"Ha-ha-ha-ha! Andika memang seorang yang amat cerdik dan aku suka sekali bersekutu dengan Andika, wahai Ki Patih Adiwijaya! Kapankah ratumu itu akan mengunjungi kami di sini?"
"Maaf, Sang Wasi. Gusti
ratu minta dengan hormat agar Sang Wasi yang datang mengunjunginya di
Wilis." Adiwijaya bersikap cerdik tidak menggunakan kata-kata minta kakek
itu datang menghadap ratunya. Akan tetapi “undangan” yang sudah diperlunaknya
ini masih membuat wajah yang sudah merah itu menjadi lebih merah lagi.
"Apa? Kerajaan kecil
Wilis itu minta aku yang datang berkunjung? Aku utusan Kerajaan Cola yang
besar? Dan ratu bocah itu? Tuanya masih tua aku, saktinya masih sakti aku,
tingginya kedudukan masih tinggi aku!"
"Ratu perawan cilik itu
sombong amat!" kata pula Wasi Bagaskolo geram.
Hemm, kalian ini dua orang
kakek yang sombong tak tahu diri, di dalam hatinya Adiwijaya memaki, akan
tetapi wajahnya tersenyum dan suaranya halus ketika berkata,
"Harap Sang Wasi berdua
yang mulia sudi bersabar dan memikirkan secara mendalam. Ratu Wilis adalah
seorang wanita yang masih muda, tentu saja bersikap manja, apalagi memang sakti
mandraguna. Kita saling membutuhkan, Kerajaan Wilis membutuhkan bantuan Sang
Wasi, sebaliknya Sang Wasi juga membutuhkan bantuan Wilis, kalau yang tua dan
yang bijaksana tidak sudi mengalah, bagaimana jadinya? Mengalah bukan berarti
kalah dan kalau kelak sudah tercapai cita-cita, masih banyak kesempatan untuk
membalas kesombongan itu, bukan?"
Sang Wasi Bagaspati
mengangguk-angguk, kembali kepanasan hatinya menjadi dingin dan kemarahannya
mereda oleh ucapan Adiwijaya ini.
"Baiklah, memang akal
kadang-kadang lebih penting dipergunakan daripada okol (kekerasan). Andika
pulanglah, Patih Adiwijaya dan sampaikan kepada ratumu bahwa sebulan lagi kami
akan datang berkunjung ke Wilis."
Girang bukan main hati
Adiwijaya. Tugasnya berhasil baik dan demi tercapainya cita-cita yang
terkandung dalam hati ratu gustinya, betapapun sulitnya cita-cita itu, ia siap
sedia untuk melakukan apa juga. Dan dengan bantuan dua orang kakek itu dan
ditambah pembantu-pembantu mereka yang sakti seperti Ni Dewi Nilamanik, ia
merasa yakin bahwa cita-cita ratu gustinya pasti akan tercapai. Adapun untuk
dia sendiri, sungguh aneh sekali dan ia merasa heran sendiri. Dia tidak
mencita-citakan sesuatu, tidak seperti dulu lagi, tidak menginginkan wanita
cantik, tidak menghendaki kedudukan tinggi, maupun harta benda dan kemuliaan.
Baginya, kalau ia dapat melihat Retna Wilis berbahagia, dapat mengabdi kepada
dara itu, dapat selalu memandang wajahnya, melihat dara itu tersenyum bahagia,
ia sudah merasa cukup bahagia hidupnya!
Dengan dada lapang dan hati
gembira Adiwijaya lalu kembali ke Wilis dan setelah menghadap Ratu Wilis, ia
lalu menceritakan pertemuannya dengan Wasi Bagaspati dan menutup penuturannya
dengan kata-kata menasehati,
"Harap Paduka
berhati-hati menghadapi Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo. Selain mereka itu
memiliki kesaktian yang luar biasa, ahli ilmu hitam, juga Wasi Bagaspati amat
cerdik dan palsu sedangkan hamba lihat Wasi Bagaskolo amat keras hati dan
kejam. Tentu saja hamba yakin bahwa Paduka lebih sakti daripada mereka, akan
tetapi di samping Paduka semestinya menahan harga diri sebagai Ratu Kerajaan
Wilis yang jaya dan tidaklah sangat mengharapkan bantuan mereka, namun
hendaknya Paduka tidak menyinggung mereka sehingga mereka mengundurkan diri
kembali. Betapapun juga, bantuan mereka selain amat perlu untuk menghadapi
anggota keluarga yang mendatangkan rasa hati tidak nyaman apabila paduka
sendiri yang maju, juga agar mereka itu tidak menaruh curiga dan kelak lebih
mudah bagi Paduka untuk mengenyahkan mereka setelah kita tidak memerlukan lagi
tenaga mereka."
