Perawan Lembah Wilis; Bagian 192


"Sudah tiga hari kita berada di sini. Kalau sampai mereka datang menyusul, kita bisa celaka. Aku harus dapat menguasai bocah ini, karena dengan bantuan kesaktiannya, baru aku akan dapat menghadapi si keparat Bagus Seta, bersama adi Bagaskolo. Akan tetapi kalau dia ini tidak dapat dikuasai, tentu celaka. Hemm ........ , siapa tahu keadaan hati bocah ini. Kalau ia membalik, mengkhianati dan melawan kita, bisa konyol kita! Daripada demikian, lebih baik kubunuh saja dia sekarang!"
Ni Dewi Nilamanik mengerlingkan matanya yang indah dan bibirnya yang merah merekah.
"Kakangmas Wasi, dari dulu juga aku tidak suka kepadanya dan menaruh curiga. Memang kurasa lebih baik dibunuh saja bocah ini, karena kelak hanya akan menimbulkan kesusahan saja bagi kita." Tiba-tiba Wasi Bagaspati menoleh ke arah pohon-pohon di belakangnya dan membentak,
"Siapa di sana??" Pendengaran kakek ini memang tajam sekali sehingga ia dapat mendengar suara napas Adiwijaya yang tersentak kaget mendengar betapa Retna Wilis akan dibunuh. Adiwijaya cepat muncul keluar dan menghadap mereka, duduk di atas tanah.
"Saya sengaja mencari Paduka, karena merasa cemas mengapa sampai sekarang masih belum diambil keputusan mengenai bocah liar ini." Ia menuding ke arah Retna Wilis yang masih menunduk seolah-olah tidak mendengar apa yang dibicarakan di depannya.
"Kalau tidak segera diambil keputusan mengenai dirinya, tentu akan berbahaya sekali. Saya berani bertaruh bahwa saat ini pihak Panjalu dan Jenggala tentu sedang berusaha keras untuk mencari kita dan menolongnya."

