Perawan Lembah Wilis; Bagian 185


"Ha-ha-ha-ha! Andika memang seorang yang amat cerdik dan aku suka sekali bersekutu dengan Andika, wahai Ki Patih Adiwijaya! Kapankah ratumu itu akan mengunjungi kami di sini?"
"Maaf, Sang Wasi. Gusti ratu minta dengan hormat agar Sang Wasi yang datang mengunjunginya di Wilis." Adiwijaya bersikap cerdik tidak menggunakan kata-kata minta kakek itu datang menghadap ratunya. Akan tetapi “undangan” yang sudah diperlunaknya ini masih membuat wajah yang sudah merah itu menjadi lebih merah lagi.
"Apa? Kerajaan kecil Wilis itu minta aku yang datang berkunjung? Aku utusan Kerajaan Cola yang besar? Dan ratu bocah itu? Tuanya masih tua aku, saktinya masih sakti aku, tingginya kedudukan masih tinggi aku!"
"Ratu perawan cilik itu sombong amat!" kata pula Wasi Bagaskolo geram.
Hemm, kalian ini dua orang kakek yang sombong tak tahu diri, di dalam hatinya Adiwijaya memaki, akan tetapi wajahnya tersenyum dan suaranya halus ketika berkata,
"Harap Sang Wasi berdua yang mulia sudi bersabar dan memikirkan secara mendalam. Ratu Wilis adalah seorang wanita yang masih muda, tentu saja bersikap manja, apalagi memang sakti mandraguna. Kita saling membutuhkan, Kerajaan Wilis membutuhkan bantuan Sang Wasi, sebaliknya Sang Wasi juga membutuhkan bantuan Wilis, kalau yang tua dan yang bijaksana tidak sudi mengalah, bagaimana jadinya? Mengalah bukan berarti kalah dan kalau kelak sudah tercapai cita-cita, masih banyak kesempatan untuk membalas kesombongan itu, bukan?"

Sang Wasi Bagaspati mengangguk-angguk, kembali kepanasan hatinya menjadi dingin dan kemarahannya mereda oleh ucapan Adiwijaya ini.
"Baiklah, memang akal kadang-kadang lebih penting dipergunakan daripada okol (kekerasan). Andika pulanglah, Patih Adiwijaya dan sampaikan kepada ratumu bahwa sebulan lagi kami akan datang berkunjung ke Wilis."
Girang bukan main hati Adiwijaya. Tugasnya berhasil baik dan demi tercapainya cita-cita yang terkandung dalam hati ratu gustinya, betapapun sulitnya cita-cita itu, ia siap sedia untuk melakukan apa juga. Dan dengan bantuan dua orang kakek itu dan ditambah pembantu-pembantu mereka yang sakti seperti Ni Dewi Nilamanik, ia merasa yakin bahwa cita-cita ratu gustinya pasti akan tercapai. Adapun untuk dia sendiri, sungguh aneh sekali dan ia merasa heran sendiri. Dia tidak mencita-citakan sesuatu, tidak seperti dulu lagi, tidak menginginkan wanita cantik, tidak menghendaki kedudukan tinggi, maupun harta benda dan kemuliaan. Baginya, kalau ia dapat melihat Retna Wilis berbahagia, dapat mengabdi kepada dara itu, dapat selalu memandang wajahnya, melihat dara itu tersenyum bahagia, ia sudah merasa cukup bahagia hidupnya!
Dengan dada lapang dan hati gembira Adiwijaya lalu kembali ke Wilis dan setelah menghadap Ratu Wilis, ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Wasi Bagaspati dan menutup penuturannya dengan kata-kata menasehati,
"Harap Paduka berhati-hati menghadapi Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo. Selain mereka itu memiliki kesaktian yang luar biasa, ahli ilmu hitam, juga Wasi Bagaspati amat cerdik dan palsu sedangkan hamba lihat Wasi Bagaskolo amat keras hati dan kejam. Tentu saja hamba yakin bahwa Paduka lebih sakti daripada mereka, akan tetapi di samping Paduka semestinya menahan harga diri sebagai Ratu Kerajaan Wilis yang jaya dan tidaklah sangat mengharapkan bantuan mereka, namun hendaknya Paduka tidak menyinggung mereka sehingga mereka mengundurkan diri kembali. Betapapun juga, bantuan mereka selain amat perlu untuk menghadapi anggota keluarga yang mendatangkan rasa hati tidak nyaman apabila paduka sendiri yang maju, juga agar mereka itu tidak menaruh curiga dan kelak lebih mudah bagi Paduka untuk mengenyahkan mereka setelah kita tidak memerlukan lagi tenaga mereka."
Retna Wilis yang mendengarkan penuh perhatian, mengangguk-angguk.
"Baik Paman. Akan kuingat dan kulaksanakan pesanmu, dan aku girang sekali bahwa Paman telah berhasil menghubungi mereka."
"Kalau mereka datang menghadap nanti, sebaiknya Paduka menerima mereka di ruangan besar seorang diri agar percakapan di antara Paduka dan mereka tidak sampai bocor keluar. Hamba sendiri dengan diam-diam akan mengerahkan tenaga-tenaga pilihan untuk memasang baris pendem sehingga kalau terlihat gejala tidak baik, dengan mudah dan cepat hamba akan dapat mengerahkan pasukan menyergap mereka."
"Ah, mengapa demikian, Paman? Aku sendiri tidak takut menghadapi mereka dan tidak memerlukan bantuan barisan pendam."
"Paduka adalah seorang ratu, tidak semestinya turun tangan sendiri kalau masih ada pasukan pengawal. Biarpun hamba yakin Paduka tidak memerlukan bantuan, namun kalau ada marabahaya lalu pasukan pengawal muncul, hal ini akan menambah wibawa dan keangkeran Kerajaan Wilis sebagai kerajaan yang besar."

