Perawan Lembah Wilis; Bagian 195


Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat Retna Wilis dikeroyok banyak orang lalu serta-merta terjun ke dalam medan pertempuran membantu puteri mereka itu. Adapun Pusporini dan Joko Pramono yang melihat pertandingan hebat antara Bagus Seta dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo bersama banyak orang anggota pasukan berpakaian merah, segera lari ke tempat pertandingan yang jauh itu dan membantu Bagus Seta menerjang pasukan berpakaian merah.
Setelah mendapat bantuan Pusporini dan ia tahu cukup sakti untuk menanggulangi pasukan siluman itu, Bagus Seta lalu menggunakan kesaktiannya untuk, mendesak Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo. Dua orang pendeta dari tanah barat ini terdesak hebat dan kewalahan. Mereka telah mengeluarkan segala aji-aji dan mantra, segala ilmu hitam mereka, namun kesemuanya itu dapat dipunahkan dengan mudah oleh Bagus Seta.

"Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo! Jangan salahkan aku kalau terpaksa sekali aku melakukan kewajibanku membunuh kalian berdua!" Seru Bagus Seta dan tubuhnya berkelebat ke depan, kembang cempaka putih diangkat menyerang Wasi Bagaspati dengan pukulan ke arah kepala, sedangkan pengikat rambutnya dikibaskan ke arah dada Wasi Bagaskolo. Hebat bukan main penyerangan yang dilakukan berbareng ini, mengandung tenaga mujijat yang amat ampuh. Dua orang pendeta sesat itu terkejut dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.
'Gress! Bresss!!"
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terpelanting, lalu bergulingan menjauhkan diri dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Tangkisan mereka berhasil menyelamatkan mereka, akan tetapi tidak cukup kuat untuk menahan getaran tenaga sakti sehingga mereka terpelanting. Mereka tidak kuat menghadapi Bagus Seta, kedua orang kakek itu tanpa bersepakat lebih dulu, keduanya lalu meloncat jauh dan melarikan diri.
“Ke mana Andika berdua akan melarikan diri?" Bagus Seta berseru halus dan melompat untuk mengejar. Kedua orang kakek itu mengerahkan seluruh ilmu kesaktian mereka untuk lari secepatnya. Mereka maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti Bagus Seta, akan percuma saja andaikata mereka menggunakan ilmu hitam untuk menghilang maka mereka kini mengandalkan kedua kaki mereka dan dorongan tenaga sakti mereka untuk berlari congkiang seperti dua ekor kuda dikejar harimau. Napas mereka sampai menjadi senin-kemis, akan tetapi hati mereka lega karena mereka tidak mendengar lagi suara kaki Bagus Seta mengejar. Mereka telah tiba di puncak sebuah di antara Pegunungan Seribu dan karena mereka merasa betapa napas mereka hampir putus, mereka berhenti.
"Kalian baru tiba?"

