Perawan Lembah Wilis; Bagian 193


Adiwijaya cepat menghampiri Retna Wilis, dengan jari-jari tangan gemetar ia memasangkan kembali selendang menutupi dada yang terbuka itu, kemudian membuka bungkusan obat dan setengah memaksa membuka mulut Retna Wilis, menuangkan isi bungkusan yang berwarna bubuk putih ke mulut dara itu. Retna Wilis tidak membantah, dan sambil tersenyum menelan obat itu dan lengannya yang halus itu merangkul leher AdiwiJaya.
"Aduh ... Gusti Puteri .. sadarlah ....ahhh, lekas sadar dan mari lari bersama hamba !" Dengan halus ia melepaskan rangkulan lengan itu dari lehernya, menarik tangan Retna Wilis bangkit dan turun dari pembaringan, kemudian terus menyeretnya keluar. Ketika Retna Wilis terhuyung seperti orang lemas, bahkan kini matanya dipejamkan dan napasnya menjadi panjang teratur seperti orang tidur, ia cepat memondong tubuh Retna Wilis dan membawanya lari keluar, menghilang di tempat gelap.
Wasi Bagaspati dengan marah menendangi para pengikut yang sedang bermain asmara secara tidak tahu malu di sembarang tempat, bahkan menyeret bangun Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik dari bawah pohon di mana kedua orang itu tenggelam dalam lautan cinta berahi.
"Bedebah semua! Keparat sembrono, tidak tahu ada musuh menyerbu! Cepat, siapkan semua orang. Bagus Seta dan pasukannya menyerbu dari lereng di timur. Cepat!" Bentakan Wasi Bagaspati ini mengagetkan semua orang. Disebutnya nama Bagus Seta sekaligus mengusir semua rangsangan berahi yang mempengaruhi mereka dan kini mereka sudah meloncat bangun dan siap bertempur.

Keadaan menjadi panik dan lucu. Mereka lari saling tabrak, ada yang telanjang bulat, ada yang setengah telanjang dan sambil lari mereka berusaha membetulkan pakaian mereka, bahkan ada yang terbelit kaki mereka oleh pakaian sendiri sehingga jatuh tunggang-langgang dan berteriak-teriak karena mengira bahwa mereka sudah diserbu musuh dan dirobohkan lawan! Sang Wasi Bagaspati, diikuti oleh Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik lari ke timur dan karena bulan yang hanya sepotong itu tertutup awan, maka mereka berhati-hati melalui lereng yang belum mereka kenal baik itu. Sampai jauh mereka menuruni lereng, akan tetapi keadaan di situ sunyi saja. Mereka berhenti dan memandang penuh perhatian ke bawah, meneliti kalau-kalau dapat melihat obor atau pergerakan. Namun sunyi saja dan suara monyet cecowetan diseling suara burung malam menandakan bahwa di bawah sana pun tidak ada manusianya!
"Wah, jangan-jangan kita tertipu ... !" kata Ni Dewi Nilamanik, tidak berani mengatakan bahwa Sang Wasi Bagaspati yang sebenarnya tertipu.
"Si keparat Adiwijaya, kalau betul berani menipu, kuhancurkan kepalanya!" Wasi Bagaspati berseru dan berkelebat kembali mendaki puncak, diikuti oleh adik seperguruannya yang diam-diam mendongkol karena ia telah diganggu, dan Ni Dewi Nilamanik.
"Mana musuhnya?"
"Mana pasukan Jenggala?"
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar dari mulut para anak buahnya itu membuat Wasi Bagaspati makin marah dan kakinya menendang ke kanan kiri sehingga para anak buahnya yang sudah panik menjadi makin bingung dan mawut. Wasi Bagaspati menendang pintu pondok sehingga daun pintu terlempar, kemudian ia menerjang masuk sambil memaki,
"Adiwijaya pengkhianat laknat!" Akan tetapi, ketika ia memasuki pondok, tentu saja ia tidak lagi dapat menemukan Adiwijaya dan Retna Wilis.
"Ah, mereka telah melarikan diri . ..!" Ni Dewi Nilamanik berseru.
"Retna Wilis tak mungkin lari, akan tetapi dilarikan oleh bedebah itu. Kita harus kejar, cari sampai dapat!" ia lalu melompat keluar lagi diikuti oleh adik seperguruannya, sedangkan Ni Dewi Nilamanik keluar dari pondok untuk memimpin anak buah mereka mencari Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis.

