Perawan Lembah Wilis; Bagian 189


Kesempatan ini dipergunakan oleh Cekel Wisangkoro untuk menggerakkan tangan kirinya yang terbuka jarinya, menampar ke arah pelipis Joko Pramono. Pemuda sakti yang menjadi Patih Jenggala ini maklum bahwa kalau ia tidak cepat dapat merobohkan lawan tangguh ini maka pertempuran akan berlarut-larut dan ia mengkhawatirkan keselamatan isterinya yang menghadapi Ni Dewi Nilamanik yang sakti. Maka ketika pukulan atau tamparan tangan kiri Cekel Wisangkoro menyambar pelipisnya dari atas, ia tidak mengelak atau menangkis melainkan miringkan kepala dan menyambut tamparan itu dengan pundaknya, akan tetapi pada detik itu juga, tangan kanannya sendiri menghantam dengan telapak tangan dengan pengerahan Aji Cantuka-sekti, ke arah perut lawan.
"Dessss .... Ngekkk ......!!" Tubuh Cekel Wisangkoro terpental dan kakek ini roboh dan tewas seketika dengan darah mengucur dari semua lubang di tubuhnya, isi perutnya hancur oleh pukulan Joko Pramono. Patih muda ini sendiri terhuyung ke belakang akan tetapi tidak terluka dan beberapa, menit kemudian ia telah meloncat dan membantu isterinya menghadapi Ni Dewi Nilamanik. Melihat majunya Joko Pramono, Ni Dewi Nilamanik menjadi gugup. Kebutannya diputar, akan tetapi karena perhatiannya ia tujukan kepada Joko Pramono, ia menjadi kurang waspada terhadap serangan Pusporini yang menampar dengan Aji Pethit Nogo. Biarpun Ni Dewi Nilamanik berhasil mengelak, namun ia terhuyung dan saat itu dipergunakan oleh Joko Pramono untuk mencengkeram kebutannya dan menyendalnya tiba-tiba. Ni Dewi Nilamanik mempertahankan.
"Brettttl" Kebutan itu putus di tengah-tengah dan tubuh Ni Dewi Nilamanik terjengkang. Pusporini dan Joko Pramono menerjang maju untuk "menghabiskan" wanita itu, akan tetapi tiba-tiba ada angin besar menyambar dari depan, membuat mereka terhuyung ke belakangl Kiranya di situ telah berdiri scorang dara muda jelita yang matanya seperti berapi dan kcningnya dikerutkan, sikapnya angkuh dan garang.
"Kau .....kau .....Retna Wilis !" Pusporini berkata, menduga-duga, Sedangkan Joko Pramono juga memandang dengan kagum akan tetapi juga penasaran karena hatinya tidak senang mendengar betapa puteri Endang Patibroto ini menentang semua keluarga termasuk ibunya sendiri.
"Kalian tentu Bibi Pusporini dan Paman Joko Pramono, lebih baik Andika berdua mundur." Dara jelita yang bukan lain adalah Retna Wilis sendiri ini menoleh kepada Ni Dewi Nilamanik dan berkata,
"Andika mundurlah" Ni Dewi Nilamanik menjadi merah mukanya, ia amat tidak suka menyaksikan sikap Ratu Wilis yang tidak pernah menghormat siapa pun juga ini, akan tetapi karena ia tadi telah ditolong, diselamatkan dan bahaya maut, ia tidak membantah dan mundur, menyelinap di antara para prajurit.

