Perawan Lembah Wilis; Bagian 182


"Husshhhh .... Adinda jangan berkata begitu." Tejolaksono merangkul isterinya.
"Betapapun juga, dia anak kita, anak yang kita sayang ....kita harus berusaha menginsyafkannya. Memang Bagus Seta yang agaknya memiliki kesaktian untuk menundukkannya, seperti juga Sang Sakti Bhagawan Ekadenta tentu akan dapat menundukkan Nini Bumigarba."
"Di mana Bagus Seta? Harap panggil dia agar kita dapat merundingkan dan minta nasehat serta pendapatnya," kata Endang Patibroto. Terdengar suara Ayu Candra, sayu dan sedih karena memang ibu ini pun berduka melihat puteranya lebih pantas menjadi pendeta daripada seorang satria.
"Berhari-hari dia hanya mengeram diri dalam sanggar pamujan, bersamadhi ...."
"Sekali ini perlu kita panggil dia," kata Tejolaksono.
"Biar aku sendiri yang akan memanggilnya." Patih yang diam-diam merasa prihatin sekali itu lalu melangkah keluar kamar meninggalkan kedua isterinya, menuju ke sanggar pamujan di ujung taman untuk memanggil puteranya yang berhari-hari bersamadhi di tempat itu. Endang Patibroto teringat akan Limanwilis dan dua orang adiknya, maka bersama Ayu Candra ia segera keluar dan menemui mereka bertiga yang masih menunggu di pendopo, kemudian memerintahkan para abdi untuk memberi tempat istirahat
bagi tiga orang tokoh Wilis itu.

Setelah tiba di tempat pemujaan atau tempat samadhi, Tejolaksono melihat pintu pondok tertutup dan dari celah-celah jendela pondok ia melihat puteranya tekun bersamadhi, duduk bersila dan berada dalam keadaan yang hening. Hatinya menjadi tidak tega untuk mengganggu puteranya secara kasar. Dia sendiri sebagai seorang yang ahli dalam samadhi, mengerti betapa tidak enaknya orang yang sedang bersamadhi dibangunkan secara kasar. Maka ia lalu bersila di luar pondok, mengheningkan cipta dan mengarahkan seluruh kehendaknya untuk menghubungi puteranya melalui getaran perasaannya. Tak lama kemudian, terdengarlah suara puteranya,
"Saya datang, Kanjeng Rama!"
Tejolaksono bangkit berdiri dan puteranya keluar pula dari tempat samadhi itu, kemudian Tejolaksono menggandeng tangan puteranya sambil berkata,
"Bagus Seta, ibumu Endang Patibroto sudah pulang dan ada urusan penting sekali yang ingin dibicarakan dan minta pertimbanganmu."
Bagus Seta mengangguk dan dengan tenang sekali keduanya memasuki istana kepatihan. Ayu Candra dan Endang Patibroto sudah menanti di ruangan dalam di mana mereka mereka berempat dapat bicara tanpa gangguan para abdi yang dilarang memasuki ruangan itu. Endang Patibroto sudah agak tenang dan tidak menangis lagi, sungguhpun jelas tampak kerisauan hatinya membayang di wajahnya yang masih pucat dan matanya yang masih merah kebanyakan menangis. Juga Ayu Candra masih mengerutkan alis dan ada berbekas di wajahnya bahwa dia habis menangis.
"Selamat datang, Kanjeng Ibu!" Bagus Seta menghaturkan sembah kepada ibu tirinya yang diterima oleh Endang Patibroto dengan rangkulan.
"Anakku Bagus Seta, ibumu amat mengharapkan pertolonganmu untuk menyelamatkan adikmu si Retna Wilis."
Patih Tejolaksono dan kedua orang isterinya lalu menceritakan secara bergantian tentang keadaan Retna Wilis yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Bagus Seta. Setelah ia mendengar seluruhnya, pemuda yang amat tenang sikapnya ini mengangguk-angguk dan berkata,
"Patut dikasihani keadaan adikku Retna Wilis yang dicengkeram oleh pengaruh sesat. Akan tetapi, kalau watak adinda Retna Wilis sedemikian keras seperti yang diceritakan Ibunda, agaknya amat tidak baik kalau dipergunakan kekerasan untuk membujuk atau mempengaruhinya. Sedangkan Kanjeng Ibu Endang Patibroto sendiri tidak diturut bujukannya, apalagi orang lain. Adapun digunakannya pasukan Panjalu untuk memukul Kerajaan Wilis, sungguhpun hal ini kelak agaknya tak dapat dihindarkan lagi, namun tentu akan mendatangkan korban amat banyak. Betapapun juga, karena urusan Wilis ini bukan hanya urusan pribadi keluarga kita, melainkan urusan kerajaan, akan terlalu sembrono bagi kita kalau kita menanggulanginya sendiri. Sudah menjadi kewajiban Kanjeng Rama untuk melaporkan hal ini kepada sang prabu untuk dirundingkan bagaimana sebaiknya menghadapi ancaman Kerajaan Wilis. Adapun tentang diri adinda Retna Wilis sendiri, biarlah saya akan berusaha untuk membantunya mendapatkan kesadaran. Sekarang saya mohon diri dari Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu berdua, hari ini juga saya akan pergi menemui adinda Retna Wilis."
"Aduh, terima kasih, anakku angger Bagus Seta. Lapang rasa dadaku setelah engkau sanggup untuk menemui Retna Wilis. Kalau engkau yang turun tangan, aku yakin pasti akan berhasil, Anakku!" kata Endang Patibroto dan wajahnya yang tadinya suram itu kini berseri gembira. Bagus Seta menundukkan mukanya.
"Segala keputusan berada sepenuhnya di tangan Sang Hyang Widdhi, Kanjeng Ibu. Manusia hanya wajib berikhtiar, menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Hamba mohon doa restu Paduka bertiga."
"Berangkatlah, Bagus. Aku membekali pangestu!" kata Tejolaksono dengan Pandang mata kagum kepada puteranya.
"Hati-hati di jalan, Anakku!" kata Ayu Candra, agak terharu.
"Bagus Seta, kau tolonglah adikmu Retna Wilis ... " berkata Endang Patibroto dengan suara memohon.

