Tejolaksono setuju sekali, lalu Patih Panjalu ini menghadap adik iparnya, raja di Jenggala untuk berunding. Raja Jenggala yang muda tentu saja menurut akan siasat penumpasan pemberontak Wilis ini, dan ketika Tejolaksono menghadap Raja Panjalu, kerajaan ini pun setuju. Maka dalam waktu sebulan saja terbentuklah barisan gabungan yang terdiri dari pasukan-pasukan pilihan dari Panjalu dan Jenggala, dipimpin oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto sebagai senopati Panjalu, dan Joko Pramono berdua isterinya Pusporini sebagai senopati Jenggala. Jumlah bala tentara gabungan ini tidak kurang dari tiga laksa orang. Berbeda dengan penyerbuan tentara Wilis ke Jenggala yang cepat terdengar oleh pihak Jenggala, kini gerakan pasukan gabungan yang menyerbu ke Wilis ini terjadi dengan diam-diam dan tidak sampai diketahui pihak Wilis. Hal ini adalah karena rakyat di sepanjang perjalanan barisan itu semua mendukung bala tentara Jenggala dan Panjalu yang bersikap tertib dan tidak pernah mengganggu rakyat sehingga rakyat malah membantu dan menumpas setiap mata-mata yang menyelidik. Karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya Retna Wilis, Wasi Bagaspati dan sekutunya ketika tiba-tiba mendengar pelaporan penjaga di kaki gunung yang bermuka pucat bahwa gunung Wilis telah dikurung oleh barisan yang amat besar jumlahnya dari Jenggala dan Panjalu! Wasi Bagaspati membanting kaki dengan penuh kegemasan ketika mendengar laporan ini.
"Aahhh!" Bentaknya
mencela Retna Wilis.
"Inilah akibatnya!
Paduka telah bersikap terlalu lunak terhadap mereka dan ini gara-garanya karena
Paduka masih memandang muka ayah bunda Paduka. Kalau dahulu kita terus menyerbu
Jenggala, tentu tidak akan terjadi hal seperti yang terjadi sekarang!"
Retna Wilis memandang tajam dan berkata dingin,
"Sang Wasi Bagaspati!
Akulah pemimpin tertinggi di Wilis dan Andika hanya membantuku. Segala
keputusan datang dariku, dan aku yang bertanggung jawab. Kalau kita sekarang
dikurung oleh barisan Jenggala dan Panjalu, apa Andika kira bahwa kita pasti kalah?
Biar aku menemui pimpinan mereka. Paman Adiwijaya, persiapkan pasukan pengawal
dan perintahkan agar seluruh pasukan siap untuk menggempur begitu ada perintah
dariku!"
"Siap melaksanakan
perintah Paduka!" jawab Patih Adiwijaya yang cepat pergi untuk mentaati
perintah junjungannya. Wasi Bagaspati menjadi merah, akan tetapi ia hanya
memberi isyarat mata kepada Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik untuk menemani
Retna Wilis turun dari puncak menghadapi para pimpinan barisan musuh sambil
mempersiapkan sisa pasukan mereka yang selama sebulan ini telah digembleng oleh
Wasi Bagaspati sendiri sehingga pasukan yang hanya terdiri dari lima ratus
orang itu merupakan pasukan siluman yang menggiriskan. Ketika rombongan Ratu
Wilis bersama pasukan pengawalnya ini menuruni puncak, tiba-tiba terdengar
suara halus yang terdengar jelas oleh mereka, datang seperti dibawa angin lalu,
"Retna Wilis, sebelum
kami memerintahkan barisan yang mengurung menyerbu, engkau diberi kesempatan
terakhir untuk berunding dengan Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu. Turunlah!"
Suara yang halus lirih namun amat jelas itu membuktikan bahwa pemiliknya adalah
orang yang sakti mandraguna. Rombongan Retna Wilis mengenal suara ini dan wajah
Wasi Bagaspati berubah.
