Perawan Lembah Wilis; Bagian 183


Adiwijaya mengangguk-angguk.
"Hamba juga percaya bahwa Paduka akan sanggup mengalahkan lawan yang mana pun juga. Akan tetapi, bukankah kalau terjadi hal itu, akan amat tidak enak, Gusti? Sebaiknya kalau kita mengadakan persekutuan dengan pihak Sriwijaya dan Cola. Kedua kerajaan itu mempunyai wakil-wakil yang sakti dan yang sudah menyusun barisan yang cukup kuat pula. Kita ajak mereka bersekutu untuk menggempur Jenggala dan kalau hal itu terjadi, tidak perlu Paduka sendiri yang harus menghadapi para paman dan bibi Paduka di Jenggala."
"Ihh, Paman Adiwijaya, omongan apa yang kau keluarkan ini?" Retna Wilis membentak marah dan mengangkat kedua alisnya, matanya terbelalak memandang tajam kepada patihnya.
"Aku tidak takut menghadapi kerajaan mana pun juga, mengapa mesti bersekutu? Aku tidak sudi bersekutu apalagi dengan kerajaan-kerajaan asing itu. Bersekutu hanya menunjukkan bahwa kita lemah, dan kemenangan yang dicapai seolah-olah mengandalkan bantuan sekutu-sekutu itu!"
"Maksud hamba tidak demikian, Gusti. Pertama, penyerangan terhadap Jenggala dan Panjalu di mana terdapat keluarga Paduka yang menjadi senopati, amat tidak enak bagi Paduka sendiri, maka sebaiknya meminjam tenaga orang-orang Sakti dari kerajaan asing itu. Ke dua, dan hal ini penting sekali, orang-orang dari Sriwijaya dan Cola itu merupakan ancaman kelak bagi Paduka. Mereka adalah musuh-musuh rakyat dan mereka itu menyusun tenaga secara nyiluman (seperti siluman, bersembunyi dan rahasia) sehingga amat sukar untuk membasmi mereka. Kalau mereka diajak bersekutu, tentu mereka akan tampak dan kelak kalau kita sudah mempergunakan tenaga mereka sehingga berhasil, mudah saja bagi kita untuk membasmi mereka dari permukaan bumi!"

Retna Wilis termenung sampai lama. Ia mempertimbangkan usul pembantunya yang setia ini. Memang ada benarnya. Biarpun ia tidak perduli kalau terpaksa harus melawan para bibi dan pamannya, akan tetapi kalau ia teringat akan bibinya Setyaningsih, ia ragu-ragu juga apakah akan tega menurunkan tangan kepada bibinya itu. Apalagi kalau ia ingat akan ayah bundanya yang berada di Panjalu. Kalau mereka itu maju, dan hal ini tak dapat disangsikan lagi mengingat bahwa ayah bundanya adalah hamba-hamba setia dari Panjalu, biarpun dia tidak takut dan pasti akan menentang mereka kalau ayah bundanya berusaha menghalangi cita-citanya, namun tetap saja ada sedikit perasaan tidak enak di hatinya. Dan para wakil kedua kerajaan asing itu, tentu kelak hanya akan menjadi gangguan yang memusingkan. Usul patihnya amat baik, sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat. Menggunakan mereka untuk menggempur dan menaklukkan Jenggala dan Panjalu, kemudian setelah berhasil, membasmi mereka sebelum mereka sadar akan muslihat ini.
"Usulmu menarik sekali, Paman. Akan tetapi, benar-benarkah Sriwijaya dan Cola mempunyai tokoh-tokoh yang sakti, yang boleh dipercaya akan dapat kita pergunakan untuk menggempur dan menaklukkan Jenggala dan Panjalu?"
"Banyak sekali tokoh mereka, Gusti. Dan terutama sekali pucuk pimpinan yang sengaja dikirim dari Kerajaan Sriwijaya dan Cola. Hamba mengenal pemimpin utusan Kerajaan Cola yang bernama Sang Wasi Bagaspati. Kakek
ini memiliki kesaktian yang amat hebat, Gusti, yang sukar dicari bandingnya pada saat ini .....“
"Hemm, aku pernah mendengar dari guruku nama itu. Manusia sombong yang mengaku sebagai penitisan Sang Hyang Shiwa! Lalu, siapa lagi, Paman?"
"Masih banyak tokoh Kerajaan Cola yang menjadi pembantu Sang Wasi Bagaspati, dan yang memiliki aji kesaktian luar biasa. Adapun pemimpin utusan Kerajaan Sriwijaya belum pernah hamba jumpai, akan tetapi kabarnya juga memiliki kesaktian yang tidak kalah oleh kesaktian Sang Wasi Bagaspati sendiri, namanya Sang Biku Janapati."
Retna Wilis mengangguk-angguk. Nama-nama ini pernah ia dengar dari Nini Bumigarba.
"Paman, apakah Paman dapat menghubungi mereka?"
"Hamba kira akan dapat mencari tokoh-tokoh Kerajaan Cola, Gusti. Dan melalui mereka kiranya hamba akan dapat menghubungi pula tokoh-tokoh Sriwijaya. Apakah Paduka dapat menyetujui kalau kita bersekutu dengan mereka?"
"Kalau Paman merasa sebaiknya demikian, aku pun dapat menerima. Sekarang Paman pergilah menghubungi mereka dan panggil Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati datang menghadap aku!"

