Perawan Lembah Wilis; Bagian 191


"Babo-babo, Bagus Seta! Jangan sombong, lihat senjataku!" Tangan Wasi Bagaspati bergerak dan senjata cakra yang mencorong cahayanya telah dipegangnya. Juga Wasi Bagaskolo telah mencabut keluar sebuah senjata keris berwarna hitam yang ber-eluk tiga dan gagangnya diukir gambar kepala Bathara Kala. Keris hitam ini tidak mencorong cahayanya, akan tetapi begitu tercabut, tercium bau yang amis seperti darah dan busuk seperti bangkai.
"Sungguh sayang senjata yang ampuh disalahgunakan!" kata Bagus Seta dan ketika kedua tangannya bergerak, tangan kirinya telah memegang setangkai bunga cempaka putih dan tangan kanannya telah melolos tali sutera pengikat rambutnya. Kini rambut yang tadinya digelung ke atas itu terlepas dan terurai di kanan kiri kepalanya, menutupi pundak, sebagian ke depan dan sebagian ke belakang. Wajah yang tampan itu kelihatan agung dan berwibawa, namun penuh ketenangan dan kehalusan.
Sang Wasi Bagaspati menerjang maju dengan senjata cakra di tangan, menghantam dada, sedangkan dari sebelah kanan, Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke lambung kanan pemuda itu. Bagus Seta tidak bergerak dari tempatnya, hanya mengembangkan kedua tangan, kembang cempaka putih menangkis cakra, sutera pengikat rambut melecut dan menangkis keris. Empat buah senjata aneh itu tidak sampai bersentuhan, akan tetapi seolah-olah ada hawa yang amat kuat keluar dari benda-benda keramat itu dan bertumbukan sehingga terdengar suara meledak-ledak.
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terdorong mundur, memandang dengan mata terbelalak, hampir tidak kuat menentang lama-lama sinar yang memancar dari sepasang mata Bagus Seta, mereka menggerakkan kaki mundur-mundur perlahan. Pada saat itu terdengar teriakan nyaring yang keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik,
"Retna Wilis .....tolong .....!!!”
Ni Dewi Nilamanik telah jatuh terjengkang disambar tendangan Joko Pramono, kebuatannya mencelat dan kini Joko Pramono sudah meloncat maju untuk mengirim pukulan maut yang terakhir ketika Ni Dewi Nilamanik menjerit minta tolong kepada Retna Wilis saking takutnya menyaksikan jangkauan tangan maut yang hendak mencabut nyawanya.

