Perawan Lembah Wilis; Bagian 187


Tiba-tiba Retna Wilis tertawa, suara ketawanya merdu akan tetapi menyeramkan sehingga Adiwijaya berdongak memandang dengan bulu tengkuk meremang.
"Hi-hi-hik! Murid Ekadenta? Sang Wasi, tahukan Andika bahwa pusakaku Sapudenta ini khusus untuk menandingi Bhagawan Ekadenta? Kalau dia tidak ada dan yang muncul adalah muridnya, aku yang akan menandingi dan menyapunya dari permukaan bumi!"
Adiwijaya bergidik dan diam-diam merasa prihatin sekali mendengar betapa orang yang dijunjungnya, yang dikasihinya, kini mengancam kepada kakaknya sendiri, kakak seayah!
"Bagus! Kalau begitu, ada sedikit harapan di hati saya. Dengan majunya kita bertiga, biarpun Ekadenta sendiri muncul, akan dapat kita hancurkan! Jangan khawatir, Sang Ratu. Biarpun sekarang pasukanku hanya tinggal seribu orang yang sudah digembleng oleh muridku, Cekel Wisangkoro, akan tetapi tanpa adanya Bagus Seta, kia akan dapat mudah menaklukkan Jenggala dan Panjalu sekalipun! Senopati-senopati sakti mereka, serahkan saja kepada kami berdua, akan kami binasakan semua!"
Perundingan dilanjutkan dan rencana penyerbuan ke Jenggala dibicarakan. Penyerbuan akan dilakukan dalam waktu singkat setelah persiapan-persiapan dibuat dan Wasi Bagaspati menyanggupi untuk menggabungkan pasukannya ke Wilis dalam waktu dekat. Kemudian, setelah kedua orang kakek itu menikmati hidangan yang disajikan, mereka kembali ke gunung Arjuna diiringkan tujuh orang perajurit wanita.

Malam itu bulan purnama siddhi menerangi permukaan bumi di pegunungan Wilis, menciptakan pemandangan yang amat indah dan menyejukkan. Namun, keindahan saat itu tidak tampak oleh Retna Wilis yang sedang duduk termenung seorang diri di dalam taman bunga di belakang istananya dengan hati yang sama sekali tidak sejuk. Ratu muda belia yang gagah perkasa ini sedang duduk dan gelisah memikirkan keadaan keluarganya. Betapapun ia telah mewarisi watak gurunya, akan tetapi dia tetap manusia dan kalau ia mengenangkan ibunya, hatinya tergerak dan menggetar juga. Dan kini dia sedang mempersiapkan pasukan untuk menggempur Jenggala, untuk berhadapan sebagai musuh ayah bundanya, para bibinya, dan bahkan ia telah mengambil keputusan untuk menandingi Bagus Seta, kakaknya! Semua ini tidak menggelisahkan hatinya, akan tetapi kalau ia teringat akan ibunya, hatinya trenyuh juga sungguhpun tidak begitu mendalam karena tertutup oleh sifatnya yang dingin seperti dasar laut Kidul. Ia tidak perduli kalau harus bermusuh dengan ayahnya. Dia tidak suka kepada Ki Patih Tejolaksono, ayah kandungnya yang belum pernah dilihatnya karena dia menganggap bahwa Tejolaksono telah menyia-nyiakan ibunya sehingga ibunya terlunta-lunta sampai ke Wilis. Ia tidak perduli akan Bagus Seta karena pemuda itu adalah putera Tejolaksono dari lain ibu. Bahkan ia harus memperlihatkan bahwa sebagai putera Endang Patibroto, dia tidak akan kalah oleh putera Ayu Candra! Apalagi kalau ia ingat bahwa Bagus Seta adalah murid Bhagawan Ekadenta, hal ini justeru mendorongnya untuk mengalahkan pemuda itu. Ia tidak memperdulikan pula bermusuh dengan para bibinya Setyaningsih dan Pusporini karena kalau mereka itu menentangnya, menghalangi cita-citanya, berarti mereka pun musuh. Akan tetapi, bagaimana ia akan dapat memusuhi ibu kandungnya? Dengan pikiran melayang-layang dalam renungan, Retna Wilis memandang bulan yang tampaknya bergerak perlahan, berenang di antara ombak-ombak mega putih di lautan langit biru. Kadang-kadang bulan yang bundar cemerlang itu bersembunyi di balik awan hitam tipis sehingga tampak seperti wajah puteri jelita bersembunyi di balik tirai sutera hitam, kemudian tirai itu terbuka lagi dan tampaklah senyum yang cerah. Namun Retna Wilis tidak melihat bulan, melainkan melihat wajah ibunya menggantikan Sang Dewi Candra. Kemudian sejalan dengan pikirannya yang mengenangkan wajah-wajah keluarganya, bulan itu berubah menjadi wajah ibunya, Setyaningsih yang tersenyum-senyum dan membelainya di waktu ia masih kecil. Ia cepat mengusir kenangan ini dan membayangkan wajah keluarganya yang belum pernah ia lihat, bibi Pusporini dan terutama wajah ramandanya. Seperti apakah wajah ayahnya, Ki Patih Tejolaksono yang terkenal seorang pria yang tampan dan gagah perkasa itu? Sukar baginya untuk membayangkan wajah ayahnya.