"Itulah suara Bagus
Seta," suaranya agak gemetar. Dia tidak tahu bahwa Retna Wilis pernah
berjumpa dengan kakaknya itu,
"Sang Ratu, dia
memiliki kesaktian yang luar biasa dan kiranya hanya Padukalah yang akan
sanggup menandinginya, dibantu oleh adikku Wasi Bagaskolo. Adapun mengenai
tokoh-tokoh yang lain, serahkan saja kepada saya. Kalau kita serentak turun
tangan apabila berhadapan dan berhasil membunuh para pimpinan, dengan
sendirinya barisan yang besar itu takkan ada gunanya lagi dan akan dapat kita
hancurkan dengan mudah."
Retna Wilis cemberut.
"Sang Wasi, aku akan
menemui mereka dan bagaimana nanti keputusanku, Andika tunggu dan dengarlah
saja."
Wasi Bagaspati tidak
membantah lagi, akan tetapi ia berjalan mendekati Ni Dewi Nilamanik dan Wasi
Bagaskolo, berbisik-bisik merundingkan sesuatu tanpa diperdulikan oleh Retna
Wilis. Sungguhpun ia setuju dengan siasat kakek itu, akan tetapi hatinya yang
angkuh dan keras tidak menginginkan orang lain mendahuluinya seolah-olah dia
yang harus taat dan dipimpin. Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan,
para pimpinan Wilis yang turun dari puncak dengan para pimpinan barisan
penyerbu yang menanti di lereng bawah.
Retna Wilis berdiri tegak,
rambutnya berkibar tertiup angin, sikapnya dingin sekali namun sepasang matanya
bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat. Di sampingnya berdiri Wasi
Bagaspati, Wasi Bagaskolo, dan Ni Dewi Nilamanik. Adiwijaya tidak nampak karena
patih yang takut sekali bertemu dengan Endang Patibroto itu sudah menyelinap di
belakang rombongan dan hanya melihat dan mendengarkan dari tempat aman dan
tidak tampak. Adapun yang berdiri di bawah adalah Ki Patih Tejolaksono bersama
isterinya, Endang Patibroto. Di sebelah kanan berdiri Bagus Seta dan sebelah
kiri berdiri Joko Pramono dan Pusporini. Barisan kedua pihak sudah slap siaga
dan setiap saat mereka tentu akan saling gempur begitu ada aba-aba dari atasan
mereka.
Keadaan amat gawat dan
tegang sehingga tidak ada suara berisik terdengar.
"Retna Wilis!"
Terdengar suara Ki Patih Tejolaksono penuh wibawa.
"Wilis telah terkurung
rapat oleh barisan Panjalu dan Jenggala yang jumlahnya jauh lebih besar
daripada seluruh pasukanmu. Akan tetapi, mengingat bahwa engkau masih muda dan
perlu disadarkan, kami tidak langsung menyerbu, melainkan ingin mengingatkan
bahwa usahamu memberontak ini adalah jalan sesat. lnsyaflah dan menakluklah.
Kami akan menanggungmu agar engkau mendapat hukuman ringan dari gusti
sinuwun."
"Ki Tejolaksono! Akulah
Perawan Lembah Wilis, yang kini menjadi Ratu Kerajaan Wilis yang jaya! Jangan
mengira aku takut akan kepungan barisanmu. Hanya kematian yang akan dapat
menghentikan aku mencapai cita-citaku!"
"Bocah keparat, tak
tahu disayang orang tua! Biar lah aku akan melihat kematianmu sebagai melihat
pecahnya sebutir telur!" Endang Patibroto berseru, mengangkat tangan
kanannya ke atas dan memekik dengan suara melengking dahsyat,
"Serbu ........!”
Retna Wilis juga mengangkat
tangan kanan ke atas, kemudian terdengar suara lengkingnya yang jauh lebih
nyaring dan tinggi daripada pekik ibunya,
"Serbu ……!” Bagaikan
rombongan-rombongan semut pindah yang ditiup, barisan kedua pihak bergerak,
pasukan-pasukan Wilis menyerbu dari atas sedangkan pasukan gabungan Panjalu dan
Jenggala menyerbu dari bawah. Pecahlah perang campuh yang amat hebat, suaranya
menggegap- gempita, seolah-olah menimbulkan gempa bumi di seluruh permukaan
pegunungan Wilis.
