"Babo-babo, Bagus Seta! Jangan sombong, lihat senjataku!" Tangan Wasi Bagaspati bergerak dan senjata cakra yang mencorong cahayanya telah dipegangnya. Juga Wasi Bagaskolo telah mencabut keluar sebuah senjata keris berwarna hitam yang ber-eluk tiga dan gagangnya diukir gambar kepala Bathara Kala. Keris hitam ini tidak mencorong cahayanya, akan tetapi begitu tercabut, tercium bau yang amis seperti darah dan busuk seperti bangkai.
"Sungguh sayang senjata
yang ampuh disalahgunakan!" kata Bagus Seta dan ketika kedua tangannya
bergerak, tangan kirinya telah memegang setangkai bunga cempaka putih dan
tangan kanannya telah melolos tali sutera pengikat rambutnya. Kini rambut yang
tadinya digelung ke atas itu terlepas dan terurai di kanan kiri kepalanya,
menutupi pundak, sebagian ke depan dan sebagian ke belakang. Wajah yang tampan
itu kelihatan agung dan berwibawa, namun penuh ketenangan dan kehalusan.
Sang Wasi Bagaspati
menerjang maju dengan senjata cakra di tangan, menghantam dada, sedangkan dari
sebelah kanan, Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke lambung kanan pemuda itu.
Bagus Seta tidak bergerak dari tempatnya, hanya mengembangkan kedua tangan,
kembang cempaka putih menangkis cakra, sutera pengikat rambut melecut dan menangkis
keris. Empat buah senjata aneh itu tidak sampai bersentuhan, akan tetapi
seolah-olah ada hawa yang amat kuat keluar dari benda-benda keramat itu dan
bertumbukan sehingga terdengar suara meledak-ledak.
Wasi Bagaspati dan Wasi
Bagaskolo terdorong mundur, memandang dengan mata terbelalak, hampir tidak kuat
menentang lama-lama sinar yang memancar dari sepasang mata Bagus Seta, mereka
menggerakkan kaki mundur-mundur perlahan. Pada saat itu terdengar teriakan
nyaring yang keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik,
"Retna Wilis
.....tolong .....!!!”
Ni Dewi Nilamanik telah
jatuh terjengkang disambar tendangan Joko Pramono, kebuatannya mencelat dan
kini Joko Pramono sudah meloncat maju untuk mengirim pukulan maut yang terakhir
ketika Ni Dewi Nilamanik menjerit minta tolong kepada Retna Wilis saking
takutnya menyaksikan jangkauan tangan maut yang hendak mencabut nyawanya.
Jerit melengking itu
seolah-olah menyadarkan Retna Wilis dari keadaannya yang seperti dalam mimpi.
ia terkejut, sekaligus menangkis pukulan tiga orang pengeroyoknya sehingga
Tejolaksono, Endang Patibroto dan Pusporini terlempar ke belakang, kemudian
tubuh Retna Wilis melesat ke dekat Ni Dewi Nilamanik dan sekali tangannya
mendorong ke depan, tidak saja pukulan maut Joko Pramono tertangkis, bahkan tubuh
Patih Muda Jenggala ini pun terlempar dan terbanting ke atas tanah dalam
keadaan nanar dan matanya berkunang! Endang Patibroto memekik marah, lalu
bersama-sama Tejolaksono dan Pusporini, ia menerjang maju
menghantam Retna Wilis
dengan aji pukulannya yang paling ampuh, yaitu Wisangnolo, sedangkan
Tejolaksono memukul dengan pukulan Bojrodahono, dan Pusporini menampar dengan
aji pukulan Pethit Nogo. Kini dalam keadaan marah sekali, tiga orang gagah ini
sekaligus menyerang dengan sepenuh tenaga.
"Buk, plak, plak!"
Tiga pukulan itu diterima oleh Retna Wilis yang mengerahkan kesaktiannya, dan
kedua tangannya mendorong. Tubuhnya terkena hantaman tiga pukulan sakti itu dan
tergetar, akan tetapi tiga orang lawannya terlempar seperti daun kering tertiup
angin dan terbanting roboh keras sekali dalam keadaan pingsan!
