Adiwijaya mengangguk-angguk.
"Hamba juga percaya
bahwa Paduka akan sanggup mengalahkan lawan yang mana pun juga. Akan tetapi,
bukankah kalau terjadi hal itu, akan amat tidak enak, Gusti? Sebaiknya kalau
kita mengadakan persekutuan dengan pihak Sriwijaya dan Cola. Kedua kerajaan itu
mempunyai wakil-wakil yang sakti dan yang sudah menyusun barisan yang cukup
kuat pula. Kita ajak mereka bersekutu untuk menggempur Jenggala dan kalau hal
itu terjadi, tidak perlu Paduka sendiri yang harus menghadapi para paman dan
bibi Paduka di Jenggala."
"Ihh, Paman Adiwijaya,
omongan apa yang kau keluarkan ini?" Retna Wilis membentak marah dan
mengangkat kedua alisnya, matanya terbelalak memandang tajam kepada patihnya.
"Aku tidak takut menghadapi
kerajaan mana pun juga, mengapa mesti bersekutu? Aku tidak sudi bersekutu
apalagi dengan kerajaan-kerajaan asing itu. Bersekutu hanya menunjukkan bahwa
kita lemah, dan kemenangan yang dicapai seolah-olah mengandalkan bantuan
sekutu-sekutu itu!"
"Maksud hamba tidak
demikian, Gusti. Pertama, penyerangan terhadap Jenggala dan Panjalu di mana
terdapat keluarga Paduka yang menjadi senopati, amat tidak enak bagi Paduka
sendiri, maka sebaiknya meminjam tenaga orang-orang Sakti dari kerajaan asing
itu. Ke dua, dan hal ini penting sekali, orang-orang dari Sriwijaya dan Cola
itu merupakan ancaman kelak bagi Paduka. Mereka adalah musuh-musuh rakyat dan
mereka itu menyusun tenaga secara nyiluman (seperti siluman, bersembunyi dan
rahasia) sehingga amat sukar untuk membasmi mereka. Kalau mereka diajak
bersekutu, tentu mereka akan tampak dan kelak kalau kita sudah mempergunakan
tenaga mereka sehingga berhasil, mudah saja bagi kita untuk membasmi mereka
dari permukaan bumi!"
Retna Wilis termenung sampai
lama. Ia mempertimbangkan usul pembantunya yang setia ini. Memang ada benarnya.
Biarpun ia tidak perduli kalau terpaksa harus melawan para bibi dan pamannya,
akan tetapi kalau ia teringat akan bibinya Setyaningsih, ia ragu-ragu juga
apakah akan tega menurunkan tangan kepada bibinya itu. Apalagi kalau ia ingat
akan ayah bundanya yang berada di Panjalu. Kalau mereka itu maju, dan hal ini
tak dapat disangsikan lagi mengingat bahwa ayah bundanya adalah hamba-hamba
setia dari Panjalu, biarpun dia tidak takut dan pasti akan menentang mereka
kalau ayah bundanya berusaha menghalangi cita-citanya, namun tetap saja ada
sedikit perasaan tidak enak di hatinya. Dan para wakil kedua kerajaan asing
itu, tentu kelak hanya akan menjadi gangguan yang memusingkan. Usul patihnya
amat baik, sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat. Menggunakan mereka untuk
menggempur dan menaklukkan Jenggala dan Panjalu, kemudian setelah berhasil,
membasmi mereka sebelum mereka sadar akan muslihat ini.
"Usulmu menarik sekali,
Paman. Akan tetapi, benar-benarkah Sriwijaya dan Cola mempunyai tokoh-tokoh
yang sakti, yang boleh dipercaya akan dapat kita pergunakan untuk menggempur
dan menaklukkan Jenggala dan Panjalu?"
"Banyak sekali tokoh
mereka, Gusti. Dan terutama sekali pucuk pimpinan yang sengaja dikirim dari Kerajaan
Sriwijaya dan Cola. Hamba mengenal pemimpin utusan Kerajaan Cola yang bernama
Sang Wasi Bagaspati. Kakek
ini memiliki kesaktian yang
amat hebat, Gusti, yang sukar dicari bandingnya pada saat ini .....“
"Hemm, aku pernah
mendengar dari guruku nama itu. Manusia sombong yang mengaku sebagai penitisan
Sang Hyang Shiwa! Lalu, siapa lagi, Paman?"
