Perawan Lembah Wilis; Bagian 184


"Ni Dewi Nilamanik, selamat berjumpa. Sungguh pertemuan ini amat membahagiakan hati saya karena membuktikan betapa perjalanan saya tidak sia-sia dan harapan saya untuk dapat menghadap Sang Wasi Bagaspati terpenuhi."
"Hemm, tidak begitu mudah, Ki Warutama. Kecuali anggota kami, siapa pun juga yang sudah lancang naik ke sini tidak akan dapat turun lagi. Dan Andika bukanlah anggota kami. Apa kehendakmu?"
"Ahh, Ni Dewi. Tentu Andika mengerti bahwa kalau membawa niat buruk, saya tidak akan begitu lancang berani naik ke sini. Saya sekarang telah menjadi Ki Patih Adiwijaya dari Kerajaan Wilis, dan kedatangan saya ini sebagai utusan Kerajaan Wilis untuk menghadap Sang Wasi Bagaspati."

Ni Dewi Nilamanik memandang tajam, menggerak-gerakkan kedua alisnya. Diam-diam ia merasa kaget dan juga kagum. Benar-benar laki-laki ini amat cerdik. Baru saja terguling dari kedudukannya sebagai Patih Jenggala, kini telah muncul lagi sebagai patih Kerajaan Wilis dan mempunyai nama baru lagi, Ki Patih Adiwijaya! Benar-benar seorang laki-laki yang hebat!
"Ikutlah aku, akan tetapi aku tidak mau kau salahkan kalau nanti rakanda Wasi marah-marah dan membunuhmu!" Tanpa menanti jawaban Ni Dewi Nilamanik mengebutkan kebutannya dan membalikkan tubuh, kemudian melesat ke depan, lari cepat mendaki puncak, Adiwijaya tersenyum dan mengerahkan aji kesaktianya mengejar. Ia melihat betapa di balik semak-semak dan pohon-pohon kini telah berkumpul puluhan orang wanita cantik yang bersenjata lengkap. Tentu anak buah Ni Dewi Nilamanik yang berdatangan karena jerit melengking kawan mereka tadi. Ah, memang hebat anak buah Kerajaan Cola di bawah pimpinan Sang Wasi Bagaspati ini, pikirnya. Kalau Retna Wilis dapat bersekutu dengan mereka, tentu bukanlah hal yang sukar lagi untuk menggempur dan menaklukkan Jenggala, bahkan Panjalu sekali pun. Hanya seorang tokoh yang amat dikhawatirkan, yaitu Bagus Seta, putera Ki Patih Tejolaksono yang memiliki kesaktian luar biasa itu sehingga Sang Wasi Bagaspati sendiri kabarnya kalah oleh pemuda itu. Diam-diam ia seringkali membandingkan Bagus Seta dan Retna Wilis dan bergidik. Retna Wilis puteri Ki Patih Tejolaksono! Entah bagaimana jadinya kelak kalau kakak beradik satu ayah lain ibu itu bertemu sebagai lawan! Jalan mendakl puncak itu melalui tempat-tempat rahasia yang sukar dilalui, dan di dekat puncak menuruni sebuah jurang yang amat curam sehingga kalau orang luar takkan mungkin dapat mengira bahwa jurang seperti ini dijadikan markas sementara bagi Wasi Bagaspati dan anak buahnya. Kiranya di dekat dasar jurang itu terdapat terowongan dan setelah melalui terowongan, mereka berada di dasar jurang lain yang tidak tampak dari atas, dasar yang rata dan amat luas. Di tempat inilah Sang Wasi Bagaspati tinggal bersama Ni Dewi Nilamanik dan anak buahnya yang berjumlah hampir seratus orang wanita. Di situ telah dibangun pondok-pondok bambu yang sederhana namun cukup besar dan biarpun tempatnya sederhana, karena dikelilingi puluhan orang wanita muda dan cantik, bagi seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsu berahi merupakan surga dunia. Pasukan yang menjaga pondok terbesar juga merupakan prajurit-prajurit wanita yang bersenjata lengkap, memegang tombak dan menyarungkan pedang. Mereka nampak cantik dan gagah, akan tetapi mereka semua memiliki pandang mata yang bersinar penuh kegenitan seperti yang terdapat pada pandang mata Ni Dewi Nilamanik. Adiwijaya memasuki pondok itu di belakang Ni Dewi Nilamanik dan begitu ia berhadapan dengan Sang Wasi Bagaspati yang duduk bersama seorang kakek lain yang memandangnya penuh perhatian, dia merasa bulu tengkuknya meremang. Selalu ia merasa ngeri kalau bertemu pandang dengan kakek yang berpakaian merah darah, bertubuh tinggi kurus dan mukanya merah mengingatkan dia akan tokoh Raja Alengkapura, yaitu Maharaja Dasamuka dalam cerita Ramayana.
"Heh, Warutama, manusia yang berhati penuh khianat! Inginkah engkau mendapat kehormatan tewas di tanganku maka engkau berani datang ke sini?" Wasi Bagaspati membentak dan Adiwijaya yang berdiri menunduk penuh hormat itu gemetar kedua kakinya, ia lalu memberi hormat dan duduk bersila di depan kakek itu.
"Duhai Sang Wasi yang arif bijaksana dan sakti mandraguna. Mohon ampun akan kebodohan saya, akan tetapi saya tidak merasa telah melakukan khianat," bantah Adiwijaya, menekan hatinya agar suaranya tidak gemetar.

