Adiwijaya cepat menghampiri Retna Wilis, dengan jari-jari tangan gemetar ia memasangkan kembali selendang menutupi dada yang terbuka itu, kemudian membuka bungkusan obat dan setengah memaksa membuka mulut Retna Wilis, menuangkan isi bungkusan yang berwarna bubuk putih ke mulut dara itu. Retna Wilis tidak membantah, dan sambil tersenyum menelan obat itu dan lengannya yang halus itu merangkul leher AdiwiJaya.
"Aduh ... Gusti Puteri
.. sadarlah ....ahhh, lekas sadar dan mari lari bersama hamba !" Dengan
halus ia melepaskan rangkulan lengan itu dari lehernya, menarik tangan Retna
Wilis bangkit dan turun dari pembaringan, kemudian terus menyeretnya keluar.
Ketika Retna Wilis terhuyung seperti orang lemas, bahkan kini matanya dipejamkan
dan napasnya menjadi panjang teratur seperti orang tidur, ia cepat memondong
tubuh Retna Wilis dan membawanya lari keluar, menghilang di tempat gelap.
Wasi Bagaspati dengan marah
menendangi para pengikut yang sedang bermain asmara secara tidak tahu malu di
sembarang tempat, bahkan menyeret bangun Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik
dari bawah pohon di mana kedua orang itu tenggelam dalam lautan cinta berahi.
"Bedebah semua! Keparat
sembrono, tidak tahu ada musuh menyerbu! Cepat, siapkan semua orang. Bagus Seta
dan pasukannya menyerbu dari lereng di timur. Cepat!" Bentakan Wasi
Bagaspati ini mengagetkan semua orang. Disebutnya nama Bagus Seta sekaligus
mengusir semua rangsangan berahi yang mempengaruhi mereka dan kini mereka sudah
meloncat bangun dan siap bertempur.
Keadaan menjadi panik dan
lucu. Mereka lari saling tabrak, ada yang telanjang bulat, ada yang setengah
telanjang dan sambil lari mereka berusaha membetulkan pakaian mereka, bahkan
ada yang terbelit kaki mereka oleh pakaian sendiri sehingga jatuh
tunggang-langgang dan berteriak-teriak karena mengira bahwa mereka sudah
diserbu musuh dan dirobohkan lawan! Sang Wasi Bagaspati, diikuti oleh Wasi
Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik lari ke timur dan karena bulan yang hanya
sepotong itu tertutup awan, maka mereka berhati-hati melalui lereng yang belum
mereka kenal baik itu. Sampai jauh mereka menuruni lereng, akan tetapi keadaan
di situ sunyi saja. Mereka berhenti dan memandang penuh perhatian ke bawah,
meneliti kalau-kalau dapat melihat obor atau pergerakan. Namun sunyi saja dan
suara monyet cecowetan diseling suara burung malam menandakan bahwa di bawah
sana pun tidak ada manusianya!
"Wah, jangan-jangan
kita tertipu ... !" kata Ni Dewi Nilamanik, tidak berani mengatakan bahwa
Sang Wasi Bagaspati yang sebenarnya tertipu.
"Si keparat Adiwijaya,
kalau betul berani menipu, kuhancurkan kepalanya!" Wasi Bagaspati berseru
dan berkelebat kembali mendaki puncak, diikuti oleh adik seperguruannya yang
diam-diam mendongkol karena ia telah diganggu, dan Ni Dewi Nilamanik.
"Mana musuhnya?"
"Mana pasukan
Jenggala?"
Pertanyaan-pertanyaan yang
terdengar dari mulut para anak buahnya itu membuat Wasi Bagaspati makin marah
dan kakinya menendang ke kanan kiri sehingga para anak buahnya yang sudah panik
menjadi makin bingung dan mawut. Wasi Bagaspati menendang pintu pondok sehingga
daun pintu terlempar, kemudian ia menerjang masuk sambil memaki,
"Adiwijaya pengkhianat
laknat!" Akan tetapi, ketika ia memasuki pondok, tentu saja ia tidak lagi
dapat menemukan Adiwijaya dan Retna Wilis.
