Perawan Lembah Wilis; Bagian 186


"Hebat .....” Wasi Bagaskolo berseru kaget dan cepat ia menggunakan jari tangannya untuk menyentil tusuk konde yang akan menjadi senjata makan tuan. Terpaksa ia harus mengirim kembali tusuk konde itu karena kalau ia menerimanya, sama artinya dengan tidak rela "mempersembahkan" benda itu kepada sang ratu!
"Tringgg ......!" Hebat sekali sentilan jari tangan kakek ini karena tusuk konde itu melesat kembali ke arah Retna Wilis.
"Andika memaksa menghaturkan persembahan, sungguh sungkan sekali, Wasi Bagaskolo. Biarlah aku menerimanya!" kata Retna Wilis, tangan kirinya diangkat dan .....tusuk konde itu menancap ke tangannya sampai tembus di punggung tangan! Adiwijaya hampir berteriak kaget, akan tetapi hatinya lega ketika melihat bahwa benda kecil runcing itu bukan menancap di telapak tangan, melainkan terselip dan terjepit di antara dua buah jari tangan yang kecil mungil! Diam-diam ia menjulurkan lidah. Kakek itu hebat, akan tetapi ratunya lebih hebat lagi. Siapa orangnya berani menerima serangan tusuk konde seperti itu? Meleset sedikit saja tentu tangan yang berkulit putih halus itu akan terluka! Retna Wilis sudah menancapkan tusuk konde di lengan kursinya dan ia sudah duduk tegak dengan sikap angkuh dan berwibawa, menghadapi Wasi Bagaspati yang kini berdiri di hadapannya, menggantikan Wasi Bagaskolo yang agaknya sudah puas menguji kesaktian murid tunggal Nini Bumigarba itu.
"Ternyata Paduka tidak mengecewakan sebagai murid Nini Bumigarba, Sang Ratu. Akan tetapi hati saya tidak akan puas kalau tidak menguji sendiri. Sekutu tidak hanya harus mengenal kekuatan lawan, akan tetapi juga perlu sekali mengenal kekuatan kawan sehingga dapat sama-sama mengatur sepak terjang dan siasat dalam menghadapi lawan."
"Silahkan, Sang Wasi," jawab Retna Wilis dengan suara tenang, akan tetapi kini ratu muda ini turun dari kursinya dan berdiri tegak menghadapi Wasi Bagaspati. Agaknya Retna Wilis maklum bahwa ilmu kesaktian kakek ini tentu jauh lebih hebat daripada kesaktian Wasi Bagaskolo, maka dia pun tidak berani memandang rendah dan siap untuk menghadapi musuh asing yang hendak ditarik menjadi sekutu sementara ini.