Pusporini yang memiliki hati keras dan galak, segera menudingkan telunjuknya kepada Retna Wilis dan membentak,
"Bocah kurang ajar! Beginikah sikapmu terhadap bibi dan pamanmu? Kami adalah prajurit-prajurit sejati, lebih baik mati di medan laga daripada mundur!"
Retna Wilis tersenyum mengejek.
"Kalau aku yang maju, Andika berdua mau apa? Melawanku? Tiada gunanya!"
"Bocah murtad! Durhaka!" Pusporini sudah menerjang maju dan menghantam dengan Pethit Nogo mengarah kepala Retna Wilis. Akan tetapi dengan tenang Retna Wilis menggerakkan tangan, menangkap pergelangan Pusporini sehingga wanita ini tak dapat bergerak, kemudian sekali ia mendorong, tubuh Pusporini terlempar sampai lima meter lebih, menimpa dua orang prajurit yang roboh terpelanting.
"Keparat ..!” Pusporini maju lagi, akan tetapi suaminya mencegahnya.
Terdengar sorak-sorai riuh dan kini perang makin menghebat. Majunya Retna Wilis dibarengi majunya Wasi Bagaspati dan pasukan ini dari depan, sedangkan dari kanan maju pasukan yang dipimpin Wasi Bagaskolo, dan dari kiri maju pasukan yang dipimpin Patih Adiwijaya. Bala tentara Jenggala mawut tidak karuan, banyak yang tewas dan sisanya lari mundur!
Tiba-tiba di antara hiruk-pikuk pasukan kedua pihak yang berperang campuh, terdengar melengking suara Retna Wilis,
"Pasukan Wilis, dengar ratumu bicara! Tarik mundur semua prajurit dan jangan bergerak sebelum kuberi komando!"
Hebat memang suara Retna Wilis ini. Terdengar sampai jauh dan hebat pula ketaatan para pasukan Wilis yang serentak menghentikan pengejaran bahkan mundur dan tidak mengeluarkan suara berisik. Retna Wilis mengeluarkan pekik ini karena ia melihat munculnya beberapa orang menghadapinya, di antarnya adalah ibu kandungnya, Endang Patibroto! Ia memandang tajam, meneliti seorang demi seorang. Akan tetapi yang maju mendekatinya hanya empat orang dan karena ia sudah mengenal ibunya, Joko Pramono, dan Pusporini, maka dengan mudah ia dapat menduga bahwa pria gagah perkasa setengah tua yang berpemandangan tajam sekali dan berdiri di samping ibunya itu tentulah orang yang disebutkan sebagai ayah kandungnya, yaitu Ki Patih Tejolaksono,
Patih Muda Panjalu!
"Retna! Engkau lanjutkan perbuatanmu yang laknat ini?" Endang Patibroto sudah tidak dapat menahan lagi kemarahannya, mukanya merah matanya menyinarkan api dan kedua tangannya mengepal tinju.
"Ibu, sudah kukatakan bahwa apa pun juga tidak akan dapat menghentikan aku mengejar dan mencapai cita-citaku," jawab Retna Wilis dengan sikap tenang, sedangkan di samping dan belakangnya berdiri Wasi Bagaspati, Wasi Bagaskolo, dan Ni Dewi Nilamanik. Mereka bertiga ini, terutama sekali Wasi Bagaspati, merasa kecewa dan tidak senang hatinya mengapa Retna Wilis menahan pasukannya yang sudah hampir berhasil menaklukkan Jenggala.
"Engkau bersekutu dengan orang jahat, dan demi mengejar cita-citamu yang gila untuk menjadi ratu terbesar, engkau sampai hati untuk mengorbankan nyawa laksaan orang bahkan sampai hati menentang aku, ibumu sendiri dan Ki Patih Tejolaksono, ayah kandungmu ini?"

