Tiba-tiba Retna Wilis tertawa, suara ketawanya merdu akan tetapi menyeramkan sehingga Adiwijaya berdongak memandang dengan bulu tengkuk meremang.
"Hi-hi-hik! Murid
Ekadenta? Sang Wasi, tahukan Andika bahwa pusakaku Sapudenta ini khusus untuk
menandingi Bhagawan Ekadenta? Kalau dia tidak ada dan yang muncul adalah
muridnya, aku yang akan menandingi dan menyapunya dari permukaan bumi!"
Adiwijaya bergidik dan
diam-diam merasa prihatin sekali mendengar betapa orang yang dijunjungnya, yang
dikasihinya, kini mengancam kepada kakaknya sendiri, kakak seayah!
"Bagus! Kalau begitu,
ada sedikit harapan di hati saya. Dengan majunya kita bertiga, biarpun Ekadenta
sendiri muncul, akan dapat kita hancurkan! Jangan khawatir, Sang Ratu. Biarpun
sekarang pasukanku hanya tinggal seribu orang yang sudah digembleng oleh
muridku, Cekel Wisangkoro, akan tetapi tanpa adanya Bagus Seta, kia akan dapat
mudah menaklukkan Jenggala dan Panjalu sekalipun! Senopati-senopati sakti
mereka, serahkan saja kepada kami berdua, akan kami binasakan semua!"
Perundingan dilanjutkan dan
rencana penyerbuan ke Jenggala dibicarakan. Penyerbuan akan dilakukan dalam
waktu singkat setelah persiapan-persiapan dibuat dan Wasi Bagaspati menyanggupi
untuk menggabungkan pasukannya ke Wilis dalam waktu dekat. Kemudian, setelah
kedua orang kakek itu menikmati hidangan yang disajikan, mereka kembali ke
gunung Arjuna diiringkan tujuh orang perajurit wanita.
Malam itu bulan purnama
siddhi menerangi permukaan bumi di pegunungan Wilis, menciptakan pemandangan
yang amat indah dan menyejukkan. Namun, keindahan saat itu tidak tampak oleh
Retna Wilis yang sedang duduk termenung seorang diri di dalam taman bunga di
belakang istananya dengan hati yang sama sekali tidak sejuk. Ratu muda belia
yang gagah perkasa ini sedang duduk dan gelisah memikirkan keadaan keluarganya.
Betapapun ia telah mewarisi watak gurunya, akan tetapi dia tetap manusia dan
kalau ia mengenangkan ibunya, hatinya tergerak dan menggetar juga. Dan kini dia
sedang mempersiapkan pasukan untuk menggempur Jenggala, untuk berhadapan
sebagai musuh ayah bundanya, para bibinya, dan bahkan ia telah mengambil
keputusan untuk menandingi Bagus Seta, kakaknya! Semua ini tidak menggelisahkan
hatinya, akan tetapi kalau ia teringat akan ibunya, hatinya trenyuh juga
sungguhpun tidak begitu mendalam karena tertutup oleh sifatnya yang dingin
seperti dasar laut Kidul. Ia tidak perduli kalau harus bermusuh dengan ayahnya.
Dia tidak suka kepada Ki Patih Tejolaksono, ayah kandungnya yang belum pernah
dilihatnya karena dia menganggap bahwa Tejolaksono telah menyia-nyiakan ibunya
sehingga ibunya terlunta-lunta sampai ke Wilis. Ia tidak perduli akan Bagus
Seta karena pemuda itu adalah putera Tejolaksono dari lain ibu. Bahkan ia harus
memperlihatkan bahwa sebagai putera Endang Patibroto, dia tidak akan kalah oleh
putera Ayu Candra! Apalagi kalau ia ingat bahwa Bagus Seta adalah murid
Bhagawan Ekadenta, hal ini justeru mendorongnya untuk mengalahkan pemuda itu.