Adiwijaya membelalakkan mata dan wajahnya berubah. Akan tetapi mulutnya tidak berani membantah. Ia hanya merasa khawatir apakah kedua orang tokoh sakti itu akan sudi datang kalau disuruh menghadap seorang ratu muda belia seolah-olah mereka itu adalah orang-orang taklukan atau orang-orang yang tingkatnya lebih rendah. Ia menyanggupi, kemudian menyembah dan berpamit untuk segera melaksanakan perintah puteri sakti itu, mencari dan menghubungi Wasi Bagaspati dan Biku Janapati.
Adiwijaya maklum atau dapat menduga bahwa tentu tokoh-tokoh besar yang dicarinya itu masih belum meninggalkan daerah Jenggala. Biarpun mereka itu telah gagal dalam usaha mereka menguasai Jenggala dengan jalan halus, namun mereka itu tentu tidak mau sudah begitu saja. Tentu Wasi Bagaspati diam-diam sedang menyusun tenaga untuk melanjutkan usahanya menguasai Jenggala dan agaknya bersembunyi di dalam hutan-hutan, di gunung-gunung yang sunyi.
Mulailah Adiwijaya merantau, seorang diri karena untuk melakukan tugas rahasia ini ia tidak menghendaki rombongan pembantu atau pengawal yang selain dapat mudah membocorkan rahasia, juga akan membuat ia kurang leluasa saja. Ia tahu dari siapa ia harus mencari berita tentang tempat persembunyian tokoh-tokoh dari kerajaan Cola itu. Maka ia lalu masuk keluar hutan dan akhirnya ia bertemu dengan serombongan perampok yang ia kenal sebagai bekas anak buah pasukan Jenggala yang melarikan diri. Ketika ia memasuki sebuah hutan yang lebat pada suatu pagi, tiba-tiba dari balik pohon-pohon dan semak-semak berloncatan belasan orang yang dikepalai seorang tinggi besar yang berkumis tebal melintang sekepal sebelah. Adiwijaya mengenal pemimpin perampok itu dan beberapa orang anggauta perampok sebagai bekas anak pasukan yang dahulu menjadi pengawal Pangeran Kukutan, akan tetapi mereka tidak mengenalnya karena memang kini bekas Patih Warutama sudah banyak berubah.
"Heh, kisanak, berhenti dulu! Tanggalkan semua pakaian dan tinggalkan semua bawaanmu sebagai pengganti nyawamu!" Si kumis melintang membentak garang. Adiwijaya tersenyum, berdiri tegak dan berkata,
"Kakang Jodi, apakah engkau tidak lagi mengenal aku? Aku adalah bekas Ki Patih Warutama, orang sendiri, bukan lawan." Beberapa orang bekas anak buah Jenggala, juga Ki Jodi, memandang dengan mata terbelalak diikuti oleh anak buahnya.
"Ha-ha-ha, engkau pandai membadut, Kisanak! Akan tetapi kami tidak mempunyai waktu untuk mendengar ocehanmu. Lekas tanggalkan pakaian atau terpaksa aku akan membunuhmu lebih dulu, baru melucuti pakaianmu!" Kepala perampok itu membentak dengan sikap mengancam.
"Hemm, memang wajahku sudah berubah. Akan tetapi apakah engkau tidak lagi mengenal suara dan bentuk tubuhku? Baiklah, sebelum diberi bukti kalian tentu tidak percaya. Nah, Kakang Jodi, majulah!"
