Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyatnya, Ni Dewi Nilamanik menjadi pucat wajahnya dan cepat ia meloncat ke belakang, berlindung di belakang anak buahnya.
"Breesssss .......!!”
Terjangan Retna Wilis disambut oleh banyak orang anggota pasukan anak buah Wasi
Bagaspati dan terjungkallah empat orang dalam keadaan tidak bernyawa dengan
tubuh hangus terkena pukulan dan tendangan dara perkasa yang sudah marah sekali
ini. Kemudian Retna Wilis mengamuk, bagaikan api menyala-nyala membakar apa
saja yang berada di dekatnya. Maju dua orang roboh dua orang, maju empat orang
roboh empat orang. Ia terus mengamuk sambil mengejar Ni Dewi Nilamanik yang
berusaha melarikan diri ke sana-sini di antara anak buahnya yang menyerbu Retna
Wilis seperti sekumpulan ....laron menyerbu api. Melihat ini, Adiwijaya tidak
mau tinggal diam dan ia pun lalu menerjang pasukan yang mengeroyok Retna Wilis
itu. Karena Retna Wilis bergerak cepat sekali dan selalu mengejar ke mana pun
Ni Dewi Nilamanik lari, maka sebentar saja Adiwijaya yang kini dikeroyok pula,
terpisah jauh dari dara itu. Amukan Retna Wilis membuat pasukan siluman anak
buah Wasi Bagaspati itu kocar-kacir dan mawut. Juga Adiwijaya merupakan seorang
lawan yang kuat sekali biarpun tidak sedahsyat Retna Wilis, namun sukar bagi
pasukan itu untuk merobohkannya. Tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan keadaan
pasukan menjadi makin mawut ketika di situ terjun dua orang yang amat perkasa
dan yang langsung menerjang dan merobohkan pasukan-pasukan itu dengan amukan
kaki tangan mereka yang tangkas. Pasukan siluman menjadi lebih panik ketika
mengenal bahwa yang datang mengamuk ini bukan lain adalah Ki Patih Tejolaksono
dan isterinya, Endang Patibroto! Akhirnya Retna Wilis dapat berhadapan dengan
Ni Dewi Nilamanik yang tidak dapat melarikan diri lagi karena pasukannya
terpecah-pecah, sebagian mengeroyok Adiwijaya, sebagian besar menahan amukan
Tejolaksono dan Endang Patibroto, dan terpaksa dia harus menyambut sendiri
Retna Wilis yang memandangnya penuh kebencian.
"Ni Dewi Nilamanik,
biar engkau lari ke neraka sekalipun, tetap akan kukejar sampai aku berhasil
membunuhmu!"
Betapapun juga, Ni Dewi
Nilamanik bukanlah seorang lemah. Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan
sesungguhnya kalau dicari di antara orang-orang biasa, jarang ditemukan orang
yang dapat menandinginya. Biarpun ia maklum akan kesaktian Retna Wilis yang
membuat hatinya gentar, namun menghadapi jalan buntu ini ia menjadi nekat dan
berkata,
"Retna Wilis, tidak
begitu mudah engkau hendak membunuhku. Engkau hendak mengenal kedigdayaan Ni
Dewi Nilamanik, penitisan Sang Hyang Bathari Durgo? Majulah!"
Retna Wilis berteriak marah
dan menerjang dengan pukulan Wisalangking yang kalau mengenai tubuh lawan akan
membuat tubuh itu menjadi hitam terkena hawa beracun. Akan tetapi Ni Dewi
Nilamanik yang sudah nekat cepat meloncat ke kiri menghindarkan pukulan ini,
kemudian pengebut merahnya menyabet dari kiri mengarah leher Retna Wilis.
Dara perkasa ini mengubah
pukulan yang luput menjadi cengkeraman ke arah ujung pengebut dengan maksud
merampok senjata itu namun Ni Dewi Nilamanik sudah mengerti akan niat lawan,
maka ia menggerakkan pergelangan tangan sehingga ujung pengebutnya membalik,
kemudian dengan gerakan melingkar ujung cambuknya yang berubah menjadi kaku
menusuk ke arah ulu hati Retna Wilis. Dara sakti ini menurunkan lengan yang
tadi hendak mencengkeram, menangkis sambil mengerahkan tenaga sakti.
