"Hebat .....” Wasi Bagaskolo berseru kaget dan cepat ia menggunakan jari tangannya untuk menyentil tusuk konde yang akan menjadi senjata makan tuan. Terpaksa ia harus mengirim kembali tusuk konde itu karena kalau ia menerimanya, sama artinya dengan tidak rela "mempersembahkan" benda itu kepada sang ratu!
"Tringgg ......!"
Hebat sekali sentilan jari tangan kakek ini karena tusuk konde itu melesat
kembali ke arah Retna Wilis.
"Andika memaksa
menghaturkan persembahan, sungguh sungkan sekali, Wasi Bagaskolo. Biarlah aku
menerimanya!" kata Retna Wilis, tangan kirinya diangkat dan .....tusuk
konde itu menancap ke tangannya sampai tembus di punggung tangan! Adiwijaya
hampir berteriak kaget, akan tetapi hatinya lega ketika melihat bahwa benda
kecil runcing itu bukan menancap di telapak tangan, melainkan terselip dan
terjepit di antara dua buah jari tangan yang kecil mungil! Diam-diam ia
menjulurkan lidah. Kakek itu hebat, akan tetapi ratunya lebih hebat lagi. Siapa
orangnya berani menerima serangan tusuk konde seperti itu? Meleset sedikit saja
tentu tangan yang berkulit putih halus itu akan terluka! Retna Wilis sudah
menancapkan tusuk konde di lengan kursinya dan ia sudah duduk tegak dengan
sikap angkuh dan berwibawa, menghadapi Wasi Bagaspati yang kini berdiri di
hadapannya, menggantikan Wasi Bagaskolo yang agaknya sudah puas menguji
kesaktian murid tunggal Nini Bumigarba itu.
"Ternyata Paduka tidak
mengecewakan sebagai murid Nini Bumigarba, Sang Ratu. Akan tetapi hati saya
tidak akan puas kalau tidak menguji sendiri. Sekutu tidak hanya harus mengenal
kekuatan lawan, akan tetapi juga perlu sekali mengenal kekuatan kawan sehingga
dapat sama-sama mengatur sepak terjang dan siasat dalam menghadapi lawan."
"Silahkan, Sang
Wasi," jawab Retna Wilis dengan suara tenang, akan tetapi kini ratu muda
ini turun dari kursinya dan berdiri tegak menghadapi Wasi Bagaspati. Agaknya
Retna Wilis maklum bahwa ilmu kesaktian kakek ini tentu jauh lebih hebat
daripada kesaktian Wasi Bagaskolo, maka dia pun tidak berani memandang rendah
dan siap untuk menghadapi musuh asing yang hendak ditarik menjadi sekutu
sementara ini.
Seperti juga ketika
berhadapan dengan Wasi Bagaskolo tadi, kini Retna Wilis beradu pandang mata
dengan Wasi Bagaspati. Kakek itu mengerahkan tenaga yang timbul dari dasar
batin, dari kemauan dan ciptanya, sehingga sepasang matanya seolah-olah
memancarkan cahaya berapi-api yang panas membakar, juga mengandung daya yang
menggetarkan. Baru pandang mata ini saja tentu akan dapat melumpuhkan lawan dan
memang kakek ini hendak menguji ratu muda belia itu, karena musuh yang hendak
mereka hadapi adalah musuh berat di mana terdapat banyak sekali manusia-manusia
sakti. Akan tetapi, dara remaja yang sakti mandraguna ini menghadapi pandang
mata kakek itu dengan tenang dan dingin, seperti air telaga yang amat dalam,
sedikit pun tidak terpengaruh, bahkan kekuatan mujijat yang terpancar keluar
dari sepasang mata kakek itu seolah-olah tenggelam dalam sinar mata dara ini!