Ki Jodi menjadi marah. Orang ini yang mengaku bekas Patih Jenggala adalah seorang yang tubuhnya tidak membayangkan kekuatan, agaknya sekali pukul saja ia akan mampu membikin remuk kepala itu. Maka ia lalu berteriak keras dan menerjang maju, tangan kirinya mencengkeram ke arah leher dan kepalan tangan kanannya menjotos kepala. Tentu saja serangan yang hanya berdasarkan tenaga kasar ini dipandang rendah oleh Adiwijaya yang sakti. Tubuhnya hanya miring sedikit, kemudian kedua tangannya bergerak, menyambar pinggang yang besar itu, diangkatnya tubuh Ki Jodi ke atas lalu dibanting ke atas tanah.
"Brukkk ........ ngekkk!"
"Aduhhhh ........ tohobaattt ........ !" Ki Jodi terengah- engah dan merintih, tulang punggungnya serasa patah dan ia tidak dapat bangkit. Kawan-kawannya menjadi marah, akan tetapi sebelum mereka bergerak maju, Ki Jodi sambil terengah-engah berkata,
"Mundur kalian semua! Apakah kalian buta? Beliau adalah Gusti Patih Warutama!"
Semua anak buah perampok mundur dan memandang dengan jerih. Adiwijaya menghampiri Ki Jodi, menepuk punggungnya dan menariknya bangun. Ki Jodi menyeringai dan bangkit dengan tubuh bongkok, kedua tangannya menekan pinggang dan pantat yang rasanya nyeri sekali.
"Ampun, Gusti Patih ....”
"Tidak mengapa, Kakang Jodi. Aku pun tidak berniat mengganggu kalian, hanya kebetulan saja pertemuan ini karena memang aku sedang mencari teman-teman bekas prajurit Jenggala. Aku ingin bertanya ke mana kiranya aku dapat menemui tokoh-tokoh Cola, Wasi Bagaspati dan para pembantunya."
"Hamba .....hamba tidak tahu, Gusti. Semenjak melarikan diri dari Jenggala, hamba bersama kawan-kawan bersembunyi di hutan ini. Hanya ada hamba mendengar berita bahwa pasukan wanita penyembah Sang Bhatari Durgo bermarkas di lereng gunung Arjuna. Kiranya dari mereka itu Paduka akan dapat mendengar lebih jelas tentang para tokoh yang Paduka cari."
Adiwijaya mengangguk-angguk.
"Baik. Aku akan mencari ke sana. Kakang Jodi, engkau kumpulkan kawan-kawan bekas prajurit Jenggala dan bawa mereka sebanyak mungkin pergi ke lereng Wilis. Di sana kalian boleh menghambakan diri menjadi prajurit Wilis."
Ki Jodi membelalakkan matanya.
"Kerajaan Wilis? Ahhh, hamba sudah mendengar akan kerajaan baru itu. Hamba .. takut, Gusti. Jangan-jangan begitu sampai di sana, hamba segerombolan akan dibasmi oleh pasukan Wilis yang terkenal kuat." Adiwijaya tersenyum bangga.
"Jangan khawatir. Katakan bahwa Gusti Patih Adiwijaya yang menyuruh kalian datang. Kalian pasti akan diterima sebagai anggota pasukan. Aku sekarang adalah Ki Patih Adiwijaya, patih dari Kerajaan Wilis yang jaya. Ingat, Ki Patih Adiwijaya, bukan lagi Patih Warutama. Mengerti?"
"Baik, Gusti Patih." Ki Jodi menjawab dan dengan girang ia menerima beberapa potong emas dari Adiwijaya. Adiwijaya melanjutkan perjalanannya dan beberapa hari kemudian tibalah ia di lereng gunung Arjuna.

