Kesempatan ini dipergunakan oleh Cekel Wisangkoro untuk menggerakkan tangan kirinya yang terbuka jarinya, menampar ke arah pelipis Joko Pramono. Pemuda sakti yang menjadi Patih Jenggala ini maklum bahwa kalau ia tidak cepat dapat merobohkan lawan tangguh ini maka pertempuran akan berlarut-larut dan ia mengkhawatirkan keselamatan isterinya yang menghadapi Ni Dewi Nilamanik yang sakti. Maka ketika pukulan atau tamparan tangan kiri Cekel Wisangkoro menyambar pelipisnya dari atas, ia tidak mengelak atau menangkis melainkan miringkan kepala dan menyambut tamparan itu dengan pundaknya, akan tetapi pada detik itu juga, tangan kanannya sendiri menghantam dengan telapak tangan dengan pengerahan Aji Cantuka-sekti, ke arah perut lawan.
"Dessss .... Ngekkk
......!!" Tubuh Cekel Wisangkoro terpental dan kakek ini roboh dan tewas
seketika dengan darah mengucur dari semua lubang di tubuhnya, isi perutnya
hancur oleh pukulan Joko Pramono. Patih muda ini sendiri terhuyung ke belakang
akan tetapi tidak terluka dan beberapa, menit kemudian ia telah meloncat dan
membantu isterinya menghadapi Ni Dewi Nilamanik. Melihat majunya Joko Pramono,
Ni Dewi Nilamanik menjadi gugup. Kebutannya diputar, akan tetapi karena
perhatiannya ia tujukan kepada Joko Pramono, ia menjadi kurang waspada terhadap
serangan Pusporini yang menampar dengan Aji Pethit Nogo. Biarpun Ni Dewi
Nilamanik berhasil mengelak, namun ia terhuyung dan saat itu dipergunakan oleh
Joko Pramono untuk mencengkeram kebutannya dan menyendalnya tiba-tiba. Ni Dewi
Nilamanik mempertahankan.
"Brettttl" Kebutan
itu putus di tengah-tengah dan tubuh Ni Dewi Nilamanik terjengkang. Pusporini
dan Joko Pramono menerjang maju untuk "menghabiskan" wanita itu, akan
tetapi tiba-tiba ada angin besar menyambar dari depan, membuat mereka terhuyung
ke belakangl Kiranya di situ telah berdiri scorang dara muda jelita yang
matanya seperti berapi dan kcningnya dikerutkan, sikapnya angkuh dan garang.
"Kau .....kau
.....Retna Wilis !" Pusporini berkata, menduga-duga, Sedangkan Joko
Pramono juga memandang dengan kagum akan tetapi juga penasaran karena hatinya
tidak senang mendengar betapa puteri Endang Patibroto ini menentang semua
keluarga termasuk ibunya sendiri.
"Kalian tentu Bibi
Pusporini dan Paman Joko Pramono, lebih baik Andika berdua mundur." Dara
jelita yang bukan lain adalah Retna Wilis sendiri ini menoleh kepada Ni Dewi
Nilamanik dan berkata,
"Andika mundurlah"
Ni Dewi Nilamanik menjadi merah mukanya, ia amat tidak suka menyaksikan sikap
Ratu Wilis yang tidak pernah menghormat siapa pun juga ini, akan tetapi karena
ia tadi telah ditolong, diselamatkan dan bahaya maut, ia tidak membantah dan
mundur, menyelinap di antara para prajurit.
Pusporini yang memiliki hati
keras dan galak, segera menudingkan telunjuknya kepada Retna Wilis dan
membentak,
"Bocah kurang ajar!
Beginikah sikapmu terhadap bibi dan pamanmu? Kami adalah prajurit-prajurit
sejati, lebih baik mati di medan laga daripada mundur!"
Retna Wilis tersenyum
mengejek.
"Kalau aku yang maju,
Andika berdua mau apa? Melawanku? Tiada gunanya!"
"Bocah murtad!
