Perawan Lembah Wilis; Bagian 194


Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyatnya, Ni Dewi Nilamanik menjadi pucat wajahnya dan cepat ia meloncat ke belakang, berlindung di belakang anak buahnya.
"Breesssss .......!!” Terjangan Retna Wilis disambut oleh banyak orang anggota pasukan anak buah Wasi Bagaspati dan terjungkallah empat orang dalam keadaan tidak bernyawa dengan tubuh hangus terkena pukulan dan tendangan dara perkasa yang sudah marah sekali ini. Kemudian Retna Wilis mengamuk, bagaikan api menyala-nyala membakar apa saja yang berada di dekatnya. Maju dua orang roboh dua orang, maju empat orang roboh empat orang. Ia terus mengamuk sambil mengejar Ni Dewi Nilamanik yang berusaha melarikan diri ke sana-sini di antara anak buahnya yang menyerbu Retna Wilis seperti sekumpulan ....laron menyerbu api. Melihat ini, Adiwijaya tidak mau tinggal diam dan ia pun lalu menerjang pasukan yang mengeroyok Retna Wilis itu. Karena Retna Wilis bergerak cepat sekali dan selalu mengejar ke mana pun Ni Dewi Nilamanik lari, maka sebentar saja Adiwijaya yang kini dikeroyok pula, terpisah jauh dari dara itu. Amukan Retna Wilis membuat pasukan siluman anak buah Wasi Bagaspati itu kocar-kacir dan mawut. Juga Adiwijaya merupakan seorang lawan yang kuat sekali biarpun tidak sedahsyat Retna Wilis, namun sukar bagi pasukan itu untuk merobohkannya. Tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan keadaan pasukan menjadi makin mawut ketika di situ terjun dua orang yang amat perkasa dan yang langsung menerjang dan merobohkan pasukan-pasukan itu dengan amukan kaki tangan mereka yang tangkas. Pasukan siluman menjadi lebih panik ketika mengenal bahwa yang datang mengamuk ini bukan lain adalah Ki Patih Tejolaksono dan isterinya, Endang Patibroto! Akhirnya Retna Wilis dapat berhadapan dengan Ni Dewi Nilamanik yang tidak dapat melarikan diri lagi karena pasukannya terpecah-pecah, sebagian mengeroyok Adiwijaya, sebagian besar menahan amukan Tejolaksono dan Endang Patibroto, dan terpaksa dia harus menyambut sendiri Retna Wilis yang memandangnya penuh kebencian.
"Ni Dewi Nilamanik, biar engkau lari ke neraka sekalipun, tetap akan kukejar sampai aku berhasil membunuhmu!"
Betapapun juga, Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang lemah. Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sesungguhnya kalau dicari di antara orang-orang biasa, jarang ditemukan orang yang dapat menandinginya. Biarpun ia maklum akan kesaktian Retna Wilis yang membuat hatinya gentar, namun menghadapi jalan buntu ini ia menjadi nekat dan berkata,
"Retna Wilis, tidak begitu mudah engkau hendak membunuhku. Engkau hendak mengenal kedigdayaan Ni Dewi Nilamanik, penitisan Sang Hyang Bathari Durgo? Majulah!"