"Pyarrr!" Ujung
cambuk atau kebutan yang tadi mengeras itu ambyar dan menjadi lemas kembali
terkena tamparan tangan Retna Wilis yang ampuh. Retna Wilis tidak berhenti
sampai di situ, cepat tangan kirinya menyodok dengan jari tangan terbuka ke
arah leher Ni Dewi Nilamanik. Wanita ini terkejut sekali, cepat ia menarik
tubuh atas ke belakang sehingga terhindar daripada tusukan jari tangan yang
ampuh itu. Akan tetapi tubuh Retna berkelebat cepat dan kaki tangannya
bergerak-gerak seperti angin puyuh mengamuk. Demikian cepatnya gerakan dara ini
yang telah memainkan Ilmu Silat Pancaroba yang amat cepat, ganas dan dahsyat.
Ni Dewi. Nilamanik kewalahan dan menjadi bingung. Dalam pandang matanya,
seolah-olah tubuh Retna Wilis berubah menjadi tiga sehingga tiga pasang tangan
berikut tiga pasang kaki menyerangnya dari setiap penjuru! Ia berlaku nekat,
memutar cambuknya sekuat tenaga. Retna Wilis tidak mau membuang banyak waktu,
dan ia membiarkan ujung cambuk atau kebutan itu mengenai pundaknya sambil
mengerahkan tenaga sakti melindungi pundak, kemudian, kemudian ia menubruk maju
mencengkeram tangan yang memegang kebutan merah.
"Aihhhhh ........
!" Ni Dewi Nilamanik menjerit kesakitan ketika tangannya terasa seperti
dibakar api menyala, terpaksa melepaskan kebutan yang kini telah terampas oleh
Retna Wilis. Ni Dewi Nilamanik memandang dengan mata terbelalak kepada dara yang
kini melangkah maju perlahan-lahan dengan bibir tersenyum dingin dan mata
bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat. Ia mundur-mundur ketakutan, wajahnya
pucat, semua semangat perlawanannya lumpuh. Tiba-tiba Retna Wilis menggerakkan
kebutan itu. Sinar merah menyambar dan sebelum Ni Dewi Nilamanik tahu apa yang
terjadi kebutan itu telah melibat lehernya. Ia cepat menggunakan kedua tangan
untuk melepaskan ujung kebutan yang membelit lehernya, mengerahkan tenaga,
namun bulu-bulu yang kuat dan terbuat dari ekor kuda itu mencekik makin erat,
diiringi suara ketawa Retna Wilis.
"Auggghhh ..... am ....
ampunn ..." Ni Dewi Nilamanik menjerit, akan tetapi yang keluar dari
lehernya hanya suara orang tercekik. Ia tak dapat bernapas lagi dan
perlahan-lahan Retna Wilis yang sudah memegang ujung kebutan dengan tangan kiri
dan gagang kebutan dengan tangan kanan, menggunakan kedua tangannya menarik
sehingga kebutan itu makin lama makin erat mencekik leher Ni Dewi Nilamanik.
Muka Ni Dewi Nilamanik makin pucat, matanya terbelalak lebar, lidahnya yang
merah dan yang biasanya dapat menimbulkan gairah dan rangsang pada hati setiap
pria kini terjulur keluar, makin lama makin panjang, tubuhnya yang tadinya
meronta-ronta kuat kini hanya berkelonjotan dan tubuh itu tentu sudah rebah
terjengkang kalau tidak tertahan oleh kebutan yang mencekik lehernya. Makin
lama kebutan itu makin kuat mencekik leher dan tak lama kemudian terdengar
suara aneh yang tidak menyerupai suara manusia keluar dari mulut Ni Dewi
Nilamanik, disusul robohnya tubuhnya terjengkang ke belakang dan
menggelindinglah kepala karena leher itu telah putus seperti disayat pisau!