Wasi Bagaspati termenung dan mengomel,
"Memang aku dan Ni Dewi sedang membicarakan tentang dia. Aku mengambil keputusan untuk membunuh saja bocah ini!" Sambil berkata demikian, kakek itu menatap wajah Adiwijaya dengan penuh perhatian, amat tajam dah seolah-olah hendak menjenguk isi hati Adiwijaya. Laki-laki ini menekan keras batinnya yang terguncang dan dia menggeleng-geleng kepala.
"Kalau saja ia tidak berguna, memang lebih baik dibunuh. Akan tetapi kalau dia dibunuh, rencana kita akan macet semua, Sang Wasi. Kita sudah kehilangan banyak tenaga pembantu yang cakap, bahkan Cekel Wisangkoro pun sudah gugur. Bocah ini merupakan tenaga yang amat cakap, memiliki kesakitan yang kiranya akan dapat menandingi Bagus Seta. Kalau dibunuh, berarti kita merugikan diri sendiri."
"Hemm, kalau begitu, menurut pendapatmu bagaimana baiknya?"
Sejenak Adiwijaya bingung. Dia pun tidak tahu bagaimana baiknya dan tadi ia mengeluarkan kata-kata itu hanya untuk mencegah gadis ini dibunuh. Otaknya bekerja cepat. Pokoknya asal gadis ini terhindar daripada bahaya maut lebih dulu, pikirnya.
"Bukankah saya telah menganjurkan agar Paduka menundukkan dia dengan pengaruh kesaktian Paduka, agar dia menjadi isteri Paduka sehingga dengan demikian dia akan membantu segala usaha Paduka dengan penuh kesetiaan?"
"Aahhh, usaha itu telah kami lakukan," kata Ni Dewi Nilamanik sambil memandang wajah Adiwijaya yang masih tampan dan gagah itu.
"Sudah banyak obat guna-guna kumasukkan, akan tetapi agaknya dasar hati bocah ini masih terlalu kosong dan bersih sehingga tidak mempan. Jamu-jamu perangsang pun tidak ada gunanya, agaknya dia tidak mempunyai nafsu berahi!"
Adiwijaya memandang Ni Dewi Nilamanik dengan hati ngeri dan bulu tengkuk meremang. Betapa cantiknya wanita ini dan dia sendiri sudah beberapa kali merasakan kelembutan dan kenikmatan bersama wanita cantik ini berenang dalam cinta, bersama-sama mereguk madu asmara yang memabukkan. Betapa indah sepasang mata itu, betapa menggairahkan dan menantang mulut yang merah itu, betapa halus kuning kulitnya. Akan tetapi betapa keji hatinya. Teringat Adiwijaya akan buah mangga yang melihat kehalusan dan warna kulitnya menimbulkan gairah, akan tetapi yang kemudian ternyata betapa di balik kulit yang halus kemerahan dan sedap maunya itu tersembunyi daging busuk yang masam dan banyak ulatnya! Betapapun benci hatinya mendengar perlakuan wanita ini terhadap Retna Wilis, ia memaksa diri tersenyum dan berkata,
"Ni Dewi, dan Sang Wasi. Betapapun juga, harus diusahakan agar bocah liar ini dapat tunduk dan menurut kepada Paduka. Dengan kekerasan kita gagal, namun kalau dia ini dapat dikuasai, kemudian secara halus Paduka, dibantu oleh Sang Wasi Bagaskolo, dan Retna Wilis ini mendatangi Panjalu dan Jenggala, membunuh para tokoh yang berkuasa di sana, saya kira tidak akan sukar lagi kalau kemudian kita mengerahkan barisan untuk menaklukkan dua kerajaan itu. Saya sendiri sanggup untuk menghimpun pasukan yang cukup besar."
"Akan tetapi bagaimana? Dia tidak mudah dipengaruhi guna-guna ..." kata kakek itu kehilangan akal karena belum pernah ia menghadapi seorang korban yang begini ulet seperti Retna Wilis.
"Mengapa tidak dapat, Sang Wasi? Saya pernah menyaksikan pengaruh gaib yang datang mempengaruhi jiwa para wanita di waktu diadakan upacara pemujaan Sang Bathari Durgo. Mengapa tidak mengandalkan kekuasaan dan bantuan Sang Bathari? Andaikata pengaruh gaib itu masih tidak mempan, Paduka dapat melakukan kekerasan dan saya rasa, sekali dia ini telah Paduka renggut kehormatan tubuhnya, kemudian saya sendiri akan mempengaruhinya dengan nasehat-nasehat, percayalah, dia boleh dibebaskan dari pengaruh jamu perampas semangat dan dalam keadaan sadar itu dia tentu akan tunduk. Kalau dia, biarpun terjadi di luar kehendaknya, telah menjadi isteri Paduka, dan mendengarkan nasehat-nasehat saya, kiranya dia akan melihat kenyataan bahwa tidak ada jalan lain baginya kecuali melanjutkan cita-citanya dengan bantuan Paduka Sang Wasi."
Wasi Bagaspati mengangguk-angguk dan lenyaplah sedikit kecurigaannya terhadap Adiwijaya yang muncul secara tiba-tiba itu.
"Kurasa benar apa yang ia katakan itu, Ni Dewi. Buatlah persiapan, malam nanti kita adakan upacara pemujaan Sang Bathari dan kita lihat hasilnya!"
"Akan tetapi, malam hari ini bulan belum purnama, Kakangmas Wasi, dan pengaruh hikmat itu tidaklah amat kuat ……….”
"Tidak apa. Kalau terlalu lama ditunda, khawatir terlambat. Siapa tahu Bagus Seta sudah mencari sampai dekat tempat ini. Andaikata tidak berhasil, masih belum terlambat untuk membunuhnya!"