"Masih banyak tokoh
Kerajaan Cola yang menjadi pembantu Sang Wasi Bagaspati, dan yang memiliki aji
kesaktian luar biasa. Adapun pemimpin utusan Kerajaan Sriwijaya belum pernah
hamba jumpai, akan tetapi kabarnya juga memiliki kesaktian yang tidak kalah
oleh kesaktian Sang Wasi Bagaspati sendiri, namanya Sang Biku Janapati."
Retna Wilis
mengangguk-angguk. Nama-nama ini pernah ia dengar dari Nini Bumigarba.
"Paman, apakah Paman
dapat menghubungi mereka?"
"Hamba kira akan dapat
mencari tokoh-tokoh Kerajaan Cola, Gusti. Dan melalui mereka kiranya hamba akan
dapat menghubungi pula tokoh-tokoh Sriwijaya. Apakah Paduka dapat menyetujui
kalau kita bersekutu dengan mereka?"
"Kalau Paman merasa
sebaiknya demikian, aku pun dapat menerima. Sekarang Paman pergilah menghubungi
mereka dan panggil Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati datang menghadap
aku!"
Adiwijaya membelalakkan mata
dan wajahnya berubah. Akan tetapi mulutnya tidak berani membantah. Ia hanya
merasa khawatir apakah kedua orang tokoh sakti itu akan sudi datang kalau
disuruh menghadap seorang ratu muda belia seolah-olah mereka itu adalah
orang-orang taklukan atau orang-orang yang tingkatnya lebih rendah. Ia menyanggupi,
kemudian menyembah dan berpamit untuk segera melaksanakan perintah puteri sakti
itu, mencari dan menghubungi Wasi Bagaspati dan Biku Janapati.
Adiwijaya maklum atau dapat
menduga bahwa tentu tokoh-tokoh besar yang dicarinya itu masih belum meninggalkan
daerah Jenggala. Biarpun mereka itu telah gagal dalam usaha mereka menguasai
Jenggala dengan jalan halus, namun mereka itu tentu tidak mau sudah begitu
saja. Tentu Wasi Bagaspati diam-diam sedang menyusun tenaga untuk melanjutkan
usahanya menguasai Jenggala dan agaknya bersembunyi di dalam hutan-hutan, di
gunung-gunung yang sunyi.
Mulailah Adiwijaya merantau,
seorang diri karena untuk melakukan tugas rahasia ini ia tidak menghendaki
rombongan pembantu atau pengawal yang selain dapat mudah membocorkan rahasia,
juga akan membuat ia kurang leluasa saja. Ia tahu dari siapa ia harus mencari
berita tentang tempat persembunyian tokoh-tokoh dari kerajaan Cola itu. Maka ia
lalu masuk keluar hutan dan akhirnya ia bertemu dengan serombongan perampok
yang ia kenal sebagai bekas anak buah pasukan Jenggala yang melarikan diri.
Ketika ia memasuki sebuah hutan yang lebat pada suatu pagi, tiba-tiba dari
balik pohon-pohon dan semak-semak berloncatan belasan orang yang dikepalai
seorang tinggi besar yang berkumis tebal melintang sekepal sebelah. Adiwijaya
mengenal pemimpin perampok itu dan beberapa orang anggauta perampok sebagai
bekas anak pasukan yang dahulu menjadi pengawal Pangeran Kukutan, akan tetapi
mereka tidak mengenalnya karena memang kini bekas Patih Warutama sudah banyak
berubah.
"Heh, kisanak, berhenti
dulu! Tanggalkan semua pakaian dan tinggalkan semua bawaanmu sebagai pengganti
nyawamu!" Si kumis melintang membentak garang. Adiwijaya tersenyum,
berdiri tegak dan berkata,
"Kakang Jodi, apakah
engkau tidak lagi mengenal aku? Aku adalah bekas Ki Patih Warutama, orang
sendiri, bukan lawan." Beberapa orang bekas anak buah Jenggala, juga Ki
Jodi, memandang dengan mata terbelalak diikuti oleh anak buahnya.