Retna Wilis membuang kebutan
merah yang kini menjadi lebih merah lagi oleh darah ke dekat mayat Ni Dewi
Nilamanik, memandang jijik, juga terkejut karena melihat betapa tubuh Ni Dewi
Nilamanik, yang tadinya montok padat dan berkulit halus itu kini telah menjadi
tubuh peyot keriputan, tubuh seorang nenek, adapun kepala yang menggelinding
dengan muka di atas itu memperlihatkan mata melotot dan lidah terjulur, akan
tetapi yang membuat Retna Wilis terheran adalah melihat betapa muka itu kini
menjadi muka seorang nenek- nenek. Mengertilah ia bahwa Ni Dewi Nilamanik yang
usianya sudah hampir enam puluh tahun itu tadinya kelihatan cantik oleh
pengaruh ilmu hitam dan ramuan jamu, dan kini pengaruh itu lenyap bersama
nyawanya, seperti muka seorang nenek berusia seratus tahun!
Baru setelah banyak sekali
anak buah Ni Dewi Nilamanik datang menyerbunya dari empat jurusan menggunakan
senjata-senjata tajam, Retna Wilis sadar dan cepat menggerakkan tubuh, diputar
dengan kedua tangan terpentang menampar ke kanan kiri. Senjata-senjata para
pengeroyok beterbangan disusul robohnya empat orang sekaligus dan mulailah
Retna Wilis mengamuk seperti seekor harimau betina membela anaknya.
"Retna ....!”
"Retna Wilis .....”
Dara sakti itu menengok dan
alisnya berkerut ketika ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, ia melihat Ki
Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto juga mengamuk, merobohkan para anak buah
Wasi Bagaspati dengan tangkas dan gagah perkasa.
"Mari kita basmi
bedebah-bedebah ini, anakku!" Endang Patibroto berteriak, suaranya penuh
keharuan. Akan tetapi Retna Wilis tidak menjawab, hanya mengamuk lebih hebat
lagi, seolah-olah ia hendak menandingi kegagahan ayah dan bundanya. Melihat
sepak terjang Retna Wilis, Tejolaksono dan Endang Patibroto sendiri merasa
ngeri. Mereka melihat betapa sekali pukul dara itu membuat kepala seorang
pengeroyok pecah berhamburan, darah dan otak muncrat, betapa dara itu menangkap
lengan seorang pengeroyok, diputarnya sehingga tubuh itu terangkat ke atas lalu
dibanting sampai remuk. Amukan Retna Wilis benar-benar menggiriskan dan sepak
terjangnya bukan seperti manusia lagi! Pertandingan antara Bagus Seta yang
dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terjadi amat hebat pula.
Gerakan mereka amat cepat dan mereka tidak bertanding seperti manusia biasa
sehingga mereka itu berpindah-pindah, makin lama makin menjauhi pantai dan naik
ke gunung-gunung batu karang.
Bagus Seta tidak tahu bahwa
kedua orang lawannya yang bertanding sambil kadang-kadang lari itu memancingnya
ke sebuah tempat di mana telah bersembunyi pasukan siluman yang menjadi inti
pasukan gemblengan Wasi Bagaspati, sejumlah dua puluh orang! Maka setelah
mereka tiba di lereng sebuah gunung anakan, tiba-tiba dari tempat-tempat
bersembunyi muncul pasukan itu yang berpakaian serba merah, yang langsung
melepaskan anak panah ke arah tubuh Bagus Seta! Pemuda ini terkejut sedetik,
namun ia segera menggunakan pengikat rambutnya diputar sedemikian rupa sehingga
menimbulkan angin dan semua anak panah dapat digulung dengan angin berpusing
ini dan diruntuhkan sebelum mencapai sasaran. Kesempatan ini dipergunakan oleh
Wasi Bagaspati yang menghantamkan senjata cakra di tangannya ke arah kepala Bagus
Seta dari belakang, sedangkan dari kanan Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke
arah lambung.
"Sessss ........
singggg!!!" Bagus Seta tanpa menoleh mengangkat setangkai kembang cempaka
di atas kepala menangkis senjata cakra sehingga senjata itu terpental, sedangkan
pengikat rambutnya berubah menjadi kaku menangkis keris yang menusuk lambungnya
sehingga keris itu mengeluarkan bunyi keras dan tergetar hebat, hampir terlepas
dari pegangan tangan Wasi Bagaskolo. Kedua kakek itu mencelat mundur dan
kembali dua puluh orang pasukan siluman sudah mengurung Bagus Seta, terbagi
menjadi dua rombongan. Rombongan pertama mengitari Bagus Seta sambil berlari
dari kiri ke kanan, adapun rombongan ke dua juga lari mengelilingi pemuda itu
dari kanan ke kiri. Sambil berlari mereka itu mengeluarkan suara seperti orang
menembang dan anehnya, suara tembangmereka itu menimbulkan suara yang
menyeramkan dan pengaruh yang menakutkan.
