Namun, tertindih oleh derita batin bertubi-tubi, dara ini menjadi agak pening dan diamuk oleh kemarahan sehingga ketenangannya goyah. Hal ini menyebabkan serangan-serangannya seperti gerakan orang nekat tanpa perhitungan lagi, mengamuk dengan dorongan amarah yang bagaikan api menyala-nyala.
Betapapun juga, Wasi
Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang mempunyai niat menawan dara ini hidup-hidup
dan menaklukkannya untuk dapat menggunakan tenaganya, tidaklah dapat
melaksanakan niat ini dengan mudah karena biarpun Retna Wilis berkurang banyak
kekuatannya, namun ia masih merupakan lawan yang dahsyat.
Setelah lewat ratusan jurus,
tiba-tiba Wasi Bagaskolo mengeluarkan aji-aji ilmu hitamnya, berteriak keras
dan cuaca menjadi gelap karena timbul awan hitam menutup sinar matahari,
bergumpal-gumpal di atas kepala mereka. Kemudian, atas isyaratnya, Wasi
Bagaskolo berseru keras dan menerjang Retna Wilis menjatuhkan diri ke atas
tanah dan bergulingan menyerang ke arah kedua kaki dara perkasa itu. Diserang
secara buas ini, Retna Wilis agak terkejut dan cepat ia menggerakkan pedang ke
bawah untuk melindungi kedua kakinya, bahkan lalu menusukkan pedangnya ke arah
tubuh Bagaskolo yang menggelinding dekat ke arah tubuh Bagaskolo yang
menggelinding dekat dekat kakinya dengan kedua tangan bergerak mencengkeram.
Saat itu, Wasi Bagaspati yang sudah siap sedia dan meloncat ke atas lenyap ke
dalam uap atau awan hitam, meluncur ke bawah dan menerkam Retna Wilis.
Dara itu sedang menusuk ke
bawah ketika mendengar berkesiurnya angin dari atas, maklum bahwa Wasi
Bagaspati menerjangnya secara hebat, maka ia lalu meloncat dan menarik kakinya
untuk menghindarkan cengkeraman Wasi Bagaskolo, dari bawah dan memutar
pergelangan tangan sehingga pedangnya membalik dan membacok ke atas memapaki
tubuh Wasi Bagaspati.
Wasi Bagaspati yang memang
hanya mengacaukan lawan agar perhatiannya terpecah, sudah dapat menghindar dan
meloncat ke belakang tubuh Retna Wilis dan tiba-tiba dara ini merasa betapa
kedua kakinya sudah direnggut dan dipeluk oleh kedua lengan Wasi Bagaskolo yang
kuat! Ia mengeluarkan seruan lirih dan hendak menggerakkan pedang menusuk
punggung Wasi Bagaskolo, akan tetapi perhatiannya yang dicurahkan ke bawah itu,
biarpun hanya beberapa detik, cukup bagi Wasi Bagaspati untuk bergerak, tangan
kiri membabat pergelangan tangan Retna Wilis yang memegang pedang dan tangan
kanan mencengkeram pedang pusaka Sapudenta!
"Eiihhhhh .....!! Retna
Wilis memekik, mengerahkan tenaga mempertahankan pedang dan dua tenaga sakti
raksasa yang memperebutkan pedang itu membuat pedang terlepas dari pegangan
Retna Wilis, bukan terampas lawan melainkan mencelat jauh dan lenyap ke dalam
jurang!
Retna Wilis marah sekali,
tiba-tiba tubuhnya meronta, bergoyang semua dengan getaran hebat sehingga Wasi
Bagaspati terpaksa meloncat ke belakang, sedangkan Wasi Bagaskolo yang memeluk
kedua kaki itu dapat dilontarkan pula sampai lima meter jauhnya di mana kakek
ini jatuh dan bergulingan lalu meloncat bangun. Mereka berdua kini tertawa
menyeringai, girang bahwa mereka berhasil melucuti dara itu dan dalam keadaan
tak bersenjata tentu akan lebih mudah ditangkap. Perasaan inilah yang
mencelakakan Wasi Bagaskolo. Orang yang mabuk kesenangan akan berkurang
kewaspadaannya, memandang rendah lawan dan karenanya menjadi lengah. Mereka
tidak tahu bahwa dalam gebrakan terakhir tadi, Retna Wilis yang kehilangan
senjata telah menyambar tanah pasir ke dalam genggaman tangan kanannya,
diam-diam ia mengerahkan aji kesaktiannya sehingga tanah pasir yang
digenggamnya itu menjadi senjata yang luar biasa ampuhnya, yaitu Pasir-sakti,
pasir yang berubah seperti bubuk baja yang mengandung bisa!