Kalau halilintar menyambar di siang hari itu, agaknya kedua orang kakek itu tidak akan sekaget itu. Mereka menoleh ke kiri dan .....kiranya Bagus Seta telah berdiri di dekat mereka sambil memandang dengan mata tajam dan bibir tersenyum.
"Keparat ........ setan iblis bukan manusia !!" Wasi Bagaspati menyumpah-yumpah dan kemarahannya memuncak. Ia menggosok-gosok senjata cakra di kedua tangannya dan tiba-tiba cuaca menjadi gelap dan dari dalam kegelapan itu menyambar api menyala-nyala ke arah Bagus Seta. Sekarang Wasi Bagaspati telah menjadi nekat dan hendak menguras segala ilmu hitamnya untuk mengalahkan lawan yang masih amat muda, patut menjadi cucunya akan tetapi memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa itu. Wasi Bagaskolo juga membaca mantera, menggosok-gosok keris hitamnya lalu melontarkan keris itu ke udara yang segera berubah menjadi ratusan batang banyaknya, semua menyambar ke arah tubuh Bagus Seta yang sudah diselimuti kegelapan yang diciptakan Wasi Bagaspati! Dengan tenang Bagus Seta menghadapi serangan yang luar biasa ini, ia pun maklum bahwa sekali ini kedua orang pendeta itu akan menggunakan segala daya upaya untuk melawannya dengan nekat.
"Oouumm .... sadhu-sadhu-sadhu .... kalian benar- benar telah tersesat jauh sekali!" Serunya lirih sambil memejamkan mata sebentar, memegang kembang cempaka putih di atas kepala, mengheningkan cipta kemudian mengerahkan semua tenaga batin melalui kembang cempaka putih. Terdengar ledakan-ledakan keras dan kilat menyambar dari kembang putih itu. Seketika kegelapan terusir dan ratusan batas keris hitam lenyap berubah menjadi sebatang keris yang melayang ke arah Bagus Seta, adapun api yang menyala-nyala itu lenyap berubah menjadi senjata cakra yang juga menyambar ke arah pemuda itu. Bagus Seta menyimpan kembali kedua senjatanya, kemudian mengulur kedua tangan menyambut cakra dan keris hitam yang menyambarnya, dengan gerakan indah namun cepat sekali ia berhasil menangkap dua buah senjata ampuh itu dan berkata, suaranya halus namun penuh wibawa,
"Segala sesuatu berasal dari tanah dan kembali ke tanah!" Sambil berkata demikian, ia membanting kedua senjata itu ke bawah. Tampak dua sinar berkelebat ketika dua buah senjata itu meluncur ke bawah dan lenyap, amblas ke dalam tanah entah ke mana!
"Heh si keparat Bagus Seta! Senjata hanya alat, tidak bersalah, mengapa engkau melenyapkan mereka?" Wasi Bagaspati berteriak sambil menudingkan telunjuknya ke arah Bagus Seta.
Pemuda itu tersenyum.
"Benar ucapanmu. Senjata tetap senjata, benda mati yang tidak benar tidak salah. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk kejahatan, dia menjadi alat kejahatan. Sungguh kasihan, daripada dijadikan alat kejahatan lebih baik kembali ke asalnya. Demikian pun dengan Andika berdua, daripada menjadi abdi nafsu angkara murka, lebih baik kembali ke asal !"
“Bedebah, sombong amat wawasanmu! Akulah wakil Sang Hyang Shiwa, Maha Pembasmi dan bukan aku yang akan kaubunuh, melainkan engkau yang akan kukembalikan ke asalmu, Bagus Seta!" seru Wasi Bagaspati dan kini wajahnya seperti bukan wajah manusia lagi, selain merah juga terselimuti hawa kemarahan bagaikan api bernyala, kemudian ia mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dan menubruk maju dan menghantamkan kedua tangannya ke dada Bagus Seta. Pemuda ini tetap berdiri tidak bergerak, berkedip pun tidak menerima hantarran pada dadanya ini.
"Dessss!!" Pukulan itu datangnya seperti serudukan seekor gajah yang akan dapat menumbangkan pohon besar dan menghancurkan batu karang, akan tetapi ketika mengenai dada pemuda itu, bukan Bagus Seta yang roboh, melainkan Wasi Bagaspati sendiri yang terbanting ke belakang dan ia mengeluh dengan napas terengah-engah karena tenaga pukulan yang didorong kemarahan hebat tadi membalik dan melukai isi dadanya sendiri.
"Jahanam!" Wasi Bagaskolo marah sekali melihat kakak seperguruan roboh. Ia menerjang maju hendak mencekik leher Bagus Seta sambil mengerahkan aji kesaktiannya. Namun tingkat kesaktiannya masih kalah oleh Wasi Bagaspati sehingga baru raja tangannya menyentuh kulit leher Bagus Seta yang berdiri tak bergerak, ia kalah wibawa, menggigil dan tubuhnya seperti lumpuh, kemudian ia pun roboh terjengkang di samping Wasi Bagaspati. Bagus Seta mengeluarkan kembang Cempaka putih, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berbisik,
"Duh Sang Hyang Bathara Shiwa, perkenankanlah hamba mewakili Paduka mengembalikan mereka ini ke asal mereka!" Akan tetapi sebelum ia menurunkan tangannya memberi pukulan terakhir, tiba-tiba terdengar seruan,
"Sadhu-sadhu-sadhu .....Bagus Seta, demi kasih sayang di antara semua mahluk dan benda, harap jangan membunuh mereka!"

