Perawan Lembah Wilis; Bagian 188


"Sombong! Bagus Seta, hanya ada dua pilihan bagimu. Melawan aku atau engkau menyatakan bahwa engkau takut kepadaku, baru aku akan membiarkanmu pergi tanpa mengganggumu."
"Kalau keduanya tidak kulakukan?"
"Aku akan membunuhmu!"
Bagus Seta menarik napas panjang.
"Ah, berkali-kali terbukti olehku betapa kekuasaan Sang Hyang Widhi tidak dapat dilawan oleh siapa pun, bahwa keputusan Sang Hyang Widhi tidak dapat diubah oleh manusia. Aku telah berusaha secukupnya, namun keputusannya terserah kepada Sang Hyang Widhi Wisesa!"
Pada saat itu, Retna Wilis sudah menerjang maju dan mengirim pukulan dengan kedua tangannya berturut-turut sampai tujuh kali. Cepat sekali gerakannya ini karena dia mempergunakan gerakan Ilmu Pukulan Pancaroba, seperti sambaran kilat kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah bagian-bagian tubuh Bagus Seta. Pemuda ini dengan sikap tenang sekali, tanpa mengubah kedudukan sepasang kaki yang terpentang, memutar kedua lengan di depan tubuhnya dan berturut-turut dapat menangkis tujuh kali pukulan ampuh itu. Dua tenaga yang dahsyat bertemu, dan akibatnya Bagus Seta terpaksa melangkah mundur tiga tindak saking hebatnya tenaga serangan Retna akan tetapi dara sakti ini terdorong oleh tenaga tangkisan lawan dan ditambah dorongan tenaga serangan sendiri yang membalik, terhuyung ke belakang dan hampir terpelanting!
"Aiiihhhh!!" Retna Wiles menjerit, meloncat ke atas mematahkan tenaga dorongan dan tubuhnya dari atas menukik ke arah Bagus Seta sambil memukul dengan aji pukulan Wisalangking. Bagus Seta miringkan tubuh mengelak sehingga angin pukulan menyambar rumput-rumput yang segera menjadi layu dan membusuk!
"Kasihan engkau, Adikku!" Bagus Seta berkata, manaruh kasihan melihat betapa adiknya dikuasai nafsu amarah sehingga menjadi mata gelap. Akan tetapi Retna Wilis yang sudah diperhamba kemarahan itu, menerima ucapan ini sebagai ejekan, maka ia lalu memekik dan mencabut pedang pusaka Sapudenta! Tampak sinar berkilat di bawah sinar bulan itu ketika pedangnya berkelebat menyambar tubuh Bagus Seta. Pemuda ini maklum akan kesaktian adiknya, maklum pula akan ampuhnya pusaka itu, maka ia menggunakan kepandaiannya melesat jauh dan terus pergi melarikan diri dari tempat itu.
"Bagus Seta keparat! Jahanam pengecut! Jangan lari....!” Retna Wilis mengejar cepat. Namun ia telah kehilangan jejak pemuda itu yang lenyap di antara bayang-bayang hitam di malam terang bulan itu dan setelah mengejar cukup jauh, Retna Wilis berhenti, dadanya berombak, napasnya terengah saking marahnya. Matanya beringas memandang ke kanan kiri, kemudian mulutnya memekik, tubuhnya bergerak dan pedang pusaka di tangannya digerak-gerakkan menjadi gulungan sinar menyilaukan yang menyambar-nyambar dan membentuk lingkaran-lingkaran menerjang di antara pohon-pohon. Terdengar suara hiruk-pikuk ketika banyak batang pohon tumbang oleh sinar pedangnya. Setelah menumbangkan pohon-pohon di sekelilingnya, baru agak mereda kemarahan yang menyesak di dada. Retna Wilis herdiri di tengah-tengah tumpukan batang, cabang, dan daun pohon yang berserakan di sekelilingnya, seperti arca, pedang pusaka masih di tangan kanan, mukanya menunduk.
"Gusti Puteri .... ahhh, apakah yang terjadi ..... Hati hamba tercekap rasa khawatir ....mengapa Paduka marah dan seperti orang berduka ........ ?” Patih Adiwijaya muncul dari balik daun-daun pohon yang bertumpuk, sedangkan dari jauh, para pengawal hanya memandang bingung, tidak berani mendekat. Bagaikan baru sadar dari sebuah mimpi buruk, Retna Wilis membalikkan tubuhnya, memandang beringas dan dengan pedang di tangan. Akan tetapi ketika ia mengenal patihnya, ia menghela napas dan perlahan-lahan menyarungkan pedang pusakanya di punggung, kemudian memejamkan mata sebentar, membukanya lagi dan menggerakkan pundak.
"Aku hanya berlatih, Paman. Paman, kirimlah utusan kepada Sang Wasi Bagaspati, minta agar pengiriman pasukan dipercepat karena aku ingin secepat mungkin menyerbu Jenggala!"

