Perawan Lembah Wilis; Bagian 190


Tejolaksono setuju sekali, lalu Patih Panjalu ini menghadap adik iparnya, raja di Jenggala untuk berunding. Raja Jenggala yang muda tentu saja menurut akan siasat penumpasan pemberontak Wilis ini, dan ketika Tejolaksono menghadap Raja Panjalu, kerajaan ini pun setuju. Maka dalam waktu sebulan saja terbentuklah barisan gabungan yang terdiri dari pasukan-pasukan pilihan dari Panjalu dan Jenggala, dipimpin oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto sebagai senopati Panjalu, dan Joko Pramono berdua isterinya Pusporini sebagai senopati Jenggala. Jumlah bala tentara gabungan ini tidak kurang dari tiga laksa orang. Berbeda dengan penyerbuan tentara Wilis ke Jenggala yang cepat terdengar oleh pihak Jenggala, kini gerakan pasukan gabungan yang menyerbu ke Wilis ini terjadi dengan diam-diam dan tidak sampai diketahui pihak Wilis. Hal ini adalah karena rakyat di sepanjang perjalanan barisan itu semua mendukung bala tentara Jenggala dan Panjalu yang bersikap tertib dan tidak pernah mengganggu rakyat sehingga rakyat malah membantu dan menumpas setiap mata-mata yang menyelidik. Karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya Retna Wilis, Wasi Bagaspati dan sekutunya ketika tiba-tiba mendengar pelaporan penjaga di kaki gunung yang bermuka pucat bahwa gunung Wilis telah dikurung oleh barisan yang amat besar jumlahnya dari Jenggala dan Panjalu! Wasi Bagaspati membanting kaki dengan penuh kegemasan ketika mendengar laporan ini.
"Aahhh!" Bentaknya mencela Retna Wilis.
"Inilah akibatnya! Paduka telah bersikap terlalu lunak terhadap mereka dan ini gara-garanya karena Paduka masih memandang muka ayah bunda Paduka. Kalau dahulu kita terus menyerbu Jenggala, tentu tidak akan terjadi hal seperti yang terjadi sekarang!" Retna Wilis memandang tajam dan berkata dingin,
"Sang Wasi Bagaspati! Akulah pemimpin tertinggi di Wilis dan Andika hanya membantuku. Segala keputusan datang dariku, dan aku yang bertanggung jawab. Kalau kita sekarang dikurung oleh barisan Jenggala dan Panjalu, apa Andika kira bahwa kita pasti kalah? Biar aku menemui pimpinan mereka. Paman Adiwijaya, persiapkan pasukan pengawal dan perintahkan agar seluruh pasukan siap untuk menggempur begitu ada perintah dariku!"
"Siap melaksanakan perintah Paduka!" jawab Patih Adiwijaya yang cepat pergi untuk mentaati perintah junjungannya. Wasi Bagaspati menjadi merah, akan tetapi ia hanya memberi isyarat mata kepada Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik untuk menemani Retna Wilis turun dari puncak menghadapi para pimpinan barisan musuh sambil mempersiapkan sisa pasukan mereka yang selama sebulan ini telah digembleng oleh Wasi Bagaspati sendiri sehingga pasukan yang hanya terdiri dari lima ratus orang itu merupakan pasukan siluman yang menggiriskan. Ketika rombongan Ratu Wilis bersama pasukan pengawalnya ini menuruni puncak, tiba-tiba terdengar suara halus yang terdengar jelas oleh mereka, datang seperti dibawa angin lalu,
"Retna Wilis, sebelum kami memerintahkan barisan yang mengurung menyerbu, engkau diberi kesempatan terakhir untuk berunding dengan Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu. Turunlah!" Suara yang halus lirih namun amat jelas itu membuktikan bahwa pemiliknya adalah orang yang sakti mandraguna. Rombongan Retna Wilis mengenal suara ini dan wajah Wasi Bagaspati berubah.
"Itulah suara Bagus Seta," suaranya agak gemetar. Dia tidak tahu bahwa Retna Wilis pernah berjumpa dengan kakaknya itu,
"Sang Ratu, dia memiliki kesaktian yang luar biasa dan kiranya hanya Padukalah yang akan sanggup menandinginya, dibantu oleh adikku Wasi Bagaskolo. Adapun mengenai tokoh-tokoh yang lain, serahkan saja kepada saya. Kalau kita serentak turun tangan apabila berhadapan dan berhasil membunuh para pimpinan, dengan sendirinya barisan yang besar itu takkan ada gunanya lagi dan akan dapat kita hancurkan dengan mudah."
Retna Wilis cemberut.
"Sang Wasi, aku akan menemui mereka dan bagaimana nanti keputusanku, Andika tunggu dan dengarlah saja."