Bagus Seta seperti sadar dari keadaan biasa, mengangkat muka dan memandang. Kiranya di situ telah berdiri seorang kakek gundul yang bertubuh gemuk pendek, tangan kiri membawa seuntai tasbih dan tangan kanan memegang sebatang tongkat cendana yang panjang, wajahnya alim dan penuh kesabaran, mulutnya seperti tersenyum ramah selalu.
"Siapakah gerangan Andika, wahai sang Biku yang bersih lahirnya?"
Pertanyaan Bagus Seta yang dikeluarkan dengan suara halus ini merupakan siridiran tajam yang membuat muka pendeta itu menjadi merah. Dia dikatakan "bersih lahirnya", adakah pemuda ini melihat bahwa dia tidak bersih lahir batinnya? Akan tetapi ia tetap bersabar dan menjawab sambil tersenyum,
"Nama saya Biku Janapati, saya sedang bertugas melakukan dharma bakti terhadap perikemanusiaan, memberi penerangan dan petunjuk kepada manusia di pantai timur untuk menyadarkan mereka dan menghilangkan kesengsaraan. Ketika mendengar akan sepak terjang sahabat saya Wasi Bagaspati di daerah ini, saya bergegas datang dan mendengar pula akan nama Andika, orang muda yang sakti niandraguna. Untung bahwa kedatangan saya tidak terlambat."
"Ah, kiranya Andika adalah Sang Biku Janapati utusan Kerajaan Sriwijaya? Membawa pelajaran agama dengan pamrih memberi penerangan kepada manusia adalah sebuah usaha yang amat mulia, Sang Biku. Akan tetapi kalau dipaksakan dengan kekerasan, selain tidak akan ada manfaatnya, juga hanya akan mendatangkan permusuhan belaka, seperti yang dilakukan Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Aku pun hendak membasminya demi membersihkan tanah air daripada pengaruh buruk, mengapa Andika menghadang? Apakah Andika yang katanya membawa pelajaran tentang kasih sayang antara segala mahluk dan benda, menyetujui cara-cara yang dilakukan oleh Wasi Bagaspati maka merasa perlu melindungi nya?"
Biku Janapati tersenyum lebar dan menjawab,
"Bukan demikian, orang muda. Hanya perlu Andika ketahui, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa tidaklah mungkin memadamkan permusuhan dengan permusuhan pula. Permusuhan hanya dapat dipadamkan dengan sikap tidak bermusuh. Ini merupakan hukum abadi."
Bagus Seta mengangguk-angguk.
"Benar sekali pelajaran itu. Akan tetapi hendaknya engkau mengerti pula, Sang Biku, bahwa aku tidak memusuhi Sang Wasi Bagaspati dan Wasi bagaskolo. Aku tidak menganggapnya sebagai musuh dan aku tidak ingin membasminya sebagai musuh pribadi, melainkan hendak membasminya sebagai orang membasmi penyakit yang akan membahayakan keselamatan manusia umumnya. Aku tidak dipengaruhi oleh nafsu pribadi, tidak memiliki dasar pamrih untuk diri pribadi, melainkan hanya melaksanakan tugas sebagai manusia. Bukankah manusia dikurniai hak dan diberi kewajiban? Manusia merupakan titik api, sebagian kecil sekali daripada nyala api kekuasaan yang merupakan Trimurti, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemelihara, dan Sang Maha Pembasmi yang bersifat Maha Kasih dan Maha Kuasa. Biarpun hanya setitik api, namun merupakan bagian dari api itu sendiri dan karenanya manusia berkewajiban untuk memanfaatkan dirinya membantu dalam mencipta, memelihara, dan kalau perlu membasmi asal tidak didasari pamrih untuk diri pribadi."
Mendengar ini, Biku Janapati merangkapkan kedua tangan di depan dada dan berkata,
"Namo Tasa Bhagawato Arahato Samma Sambudhasa (Terpujilah Dia yang telah mencapai Perangai Sejati dan Kebijaksanaan Sempurna)! Andika adalah murid Sang Maha Bhagawan Ekadenta, bukan? Sungguh saya harus tunduk dan kagum. Memang tak dapat saya sangkal bahwa sahabat Wasi Bagaspati telah menyeleweng daripada jalan benar. Demikian pula dengan Wasi Bagaskolo. Akan tetapi, oleh mereka sendirilah kejahatan dilakukan dan biarlah mereka sendiri yang akan memetik buahnya. Bagi saya, tidak boleh saja melalaikan tugas kewajiban demi kepentingan orang lain, dalam hal ini demi kepentingan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sendiri. Melihat mereka terancam bahaya maut, betapa mungkin saya harus mendiamkan mereka begitu saja? Duhai Bagus Seta, kalau Andika percaya akan kekuasaan tak terbatas dan tak terlawan oleh Yang Maha Kuasa, anggap sajalah bahwa kedatanganku mencegah engkau membunuh mereka ini merupakan kehendak Dia yang belum menghendaki mereka mati."

Bagus Seta menghela napas panjang dan diam-diam ia harus mengakui kebenaran ucapan ini,
"Akan tetapi, Sang Biku yang bijaksana. Tahukah Andika bahwa pencegahan Andika ini merupakan tanggung jawab Andika pula terhadap kebenaran dan keadilan? Bahwa kalau mereka dibebaskan dan kelak melakukan kejahatan, maka kejahatan itu sebagian adalah akibat daripada perbuatan Andika saat ini?"
"Sebenarnyalah apa yang Andika katakan, wahai Bagus Seta. Dan saya pun bertanggung jawab sepenuhnya terhadap mereka ini kalau kelak mereka menimbulkan kekacauan dengan perbuatan sesat lagi. Saya sendiri yang kelak akan menghadapi mereka sebagai pertanggungan jawab saya. Sekali ini, demi Tuhan Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun, yang memberi berkah kepada segala makluk dan tanpa pilih kasih dan tanpa Pandang bulu, yang memberi sinar kehidupan kepada seluruh alam mayapada dan isinya, saya mohon sudilah kiranya Andika membebaskan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo."
Didesak seperti ini, Bagus Seta merasa tidak baik untuk bersikeras. Ia menarik napas panjang dan menyerahkan segala akibat kepada Hyang Widhi Wisesa, maka ia mengangguk dan berkata,
"Biarlah terjadi seperti yang Andika minta, Sang Biku yang mulia. Kuserahkan mereka berdua kepadamu." Ia membungkuk dengan hormat dan meninggalkan tempat itu, menghampiri Pusporini dan Joko Pramono yang telah menyelesaikan pertempuran sejak tadi, merobohkan dua puluh orang anggauta pasukan siluman dan sejak tadi menonton dari jauh pertandingan hebat antara Bagus Seta melawan dua orang wasi sampai munculnya Biku Janapati.

<<< Bagian 194                                                                                     Bagian 196 >>>

No comments:

Post a Comment