Durhaka!" Pusporini sudah menerjang maju dan menghantam dengan Pethit Nogo
mengarah kepala Retna Wilis. Akan tetapi dengan tenang Retna Wilis menggerakkan
tangan, menangkap pergelangan Pusporini sehingga wanita ini tak dapat bergerak,
kemudian sekali ia mendorong, tubuh Pusporini terlempar sampai lima meter
lebih, menimpa dua orang prajurit yang roboh terpelanting.
"Keparat ..!” Pusporini
maju lagi, akan tetapi suaminya mencegahnya.
Terdengar sorak-sorai riuh
dan kini perang makin menghebat. Majunya Retna Wilis dibarengi majunya Wasi
Bagaspati dan pasukan ini dari depan, sedangkan dari kanan maju pasukan yang
dipimpin Wasi Bagaskolo, dan dari kiri maju pasukan yang dipimpin Patih
Adiwijaya. Bala tentara Jenggala mawut tidak karuan, banyak yang tewas dan
sisanya lari mundur!
Tiba-tiba di antara
hiruk-pikuk pasukan kedua pihak yang berperang campuh, terdengar melengking
suara Retna Wilis,
"Pasukan Wilis, dengar
ratumu bicara! Tarik mundur semua prajurit dan jangan bergerak sebelum kuberi
komando!"
Hebat memang suara Retna
Wilis ini. Terdengar sampai jauh dan hebat pula ketaatan para pasukan Wilis
yang serentak menghentikan pengejaran bahkan mundur dan tidak mengeluarkan
suara berisik. Retna Wilis mengeluarkan pekik ini karena ia melihat munculnya
beberapa orang menghadapinya, di antarnya adalah ibu kandungnya, Endang
Patibroto! Ia memandang tajam, meneliti seorang demi seorang. Akan tetapi yang
maju mendekatinya hanya empat orang dan karena ia sudah mengenal ibunya, Joko
Pramono, dan Pusporini, maka dengan mudah ia dapat menduga bahwa pria gagah
perkasa setengah tua yang berpemandangan tajam sekali dan berdiri di samping
ibunya itu tentulah orang yang disebutkan sebagai ayah kandungnya, yaitu Ki
Patih Tejolaksono,
Patih Muda Panjalu!
"Retna! Engkau
lanjutkan perbuatanmu yang laknat ini?" Endang Patibroto sudah tidak dapat
menahan lagi kemarahannya, mukanya merah matanya menyinarkan api dan kedua
tangannya mengepal tinju.
"Ibu, sudah kukatakan
bahwa apa pun juga tidak akan dapat menghentikan aku mengejar dan mencapai
cita-citaku," jawab Retna Wilis dengan sikap tenang, sedangkan di samping
dan belakangnya berdiri Wasi Bagaspati, Wasi Bagaskolo, dan Ni Dewi Nilamanik.
Mereka bertiga ini, terutama sekali Wasi Bagaspati, merasa kecewa dan tidak
senang hatinya mengapa Retna Wilis menahan pasukannya yang sudah hampir
berhasil menaklukkan Jenggala.
"Engkau bersekutu
dengan orang jahat, dan demi mengejar cita-citamu yang gila untuk menjadi ratu
terbesar, engkau sampai hati untuk mengorbankan nyawa laksaan orang bahkan
sampai hati menentang aku, ibumu sendiri dan Ki Patih Tejolaksono, ayah
kandungmu ini?"
Retna Wilis memandang
ayahnya itu dengan sinar mata memandang rendah, kemudian berkata,
"Kalau Ibu tidak
menghendaki jatuh banyak korban yang sudah menjadi hal wajar dalam perang, Ibu
usahakan agar Jenggala dan Panjalu menakluk kepadaku tanpa perang. Kalau mereka
itu mau mengakui Ratu Wilis sebagai ratu terbesar dan menjadi kerajaan-kerajaan
bawahanku, aku tidak akan menyerang. Adapun mengenai ... ayahku, aku merasa
tidak mempunyai seorang ramanda yang sejak kecil bahkan sejak lahir tidak
pernah menjengukku, seorang yang telah menyia-nyiakan Ibu. Orang seperti itu
sepatutnya menjadi musuhku, bukan ayahku!" Ucapan ini mengandung kepahitan
yang membuat wajah Tejolaksono menjadi pucat. Endang Patibroto marah bukan
main.
