"Sombong! Bagus Seta, hanya ada dua pilihan bagimu. Melawan aku atau engkau menyatakan bahwa engkau takut kepadaku, baru aku akan membiarkanmu pergi tanpa mengganggumu."
"Kalau keduanya tidak
kulakukan?"
"Aku akan membunuhmu!"
Bagus Seta menarik napas
panjang.
"Ah, berkali-kali
terbukti olehku betapa kekuasaan Sang Hyang Widhi tidak dapat dilawan oleh
siapa pun, bahwa keputusan Sang Hyang Widhi tidak dapat diubah oleh manusia.
Aku telah berusaha secukupnya, namun keputusannya terserah kepada Sang Hyang
Widhi Wisesa!"
Pada saat itu, Retna Wilis
sudah menerjang maju dan mengirim pukulan dengan kedua tangannya berturut-turut
sampai tujuh kali. Cepat sekali gerakannya ini karena dia mempergunakan gerakan
Ilmu Pukulan Pancaroba, seperti sambaran kilat kedua tangannya dengan jari
terbuka menghantam ke arah bagian-bagian tubuh Bagus Seta. Pemuda ini dengan
sikap tenang sekali, tanpa mengubah kedudukan sepasang kaki yang terpentang,
memutar kedua lengan di depan tubuhnya dan berturut-turut dapat menangkis tujuh
kali pukulan ampuh itu. Dua tenaga yang dahsyat bertemu, dan akibatnya Bagus
Seta terpaksa melangkah mundur tiga tindak saking hebatnya tenaga serangan
Retna akan tetapi dara sakti ini terdorong oleh tenaga tangkisan lawan dan
ditambah dorongan tenaga serangan sendiri yang membalik, terhuyung ke belakang
dan hampir terpelanting!
"Aiiihhhh!!" Retna
Wiles menjerit, meloncat ke atas mematahkan tenaga dorongan dan tubuhnya dari
atas menukik ke arah Bagus Seta sambil memukul dengan aji pukulan Wisalangking.
Bagus Seta miringkan tubuh mengelak sehingga angin pukulan menyambar
rumput-rumput yang segera menjadi layu dan membusuk!
"Kasihan engkau,
Adikku!" Bagus Seta berkata, manaruh kasihan melihat betapa adiknya
dikuasai nafsu amarah sehingga menjadi mata gelap. Akan tetapi Retna Wilis yang
sudah diperhamba kemarahan itu, menerima ucapan ini sebagai ejekan, maka ia
lalu memekik dan mencabut pedang pusaka Sapudenta! Tampak sinar berkilat di
bawah sinar bulan itu ketika pedangnya berkelebat menyambar tubuh Bagus Seta.
Pemuda ini maklum akan kesaktian adiknya, maklum pula akan ampuhnya pusaka itu,
maka ia menggunakan kepandaiannya melesat jauh dan terus pergi melarikan diri
dari tempat itu.
"Bagus Seta keparat!
Jahanam pengecut! Jangan lari....!” Retna Wilis mengejar cepat. Namun ia telah
kehilangan jejak pemuda itu yang lenyap di antara bayang-bayang hitam di malam
terang bulan itu dan setelah mengejar cukup jauh, Retna Wilis berhenti, dadanya
berombak, napasnya terengah saking marahnya. Matanya beringas memandang ke
kanan kiri, kemudian mulutnya memekik, tubuhnya bergerak dan pedang pusaka di
tangannya digerak-gerakkan menjadi gulungan sinar menyilaukan yang
menyambar-nyambar dan membentuk lingkaran-lingkaran menerjang di antara pohon-pohon.
Terdengar suara hiruk-pikuk ketika banyak batang pohon tumbang oleh sinar
pedangnya. Setelah menumbangkan pohon-pohon di sekelilingnya, baru agak mereda
kemarahan yang menyesak di dada. Retna Wilis herdiri di tengah-tengah tumpukan
batang, cabang, dan daun pohon yang berserakan di sekelilingnya, seperti arca,
pedang pusaka masih di tangan kanan, mukanya menunduk.