Seperti juga ketika berhadapan dengan Wasi Bagaskolo tadi, kini Retna Wilis beradu pandang mata dengan Wasi Bagaspati. Kakek itu mengerahkan tenaga yang timbul dari dasar batin, dari kemauan dan ciptanya, sehingga sepasang matanya seolah-olah memancarkan cahaya berapi-api yang panas membakar, juga mengandung daya yang menggetarkan. Baru pandang mata ini saja tentu akan dapat melumpuhkan lawan dan memang kakek ini hendak menguji ratu muda belia itu, karena musuh yang hendak mereka hadapi adalah musuh berat di mana terdapat banyak sekali manusia-manusia sakti. Akan tetapi, dara remaja yang sakti mandraguna ini menghadapi pandang mata kakek itu dengan tenang dan dingin, seperti air telaga yang amat dalam, sedikit pun tidak terpengaruh, bahkan kekuatan mujijat yang terpancar keluar dari sepasang mata kakek itu seolah-olah tenggelam dalam sinar mata dara ini!
"Sang Ratu, bagaimana Paduka akan menghadapi tongkat ularku ini?" Wasi Bagaspati melepaskan tongkatnya ke atas lantai dan tongkat itu berubah menjadi seekor ular cobra yang berkulit hitam, yang "berdiri" di atas perutnya dan mendesis-desis mengembangkan leher amat menyeramkan. Adiwijaya terbelalak penuh kekhawatiran menyaksikan peristiwa ini. Biarpun ia maklum bahwa bantuannya tidak akan ada artinya, namun ia sudah siap-siap untuk mengerahkan barisan pasukan pengawal, dan kalau perlu seluruh bala tentara Wilis untuk melindungi junjungannya. Retna Wilis menunduk, memandang tongkat yang telah berubah menjadi seekor ular itu dengan tenang dan bibir tersenyum, kemudian ia berkata,
"Sang Wasi, permainanmu ini baik sekali. Kalau dia ini benar seekor ular, seharusnya kuinjak hancur kepalanya dengan tumit kakiku, akan tetapi ular ini berasal dari tongkat maka kembahlah menjadi tongkat!" Ucapan ini dibarengi dengan gerakan kaki kirinya menyambar ke arah ular itu. Ular Cobra yang kelihatan buas dan galak itu menyambut kaki Retna Wilis dengan gigitan, akan tetapi gerakan ular kalah cepat dan kaki itu sudah mengelak lalu menginjak kepala ular dari atas. Begitu kepala ular itu kena diinjak, seketika berubah lagi menjadi sebatang tongkat! Menyaksikan pertandingan ilmu yang seperti sihir atau sulap ini, hampir saja Adiwijaya bersorak girang. Mampus kau, kakek yang sombong, makinya di dalam hati sambil mengintai dan memandang wajah Wasi Bagaspati yang mengerutkan kening dan matanya menjadi merah. Ketika patih ini mengalihkan pandangnya kepada wajah Retna Wilis, pandang matanya berubah penuh kagum dan taat, seolah-olah ia melihat seorang Dewi dari Kahyangan.
"Terimalah kembali tongkat Andika, Sang Wasi Bagaspati!" Retna Wilis berkata dan jari kakinya yang menginjak tongkat bergerak menyentil tongkat itu yang meluncur ke arah pemiliknya. Akan tetapi Wasi Bagaspati sudah mendorongkan tangan kanannya dengan telapak tangan ke depan. Angin pukulan yang dahsyat sekali menyambar ke depan ke arah tongkatnya yang terhenti luncurannya, bahkan membalik dan meluncur ke arah Retna Wilis.
"Paduka telah menundukkan ularku, harap tangkis tongkatku, Sang Ratu!" kakek itu berkata nyaring.
Retna Wilis tiba-tiba mendorongkan tangan kanannya pula ke depan seperti yang dilakukan Wasi Bagaspati dan serangkum tenaga yang halus meniup ke depan, ke arah tongkat. Seketika tongkat itu berhenti di tengah udara, di antara kedua orang sakti yang mendorongkan lengan ke depan itu. Tongkat itu tidak bergerak seperti terjepit oleh tenaga yang tak tampak, terhimpit di tengah-tengah dan kalau diperhatikan betul, baru tampak betapa tongkat itu kadang-kadang menggeser ke kanan kadang-kadang ke kiri, dan barulah diketahui bahwa sesungguhnya memang ada dua tenaga sakti yang saling mendorong sehingga tongkat yang berada di tengah itu terhimpit! Dalam pertandingan mengadu kekuatan tenaga sakti ini, kedua pihak diam-diam menjadi kagum dan tahu bahwa lawan memiliki kesaktian yang hebat dan merupakan lawan yang kuat akan tetapi merupakan kawan yang boleh diandalkan. Betapapun juga, keduanya memiliki kekerasan hati dan tidak mau mengalah, merasa penasaran, maka mereka mengerahkan tenaga sehebatnya pada saat yang berbareng.
"Krekk! Krekk!" Tongkat itu hancur berkeping-keping dan keduanya lalu menurunkan lengan tangan masing-masing. Satu-satunya tanda bahwa mereka tadi telah mengerahkan tenaga hanya tampak pada kulit muka Retna Wilis yang menjadi kemerahan dan beberapa titik keringat yang membasahi dahi Wasi Bagaspati.
"Maaf, Sang Wasi. Aku telah membikin rusak tongkatmu," Retna Wilis berkata, teringat bahwa ia harus bersikap baik terhadap dua orang kakek yang akan dijadikan sekutu itu.
Wasi Bagaspati menyeringai dan memandang tongkatnya yang sudah hancur dan berserakan di atas lantai.
"Bukan kesalahan Paduka, Sang Ratu. Pula, mudah saja membuat tongkat pengganti yang rusak dan senjata saya bukanlah tongkat itu, melainkan ini!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati meraba di balik jubahnya dan tiba-tiba tampak sinar menyilaukan ketika tangannya sudah memegang sebuah senjata yang bentuknya seperti Cakra.