Setelah malam berganti pagi, barulah Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo dapat menyusul dan menemukan Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis sampai di pantai laut selatan sebelah barat. Adiwijaya yang cerdik sengaja lari ke barat setelah menipu Wasi Bagaspati dengan mengatakan bahwa musuh datang dart timur.
Akan tetapi, betapapun cepatnya ia lari, tentu saja ia tidak dapat menangkan kecepatan larinya kedua orang kakek yang amat sakti itu.
"Adiwijaya, manusia khianat yang ingin mampus!" Wasi Bagaspati membentak dan biarpun ia masih jauh di belakang, suaranya sudah terdengar dekat sekali sehingga Adiwijaya menjadi terkejut dan menghentikan larinya, memutar tubuh dan memandang kedua kakek yang berlari makin dekat itu dengan wajah pucat. Retna Wilis baru setengah sadar, maka ia terhuyung-huyung lalu jatuh terduduk di atas pasir, menaandang bengong dan seperti orang terheran-heran.
"Ampun .....Sang Wasi........!" Adiwijaya berkata ketika kedua orang kakek itu sudah datang dekat.
"Saya ....saya tidak bermaksud buruk ....!!”
"Jahanam! Pengkhianat! Engkau sengaja menipuku dan hendak melarikan Retna Wilis?"
"Ampun ....Retna Wilis tidak lari, hanya hamba....hamba terangsang sekali semalam, ingin ... memilikinya.... hamba yang bersalah .... dia tidak tahu apa-apa ..... " Dalam keadaan yang amat gawat ini Adiwijaya masih ingat untuk membela Retna Wilis dan menimpakan semua kesalahan di pundaknya. Biarlah ia mati asalkan Retna Wilis selamat, pikirnya.
"Ha-ha-ha, pandai sekali memutar lidah. Memang engkau seorang yang amat pandai menipu dan cerdik sekali, akan tetapi sekarang aku tidak lagi mau ditipu dua kali, dan engkau harus mampus!"
Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati memukul dari jarak jauh dengan pukulan sakti. Angin pukulan yang keras meniup ke arah Adiwijaya. Akan tetapi dengan cekatan sekali Adiwijaya melompat ke kiri, mengelak sehingga pukulan itu hanya mengenai pasir yang membuat pasir berhamburan.
"Hemmm, kiranya engkau juga berani melawanku?"
"Wasi Bagaspati, di saat terakhir ini biarlah aku membuat pengakuan. Dengarlah baik-baik. Aku adalah hamba dari Gusti Puteri Retna Wilis, lahir batin. Aku selamanya, sejak dahulu sampai mati sekalipun, akan tetap setia kepadanya. Aku yang mengusulkan agar dia suka bersekutu denganmu untuk mencapai cita-citanya. Akan tetapi ternyata engkau mengkhianatinya, juga berniat buruk terhadap dirinya. Aku harus menyelamatkannya, membebaskannya dari tanganmu yang keji! Dan biarpun aku maklum bahwa aku bukan lawanmu, namun aku bersumpah untuk membela gustiku Retna Wilis dan melawanmu sampai detik terakhir!"
"Ha-ha-ha, manusia macam engkau masih bicara tentang kesetiaan! Lupakah engkau akan perbuatan-perbuatanmu dahulu di Jenggala?"
"Wasi Bagaspati, sekali-kali akan tiba saatnya bagi setiap orang manusia untuk menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu. Setelah berjumpa dengan gustiku Retna Wilis, aku sadar dan aku siap menerima segala hukuman atas dosa-dosaku. Akan tetapi kesetiaanku terhadap gustiku ini adalah tulus ikhlas, dan boleh engkau mentertawakan aku sekarang, karena kelak akan tiba saatnya pula bagimu untuk menyesali perbuatanmu atau kalau tidak, engkau akan terlambat!"
"Keparat, terimalah kematianmu!" Kini tubuh Wasi Bagaspati menerjang ke depan. Ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki ketangkasan yang cukup sehingga kalau diserang dari jarak jauh akan memakan waktu lama dan membuang tenaga sia-sia belaka.
"Wuuuuuttttt .....!" Pukulan tangan kiri yang menampar dari samping itu hebat bukan main. Terasa oleh Adiwijaya angin berhembus kuat dan seolah-olah lengan kakek itu seperti pohon besar tumbang menimpanya. Ia cepat meloncat dan mengelak, akan tetapi angin pukulannya masih mendorongnya sehingga ia roboh. Biarpun demikian, dengan ajinya Trenggiling Wesi, begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan dan dapat meloncat bangun tanpa terluka.
"Wah, lumayan juga ilmumu itu!" Wasi Bagaspati mengejek dan kembali ia melangkah maju dan mengirim pukulan dengan kedua yang berganti-ganti menampar dari kanan kiri.