Retna Wilis yang
mendengarkan penuh perhatian, mengangguk-angguk.
"Baik Paman. Akan
kuingat dan kulaksanakan pesanmu, dan aku girang sekali bahwa Paman telah
berhasil menghubungi mereka."
"Kalau mereka datang
menghadap nanti, sebaiknya Paduka menerima mereka di ruangan besar seorang diri
agar percakapan di antara Paduka dan mereka tidak sampai bocor keluar. Hamba
sendiri dengan diam-diam akan mengerahkan tenaga-tenaga pilihan untuk memasang
baris pendem sehingga kalau terlihat gejala tidak baik, dengan mudah dan cepat
hamba akan dapat mengerahkan pasukan menyergap mereka."
"Ah, mengapa demikian,
Paman? Aku sendiri tidak takut menghadapi mereka dan tidak memerlukan bantuan
barisan pendam."
"Paduka adalah seorang
ratu, tidak semestinya turun tangan sendiri kalau masih ada pasukan pengawal.
Biarpun hamba yakin Paduka tidak memerlukan bantuan, namun kalau ada marabahaya
lalu pasukan pengawal muncul, hal ini akan menambah wibawa dan keangkeran
Kerajaan Wilis sebagai kerajaan yang besar."
Kembali Retna Wilis
mengangguk-angguk dan ia merasa bersyukur dan girang sekali bahwa dia
mendapatkan seorang patih yang begini pandai dan yang agaknya mengerti akan
seluk-beluk kerajaan. Seorang pembantu yang tidak saja pandai, akan tetapi juga
setia dan boleh dipercaya. Sebulan kemudian, sepasukan kecil terdiri dari tujuh
orang wanita cantik anak buah Ni Dewi Nilamanik mendaki puncak Wilis dan
menyampaikan berita bahwa Sang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo datang
berkunjung dan minta berjumpa dengan Ratu Wilis. Mendengar berita ini,
Adiwijaya lalu mempersiapkan pasukan yang menyambut tujuh orang wanita cantik
itu, menerima mereka di paseban luar dan menjamu mereka, sedangkan Retna Wilis
sudah siap duduk di atas kursi gading berukir yang berada di ruangan besar
sebelah dalam. Ratu muda belia ini duduk sendiri tanpa pengawal dan tanpa abdi,
sengaja menanti kedatangan dua orang tamu agung itu. Di luar, pasukan
penghormatan sudah siap menyambut kedatangan dua orang kakek itu. Akan tetapi
sampai lama, yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Ketika Adiwijaya bertanya
kepada pasukan wanita itu, mereka hanya tersenyum penuh rahasia dan menjawab
bahwa mereka hanya bertugas menyampaikan berita akan kedatangan dua orang kakek
itu, adapun cara mereka datang bagaimana, pasukan wanita itu menyatakan tidak
tahu. Mendengar ini, Adiwijaya menjadi waspada dan cepat ia memberi tanda
rahasia kepada pasukan pendam agar siap dan waspada, dan dia sendiri pun lalu
bersembunyi tak jauh dari ruangan besar sebelah dalam, siap membela
junjungannya yang duduk sendirian kalau-kalau terancam marabahaya.
Para pasukan pengawal yang
menjadi barisan rahasia itu tidak ada yang dapat melihat ruangan itu, mereka
hanya bersembunyi dan menanti isyarat dari Ki Patih Adiwijaya. Yang dapat
mengintai ke ruangan itu dan mendengarkan semua yang akan dipercakapkan
hanyalah Adiwijaya sendiri. Tiba-tiba mata Adiwijaya terbelalak penuh keheranan
ketika ia mendengar suara Wasi Bagaspati yang terdengar dekat sekali, terdengar
dari dalam ruangan, padahal orangnya tidak tampak!
