Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat Retna Wilis dikeroyok banyak orang lalu serta-merta terjun ke dalam medan pertempuran membantu puteri mereka itu. Adapun Pusporini dan Joko Pramono yang melihat pertandingan hebat antara Bagus Seta dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo bersama banyak orang anggota pasukan berpakaian merah, segera lari ke tempat pertandingan yang jauh itu dan membantu Bagus Seta menerjang pasukan berpakaian merah.
Setelah mendapat bantuan
Pusporini dan ia tahu cukup sakti untuk menanggulangi pasukan siluman itu,
Bagus Seta lalu menggunakan kesaktiannya untuk, mendesak Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo. Dua orang pendeta dari tanah barat ini terdesak hebat dan
kewalahan. Mereka telah mengeluarkan segala aji-aji dan mantra, segala ilmu
hitam mereka, namun kesemuanya itu dapat dipunahkan dengan mudah oleh Bagus
Seta.
"Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo! Jangan salahkan aku kalau terpaksa sekali aku melakukan
kewajibanku membunuh kalian berdua!" Seru Bagus Seta dan tubuhnya
berkelebat ke depan, kembang cempaka putih diangkat menyerang Wasi Bagaspati
dengan pukulan ke arah kepala, sedangkan pengikat rambutnya dikibaskan ke arah
dada Wasi Bagaskolo. Hebat bukan main penyerangan yang dilakukan berbareng ini,
mengandung tenaga mujijat yang amat ampuh. Dua orang pendeta sesat itu terkejut
dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.
'Gress! Bresss!!"
Wasi Bagaspati dan Wasi
Bagaskolo terpelanting, lalu bergulingan menjauhkan diri dengan kepala pening
dan mata berkunang-kunang. Tangkisan mereka berhasil menyelamatkan mereka, akan
tetapi tidak cukup kuat untuk menahan getaran tenaga sakti sehingga mereka
terpelanting. Mereka tidak kuat menghadapi Bagus Seta, kedua orang kakek itu
tanpa bersepakat lebih dulu, keduanya lalu meloncat jauh dan melarikan diri.
“Ke mana Andika berdua akan
melarikan diri?" Bagus Seta berseru halus dan melompat untuk mengejar.
Kedua orang kakek itu mengerahkan seluruh ilmu kesaktian mereka untuk lari
secepatnya. Mereka maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti Bagus Seta,
akan percuma saja andaikata mereka menggunakan ilmu hitam untuk menghilang maka
mereka kini mengandalkan kedua kaki mereka dan dorongan tenaga sakti mereka
untuk berlari congkiang seperti dua ekor kuda dikejar harimau. Napas mereka
sampai menjadi senin-kemis, akan tetapi hati mereka lega karena mereka tidak
mendengar lagi suara kaki Bagus Seta mengejar. Mereka telah tiba di puncak
sebuah di antara Pegunungan Seribu dan karena mereka merasa betapa napas mereka
hampir putus, mereka berhenti.
"Kalian baru
tiba?"
Kalau halilintar menyambar
di siang hari itu, agaknya kedua orang kakek itu tidak akan sekaget itu. Mereka
menoleh ke kiri dan .....kiranya Bagus Seta telah berdiri di dekat mereka
sambil memandang dengan mata tajam dan bibir tersenyum.
"Keparat ........ setan
iblis bukan manusia !!" Wasi Bagaspati menyumpah-yumpah dan kemarahannya
memuncak. Ia menggosok-gosok senjata cakra di kedua tangannya dan tiba-tiba
cuaca menjadi gelap dan dari dalam kegelapan itu menyambar api menyala-nyala ke
arah Bagus Seta. Sekarang Wasi Bagaspati telah menjadi nekat dan hendak
menguras segala ilmu hitamnya untuk mengalahkan lawan yang masih amat muda,
patut menjadi cucunya akan tetapi memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa itu.