Setelah Bagus Seta berangkat, hanya berjalan kaki dan tidak membawa bekal apa-apa, dengan pakaian tetap putih sederhana sungguhpun kini ia dibuatkan pakaian putih dari kain sutera halus oleh ibunya, Tejolaksono lalu menemui Liman-Wilis bertiga, kemudian bersama kedua isterinya ia langsung menghadap sang prabu yang segera membuka persidangan untuk membicarakan Kerajaan Wilis yang mengancam keselamatan daerah Panjalu. Baru saja persidangan dibuka, datang punggawa yang membawa pelaporan bahwa Ponorogo telah diserbu dan telah jatuh ke tangan Kerajaan Wilis! Tak lama kemudian datanglah menghadap Sang Adipati Diroprakosa sendiri yang bercerita dengan air mata bercucuran akan hancurnya Ponorogo dan tewasnya para tokoh Ponorogo dan para pembantu-pembantu sakti di tangan Ratu Wilis yang memiliki kesaktian yang luar biasa. Mendengar ini, terdengar isak tangis dan Endang Patibroto cepat menyembah sang prabu dan mohon diizinkan mengundurkan diri. Sang prabu yang arif bijaksana maklum akan isi hati Endang Patibroto. Tentu saja wanita ini merasa sungkan dan tidak enak hatinya mendengar betapa puterinya, Ratu Wilis, akan menjadi bahan percakapan, maka sang prabu memberi izin. Endang Patibroto mohon maaf kepada suaminya dan kepada para hadirin lainnya, kemudian meninggalkan persidangan dengan hati remuk. Ia langsung memasuki kepatihan, masuk ke dalam kamarnya dan membanting tubuhnya ke atas pembaringan, merintih-rintih di dalam hatinya, bersambat kepada mendiang ibunya. Tiba-tiba ia bangkit duduk dan memandang dinding dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Aduh, Ibunda ...ampunkan hamba ....ampunkan anakmu yang berdosa ....!" Dan ia menutupi muka dengan kedua tangan lalu menangis sedih. Terbayang di depan matanya yang dipejamkan akan semua pengalamannya di waktu dia muda dahulu. Betapa ia pun sudah banyak mendatangkan sakit hati kepada ibunya sendiri. Bukankah sekarang ini dia hanya memetik buah yang dahulu ditanamnya sendiri? Bukankah dahulu ibunya sendiri, yang mengandungnya dan melahirkannya, juga mengalami derita batin karena dia, seperti yang ia alami sekarang?