Retna Wilis berteriak marah dan menerjang dengan pukulan Wisalangking yang kalau mengenai tubuh lawan akan membuat tubuh itu menjadi hitam terkena hawa beracun. Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik yang sudah nekat cepat meloncat ke kiri menghindarkan pukulan ini, kemudian pengebut merahnya menyabet dari kiri mengarah leher Retna Wilis.
Dara perkasa ini mengubah pukulan yang luput menjadi cengkeraman ke arah ujung pengebut dengan maksud merampok senjata itu namun Ni Dewi Nilamanik sudah mengerti akan niat lawan, maka ia menggerakkan pergelangan tangan sehingga ujung pengebutnya membalik, kemudian dengan gerakan melingkar ujung cambuknya yang berubah menjadi kaku menusuk ke arah ulu hati Retna Wilis. Dara sakti ini menurunkan lengan yang tadi hendak mencengkeram, menangkis sambil mengerahkan tenaga sakti.
"Pyarrr!" Ujung cambuk atau kebutan yang tadi mengeras itu ambyar dan menjadi lemas kembali terkena tamparan tangan Retna Wilis yang ampuh. Retna Wilis tidak berhenti sampai di situ, cepat tangan kirinya menyodok dengan jari tangan terbuka ke arah leher Ni Dewi Nilamanik. Wanita ini terkejut sekali, cepat ia menarik tubuh atas ke belakang sehingga terhindar daripada tusukan jari tangan yang ampuh itu. Akan tetapi tubuh Retna berkelebat cepat dan kaki tangannya bergerak-gerak seperti angin puyuh mengamuk. Demikian cepatnya gerakan dara ini yang telah memainkan Ilmu Silat Pancaroba yang amat cepat, ganas dan dahsyat. Ni Dewi. Nilamanik kewalahan dan menjadi bingung. Dalam pandang matanya, seolah-olah tubuh Retna Wilis berubah menjadi tiga sehingga tiga pasang tangan berikut tiga pasang kaki menyerangnya dari setiap penjuru! Ia berlaku nekat, memutar cambuknya sekuat tenaga. Retna Wilis tidak mau membuang banyak waktu, dan ia membiarkan ujung cambuk atau kebutan itu mengenai pundaknya sambil mengerahkan tenaga sakti melindungi pundak, kemudian, kemudian ia menubruk maju mencengkeram tangan yang memegang kebutan merah.
"Aihhhhh ........ !" Ni Dewi Nilamanik menjerit kesakitan ketika tangannya terasa seperti dibakar api menyala, terpaksa melepaskan kebutan yang kini telah terampas oleh Retna Wilis. Ni Dewi Nilamanik memandang dengan mata terbelalak kepada dara yang kini melangkah maju perlahan-lahan dengan bibir tersenyum dingin dan mata bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat. Ia mundur-mundur ketakutan, wajahnya pucat, semua semangat perlawanannya lumpuh. Tiba-tiba Retna Wilis menggerakkan kebutan itu. Sinar merah menyambar dan sebelum Ni Dewi Nilamanik tahu apa yang terjadi kebutan itu telah melibat lehernya. Ia cepat menggunakan kedua tangan untuk melepaskan ujung kebutan yang membelit lehernya, mengerahkan tenaga, namun bulu-bulu yang kuat dan terbuat dari ekor kuda itu mencekik makin erat, diiringi suara ketawa Retna Wilis.
"Auggghhh ..... am .... ampunn ..." Ni Dewi Nilamanik menjerit, akan tetapi yang keluar dari lehernya hanya suara orang tercekik. Ia tak dapat bernapas lagi dan perlahan-lahan Retna Wilis yang sudah memegang ujung kebutan dengan tangan kiri dan gagang kebutan dengan tangan kanan, menggunakan kedua tangannya menarik sehingga kebutan itu makin lama makin erat mencekik leher Ni Dewi Nilamanik. Muka Ni Dewi Nilamanik makin pucat, matanya terbelalak lebar, lidahnya yang merah dan yang biasanya dapat menimbulkan gairah dan rangsang pada hati setiap pria kini terjulur keluar, makin lama makin panjang, tubuhnya yang tadinya meronta-ronta kuat kini hanya berkelonjotan dan tubuh itu tentu sudah rebah terjengkang kalau tidak tertahan oleh kebutan yang mencekik lehernya. Makin lama kebutan itu makin kuat mencekik leher dan tak lama kemudian terdengar suara aneh yang tidak menyerupai suara manusia keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik, disusul robohnya tubuhnya terjengkang ke belakang dan menggelindinglah kepala karena leher itu telah putus seperti disayat pisau!