"Ha-ha-ha! Sang Ratu
yang muda belia, cantik jelita dan sakti mandraguna. Kami telah datang
berkunjung, apakah Paduka belum mengetahui?"
Ki Patih Adiwijaya
membelalakkan mata, jelilatan memandang ke sana ke mari, dan bulu tengkuknya
bangun satu-satu karena ia sungguh tidak melihat di mana adanya kakek yang
suaranya amat dikenalnya itu, ia lalu memandang kepada ratunya penuh harapan,
dan melihat betapa Retna Wilis duduk dengan sikap angkuh dan tenang, kemudian
ratu muda belia itu tanpa menggerakkan tubuh, tanpa menoleh, menjawab, suaranya
lantang dan halus, namun penuh wibawa seorang ratu besar,
"Sang Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo! Permainan kanak-kanak yang kalian perlihatkan ini tidak ada
artinya bagiku. Sudah sejak tadi kalian berdiri di dekat tiang di sebelah kanan
itu, siapakah yang tidak melihatnya? Sang Wasi Bagaspati, Andika mengangkat
tinggi-tinggi tongkat Andika sehingga gelang emas tangan kanan Andika turun
sampai ke siku, mau apakah? Dan mengapa Andika meraba-raba jenggot Andika yang
sudah putih? Wasi Bagaskolo, mengapa Andika menggunakan tusuk konde untuk
menghias kepala? Tusuk konde Andika itu dari emas, apakah Andika masih suka
bersolek? Biarpun pesolek kalau pikun sehingga tidak merasa betapa baju Andika
di pundak kiri robek sedikit tidak dijahit, apa artinya?"
Ucapan Retna Wilis itu tentu
saja mengejutkan dan mengherankan hati Adiwijaya yang kini mengejap-ngejapkan
mata dan terbelalak memandang ke arah tiang yang disebut oleh ratu gustinya,
akan tetapi tidak melihat apa-apa! Yang lebih kaget lagi adalah dua orang kakek
yang mengerahkan aji kesaktian. Ternyata ratu yang begitu muda itu hebat, dapat
melihat mereka dengan jelas tanpa menengok sehingga dapat mengikuti gerak-gerik
mereka dan melihat keadaan mereka dengan sejelasnya! Sambil menarik napas
panjang penuh kagum mereka lalu melepaskan aji panglimuman sehingga kini
Adiwijaya dapat pula melihat mereka. Berdiri bulu tengkuk ki patih ini dan ia
pun menghela napas. Semua kesaktian yang pernah ia pelajari, kalau dibandingkan
dengan kedua orang kakek ini sungguh tidak ada artinya! Namun, dengan hati
bangga ia memandang ratunya yang biarpun masih begitu muda belia, ternyata
tidak kalah saktinya oleh kedua kakek itu sehingga biarpun kedua orang kakek
itu seperti siluman dapat "menghilang", Retna Wilis dapat melihat
mereka!
"Heh-heh, benar-benar
awas sekali pandanganmu, Sang Ratu yang muda belia!" kata Wasi Bagaspati
yang kini sudah tampak dan di belakang kakek ini Wasi Bagaskolo memandang
kepada Retna Wilis dengan mata terbelalak penuh keheranan.
"Sebelum kita
berkenalan dan bicara lebih lanjut, ingin aku menguji sampai di mana
kesaktianmu, Sang Ratu,"
kata pula Wasi Bagaspati.
"Terserah kepadamu,
Sang Wasi Bagaspati. Aku adalah pemilik rumah dan lebih muda, sedangkan Andika
adalah tamu dan lebih tua. Aku siap melayani segala kehendakmu," jawab
Retna Wilis tanpa menoleh, masih duduk dengan tegak di atas kursinya. Akan
tetapi sebelum Wasi Bagaspati bergerak, lengan kirinya disentuh Wasi Bagaskolo,
"Biarkan aku
mengujinya, Kakang Wasi," bisiknya. Kemudian, setelah kakak seperguruannya
mengangguk, ia melangkah maju dan memutar, menghadapi ratu yang muda belia itu.
Sejenak mereka bertemu pandang dan jantung Wasi Bagaskolo berdebar ketika sinar
mata Retna Wilis seolah-olah menembus dadanya dan menjenguk hatinya, apalagi
kalau ia teringat bahwa dara perkasa ini adalah murid tunggal Nini Bumigarba
yang amat ditakutinya.