Sementara itu, di dalam persidangan sang prabu dengan bijaksana minta pendapat Tejolaksono tentang Kerajaan Wilis yang jelas hendak melanggar kedaulatan Jenggala dan Panjalu, bahkan telah menyerbu dan merampas Ponorogo yang menjadi daerah Panjalu atau setidaknya menjadi kadipaten yang tunduk kepada Panjalu. Sang prabu yang maklum bahwa Retna Wilis adalah puteri Tejolaksono dan Endang Patibroto, mengharapkan pendapat dari patih mudanya yang menjadi senopati pula, dan yang menjadi ayah dari Retna Wilis yang menggegerkan itu.
"Duh, Gusti Sinuwun sesembahan hamba," Tejolaksono berkata dengan suara tegas tanpa ragu-ragu.
"Sungguhpun Ratu Wilis adalah puteri hamba, akan tetapi urusan ini adalan urusan kerajaan, dan biarpun puteri hamba sendiri, kalau mendatangkan kekacauan dan kalau hamba akan diperintah oleh Paduka, hamba akan berangkat dan menggempur Wilis!"
Sang prabu mengangguk-angguk.
"Aku percaya akan kesetiaanmu, wahai patihku yang perkasa. Akan tetapi Kerajaan Wilis hanya kerajaan baru yang kecil, dan karena ratunya adalah puterimu, maka sebaiknya dicari jalan lain untuk menghindarkan perang yang akan menimbulkan malapetaka dan kesengsaraan belaka bagi rakyat. Baru saja rakyat menderita oleh kekacauan Jenggala, maka sebaiknya kalau kita mencoba untuk menghindarkan perang baru. Puteraku, Pangeran Darmokusumo, bagaimana pendapatmu?"
"Kanjeng Rama, perkenankanlah hamba berwawancara dengan yayi Patih Tejolaksono." Putera mahkota itu menyembah.
Sang prabu mengangguk dan Pangeran Darmokusumo lalu menghadapi Tejolaksono,
"Yayi Patih Tejolaksono. Usaha apakah yang telah kaulakukan menghadapi urusan Wilis ini?"
"Rakanda Pangeran, isteri hamba Endang Patibroto sudah mengunjungi Retna Wilis dan membujuknya, bahkan ketika puteri kami itu tidak menurut, telah pula menyerangnya, akan tetapi anak itu yang telah menerima pendidikan Nini Bumigarba, amat sakti sehingga Endang Patibroto sendiri tidak mampu mengalahkannya. Kini hamba mengutus Bagus Seta untuk mencoba untuk membujuknya." jawab Tejolaksono.
"Hemm, kalau begitu sebaiknya kita bersabar, menanti hasil yang dicapai Bagus Seta. Sementara itu, penjagaan di tapal batas harus diperkuat, dan hubungan para kadipaten di sebelah barat harus dipererat sehingga setiap perubahan dan setiap gerakan Wilis akan dapat segera kita ketahui." kata sang prabu. Setelah para tokoh Kerajaan Panjalu diminta pendapatnya, dan ternyata pendapat mereka juga cocok, persidangan dibubarkan dan Tejolaksono bersama Ayu Candra cepat kembali ke kepatihan untuk menghibur hati Endang Patibroto. Adapun Limanwilis dan dua orang adiknya yang lebih mengenal keadaan di Wilis, ditugaskan untuk pergi menyelidik untuk mengikuti perkembangan dan gerakan-gerakan Kerajaan Wilis.