Kembali Retna Wilis mengangguk-angguk dan ia merasa bersyukur dan girang sekali bahwa dia mendapatkan seorang patih yang begini pandai dan yang agaknya mengerti akan seluk-beluk kerajaan. Seorang pembantu yang tidak saja pandai, akan tetapi juga setia dan boleh dipercaya. Sebulan kemudian, sepasukan kecil terdiri dari tujuh orang wanita cantik anak buah Ni Dewi Nilamanik mendaki puncak Wilis dan menyampaikan berita bahwa Sang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo datang berkunjung dan minta berjumpa dengan Ratu Wilis. Mendengar berita ini, Adiwijaya lalu mempersiapkan pasukan yang menyambut tujuh orang wanita cantik itu, menerima mereka di paseban luar dan menjamu mereka, sedangkan Retna Wilis sudah siap duduk di atas kursi gading berukir yang berada di ruangan besar sebelah dalam. Ratu muda belia ini duduk sendiri tanpa pengawal dan tanpa abdi, sengaja menanti kedatangan dua orang tamu agung itu. Di luar, pasukan penghormatan sudah siap menyambut kedatangan dua orang kakek itu. Akan tetapi sampai lama, yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Ketika Adiwijaya bertanya kepada pasukan wanita itu, mereka hanya tersenyum penuh rahasia dan menjawab bahwa mereka hanya bertugas menyampaikan berita akan kedatangan dua orang kakek itu, adapun cara mereka datang bagaimana, pasukan wanita itu menyatakan tidak tahu. Mendengar ini, Adiwijaya menjadi waspada dan cepat ia memberi tanda rahasia kepada pasukan pendam agar siap dan waspada, dan dia sendiri pun lalu bersembunyi tak jauh dari ruangan besar sebelah dalam, siap membela junjungannya yang duduk sendirian kalau-kalau terancam marabahaya.
Para pasukan pengawal yang menjadi barisan rahasia itu tidak ada yang dapat melihat ruangan itu, mereka hanya bersembunyi dan menanti isyarat dari Ki Patih Adiwijaya. Yang dapat mengintai ke ruangan itu dan mendengarkan semua yang akan dipercakapkan hanyalah Adiwijaya sendiri. Tiba-tiba mata Adiwijaya terbelalak penuh keheranan ketika ia mendengar suara Wasi Bagaspati yang terdengar dekat sekali, terdengar dari dalam ruangan, padahal orangnya tidak tampak!
"Ha-ha-ha! Sang Ratu yang muda belia, cantik jelita dan sakti mandraguna. Kami telah datang berkunjung, apakah Paduka belum mengetahui?"
Ki Patih Adiwijaya membelalakkan mata, jelilatan memandang ke sana ke mari, dan bulu tengkuknya bangun satu-satu karena ia sungguh tidak melihat di mana adanya kakek yang suaranya amat dikenalnya itu, ia lalu memandang kepada ratunya penuh harapan, dan melihat betapa Retna Wilis duduk dengan sikap angkuh dan tenang, kemudian ratu muda belia itu tanpa menggerakkan tubuh, tanpa menoleh, menjawab, suaranya lantang dan halus, namun penuh wibawa seorang ratu besar,
"Sang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo! Permainan kanak-kanak yang kalian perlihatkan ini tidak ada artinya bagiku. Sudah sejak tadi kalian berdiri di dekat tiang di sebelah kanan itu, siapakah yang tidak melihatnya? Sang Wasi Bagaspati, Andika mengangkat tinggi-tinggi tongkat Andika sehingga gelang emas tangan kanan Andika turun sampai ke siku, mau apakah? Dan mengapa Andika meraba-raba jenggot Andika yang sudah putih? Wasi Bagaskolo, mengapa Andika menggunakan tusuk konde untuk menghias kepala? Tusuk konde Andika itu dari emas, apakah Andika masih suka bersolek? Biarpun pesolek kalau pikun sehingga tidak merasa betapa baju Andika di pundak kiri robek sedikit tidak dijahit, apa artinya?"