Dengan didahului Endang
Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini menerjang maju menyerang Retna Wilis.
Sejenak Tejolaksono ragu-ragu dan mengeluh sambil menengadah,
"Ya Dewa Yang Maha
Agung! Anakku .... mengapa begini? Dewa.... ampuni dosa-dosa hamba !!"
kemudian, teringat akan kewajibannya, ia pun mengeraskan hati dan ikut
menerjang maju. Retna Wilis menyambut terjangan empat orang keluarganya itu
dengan kelincahan tubuhnya yang mengelak ke kanan kiri. Wasi Bagaspati dan Wasi
Bagaskolo, sesuai dengan rencana mereka, cepat maju untuk menandingi
Tejolaksono dan keluarganya, akan tetapi tiba-tiba menyambar bayangan putih dan
terdengar suara halus,
"Orang luar tidak boleh
mencampuri pertikaian antara keluarga. Akulah lawan kalian, Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo!"
Melihat Bagus Seta
menghadang di depannya, kedua orang kakek ini menjadi marah. Wasi Bagaspati
maklum akan kesaktian pemuda ini yang pernah mengalahkannya, akan tetapi karena
sekarang di sampingnya ada adik seperguruannya, dia tidak takut. Apalagi
melihat bahwa di situ terdapat pula Retna Wilis yang tentu akan membantunya
menghadapi lawan tangguh ini. Maka ia berteriak keras dan bersama adik
seperguruannya ia menerjang maju, disambut dengan tenang oleh Bagus Seta.
Adapun Ni Dewi Nilamanik yang maklum pula bahwa dia bukanlah tandingan Bagus
Seta, segera maju menyerbu dan membantu Retna Wilis menghadapi empat orang
keluarganya sendiri. Joko Pramono yang merasa agak segan untuk ikut mengeroyok
Retna Wilis karena ia merasa bahwa dia hanyalah paman luar dari dara itu, cepat
menyambut Ni Dewi Nilamanik sehingga terjadi pertandingan seru di antara
mereka, sedangkan Retna Wilis dikeroyok oleh ayah bunda dan bibinya.
Adiwijaya yang tidak berani
memperlihatkan diri di depan Endang Patibroto, merasa gelisah sekali, akan
tetapi ia sibuk mengatur barisan untuk menyambut serbuan pasukan musuh yang
datang bergelombang seperti angin taufan mengamuk. Namun, ia tidak pernah
terlalu jauh meninggalkan Retna Wilis dan selalu memperhatikan keadaan
junjungannya yang dipuja dan dikasihinya itu. Namun segera ternyata bahwa
barisan Wilis kewalahan menghadapi serbuan barisan yang jauh lebih besar
jumlahnya itu. Apalagi karena di antara barisan Panjalu terdapat tiga orang
tokoh Wilis, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis yang telah memberi
gambaran dan penjelasan kepada pasukannya tentang keadaan di pegunungan ini
sehingga barisan yang mereka pimpin dapat maju dengan mudah karena telah
mengenal keadaan pegunungan itu. Mulailah terjadi banjir darah dan mayat
bertumpuk-tumpuk, ada yang terguling ke dalam jurang. Pekik dan sorak bercampur
aduk membubung tinggi ke angkasa. Ni Dewi Nilamanik terdesak hebat oleh
terjangan-terjangan Joko Pramono. Wanita sakti ini telah menggunakan sebuah
kebutan baru dan ia berusaha membendung serangan Joko Pramono yang membanjir,
namun tetap saja ia terdesak hebat dan tidak mampu membalas sedikit pun juga
terhadap patih muda dari Jenggala ini. Bahkan dua kali ia telah kena diserempet
pukulan pada pundaknya sehingga ia terhuyung dan hampir roboh.
"Retna Wilis, bantulah
aku .......!” Berkali-kali ia berteriak minta bantuan Ratu Wilis yang bertempur
tak jauh dari situ. Akan tetapi Retna Wilis seolah-olah tidak mendengarnya,
atau tidak memperdulikannya. Retna Wilis sendiri bertanding seperti orang
mimpi, seperti orang bingung. Melihat pukulan-pukulan ampuh yang dipergunakan
ayah bunda dan bibinya terhadap dirinya, ia hanya mengelak dan kadang-kadang
kalau terpaksa karena tidak sempat mengelak, ia mengangkat tangan menangkis.