Retna Wilis meninggalkan patihnya yang melongo di tempat itu sambil memandangi pohon-pohon yang tumbang. Dalam pandang mata patih ini, di bawah sinar bulan purnama yang berselimut awan hitam, cabang-cabang pohon yang berserakan itu seperti tubuh-tubuh manusia yang tidak utuh lagi, mayat-mayat bergelimpangan akibat amukan Retna Wilis dengan pedang pusaka Sapudenta. Adiwijaya bergidik. Banyak sudah ia menyaksikan perang, banyak menyaksikan manusia-manusia saling menyembelih dalam perang, akan tetapi belum pernah menyaksikan keganasan yang luar biasa seperti yang pasti akan dapat ia saksikan jika Retna Wilis mengamuk di medan perang dengan pedangnya!
Peristiwa di malam terang bulan itu, pertemuan antara kakak dan adiknya yang terjadi amat aneh tanpa disaksikan manusia lain, ternyata merupakan dorongan yang mempercepat penyerbuan bala tentara Wilis ke Jenggala. Tentu saja peristiwa penyerbuan ke Jenggala ini menimbulkan geger dan seperti telah lajim terjadi semenjak manusia mengenalnya sampai kini, perang selalu mendatangkan malapetaka dan sengsara bagi rakyat jelata. Penduduk dusun-dusun yang dilanda barisan Wilis lari pontang-panting pergi mengungsi, menyelamatkan nyawa meninggalkan segala benda miliknya yang didapatnya dengan cucuran peluh setiap hari. Para iblis dan siluman mengamuk, menggunakan kesempatan itu untuk mempengaruhi batin manusia yang tidak kuat sehingga di mana-mana terjadi pelangggaran perikemanusiaan dan hukum rimba merajalela. Pihak Jenggala segera mendengar berita akan datangnya bala tentara Wilis yang hendak menyerbu, maka persiapan-persiapan lalu dibuat, pasukan-pasukan penjaga diatur ketat, bahkan Tejolaksono dan Endang Patibroto telah mohon perkenan dari sang prabu di Panjalu untuk membantu Jenggala karena suami isteri ini berprihatin sekali, merasa bertanggung jawab atas penyerbuan tentara Wilis yang dipimpin oleh putera mereka. Untuk mencegah terjadinya hal yang tidak baik, Ayu Candra tidak diperkenan ikut. Demikianlah, ketika pasukan-pasukan Wilis sudah tiba di perbatasan kota raja Jenggala, Tejolaksono dan Endang Patibroto sudah siap pula memperkuat barisan Jenggala, bahkan mereka berdua memimpin pasukan inti di samping Joko Pramono yang menjadi patih dan merangkap senopati Jenggala di samping isterinya yang sakti Pusporini. Pasukan terdepan dari Wilis adalah pasukan bantuan dari Sang Wasi Bagaspati, pasukan yang dipimpin oleh Cekel Wisangkoro dan pasukan yang dipimpin oleh seorang senopati pembantu Ki Patih Adiwijaya. Penyerbuan pasukan terdepan dari Wilis ini menghadapi sambutan yang panas dan keras dari pasukan yang dipimpin sendiri oleh Joko Pramono dan Pusporini. Hebat bukan main perang campuh ini, tanpa upacara dan tanpa banyak cakap lagi. Perang campuh yang terjadi selama setengah hari, dari tengah hari sampai menjelang senja ini mendatangkan korban amat banyak, baik di pihak Jenggala maupun di pihak pasukan Wilis. Akan tetapi, amukan Joko Pramono dan Pusporini yang amat dahsyat itu membangkitkan semangat para prajurit Jenggala sehingga pihak Wilis kocar-kacir dan didesak mundur. Bahkan mendekati petang hari, ketika pasukan Wilis terdesak dan Cekel Wisangkoro yang menjadi penasaran dan marah itu mengamuk, merobohkan banyak prajurit lawan dengan tongkat ular hitamnya sehingga semangat pasukannya bangkit kembali, perang menjadi makin menghebat. Ceker Wisangkoro tentu saja merasa takut kepada Wasi Bagaspati dan merasa malu kepada Ratu Wilis kalau sampai pasukannya kalah dalam perang campuh pertama ini, maka ia lalu berteriak-teriak membangkitkan semangat pasukannya dan dia sendiri maju sampai ke tengah medan pertempuran, menggunakan segala aji kesaktiannya untuk membunuh pihak musuh sebanyak mungkin.