"Gusti Puteri ....
ahhh, apakah yang terjadi ..... Hati hamba tercekap rasa khawatir ....mengapa
Paduka marah dan seperti orang berduka ........ ?” Patih Adiwijaya muncul dari
balik daun-daun pohon yang bertumpuk, sedangkan dari jauh, para pengawal hanya
memandang bingung, tidak berani mendekat. Bagaikan baru sadar dari sebuah mimpi
buruk, Retna Wilis membalikkan tubuhnya, memandang beringas dan dengan pedang
di tangan. Akan tetapi ketika ia mengenal patihnya, ia menghela napas dan
perlahan-lahan menyarungkan pedang pusakanya di punggung, kemudian memejamkan
mata sebentar, membukanya lagi dan menggerakkan pundak.
"Aku hanya berlatih,
Paman. Paman, kirimlah utusan kepada Sang Wasi Bagaspati, minta agar pengiriman
pasukan dipercepat karena aku ingin secepat mungkin menyerbu Jenggala!"
Retna Wilis meninggalkan
patihnya yang melongo di tempat itu sambil memandangi pohon-pohon yang tumbang.
Dalam pandang mata patih ini, di bawah sinar bulan purnama yang berselimut awan
hitam, cabang-cabang pohon yang berserakan itu seperti tubuh-tubuh manusia yang
tidak utuh lagi, mayat-mayat bergelimpangan akibat amukan Retna Wilis dengan
pedang pusaka Sapudenta. Adiwijaya bergidik. Banyak sudah ia menyaksikan
perang, banyak menyaksikan manusia-manusia saling menyembelih dalam perang,
akan tetapi belum pernah menyaksikan keganasan yang luar biasa seperti yang
pasti akan dapat ia saksikan jika Retna Wilis mengamuk di medan perang dengan
pedangnya!
Peristiwa di malam terang
bulan itu, pertemuan antara kakak dan adiknya yang terjadi amat aneh tanpa
disaksikan manusia lain, ternyata merupakan dorongan yang mempercepat
penyerbuan bala tentara Wilis ke Jenggala. Tentu saja peristiwa penyerbuan ke
Jenggala ini menimbulkan geger dan seperti telah lajim terjadi semenjak manusia
mengenalnya sampai kini, perang selalu mendatangkan malapetaka dan sengsara
bagi rakyat jelata. Penduduk dusun-dusun yang dilanda barisan Wilis lari pontang-panting
pergi mengungsi, menyelamatkan nyawa meninggalkan segala benda miliknya yang
didapatnya dengan cucuran peluh setiap hari. Para iblis dan siluman mengamuk,
menggunakan kesempatan itu untuk mempengaruhi batin manusia yang tidak kuat
sehingga di mana-mana terjadi pelangggaran perikemanusiaan dan hukum rimba
merajalela. Pihak Jenggala segera mendengar berita akan datangnya bala tentara
Wilis yang hendak menyerbu, maka persiapan-persiapan lalu dibuat,
pasukan-pasukan penjaga diatur ketat, bahkan Tejolaksono dan Endang Patibroto
telah mohon perkenan dari sang prabu di Panjalu untuk membantu Jenggala karena
suami isteri ini berprihatin sekali, merasa bertanggung jawab atas penyerbuan
tentara Wilis yang dipimpin oleh putera mereka. Untuk mencegah terjadinya hal
yang tidak baik, Ayu Candra tidak diperkenan ikut. Demikianlah, ketika
pasukan-pasukan Wilis sudah tiba di perbatasan kota raja Jenggala, Tejolaksono
dan Endang Patibroto sudah siap pula memperkuat barisan Jenggala, bahkan mereka
berdua memimpin pasukan inti di samping Joko Pramono yang menjadi patih dan
merangkap senopati Jenggala di samping isterinya yang sakti Pusporini. Pasukan
terdepan dari Wilis adalah pasukan bantuan dari Sang Wasi Bagaspati, pasukan
yang dipimpin oleh Cekel Wisangkoro dan pasukan yang dipimpin oleh seorang
senopati pembantu Ki Patih Adiwijaya. Penyerbuan pasukan terdepan dari Wilis
ini menghadapi sambutan yang panas dan keras dari pasukan yang dipimpin sendiri
oleh Joko Pramono dan Pusporini. Hebat bukan main perang campuh ini, tanpa
upacara dan tanpa banyak cakap lagi. Perang campuh yang terjadi selama setengah
hari, dari tengah hari sampai menjelang senja ini mendatangkan korban amat
banyak, baik di pihak Jenggala maupun di pihak pasukan Wilis. Akan tetapi,
amukan Joko Pramono dan Pusporini yang amat dahsyat itu membangkitkan semangat
para prajurit Jenggala sehingga pihak Wilis kocar-kacir dan didesak mundur.