"Ha-ha-ha, engkau
pandai membadut, Kisanak! Akan tetapi kami tidak mempunyai waktu untuk
mendengar ocehanmu. Lekas tanggalkan pakaian atau terpaksa aku akan membunuhmu
lebih dulu, baru melucuti pakaianmu!" Kepala perampok itu membentak dengan
sikap mengancam.
"Hemm, memang wajahku
sudah berubah. Akan tetapi apakah engkau tidak lagi mengenal suara dan bentuk
tubuhku? Baiklah, sebelum diberi bukti kalian tentu tidak percaya. Nah, Kakang
Jodi, majulah!"
Ki Jodi menjadi marah. Orang
ini yang mengaku bekas Patih Jenggala adalah seorang yang tubuhnya tidak
membayangkan kekuatan, agaknya sekali pukul saja ia akan mampu membikin remuk
kepala itu. Maka ia lalu berteriak keras dan menerjang maju, tangan kirinya
mencengkeram ke arah leher dan kepalan tangan kanannya menjotos kepala. Tentu
saja serangan yang hanya berdasarkan tenaga kasar ini dipandang rendah oleh
Adiwijaya yang sakti. Tubuhnya hanya miring sedikit, kemudian kedua tangannya
bergerak, menyambar pinggang yang besar itu, diangkatnya tubuh Ki Jodi ke atas
lalu dibanting ke atas tanah.
"Brukkk ........
ngekkk!"
"Aduhhhh ........
tohobaattt ........ !" Ki Jodi terengah- engah dan merintih, tulang
punggungnya serasa patah dan ia tidak dapat bangkit. Kawan-kawannya menjadi
marah, akan tetapi sebelum mereka bergerak maju, Ki Jodi sambil terengah-engah
berkata,
"Mundur kalian semua!
Apakah kalian buta? Beliau adalah Gusti Patih Warutama!"
Semua anak buah perampok
mundur dan memandang dengan jerih. Adiwijaya menghampiri Ki Jodi, menepuk
punggungnya dan menariknya bangun. Ki Jodi menyeringai dan bangkit dengan tubuh
bongkok, kedua tangannya menekan pinggang dan pantat yang rasanya nyeri sekali.
"Ampun, Gusti Patih
....”
"Tidak mengapa, Kakang
Jodi. Aku pun tidak berniat mengganggu kalian, hanya kebetulan saja pertemuan
ini karena memang aku sedang mencari teman-teman bekas prajurit Jenggala. Aku
ingin bertanya ke mana kiranya aku dapat menemui tokoh-tokoh Cola, Wasi
Bagaspati dan para pembantunya."
"Hamba .....hamba tidak
tahu, Gusti. Semenjak melarikan diri dari Jenggala, hamba bersama kawan-kawan
bersembunyi di hutan ini. Hanya ada hamba mendengar berita bahwa pasukan wanita
penyembah Sang Bhatari Durgo bermarkas di lereng gunung Arjuna. Kiranya dari
mereka itu Paduka akan dapat mendengar lebih jelas tentang para tokoh yang
Paduka cari."
Adiwijaya mengangguk-angguk.
"Baik. Aku akan mencari
ke sana. Kakang Jodi, engkau kumpulkan kawan-kawan bekas prajurit Jenggala dan
bawa mereka sebanyak mungkin pergi ke lereng Wilis. Di sana kalian boleh
menghambakan diri menjadi prajurit Wilis."
Ki Jodi membelalakkan
matanya.
"Kerajaan Wilis? Ahhh,
hamba sudah mendengar akan kerajaan baru itu. Hamba .. takut, Gusti.
Jangan-jangan begitu sampai di sana, hamba segerombolan akan dibasmi oleh
pasukan Wilis yang terkenal kuat." Adiwijaya tersenyum bangga.
"Jangan khawatir.
Katakan bahwa Gusti Patih Adiwijaya yang menyuruh kalian datang. Kalian pasti
akan diterima sebagai anggota pasukan. Aku sekarang adalah Ki Patih Adiwijaya,
patih dari Kerajaan Wilis yang jaya. Ingat, Ki Patih Adiwijaya, bukan lagi
Patih Warutama. Mengerti?"