Menghadapi amukan Cekel Wisangkoro yang mengeluarkan semua ilmu hitamnya ini, pihak pasukan Jenggala mawut. Empat orang perwira Jenggala yang terkenal gagah perkasa roboh tewas di tangan Cekel Wisangkoro. Ketika Ki Patih Joko Pramono mendengar akan hal ini, ia menjadi marah sekali dan cepat ia menerjang ke tengah medan pertempuran sehingga setelah membuka jalan berdarah, merobohkan banyak prajurit musuh, akhirnya ia dapat menemukan Cekel Wisangkoro yang mengamuk itu. Memang hebat sepak terjang murid Wasi Bagasati ini. Tubuhnya diselimuti asap menghitam sehingga sukar bagi pihak lawan untuk menerjangnya, sebaliknya dari dalam asap hitam itu, tongkat kakek itu menyambar-nyambar merupakan cakar maut yang setiap kali menyambar tentu merenggut nyawa seorang lawan.
"Cekel Wisangkoro, akulah lawanmu!" Joko Pramono membentak yang menggunakan kedua tangannya mendorong sambil melompat ke depan. Terkena dorongan kedua tangan itu, asap hitam membuyar dan tampaklah kakek itu mengobat-abitkan tongkatnya yang berbentuk ular hitam. Kini dua orang sakti itu berhadapan, saling pandang dengan mata beringas. Cekel Wisangkoro segera mengenal orang muda itu yang pernah bertanding dengannya ketika Joko Pramono, Pusporini, dan Bagus Seta dahulu menolong Tejolaksono dan kedua orang isterinya yang tertawan oleh Wasi Bagaspati. Dahulu Cekel Wisangkoro terpaksa melarikan diri karena tidak kuat menghadapi Joko Pramono dan Pusporini, akan tetapi sekarang, menghadapi Joko Pramono seorang diri saja, apalagi dalam sebuah perang campuh, ia tidak menjadi gentar dan ia menudingkan tongkatnya sambil membentak,
"Babo-babo, Joko Pramono! Engkau telah menjadi patih Jenggala, ya? Bersiaplah engkau untuk mampus bersama Jenggala yang sekali ini pasti akan kami hancurkan!"
"Ha-ha-ha, Cekel Wisangkoro dukun lepus! Berkali-kali engkau dan kawan-kawanmu menurutkan angkara murka, tidak tahu malu dan lupa bahwa engkau dahulu telah menjadi pecundang, lari terbirit-birit ketika melawanku. Sekarang engkau datang menyerahkan nyawa, bagus, majulah!"
"Lihat ular saktiku menelanmu!" Tiba-tiba Cekel Wisangkoro melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi seekor ular besar sekali, dengan mulut yang lebar penuh gigi dan siung beracun, menyemburkan uap hitam hendak menerjang Joko Pramono. Ki patih tersenyum, merendahkan tubuhnya dengan kedua lutut agak ditekuk, kemudian ia membentak,
"Permainan ini menjemukan. Heiiittt!" Kedua tangannya mendorong ke depan, ke arah ular dengan pengerahan aji pukulan Cantuka-sekti. Serangkum hawa pukulan sakti menyambar ke depan dan "ular" itu terpelanting, terlempar ke depan Cekel Wisangkoro, berubah menjadi tongkat hitam lagi.
"Keparat!" Cekel Wisangkoro menyambar tongkatnya dan bagaikan gila ia menerjang ke depan dengan tongkatnya. Namun sambil tersenyum Joko Pramono berhasil mengelak dan balas memukul. Seperti biasa, murid Sang Resi Mahesapati ini tidak mempergunakan senjata dalam menghadapi lawan, hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya dan keampuhan pukulan dan tendangannya. Dalam waktu tak lama, ia telah berhasil mendesak Cekel Wisangkoro yang menjadi kempas-kempis napasnya. Kakek ini berusaha untuk mainkan tongkatnya sehebat mungkin, namun selalu tusukan dan hantamannya mengenai tempat kosong dan beberapa kali ia terhuyung karena pukulan Cantuka sekti yang biarpun tidak mengenainya dengan tepat, namun hawa pukulan yang dahsyat itu membuat ia hampir tidak dapat menahannya. Pertandingan hebat antara dua orang sakti yang memimpin pasukan pertama ini dijadikan tontonan oleh para prajurit kedua pihak sehingga mereka yang tadinya bertanding di dekat tempat itu, otomatis menghentikan pertandingan mereka dan menjadi penonton sambil berteriak-teriak dan bersorak-sorak menjagoi pimpinan masing-masing. Mereka yang berada jauh dari medan pertandingan ini masih terus berperang penuh semangat, karena kini pihak Wilis telah bangkit kembali semangatnya oleh sepak-terjang Cekel Wisangkoro tadi.