"Terlalu ......!” Bagus
Seta berkelebat datang, namun terlambat karena tiga orang sakti itu telah
terlempar. Melihat kedatangan Bagus Seta, Retna Wilis kembali mendorongkan
kedua tangannya. Bagus Seta menerima dengan telapak tangan pula.
"Dessss!" Kini
tubuh Retna Wilis yang terpental ke belakang dan roboh terguling. Pada saat itu
terdengar pekik nyaring sekali yang keluar dari mulut Wasi Bagaspati dan
tiba-tiba tempat itu menjadi gelap oleh uap hitam seperti mendung tebal. Para
prajurit Jenggala dan Panjalu menjadi panik, apalagi ketika dari gumpalan uap
hitam itu menyambar-nyambar kilat yang merobohkan banyak orang, dan terdengar
desis menyeramkan dari ratusan ekor ular yang merayap-rayap dan menyerang prajurit-prajurit
itu! Mereka menjadi ketakutan, menjerit-jerit dan ada pula yang lari.
Bagus Seta cepat memejamkan
mata mengerahkan kekuatan batinnya, kemudian bertepuk tangan tiga kali. Tepukan
tangan ini menimbulkan bunyi seperti guntur menggelepar dan seketika lenyaplah
uap hitam yang ditimbulkan oleh ilmu hitam Wasi Bagaspati, dan ular-ular yang
diciptakan Wasi Bagaskolo kini ternyata hanya segenggam daun kamboja kering!
Para prajurit tidak panik lagi dan dengan penuh semangat mereka menyerbu ke
atas. Bagus Seta memandang dan ternyata Retna Wilis, Wasi Bagaspati, Wasi
Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik telah lenyap dari situ. Akan tetapi dia tidak
ingin mengejar karena ia harus cepat menolong Tejolaksono, Endang Patibroto,
dan Pusporini yang masih pingsan. Joko Pramono juga cepat menghampiri
isterinya.
Setelah memeriksa sebentar,
Bagus Seta menarik napas panjang.
"Hebat sekali tenaga
saktinya, akan tetapi syukur kepada Dewata bahwa dia tidak sampai membunuh ayah
bundanya sendiri. Paman, harap jangan khawatir. Mereka hanya pingsan oleh
getaran hawa sakti, sebentar lagi tentu siuman kembali."
Benar saja, tak lama
kemudian tiga orang sakti itu siuman dan tidak mengalami luka. Mereka lalu
memimpin pasukan menyerbu terus ke puncak Wilis. Bala tentara Wilis yang kehilangan
pimpinan, bahkan Patih Adiwijaya juga lenyap tanpa pamit, segera membuang
senjata dan berlutut, menakluk.
Tejolaksono lalu
memerintahkan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis untuk mengatur keadaan
Wilis dan memulihkan keamanan, karena ketiga orang tokoh itu lebih mengenal
keadaan. Kemudian ia membicarakan tentang lenyapnya Retna Wilis.
"Apakah yang terjadi,
Puteraku?" tanyanya kepada Bagus Seta.
"Bagaimana Retna Wilis
dapat lenyap?" Bagus Seta menceritakan keadaan tadi dan dia sendiri tidak
tahu ke mana perginya Retna Wilis, kedua orang Wasi, dan Ni Dewi Nilamanik.
Seorang di antara Para prajurit taklukan yang ditanya segera mengaku bahwa tadi
ia melihat Retna Wilis dalam keadaan pingsan dipondong pergi oleh Wasi
Bagaspati yang melarikan diri bersama Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik dan Ki
Patih Adiwijaya, memimpin pasukan siluman yang terdiri dari beberapa ratus
orang, menuju ke selatan.
"Kita harus
mengejarnya! Aku amat mengkhawatirkan keadaan Retna Wilis," kata
Tejolaksono mengerutkan kening.
"Hemm, bocah durhaka
macam itu perlu apa ditolong? Biarkan dia bersama sekutunya yang jahat!"
dengus Endang Patibroto dengan hati sakit.
Tejolaksono memegang kedua
pundak isterinya dan memaksa isterinya bertemu pandang dengan dia.
"Diajeng, betapa
mungkin hati orang tua menegakan anaknya? Aku tahu bahwa engkau pun hanya
terdorong oleh kemarahan, akan tetapi di dasar hatimu, engkau amat mencinta
puteri kita itu ..”