Tiba-tiba bulan yang ia bayangkan sebagai wajah seorang pria yang direka-rekanya patut menjadi wajah ayahnya itu berubah menjadi wajah seorang pria muda yang tampan, yang tersenyum bibirnya akan tetapi yang memandang dengan sinar mata tajam menembus jantung. ia terkejut sekali ketika wajah itu dapat bergerak, mata itu hidup.
"Ahhhh ....” Retna Wilis sadar dari lamunannya dan ketika ia meloncat bangun dari bangku yang didudukinya dan berdiri memandang, kiranya di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan yang sikapnya tenang dan sabar sekali, berpakaian serba putih yang amat sederhana. Pemuda yang memandangnya dengan sinar mata lemah lembut namun amat tajam menjenguk isi hatinya! Kiranya wajah yang dilihatnya menggantikan bulan itu adalah wajah pemuda inilah! Dalam kagetnya, Retna Wilis merasa marah dan penasaran sekali, rasa penasaran yang timbul dari rasa malu betapa dia, seorang yang memiliki aji kesaktian tinggi dan yang memiliki penglihatan dan pendengaran lebih tajam daripada manusia biasa, sampai tidak tahu, tidak melihat maupun mendengar akan kedatangan seorang pemuda di depannya!
"Si keparat kurang ajar berani engkau datang tanpa dipanggil dan bersikap begini tak tahu aturan dan lancang?" Ia mengira bahwa pemuda ini tentu seorang di antara kawula Wilis, akan tetapi siapa pun juga, termasuk patihnya sendiri, kalau datang menghadap tentu berlutut dan menyembah, tidak seperti pemuda ini yang berdiri seperti arca, sama sekali tidak ada tampak sikapnya menghormat!
"Aku bernama Bagus Seta dan kalau aku tidak salah menduga, Andika tentulah adikku Retna Wilis, puteri kanjeng rama dan kanjeng ibu Endang Patibroto. Benarkah dugaanku?"
Retna Wilis terkejut sekali dan beberapa detik pandang matanya menjelajahi wajah dan tubuh pemuda itu penuh selidik. Jantungnya berdebar, akan tetapi suaranya terdengar dingin ketika ia menjawab,
"Benar, aku Retna Wilis, Ratu Kerajaan Wilis! Jadi engkau inilah yang bernama Bagus Seta, putera Tejolaksono dan Ayu Candra? Hemmm .....”
Bagus Seta mengerutkan keningnya, akan tetapi sikapnya masih tenang dan ia berkata halus,
"Adinda Retna Wilis, aku rakandamu, kita saudara seayah ....”
"Aku tidak perduli akan hal itu! Bagus Seta, engkau datang seperti siluman mau apakah?"
"Adikku sayang Retna Wilis. Aku sengaja datang mejumpaimu dengan maksud ingin mengingatkanmu akan kesalahan langkah hidup yang kautempuh. Engkau telah salah melangkah, Adikku, dan kini masih belum terlambat. Sadarlah bahwa apa yang sedang kaurencanakan bersama Wasi Bagaspati bukanlah hal yang benar, Adikku."
"Huh! Ke manapun juga aku melangkahkan kaki, apa pun juga yang akan kuperbuat, ada sangkut-pautnya apakah dengan engkau? Segala langkah dan perbuatanku ditentukan oleh aku sendiri dan segala akibatnya pun akan kutanggungkan sendiri. Aku tidak membutuhkan peringatanmu!"
"Benar sekali, Retna Wilis. Memang seharusnya demikianlah, setiap perbuatan ditentukan oleh diri pribadi dan ditanggungkan akibatnya oleh diri sendiri pula. Aku pun tidak ingin mempengaruhi, apalagi memaksamu. Akan tetapi manusia telah dianugerahi akal budi dan pertimbangan yang menciptakan kewaspadaan dan kebijaksanaan, maka sudah sepatutnya pula kalau manusia berpikir dan mempertimbangkan lebih dulu sebelum melangkah sehingga setiap perbuatannya tidak terdorong oleh nafsu semata."