Retna Wilis memandang ayahnya itu dengan sinar mata memandang rendah, kemudian berkata,
"Kalau Ibu tidak menghendaki jatuh banyak korban yang sudah menjadi hal wajar dalam perang, Ibu usahakan agar Jenggala dan Panjalu menakluk kepadaku tanpa perang. Kalau mereka itu mau mengakui Ratu Wilis sebagai ratu terbesar dan menjadi kerajaan-kerajaan bawahanku, aku tidak akan menyerang. Adapun mengenai ... ayahku, aku merasa tidak mempunyai seorang ramanda yang sejak kecil bahkan sejak lahir tidak pernah menjengukku, seorang yang telah menyia-nyiakan Ibu. Orang seperti itu sepatutnya menjadi musuhku, bukan ayahku!" Ucapan ini mengandung kepahitan yang membuat wajah Tejolaksono menjadi pucat. Endang Patibroto marah bukan main.
"Retna Wilis! Biarlah engkau atau aku yang mati di sini!" ia sudah akan bergerak menyerang, akan tetapi lengannya dipegang oleh Ki Patih Tejolaksono.
"Bersabarlah, Diajeng." Kemudian dengan tenang Tejolaksono menghadapi Retna Wilis dan berkata,
"Retna Wilis, tidak perlu kiranya kami membela diri, karena memang setiap orang manusia itu tentu mempunyai sifat-sifat buruk yang dilakukan di waktu ia lupa di samping sifat-sifat baiknya. Kalau engkau menentang ayah bunda dan keluargamu, hal itu hanya merupakan penyelewengan pribadi saja. Akan tetapi apa yang kaulakukan ini, hendak menaklukkan Jenggala dan Panjalu, keturunan Mataram, dan bersekutu dengan orang-orang dari kerajaan asing Cola, benar-benar merupakan pengkhianatan terhadap bangsa dan tanah air. Apakah gurumu tidak pernah memberi ajaran tentang ini?"
"Ha-ha-ha! Tejolaksono sejak dahulu sombong dan keminter (tinggi hati)! Sang Ratu, ayahmu yang tidak patut menjadi ayah ini malah berani menghina gurumu, Nini Bumigarba yang mulia!" kata Wasi Bagaspati sambil tertawa-tawa.
Muka Retna Wilis menjadi merah sekali.
"Kehadiranku di sini membawa bala tentara Wilis yang jaya bukan untuk mengobrol tentang keluarga, melainkan sebagai Ratu Wilis yang mengadakan perang terhadap Jenggala! Pendeknya, harap kalian sampaikan pesanku kepada kedua Raja Jenggala dan Panjalu, bahwa kalau dalam waktu tiga bulan sejak hari ini kedua raja itu tidak datang menghadap padaku di Wilis menyatakan takluk, aku akan memimpin barisan dan menggempur Jenggala dan Panjalu yang akan kujadikan karang abang (lautan api)!"
Saking marah dan duka hatinya, tiba-tiba Endang Patibroto mengeluh dan roboh pingsan dalam pelukan suaminya yang cepat merangkulnya.
"Retna Wilis, beginikah engkau membalas budi orang yang menjadi ibu kandungmu? Engkau menghancurkan hati ibumu."

Tejolaksono berkata sambil memandang penuh penyesalan.
"Bukan aku yang menyuruh dia seperti itu. Mengapa ibu sendiri tidak membantu aku agar cita-cita anaknya tercapai?" Retna Wilis mendengus, sedikit pun tidak kelihatan kasihan atau terharu menyaksikan keadaan ibunya. Wasi Bagaspati tertawa bergelak, sungguhpun hatinya amat tidak setuju akan sikap yang diambil Retna Wilis mengenai Jenggala dan Panjalu. Jenggala sudah hampir takluk, kalau penyerbuan dilanjutkan, besok pagi tentu Jenggala sudah terjatuh ke tangan mereka, tinggal meneruskan penyerbuan ke Panjalu. Akan tetapi daging yang sudah berada di depan mulut dilepas lagi oleh Retna Wilis, bahkan diberi waktu tiga bulan. Tentu saja waktu itu dapat dipergunakan oleh Jenggala dan Panjalu untuk memperkuat penjagaan!
Pusporini melangkah maju, dan menudingkan telunjuknya, kemarahan besar membuat dadanya yang membusung itu naik turun, matanya seperti mengeluarkan sinar berapi.
"Retna! Tidak ada kejahatan manusia yang melebihi kejahatan seorang anak mendurhaka terhadap orang tua, terutama terhadap ibu kandungnya! Perbuatanmu ini akan dikutuk para Dewata !”
"Dinda Pusporini! Jangan berkata demikian!"
Tejolaksono membentak dan Joko Pramono juga menarik tangan isterinya, disuruh mundur. Joko Pramono maklum betapa sakit dan hancur hati Tejolaksono dan Endang Patibroto. Betapa ia pun juga, Retna Wilis adalah anak mereka! Retna Wilis hanya tersenyum dingin mendengar kutukan bibinya itu, ia lalu mundur dan memerintahkan semua pasukannya untuk kembali ke Wilis. Biarpun hatinya merasa kecewa sekali, apalagi kalau diingat bahwa dalam perang yang singkat itu ia telah kehilangan muridnya, Cekel Wisangkoro, Wasi Bagaspati terpaksa membawa pula sisa pasukannya kembali ke Wilis. Betapapun juga tiga bulan bukanlah waktu yang lama dan kalau sampai kelak Cola berhasil menguasai Jawadwipa dengan jalan ini, tentu dia akan menjadi seorang yang amat besar jasanya bagi negaranya. Di sepanjang jalan mundur ke Wilis, pasukan yang merasa sebagai bala tentara yang menang perang, berpesta pora dengan perampokan harta benda dan perkosaan wanita di sepanjang jalan keluar masuk dusun. Sebaliknya, Jenggala berkabung karena kematian banyak prajurit dan senopatinya, juga berduka dan cepat mengingat akan ancaman Retna Wilis yang akan menjadikan Jenggala dan Panjalu karang abang kalau dalam waktu tiga bulan raja kedua kerajaan itu tidak datang menghadap ke Wilis menyatakan takluk! Yang paling prihatin menghadapi ancaman adalah Tejolaksono dan Endang Patibroto.