"Ah, mereka telah
melarikan diri . ..!" Ni Dewi Nilamanik berseru.
"Retna Wilis tak
mungkin lari, akan tetapi dilarikan oleh bedebah itu. Kita harus kejar, cari
sampai dapat!" ia lalu melompat keluar lagi diikuti oleh adik
seperguruannya, sedangkan Ni Dewi Nilamanik keluar dari pondok untuk memimpin
anak buah mereka mencari Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis.
Setelah malam berganti pagi,
barulah Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo dapat menyusul dan menemukan
Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis sampai di pantai laut selatan sebelah
barat. Adiwijaya yang cerdik sengaja lari ke barat setelah menipu Wasi
Bagaspati dengan mengatakan bahwa musuh datang dart timur.
Akan tetapi, betapapun
cepatnya ia lari, tentu saja ia tidak dapat menangkan kecepatan larinya kedua
orang kakek yang amat sakti itu.
"Adiwijaya, manusia
khianat yang ingin mampus!" Wasi Bagaspati membentak dan biarpun ia masih
jauh di belakang, suaranya sudah terdengar dekat sekali sehingga Adiwijaya
menjadi terkejut dan menghentikan larinya, memutar tubuh dan memandang kedua
kakek yang berlari makin dekat itu dengan wajah pucat. Retna Wilis baru
setengah sadar, maka ia terhuyung-huyung lalu jatuh terduduk di atas pasir,
menaandang bengong dan seperti orang terheran-heran.
"Ampun .....Sang Wasi........!"
Adiwijaya berkata ketika kedua orang kakek itu sudah datang dekat.
"Saya ....saya tidak
bermaksud buruk ....!!”
"Jahanam! Pengkhianat!
Engkau sengaja menipuku dan hendak melarikan Retna Wilis?"
"Ampun ....Retna Wilis
tidak lari, hanya hamba....hamba terangsang sekali semalam, ingin ...
memilikinya.... hamba yang bersalah .... dia tidak tahu apa-apa ..... "
Dalam keadaan yang amat gawat ini Adiwijaya masih ingat untuk membela Retna
Wilis dan menimpakan semua kesalahan di pundaknya. Biarlah ia mati asalkan
Retna Wilis selamat, pikirnya.
"Ha-ha-ha, pandai
sekali memutar lidah. Memang engkau seorang yang amat pandai menipu dan cerdik
sekali, akan tetapi sekarang aku tidak lagi mau ditipu dua kali, dan engkau
harus mampus!"
Sambil berkata demikian,
Wasi Bagaspati memukul dari jarak jauh dengan pukulan sakti. Angin pukulan yang
keras meniup ke arah Adiwijaya. Akan tetapi dengan cekatan sekali Adiwijaya
melompat ke kiri, mengelak sehingga pukulan itu hanya mengenai pasir yang
membuat pasir berhamburan.
"Hemmm, kiranya engkau
juga berani melawanku?"
"Wasi Bagaspati, di
saat terakhir ini biarlah aku membuat pengakuan. Dengarlah baik-baik. Aku
adalah hamba dari Gusti Puteri Retna Wilis, lahir batin. Aku selamanya, sejak
dahulu sampai mati sekalipun, akan tetap setia kepadanya. Aku yang mengusulkan
agar dia suka bersekutu denganmu untuk mencapai cita-citanya. Akan tetapi
ternyata engkau mengkhianatinya, juga berniat buruk terhadap dirinya. Aku harus
menyelamatkannya, membebaskannya dari tanganmu yang keji! Dan biarpun aku
maklum bahwa aku bukan lawanmu, namun aku bersumpah untuk membela gustiku Retna
Wilis dan melawanmu sampai detik terakhir!"
"Ha-ha-ha, manusia
macam engkau masih bicara tentang kesetiaan! Lupakah engkau akan
perbuatan-perbuatanmu dahulu di Jenggala?"