Ia tidak memperdulikan pula bermusuh dengan para bibinya Setyaningsih dan
Pusporini karena kalau mereka itu menentangnya, menghalangi cita-citanya,
berarti mereka pun musuh. Akan tetapi, bagaimana ia akan dapat memusuhi ibu
kandungnya? Dengan pikiran melayang-layang dalam renungan, Retna Wilis memandang
bulan yang tampaknya bergerak perlahan, berenang di antara ombak-ombak mega
putih di lautan langit biru. Kadang-kadang bulan yang bundar cemerlang itu
bersembunyi di balik awan hitam tipis sehingga tampak seperti wajah puteri
jelita bersembunyi di balik tirai sutera hitam, kemudian tirai itu terbuka lagi
dan tampaklah senyum yang cerah. Namun Retna Wilis tidak melihat bulan,
melainkan melihat wajah ibunya menggantikan Sang Dewi Candra. Kemudian sejalan
dengan pikirannya yang mengenangkan wajah-wajah keluarganya, bulan itu berubah
menjadi wajah ibunya, Setyaningsih yang tersenyum-senyum dan membelainya di
waktu ia masih kecil. Ia cepat mengusir kenangan ini dan membayangkan wajah
keluarganya yang belum pernah ia lihat, bibi Pusporini dan terutama wajah
ramandanya. Seperti apakah wajah ayahnya, Ki Patih Tejolaksono yang terkenal
seorang pria yang tampan dan gagah perkasa itu? Sukar baginya untuk
membayangkan wajah ayahnya.
Tiba-tiba bulan yang ia
bayangkan sebagai wajah seorang pria yang direka-rekanya patut menjadi wajah
ayahnya itu berubah menjadi wajah seorang pria muda yang tampan, yang tersenyum
bibirnya akan tetapi yang memandang dengan sinar mata tajam menembus jantung.
ia terkejut sekali ketika wajah itu dapat bergerak, mata itu hidup.
"Ahhhh ....” Retna
Wilis sadar dari lamunannya dan ketika ia meloncat bangun dari bangku yang
didudukinya dan berdiri memandang, kiranya di depannya telah berdiri seorang
pemuda tampan yang sikapnya tenang dan sabar sekali, berpakaian serba putih
yang amat sederhana. Pemuda yang memandangnya dengan sinar mata lemah lembut
namun amat tajam menjenguk isi hatinya! Kiranya wajah yang dilihatnya
menggantikan bulan itu adalah wajah pemuda inilah! Dalam kagetnya, Retna Wilis
merasa marah dan penasaran sekali, rasa penasaran yang timbul dari rasa malu
betapa dia, seorang yang memiliki aji kesaktian tinggi dan yang memiliki
penglihatan dan pendengaran lebih tajam daripada manusia biasa, sampai tidak
tahu, tidak melihat maupun mendengar akan kedatangan seorang pemuda di depannya!
"Si keparat kurang ajar
berani engkau datang tanpa dipanggil dan bersikap begini tak tahu aturan dan
lancang?" Ia mengira bahwa pemuda ini tentu seorang di antara kawula
Wilis, akan tetapi siapa pun juga, termasuk patihnya sendiri, kalau datang
menghadap tentu berlutut dan menyembah, tidak seperti pemuda ini yang berdiri
seperti arca, sama sekali tidak ada tampak sikapnya menghormat!
"Aku bernama Bagus Seta
dan kalau aku tidak salah menduga, Andika tentulah adikku Retna Wilis, puteri
kanjeng rama dan kanjeng ibu Endang Patibroto. Benarkah dugaanku?"
Retna Wilis terkejut sekali
dan beberapa detik pandang matanya menjelajahi wajah dan tubuh pemuda itu penuh
selidik. Jantungnya berdebar, akan tetapi suaranya terdengar dingin ketika ia
menjawab,
"Benar, aku Retna
Wilis, Ratu Kerajaan Wilis! Jadi engkau inilah yang bernama Bagus Seta, putera
Tejolaksono dan Ayu Candra? Hemmm .....”
Bagus Seta mengerutkan
keningnya, akan tetapi sikapnya masih tenang dan ia berkata halus,
"Adinda Retna Wilis,
aku rakandamu, kita saudara seayah ....”
"Aku tidak perduli akan
hal itu! Bagus Seta, engkau datang seperti siluman mau apakah?"
"Adikku sayang Retna
Wilis. Aku sengaja datang mejumpaimu dengan maksud ingin mengingatkanmu akan
kesalahan langkah hidup yang kautempuh. Engkau telah salah melangkah, Adikku,
dan kini masih belum terlambat. Sadarlah bahwa apa yang sedang kaurencanakan
bersama Wasi Bagaspati bukanlah hal yang benar, Adikku."