Memang tingkat kesaktian Adiwijaya jauh berada di bawah tingkat Wasi Bagaspati maka serangan ini membuat Adiwijaya menjadi repot sekali. Mengelak ke kiri, dipapaki tangan kanan, meloncat ke kanan, dihantam oleh tangan kiri. ia memiliki kecepatan, akan tetapi kini pukulan- pukulan dari kedua tangan Wasi Bagaspati mengandung hawa pukulan yang lebih cepat daripada gerakan tubuhnya, maka berkali-kali Adiwijaya terbanting keras dan hanya oleh ajinya Trenggiling Wesi saja ia mampu meloncat bangun setelah bergulingan. Makin lama makin pening kepalanya, dan setiap kali meloncat bangun, ia terhuyung-huyung. Akan tetapi, seperti yang diucapkannya tadi, ia nekat dan mengambil keputusan untuk melawan sampai detik terakhir. Wasi Bagaspati menjadi penasaran. Ketika sekali lagi Adiwijaya meloncat bangun, ia menerjang maju seperti harimau menerkam. Adiwijaya cepat menjatuhkan diri ke kiri untuk mengelak, namun jari-jari tangan kanan Wasi Bagaspati masih berhasil menampar pundak kanannya. Biarpun hanya kena diserempet, namun Adiwijaya merasa pundaknya seperti terbakar dan ia terguling roboh. Wasi Bagaspati tertawa bergelak, menghampiri dan mengangkat kakinya yang besar untuk mengijak hancur kepala Adiwijaya. Kakek ini hendak memenuhi janjinya, yaitu akan menghancurkan kepala Adiwijaya.
"Jangan bunuh dia!" Tiba-tiba terdengar suara Retna Wilis nyaring dan dara ini sudah menerjang Wasi Bagaspati dengan pukulan keras dari samping.
"Siuuuuuttttt ......!" Tenaga Retna Wilis belum pulih semua, dan kepalanya masih pening, akan tetapi begitu melihat Adiwijaya hendak dibunuh, serentak ia membentak dan menyerang. Wasi Bagaspati kaget dan membalikkan tubuh sambil menangkis.
"Deesssss ........!” Tubuh Retna Wilis terpelanting jauh dan giranglah hati Wasi Bagaspati yang maklum bahwa biarpun sudah sadar, gadis itu masih belum pulih tenaganya. Maka ia cepat menengok untuk membunuh Adiwijaya kemudian menawan kembali Retna Wilis. Akan tetapi alangkah kaget hatinya ketika ia menoleh, ia melihat di depannya telah berdiri Bagus Seta dengan kedua lengan dipalangkan di depan dada!
"Wasi Bagaspati, sungguh sayang engkau tak pernah mau bertobat," kata Bagus Seta.
"Bagus Seta! Engkau selalu menghalangi niatku, engkau musuhku terbesar dan hari ini aku harus mencabut nyawamu!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati telah mencabut senjata cakra, dan kini Wasi Bagaskolo yang melihat munculnya pemuda sakti itu telah siap-siap pula dengan keris hitamnya.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah Ni Dewi Nilamanik dengan pasukannya, yang berjumlah dua ratus orang lebih. Pasukan di bawah pimpinan Ni Dewi Nilamanik ini segera mengurung tempat itu. Melihat ini, hati Wasi Bagaspati menjadi besar. Biarpun ia tidak dibantu Retna Wilis menghadapi Bagus Seta, akan tetapi di situ ada Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik, dan dua ratus orang lebih pasukan yang telah digemblengnya. Menghadapi seorang lawan saja, biarpun sakti seperti Bagus Seta, dan juga Adiwijaya serta Retna Wilis yang masih belum sehat benar, masa tidak mampu mengalahkannya?