"Wasi Bagaspati,
sekali-kali akan tiba saatnya bagi setiap orang manusia untuk menyesali
perbuatan-perbuatannya yang lalu. Setelah berjumpa dengan gustiku Retna Wilis,
aku sadar dan aku siap menerima segala hukuman atas dosa-dosaku. Akan tetapi kesetiaanku
terhadap gustiku ini adalah tulus ikhlas, dan boleh engkau mentertawakan aku
sekarang, karena kelak akan tiba saatnya pula bagimu untuk menyesali
perbuatanmu atau kalau tidak, engkau akan terlambat!"
"Keparat, terimalah
kematianmu!" Kini tubuh Wasi Bagaspati menerjang ke depan. Ia tahu bahwa
laki-laki itu memiliki ketangkasan yang cukup sehingga kalau diserang dari
jarak jauh akan memakan waktu lama dan membuang tenaga sia-sia belaka.
"Wuuuuuttttt
.....!" Pukulan tangan kiri yang menampar dari samping itu hebat bukan
main. Terasa oleh Adiwijaya angin berhembus kuat dan seolah-olah lengan kakek
itu seperti pohon besar tumbang menimpanya. Ia cepat meloncat dan mengelak,
akan tetapi angin pukulannya masih mendorongnya sehingga ia roboh. Biarpun demikian,
dengan ajinya Trenggiling Wesi, begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan
dan dapat meloncat bangun tanpa terluka.
"Wah, lumayan juga
ilmumu itu!" Wasi Bagaspati mengejek dan kembali ia melangkah maju dan
mengirim pukulan dengan kedua yang berganti-ganti menampar dari kanan kiri.
Memang tingkat kesaktian
Adiwijaya jauh berada di bawah tingkat Wasi Bagaspati maka serangan ini membuat
Adiwijaya menjadi repot sekali. Mengelak ke kiri, dipapaki tangan kanan,
meloncat ke kanan, dihantam oleh tangan kiri. ia memiliki kecepatan, akan
tetapi kini pukulan- pukulan dari kedua tangan Wasi Bagaspati mengandung hawa
pukulan yang lebih cepat daripada gerakan tubuhnya, maka berkali-kali Adiwijaya
terbanting keras dan hanya oleh ajinya Trenggiling Wesi saja ia mampu meloncat
bangun setelah bergulingan. Makin lama makin pening kepalanya, dan setiap kali
meloncat bangun, ia terhuyung-huyung. Akan tetapi, seperti yang diucapkannya
tadi, ia nekat dan mengambil keputusan untuk melawan sampai detik terakhir.
Wasi Bagaspati menjadi penasaran. Ketika sekali lagi Adiwijaya meloncat bangun,
ia menerjang maju seperti harimau menerkam. Adiwijaya cepat menjatuhkan diri ke
kiri untuk mengelak, namun jari-jari tangan kanan Wasi Bagaspati masih berhasil
menampar pundak kanannya. Biarpun hanya kena diserempet, namun Adiwijaya merasa
pundaknya seperti terbakar dan ia terguling roboh. Wasi Bagaspati tertawa
bergelak, menghampiri dan mengangkat kakinya yang besar untuk mengijak hancur
kepala Adiwijaya. Kakek ini hendak memenuhi janjinya, yaitu akan menghancurkan
kepala Adiwijaya.
"Jangan bunuh
dia!" Tiba-tiba terdengar suara Retna Wilis nyaring dan dara ini sudah
menerjang Wasi Bagaspati dengan pukulan keras dari samping.
"Siuuuuuttttt
......!" Tenaga Retna Wilis belum pulih semua, dan kepalanya masih pening,
akan tetapi begitu melihat Adiwijaya hendak dibunuh, serentak ia membentak dan
menyerang. Wasi Bagaspati kaget dan membalikkan tubuh sambil menangkis.
"Deesssss ........!”
Tubuh Retna Wilis terpelanting jauh dan giranglah hati Wasi Bagaspati yang
maklum bahwa biarpun sudah sadar, gadis itu masih belum pulih tenaganya. Maka
ia cepat menengok untuk membunuh Adiwijaya kemudian menawan kembali Retna
Wilis. Akan tetapi alangkah kaget hatinya ketika ia menoleh, ia melihat di
depannya telah berdiri Bagus Seta dengan kedua lengan dipalangkan di depan
dada!
"Wasi Bagaspati,
sungguh sayang engkau tak pernah mau bertobat," kata Bagus Seta.