Ia mengingat akan junjungannya, Retna Wilis, dan seketika rasa gentarnya lenyap. Puteri junjungannya itu tidak akan meninggalkannya, tidak akan membiarkannya diganggu, biar oleh seorang sakti seperti kakek ini sekalipun. Dan dalam hal kesaktian, ia merasa yakin bahwa ratunya itu tidak akan kalah oleh kakek ini. Keyakinan ini menimbulkan ketabahan di hatinya, mengusir rasa takut sehingga ia dapat mempergunakan akal budi dan kecerdikannya.
"Heh, Warutama. Andika telah membunuh Suminten dan Pangeran Kukutan, masih mengatakan Andika tidak berkhianat? Andika melarikan diri meninggalkan sekutu, bukankah hal itu membuktikan hatimu yang khianat?" Adiwijaya sudah menduga akan datangnya tuduhan itu, maka ia sudah siap dengan jawabannya yang keluar dengan suara tenang,
"Duh Sang Wasi yang mulia. Saya tidak berkhianat ketika membunuh Pangeran Kukutan dan menyerahkan Suminten kepada para prajurit yang melarikan diri. Mereka berdualah yang berkhianat, karena bukankah kegagalan di Jenggala terjadi karena kebodohan dan kelancangan mereka berdua? Setelah gagal karena kecerobohan mereka, kedua orang manusia palsu itu melarikan diri. Saya muak melihat mereka maka saya membunuh Pangeran Kukutan dan menyerahkan Suminten kepada para prajurit yang melarikan diri. Kalau tidak karena kebodohan mereka, tentu saya masih menjadi patih di Jenggala dan usaha Sang Wasi yang dihimpun dan dipupuk secara susah payah tidak akan sirna begitu saja." Wasi Bagaspati mengelus rambutnya yang putih dan terurai ke pundak. Matanya tidak beringas lagi dan suaranya ketika bicara menunjukkan bahwa kemarahannya reda mendengar alasan Adiwijaya yang kuat.
"Engkau pandai bicara dan mungkin engkau benar. Kami pun tidak lagi membutuhkan mereka. Akan tetapi kami pun sama sekali tidak membutuhkan engkau, Warutama. Apa kehendakmu datang menghadap aku?" Adiwijaya tersenyum tenang dan sabar.
"Tentu saja Sang Wasi tidak membutuhkan saya, dan kedatangan saya ini pun karena teringat akan budi Sang Wasi dan teringat bahwa kita dahulu pernah bekerja sama. Saya menyesal akan kegagalan kita yang disebabkan oleh kebodohan Pangeran Kukutan dan Suminten. Maka sekarang saya hendak memberi jalan kepada Sang Wasi untuk menebus kekalahan yang lalu, bersama menggempur dan
menaklukkan Jenggala dan Panjalu."
Terdengar suara menggereng seperti harimau dan tempat itu menjadi tergetar hebat. Adiwijaya terkejut sekali dan memandang kakek ke dua yang duduk di sebelah kiri Sang Wasi Bagaspati, yang mengeluarkan suara menggereng hebat, mengandung daya kekuatan dan wibawa ampuh itu.
"Hhrrrrrggg .... Manusia yang begini mudah menggerakkan lidah mana dapat dipercaya? Kakang Wasi, biar kuganyang jantungnya!'
Melihat wajah Adiwijaya berubah pucat, Wasi Bagaspati mengangkat tangan mencegah kakek itu sambil berkata,
"Biarkan dia bicara lebih dulu." Kemudian ia menoleh kepada Adiwijaya,
"Warutama, kau bicaralah yang benar, kalau tidak, aku akan membiarkan adikku Wasi Bagaskolo mengganyang jantungmu. Apa yang kau maksudkan dengan ucapanmu tadi? Adikku ini benar kalau mengatakan bahwa engkau terlalu mudah menggoyang lidah hendak menaklukkan Jenggala dan Panjalu."