Ucapan Retna Wilis itu tentu saja mengejutkan dan mengherankan hati Adiwijaya yang kini mengejap-ngejapkan mata dan terbelalak memandang ke arah tiang yang disebut oleh ratu gustinya, akan tetapi tidak melihat apa-apa! Yang lebih kaget lagi adalah dua orang kakek yang mengerahkan aji kesaktian. Ternyata ratu yang begitu muda itu hebat, dapat melihat mereka dengan jelas tanpa menengok sehingga dapat mengikuti gerak-gerik mereka dan melihat keadaan mereka dengan sejelasnya! Sambil menarik napas panjang penuh kagum mereka lalu melepaskan aji panglimuman sehingga kini Adiwijaya dapat pula melihat mereka. Berdiri bulu tengkuk ki patih ini dan ia pun menghela napas. Semua kesaktian yang pernah ia pelajari, kalau dibandingkan dengan kedua orang kakek ini sungguh tidak ada artinya! Namun, dengan hati bangga ia memandang ratunya yang biarpun masih begitu muda belia, ternyata tidak kalah saktinya oleh kedua kakek itu sehingga biarpun kedua orang kakek itu seperti siluman dapat "menghilang", Retna Wilis dapat melihat mereka!
"Heh-heh, benar-benar awas sekali pandanganmu, Sang Ratu yang muda belia!" kata Wasi Bagaspati yang kini sudah tampak dan di belakang kakek ini Wasi Bagaskolo memandang kepada Retna Wilis dengan mata terbelalak penuh keheranan.
"Sebelum kita berkenalan dan bicara lebih lanjut, ingin aku menguji sampai di mana kesaktianmu, Sang Ratu,"
kata pula Wasi Bagaspati.
"Terserah kepadamu, Sang Wasi Bagaspati. Aku adalah pemilik rumah dan lebih muda, sedangkan Andika adalah tamu dan lebih tua. Aku siap melayani segala kehendakmu," jawab Retna Wilis tanpa menoleh, masih duduk dengan tegak di atas kursinya. Akan tetapi sebelum Wasi Bagaspati bergerak, lengan kirinya disentuh Wasi Bagaskolo,
"Biarkan aku mengujinya, Kakang Wasi," bisiknya. Kemudian, setelah kakak seperguruannya mengangguk, ia melangkah maju dan memutar, menghadapi ratu yang muda belia itu. Sejenak mereka bertemu pandang dan jantung Wasi Bagaskolo berdebar ketika sinar mata Retna Wilis seolah-olah menembus dadanya dan menjenguk hatinya, apalagi kalau ia teringat bahwa dara perkasa ini adalah murid tunggal Nini Bumigarba yang amat ditakutinya.
"Sang Ratu, sebagai tamu, perkenankantah aku menghadiahkan tusuk konde yang kausebut tadi kepadamu, harap Paduka suka menerimanya!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaskolo mencabut tusuk kondenya sehingga rambutnya yang hanya sedikit dan digelung di atas kepala menjadi gelung kecil itu terurai. Sejenak ia memandang tusuk konde kecil itu, kemudian membuka kepalan tangannya dengan telapak tangan di atas. Tusuk konde yang terletak di atas telapak tangannya itu tiba-tiba saja bergerak dan terbang ke atas!