Jerit melengking itu seolah-olah menyadarkan Retna Wilis dari keadaannya yang seperti dalam mimpi. ia terkejut, sekaligus menangkis pukulan tiga orang pengeroyoknya sehingga Tejolaksono, Endang Patibroto dan Pusporini terlempar ke belakang, kemudian tubuh Retna Wilis melesat ke dekat Ni Dewi Nilamanik dan sekali tangannya mendorong ke depan, tidak saja pukulan maut Joko Pramono tertangkis, bahkan tubuh Patih Muda Jenggala ini pun terlempar dan terbanting ke atas tanah dalam keadaan nanar dan matanya berkunang! Endang Patibroto memekik marah, lalu bersama-sama Tejolaksono dan Pusporini, ia menerjang maju
menghantam Retna Wilis dengan aji pukulannya yang paling ampuh, yaitu Wisangnolo, sedangkan Tejolaksono memukul dengan pukulan Bojrodahono, dan Pusporini menampar dengan aji pukulan Pethit Nogo. Kini dalam keadaan marah sekali, tiga orang gagah ini sekaligus menyerang dengan sepenuh tenaga.
"Buk, plak, plak!" Tiga pukulan itu diterima oleh Retna Wilis yang mengerahkan kesaktiannya, dan kedua tangannya mendorong. Tubuhnya terkena hantaman tiga pukulan sakti itu dan tergetar, akan tetapi tiga orang lawannya terlempar seperti daun kering tertiup angin dan terbanting roboh keras sekali dalam keadaan pingsan!
"Terlalu ......!” Bagus Seta berkelebat datang, namun terlambat karena tiga orang sakti itu telah terlempar. Melihat kedatangan Bagus Seta, Retna Wilis kembali mendorongkan kedua tangannya. Bagus Seta menerima dengan telapak tangan pula.
"Dessss!" Kini tubuh Retna Wilis yang terpental ke belakang dan roboh terguling. Pada saat itu terdengar pekik nyaring sekali yang keluar dari mulut Wasi Bagaspati dan tiba-tiba tempat itu menjadi gelap oleh uap hitam seperti mendung tebal. Para prajurit Jenggala dan Panjalu menjadi panik, apalagi ketika dari gumpalan uap hitam itu menyambar-nyambar kilat yang merobohkan banyak orang, dan terdengar desis menyeramkan dari ratusan ekor ular yang merayap-rayap dan menyerang prajurit-prajurit itu! Mereka menjadi ketakutan, menjerit-jerit dan ada pula yang lari.
Bagus Seta cepat memejamkan mata mengerahkan kekuatan batinnya, kemudian bertepuk tangan tiga kali. Tepukan tangan ini menimbulkan bunyi seperti guntur menggelepar dan seketika lenyaplah uap hitam yang ditimbulkan oleh ilmu hitam Wasi Bagaspati, dan ular-ular yang diciptakan Wasi Bagaskolo kini ternyata hanya segenggam daun kamboja kering! Para prajurit tidak panik lagi dan dengan penuh semangat mereka menyerbu ke atas. Bagus Seta memandang dan ternyata Retna Wilis, Wasi Bagaspati, Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik telah lenyap dari situ. Akan tetapi dia tidak ingin mengejar karena ia harus cepat menolong Tejolaksono, Endang Patibroto, dan Pusporini yang masih pingsan. Joko Pramono juga cepat menghampiri isterinya.

Setelah memeriksa sebentar, Bagus Seta menarik napas panjang.
"Hebat sekali tenaga saktinya, akan tetapi syukur kepada Dewata bahwa dia tidak sampai membunuh ayah bundanya sendiri. Paman, harap jangan khawatir. Mereka hanya pingsan oleh getaran hawa sakti, sebentar lagi tentu siuman kembali."
Benar saja, tak lama kemudian tiga orang sakti itu siuman dan tidak mengalami luka. Mereka lalu memimpin pasukan menyerbu terus ke puncak Wilis. Bala tentara Wilis yang kehilangan pimpinan, bahkan Patih Adiwijaya juga lenyap tanpa pamit, segera membuang senjata dan berlutut, menakluk.
Tejolaksono lalu memerintahkan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis untuk mengatur keadaan Wilis dan memulihkan keamanan, karena ketiga orang tokoh itu lebih mengenal keadaan. Kemudian ia membicarakan tentang lenyapnya Retna Wilis.
"Apakah yang terjadi, Puteraku?" tanyanya kepada Bagus Seta.
"Bagaimana Retna Wilis dapat lenyap?" Bagus Seta menceritakan keadaan tadi dan dia sendiri tidak tahu ke mana perginya Retna Wilis, kedua orang Wasi, dan Ni Dewi Nilamanik. Seorang di antara Para prajurit taklukan yang ditanya segera mengaku bahwa tadi ia melihat Retna Wilis dalam keadaan pingsan dipondong pergi oleh Wasi Bagaspati yang melarikan diri bersama Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Patih Adiwijaya, memimpin pasukan siluman yang terdiri dari beberapa ratus orang, menuju ke selatan.
"Kita harus mengejarnya! Aku amat mengkhawatirkan keadaan Retna Wilis," kata Tejolaksono mengerutkan kening.
"Hemm, bocah durhaka macam itu perlu apa ditolong? Biarkan dia bersama sekutunya yang jahat!" dengus Endang Patibroto dengan hati sakit.
Tejolaksono memegang kedua pundak isterinya dan memaksa isterinya bertemu pandang dengan dia.
"Diajeng, betapa mungkin hati orang tua menegakan anaknya? Aku tahu bahwa engkau pun hanya terdorong oleh kemarahan, akan tetapi di dasar hatimu, engkau amat mencinta puteri kita itu ..”
Endang Patibroto tersedu dan menyembunyikan muka di dada suaminya, menangis terisak-isak. Joko Pramono dan Pusporini memandang penuh keharuan. Bagus Seta menghela napas panjang.
"Memang tepat apa yang diucapkan Kanjeng Rama. Kita harus menolongnya, bukan semata-mata karena dia keluarga kita, melainkan terutama sekali untuk menghalangi perbuatan keji manusia sesat seperti Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Marilah kita mengejar ke selatan sebelum terlambat."
Serentak keluarga yang sakti itu berangkat mengejar, menuju ke selatan, tidak ingat lagi akan tubuh mereka yang lelah sehabis mengalami pertandingan yang dahsyat itu.