Pada malam hari itu, di sebuah lapangan terbuka di puncak gunung kecil, dikelilingi pohon-pohon jarang yang tumbuhnya tidak subur di daerah kapur itu, diadakan tari-tarian seperti biasa dilakukan pada upacara pemujaan Sang Bathari Durgo. Sebuah arca Bathari Durgo berdiri di sudut, di samping kiri kursi tempat duduk Sang Wasi Bagaspati. Karena mereka tidak ingin menarik perhatian, maka dalam upacara tari-tarian ini tidak diitingi suara gamelan, melainkan diiringi suara wanita-wanita cantik bertembang dengan tepuk tangan dan berkerincingnya gelang kaki. Upacara tari-tarian ini amat sederhana, akan tetapi karena sekali ini yang menari-nari, di samping tiga orang gadis cantik, juga diikuti oleh Ni Dewi Nilamanik sendiri yang ternyata amat pandai menari dengan pakaian setengah telanjang sehingga tampak lekuk- lengkung tubuhnya yang menggairahkan dan amat mengherankan karena usianya yang sudah tua itu ternyata tidak menghilangkan keindahan tubuhnya, maka tari-tarian itu amat menggairahkan. Selain Ni Dewi Nilamanik dan tiga orang pembantunya, juga tampak seorang gadis yang amat cantik jelita, kecantikannya cemerlang dan menyuramkan kecantikan wanita lain, bahkan Ni Dewi Nilamanik kelihatan tidak menarik. Akan tetapi sungguh sayang, kalau Ni Dewi Nilamanik dan tiga orang pembantunya menari-nari dengan gerakan lemah-gemulai dan menimbulkan rangsangan berahi dengan gerakan-gerakan leher, pundak, perut, dan pinggul, adalah dara cantik ini menari-nari dengan gerakan lucu dan kaku. Dia bukan menari, melainkan bersilat! Kalau empat orang penari lain melakukan gerakan dengan lengan lemas seperti orang melambai dan mengajak disertai senyum memikat, dara ini menggerakkan tangan ke depan dengan kaku, jari-jarinya terbuka dan bukan melambai, melainkan lebih tepat memukul atau menampar musuh! Kalau penari yang membuang sampur ke sisi dengan gerakan lincah dan mata mengerling mulut tersenyum, dara ini membuang lengan ke sisi dengan gerakan cepat seperti orang menangkis pukulan atau tendangan lawan! Dara cantik jelita yang memiliki tubuh indah menggairahkan seperti bunga sedang mekar atau buah sedang ranum ini bukan lain adalah Retna Wilis. Ni Dewi Nilamanik menari-nari di depan Retna Wilis, membujuk-bujuk dan memberi contoh gerakan tari yang dikuti dengan patuh oleh Retna Wilis dengan gerakannya yang kaku. Dari tempat duduknya, Wasi Bagaspati yang mengenakan pakaian merah serba baru itu memandang penuh perhatian dan ia tersenyum gembira. Biarpun tarian dara perkasa itu tidak indah, namun gerakan-gerakan tubuhnya membayangkan kelemasan dan kelembutan yang tersembunyi tenaga mujijat. Melihat betapa mulut yang segar dan manis itu mulai tersenyum-senyum, dengan hati girang Wasi Bagaspati mengerti bahwa biarpun tidak sepenuhnya, namun dara itu mulai terkena pengaruh hikmat gairah nafsu berahi yang amat merangsang di saat itu, terbawa oleh asap dupa dan dibangkitkan oleh tari-tarian yang membayangkan dorongan nafsu berahi. Ia akan berhasil, pikirnya. Kalau Retna Wilis menyerahkan kehormatannya tanpa paksaan, tentu dara ini setelah sadar akan tunduk dan mudah ia kuasai. Tari-tarian mencapai puncaknya menjelang tengah malam. Ni Dewi Nilamanik yang mengerahkan aji mantera guna-guna sambil menari-nari menyentuh, mengelus dan membelai bagian tubuh Retna Wilis yang mudah terangsang, untuk membangkitkan berahi gadis itu. Suasana di situ penuh dengan pengaruh mujijat sehingga Adiwijaya sendiri yang duduk menonton, tak dapat menahan getaran yang merangsang dan membangkitkan nafsu.