Segala kata-kata yang keras dan kasar dan sudah berkumpul di ujung lidah Retna Wilis tertahan saking herannya melihat keadaan kakaknya ini. Dia mendengar bahwa kakaknya yang bernama Bagus Seta ini adalah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, maka tadinya ia menggambarkan bahwa kakaknya tentu seorang pria yang gagah dan tampak gagah dan kuat. Akan tetapi kini ia berhadapan dengan seorang pemuda lemah lembut sikapnya, halus tutur sapanya, bahkan yang mengeluarkan ucapan mengandung penuh kesabaran dan ketenangan, sikap yang sepantasnya hanya dimiliki oleh kaum pendeta atau pertapa yang sudah tua renta dan pikun! Saking herannya, ia hanya dapat memandang dan mendengarkan pemuda itu bicara terus tanpa dapat mencela atau menjawab.
"Retna Wilis, Adikku sayang. Apakah sesungguhnya yang kaucari? Apakah yang kaucita-cita dan idamkan? Apa yang tersembunyi di dalam usahamu menghimpun tentara, menaklukkan seluruh kadipaten dan kerajaan ini? Apakah engkau mengejar kedudukan sebagai seorang ratu besar yang oleh manusia dianggap kemuliaan? Itukah kemuliaan? Ah, engkau akan kecewa, Adikku, apa pun hasilnya daripada kekerasan yang hendak kaulakukan. Bukan di sanalah letak kebahagiaan, Adikku. Selama engkau menuruti hasrat dorongan nafsu untuk mengejar kesenangan, engkau takkan pernah merasakan kepuasan. Nafsu mengejar kesenangan untuk dinikmati merupakan kehausan manusia, dan hal ini adalah manusiawi dan menjadi hak manusia pula untuk memuaskan dahaga mereka. Akan tetapi, dahaga tidak akan lenyap dan puas apabila diminumi air yang terlalu manis, bahkan makin banyak diberi yang manis-manis akan menjadi makin haus. Demikian pula dengan nafsu. Makin dituruti tanpa dikendalikan sampai berlebihan, akan menjadi makin besar membakar seperti api diberi umpan kayu kering. Adikku, insyaflah dan jangan menurutkan kata hati yang dikuasai nafsu."
Retna Wilis sudah dapat mengatasi keheranannya dan ia marah sekali.
"Bagus Seta! Kiranya engkau yang disohorkan orang memiliki kesaktian yang hebat ternyata hanya memiliki lidah yang pandai bergoyang! Aku tahu mengapa engkau berpidato sepanjang itu. Engkau tentu diutus Panjalu yang gentar menghadapi ancaman penyerbuanku, untuk membujuk aku karena kalian menganggap aku ini adikmu yang sepatutnya tunduk dan taat kepada engkau yang merasa sebagai kakakku! Engkau kecelik, Bagus Seta. Tentu saja engkau berpihak kepada Jenggala dan Panjalu karena seluruh keluargamu menghamba di sana, bahkan ayahmu menjadi Patih Panjalu, dan mereka yang duduk di kursi pimpinan Jenggala juga keluargamu. Akan tetapi, aku tidak akan tunduk oleh obrolanmu yang kosong! Nah, engkau mau apa sekarang? Mau menggunakan kesaktian yang kata orang kau miliki itu? Keluarkanlah semua kesaktianmu, aku tidak takut!"
Bagus Seta tetap tenang sungguhpun senyumnya mengandung keprihatinan.
"Adikku, keliru pendapatmu bahwa aku datang sebagai pembela keluarga maupun Kerajaan Panjalu dan Jenggala, sungguhpun tidak kusangkal bahwa aku memang membujukmu agar engkau sadar. Ini menjadi kewajibanku. Ketahuilah bahwa aku hanya membela kebenaran, Adikku. Biar keluarga sendiri, biar Panjalu maupun Jenggala, kalau tindakannya menyeleweng daripada kebenaran, adalah menjadi kewajibanku untuk menentang, karena aku bukanlah seorang punggawa kerajaan mana pun. Berbeda dengan kanjeng rama, kanjeng ibu atau para kanjeng paman dan bibi, mereka terikat oleh tugas kewajiban sebagai punggawa, sebagai prajurit sehingga yang dikenal hanyalah melaksanakan tugas tanpa pamrih berdasarkan kesetiaan terhadap kerajaan sebagai sifat setiap satria. Engkau telah bersekutu dengan Wasi Bagaspati, Adikku, dalam hal ini saja sudah tidak benar. Wasi Bagaspati adalah seorang manusia yang menyeleweng daripada kebenaran, bahkan menentang kebenaran demi nafsu-nafsunya. Sekarang engkau bersekutu dengan dia untuk menaklukkan Jenggala dan Panjalu, hal ini merupakan penyelewengan hidup yang amat besar, apalagi kalau diingat engkau adalah puteri Patih Panjalu, sedangkan kanjeng ibu Endang Patibroto seorang tokoh yang amat dihormati dan disegani di Panjalu dan Jenggala. Sadar dan insyaflah sebelum terlambat, Retna Wilis adikku."
"Heh si keparat Bagus Seta! Tak perlu banyak cakap lagi karena aku tidak sudi mendengarnya! Ketahuilah bahwa aku adalah murid tunggal Nini Bumigarba dan engkau adalah murid Bhagawan Ekadenta! Aku telah berjanji kepada guruku untuk mengalahkan Bhagawan Ekadenta dan Sekarang biarlah engkau menjadi wakilnya. Hayo kerahkan semua aji kesaktianmu dan lawanlah aku, Retna Wilis yang juga menjadi Ratu Wilis, aku hanya Perawan Lembah Wilis bocah gunung, tidak seperti engkau putera Patih Jenggala, seorang priyayi, seorang bangsawan agung. Hayo kita mengadu aji kesaktian!"