"Huh! Ke manapun juga
aku melangkahkan kaki, apa pun juga yang akan kuperbuat, ada sangkut-pautnya
apakah dengan engkau? Segala langkah dan perbuatanku ditentukan oleh aku
sendiri dan segala akibatnya pun akan kutanggungkan sendiri. Aku tidak
membutuhkan peringatanmu!"
"Benar sekali, Retna
Wilis. Memang seharusnya demikianlah, setiap perbuatan ditentukan oleh diri
pribadi dan ditanggungkan akibatnya oleh diri sendiri pula. Aku pun tidak ingin
mempengaruhi, apalagi memaksamu. Akan tetapi manusia telah dianugerahi akal
budi dan pertimbangan yang menciptakan kewaspadaan dan kebijaksanaan, maka sudah
sepatutnya pula kalau manusia berpikir dan mempertimbangkan lebih dulu sebelum
melangkah sehingga setiap perbuatannya tidak terdorong oleh nafsu semata."
Segala kata-kata yang keras
dan kasar dan sudah berkumpul di ujung lidah Retna Wilis tertahan saking
herannya melihat keadaan kakaknya ini. Dia mendengar bahwa kakaknya yang
bernama Bagus Seta ini adalah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, maka
tadinya ia menggambarkan bahwa kakaknya tentu seorang pria yang gagah dan
tampak gagah dan kuat. Akan tetapi kini ia berhadapan dengan seorang pemuda
lemah lembut sikapnya, halus tutur sapanya, bahkan yang mengeluarkan ucapan
mengandung penuh kesabaran dan ketenangan, sikap yang sepantasnya hanya
dimiliki oleh kaum pendeta atau pertapa yang sudah tua renta dan pikun! Saking
herannya, ia hanya dapat memandang dan mendengarkan pemuda itu bicara terus
tanpa dapat mencela atau menjawab.
"Retna Wilis, Adikku
sayang. Apakah sesungguhnya yang kaucari? Apakah yang kaucita-cita dan idamkan?
Apa yang tersembunyi di dalam usahamu menghimpun tentara, menaklukkan seluruh
kadipaten dan kerajaan ini? Apakah engkau mengejar kedudukan sebagai seorang
ratu besar yang oleh manusia dianggap kemuliaan? Itukah kemuliaan? Ah, engkau
akan kecewa, Adikku, apa pun hasilnya daripada kekerasan yang hendak
kaulakukan. Bukan di sanalah letak kebahagiaan, Adikku. Selama engkau menuruti
hasrat dorongan nafsu untuk mengejar kesenangan, engkau takkan pernah merasakan
kepuasan. Nafsu mengejar kesenangan untuk dinikmati merupakan kehausan manusia,
dan hal ini adalah manusiawi dan menjadi hak manusia pula untuk memuaskan
dahaga mereka. Akan tetapi, dahaga tidak akan lenyap dan puas apabila diminumi
air yang terlalu manis, bahkan makin banyak diberi yang manis-manis akan
menjadi makin haus. Demikian pula dengan nafsu. Makin dituruti tanpa
dikendalikan sampai berlebihan, akan menjadi makin besar membakar seperti api
diberi umpan kayu kering. Adikku, insyaflah dan jangan menurutkan kata hati
yang dikuasai nafsu."
Retna Wilis sudah dapat
mengatasi keheranannya dan ia marah sekali.
"Bagus Seta! Kiranya
engkau yang disohorkan orang memiliki kesaktian yang hebat ternyata hanya
memiliki lidah yang pandai bergoyang! Aku tahu mengapa engkau berpidato
sepanjang itu. Engkau tentu diutus Panjalu yang gentar menghadapi ancaman
penyerbuanku, untuk membujuk aku karena kalian menganggap aku ini adikmu yang
sepatutnya tunduk dan taat kepada engkau yang merasa sebagai kakakku! Engkau
kecelik, Bagus Seta. Tentu saja engkau berpihak kepada Jenggala dan Panjalu
karena seluruh keluargamu menghamba di sana, bahkan ayahmu menjadi Patih
Panjalu, dan mereka yang duduk di kursi pimpinan Jenggala juga keluargamu. Akan
tetapi, aku tidak akan tunduk oleh obrolanmu yang kosong! Nah, engkau mau apa
sekarang? Mau menggunakan kesaktian yang kata orang kau miliki itu?