Mata Adiwijaya menjadi silau dan kedua kakinya gemetar. Demikian hebat pengaruh mujijat yang keluar dari senjata di tangan kanan kakek itu!
"Senjatamu ampuh sekali, Sang Wasi. Akan tetapi aku pun mempunyai sebuah pusaka yang patut kuperlihatkan kepada orang-orang sakti seperti Andika berdua. Inilah pusakaku Pedang Sapudenta!" Adiwijaya tak dapat mengikuti gerak tangan Retna Wilis karena tangan kanan ratu itu demikian cepatnya bergerak sehingga tahu-tahu tangannya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya berkilauan. Adiwijaya sampai memejamkan mata karena sinar yang amat terang seperti menusuk matanya. Ketika ia membuka matanya kembali, kakinya menggigil. Pedang pusaka di tangan ratunya itu benar-benar amat ampuh dan mengeluarkan hawa mujijat. Kini ruangan itu penuh dengan hawa mujijat yang keluar dari kedua buah senjata pusaka ampuh itu. Biarpun kedua kakinya menggigil dan wajahnya pucat terkena perbawa (pengaruh) kedua senjata mujijat itu, Ki Patih Adiwijaya memaksa diri dan memberanikan hatinya untuk keluar dari tempat sembunyi, memasuki ruangan itu dan langsung menjatuhkan diri berlutut dan bersila di depan ratunya sambil berkata,
"Mohon ampun atas kelancangan hamba. Akan tetapi kini bukan saatnya senjata pusaka ampuh dilolos keluar dari warangka (sarung). Dengan sepasang pusaka yang amat ampuh ini hamba yakin kelak semua musuh dapat ditundukkan!"
"Ha-ha-ha-ha! Andika terlalu curiga, Ki Patih Adiwijaya!" Wasi Bagaspati berkata.
"Kesaktian dan senjata ratu gustimu benar-benar hebat, hatiku puas sekali!" Tiba-tiba hawa panas dingin yang menyeramkan lenyap dari ruangan itu dan sukar dikatakan siapa yang lebih cepat menyimpan kembali kedua pusaka itu karena tiba-tiba saja kedua pusaka itu lenyap dari tangan masing-masing.
"Sang Wasi berdua, silahkan duduk!" kata Retna Wilis, menunjuk ke arah kedua buah kursi yang memang sudah disediakan di ruangan itu. Dua orang kakek itu lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan Ratu Wilis, sedangkan Ki Patih Adiwijaya tetap duduk bersila penuh hormat. Dimulailah perundingan antara Retna Wilis dan Wasi Bagaspati dan dengan terus terang Retna Wilis
menceritakan cita-citanya untuk menaklukkan seluruh kerajaan dengan janji bahwa jika Wasi Bagaspati sebagai utusan Negeri Cola suka membantunya sehingga cita-citanya berhasil, kelak ia akan menganggap Kerajaan Cola sebagai negara sahabat dan memberi kebebasan kepada Wasi Bagaspati untuk menyebarkan agamanya. Sebaliknya Wasi Bagaspati juga menyatakan bahwa sesungguhnya tugasnya hanya memperkembangkan agama, akan tetapi karena selalu menghadapi tentangan, terpaksa ia mempergunakan kekerasan, dan betapa sampai kini ia selalu mengalami kegagalan.
"Mengapa utusan Sriwijaya tidak ikut datang berkunjung?" Patih Adiwijaya bertanya.
"Bukankah Sriwijaya juga mempunyai utusan yang dipimpin oleh Sang Biku Janapati? Kalau kekuatan kita semua digabung, tentu akan lebih mudah menundukkan Jenggala dan Panjalu yang terkenal kuat."
"Hemm, pendeta gundul itu sungguh menjemukan!"
Wasi Bagaspati mengepal tinju dan giginya berkerot.
"Dari seberang lautan kami datang sebagai sekutu, akan tetapi setelah tiba di sini, dia menyeleweng. Sesungguhnya semua kegagalan kami adalah karena si gundul itu! Kalau dia membantu, tentu sudah berhasil usaha kami."
"Sriwijaya adalah negara yang besar dan kuat, sejak lama menaruh dendam permusuhan dengan Mataram dan hanya berhenti sebentar karena mendiang Gusti Sinuwun Airlangga menikah dengan Puteri Sriwijaya. Akan tetapi dendam lama masih ada, mengapa sekarang utusan Sriwijaya tidak membantu Sang Wasi dalam menghadapi Jenggala dan Panjalu yang menjadi pecahan dari Kerajaan Mataram lama?" tanya Ki Patih Adiwijaya yang dalam perundingan ini mewakili gustinya karena dialah yang lebih tahu akan persoalan kerajaan.
"Si kakek gundul menjemukan itu memang tidak tahu diri. Mereka mengira bahwa Sriwijaya amat besar dan kuat, lupa betapa dahulu Raja Sriwijaya, Sinuwun Tunggawarman pernah dikalahkan dan ditawan oleh raja kami, Sinuwun Rajendracola. Setelah tiba di sini, pendeta gundul itu hanya bergerak memperkembangkan agamanya secara diam-diam, bahkan kini merantau ke ujung Nusa Jawa, ke pantai timur dan menyeberang ke Balidwipa. Menjemukan sekali!"