"Sang Ratu, bagaimana
Paduka akan menghadapi tongkat ularku ini?" Wasi Bagaspati melepaskan
tongkatnya ke atas lantai dan tongkat itu berubah menjadi seekor ular cobra
yang berkulit hitam, yang "berdiri" di atas perutnya dan
mendesis-desis mengembangkan leher amat menyeramkan. Adiwijaya terbelalak penuh
kekhawatiran menyaksikan peristiwa ini. Biarpun ia maklum bahwa bantuannya
tidak akan ada artinya, namun ia sudah siap-siap untuk mengerahkan barisan
pasukan pengawal, dan kalau perlu seluruh bala tentara Wilis untuk melindungi
junjungannya. Retna Wilis menunduk, memandang tongkat yang telah berubah
menjadi seekor ular itu dengan tenang dan bibir tersenyum, kemudian ia berkata,
"Sang Wasi, permainanmu
ini baik sekali. Kalau dia ini benar seekor ular, seharusnya kuinjak hancur
kepalanya dengan tumit kakiku, akan tetapi ular ini berasal dari tongkat maka
kembahlah menjadi tongkat!" Ucapan ini dibarengi dengan gerakan kaki
kirinya menyambar ke arah ular itu. Ular Cobra yang kelihatan buas dan galak
itu menyambut kaki Retna Wilis dengan gigitan, akan tetapi gerakan ular kalah
cepat dan kaki itu sudah mengelak lalu menginjak kepala ular dari atas. Begitu
kepala ular itu kena diinjak, seketika berubah lagi menjadi sebatang tongkat!
Menyaksikan pertandingan ilmu yang seperti sihir atau sulap ini, hampir saja
Adiwijaya bersorak girang. Mampus kau, kakek yang sombong, makinya di dalam
hati sambil mengintai dan memandang wajah Wasi Bagaspati yang mengerutkan
kening dan matanya menjadi merah. Ketika patih ini mengalihkan pandangnya
kepada wajah Retna Wilis, pandang matanya berubah penuh kagum dan taat,
seolah-olah ia melihat seorang Dewi dari Kahyangan.
"Terimalah kembali
tongkat Andika, Sang Wasi Bagaspati!" Retna Wilis berkata dan jari kakinya
yang menginjak tongkat bergerak menyentil tongkat itu yang meluncur ke arah
pemiliknya. Akan tetapi Wasi Bagaspati sudah mendorongkan tangan kanannya
dengan telapak tangan ke depan. Angin pukulan yang dahsyat sekali menyambar ke
depan ke arah tongkatnya yang terhenti luncurannya, bahkan membalik dan
meluncur ke arah Retna Wilis.
"Paduka telah
menundukkan ularku, harap tangkis tongkatku, Sang Ratu!" kakek itu berkata
nyaring.
Retna Wilis tiba-tiba
mendorongkan tangan kanannya pula ke depan seperti yang dilakukan Wasi
Bagaspati dan serangkum tenaga yang halus meniup ke depan, ke arah tongkat.
Seketika tongkat itu berhenti di tengah udara, di antara kedua orang sakti yang
mendorongkan lengan ke depan itu. Tongkat itu tidak bergerak seperti terjepit
oleh tenaga yang tak tampak, terhimpit di tengah-tengah dan kalau diperhatikan
betul, baru tampak betapa tongkat itu kadang-kadang menggeser ke kanan
kadang-kadang ke kiri, dan barulah diketahui bahwa sesungguhnya memang ada dua
tenaga sakti yang saling mendorong sehingga tongkat yang berada di tengah itu
terhimpit! Dalam pertandingan mengadu kekuatan tenaga sakti ini, kedua pihak
diam-diam menjadi kagum dan tahu bahwa lawan memiliki kesaktian yang hebat dan
merupakan lawan yang kuat akan tetapi merupakan kawan yang boleh diandalkan.
Betapapun juga, keduanya memiliki kekerasan hati dan tidak mau mengalah, merasa
penasaran, maka mereka mengerahkan tenaga sehebatnya pada saat yang berbareng.
"Krekk! Krekk!"
Tongkat itu hancur berkeping-keping dan keduanya lalu menurunkan lengan tangan
masing-masing. Satu-satunya tanda bahwa mereka tadi telah mengerahkan tenaga
hanya tampak pada kulit muka Retna Wilis yang menjadi kemerahan dan beberapa
titik keringat yang membasahi dahi Wasi Bagaspati.
"Maaf, Sang Wasi. Aku
telah membikin rusak tongkatmu," Retna Wilis berkata, teringat bahwa ia
harus bersikap baik terhadap dua orang kakek yang akan dijadikan sekutu itu.