"Retna Wilis! Biarlah
engkau atau aku yang mati di sini!" ia sudah akan bergerak menyerang, akan
tetapi lengannya dipegang oleh Ki Patih Tejolaksono.
"Bersabarlah, Diajeng."
Kemudian dengan tenang Tejolaksono menghadapi Retna Wilis dan berkata,
"Retna Wilis, tidak
perlu kiranya kami membela diri, karena memang setiap orang manusia itu tentu
mempunyai sifat-sifat buruk yang dilakukan di waktu ia lupa di samping sifat-sifat
baiknya. Kalau engkau menentang ayah bunda dan keluargamu, hal itu hanya
merupakan penyelewengan pribadi saja. Akan tetapi apa yang kaulakukan ini,
hendak menaklukkan Jenggala dan Panjalu, keturunan Mataram, dan bersekutu
dengan orang-orang dari kerajaan asing Cola, benar-benar merupakan
pengkhianatan terhadap bangsa dan tanah air. Apakah gurumu tidak pernah memberi
ajaran tentang ini?"
"Ha-ha-ha! Tejolaksono
sejak dahulu sombong dan keminter (tinggi hati)! Sang Ratu, ayahmu yang tidak
patut menjadi ayah ini malah berani menghina gurumu, Nini Bumigarba yang
mulia!" kata Wasi Bagaspati sambil tertawa-tawa.
Muka Retna Wilis menjadi
merah sekali.
"Kehadiranku di sini
membawa bala tentara Wilis yang jaya bukan untuk mengobrol tentang keluarga,
melainkan sebagai Ratu Wilis yang mengadakan perang terhadap Jenggala!
Pendeknya, harap kalian sampaikan pesanku kepada kedua Raja Jenggala dan
Panjalu, bahwa kalau dalam waktu tiga bulan sejak hari ini kedua raja itu tidak
datang menghadap padaku di Wilis menyatakan takluk, aku akan memimpin barisan
dan menggempur Jenggala dan Panjalu yang akan kujadikan karang abang (lautan
api)!"
Saking marah dan duka
hatinya, tiba-tiba Endang Patibroto mengeluh dan roboh pingsan dalam pelukan
suaminya yang cepat merangkulnya.
"Retna Wilis, beginikah
engkau membalas budi orang yang menjadi ibu kandungmu? Engkau menghancurkan
hati ibumu."
Tejolaksono berkata sambil
memandang penuh penyesalan.
"Bukan aku yang
menyuruh dia seperti itu. Mengapa ibu sendiri tidak membantu aku agar cita-cita
anaknya tercapai?" Retna Wilis mendengus, sedikit pun tidak kelihatan
kasihan atau terharu menyaksikan keadaan ibunya. Wasi Bagaspati tertawa
bergelak, sungguhpun hatinya amat tidak setuju akan sikap yang diambil Retna
Wilis mengenai Jenggala dan Panjalu. Jenggala sudah hampir takluk, kalau
penyerbuan dilanjutkan, besok pagi tentu Jenggala sudah terjatuh ke tangan
mereka, tinggal meneruskan penyerbuan ke Panjalu. Akan tetapi daging yang sudah
berada di depan mulut dilepas lagi oleh Retna Wilis, bahkan diberi waktu tiga
bulan. Tentu saja waktu itu dapat dipergunakan oleh Jenggala dan Panjalu untuk
memperkuat penjagaan!
Pusporini melangkah maju,
dan menudingkan telunjuknya, kemarahan besar membuat dadanya yang membusung itu
naik turun, matanya seperti mengeluarkan sinar berapi.
"Retna! Tidak ada
kejahatan manusia yang melebihi kejahatan seorang anak mendurhaka terhadap
orang tua, terutama terhadap ibu kandungnya! Perbuatanmu ini akan dikutuk para
Dewata !”
"Dinda Pusporini!
Jangan berkata demikian!"