Wasi Bagaskolo juga membaca mantera, menggosok-gosok keris hitamnya lalu
melontarkan keris itu ke udara yang segera berubah menjadi ratusan batang
banyaknya, semua menyambar ke arah tubuh Bagus Seta yang sudah diselimuti
kegelapan yang diciptakan Wasi Bagaspati! Dengan tenang Bagus Seta menghadapi
serangan yang luar biasa ini, ia pun maklum bahwa sekali ini kedua orang
pendeta itu akan menggunakan segala daya upaya untuk melawannya dengan nekat.
"Oouumm ....
sadhu-sadhu-sadhu .... kalian benar- benar telah tersesat jauh sekali!"
Serunya lirih sambil memejamkan mata sebentar, memegang kembang cempaka putih
di atas kepala, mengheningkan cipta kemudian mengerahkan semua tenaga batin
melalui kembang cempaka putih. Terdengar ledakan-ledakan keras dan kilat
menyambar dari kembang putih itu. Seketika kegelapan terusir dan ratusan batas
keris hitam lenyap berubah menjadi sebatang keris yang melayang ke arah Bagus
Seta, adapun api yang menyala-nyala itu lenyap berubah menjadi senjata cakra
yang juga menyambar ke arah pemuda itu. Bagus Seta menyimpan kembali kedua
senjatanya, kemudian mengulur kedua tangan menyambut cakra dan keris hitam yang
menyambarnya, dengan gerakan indah namun cepat sekali ia berhasil menangkap dua
buah senjata ampuh itu dan berkata, suaranya halus namun penuh wibawa,
"Segala sesuatu berasal
dari tanah dan kembali ke tanah!" Sambil berkata demikian, ia membanting
kedua senjata itu ke bawah. Tampak dua sinar berkelebat ketika dua buah senjata
itu meluncur ke bawah dan lenyap, amblas ke dalam tanah entah ke mana!
"Heh si keparat Bagus
Seta! Senjata hanya alat, tidak bersalah, mengapa engkau melenyapkan
mereka?" Wasi Bagaspati berteriak sambil menudingkan telunjuknya ke arah
Bagus Seta.
Pemuda itu tersenyum.
"Benar ucapanmu.
Senjata tetap senjata, benda mati yang tidak benar tidak salah. Akan tetapi
kalau dipergunakan untuk kejahatan, dia menjadi alat kejahatan. Sungguh
kasihan, daripada dijadikan alat kejahatan lebih baik kembali ke asalnya.
Demikian pun dengan Andika berdua, daripada menjadi abdi nafsu angkara murka,
lebih baik kembali ke asal !"
“Bedebah, sombong amat
wawasanmu! Akulah wakil Sang Hyang Shiwa, Maha Pembasmi dan bukan aku yang akan
kaubunuh, melainkan engkau yang akan kukembalikan ke asalmu, Bagus Seta!"
seru Wasi Bagaspati dan kini wajahnya seperti bukan wajah manusia lagi, selain
merah juga terselimuti hawa kemarahan bagaikan api bernyala, kemudian ia
mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dan menubruk maju dan
menghantamkan kedua tangannya ke dada Bagus Seta. Pemuda ini tetap berdiri
tidak bergerak, berkedip pun tidak menerima hantarran pada dadanya ini.
"Dessss!!" Pukulan
itu datangnya seperti serudukan seekor gajah yang akan dapat menumbangkan pohon
besar dan menghancurkan batu karang, akan tetapi ketika mengenai dada pemuda
itu, bukan Bagus Seta yang roboh, melainkan Wasi Bagaspati sendiri yang
terbanting ke belakang dan ia mengeluh dengan napas terengah-engah karena
tenaga pukulan yang didorong kemarahan hebat tadi membalik dan melukai isi
dadanya sendiri.