Keluarkanlah semua kesaktianmu, aku tidak takut!"
Bagus Seta tetap tenang
sungguhpun senyumnya mengandung keprihatinan.
"Adikku, keliru
pendapatmu bahwa aku datang sebagai pembela keluarga maupun Kerajaan Panjalu
dan Jenggala, sungguhpun tidak kusangkal bahwa aku memang membujukmu agar
engkau sadar. Ini menjadi kewajibanku. Ketahuilah bahwa aku hanya membela
kebenaran, Adikku. Biar keluarga sendiri, biar Panjalu maupun Jenggala, kalau
tindakannya menyeleweng daripada kebenaran, adalah menjadi kewajibanku untuk
menentang, karena aku bukanlah seorang punggawa kerajaan mana pun. Berbeda
dengan kanjeng rama, kanjeng ibu atau para kanjeng paman dan bibi, mereka
terikat oleh tugas kewajiban sebagai punggawa, sebagai prajurit sehingga yang
dikenal hanyalah melaksanakan tugas tanpa pamrih berdasarkan kesetiaan terhadap
kerajaan sebagai sifat setiap satria. Engkau telah bersekutu dengan Wasi
Bagaspati, Adikku, dalam hal ini saja sudah tidak benar. Wasi Bagaspati adalah
seorang manusia yang menyeleweng daripada kebenaran, bahkan menentang kebenaran
demi nafsu-nafsunya. Sekarang engkau bersekutu dengan dia untuk menaklukkan
Jenggala dan Panjalu, hal ini merupakan penyelewengan hidup yang amat besar,
apalagi kalau diingat engkau adalah puteri Patih Panjalu, sedangkan kanjeng ibu
Endang Patibroto seorang tokoh yang amat dihormati dan disegani di Panjalu dan
Jenggala. Sadar dan insyaflah sebelum terlambat, Retna Wilis adikku."
"Heh si keparat Bagus
Seta! Tak perlu banyak cakap lagi karena aku tidak sudi mendengarnya!
Ketahuilah bahwa aku adalah murid tunggal Nini Bumigarba dan engkau adalah
murid Bhagawan Ekadenta! Aku telah berjanji kepada guruku untuk mengalahkan
Bhagawan Ekadenta dan Sekarang biarlah engkau menjadi wakilnya. Hayo kerahkan
semua aji kesaktianmu dan lawanlah aku, Retna Wilis yang juga menjadi Ratu
Wilis, aku hanya Perawan Lembah Wilis bocah gunung, tidak seperti engkau putera
Patih Jenggala, seorang priyayi, seorang bangsawan agung. Hayo kita mengadu aji
kesaktian!"
Melihat Retna Wilis bertolak
pinggang dan menggerak-gerakkan lengan kanan menantangnya, wajah tampan Bagus
Seta menyuram, akan tetapi sikapnya masih sabar.
"Tugasku bukan
menentang Nini Bumigarba atau Retna Wilis melainkan menentang kejahatan yang
menimbulkan kesengsaraan kepada manusia, Adikku. Aku tidak berniat untuk
bertanding melawanmu."
"Eh, Bagus Seta,
kiranya engkau hanya seorang pengecut! Engkau takut melawanku, engkau takut
kepadaku! Katakanlah bahwa engkau takut kepadaku dan aku akan
mengampunimu!"
Bagus Seta tersenyum penuh
kesabaran, dan memandang adiknya seperti pandang mata seorang dewasa melihat
seorang anak kecil yang nakal.
"Aku tidak takut
kepadamu, Adikku, juga tidak takut terhadap diri sendiri dan segala tindakanku.
Rasa takut adalah tidak wajar dan dibuat sendiri, dan setiap perbuatan yang
dilakukan karena takut adalah perbuatan yang tidak wajar, karenanya tidak
benar. Manusia yang sadar akan kekuasaan Yang Maha Kuasa, yang maklum dengan
penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah wajar, dan yang dengan
segala kewajaran hatinya mengerti akan benarnya setiap perbuatan yang
dilakukannya, akan terbebas daripada rasa takut."
No comments:
Post a Comment