Endang Patibroto tersedu dan
menyembunyikan muka di dada suaminya, menangis terisak-isak. Joko Pramono dan
Pusporini memandang penuh keharuan. Bagus Seta menghela napas panjang.
"Memang tepat apa yang
diucapkan Kanjeng Rama. Kita harus menolongnya, bukan semata-mata karena dia
keluarga kita, melainkan terutama sekali untuk menghalangi perbuatan keji
manusia sesat seperti Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Marilah kita mengejar
ke selatan sebelum terlambat."
Serentak keluarga yang sakti
itu berangkat mengejar, menuju ke selatan, tidak ingat lagi akan tubuh mereka
yang lelah sehabis mengalami pertandingan yang dahsyat itu.
Apakah yang telah terjadi
dengan Retna Wilis? Ke mana perginya? Seorang yang memiliki watak keras,
angkuh, dan aneh sekali seperti dara perkasa itu memang tidak mungkin kalau
melarikan diri menghadapi kekalahan dalam pertandingan. Endang Patibroto maklum
akan hal ini karena dia sendiri pun dahulu merupakan seorang wanita keras hati
yang tidak pernah mau kalah atau menyerah, apalagi melarikan diri! Padahal
watak puterinya lebih keras lagi, dan jauh lebih aneh. Memang Retna Wilis sama sekali
tidaklah melarikan diri, melainkan dilarikan oleh Wasi Bagaspati. Kakek ini
sejak pertama kali dikecewakan Retna Wilis, yaitu ketika mereka menyerbu ke
Jenggala dan Retna Wilis tidak mau terus menduduki Kota Raja Jenggala, telah
menaruh curiga kepada Retna Wilis. Diam-diam ia menyatakan ketidakpuasan
hatinya itu kepada Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik, menyatakan bahwa
sungguhpun Retna Wilis memiliki kesaktian yang boleh diandalkan, namun dara itu
bukan merupakan sekutu yang baik dan masih mempunyai hati sungkan dan sayang
kepada keluarganya, maka ia memesan agar pembantu-pembantunya berhati-hati.
Ketika barisan Jenggala dan
Panjalu datang menyerbu, diam-diam ia sudah mengatur siasat dengan para
pembantunya, menyatakan bahwa apabila keadaan tidak menguntungkan, agar
melarikan diri dan ia akan berusaha menculik Retna Wilis. Maka ketika ia
melihat bahwa tepat seperti dugaannya, Retna Wilis yang menghadapi ayah bunda
dan bibinya itu tidak bertanding sungguh-sungguh, tidak mau membunuh mereka,
bahkan tidak mau membantu kedua orang kakek melawan Bagus Seta, apalagi ketika
ternyata betapa barisan Wilis tidak mampu membendung penyerbuan barisan musuh
yang jauh lebih kuat, Wasi Bagaspati lalu mempergunakan siasat. Dia harus
mengakui bahwa menculik seorang yang sakti mandraguna seperti Retna Wilis
bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi ia melihat kesempatan yang baik ketika
Retna Wilis terlempar dalam benturan tenaga sakti melawan Bagus Seta. Maka ia
menggunakan ilmu hitamnya, membuat tempat itu menjadi gelap oleh awan hitam,
kemudian secepat kilat ia mendekati Retna Wilis yang roboh terguling dan masih
pening itu dan menggunakan kesaktiannya untuk mengetok tengkuk Retna Wilis
dengan jari tangannya sehingga dara perkasa yang sudah nanar dan tidak
menyangka-nyangka karena mengira bahwa kakek itu hendak menolongnya, menjadi
pingsan. Dengan mudah Wasi Bagaspati lalu memondong tubuh Retna Wilis, kemudian
pergi melarikan diri bersama Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik, dan Adiwijaya
yang telah berhasil menarik kepercayaan Wasi Bagaspati. Karena kakek ini
menganggap bahwa Adiwijaya seorang yang cerdik dan pandai mengatur siasat, pula
yang telah ia ketahui "sepak terjangnya" semenjak menjadi Patih
Warutama di Jenggala, maka ia tidak ragu-ragu lagi bahwa Adiwijaya bukanlah
orang setia kepada Retna Wilis. Dalam hal ini, Wasi Bagaspati telah salah duga
dan kembali membuktikan pandainya Adiwijaya bermain sandiwara sehingga seorang
seperti Wasi Bagaspati yang sudah kawakan dan berpengalaman pun dapat ia
kelabui. Sebelah utara pantai laut selatan terdapat barisan gunung-gunung, yang
memanjang dari barat sampai ke utara dan lajim disebut pegunungan Seribu.