Retna Wilis membuang kebutan merah yang kini menjadi lebih merah lagi oleh darah ke dekat mayat Ni Dewi Nilamanik, memandang jijik, juga terkejut karena melihat betapa tubuh Ni Dewi Nilamanik, yang tadinya montok padat dan berkulit halus itu kini telah menjadi tubuh peyot keriputan, tubuh seorang nenek, adapun kepala yang menggelinding dengan muka di atas itu memperlihatkan mata melotot dan lidah terjulur, akan tetapi yang membuat Retna Wilis terheran adalah melihat betapa muka itu kini menjadi muka seorang nenek- nenek. Mengertilah ia bahwa Ni Dewi Nilamanik yang usianya sudah hampir enam puluh tahun itu tadinya kelihatan cantik oleh pengaruh ilmu hitam dan ramuan jamu, dan kini pengaruh itu lenyap bersama nyawanya, seperti muka seorang nenek berusia seratus tahun!
Baru setelah banyak sekali anak buah Ni Dewi Nilamanik datang menyerbunya dari empat jurusan menggunakan senjata-senjata tajam, Retna Wilis sadar dan cepat menggerakkan tubuh, diputar dengan kedua tangan terpentang menampar ke kanan kiri. Senjata-senjata para pengeroyok beterbangan disusul robohnya empat orang sekaligus dan mulailah Retna Wilis mengamuk seperti seekor harimau betina membela anaknya.
"Retna ....!” "Retna Wilis .....”
Dara sakti itu menengok dan alisnya berkerut ketika ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, ia melihat Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto juga mengamuk, merobohkan para anak buah Wasi Bagaspati dengan tangkas dan gagah perkasa.
"Mari kita basmi bedebah-bedebah ini, anakku!" Endang Patibroto berteriak, suaranya penuh keharuan. Akan tetapi Retna Wilis tidak menjawab, hanya mengamuk lebih hebat lagi, seolah-olah ia hendak menandingi kegagahan ayah dan bundanya. Melihat sepak terjang Retna Wilis, Tejolaksono dan Endang Patibroto sendiri merasa ngeri. Mereka melihat betapa sekali pukul dara itu membuat kepala seorang pengeroyok pecah berhamburan, darah dan otak muncrat, betapa dara itu menangkap lengan seorang pengeroyok, diputarnya sehingga tubuh itu terangkat ke atas lalu dibanting sampai remuk. Amukan Retna Wilis benar-benar menggiriskan dan sepak terjangnya bukan seperti manusia lagi! Pertandingan antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terjadi amat hebat pula. Gerakan mereka amat cepat dan mereka tidak bertanding seperti manusia biasa sehingga mereka itu berpindah-pindah, makin lama makin menjauhi pantai dan naik ke gunung-gunung batu karang.
Bagus Seta tidak tahu bahwa kedua orang lawannya yang bertanding sambil kadang-kadang lari itu memancingnya ke sebuah tempat di mana telah bersembunyi pasukan siluman yang menjadi inti pasukan gemblengan Wasi Bagaspati, sejumlah dua puluh orang! Maka setelah mereka tiba di lereng sebuah gunung anakan, tiba-tiba dari tempat-tempat bersembunyi muncul pasukan itu yang berpakaian serba merah, yang langsung melepaskan anak panah ke arah tubuh Bagus Seta! Pemuda ini terkejut sedetik, namun ia segera menggunakan pengikat rambutnya diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan angin dan semua anak panah dapat digulung dengan angin berpusing ini dan diruntuhkan sebelum mencapai sasaran. Kesempatan ini dipergunakan oleh Wasi Bagaspati yang menghantamkan senjata cakra di tangannya ke arah kepala Bagus Seta dari belakang, sedangkan dari kanan Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke arah lambung.
"Sessss ........ singggg!!!" Bagus Seta tanpa menoleh mengangkat setangkai kembang cempaka di atas kepala menangkis senjata cakra sehingga senjata itu terpental, sedangkan pengikat rambutnya berubah menjadi kaku menangkis keris yang menusuk lambungnya sehingga keris itu mengeluarkan bunyi keras dan tergetar hebat, hampir terlepas dari pegangan tangan Wasi Bagaskolo. Kedua kakek itu mencelat mundur dan kembali dua puluh orang pasukan siluman sudah mengurung Bagus Seta, terbagi menjadi dua rombongan. Rombongan pertama mengitari Bagus Seta sambil berlari dari kiri ke kanan, adapun rombongan ke dua juga lari mengelilingi pemuda itu dari kanan ke kiri. Sambil berlari mereka itu mengeluarkan suara seperti orang menembang dan anehnya, suara tembangmereka itu menimbulkan suara yang menyeramkan dan pengaruh yang menakutkan.