Melihat Retna Wilis bertolak pinggang dan menggerak-gerakkan lengan kanan menantangnya, wajah tampan Bagus Seta menyuram, akan tetapi sikapnya masih sabar.
"Tugasku bukan menentang Nini Bumigarba atau Retna Wilis melainkan menentang kejahatan yang menimbulkan kesengsaraan kepada manusia, Adikku. Aku tidak berniat untuk bertanding melawanmu."
"Eh, Bagus Seta, kiranya engkau hanya seorang pengecut! Engkau takut melawanku, engkau takut kepadaku! Katakanlah bahwa engkau takut kepadaku dan aku akan mengampunimu!"
Bagus Seta tersenyum penuh kesabaran, dan memandang adiknya seperti pandang mata seorang dewasa melihat seorang anak kecil yang nakal.
"Aku tidak takut kepadamu, Adikku, juga tidak takut terhadap diri sendiri dan segala tindakanku. Rasa takut adalah tidak wajar dan dibuat sendiri, dan setiap perbuatan yang dilakukan karena takut adalah perbuatan yang tidak wajar, karenanya tidak benar. Manusia yang sadar akan kekuasaan Yang Maha Kuasa, yang maklum dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah wajar, dan yang dengan segala kewajaran hatinya mengerti akan benarnya setiap perbuatan yang dilakukannya, akan terbebas daripada rasa takut."

<<< Bagian 186                                                                                     Bagian 188 >>>

No comments:

Post a Comment