Wasi Bagaspati menyeringai
dan memandang tongkatnya yang sudah hancur dan berserakan di atas lantai.
"Bukan kesalahan
Paduka, Sang Ratu. Pula, mudah saja membuat tongkat pengganti yang rusak dan
senjata saya bukanlah tongkat itu, melainkan ini!" Sambil berkata
demikian, Wasi Bagaspati meraba di balik jubahnya dan tiba-tiba tampak sinar
menyilaukan ketika tangannya sudah memegang sebuah senjata yang bentuknya
seperti Cakra.
Mata Adiwijaya menjadi silau
dan kedua kakinya gemetar. Demikian hebat pengaruh mujijat yang keluar dari
senjata di tangan kanan kakek itu!
"Senjatamu ampuh
sekali, Sang Wasi. Akan tetapi aku pun mempunyai sebuah pusaka yang patut
kuperlihatkan kepada orang-orang sakti seperti Andika berdua. Inilah pusakaku
Pedang Sapudenta!" Adiwijaya tak dapat mengikuti gerak tangan Retna Wilis
karena tangan kanan ratu itu demikian cepatnya bergerak sehingga tahu-tahu
tangannya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya berkilauan.
Adiwijaya sampai memejamkan mata karena sinar yang amat terang seperti menusuk
matanya. Ketika ia membuka matanya kembali, kakinya menggigil. Pedang pusaka di
tangan ratunya itu benar-benar amat ampuh dan mengeluarkan hawa mujijat. Kini
ruangan itu penuh dengan hawa mujijat yang keluar dari kedua buah senjata
pusaka ampuh itu. Biarpun kedua kakinya menggigil dan wajahnya pucat terkena
perbawa (pengaruh) kedua senjata mujijat itu, Ki Patih Adiwijaya memaksa diri
dan memberanikan hatinya untuk keluar dari tempat sembunyi, memasuki ruangan
itu dan langsung menjatuhkan diri berlutut dan bersila di depan ratunya sambil
berkata,
"Mohon ampun atas
kelancangan hamba. Akan tetapi kini bukan saatnya senjata pusaka ampuh dilolos
keluar dari warangka (sarung). Dengan sepasang pusaka yang amat ampuh ini hamba
yakin kelak semua musuh dapat ditundukkan!"
"Ha-ha-ha-ha! Andika
terlalu curiga, Ki Patih Adiwijaya!" Wasi Bagaspati berkata.
"Kesaktian dan senjata
ratu gustimu benar-benar hebat, hatiku puas sekali!" Tiba-tiba hawa panas
dingin yang menyeramkan lenyap dari ruangan itu dan sukar dikatakan siapa yang
lebih cepat menyimpan kembali kedua pusaka itu karena tiba-tiba saja kedua
pusaka itu lenyap dari tangan masing-masing.
"Sang Wasi berdua,
silahkan duduk!" kata Retna Wilis, menunjuk ke arah kedua buah kursi yang
memang sudah disediakan di ruangan itu. Dua orang kakek itu lalu duduk di atas
kursi berhadapan dengan Ratu Wilis, sedangkan Ki Patih Adiwijaya tetap duduk
bersila penuh hormat. Dimulailah perundingan antara Retna Wilis dan Wasi
Bagaspati dan dengan terus terang Retna Wilis
menceritakan cita-citanya
untuk menaklukkan seluruh kerajaan dengan janji bahwa jika Wasi Bagaspati
sebagai utusan Negeri Cola suka membantunya sehingga cita-citanya berhasil,
kelak ia akan menganggap Kerajaan Cola sebagai negara sahabat dan memberi
kebebasan kepada Wasi Bagaspati untuk menyebarkan agamanya. Sebaliknya Wasi
Bagaspati juga menyatakan bahwa sesungguhnya tugasnya hanya memperkembangkan
agama, akan tetapi karena selalu menghadapi tentangan, terpaksa ia
mempergunakan kekerasan, dan betapa sampai kini ia selalu mengalami kegagalan.
"Mengapa utusan
Sriwijaya tidak ikut datang berkunjung?" Patih Adiwijaya bertanya.