Apakah yang telah terjadi dengan Retna Wilis? Ke mana perginya? Seorang yang memiliki watak keras, angkuh, dan aneh sekali seperti dara perkasa itu memang tidak mungkin kalau melarikan diri menghadapi kekalahan dalam pertandingan. Endang Patibroto maklum akan hal ini karena dia sendiri pun dahulu merupakan seorang wanita keras hati yang tidak pernah mau kalah atau menyerah, apalagi melarikan diri! Padahal watak puterinya lebih keras lagi, dan jauh lebih aneh. Memang Retna Wilis sama sekali tidaklah melarikan diri, melainkan dilarikan oleh Wasi Bagaspati. Kakek ini sejak pertama kali dikecewakan Retna Wilis, yaitu ketika mereka menyerbu ke Jenggala dan Retna Wilis tidak mau terus menduduki Kota Raja Jenggala, telah menaruh curiga kepada Retna Wilis. Diam-diam ia menyatakan ketidakpuasan hatinya itu kepada Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik, menyatakan bahwa sungguhpun Retna Wilis memiliki kesaktian yang boleh diandalkan, namun dara itu bukan merupakan sekutu yang baik dan masih mempunyai hati sungkan dan sayang kepada keluarganya, maka ia memesan agar pembantu-pembantunya berhati-hati.
Ketika barisan Jenggala dan Panjalu datang menyerbu, diam-diam ia sudah mengatur siasat dengan para pembantunya, menyatakan bahwa apabila keadaan tidak menguntungkan, agar melarikan diri dan ia akan berusaha menculik Retna Wilis. Maka ketika ia melihat bahwa tepat seperti dugaannya, Retna Wilis yang menghadapi ayah bunda dan bibinya itu tidak bertanding sungguh-sungguh, tidak mau membunuh mereka, bahkan tidak mau membantu kedua orang kakek melawan Bagus Seta, apalagi ketika ternyata betapa barisan Wilis tidak mampu membendung penyerbuan barisan musuh yang jauh lebih kuat, Wasi Bagaspati lalu mempergunakan siasat. Dia harus mengakui bahwa menculik seorang yang sakti mandraguna seperti Retna Wilis bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi ia melihat kesempatan yang baik ketika Retna Wilis terlempar dalam benturan tenaga sakti melawan Bagus Seta. Maka ia menggunakan ilmu hitamnya, membuat tempat itu menjadi gelap oleh awan hitam, kemudian secepat kilat ia mendekati Retna Wilis yang roboh terguling dan masih pening itu dan menggunakan kesaktiannya untuk mengetok tengkuk Retna Wilis dengan jari tangannya sehingga dara perkasa yang sudah nanar dan tidak menyangka-nyangka karena mengira bahwa kakek itu hendak menolongnya, menjadi pingsan. Dengan mudah Wasi Bagaspati lalu memondong tubuh Retna Wilis, kemudian pergi melarikan diri bersama Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik, dan Adiwijaya yang telah berhasil menarik kepercayaan Wasi Bagaspati. Karena kakek ini menganggap bahwa Adiwijaya seorang yang cerdik dan pandai mengatur siasat, pula yang telah ia ketahui "sepak terjangnya" semenjak menjadi Patih Warutama di Jenggala, maka ia tidak ragu-ragu lagi bahwa Adiwijaya bukanlah orang setia kepada Retna Wilis. Dalam hal ini, Wasi Bagaspati telah salah duga dan kembali membuktikan pandainya Adiwijaya bermain sandiwara sehingga seorang seperti Wasi Bagaspati yang sudah kawakan dan berpengalaman pun dapat ia kelabui. Sebelah utara pantai laut selatan terdapat barisan gunung-gunung, yang memanjang dari barat sampai ke utara dan lajim disebut pegunungan Seribu. Memang amat banyak gunung-gunung dalam barisan ini, sukar dihitung jumlahnya dan mungkin lebih dari seribu gunung kecil-kecil yang sebagian besar adalah gunung batu gamping. Kekuasaan alam memang hebat dan aneh. Barisan gunung Seribu ini seolah-olah merupakan tanggul yang menjaga daratan Pulau Jawa agar jangan sampai diamuk ombak laut kidul yang dahsyat!