Melihat ini, dari tempat persembunyiannya, Ki Patih Adiwijaya memandang terbelalak penuh keheranan. Pandang matanya mengikuti gerakan tusuk konde itu yang mengeluarkan sinar cemerlang dan yang kini terbang ke atas berputar-putaran, makin lama makin cepat dan berputaran di seluruh ruangan itu, mengeluarkan bunyi mengaung seolah-olah seekor burung beterbangan. Dengan bibir tersenyum akan tetapi matanya tetap dingin, Retna Wilis melirik ke atas, kemudian menggapai dengan tangan kirinya ke arah benda kecil yang beterbangan itu.
"Cringggg '" Tusuk konde yang tadinya beterbangan itu tiba-tiba saja runtuh di atas lantai, mengeluarkan bunyi berkerincing, jatuh ke depan kaki Wasi Bagaskolo yang memandang dengan muka merah.
"Wasi Bagaskolo, biarpun Andika jauh lebih tua daripada aku, patutkah kalau seorang tamu menghaturkan persembahan dengan menaruh benda itu di atas lantai?" Wajah Wasi Bagaskolo menjadi makin merah. Ucapan itu halus, akan tetapi selain mengandung suara dingin sekali, juga jelas merendahkannya, menyebut bahwa dia "menghaturkan persembahan"! Ia telah memperlihatkan kesaktiannya yang berdasarkan tenaga batin, namun ternyata ratu muda belia itu dapat mengatasinya, maka kini ia ingin menguji kedigdayaan atau ketangkasannya.
"Maaf, Sang Ratu, kalau tadi saya bersikap kurang hormat," katanya sambil membungkuk dan karena tusuk konde itu berada di lantai depan kaki Retna Wilis, maka ketika membungkuk untuk mengambil benda itu seolah-olah ia menghaturkan sembah kepada ratu muda itu. Retna Wilis menggerakkan lengan kanan dengan sikap seorang ratu menerima dan membalas penghormatan itu.
"Sang Ratu Wilis, terimalah persembahanku.” Tiba-tiba Wasi Bagaskolo menggerakkan jari telunjuk kanannya yang menyepit tusuk konde dan tusuk konde itu meluncur ke depan, ke arah tenggorokan Retna Wilis secepat melesatnya anak panah dari busurnya.

Jarak antara mereka hanya lima meter kurang lebih, maka dapat dibayangkan betapa berbahayanya serangan ini! Patih Adiwijaya yang menyaksikan serangan ini hampir saja mengeluarkan seruan kaget kalau saja ia tidak cepat menahan hatinya dengan penuh kepercayaan akan kesaktian Ratu Wilis. Akan tetapi betapa kecut dan gelisah rasa hatinya ketika ia melihat betapa Retna Wilis sama sekali tidak menggerakkan tangan untuk menangkis atau menggerakkan tubuh untuk mengelak. Tusuk konde yang berubah menjadi sinar cemerlang itu seolah-olah tak dapat dihindarkan lagi akan menancap di kerongkongannya! Setelah sinar itu datang dekat sekali, hanya satu jengkal lagi jauhnya, bibir yang merah dan berbentuk indah itu tiba-tiba diruncingkan dan ditiupkan. Sinar menyilaukan dari tusuk konde itu tiba-tiba membalik dan kini menyambar ke arah pemiliknya, ke arah tenggorokan Wasi Bagaskolo sendiri!

<<< Bagian 184                                                                                     Bagian 186 >>>

No comments:

Post a Comment