"Bagus Seta! Engkau
selalu menghalangi niatku, engkau musuhku terbesar dan hari ini aku harus
mencabut nyawamu!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati telah mencabut
senjata cakra, dan kini Wasi Bagaskolo yang melihat munculnya pemuda sakti itu
telah siap-siap pula dengan keris hitamnya.
Tiba-tiba terdengar
sorak-sorai dan muncullah Ni Dewi Nilamanik dengan pasukannya, yang berjumlah
dua ratus orang lebih. Pasukan di bawah pimpinan Ni Dewi Nilamanik ini segera
mengurung tempat itu. Melihat ini, hati Wasi Bagaspati menjadi besar. Biarpun
ia tidak dibantu Retna Wilis menghadapi Bagus Seta, akan tetapi di situ ada
Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik, dan dua ratus orang lebih pasukan yang telah
digemblengnya. Menghadapi seorang lawan saja, biarpun sakti seperti Bagus Seta,
dan juga Adiwijaya serta Retna Wilis yang masih belum sehat benar, masa tidak
mampu mengalahkannya?
"Ha-ha-ha, Bagus Seta.
Apakah engkau mampu menyelamatkan diri sekarang?" Ia membentak sambil
tertawa lalu menerjang pemuda itu diikuti adik seperguruannya. Bagus Seta
bergerak cepat melompat dan tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di luar
pengurungan para anak buah pasukan. Melihat ini, Wasi Bagaspati dan Wasi
Bagaskolo terkejut, cepat mengejar dan menyerang. Bagus Seta mengelak dan balas
menyerang dengan kedua senjatanya yang kecil dan aneh, yaitu setangkai kembang
cempaka putih dan pengikat rambutnya dari sutera. Gerakan tiga orang sakti ini
amat cepat dan dahsyat sehingga tubuh mereka lenyap, bergulung-gulung menjadi
bayangan yang sukar dilihat oleh mata manusia biasa.
"Gusti Puteri .... mari
kita lari ....kita bisa membuka jalan berdarah, lebih baik kita menggunakan
kesempatan ini untuk menyelamatkan diri .... " kata Adiwijaya yang merasa
serba salah kalau gustinya ikut bertanding. Sepihak adalah Bagus Seta dan
mungkin di belakangnya ada pasukan Jenggala, berarti musuh gustinya. Pihak lain
adalah rombongan Wasi Bagaspati, yang sekarang juga telah menjadi musuh, lebih
baik cepat-cepat menyelamatkan diri.
Akan tetapi pada saat itu
Retna Wilis telah sadar benar-benar dan tenaganya telah pulih kembali. Benturan
tenaga dengan Wasi Bagaspati yang membuat ia terlempar dan roboh tadi sama
sekali tidak melukainya, bahkan telah menyadarkan dan memulihkan keadaannya.
Kini ia telah berdiri tegak dengan muka merah dan mata mengeluarkan api
kemarahan. Teringatlah ia kini apa yang dianggapnya seperti mimpi itu ternyata
adalah kenyataan! Tadinya ia hanya mengira bahwa ia dalam mimpi dan kini samar-
samar teringatlah olehnya
akan segala yang telah dialaminya, betapa ia ikut menari-nari seperti orang
gila, kemudian betapa ia diminumi jamu berkali-kali oleh Ni Dewi Nilamanik,
ketika menari dibelai dan terbangkit gairah yang belum pernah dirasai selama
hidupnya, betapa ia menurut saja ketika dibawa ke pondok oleh Wasi Bagaspati,
dan ........ ah, mengingat akan semua itu, hampir Retna Wilis berteriak saking
malu dan marahnya. Kini Adiwijaya mengajak dia melarikan diri!
"Tidak! Harus kubunuh
mereka semua!" bentaknya, bahkan saking marahnya ia lalu mengibaskan
tangan Adiwijaya yang hendak mengajaknya lari, kemudian tubuhnya melesat ke
arah Ni Dewi Nilamanik sambil berseru nyaring,
"Perempuan rendah
menjijikkan, engkau harus mati di tanganku!"
No comments:
Post a Comment