Wasi Bagaskolo yang kini
merasa bahwa dia sanggup menandingi dan mengalahkan dara yang sudah lemah itu,
mengeluarkan seruan girang dan menerjang maju, menggunakan kedua tangan hendak
mencengkeram, akan tetapi dia didahului oleh Wasi Bagaspati yang melihat
gerakan adik seperguruannya dan hendak membantu. Wasi Bagaspati lebih hati-hati
dan maklum bahwa kalau dara itu tidak ia desak lebih dulu, masih sukar untuk
dapat ditangkap adik seperguruannya. Maka ia menerjang maju dengan cepat dari
sebelah kiri Retna Wilis, mengirim pukulan tangan kiri dengan tenaga sakti,
beberapa detik lebih dulu dari gerakan Wasi Bagaskolo yang hendak menerkam dari
depan.
"Plakkk........
!!" Tangan kiri Retna Wilis menangkis pukulan ini tanpa menoleh karena
perhatiannya tetap ditujukan kepada Wasi Bagaskolo di depannya. Biarpun pukulan
sakti Wasi Bagaspati yang ditangkisnya itu membuat tangan kirinya terasa nyeri
dan lengannya seperti lumpuh, hal ini tidak mengurangi perhatiannya ke depan.
Pada saat itu Wasi Bagaskolo menubruk dan Retna Wilis menyambitkan pasir yang
berada di dalam genggaman tangan kanannya. Sinar hitam menyambar ke arah muka
dan dada Wasi Bagaskolo dari jarak dekat sekali.
"Augggghhhrrr"
Pekik mengerikan keluar dari
kerongkongan Wasi Bagaskolo yang tiba-tiba terjengkang ke belakang, roboh
terbanting dan kedua tangannya yang tadi membentuk cakar hendak mencengkeram
tubuh Retna Wilis, kini mencakari muka dan dadanya sendiri sampai kulit dan
dagingnya robek-robek!
"Dessss ........ !!”
Tubuh Retna Wilis terbanting
keras dan terguling-guling. Hebat sekali pukulan yang dilakukan Wasi Bagaspati
yang marah menyaksikan tewasnya Wasi Bagaskolo sehingga dia mengirim pukulan
yang mengenai punggung Retna Wilis. Dara itu bergulingan dan darah mengucur
dari bibirnya, akan tetapi ia masih dapat bangkit dengan tubuh lemah namun
semangat menyala-nyala, pantang mundur pantang menyerah, siap untuk melawan
sampai mati. Pandang matanya berkunang, kepalanya pening, tubuhnya
bergoyang-goyang, namun sedikit pun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya yang
berlepotan darahnya sendiri.
"Engkau .... engkau
membunuh adikku ....?" Wasi Bagaspati kembali menerjang dengan pukulan
sakti. Retna Wilis mengangkat tangan menangkis dan kembali ia roboh
terguling-guling, akan tetapi biarpun dengan susah payah, ia masih dapat
bangkit kembali. Ketika Wasi Bagaspati yang sudah marah sekali itu lari
menghampiri, tiba-tiba terdengar suara halus,
"Sahabatku, mengapa
Andika melanggar janji?" Dan di depannya telah berdiri dengan sabar dan
kening dikerutkan sambil menggeleng-geleng kepala. Sejenak Wasi Bagaspati
memandang penuh kemarahan, kemudian ia mendengus dan menghampiri mayat Wasi
Bagaskolo, mengambilnya dan memanggulnya, kemudian tanpa berkata apa-apa lagi
ia hendak pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi dengan gerakan cepat
sekali, amat mengherankan bagi tubuhnya yang gendut pendek, Biku Janapati telah
menyusulnya ketika Wasi Bagaspati hendak menuruni sebuah jurang.