Menjelang senja dan ia merasa lelah dan lapar sekali, Adiwijaya berhenti mengaso di bawah sebatang pohon cemara, membuka bungkusan daun jati dan makan nasi bekalnya yang tadi ia beli di dalam dusun di kaki gunung. Baru saja ia habis makan dan minum air yang memancur keluar dari celahan batu sambil mencuci tangan, tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang. Ia maklum bahwa ada orang sakti datang, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan melanjutkan mencuci tangan, akan tetapi diam-diam ia bersikap waspada.
"Wirrrr ...”
Adiwijaya miringkan kepala, tangan kirinya meraih dan sebatang tusuk konde cepat ia tangkap dari samping dengan jari tangannya. Ia menoleh ke arah datangnya senjata rahasia tusuk konde itu sambil berkata,
"Saya Adiwijaya bukanlah musuh, harap Andika sudi keluar dan bicara."
"Ihhhh ........ Terdengar seruan tertahan seorang wanita disusul jerit melengking yang agaknya menjadi tanda bahaya, kemudian dari balik semak-semak muncul keluar seorang wanita cantik manis dengan sinar mata genit dan pakaian tipis membayangkan tubuh yang ramping padat, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Sekali pandang Adiwijaya dapat menduga bahwa wanita ini tentulah anak buah Ni Dewi Nilamanik, seorang penyembah Bathari Durgo. Cepat ia menjura dengan sikap hormat dan berkata,
"Saya bernama Adiwijaya dan datang dengan niat baik, harap Andika jangan lagi main-main dengan senjata yang bahaya ini. Kurasa tusuk konde ini lebih pantas untuk menghias rambut Andika yang hitam halus itu." Sambil berkata demikian, Adiwijaya menggerakkan tusuk konde di tangannya yang melesat cepat dan menancap di konde (sanggul) rambut wanita itu yang menjadi terkejut sekali.
"Apa niatmu datang ke tempat kami? Apakah Andika sudah bosan hidup?" Wanita itu menatap wajah dan tubuh Adiwijaya dengan penuh selidik, juga merasa sayang kalau pria ini terbunuh. Biarpun sudah setengah tua, pria ini amat menarik, dan membayangkan kejantanan, di samping kedigdayaan yang sudah diperlihatkan tadi ketika menangkap senjata rahasianya dan mengembalikannya dengan cara mengagumkan.
"Saya datang untuk minta menghadap Sang Wasi Bagaspati, atau Ni Dewi Nilamanik. Bukankah Andika ini anak buah Ni Dewi Nilamanik?"
Kembali wanita itu kelihatan kaget dan tercengang. Baik Wasi Bagaspati maupun Ni Dewi Nilamanik berada di tempat itu secara sembunyi dan tempat ini dirahasiakan. Bagaimana orang ini dapat mengetahuinya? Akan tetapi sebelum ia men jawab, terdengar suara halus seorang wanita,
"Ki Warutama, mau apa Andika datang ke sini?" Adiwijaya membalikkan tubuh dan melihat Ni Dewi Nilamanik telah berdiri di situ dengan sikap angkuh. Wanita ini masih cantik menarik penuh daya pikat dan biarpun dahulu sudah beberapa kali wanita ini melayaninya sebagai seorang kekasih, namun kini bersikap angkuh dan dingin. Di tangannya tampak pengebut lalat dari serat merah buntut kuda, kebutan yang mungkin lebih banyak mengebut melayang nyawa manusia daripada nyawa lalat. Kagumlah Adiwijaya. Benar-benar wanita ini selain sakti juga amat awas sehingga begitu bertemu telah mengenalnya.

<<< Bagian 182                                                                                     Bagian 184 >>>

No comments:

Post a Comment