"Ni Dewi Nilamanik, selamat berjumpa. Sungguh pertemuan ini amat membahagiakan hati saya karena membuktikan betapa perjalanan saya tidak sia-sia dan harapan saya untuk dapat menghadap Sang Wasi Bagaspati terpenuhi."
"Hemm, tidak begitu
mudah, Ki Warutama. Kecuali anggota kami, siapa pun juga yang sudah lancang
naik ke sini tidak akan dapat turun lagi. Dan Andika bukanlah anggota kami. Apa
kehendakmu?"
"Ahh, Ni Dewi. Tentu
Andika mengerti bahwa kalau membawa niat buruk, saya tidak akan begitu lancang
berani naik ke sini. Saya sekarang telah menjadi Ki Patih Adiwijaya dari
Kerajaan Wilis, dan kedatangan saya ini sebagai utusan Kerajaan Wilis untuk
menghadap Sang Wasi Bagaspati."
Ni Dewi Nilamanik memandang
tajam, menggerak-gerakkan kedua alisnya. Diam-diam ia merasa kaget dan juga
kagum. Benar-benar laki-laki ini amat cerdik. Baru saja terguling dari
kedudukannya sebagai Patih Jenggala, kini telah muncul lagi sebagai patih
Kerajaan Wilis dan mempunyai nama baru lagi, Ki Patih Adiwijaya! Benar-benar
seorang laki-laki yang hebat!
"Ikutlah aku, akan
tetapi aku tidak mau kau salahkan kalau nanti rakanda Wasi marah-marah dan
membunuhmu!" Tanpa menanti jawaban Ni Dewi Nilamanik mengebutkan
kebutannya dan membalikkan tubuh, kemudian melesat ke depan, lari cepat mendaki
puncak, Adiwijaya tersenyum dan mengerahkan aji kesaktianya mengejar. Ia
melihat betapa di balik semak-semak dan pohon-pohon kini telah berkumpul
puluhan orang wanita cantik yang bersenjata lengkap. Tentu anak buah Ni Dewi
Nilamanik yang berdatangan karena jerit melengking kawan mereka tadi. Ah,
memang hebat anak buah Kerajaan Cola di bawah pimpinan Sang Wasi Bagaspati ini,
pikirnya. Kalau Retna Wilis dapat bersekutu dengan mereka, tentu bukanlah hal
yang sukar lagi untuk menggempur dan menaklukkan Jenggala, bahkan Panjalu
sekali pun. Hanya seorang tokoh yang amat dikhawatirkan, yaitu Bagus Seta,
putera Ki Patih Tejolaksono yang memiliki kesaktian luar biasa itu sehingga
Sang Wasi Bagaspati sendiri kabarnya kalah oleh pemuda itu. Diam-diam ia
seringkali membandingkan Bagus Seta dan Retna Wilis dan bergidik. Retna Wilis
puteri Ki Patih Tejolaksono! Entah bagaimana jadinya kelak kalau kakak beradik
satu ayah lain ibu itu bertemu sebagai lawan! Jalan mendakl puncak itu melalui
tempat-tempat rahasia yang sukar dilalui, dan di dekat puncak menuruni sebuah
jurang yang amat curam sehingga kalau orang luar takkan mungkin dapat mengira
bahwa jurang seperti ini dijadikan markas sementara bagi Wasi Bagaspati dan
anak buahnya. Kiranya di dekat dasar jurang itu terdapat terowongan dan setelah
melalui terowongan, mereka berada di dasar jurang lain yang tidak tampak dari
atas, dasar yang rata dan amat luas. Di tempat inilah Sang Wasi Bagaspati
tinggal bersama Ni Dewi Nilamanik dan anak buahnya yang berjumlah hampir
seratus orang wanita. Di situ telah dibangun pondok-pondok bambu yang sederhana
namun cukup besar dan biarpun tempatnya sederhana, karena dikelilingi puluhan
orang wanita muda dan cantik, bagi seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsu
berahi merupakan surga dunia. Pasukan yang menjaga pondok terbesar juga
merupakan prajurit-prajurit wanita yang bersenjata lengkap, memegang tombak dan
menyarungkan pedang. Mereka nampak cantik dan gagah, akan tetapi mereka semua
memiliki pandang mata yang bersinar penuh kegenitan seperti yang terdapat pada
pandang mata Ni Dewi Nilamanik. Adiwijaya memasuki pondok itu di belakang Ni
Dewi Nilamanik dan begitu ia berhadapan dengan Sang Wasi Bagaspati yang duduk
bersama seorang kakek lain yang memandangnya penuh perhatian, dia merasa bulu
tengkuknya meremang. Selalu ia merasa ngeri kalau bertemu pandang dengan kakek
yang berpakaian merah darah, bertubuh tinggi kurus dan mukanya merah
mengingatkan dia akan tokoh Raja Alengkapura, yaitu Maharaja Dasamuka dalam
cerita Ramayana.