Sisa pasukan yang melarikan diri bersama Wasi Bagaspati bersembunyi di sebuah di antara pegunungan ini, di daerah yang tidak begitu tandus sehingga mereka dapat tinggal di sutu tanpa dapat dilihat orang dari jauh. Retna Wilis yang dilarikan Wasi Bagaspati juga dibawa ke gunung kecil ini. Dalam perjalanan melarikan diri, Retna Wilis telah diberi minum jamu buatan Ni Dewi Nilamanik yang disebut "madu perampas semangat", sehingga ketika Retna Wilis siuman dari pingsannya, ia seperti orang yang tidak mempunyai semangat dan kemauan lagi. Ia lupa segala dan hanya menurut apa yang dikatakan Ni Dewi Nilamanik atau Wasi Bagaspati. Adiwijaya yang menyaksikan keadaan junjungannya itu, menjadi gelisah dan prihatin sekali. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan ia setiap saat memutar otak untuk mencari akal agar dapat membebaskan Retna Wilis. Kalau saja tidak untuk membela gadis itu, tentu dia tidak sudi ikut melarikan diri bersama Wasi Bagaspati, dan sudah pergi sendiri merantau ke tempat jauh. Namun, tak mungkin ia dapat meninggalkan Retna Wilis dan kalau perlu ia berani mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan dara itu. Tentu saja ia tidak mau berbuat sembrono mempergunakan kekerasan, karena kalau hal ini ia lakukan, ia tidak akan berhasil menyelamatkan Retna Wilis, juga berarti ia hanya akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia belaka. Ia harus menggunakan akal, dan memang amatlah sukar untuk melawan orang-orang yang sakti dan cerdik seperti Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya, ia harus menanti kesempatan baik untuk itu. Retna Wilis bersandar di batang pohon dalam keadaan terikat. Ia menundukkan mukanya yang agak pucat, tubuhnya lemas dan pandangan matanya tidak hidup, seperti mata orang mimpi atau termenung dalam sekali. Ia berada dalam pengaruh jamu yang setiap hari diminumkan kepadanya secara paksa oleh Ni Dewi Nilamanik. Biarpun dara perkasa ini sudah tidak berdaya karena semangatnya tertutup atau seperti dirampas ramuan jamu mujijat itu, namun Ni Dewi Nilamanik yang gentar menghadapi kesaktian Retna Wilis masih merasa perlu untuk membelenggunya. Pada saat itu, Ni Dewi Nilamanik duduk di atas batang pohon yang telah ditebang, bersama Wasi Bagaspati, di depan Retna Wilis yang terikat di pohon. Wasi Bagaspati kelihatan muram wajahnya dan ia mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Ni Dewi Nilamanik.
"Dia ini memang hebat sekali, Kakangmas Wasi! Semangat dan kemauannya dapat kupengaruhi, akan tetapi nafsunya tak dapat kubangkitkan. Sudah banyak jamu kuminumkan, bahkan madu asmara sudah banyak ia minum, akan tetapi keadaannya sama saja. Ia tidak terangsang. Lalu bagaimana baiknya?"
Dengan wajah murung Wasi Bagaspati mengelus jenggotnya.

<<< Bagian 190                                                                                     Bagian 192 >>>

No comments:

Post a Comment