"Berhenti dulu, Wasi
Bagaspati," kata Biku Janapati. Wasi Bagaspati yang memanggul mayat Wasi
Bagaskolo membalikkan tubuh dan sikapnya beringas,
"Andika mau apa, Biku
Janapati?"
"Aku hendak menagih
janji, dan aku hendak mempertanggungjawabkan perbuatanku ketika menanggungmu,
sahabatku Wasi Bagaspati. Andika seorang yang sudah banyak mempelajari ilmu,
tentu saja tadinya kuanggap bahwa Andika benar-benar telah dapat insyaf dan
sadar, karena itu aku berani menanggungmu. Siapa tahu, kiranya Andika telah
menjadi hamba nafsu yang paling rendah sehingga Andika membutakan mata hati dan
tidak melihat lagi antara baik dan buruk. Aku telah menanggungmu dengan segala
akibatnya dan melihat betapa engkau masih saja menuruti nafsu angkara murka, terpaksa
aku sendiri yang turun tangan membasmimu."
Wasi Bagaspati marah sekali
dan melemparkan mayat Wasi Bagaskolo ke atas tanah. Karena dia berdiri di
pinggir jurang, maka tanpa ia sengaja mayat itu terlempar ke tepi dan terus
menggelundung memasuki jurang. Akan tetapi, saking marahnya kepada Biku
Janapati, Wasi Bagaspati tidak memperdulikan hal itu dan ia menudingkan
telunjuknya ke arah muka kakek gundul itu.
"Keparat engkau
Janapati! Engkau yang menjadi sahabatku semenjak dari tanah barat, kini hendak
memusuhiku dan membela orang keturunan Mataram?"
"Andika yang telah lupa
akan segala awal dan akhir, Wasi Bagaspati. Lupakah Andika bahwa sesungguhnya
Andika hanya ikut dan membonceng kepada kami utusan Sriwijaya ketika memasuki
Jawadwipa? Lupakah bahwa kalau tidak bersama utusan Sriwijaya yang masih ada
hubungan keluarga dengan Mataram, Andika dan para pengikut Andika tidak mungkin
dapat tiba di sini? Dahulu Andika berjanji untuk memperkembangkan Agama Shiwa,
akan tetapi setelah tiba di sini Andika mengumbar angkara murka. Berkali-kali
saya peringatkan, dan yang terakhir malah saya menebus nyawa Andika dari tangan
Bagus Seta dengan tanggung jawab sepenuhnya. Sekarang, tiada lain jalan bagiku,
terpaksa harus melenyapkan Andika yang selalu menjadi pengacau ketenteraman."
"Pendeta gundul yang
sombong! Kaukira aku takut kepadamu?" Wasi Bagaspati berteriak dan
menerjang Biku Janapati.
"Sadhu-sadhu-sadhu
....siapa mengira bahwa setua ini hamba terpaksa melakukan dosa lagi ..."
kata Biku Janapati yang cepat menangkis dan balas menyerang. Dua orang kakek
sakti itu segera bertanding di pinggir jurang dengan seru.
Retna Wilis yang sudah
terluka itu ketika terbanting tadi dapat bangkit kembali dengan susah payah dan
siap menghadapi pukulan lawan terakhir. Akan tetapi ia melihat munculnya Biku
Janapati dan betapa pendeta ini membelanya. Ia menjadi lemas dan limbung,
tubuhnya terhuyung hampir terguling, kepalanya pening. Sebuah lengan dengan
halus dan lemah-lembut merangkul pundaknya dan mencegahnya roboh terguling.
Retna Wilis merasa bahwa hanya lengan Adiwijaya sajalah yang akan menyentuhnya
dengan kasih sayang seperti itu, maka ia memejamkan matanya. Akan tetapi ia
teringat bahwa pamannya itu telah tewas, maka cepat ia membuka mata dan
menoleh. Jantungnya berdebar kencang ketika ia melihat bahwa yang merangkul
pundaknya itu bukan lain adalah Bagus Seta, yang memandangnya dengan tersenyum
dan tangan kanan pemuda itu telah memegang pedang Sapudenta yang tadi hilang
terjatuh ke dalam jurang.