Bahkan mendekati petang hari, ketika pasukan Wilis terdesak dan Cekel
Wisangkoro yang menjadi penasaran dan marah itu mengamuk, merobohkan banyak
prajurit lawan dengan tongkat ular hitamnya sehingga semangat pasukannya
bangkit kembali, perang menjadi makin menghebat. Ceker Wisangkoro tentu saja
merasa takut kepada Wasi Bagaspati dan merasa malu kepada Ratu Wilis kalau
sampai pasukannya kalah dalam perang campuh pertama ini, maka ia lalu
berteriak-teriak membangkitkan semangat pasukannya dan dia sendiri maju sampai
ke tengah medan pertempuran, menggunakan segala aji kesaktiannya untuk membunuh
pihak musuh sebanyak mungkin.
Menghadapi amukan Cekel
Wisangkoro yang mengeluarkan semua ilmu hitamnya ini, pihak pasukan Jenggala
mawut. Empat orang perwira Jenggala yang terkenal gagah perkasa roboh tewas di
tangan Cekel Wisangkoro. Ketika Ki Patih Joko Pramono mendengar akan hal ini,
ia menjadi marah sekali dan cepat ia menerjang ke tengah medan pertempuran
sehingga setelah membuka jalan berdarah, merobohkan banyak prajurit musuh,
akhirnya ia dapat menemukan Cekel Wisangkoro yang mengamuk itu. Memang hebat
sepak terjang murid Wasi Bagasati ini. Tubuhnya diselimuti asap menghitam
sehingga sukar bagi pihak lawan untuk menerjangnya, sebaliknya dari dalam asap
hitam itu, tongkat kakek itu menyambar-nyambar merupakan cakar maut yang setiap
kali menyambar tentu merenggut nyawa seorang lawan.
"Cekel Wisangkoro,
akulah lawanmu!" Joko Pramono membentak yang menggunakan kedua tangannya
mendorong sambil melompat ke depan. Terkena dorongan kedua tangan itu, asap
hitam membuyar dan tampaklah kakek itu mengobat-abitkan tongkatnya yang berbentuk
ular hitam. Kini dua orang sakti itu berhadapan, saling pandang dengan mata
beringas. Cekel Wisangkoro segera mengenal orang muda itu yang pernah
bertanding dengannya ketika Joko Pramono, Pusporini, dan Bagus Seta dahulu
menolong Tejolaksono dan kedua orang isterinya yang tertawan oleh Wasi
Bagaspati. Dahulu Cekel Wisangkoro terpaksa melarikan diri karena tidak kuat
menghadapi Joko Pramono dan Pusporini, akan tetapi sekarang, menghadapi Joko
Pramono seorang diri saja, apalagi dalam sebuah perang campuh, ia tidak menjadi
gentar dan ia menudingkan tongkatnya sambil membentak,
"Babo-babo, Joko
Pramono! Engkau telah menjadi patih Jenggala, ya? Bersiaplah engkau untuk
mampus bersama Jenggala yang sekali ini pasti akan kami hancurkan!"
"Ha-ha-ha, Cekel
Wisangkoro dukun lepus! Berkali-kali engkau dan kawan-kawanmu menurutkan
angkara murka, tidak tahu malu dan lupa bahwa engkau dahulu telah menjadi
pecundang, lari terbirit-birit ketika melawanku. Sekarang engkau datang
menyerahkan nyawa, bagus, majulah!"
"Lihat ular saktiku
menelanmu!" Tiba-tiba Cekel Wisangkoro melemparkan tongkatnya yang berubah
menjadi seekor ular besar sekali, dengan mulut yang lebar penuh gigi dan siung
beracun, menyemburkan uap hitam hendak menerjang Joko Pramono. Ki patih
tersenyum, merendahkan tubuhnya dengan kedua lutut agak ditekuk, kemudian ia
membentak,
"Permainan ini
menjemukan. Heiiittt!" Kedua tangannya mendorong ke depan, ke arah ular
dengan pengerahan aji pukulan Cantuka-sekti. Serangkum hawa pukulan sakti
menyambar ke depan dan "ular" itu terpelanting, terlempar ke depan
Cekel Wisangkoro, berubah menjadi tongkat hitam lagi.
