohon.
Setelah Bagus Seta
berangkat, hanya berjalan kaki dan tidak membawa bekal apa-apa, dengan pakaian
tetap putih sederhana sungguhpun kini ia dibuatkan pakaian putih dari kain
sutera halus oleh ibunya, Tejolaksono lalu menemui Liman-Wilis bertiga,
kemudian bersama kedua isterinya ia langsung menghadap sang prabu yang segera
membuka persidangan untuk membicarakan Kerajaan Wilis yang mengancam
keselamatan daerah Panjalu. Baru saja persidangan dibuka, datang punggawa yang
membawa pelaporan bahwa Ponorogo telah diserbu dan telah jatuh ke tangan
Kerajaan Wilis! Tak lama kemudian datanglah menghadap Sang Adipati Diroprakosa
sendiri yang bercerita dengan air mata bercucuran akan hancurnya Ponorogo dan
tewasnya para tokoh Ponorogo dan para pembantu-pembantu sakti di tangan Ratu
Wilis yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Mendengar ini, terdengar isak
tangis dan Endang Patibroto cepat menyembah sang prabu dan mohon diizinkan
mengundurkan diri. Sang prabu yang arif bijaksana maklum akan isi hati Endang
Patibroto. Tentu saja wanita ini merasa sungkan dan tidak enak hatinya
mendengar betapa puterinya, Ratu Wilis, akan menjadi bahan percakapan, maka
sang prabu memberi izin. Endang Patibroto mohon maaf kepada suaminya dan kepada
para hadirin lainnya, kemudian meninggalkan persidangan dengan hati remuk. Ia
langsung memasuki kepatihan, masuk ke dalam kamarnya dan membanting tubuhnya ke
atas pembaringan, merintih-rintih di dalam hatinya, bersambat kepada mendiang
ibunya. Tiba-tiba ia bangkit duduk dan memandang dinding dengan mata terbelalak
dan muka pucat.
"Aduh, Ibunda
...ampunkan hamba ....ampunkan anakmu yang berdosa ....!" Dan ia menutupi
muka dengan kedua tangan lalu menangis sedih. Terbayang di depan matanya yang
dipejamkan akan semua pengalamannya di waktu dia muda dahulu. Betapa ia pun
sudah banyak mendatangkan sakit hati kepada ibunya sendiri. Bukankah sekarang
ini dia hanya memetik buah yang dahulu ditanamnya sendiri? Bukankah dahulu
ibunya sendiri, yang mengandungnya dan melahirkannya, juga mengalami derita
batin karena dia, seperti yang ia alami sekarang?
Sementara itu, di dalam
persidangan sang prabu dengan bijaksana minta pendapat Tejolaksono tentang
Kerajaan Wilis yang jelas hendak melanggar kedaulatan Jenggala dan Panjalu, bahkan
telah menyerbu dan merampas Ponorogo yang menjadi daerah Panjalu atau
setidaknya menjadi kadipaten yang tunduk kepada Panjalu. Sang prabu yang maklum
bahwa Retna Wilis adalah puteri Tejolaksono dan Endang Patibroto, mengharapkan
pendapat dari patih mudanya yang menjadi senopati pula, dan yang menjadi ayah
dari Retna Wilis yang menggegerkan itu.
"Duh, Gusti Sinuwun
sesembahan hamba," Tejolaksono berkata dengan suara tegas tanpa ragu-ragu.
"Sungguhpun Ratu Wilis
adalah puteri hamba, akan tetapi urusan ini adalan urusan kerajaan, dan biarpun
puteri hamba sendiri, kalau mendatangkan kekacauan dan kalau hamba akan
diperintah oleh Paduka, hamba akan berangkat dan menggempur Wilis!"
Sang prabu
mengangguk-angguk.
"Aku percaya akan
kesetiaanmu, wahai patihku yang perkasa. Akan tetapi Kerajaan Wilis hanya
kerajaan baru yang kecil, dan karena ratunya adalah puterimu, maka sebaiknya
dicari jalan lain untuk menghindarkan perang yang akan menimbulkan malapetaka
dan kesengsaraan belaka bagi rakyat. Baru saja rakyat menderita oleh kekacauan
Jenggala, maka sebaiknya kalau kita mencoba untuk menghindarkan perang baru.
Puteraku, Pangeran Darmokusumo, bagaimana pendapatmu?"
"Kanjeng Rama,
perkenankanlah hamba berwawancara dengan yayi Patih Tejolaksono." Putera
mahkota itu menyembah.
Sang prabu mengangguk dan
Pangeran Darmokusumo lalu menghadapi Tejolaksono,
"Yayi Patih
Tejolaksono. Usaha apakah yang telah kaulakukan menghadapi urusan Wilis
ini?"