"Jahanam!" Wasi
Bagaskolo marah sekali melihat kakak seperguruan roboh. Ia menerjang maju
hendak mencekik leher Bagus Seta sambil mengerahkan aji kesaktiannya. Namun
tingkat kesaktiannya masih kalah oleh Wasi Bagaspati sehingga baru raja tangannya
menyentuh kulit leher Bagus Seta yang berdiri tak bergerak, ia kalah wibawa,
menggigil dan tubuhnya seperti lumpuh, kemudian ia pun roboh terjengkang di
samping Wasi Bagaspati. Bagus Seta mengeluarkan kembang Cempaka putih,
mengangkatnya tinggi-tinggi dan berbisik,
"Duh Sang Hyang Bathara
Shiwa, perkenankanlah hamba mewakili Paduka mengembalikan mereka ini ke asal
mereka!" Akan tetapi sebelum ia menurunkan tangannya memberi pukulan
terakhir, tiba-tiba terdengar seruan,
"Sadhu-sadhu-sadhu
.....Bagus Seta, demi kasih sayang di antara semua mahluk dan benda, harap
jangan membunuh mereka!"
Bagus Seta seperti sadar
dari keadaan biasa, mengangkat muka dan memandang. Kiranya di situ telah
berdiri seorang kakek gundul yang bertubuh gemuk pendek, tangan kiri membawa
seuntai tasbih dan tangan kanan memegang sebatang tongkat cendana yang panjang,
wajahnya alim dan penuh kesabaran, mulutnya seperti tersenyum ramah selalu.
"Siapakah gerangan
Andika, wahai sang Biku yang bersih lahirnya?"
Pertanyaan Bagus Seta yang
dikeluarkan dengan suara halus ini merupakan siridiran tajam yang membuat muka
pendeta itu menjadi merah. Dia dikatakan "bersih lahirnya", adakah
pemuda ini melihat bahwa dia tidak bersih lahir batinnya? Akan tetapi ia tetap
bersabar dan menjawab sambil tersenyum,
"Nama saya Biku
Janapati, saya sedang bertugas melakukan dharma bakti terhadap perikemanusiaan,
memberi penerangan dan petunjuk kepada manusia di pantai timur untuk
menyadarkan mereka dan menghilangkan kesengsaraan. Ketika mendengar akan sepak
terjang sahabat saya Wasi Bagaspati di daerah ini, saya bergegas datang dan
mendengar pula akan nama Andika, orang muda yang sakti niandraguna. Untung
bahwa kedatangan saya tidak terlambat."
"Ah, kiranya Andika
adalah Sang Biku Janapati utusan Kerajaan Sriwijaya? Membawa pelajaran agama
dengan pamrih memberi penerangan kepada manusia adalah sebuah usaha yang amat
mulia, Sang Biku. Akan tetapi kalau dipaksakan dengan kekerasan, selain tidak
akan ada manfaatnya, juga hanya akan mendatangkan permusuhan belaka, seperti
yang dilakukan Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Aku pun hendak membasminya
demi membersihkan tanah air daripada pengaruh buruk, mengapa Andika menghadang?
Apakah Andika yang katanya membawa pelajaran tentang kasih sayang antara segala
mahluk dan benda, menyetujui cara-cara yang dilakukan oleh Wasi Bagaspati maka
merasa perlu melindungi nya?"
Biku Janapati tersenyum
lebar dan menjawab,
"Bukan demikian, orang
muda. Hanya perlu Andika ketahui, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa
tidaklah mungkin memadamkan permusuhan dengan permusuhan pula. Permusuhan hanya
dapat dipadamkan dengan sikap tidak bermusuh. Ini merupakan hukum abadi."
Bagus Seta
mengangguk-angguk.