"Heh, Warutama, manusia
yang berhati penuh khianat! Inginkah engkau mendapat kehormatan tewas di
tanganku maka engkau berani datang ke sini?" Wasi Bagaspati membentak dan
Adiwijaya yang berdiri menunduk penuh hormat itu gemetar kedua kakinya, ia lalu
memberi hormat dan duduk bersila di depan kakek itu.
"Duhai Sang Wasi yang
arif bijaksana dan sakti mandraguna. Mohon ampun akan kebodohan saya, akan
tetapi saya tidak merasa telah melakukan khianat," bantah Adiwijaya,
menekan hatinya agar suaranya tidak gemetar.
Ia mengingat akan
junjungannya, Retna Wilis, dan seketika rasa gentarnya lenyap. Puteri
junjungannya itu tidak akan meninggalkannya, tidak akan membiarkannya diganggu,
biar oleh seorang sakti seperti kakek ini sekalipun. Dan dalam hal kesaktian,
ia merasa yakin bahwa ratunya itu tidak akan kalah oleh kakek ini. Keyakinan
ini menimbulkan ketabahan di hatinya, mengusir rasa takut sehingga ia dapat
mempergunakan akal budi dan kecerdikannya.
"Heh, Warutama. Andika
telah membunuh Suminten dan Pangeran Kukutan, masih mengatakan Andika tidak
berkhianat? Andika melarikan diri meninggalkan sekutu, bukankah hal itu
membuktikan hatimu yang khianat?" Adiwijaya sudah menduga akan datangnya
tuduhan itu, maka ia sudah siap dengan jawabannya yang keluar dengan suara
tenang,
"Duh Sang Wasi yang
mulia. Saya tidak berkhianat ketika membunuh Pangeran Kukutan dan menyerahkan
Suminten kepada para prajurit yang melarikan diri. Mereka berdualah yang
berkhianat, karena bukankah kegagalan di Jenggala terjadi karena kebodohan dan
kelancangan mereka berdua? Setelah gagal karena kecerobohan mereka, kedua orang
manusia palsu itu melarikan diri. Saya muak melihat mereka maka saya membunuh
Pangeran Kukutan dan menyerahkan Suminten kepada para prajurit yang melarikan
diri. Kalau tidak karena kebodohan mereka, tentu saya masih menjadi patih di
Jenggala dan usaha Sang Wasi yang dihimpun dan dipupuk secara susah payah tidak
akan sirna begitu saja." Wasi Bagaspati mengelus rambutnya yang putih dan terurai
ke pundak. Matanya tidak beringas lagi dan suaranya ketika bicara menunjukkan
bahwa kemarahannya reda mendengar alasan Adiwijaya yang kuat.
"Engkau pandai bicara
dan mungkin engkau benar. Kami pun tidak lagi membutuhkan mereka. Akan tetapi
kami pun sama sekali tidak membutuhkan engkau, Warutama. Apa kehendakmu datang
menghadap aku?" Adiwijaya tersenyum tenang dan sabar.
"Tentu saja Sang Wasi
tidak membutuhkan saya, dan kedatangan saya ini pun karena teringat akan budi
Sang Wasi dan teringat bahwa kita dahulu pernah bekerja sama. Saya menyesal
akan kegagalan kita yang disebabkan oleh kebodohan Pangeran Kukutan dan
Suminten. Maka sekarang saya hendak memberi jalan kepada Sang Wasi untuk
menebus kekalahan yang lalu, bersama menggempur dan
menaklukkan Jenggala dan
Panjalu."