"Rakanda Pangeran,
isteri hamba Endang Patibroto sudah mengunjungi Retna Wilis dan membujuknya,
bahkan ketika puteri kami itu tidak menurut, telah pula menyerangnya, akan
tetapi anak itu yang telah menerima pendidikan Nini Bumigarba, amat sakti
sehingga Endang Patibroto sendiri tidak mampu mengalahkannya. Kini hamba
mengutus Bagus Seta untuk mencoba untuk membujuknya." jawab Tejolaksono.
"Hemm, kalau begitu
sebaiknya kita bersabar, menanti hasil yang dicapai Bagus Seta. Sementara itu,
penjagaan di tapal batas harus diperkuat, dan hubungan para kadipaten di
sebelah barat harus dipererat sehingga setiap perubahan dan setiap gerakan
Wilis akan dapat segera kita ketahui." kata sang prabu. Setelah para tokoh
Kerajaan Panjalu diminta pendapatnya, dan ternyata pendapat mereka juga cocok,
persidangan dibubarkan dan Tejolaksono bersama Ayu Candra cepat kembali ke
kepatihan untuk menghibur hati Endang Patibroto. Adapun Limanwilis dan dua
orang adiknya yang lebih mengenal keadaan di Wilis, ditugaskan untuk pergi
menyelidik untuk mengikuti perkembangan dan gerakan-gerakan Kerajaan Wilis.
Kerajaan Wilis sudah
berhasil mengalahkan Ponorogo, akan tetapi dalam peperangan itu Wilis
kehilangan pula banyak prajurit. Ada seperempatnya yang tewas atau terluka
parah dalam perang dan untuk menghimpun tenaga baru, Wilis membutuhkan waktu.
Ketika Ratu Wilis menyampaikan niatnya untuk menyerbu terus ke Jenggala, hal
ini disetujui oleh Adiwijaya.
"Harap Paduka suka
bersabar, Gusti Puteri. Selain prajurit kita banyak yang gugur sehingga
kekuatan kita berkurang, juga Kerajaan Jenggala tidaklah selemah Ponorogo. Di
sana memiliki bala tentara besar, apalagi tentu Kerajaan Panjalu membantunya,
juga banyak terdapat orang-orang sakti mandraguna." Adiwijaya cukup cerdik
untuk tidak menyebut nama Tejolaksono dan Endang Patibroto untuk tidak melukai
hati orang yang disayangnya.
"Selain itu, juga
Ponorogo hanya menyerah karena terpaksa. Amat sukar mengharapkan bantuan dari
rakyat Ponorogo, maka kita harus menghimpun dan memperbesar jumlah perajurit
dari daerah-daerah lain yang sudah kita taklukkan. Prajurit-prajurit baru perlu
dilatih. Pendeknya, untuk menggempur Jenggala membutuhkan persiapan yang lebih
matang, Gusti."
Retna Wilis yang ingin
sekali melihat cita-citanya cepat terkabul, mengerutkan alisnya.
"Kalau aku menuruti
rencanamu, bukankah hal itu akan makan waktu bertahun-tahun? Terlalu lama,
Paman. Kalau perlu, aku sanggup dengan seorang diri menaklukkan
kerajaan-kerajaan itu!" Adiwijaya memandang junjungannya itu penuh kagum.
Sepasang matanya bersinar-sinar dan ia membayangkan betapa kalau dara perkasa
ini melakukan serbuan seorang diri saja ke Jenggala! Dia tahu bahwa hal itu
tidak mungkin karena mana bisa seorang diri saja, betapapun saktinya,
menghadapi bala tentara yang laksaan jumlahnya? Pula, banyak sekali orang sakti
di sana! Ia cepat menyembah dan berkata,
"Maafkan hamba, Hamba
percaya akan kesaktian dan kesanggupan Paduka, akan tetapi menyerbu seorang
diri bukanlah menjadi kebiasaan seorang ratu yang besar. Harap Paduka bersabar,
dan kalau Paduka menganggap bahwa menghimpun dan melatih pasukan kuat akan
memakan waktu terlalu lama, hamba masih mempunyai jalan lain yang kiranya lebih
singkat dan akan lebih menghasilkan."
"Bagus sekali, Paman.
Aku percaya akan daya upaya dan kecerdikanmu. Jalan apakah yang kau maksudkan
itu? Lekas beritahukan," kata Retna Wilis dengan wajah gembira.
"Paduka tentu maklum
bahwa keadaan Jenggala sekarang jauh lebih kuat daripada sebelum sang prabu
yang sepuh diganti oleh Pangeran Panji Sigit yang kini telah menjadi raja.
Bahkan gusti permaisuri Jenggala adalah bibi Paduka sendiri yang sakti
mandraguna. Belum lagi diingat bahwa patihnya yang menjadi benteng Jenggala
sekarang adalah Joko Pramono dan isterinya yang perkasa."
Kembali alis yang kecil
hitam itu berkerut.
"Paman, tidak perlu
Paman menyebut nama-nama mereka. Mereka itu benar para paman dan bibiku, akan
tetapi kalau mereka tidak suka tunduk kepadaku, aku akan menghadapi mereka
sebagai lawan!"
No comments:
Post a Comment