Hati yang kaget dan gentar dari Adiwijaya berubah girang ketika mendengar bahwa kakek yang hebat dan jelas memiliki kesaktian tinggi itu adalah adik Wasi Bagaspati. Cepat ia berkata,
"Saya tidak berani membohong atau menipu, Sang Wasi. Sekali ini kita pasti akan berhasil menghancurkan Jenggala. Hendaknya Sang Wasi mengetahui lebih dulu bahwa saya sekarang telah menjadi Ki Patih Adiwijaya dari Kerajaan Wilis."
"Hemmm ....!" Sungguhpun Wasi Bagaspati hanya mengeluarkan suara menggeram, akan tetapi seperti juga Ni Dewi Nilamanik, ia menjadi kagum akan kecerdikan laki-laki ini.
"Aku sudah mendengar akan Kerajaan Wilis yang baru berdiri dari sudah banyak menaklukkan kadipaten. Lalu bagaimana?"
"Saya sengaja datang menghadap sebagai utusan junjungan saya, Sang Ratu Wilis, untuk mengajak Sang Wasi bersama-sama menyerbu Jenggala dan Panjalu."
"Ha-ha-ha-ha! Andika benar-benar seorang yang amat cerdik, Warutama ....eh, siapa nama barumu tadi? Ki Patih Adiwijaya? Akan tetapi kecerdikanmu tidak cukup besar untuk mudah saja membujuk kami, Ki Patih Adiwijaya! Apa artinya sebuah kerajaan kecil seperti Wilis yang baru saja muncul?"
"Harap Sang Wasi tidak memandang rendah Kerajaan Wilis. Kadipaten Ponorogo dalam waktu singkat dan dengan mudah saja dapat kami taklukkan dan kini Kerajaan Wilis telah mempunyai pasukan yang tidak kurang dari dua laksa orang besarnya, semua merupakan pasukan pilihan. Selain itu, junjungan saya, Sang Ratu Wlilis memiliki aji kesaktian yang amat hebat!"
"Hemm, masih belum meyakinkan akan dapat menghadapi Jenggala," kata Wasi Bagaspati yang termenung kalau teringat akan kesaktian Bagus Seta. Dia sengaja mendatangkan adik seperguruannya, Wasi Bagaskolo, dari Kerajaan Cola untuk membantunya karena dari pihak Biku Janapati tidak ada bantuan. Namun dia masih ragu-ragu apakah kedudukannya cukup kuat untuk menyerbu Jenggala.
"Siapa nama ratumu dan berapa usianya?"
Dengan bangga lahir batin Adiwijaya menjawab,
"Ratu kami bernama Retna Wilis, masih dara remaja, usianya tidak akan lebih dari delapan belas tahun."
"Weh! Bedes monyet keparat!" Wasi Bagaskolo meloncat dari tempat duduknya dan membanting kaki kanannya di atas tanah. Tubuh Adiwijaya sampai hampir mencelat ke atas karena tanah itu tergetar hebat.
"Bocah perempuan cilik, perawan berusia delapan belas tahun kau pamerkan disini? Kau hendak menghina kami, ya?"
Adiwijaya mengangkat kedua tangan, digerak-gerakkan sebagai tanda bahwa dia tidak menghina, di dalam hatinya memaki-maki kakek yang amat galak ini.
"Sama sekali tidak, Sang Wasi. Hendaknya diingat bahwa Bagus Seta yang amat sakti mandraguna itu pun masih muda remaja. Dan Gusti Ratu Retna Wilis adalah adik seayah Bagus Seta."
"Apa .....?? Benarkah itu …….?” Wasi Bagaspati bertanya kaget.
"Benar Sang Wasi. Gusti Ratu Wilis adalah puteri Ki Patih Tejolaksono dan ....Puteri Endang Patibroto, bahkan beliau adalah murid tunggal Nini Bumigarba...!”
"Ooommmm ....Sang Hyang Bathara Shiwa penguasa jagad raya ....!!" Wasi Bagaskolo berseru, mukanya berubah dan kini dia tidak berani lagi memandang rendah "perawan remaja" itu setelah ia mendengar bahwa Ratu Wilis yang masih muda remaja itu adalah murid Nini Bumigarba.