"Keparat!" Cekel
Wisangkoro menyambar tongkatnya dan bagaikan gila ia menerjang ke depan dengan
tongkatnya. Namun sambil tersenyum Joko Pramono berhasil mengelak dan balas
memukul. Seperti biasa, murid Sang Resi Mahesapati ini tidak mempergunakan
senjata dalam menghadapi lawan, hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya dan
keampuhan pukulan dan tendangannya. Dalam waktu tak lama, ia telah berhasil
mendesak Cekel Wisangkoro yang menjadi kempas-kempis napasnya. Kakek ini
berusaha untuk mainkan tongkatnya sehebat mungkin, namun selalu tusukan dan
hantamannya mengenai tempat kosong dan beberapa kali ia terhuyung karena
pukulan Cantuka sekti yang biarpun tidak mengenainya dengan tepat, namun hawa
pukulan yang dahsyat itu membuat ia hampir tidak dapat menahannya. Pertandingan
hebat antara dua orang sakti yang memimpin pasukan pertama ini dijadikan
tontonan oleh para prajurit kedua pihak sehingga mereka yang tadinya bertanding
di dekat tempat itu, otomatis menghentikan pertandingan mereka dan menjadi
penonton sambil berteriak-teriak dan bersorak-sorak menjagoi pimpinan
masing-masing. Mereka yang berada jauh dari medan pertandingan ini masih terus
berperang penuh semangat, karena kini pihak Wilis telah bangkit kembali
semangatnya oleh sepak-terjang Cekel Wisangkoro tadi.
Di lain tempat, di ujung
kiri, Pusporini juga mengamuk, bahkan lebih hebat daripada suaminya. Berbeda
dengan Joko Pramono yang mendapatkan tandingan kuat, wanita perkasa ini hanya
dikeroyok oleh lawan-lawan yang baginya terlalu lunak sehingga pihak musuh
roboh berserakan seperti sekumpulan laron menyerbu api. Kembali pihak Wilis
menjadi mawut dan cerai-berai setiap kali Pusporini menerjang maju. Para
perwira Wilis sudah roboh semua dan tiba-tiba majunya Ni Dewi Nilamanik
merupakan pendorong bagi prajurit Wilis untuk tidak lari. Ni Dewi Nilamanik
maju dan menyambut amukan Pusporini sehingga kembali perang tanding berlangsung
makin seru. Seperti juga suaminya, Pusporini menghadapi Ni Dewi Nilamanik yang
mengamuk dengan senjata kebutannya itu dengan tangan kosong saja. Kalau dibuat
perbandingan, tingkat kesaktian Ni Dewi Nilamanik masih lebih tinggi daripada
kepandaian Cekel Wisangkoro. Apalagi setelah wanita cabul ini menerima banyak
petunjuk dari Wasi Bagaspati, ia merupakan lawan yang berat bagi Pusporini.
Maka pertandingan antara kedua orang wanita sakti ini lebih dahsyat dan biarpun
aji kesaktian Pusporini "murni", namun ia kalah pengalaman, juga
kebutan di tangan wanita itu benar-benar ampuh. Agaknya, biarpun tidak terancam
dan tidak terdesak oleh lawannya, Pusporini harus mengerahkan seluruh
kepandaiannya dan makan banyak waktu untuk dapat merobohkan wanita yang mengaku
sebagai penitisan Bathari Durgo ini!
Joko Pramono
yang mulai mendesak Cekel Wisangkoro, dapat melihat dari jauh betapa isterinya
mendapatkan lawan yang amat tangguh, maka ia lalu mengeluarkan pekik sakti yang
dahsyat sekali, menubruk maju memapaki sambaran tongkat Cekel Wisangkoro.
Tongkat yang menyambar ke arah kepalanya itu ditangkis oleh Joko Pramono dengan
lengan tangan terus dicengkeram dan ditekuk ke bawah lengan, dikempit sehingga
tongkat itu tidak dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.
No comments:
Post a Comment