"Ha-ha-ha, Bagus Seta. Apakah engkau mampu menyelamatkan diri sekarang?" Ia membentak sambil tertawa lalu menerjang pemuda itu diikuti adik seperguruannya. Bagus Seta bergerak cepat melompat dan tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di luar pengurungan para anak buah pasukan. Melihat ini, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terkejut, cepat mengejar dan menyerang. Bagus Seta mengelak dan balas menyerang dengan kedua senjatanya yang kecil dan aneh, yaitu setangkai kembang cempaka putih dan pengikat rambutnya dari sutera. Gerakan tiga orang sakti ini amat cepat dan dahsyat sehingga tubuh mereka lenyap, bergulung-gulung menjadi bayangan yang sukar dilihat oleh mata manusia biasa.
"Gusti Puteri .... mari kita lari ....kita bisa membuka jalan berdarah, lebih baik kita menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri .... " kata Adiwijaya yang merasa serba salah kalau gustinya ikut bertanding. Sepihak adalah Bagus Seta dan mungkin di belakangnya ada pasukan Jenggala, berarti musuh gustinya. Pihak lain adalah rombongan Wasi Bagaspati, yang sekarang juga telah menjadi musuh, lebih baik cepat-cepat menyelamatkan diri.
Akan tetapi pada saat itu Retna Wilis telah sadar benar-benar dan tenaganya telah pulih kembali. Benturan tenaga dengan Wasi Bagaspati yang membuat ia terlempar dan roboh tadi sama sekali tidak melukainya, bahkan telah menyadarkan dan memulihkan keadaannya. Kini ia telah berdiri tegak dengan muka merah dan mata mengeluarkan api kemarahan. Teringatlah ia kini apa yang dianggapnya seperti mimpi itu ternyata adalah kenyataan! Tadinya ia hanya mengira bahwa ia dalam mimpi dan kini samar-
samar teringatlah olehnya akan segala yang telah dialaminya, betapa ia ikut menari-nari seperti orang gila, kemudian betapa ia diminumi jamu berkali-kali oleh Ni Dewi Nilamanik, ketika menari dibelai dan terbangkit gairah yang belum pernah dirasai selama hidupnya, betapa ia menurut saja ketika dibawa ke pondok oleh Wasi Bagaspati, dan ........ ah, mengingat akan semua itu, hampir Retna Wilis berteriak saking malu dan marahnya. Kini Adiwijaya mengajak dia melarikan diri!
"Tidak! Harus kubunuh mereka semua!" bentaknya, bahkan saking marahnya ia lalu mengibaskan tangan Adiwijaya yang hendak mengajaknya lari, kemudian tubuhnya melesat ke arah Ni Dewi Nilamanik sambil berseru nyaring,
"Perempuan rendah menjijikkan, engkau harus mati di tanganku!"

<<< Bagian 192                                                                                     Bagian 194 >>>

No comments:

Post a Comment