Bagus Seta maklum bahwa
pasukan ini bukan pasukan biasa, melainkan pasukan yang digembleng dengan ilmu
hitam. Kalau ia tertarik oleh gerakan mereka yang berlari mengelilinginya,
tentu ia akan menjadi pening dan kabur pandangan matanya, juga kalau ia
memperhatikan suara tembang mereka, tentu ia akan hanyut dan mungkin kalau
lawan yang kurang kuat batinnya, tidak lama kemudian tentu akan ikut
berlari-lari dan bertembang! Ia mencoba dan mendorongkan tangan kirinya yang
memegang kembang
cempaka ke arah kiri. Dengan
dorongan yang mengandung tenaga mujijat ini ia dapat merobohkan lawan tanpa
lawan itu dapat bangun kembali, sedikitnya tentu pingsan. Hawa sakti yahg
merupakan angin kuat menyambar dan tiga orang anggota pasukan sebelah dalam itu
terpelanting, akan tetapi tepat seperti dugaan Bagus Seta, mereka itu bangkit
kembali. Kiranya mereka itu telah "dimasuki" kekuatan mentera hitam
bleh Wasi Bagaspati dan kekuatan mereka tergabung sehingga masing-masing
anggota memiliki tenaga dua puluh orang!
Tiba-tiba mereka itu
memekik. dan tampak ujung-ujung tombak yang mereka pegang menyambar ke dalam
kurungan. Bagus Seta menggerakkan tangan, menangkis semua ujung tombak dengan
angin pukulan tangannya. Terdengar suara mengaung dan dari atas meluncur turun
senjata cakra dan senjata keris hitam, seolah-olah kedua senjata itu hidup dan
menyerang Bagus Seta. Pemuda yang sedang sibuk menghadapi hujan tombak dari
pasukan yang masih berlari mengelilinginya, melihat datangnya dua buah senjata
ampuh ini cepat meloncat dan mengelak. Dua buah senjata itu seperti benda
hidup, ketika luput menyerang, menukik dan membalik untuk melakukan serangan ke
dua!
"Hemm, penggunaan ilmu
hitam tiada gunanya, Wasi Bagaspati!" Bagus Seta berkata dan tiba-tiba
tubuhnya meloncat tinggi ke atas sehingga semua tusukan tombak luput dan sambil
meloncat ini ia telah menangkis dua buah senjata ampuh itu dengan
senjata-senjatanya. Cakra dan keris hitam itu terlempar, melayang-layang kacau
dan kembali ke tangan pemiliknya masing-masing. Sedang Bagus Seta sudah
melayang keluar dari kepungan. Sejenak dua puluh orang anggota pasukan siluman
menjadi kacau, akan tetapi mereka sudah dapat mengejar dan mengepung kembali.
Bagus Seta menjadi bingung juga. Dia tidak mau membunuh, apalagi membunuh dua
puluh orang anggota pasukan ini yang dianggap hanya sebagai alat, akan tetapi
kalau mereka ini tidak dienyahkan lebih dulu, sukar baginya untuk menyerang dua
orang pendeta sesat yang selalu di luar barisan.
Tiba-tiba terdengar bentakan
nyaring,
"Puteraku
Bagus Seta! Kau lawanlah dua ekor monyet tua itu dan serahkan pasukan kadal ini
kepada kami!" Itulah suara Pusporini dan benar saja, begitu Pusporini dan
Joko Pramono datang menyerbu, pasukan siluman menjadi kacau-balau dan kurungan
atas diri Bagus Seta menjadi buyar. Tadinya memang mereka datang bersama dalam
usaha mereka mencari Retna Wilis. Akan tetapi karena Bagus Seta mempergunakan
ilmunya yang tidak lumrah dimiliki manusia biasa, Tejolaksono, Endang
Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini, tertinggal jauh dan mereka baru tiba di
tempat itu setelah terjadi pertempuran hebat di situ.
No comments:
Post a Comment