Bagus Seta maklum bahwa pasukan ini bukan pasukan biasa, melainkan pasukan yang digembleng dengan ilmu hitam. Kalau ia tertarik oleh gerakan mereka yang berlari mengelilinginya, tentu ia akan menjadi pening dan kabur pandangan matanya, juga kalau ia memperhatikan suara tembang mereka, tentu ia akan hanyut dan mungkin kalau lawan yang kurang kuat batinnya, tidak lama kemudian tentu akan ikut berlari-lari dan bertembang! Ia mencoba dan mendorongkan tangan kirinya yang memegang kembang
cempaka ke arah kiri. Dengan dorongan yang mengandung tenaga mujijat ini ia dapat merobohkan lawan tanpa lawan itu dapat bangun kembali, sedikitnya tentu pingsan. Hawa sakti yahg merupakan angin kuat menyambar dan tiga orang anggota pasukan sebelah dalam itu terpelanting, akan tetapi tepat seperti dugaan Bagus Seta, mereka itu bangkit kembali. Kiranya mereka itu telah "dimasuki" kekuatan mentera hitam bleh Wasi Bagaspati dan kekuatan mereka tergabung sehingga masing-masing anggota memiliki tenaga dua puluh orang!
Tiba-tiba mereka itu memekik. dan tampak ujung-ujung tombak yang mereka pegang menyambar ke dalam kurungan. Bagus Seta menggerakkan tangan, menangkis semua ujung tombak dengan angin pukulan tangannya. Terdengar suara mengaung dan dari atas meluncur turun senjata cakra dan senjata keris hitam, seolah-olah kedua senjata itu hidup dan menyerang Bagus Seta. Pemuda yang sedang sibuk menghadapi hujan tombak dari pasukan yang masih berlari mengelilinginya, melihat datangnya dua buah senjata ampuh ini cepat meloncat dan mengelak. Dua buah senjata itu seperti benda hidup, ketika luput menyerang, menukik dan membalik untuk melakukan serangan ke dua!
"Hemm, penggunaan ilmu hitam tiada gunanya, Wasi Bagaspati!" Bagus Seta berkata dan tiba-tiba tubuhnya meloncat tinggi ke atas sehingga semua tusukan tombak luput dan sambil meloncat ini ia telah menangkis dua buah senjata ampuh itu dengan senjata-senjatanya. Cakra dan keris hitam itu terlempar, melayang-layang kacau dan kembali ke tangan pemiliknya masing-masing. Sedang Bagus Seta sudah melayang keluar dari kepungan. Sejenak dua puluh orang anggota pasukan siluman menjadi kacau, akan tetapi mereka sudah dapat mengejar dan mengepung kembali. Bagus Seta menjadi bingung juga. Dia tidak mau membunuh, apalagi membunuh dua puluh orang anggota pasukan ini yang dianggap hanya sebagai alat, akan tetapi kalau mereka ini tidak dienyahkan lebih dulu, sukar baginya untuk menyerang dua orang pendeta sesat yang selalu di luar barisan.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring,
"Puteraku Bagus Seta! Kau lawanlah dua ekor monyet tua itu dan serahkan pasukan kadal ini kepada kami!" Itulah suara Pusporini dan benar saja, begitu Pusporini dan Joko Pramono datang menyerbu, pasukan siluman menjadi kacau-balau dan kurungan atas diri Bagus Seta menjadi buyar. Tadinya memang mereka datang bersama dalam usaha mereka mencari Retna Wilis. Akan tetapi karena Bagus Seta mempergunakan ilmunya yang tidak lumrah dimiliki manusia biasa, Tejolaksono, Endang Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini, tertinggal jauh dan mereka baru tiba di tempat itu setelah terjadi pertempuran hebat di situ.

<<< Bagian 193                                                                                     Bagian 195 >>>

No comments:

Post a Comment