Setiap kali menangkis, Tejolaksono atau Endang Patibroto, bahkan Pusporini
sendiri yang memiliki kesaktian hebat, tentu terpelanting dan merasa lengan
yang tertangkis seperti lumpuh. Kalau Retna Wilis menghendaki, tentu dengan
mudah ia akan dapat merobohkan dan menewaskan tiga orang pengeroyoknya. Apalagi
kalau ia mau mencabut pedang pusaka Sapudenta. Akan tetapi, dara perkasa ini
tidak mau melakukannya, bahkan ia menjadi bingung dan segan. Berkali-kali ia
berkata lirih,
"Aku tidak suka menyakiti
kalian ....tidak mau membunuh kalian ...!” Ucapannya berkali-kali yang keluar
dari lubuk hatinya ini tidak diperdulikan oleh Tejolaksono, Endang Patibroto,
dan Pusporini yang sudah marah sekali. Dara ini, biarpun merupakan anak dan
keponakan yang dekat, yang mereka sayang, harus dibinasakan karena telah
menimbulkan bencana perang yang hebat. Kini mereka bertiga berjuang untuk
mengalahkan seorang musuh yang jahat dan berbahaya, bukan lagi merasa
berhadapan dengan seorang anak dan keponakan.
Karena pihak Retna Wilis
hanya mengelak dan kadang-kadang menangkis tanpa balas menyerang, maka
pertandingan itu berlangsung lama dan aneh. Yang tiga orang terus menerjang dan
mengirim serangan maut, yang dikeroyok hanya meloncat ke sana-sini dan
menagkis, seolah-olah mempermainkan tiga orang pengeroyoknya. Pertandingan
antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo,
juga terjadi amat seru dan hebatnya, bahkan lebih hebat daripada perang campuh
itu sendiri karena masing-masing selain mengeluarkan kedigdayaan, juga
mengerahkan aji kesaktian yang mujijat. Wasi Bagaspati mendorongkan kedua
telapak tangannya ke depan dan asap hitam bergumpal-gumpal menyambar ke arah
Bagus Seta. Namun pemuda ini dengan tenang juga mendorongkan telapak tangan kirinya
dan asap hitam itu membuyar lenyap, bahkan menyambar kembali ke arah Wasi
Bagaspati sendiri. Wasi Bagaskolo memekik dan dari mulutnya menyambar uap
panas, namun Bagus Seta menghalau uap panas dengan tiupan mulutnya. Ketika Wasi
Bagaspati memekik dan mengeluarkan api menyala-nyala dari mulut dan kedua
tangannya, lidah api menjilat-jilat ke arah Bagus Seta, panasnya melebihi
kawah, Bagus Seto meloncat ke atas dan kedua telapak tangannya mengeluarkan
hawa dingin yang serentak memadamkan api itu. Karena selalu dapat dipunahkan
segala ilmu yang dikeluarkan, bahkan mereka itu beberapa kali terdorong mundur
oleh hawa pukulan yang panas dan ampuh, yang menyambar keluar dari telapak
kedua tangan Bagus Seta, berkali-kali, seperti halnya Ni Dewi Nilamanik, Wasi
Bagaspati berteriak-teriak,
"Retna Wilis, lekas
bantu kami .......!”
Namun teriak-teriakannya
tidak didengar atau tidak diperdulikan oleh Retna Wilis yang masih selalu
mengelak dan menangkis hujan serangan ayah bunda dan bibinya. Melihat ini. Wasi
Bagaspati berseru marah,
"Retna Wilis, engkau
berpihak kepada siapakah? Robohkan mereka dan bantu kami menewaskan bocah ini,
baru cita-citamu berhasil!"
"Hemm, belum lecet
kulitmu, belum patah tulangmu. Beginikah sikap seorang prajurit?" Bagus
Seta mencela.
No comments:
Post a Comment