Wasi Bagaspati membelalakkan mata dan hatinya tertarik sekali.
"Hemm, jadi diakah? Akan tetapi dia adalah puteri Tejolaksono dan Endang Patibroto. Bagaimana mungkin bekerja sama dengan kami?"
"Biarpun puteri mereka, namun pendirian orang tua dan puteri tidaklah sama." Adiwijaya lalu menceritakan hal-ihwal Retna Wilis, betapa ratu muda itu telah menentang ibunya sendiri dan bertekad untuk menaklukkan Jenggala dan Panjalu.
Kemudian ia menambahkan untuk membujuk hati kakek itu,
"Justeru karena ayah bunda beliau berada di Panjalu dan akan berpihak kepada musuh maka gusti ratu ingin bekerja sama dengan Sang Wasi. Gusti puteri sanggup menghadapi dan mengalahkan siapapun juga, termasuk Bagus Seta kakaknya sendiri. Akan tetapi untuk menghadapi rama ibunya, tentu saja merasa tidak enak dan menyerahkan hal itu kepada Sang Wasi. Dengan kerja sama antara Sang Wasi berdua berikut semua pembantu Sang Wasi yang sakti mandraguna dengan gusti ratu yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia, saya yakin bahwa Jenggala dan Panjalu akan mudah ditaklukkan."
"Kalau sudah berhasil, bagaimana?" Wasi Bagaspati memandang tajam, akan tetapi dalam hal kecerdikan menggunakan akal dan tipu muslihat, kiranya Adiwijaya tidak akan kalah terhadap kakek sakti Itu.
"Kalau sudah berhasil? Tentu saja berarti Kerajaan Cola akan menjadi kerajaan sahabat dan gusti puteri tentu akan memberi kebebasan kepada Sang Wasi untuk menyebarkan agama dan kepada Kerajaan Cola untuk menikmati hasil bumi Nusa Jawa ....”
"Uuhhh .... ! Kerajaan kami yang besar bersahabat dengan kerajaan yang diperintah oleh seorang ratu perawan belasan tahun? Betapa memalukan!" kata Sang Wasi Bagaspati sambil memandang tajam. Adiwijaya maklum akan isi hati kakek itu yang mencobanya, maka ia pun balas memandang dan berkata,
"Kalau Sang Wasi berpendirian seperti itu dan andaikata akan lebih suka kalau kerajaan di sini dipimpin oleh seorang pria yang mempunyai minat yang sama, umpamanya seorang pria seperti ... eh, saya sendiri, hemmm ....apa sukarnya mengenyahkan seorang dara yang belum berpengalaman? Serahkan saja kepada saya, karena saya sendiri pun tidak begitu bangga menjadi patih dari seorang ratu wanita yang amat muda. Merendahkan sekali namanya! Dan beliau amat percaya kepada saya, maka hal itu kelak akan dapat kita bicarakan lagi, Sang Wasi."

<<< Bagian 183                                                                                     Bagian 185 >>>

No comments:

Post a Comment