Wasi Bagaspati tidak membantah lagi, akan tetapi ia berjalan mendekati Ni Dewi Nilamanik dan Wasi Bagaskolo, berbisik-bisik merundingkan sesuatu tanpa diperdulikan oleh Retna Wilis. Sungguhpun ia setuju dengan siasat kakek itu, akan tetapi hatinya yang angkuh dan keras tidak menginginkan orang lain mendahuluinya seolah-olah dia yang harus taat dan dipimpin. Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan, para pimpinan Wilis yang turun dari puncak dengan para pimpinan barisan penyerbu yang menanti di lereng bawah.
Retna Wilis berdiri tegak, rambutnya berkibar tertiup angin, sikapnya dingin sekali namun sepasang matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat. Di sampingnya berdiri Wasi Bagaspati, Wasi Bagaskolo, dan Ni Dewi Nilamanik. Adiwijaya tidak nampak karena patih yang takut sekali bertemu dengan Endang Patibroto itu sudah menyelinap di belakang rombongan dan hanya melihat dan mendengarkan dari tempat aman dan tidak tampak. Adapun yang berdiri di bawah adalah Ki Patih Tejolaksono bersama isterinya, Endang Patibroto. Di sebelah kanan berdiri Bagus Seta dan sebelah kiri berdiri Joko Pramono dan Pusporini. Barisan kedua pihak sudah slap siaga dan setiap saat mereka tentu akan saling gempur begitu ada aba-aba dari atasan mereka.
Keadaan amat gawat dan tegang sehingga tidak ada suara berisik terdengar.
"Retna Wilis!" Terdengar suara Ki Patih Tejolaksono penuh wibawa.
"Wilis telah terkurung rapat oleh barisan Panjalu dan Jenggala yang jumlahnya jauh lebih besar daripada seluruh pasukanmu. Akan tetapi, mengingat bahwa engkau masih muda dan perlu disadarkan, kami tidak langsung menyerbu, melainkan ingin mengingatkan bahwa usahamu memberontak ini adalah jalan sesat. lnsyaflah dan menakluklah. Kami akan menanggungmu agar engkau mendapat hukuman ringan dari gusti sinuwun."
"Ki Tejolaksono! Akulah Perawan Lembah Wilis, yang kini menjadi Ratu Kerajaan Wilis yang jaya! Jangan mengira aku takut akan kepungan barisanmu. Hanya kematian yang akan dapat menghentikan aku mencapai cita-citaku!"
"Bocah keparat, tak tahu disayang orang tua! Biar lah aku akan melihat kematianmu sebagai melihat pecahnya sebutir telur!" Endang Patibroto berseru, mengangkat tangan kanannya ke atas dan memekik dengan suara melengking dahsyat,
"Serbu ........!”
Retna Wilis juga mengangkat tangan kanan ke atas, kemudian terdengar suara lengkingnya yang jauh lebih nyaring dan tinggi daripada pekik ibunya,
"Serbu ……!” Bagaikan rombongan-rombongan semut pindah yang ditiup, barisan kedua pihak bergerak, pasukan-pasukan Wilis menyerbu dari atas sedangkan pasukan gabungan Panjalu dan Jenggala menyerbu dari bawah. Pecahlah perang campuh yang amat hebat, suaranya menggegap- gempita, seolah-olah menimbulkan gempa bumi di seluruh permukaan pegunungan Wilis.