Tiga hari kemudian, datanglah Bagus Seta menghadap ramandanya di Jenggala dan kedatangannya disambut girang oleh Endang Patibroto yang menyandarkan harapannya kepada pemuda ini, akan tetapi Tejolaksono menyambut puteranya dengan penyesalan,
"Bagus Seta! Bagaimana baru sekarang engkau datang? Bagaimana hasilmu membujuk adikmu Retna Wilis? Dia datang menyerbu dan mendatangkan banyak korban dalam perang setengah hari lamanya! Ke mana saja engkau pergi?" Dengan sabar dan tenang Bagus Seta lalu menceritakan usaha pembujukannya yang gagal, kemudian berkata,
"Kanjeng Rama, segala peristiwa yang terjadi memang telah digariskan dan dikehendaki oleh Hyang Widdhi. Malapetaka takkan menimpa manusia kalau tidak dikehendaki oleh Hyang Widdhi, sungguhpun sebab-sebabnya timbul dari perbuatan manusia sendiri. Sekarang, lebih penting kita membiarkan hal yang akan datang dengan ikhtiar kita sebagai manusia, sekuatnya untuk mencegah terjadinya hal-hal yang merupakan malapetaka besar."
"Dia mengancam hendak membikin Jenggala dan Panjalu menjadi karang abang kalau dalam waktu tiga bulan raja-raja kedua negara ini tidak datang menghadapnya di Wilis dan menyatakan takluk. Betapa kurang ajarnya bocah itu!" kata Endang Patibroto.
"Ah, puteraku angger Bagus Seta, hanya engkaulah harapan kami. Apa yang harus kami lakukan? Dia amat sakti mandraguna, ditambah, bantuan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang sukar ditandingi."
"Menurut pendapat hamba, Retna Wilis telah melakukan penyelewengan besar dan dia bersama sekutunya merupakan ancaman bagi Jenggala dan Panjalu. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban Kanjeng Rama dan Ibu untuk menyelamatkan negara. Jalan terbaik adalah mempersiapkan pasukan gabungan dari Jenggala dan Panjalu, kemudian mendahului mereka menyerbu ke Wilis sebagai barisan kerajaan yang hendak menumpas daerah yang memberontak. Dengan demikian, lebih mudah menghancurkan mereka dalam sarang mereka sendiri. Kalau hamba tidak salah menafsir, yang menjadi biang keladi daripada kesemuanya adalah utusan-utusan Cola dan di samping adinda Retna Wilis tentu ada orang yang mengatur kesemuanya ini. Hamba akan menyertai barisan penumpas pemberontak ini."

<<< Bagian 188                                                                                     Bagian 190 >>>

No comments:

Post a Comment