Terdengar suara menggereng
seperti harimau dan tempat itu menjadi tergetar hebat. Adiwijaya terkejut
sekali dan memandang kakek ke dua yang duduk di sebelah kiri Sang Wasi
Bagaspati, yang mengeluarkan suara menggereng hebat, mengandung daya kekuatan
dan wibawa ampuh itu.
"Hhrrrrrggg ....
Manusia yang begini mudah menggerakkan lidah mana dapat dipercaya? Kakang Wasi,
biar kuganyang jantungnya!'
Melihat wajah Adiwijaya
berubah pucat, Wasi Bagaspati mengangkat tangan mencegah kakek itu sambil
berkata,
"Biarkan dia bicara
lebih dulu." Kemudian ia menoleh kepada Adiwijaya,
"Warutama, kau
bicaralah yang benar, kalau tidak, aku akan membiarkan adikku Wasi Bagaskolo
mengganyang jantungmu. Apa yang kau maksudkan dengan ucapanmu tadi? Adikku ini
benar kalau mengatakan bahwa engkau terlalu mudah menggoyang lidah hendak
menaklukkan Jenggala dan Panjalu."
Hati yang kaget dan gentar
dari Adiwijaya berubah girang ketika mendengar bahwa kakek yang hebat dan jelas
memiliki kesaktian tinggi itu adalah adik Wasi Bagaspati. Cepat ia berkata,
"Saya tidak berani
membohong atau menipu, Sang Wasi. Sekali ini kita pasti akan berhasil
menghancurkan Jenggala. Hendaknya Sang Wasi mengetahui lebih dulu bahwa saya
sekarang telah menjadi Ki Patih Adiwijaya dari Kerajaan Wilis."
"Hemmm ....!"
Sungguhpun Wasi Bagaspati hanya mengeluarkan suara menggeram, akan tetapi
seperti juga Ni Dewi Nilamanik, ia menjadi kagum akan kecerdikan laki-laki ini.
"Aku sudah mendengar
akan Kerajaan Wilis yang baru berdiri dari sudah banyak menaklukkan kadipaten.
Lalu bagaimana?"
"Saya sengaja datang
menghadap sebagai utusan junjungan saya, Sang Ratu Wilis, untuk mengajak Sang
Wasi bersama-sama menyerbu Jenggala dan Panjalu."
"Ha-ha-ha-ha! Andika
benar-benar seorang yang amat cerdik, Warutama ....eh, siapa nama barumu tadi?
Ki Patih Adiwijaya? Akan tetapi kecerdikanmu tidak cukup besar untuk mudah saja
membujuk kami, Ki Patih Adiwijaya! Apa artinya sebuah kerajaan kecil seperti
Wilis yang baru saja muncul?"
"Harap Sang Wasi tidak
memandang rendah Kerajaan Wilis. Kadipaten Ponorogo dalam waktu singkat dan
dengan mudah saja dapat kami taklukkan dan kini Kerajaan Wilis telah mempunyai
pasukan yang tidak kurang dari dua laksa orang besarnya, semua merupakan
pasukan pilihan. Selain itu, junjungan saya, Sang Ratu Wlilis memiliki aji
kesaktian yang amat hebat!"
"Hemm, masih belum
meyakinkan akan dapat menghadapi Jenggala," kata Wasi Bagaspati yang
termenung kalau teringat akan kesaktian Bagus Seta. Dia sengaja mendatangkan
adik seperguruannya, Wasi Bagaskolo, dari Kerajaan Cola untuk membantunya
karena dari pihak Biku Janapati tidak ada bantuan. Namun dia masih ragu-ragu
apakah kedudukannya cukup kuat untuk menyerbu Jenggala.
"Siapa nama ratumu dan
berapa usianya?"
Dengan bangga lahir batin
Adiwijaya menjawab,
"Ratu kami bernama
Retna Wilis, masih dara remaja, usianya tidak akan lebih dari delapan belas
tahun."
"Weh! Bedes monyet
keparat!" Wasi Bagaskolo meloncat dari tempat duduknya dan membanting kaki
kanannya di atas tanah. Tubuh Adiwijaya sampai hampir mencelat ke atas karena
tanah itu tergetar hebat.
"Bocah perempuan cilik,
perawan berusia delapan belas tahun kau pamerkan disini? Kau hendak menghina
kami, ya?"