Kerajaan Wilis sudah berhasil mengalahkan Ponorogo, akan tetapi dalam peperangan itu Wilis kehilangan pula banyak prajurit. Ada seperempatnya yang tewas atau terluka parah dalam perang dan untuk menghimpun tenaga baru, Wilis membutuhkan waktu. Ketika Ratu Wilis menyampaikan niatnya untuk menyerbu terus ke Jenggala, hal ini disetujui oleh Adiwijaya.
"Harap Paduka suka bersabar, Gusti Puteri. Selain prajurit kita banyak yang gugur sehingga kekuatan kita berkurang, juga Kerajaan Jenggala tidaklah selemah Ponorogo. Di sana memiliki bala tentara besar, apalagi tentu Kerajaan Panjalu membantunya, juga banyak terdapat orang-orang sakti mandraguna." Adiwijaya cukup cerdik untuk tidak menyebut nama Tejolaksono dan Endang Patibroto untuk tidak melukai hati orang yang disayangnya.
"Selain itu, juga Ponorogo hanya menyerah karena terpaksa. Amat sukar mengharapkan bantuan dari rakyat Ponorogo, maka kita harus menghimpun dan memperbesar jumlah perajurit dari daerah-daerah lain yang sudah kita taklukkan. Prajurit-prajurit baru perlu dilatih. Pendeknya, untuk menggempur Jenggala membutuhkan persiapan yang lebih matang, Gusti."
Retna Wilis yang ingin sekali melihat cita-citanya cepat terkabul, mengerutkan alisnya.
"Kalau aku menuruti rencanamu, bukankah hal itu akan makan waktu bertahun-tahun? Terlalu lama, Paman. Kalau perlu, aku sanggup dengan seorang diri menaklukkan kerajaan-kerajaan itu!" Adiwijaya memandang junjungannya itu penuh kagum. Sepasang matanya bersinar-sinar dan ia membayangkan betapa kalau dara perkasa ini melakukan serbuan seorang diri saja ke Jenggala! Dia tahu bahwa hal itu tidak mungkin karena mana bisa seorang diri saja, betapapun saktinya, menghadapi bala tentara yang laksaan jumlahnya? Pula, banyak sekali orang sakti di sana! Ia cepat menyembah dan berkata,
"Maafkan hamba, Hamba percaya akan kesaktian dan kesanggupan Paduka, akan tetapi menyerbu seorang diri bukanlah menjadi kebiasaan seorang ratu yang besar. Harap Paduka bersabar, dan kalau Paduka menganggap bahwa menghimpun dan melatih pasukan kuat akan memakan waktu terlalu lama, hamba masih mempunyai jalan lain yang kiranya lebih singkat dan akan lebih menghasilkan."
"Bagus sekali, Paman. Aku percaya akan daya upaya dan kecerdikanmu. Jalan apakah yang kau maksudkan itu? Lekas beritahukan," kata Retna Wilis dengan wajah gembira.
"Paduka tentu maklum bahwa keadaan Jenggala sekarang jauh lebih kuat daripada sebelum sang prabu yang sepuh diganti oleh Pangeran Panji Sigit yang kini telah menjadi raja. Bahkan gusti permaisuri Jenggala adalah bibi Paduka sendiri yang sakti mandraguna. Belum lagi diingat bahwa patihnya yang menjadi benteng Jenggala sekarang adalah Joko Pramono dan isterinya yang perkasa."
Kembali alis yang kecil hitam itu berkerut.
"Paman, tidak perlu Paman menyebut nama-nama mereka. Mereka itu benar para paman dan bibiku, akan tetapi kalau mereka tidak suka tunduk kepadaku, aku akan menghadapi mereka sebagai lawan!"

<<< Bagian 181                                                                                      Bagian 183 >>>

No comments:

Post a Comment