"Sang Ratu, sebagai
tamu, perkenankantah aku menghadiahkan tusuk konde yang kausebut tadi kepadamu,
harap Paduka suka menerimanya!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaskolo
mencabut tusuk kondenya sehingga rambutnya yang hanya sedikit dan digelung di atas
kepala menjadi gelung kecil itu terurai. Sejenak ia memandang tusuk konde kecil
itu, kemudian membuka kepalan tangannya dengan telapak tangan di atas. Tusuk
konde yang terletak di atas telapak tangannya itu tiba-tiba saja bergerak dan
terbang ke atas!
Melihat ini, dari tempat
persembunyiannya, Ki Patih Adiwijaya memandang terbelalak penuh keheranan.
Pandang matanya mengikuti gerakan tusuk konde itu yang mengeluarkan sinar
cemerlang dan yang kini terbang ke atas berputar-putaran, makin lama makin
cepat dan berputaran di seluruh ruangan itu, mengeluarkan bunyi mengaung
seolah-olah seekor burung beterbangan. Dengan bibir tersenyum akan tetapi
matanya tetap dingin, Retna Wilis melirik ke atas, kemudian menggapai dengan
tangan kirinya ke arah benda kecil yang beterbangan itu.
"Cringggg '" Tusuk
konde yang tadinya beterbangan itu tiba-tiba saja runtuh di atas lantai,
mengeluarkan bunyi berkerincing, jatuh ke depan kaki Wasi Bagaskolo yang
memandang dengan muka merah.
"Wasi Bagaskolo,
biarpun Andika jauh lebih tua daripada aku, patutkah kalau seorang tamu
menghaturkan persembahan dengan menaruh benda itu di atas lantai?" Wajah
Wasi Bagaskolo menjadi makin merah. Ucapan itu halus, akan tetapi selain
mengandung suara dingin sekali, juga jelas merendahkannya, menyebut bahwa dia
"menghaturkan persembahan"! Ia telah memperlihatkan kesaktiannya yang
berdasarkan tenaga batin, namun ternyata ratu muda belia itu dapat
mengatasinya, maka kini ia ingin menguji kedigdayaan atau ketangkasannya.
"Maaf, Sang Ratu, kalau
tadi saya bersikap kurang hormat," katanya sambil membungkuk dan karena
tusuk konde itu berada di lantai depan kaki Retna Wilis, maka ketika membungkuk
untuk mengambil benda itu seolah-olah ia menghaturkan sembah kepada ratu muda
itu. Retna Wilis menggerakkan lengan kanan dengan sikap seorang ratu menerima
dan membalas penghormatan itu.
"Sang Ratu Wilis,
terimalah persembahanku.” Tiba-tiba Wasi Bagaskolo menggerakkan jari telunjuk
kanannya yang menyepit tusuk konde dan tusuk konde itu meluncur ke depan, ke
arah tenggorokan Retna Wilis secepat melesatnya anak panah dari busurnya.
Jarak antara mereka hanya
lima meter kurang lebih, maka dapat dibayangkan betapa berbahayanya serangan
ini! Patih Adiwijaya yang menyaksikan serangan ini hampir saja mengeluarkan
seruan kaget kalau saja ia tidak cepat menahan hatinya dengan penuh kepercayaan
akan kesaktian Ratu Wilis. Akan tetapi betapa kecut dan gelisah rasa hatinya
ketika ia melihat betapa Retna Wilis sama sekali tidak menggerakkan tangan
untuk menangkis atau menggerakkan tubuh untuk mengelak. Tusuk konde yang
berubah menjadi sinar cemerlang itu seolah-olah tak dapat dihindarkan lagi akan
menancap di kerongkongannya! Setelah sinar itu datang dekat sekali, hanya satu
jengkal lagi jauhnya, bibir yang merah dan berbentuk indah itu tiba-tiba
diruncingkan dan ditiupkan. Sinar menyilaukan dari tusuk konde itu tiba-tiba
membalik dan kini menyambar ke arah pemiliknya, ke arah tenggorokan Wasi
Bagaskolo sendiri!
No comments:
Post a Comment