Adiwijaya mengangkat kedua
tangan, digerak-gerakkan sebagai tanda bahwa dia tidak menghina, di dalam hatinya
memaki-maki kakek yang amat galak ini.
"Sama sekali tidak,
Sang Wasi. Hendaknya diingat bahwa Bagus Seta yang amat sakti mandraguna itu
pun masih muda remaja. Dan Gusti Ratu Retna Wilis adalah adik seayah Bagus
Seta."
"Apa .....?? Benarkah
itu …….?” Wasi Bagaspati bertanya kaget.
"Benar Sang Wasi. Gusti
Ratu Wilis adalah puteri Ki Patih Tejolaksono dan ....Puteri Endang Patibroto,
bahkan beliau adalah murid tunggal Nini Bumigarba...!”
"Ooommmm ....Sang Hyang
Bathara Shiwa penguasa jagad raya ....!!" Wasi Bagaskolo berseru, mukanya
berubah dan kini dia tidak berani lagi memandang rendah "perawan
remaja" itu setelah ia mendengar bahwa Ratu Wilis yang masih muda remaja
itu adalah murid Nini Bumigarba.
Wasi Bagaspati membelalakkan
mata dan hatinya tertarik sekali.
"Hemm, jadi diakah?
Akan tetapi dia adalah puteri Tejolaksono dan Endang Patibroto. Bagaimana
mungkin bekerja sama dengan kami?"
"Biarpun puteri mereka,
namun pendirian orang tua dan puteri tidaklah sama." Adiwijaya lalu
menceritakan hal-ihwal Retna Wilis, betapa ratu muda itu telah menentang ibunya
sendiri dan bertekad untuk menaklukkan Jenggala dan Panjalu.
Kemudian ia menambahkan
untuk membujuk hati kakek itu,
"Justeru karena ayah
bunda beliau berada di Panjalu dan akan berpihak kepada musuh maka gusti ratu
ingin bekerja sama dengan Sang Wasi. Gusti puteri sanggup menghadapi dan
mengalahkan siapapun juga, termasuk Bagus Seta kakaknya sendiri. Akan tetapi
untuk menghadapi rama ibunya, tentu saja merasa tidak enak dan menyerahkan hal
itu kepada Sang Wasi. Dengan kerja sama antara Sang Wasi berdua berikut semua
pembantu Sang Wasi yang sakti mandraguna dengan gusti ratu yang memiliki
kesaktian tidak lumrah manusia, saya yakin bahwa Jenggala dan Panjalu akan
mudah ditaklukkan."
"Kalau sudah berhasil, bagaimana?"
Wasi Bagaspati memandang tajam, akan tetapi dalam hal kecerdikan menggunakan
akal dan tipu muslihat, kiranya Adiwijaya tidak akan kalah terhadap kakek sakti
Itu.
"Kalau sudah berhasil?
Tentu saja berarti Kerajaan Cola akan menjadi kerajaan sahabat dan gusti puteri
tentu akan memberi kebebasan kepada Sang Wasi untuk menyebarkan agama dan
kepada Kerajaan Cola untuk menikmati hasil bumi Nusa Jawa ....”
"Uuhhh .... ! Kerajaan
kami yang besar bersahabat dengan kerajaan yang diperintah oleh seorang ratu
perawan belasan tahun? Betapa memalukan!" kata Sang Wasi Bagaspati sambil
memandang tajam. Adiwijaya maklum akan isi hati kakek itu yang mencobanya, maka
ia pun balas memandang dan berkata,
"Kalau Sang Wasi
berpendirian seperti itu dan andaikata akan lebih suka kalau kerajaan di sini
dipimpin oleh seorang pria yang mempunyai minat yang sama, umpamanya seorang
pria seperti ... eh, saya sendiri, hemmm ....apa sukarnya mengenyahkan seorang
dara yang belum berpengalaman? Serahkan saja kepada saya, karena saya sendiri
pun tidak begitu bangga menjadi patih dari seorang ratu wanita yang amat muda.
Merendahkan sekali namanya! Dan beliau amat percaya kepada saya, maka hal itu
kelak akan dapat kita bicarakan lagi, Sang Wasi."
No comments:
Post a Comment