Tejolaksono membentak dan
Joko Pramono juga menarik tangan isterinya, disuruh mundur. Joko Pramono maklum
betapa sakit dan hancur hati Tejolaksono dan Endang Patibroto. Betapa ia pun
juga, Retna Wilis adalah anak mereka! Retna Wilis hanya tersenyum dingin mendengar
kutukan bibinya itu, ia lalu mundur dan memerintahkan semua pasukannya untuk
kembali ke Wilis. Biarpun hatinya merasa kecewa sekali, apalagi kalau diingat
bahwa dalam perang yang singkat itu ia telah kehilangan muridnya, Cekel
Wisangkoro, Wasi Bagaspati terpaksa membawa pula sisa pasukannya kembali ke
Wilis. Betapapun juga tiga bulan bukanlah waktu yang lama dan kalau sampai
kelak Cola berhasil menguasai Jawadwipa dengan jalan ini, tentu dia akan
menjadi seorang yang amat besar jasanya bagi negaranya. Di sepanjang jalan
mundur ke Wilis, pasukan yang merasa sebagai bala tentara yang menang perang,
berpesta pora dengan perampokan harta benda dan perkosaan wanita di sepanjang
jalan keluar masuk dusun. Sebaliknya, Jenggala berkabung karena kematian banyak
prajurit dan senopatinya, juga berduka dan cepat mengingat akan ancaman Retna
Wilis yang akan menjadikan Jenggala dan Panjalu karang abang kalau dalam waktu
tiga bulan raja kedua kerajaan itu tidak datang menghadap ke Wilis menyatakan
takluk! Yang paling prihatin menghadapi ancaman adalah Tejolaksono dan Endang
Patibroto.
Tiga hari kemudian,
datanglah Bagus Seta menghadap ramandanya di Jenggala dan kedatangannya
disambut girang oleh Endang Patibroto yang menyandarkan harapannya kepada
pemuda ini, akan tetapi Tejolaksono menyambut puteranya dengan penyesalan,
"Bagus Seta! Bagaimana
baru sekarang engkau datang? Bagaimana hasilmu membujuk adikmu Retna Wilis? Dia
datang menyerbu dan mendatangkan banyak korban dalam perang setengah hari
lamanya! Ke mana saja engkau pergi?" Dengan sabar dan tenang Bagus Seta
lalu menceritakan usaha pembujukannya yang gagal, kemudian berkata,
"Kanjeng Rama, segala
peristiwa yang terjadi memang telah digariskan dan dikehendaki oleh Hyang
Widdhi. Malapetaka takkan menimpa manusia kalau tidak dikehendaki oleh Hyang
Widdhi, sungguhpun sebab-sebabnya timbul dari perbuatan manusia sendiri.
Sekarang, lebih penting kita membiarkan hal yang akan datang dengan ikhtiar
kita sebagai manusia, sekuatnya untuk mencegah terjadinya hal-hal yang merupakan
malapetaka besar."
"Dia mengancam hendak
membikin Jenggala dan Panjalu menjadi karang abang kalau dalam waktu tiga bulan
raja-raja kedua negara ini tidak datang menghadapnya di Wilis dan menyatakan
takluk. Betapa kurang ajarnya bocah itu!" kata Endang Patibroto.
"Ah, puteraku angger
Bagus Seta, hanya engkaulah harapan kami. Apa yang harus kami lakukan? Dia amat
sakti mandraguna, ditambah, bantuan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang
sukar ditandingi."
"Menurut pendapat
hamba, Retna Wilis telah melakukan penyelewengan besar dan dia bersama
sekutunya merupakan ancaman bagi Jenggala dan Panjalu. Oleh karena itu, sudah
menjadi kewajiban Kanjeng Rama dan Ibu untuk menyelamatkan negara. Jalan
terbaik adalah mempersiapkan pasukan gabungan dari Jenggala dan Panjalu,
kemudian mendahului mereka menyerbu ke Wilis sebagai barisan kerajaan yang
hendak menumpas daerah yang memberontak. Dengan demikian, lebih mudah
menghancurkan mereka dalam sarang mereka sendiri. Kalau hamba tidak salah
menafsir, yang menjadi biang keladi daripada kesemuanya adalah utusan-utusan
Cola dan di samping adinda Retna Wilis tentu ada orang yang mengatur kesemuanya
ini. Hamba akan menyertai barisan penumpas pemberontak ini."
No comments:
Post a Comment