"Baik, Gusti
Patih." Ki Jodi menjawab dan dengan girang ia menerima beberapa potong
emas dari Adiwijaya. Adiwijaya melanjutkan perjalanannya dan beberapa hari
kemudian tibalah ia di lereng gunung Arjuna.
Menjelang senja dan ia
merasa lelah dan lapar sekali, Adiwijaya berhenti mengaso di bawah sebatang
pohon cemara, membuka bungkusan daun jati dan makan nasi bekalnya yang tadi ia
beli di dalam dusun di kaki gunung. Baru saja ia habis makan dan minum air yang
memancur keluar dari celahan batu sambil mencuci tangan, tiba-tiba ia melihat
berkelebatnya bayangan orang. Ia maklum bahwa ada orang sakti datang, akan
tetapi ia pura-pura tidak tahu dan melanjutkan mencuci tangan, akan tetapi
diam-diam ia bersikap waspada.
"Wirrrr ...”
Adiwijaya miringkan kepala,
tangan kirinya meraih dan sebatang tusuk konde cepat ia tangkap dari samping
dengan jari tangannya. Ia menoleh ke arah datangnya senjata rahasia tusuk konde
itu sambil berkata,
"Saya Adiwijaya
bukanlah musuh, harap Andika sudi keluar dan bicara."
"Ihhhh ........
Terdengar seruan tertahan seorang wanita disusul jerit melengking yang agaknya
menjadi tanda bahaya, kemudian dari balik semak-semak muncul keluar seorang
wanita cantik manis dengan sinar mata genit dan pakaian tipis membayangkan
tubuh yang ramping padat, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Sekali pandang
Adiwijaya dapat menduga bahwa wanita ini tentulah anak buah Ni Dewi Nilamanik,
seorang penyembah Bathari Durgo. Cepat ia menjura dengan sikap hormat dan
berkata,
"Saya bernama Adiwijaya
dan datang dengan niat baik, harap Andika jangan lagi main-main dengan senjata
yang bahaya ini. Kurasa tusuk konde ini lebih pantas untuk menghias rambut
Andika yang hitam halus itu." Sambil berkata demikian, Adiwijaya
menggerakkan tusuk konde di tangannya yang melesat cepat dan menancap di konde
(sanggul) rambut wanita itu yang menjadi terkejut sekali.
"Apa niatmu datang ke
tempat kami? Apakah Andika sudah bosan hidup?" Wanita itu menatap wajah
dan tubuh Adiwijaya dengan penuh selidik, juga merasa sayang kalau pria ini
terbunuh. Biarpun sudah setengah tua, pria ini amat menarik, dan membayangkan
kejantanan, di samping kedigdayaan yang sudah diperlihatkan tadi ketika
menangkap senjata rahasianya dan mengembalikannya dengan cara mengagumkan.
"Saya datang untuk
minta menghadap Sang Wasi Bagaspati, atau Ni Dewi Nilamanik. Bukankah Andika
ini anak buah Ni Dewi Nilamanik?"
Kembali wanita itu kelihatan
kaget dan tercengang. Baik Wasi Bagaspati maupun Ni Dewi Nilamanik berada di
tempat itu secara sembunyi dan tempat ini dirahasiakan. Bagaimana orang ini
dapat mengetahuinya? Akan tetapi sebelum ia men jawab, terdengar suara halus
seorang wanita,
"Ki Warutama, mau apa
Andika datang ke sini?" Adiwijaya membalikkan tubuh dan melihat Ni Dewi
Nilamanik telah berdiri di situ dengan sikap angkuh. Wanita ini masih cantik
menarik penuh daya pikat dan biarpun dahulu sudah beberapa kali wanita ini
melayaninya sebagai seorang kekasih, namun kini bersikap angkuh dan dingin. Di
tangannya tampak pengebut lalat dari serat merah buntut kuda, kebutan yang
mungkin lebih banyak mengebut melayang nyawa manusia daripada nyawa lalat.
Kagumlah Adiwijaya. Benar-benar wanita ini selain sakti juga amat awas sehingga
begitu bertemu telah mengenalnya.
No comments:
Post a Comment