Retna Wilis tersenyum, memandang rendah menyaksikan betapa kakek sakti ini masih mudah dikuasai nafsu amarah.
"Sang Wasi, mengapa mengharapkan bantuan orang yang tidak suka bersekutu? Kurasa, dengan kesaktian yang dimiliki oleh Andika berdua, sudah cukup untuk menundukkan musuh yang bagaimanapun juga." Kesempatan ini ditunggu-tunggu oleh Sang Wasi Bagaspati, maka ia segera mempergunakannya untuk "membakar" hati Retna Wilis. ia menarik napas panjang dan berkata,
"Ahh, kalau menghadapi orang-orang sakti yang manapun juga di seluruh Panjalu dan Jenggala, saya sanggup mengalahkannya. Akan tetapi .... ah, usaha kita akan gagal kalau tidak ada yang dapat melawan Bagus Seta!"
Retna Wilis mengerutkan kening. "Bagus Seta?" ia teringat akan cerita ibunya bahwa ramandanya masih mempunyai seorang putera yang bernama Bagus Seta.
"Tentu Paduka mengenal nama itu karena dia adalah rakanda Paduka sendiri. Terus terang saja, kesaktian Bagus Seta amat hebat, tidak ada manusia yang akan mampu menandinginya."
"Apakah Andika sudah kalah olehnya, Sang Wasi?" Merah wajah Wasi Bagaspati, akan tetapi karena ia cerdik, ia menunduk dan menjawab,
"Pernah kami bertanding dan saya tidak mampu mengatasinya. Saya mendatangkan adik seperguruan saya, Wasi Bagaskolo ini, akan tetapi masih saya ragukan apakah tenaga kami berdua akan mampu menandinginya. Bahkan Paduka yang memiliki kesaktian tinggi, kiranya belum tentu akan dapat menang.....”
"Apa ...? Sang Wasi, seorang yang memiliki kesaktian seperti Andika, mengapa berhati begini kecil? Aku akan menandingi Bagus Seta!"
Wasi Bagaspati mengangguk-angguk, menekan hatinya yang merasa girang akan hasil pembakarannya, dan ia berkata lesu,
"Saya percaya akan kesaktian Paduka, akan tetapi masih saya ragukan apakah paduka akan dapat menangkan murid Bhagawan Ekadenta itu!"

<<< Bagian 185                                                                                     Bagian 187 >>>

No comments:

Post a Comment