Memang amat banyak gunung-gunung dalam barisan ini, sukar dihitung jumlahnya
dan mungkin lebih dari seribu gunung kecil-kecil yang sebagian besar adalah
gunung batu gamping. Kekuasaan alam memang hebat dan aneh. Barisan gunung
Seribu ini seolah-olah merupakan tanggul yang menjaga daratan Pulau Jawa agar
jangan sampai diamuk ombak laut kidul yang dahsyat!
Sisa pasukan yang melarikan
diri bersama Wasi Bagaspati bersembunyi di sebuah di antara pegunungan ini, di
daerah yang tidak begitu tandus sehingga mereka dapat tinggal di sutu tanpa
dapat dilihat orang dari jauh. Retna Wilis yang dilarikan Wasi Bagaspati juga
dibawa ke gunung kecil ini. Dalam perjalanan melarikan diri, Retna Wilis telah
diberi minum jamu buatan Ni Dewi Nilamanik yang disebut "madu perampas
semangat", sehingga ketika Retna Wilis siuman dari pingsannya, ia seperti
orang yang tidak mempunyai semangat dan kemauan lagi. Ia lupa segala dan hanya
menurut apa yang dikatakan Ni Dewi Nilamanik atau Wasi Bagaspati. Adiwijaya
yang menyaksikan keadaan junjungannya itu, menjadi gelisah dan prihatin sekali.
Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan ia setiap saat memutar otak
untuk mencari akal agar dapat membebaskan Retna Wilis. Kalau saja tidak untuk
membela gadis itu, tentu dia tidak sudi ikut melarikan diri bersama Wasi
Bagaspati, dan sudah pergi sendiri merantau ke tempat jauh. Namun, tak mungkin
ia dapat meninggalkan Retna Wilis dan kalau perlu ia berani mempertaruhkan
nyawa untuk menyelamatkan dara itu. Tentu saja ia tidak mau berbuat sembrono
mempergunakan kekerasan, karena kalau hal ini ia lakukan, ia tidak akan
berhasil menyelamatkan Retna Wilis, juga berarti ia hanya akan mengorbankan
nyawa dengan sia-sia belaka. Ia harus menggunakan akal, dan memang amatlah
sukar untuk melawan orang-orang yang sakti dan cerdik seperti Wasi Bagaspati
dan kawan-kawannya, ia harus menanti kesempatan baik untuk itu. Retna Wilis
bersandar di batang pohon dalam keadaan terikat. Ia menundukkan mukanya yang
agak pucat, tubuhnya lemas dan pandangan matanya tidak hidup, seperti mata
orang mimpi atau termenung dalam sekali. Ia berada dalam pengaruh jamu yang
setiap hari diminumkan kepadanya secara paksa oleh Ni Dewi Nilamanik. Biarpun
dara perkasa ini sudah tidak berdaya karena semangatnya tertutup atau seperti
dirampas ramuan jamu mujijat itu, namun Ni Dewi Nilamanik yang gentar
menghadapi kesaktian Retna Wilis masih merasa perlu untuk membelenggunya. Pada
saat itu, Ni Dewi Nilamanik duduk di atas batang pohon yang telah ditebang,
bersama Wasi Bagaspati, di depan Retna Wilis yang terikat di pohon. Wasi
Bagaspati kelihatan muram wajahnya dan ia mendengarkan keterangan yang
diberikan oleh Ni Dewi Nilamanik.
"Dia ini memang hebat
sekali, Kakangmas Wasi! Semangat dan kemauannya dapat kupengaruhi, akan tetapi
nafsunya tak dapat kubangkitkan. Sudah banyak jamu kuminumkan, bahkan madu
asmara sudah banyak ia minum, akan tetapi keadaannya sama saja. Ia tidak
terangsang. Lalu bagaimana baiknya?"
Dengan wajah murung Wasi
Bagaspati mengelus jenggotnya.
No comments:
Post a Comment