"Bukankah Sriwijaya
juga mempunyai utusan yang dipimpin oleh Sang Biku Janapati? Kalau kekuatan
kita semua digabung, tentu akan lebih mudah menundukkan Jenggala dan Panjalu
yang terkenal kuat."
"Hemm, pendeta gundul
itu sungguh menjemukan!"
Wasi Bagaspati mengepal
tinju dan giginya berkerot.
"Dari seberang lautan
kami datang sebagai sekutu, akan tetapi setelah tiba di sini, dia menyeleweng.
Sesungguhnya semua kegagalan kami adalah karena si gundul itu! Kalau dia
membantu, tentu sudah berhasil usaha kami."
"Sriwijaya adalah
negara yang besar dan kuat, sejak lama menaruh dendam permusuhan dengan Mataram
dan hanya berhenti sebentar karena mendiang Gusti Sinuwun Airlangga menikah
dengan Puteri Sriwijaya. Akan tetapi dendam lama masih ada, mengapa sekarang
utusan Sriwijaya tidak membantu Sang Wasi dalam menghadapi Jenggala dan Panjalu
yang menjadi pecahan dari Kerajaan Mataram lama?" tanya Ki Patih Adiwijaya
yang dalam perundingan ini mewakili gustinya karena dialah yang lebih tahu akan
persoalan kerajaan.
"Si kakek gundul
menjemukan itu memang tidak tahu diri. Mereka mengira bahwa Sriwijaya amat
besar dan kuat, lupa betapa dahulu Raja Sriwijaya, Sinuwun Tunggawarman pernah
dikalahkan dan ditawan oleh raja kami, Sinuwun Rajendracola. Setelah tiba di
sini, pendeta gundul itu hanya bergerak memperkembangkan agamanya secara diam-diam,
bahkan kini merantau ke ujung Nusa Jawa, ke pantai timur dan menyeberang ke
Balidwipa. Menjemukan sekali!"
Retna Wilis tersenyum,
memandang rendah menyaksikan betapa kakek sakti ini masih mudah dikuasai nafsu
amarah.
"Sang Wasi, mengapa
mengharapkan bantuan orang yang tidak suka bersekutu? Kurasa, dengan kesaktian
yang dimiliki oleh Andika berdua, sudah cukup untuk menundukkan musuh yang
bagaimanapun juga." Kesempatan ini ditunggu-tunggu oleh Sang Wasi
Bagaspati, maka ia segera mempergunakannya untuk "membakar" hati
Retna Wilis. ia menarik napas panjang dan berkata,
"Ahh, kalau menghadapi
orang-orang sakti yang manapun juga di seluruh Panjalu dan Jenggala, saya
sanggup mengalahkannya. Akan tetapi .... ah, usaha kita akan gagal kalau tidak
ada yang dapat melawan Bagus Seta!"
Retna Wilis mengerutkan
kening. "Bagus Seta?" ia teringat akan cerita ibunya bahwa ramandanya
masih mempunyai seorang putera yang bernama Bagus Seta.
"Tentu Paduka mengenal
nama itu karena dia adalah rakanda Paduka sendiri. Terus terang saja, kesaktian
Bagus Seta amat hebat, tidak ada manusia yang akan mampu menandinginya."
"Apakah Andika sudah
kalah olehnya, Sang Wasi?" Merah wajah Wasi Bagaspati, akan tetapi karena
ia cerdik, ia menunduk dan menjawab,
"Pernah kami bertanding
dan saya tidak mampu mengatasinya. Saya mendatangkan adik seperguruan saya,
Wasi Bagaskolo ini, akan tetapi masih saya ragukan apakah tenaga kami berdua
akan mampu menandinginya. Bahkan Paduka yang memiliki kesaktian tinggi, kiranya
belum tentu akan dapat menang.....”
"Apa ...? Sang Wasi,
seorang yang memiliki kesaktian seperti Andika, mengapa berhati begini kecil?
Aku akan menandingi Bagus Seta!"
Wasi Bagaspati
mengangguk-angguk, menekan hatinya yang merasa girang akan hasil pembakarannya,
dan ia berkata lesu,
"Saya percaya akan
kesaktian Paduka, akan tetapi masih saya ragukan apakah paduka akan dapat
menangkan murid Bhagawan Ekadenta itu!"
No comments:
Post a Comment