"Benar sekali pelajaran
itu. Akan tetapi hendaknya engkau mengerti pula, Sang Biku, bahwa aku tidak
memusuhi Sang Wasi Bagaspati dan Wasi bagaskolo. Aku tidak menganggapnya
sebagai musuh dan aku tidak ingin membasminya sebagai musuh pribadi, melainkan
hendak membasminya sebagai orang membasmi penyakit yang akan membahayakan
keselamatan manusia umumnya. Aku tidak dipengaruhi oleh nafsu pribadi, tidak
memiliki dasar pamrih untuk diri pribadi, melainkan hanya melaksanakan tugas
sebagai manusia. Bukankah manusia dikurniai hak dan diberi kewajiban? Manusia
merupakan titik api, sebagian kecil sekali daripada nyala api kekuasaan yang
merupakan Trimurti, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemelihara, dan Sang Maha
Pembasmi yang bersifat Maha Kasih dan Maha Kuasa. Biarpun hanya setitik api,
namun merupakan bagian dari api itu sendiri dan karenanya manusia berkewajiban
untuk memanfaatkan dirinya membantu dalam mencipta, memelihara, dan kalau perlu
membasmi asal tidak didasari pamrih untuk diri pribadi."
Mendengar ini, Biku Janapati
merangkapkan kedua tangan di depan dada dan berkata,
"Namo Tasa Bhagawato
Arahato Samma Sambudhasa (Terpujilah Dia yang telah mencapai Perangai Sejati
dan Kebijaksanaan Sempurna)! Andika adalah murid Sang Maha Bhagawan Ekadenta,
bukan? Sungguh saya harus tunduk dan kagum. Memang tak dapat saya sangkal bahwa
sahabat Wasi Bagaspati telah menyeleweng daripada jalan benar. Demikian pula
dengan Wasi Bagaskolo. Akan tetapi, oleh mereka sendirilah kejahatan dilakukan
dan biarlah mereka sendiri yang akan memetik buahnya. Bagi saya, tidak boleh
saja melalaikan tugas kewajiban demi kepentingan orang lain, dalam hal ini demi
kepentingan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sendiri. Melihat mereka terancam
bahaya maut, betapa mungkin saya harus mendiamkan mereka begitu saja? Duhai
Bagus Seta, kalau Andika percaya akan kekuasaan tak terbatas dan tak terlawan oleh
Yang Maha Kuasa, anggap sajalah bahwa kedatanganku mencegah engkau membunuh
mereka ini merupakan kehendak Dia yang belum menghendaki mereka mati."
Bagus Seta menghela napas
panjang dan diam-diam ia harus mengakui kebenaran ucapan ini,
"Akan tetapi, Sang Biku
yang bijaksana. Tahukah Andika bahwa pencegahan Andika ini merupakan tanggung
jawab Andika pula terhadap kebenaran dan keadilan? Bahwa kalau mereka
dibebaskan dan kelak melakukan kejahatan, maka kejahatan itu sebagian adalah
akibat daripada perbuatan Andika saat ini?"
"Sebenarnyalah apa yang
Andika katakan, wahai Bagus Seta. Dan saya pun bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap mereka ini kalau kelak mereka menimbulkan kekacauan dengan perbuatan
sesat lagi. Saya sendiri yang kelak akan menghadapi mereka sebagai
pertanggungan jawab saya. Sekali ini, demi Tuhan Yang Maha Kasih, Yang Maha
Pengampun, yang memberi berkah kepada segala makluk dan tanpa pilih kasih dan
tanpa Pandang bulu, yang memberi sinar kehidupan kepada seluruh alam mayapada
dan isinya, saya mohon sudilah kiranya Andika membebaskan Wasi Bagaspati dan
Wasi Bagaskolo."
Didesak seperti ini, Bagus
Seta merasa tidak baik untuk bersikeras. Ia menarik napas panjang dan
menyerahkan segala akibat kepada Hyang Widhi Wisesa, maka ia mengangguk dan berkata,
"Biarlah terjadi
seperti yang Andika minta, Sang Biku yang mulia. Kuserahkan mereka berdua
kepadamu." Ia membungkuk dengan hormat dan meninggalkan tempat itu,
menghampiri Pusporini dan Joko Pramono yang telah menyelesaikan pertempuran
sejak tadi, merobohkan dua puluh orang anggauta pasukan siluman dan sejak tadi
menonton dari jauh pertandingan hebat antara Bagus Seta melawan dua orang wasi
sampai munculnya Biku Janapati.
No comments:
Post a Comment