Di lain tempat, di ujung kiri, Pusporini juga mengamuk, bahkan lebih hebat daripada suaminya. Berbeda dengan Joko Pramono yang mendapatkan tandingan kuat, wanita perkasa ini hanya dikeroyok oleh lawan-lawan yang baginya terlalu lunak sehingga pihak musuh roboh berserakan seperti sekumpulan laron menyerbu api. Kembali pihak Wilis menjadi mawut dan cerai-berai setiap kali Pusporini menerjang maju. Para perwira Wilis sudah roboh semua dan tiba-tiba majunya Ni Dewi Nilamanik merupakan pendorong bagi prajurit Wilis untuk tidak lari. Ni Dewi Nilamanik maju dan menyambut amukan Pusporini sehingga kembali perang tanding berlangsung makin seru. Seperti juga suaminya, Pusporini menghadapi Ni Dewi Nilamanik yang mengamuk dengan senjata kebutannya itu dengan tangan kosong saja. Kalau dibuat perbandingan, tingkat kesaktian Ni Dewi Nilamanik masih lebih tinggi daripada kepandaian Cekel Wisangkoro. Apalagi setelah wanita cabul ini menerima banyak petunjuk dari Wasi Bagaspati, ia merupakan lawan yang berat bagi Pusporini. Maka pertandingan antara kedua orang wanita sakti ini lebih dahsyat dan biarpun aji kesaktian Pusporini "murni", namun ia kalah pengalaman, juga kebutan di tangan wanita itu benar-benar ampuh. Agaknya, biarpun tidak terancam dan tidak terdesak oleh lawannya, Pusporini harus mengerahkan seluruh kepandaiannya dan makan banyak waktu untuk dapat merobohkan wanita yang mengaku sebagai penitisan Bathari Durgo ini!
Joko Pramono yang mulai mendesak Cekel Wisangkoro, dapat melihat dari jauh betapa isterinya mendapatkan lawan yang amat tangguh, maka ia lalu mengeluarkan pekik sakti yang dahsyat sekali, menubruk maju memapaki sambaran tongkat Cekel Wisangkoro. Tongkat yang menyambar ke arah kepalanya itu ditangkis oleh Joko Pramono dengan lengan tangan terus dicengkeram dan ditekuk ke bawah lengan, dikempit sehingga tongkat itu tidak dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.

<<< Bagian 187                                                                                     Bagian 189 >>>

No comments:

Post a Comment