Dengan didahului Endang Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini menerjang maju menyerang Retna Wilis. Sejenak Tejolaksono ragu-ragu dan mengeluh sambil menengadah,
"Ya Dewa Yang Maha Agung! Anakku .... mengapa begini? Dewa.... ampuni dosa-dosa hamba !!" kemudian, teringat akan kewajibannya, ia pun mengeraskan hati dan ikut menerjang maju. Retna Wilis menyambut terjangan empat orang keluarganya itu dengan kelincahan tubuhnya yang mengelak ke kanan kiri. Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, sesuai dengan rencana mereka, cepat maju untuk menandingi Tejolaksono dan keluarganya, akan tetapi tiba-tiba menyambar bayangan putih dan terdengar suara halus,
"Orang luar tidak boleh mencampuri pertikaian antara keluarga. Akulah lawan kalian, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo!"
Melihat Bagus Seta menghadang di depannya, kedua orang kakek ini menjadi marah. Wasi Bagaspati maklum akan kesaktian pemuda ini yang pernah mengalahkannya, akan tetapi karena sekarang di sampingnya ada adik seperguruannya, dia tidak takut. Apalagi melihat bahwa di situ terdapat pula Retna Wilis yang tentu akan membantunya menghadapi lawan tangguh ini. Maka ia berteriak keras dan bersama adik seperguruannya ia menerjang maju, disambut dengan tenang oleh Bagus Seta. Adapun Ni Dewi Nilamanik yang maklum pula bahwa dia bukanlah tandingan Bagus Seta, segera maju menyerbu dan membantu Retna Wilis menghadapi empat orang keluarganya sendiri. Joko Pramono yang merasa agak segan untuk ikut mengeroyok Retna Wilis karena ia merasa bahwa dia hanyalah paman luar dari dara itu, cepat menyambut Ni Dewi Nilamanik sehingga terjadi pertandingan seru di antara mereka, sedangkan Retna Wilis dikeroyok oleh ayah bunda dan bibinya.
Adiwijaya yang tidak berani memperlihatkan diri di depan Endang Patibroto, merasa gelisah sekali, akan tetapi ia sibuk mengatur barisan untuk menyambut serbuan pasukan musuh yang datang bergelombang seperti angin taufan mengamuk. Namun, ia tidak pernah terlalu jauh meninggalkan Retna Wilis dan selalu memperhatikan keadaan junjungannya yang dipuja dan dikasihinya itu. Namun segera ternyata bahwa barisan Wilis kewalahan menghadapi serbuan barisan yang jauh lebih besar jumlahnya itu. Apalagi karena di antara barisan Panjalu terdapat tiga orang tokoh Wilis, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis yang telah memberi gambaran dan penjelasan kepada pasukannya tentang keadaan di pegunungan ini sehingga barisan yang mereka pimpin dapat maju dengan mudah karena telah mengenal keadaan pegunungan itu. Mulailah terjadi banjir darah dan mayat bertumpuk-tumpuk, ada yang terguling ke dalam jurang. Pekik dan sorak bercampur aduk membubung tinggi ke angkasa. Ni Dewi Nilamanik terdesak hebat oleh terjangan-terjangan Joko Pramono. Wanita sakti ini telah menggunakan sebuah kebutan baru dan ia berusaha membendung serangan Joko Pramono yang membanjir, namun tetap saja ia terdesak hebat dan tidak mampu membalas sedikit pun juga terhadap patih muda dari Jenggala ini. Bahkan dua kali ia telah kena diserempet pukulan pada pundaknya sehingga ia terhuyung dan hampir roboh.
"Retna Wilis, bantulah aku .......!” Berkali-kali ia berteriak minta bantuan Ratu Wilis yang bertempur tak jauh dari situ. Akan tetapi Retna Wilis seolah-olah tidak mendengarnya, atau tidak memperdulikannya. Retna Wilis sendiri bertanding seperti orang mimpi, seperti orang bingung. Melihat pukulan-pukulan ampuh yang dipergunakan ayah bunda dan bibinya terhadap dirinya, ia hanya mengelak dan kadang-kadang kalau terpaksa karena tidak sempat mengelak, ia mengangkat tangan menangkis. Setiap kali menangkis, Tejolaksono atau Endang Patibroto, bahkan Pusporini sendiri yang memiliki kesaktian hebat, tentu terpelanting dan merasa lengan yang tertangkis seperti lumpuh. Kalau Retna Wilis menghendaki, tentu dengan mudah ia akan dapat merobohkan dan menewaskan tiga orang pengeroyoknya. Apalagi kalau ia mau mencabut pedang pusaka Sapudenta. Akan tetapi, dara perkasa ini tidak mau melakukannya, bahkan ia menjadi bingung dan segan. Berkali-kali ia berkata lirih,
"Aku tidak suka menyakiti kalian ....tidak mau membunuh kalian ...!” Ucapannya berkali-kali yang keluar dari lubuk hatinya ini tidak diperdulikan oleh Tejolaksono, Endang Patibroto, dan Pusporini yang sudah marah sekali. Dara ini, biarpun merupakan anak dan keponakan yang dekat, yang mereka sayang, harus dibinasakan karena telah menimbulkan bencana perang yang hebat. Kini mereka bertiga berjuang untuk mengalahkan seorang musuh yang jahat dan berbahaya, bukan lagi merasa berhadapan dengan seorang anak dan keponakan.