Ia memandangi penari-penari itu dengan mata lapar dan liar seolah-olah hendak dilahapnya tubuh-tubuh yang montok setengah telanjang itu. Akan tetapi kalau ia melihat Retna Wilis, seketika nafsu berahinya lenyap terganti rasa gelisah. Ia menanti saat sebaiknya untuk bertindak. Sampai malam ini, ia telah berhasil menyelamatkan nyawa gadis pujaannya itu, sehingga tidak sampai dibunuh. Akan tetapi ia tahu bahwa nasib yang lebih mengerikan menanti diri Retna Wilis dan ia harus merenggut dara itu dari tangan Wasi Bagaspati, kalau perlu ia akan berkorban nyawa. Retna Wilis yang menjadi murid Nini Bumigarba dan sudah digembleng dengan segala macam ilmu, yang keras hati dan berperasaan dingin, betapapun juga hanya seorang manusia dari darah daging. Kini ia berada di bawah kekuasaan yang tidak wajar, di bawah pengaruh jamu perampas semangat sehingga ia seperti orang kehilangan ingatan dan kemauan. Kemudian, di bawah hikmat malam pemujaan Sang Bathari Durgo yang seperti ayunan ombak laut memabukkan, perlahan-lahan ia hanyut dan terbawa, apalagi ditambah belain-belaian tangan Ni Dewi Nilamanik, mendengarkan bisikan-bisikan tentang cinta nafsu, tentang kenikmatan badani, ia makin hanyut dan sepasang matanya mulai bersinar-sinar dan seperti mata orang mengantuk, tanda bahwa ia mulai terangsang. Sambil menari, Ni Dewi Nilamanik memberi isyarat kepada Wasi Bagaspati yang tertawa lebar, bangkit berdiri dan menghampiri tempat tarian, mendekati Retna Wilis dan memegang tangan gadis itu yang memandangnya dengan mata sayu.
"Marilah, Retna Wilis, marilah isteriku yang tercinta. Mari kuberikan cintaku untuk memuaskan dahaga hatimu .......” ia berkata lalu menuntun Retna Wilis turun dari tempat tarian menuju ke sebuah pondok yang dibangun di tempat itu. Retna Wilis hanya menurut saja, kedua lengannya masih bergerak-gerak seperti orang menari, tidak membantah sedikit pun juga seperti seekor domba yang dituntun ke tempat penyembelihan!
Perbuatan Wasi Bagaspati ini seolah-olah merupakan pertanda bagi para penari dan yang hadir di situ untuk mulai dengan pesta gila-gilaan. Tiga puluh orang wanita anggauta pasukan Ni Dewi Nilamanik menyerbu ke tempat tari-tarian diikuti anggauta pasukan pria dan mereka mulai menari sambil berpelukan, berdekapan dan berciuman. Ni Devil Nilamanik sendiri yang sudah terangsang hebat, mencari-cari dengan pandang matanya. Akan tetapi Adiwijaya yang dicarinya tidak tampak di situ, maka ketika Wasi Bagaskolo sambil tertawa memeluk pinggangnya, ia pun balas memeluk leher kakek itu sambil mengeluarkan suara merintih seperti seekor kucing dielus-elus punggungnya!
"Sang Wasi Bagaspati ....! Celaka .... !!" Pintu pondok itu didorong terbuka dari luar oleh Adiwijaya. Wasi Bagaspati yang sudah membuka jubahnya itu cepat membalikkan tubuh dengan sikap marah karena terganggu, ia mengikatkan lagi ikat pinggangnya di luar jubah dan membentak,
"Keparat, Adiwijaya! Apa kehendakmu?"
Adiwijaya melirik ke arah Retna Wilis yang tergolek terlentang di atas pembaringan dan diam-diam mengucap syukur bahwa ia tidak terlambat, hanya selendang yang tadi menutupi dada Retna Wilis yang sudah terbuka. Gadis ini memejamkan mata dan bibirnya tersenyum lebar!
"Celaka, Sang Wasi ....ada serbuan ......dipimpin oleh Bagus Seta .....Mereka .... mereka datang dari lereng di timur .....cepat ...biar saya berusaha menyadarkan Retna Wilis dan membujuknya agar ia dapat membantu kita!"
"Sialan ...!” Wasi Bagaspati mendengus, lalu melompat ke pintu, akan tetapi ia teringat, mengeluarkan sebungkus obat dari saku jubahnya kepada Adiwijaya,
"Nih, kausadarkan dia dan bujuk sampai dia dapat membantu!" lalu tubuhnya berkelebat keluar dari pondok.

<<< Bagian 191                                                                                      Bagian 193 >>>

No comments:

Post a Comment