Karena pihak Retna Wilis hanya mengelak dan kadang-kadang menangkis tanpa balas menyerang, maka pertandingan itu berlangsung lama dan aneh. Yang tiga orang terus menerjang dan mengirim serangan maut, yang dikeroyok hanya meloncat ke sana-sini dan menagkis, seolah-olah mempermainkan tiga orang pengeroyoknya. Pertandingan antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, juga terjadi amat seru dan hebatnya, bahkan lebih hebat daripada perang campuh itu sendiri karena masing-masing selain mengeluarkan kedigdayaan, juga mengerahkan aji kesaktian yang mujijat. Wasi Bagaspati mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan dan asap hitam bergumpal-gumpal menyambar ke arah Bagus Seta. Namun pemuda ini dengan tenang juga mendorongkan telapak tangan kirinya dan asap hitam itu membuyar lenyap, bahkan menyambar kembali ke arah Wasi Bagaspati sendiri. Wasi Bagaskolo memekik dan dari mulutnya menyambar uap panas, namun Bagus Seta menghalau uap panas dengan tiupan mulutnya. Ketika Wasi Bagaspati memekik dan mengeluarkan api menyala-nyala dari mulut dan kedua tangannya, lidah api menjilat-jilat ke arah Bagus Seta, panasnya melebihi kawah, Bagus Seto meloncat ke atas dan kedua telapak tangannya mengeluarkan hawa dingin yang serentak memadamkan api itu. Karena selalu dapat dipunahkan segala ilmu yang dikeluarkan, bahkan mereka itu beberapa kali terdorong mundur oleh hawa pukulan yang panas dan ampuh, yang menyambar keluar dari telapak kedua tangan Bagus Seta, berkali-kali, seperti halnya Ni Dewi Nilamanik, Wasi Bagaspati berteriak-teriak,
"Retna Wilis, lekas bantu kami .......!”
Namun teriak-teriakannya tidak didengar atau tidak diperdulikan oleh Retna Wilis yang masih selalu mengelak dan menangkis hujan serangan ayah bunda dan bibinya. Melihat ini. Wasi Bagaspati berseru marah,
"Retna Wilis, engkau berpihak kepada siapakah? Robohkan mereka dan bantu kami menewaskan bocah ini, baru cita-citamu berhasil!"
"Hemm, belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu. Beginikah sikap seorang prajurit?" Bagus Seta mencela.

<<< Bagian 189                                                                                      Bagian 191 >>>

No comments:

Post a Comment