"Eng.... engkau
....Bagus Seta ...?" Retna Wilis bertanya gagap dan melepaskan rangkulan
pemuda itu, membalikkan tubuh menghadapinya.
"Benar, adikku Retna
Wilis. Aku rakandamu Bagus Seta yang selalu membayangimu."
"Berikan pedangku
itu!" Retna Wilis berkata, memaksa diri bersikap gagah biarpun seluruh
tubuhnya lemas.
"Hendak kau pakai untuk
apakah? Untuk membunuhku sebagai murid Eyang Bhagawan Ekadenta?"
"Ohh, tidak, tidak ...!
Akan kupakai membunuh Wasi Bagaspati!"
Bagus Seta tersenyum,
memegang tangan adiknya, menariknya dan menyarungkan pedang Sapudenta di sarung
pedang yang menempel di punggung Retna Wilis.
"Jangan mencampuri
urusan mereka, Adikku. Lihat, mereka berdua datang ke tanah air kita tanpa ada
yang mengundang, keduanya menimbulkan kekeruhan dengan cara mereka sendiri dan
sekarang biarkanlah keduanya menyelesaikan segala persoalan yang timbul sebagai
akibat dari perbuatan mereka sendiri. Mulai sekarang, berhati-hatilah dalam
melangkahkan sesuatu, Adikku, karena setiap langkah, setiap perbuatan kita
menjadi sebab timbulnya akibat di kemudian hari. Kita akan memetik setiap buah
yang tumbuh dari pohon yang kita tanam sendiri, oleh karena itu, kita harus
dapat memilih pohon perbuatan yang baik agar buahnya pun kelak buah yang baik.
Semua hal yang menimpa diri kita adalah hasil daripada perbuatan kita sendiri,
Adikku sayang, karena itu kita harus menjaga perbuatan dengan jalan
membersihkan hati dan pikiran sebab perbuatan timbul daripada hati dan pikiran.
Kalau hati dan pikiran kita bersih, perbuatan kita pun tentu bersih, sebaliknya
hati dan pikiran kotor tak mungkin menimbulkan perbuatan yang bersih."
Tiba-tiba terdengar suara
ledakan keras disusul pekik yang menyeramkan keluar dari dalam jurang di depan.
Kedua orang kakek yang bertanding tidak tampak lagi dan perlahan-lahan Bagus
Seta menarik tubuh Retna Wilis yang dirangkul pundaknya itu mendekati tepi
jurang lalu menjenguk ke bawah. Jauh di dasar jurang, di antara batu-batu dan
air sungai kecil, tampak menggelatak tiga mayat orang dalam keadaan remuk,
yaitu mayat dari Wasi Bagaspati, Biku Janapati, dan Wasi Bagaskolo.
Melihat mayat-mayat itu,
Retna Wilis teringat akan mayat Sindupati. Ia menengok, memandang mayat itu,
melepaskan rangkulan Bagus Seta dan lari menghampiri, berlutut dan menangisi
mayat Sindupati.
Bagus Seta berjalan mendekati,
dan di antara isak tangis Retna Wilis, terdengar suaranya,
"Berbahagialah dia ini
yang telah sadar dan bertobat daripada dosa-dosanya sehingga mati dalam keadaan
sadar. Riwayat hidup Sindupati ini dapat dijadikan tauladan dan peringatan bagi
kita, Retna Wilis, bahwa tiada perbuatan yang menyeleweng daripada kebenaran
akan mendatangkan kebahagiaan. Sikapnya yang baik sekali terhadapmu, sedikitnya
telah menebus sebagian daripada dosa-dosanya yang lalu, dan nyatanya, dalam
saat terakhir ia telah sadar akan dosa-dosanya dan bertobat. Sadar akan dosa
sendiri dan bertobat merupakan kebahagiaan besar, Adikku." Biarpun
menangisi mayat Sindupati, namun setiap kata-kata yang keluar dari mulut Bagus
Seta terdengar jelas oleh Retna Wilis. ia lalu mengangkat mukanya yang pucat
dan basah air mata.
"Adakah ...harapan
bagiku .....yang murtad .... yang penuh noda dan dosa ini ....untuk kembali ke
jalan benar?"
Bagus Seta tersenyum,
merangkul adiknya dan diajak berdiri.
"Tidak ada dosa yang
takkan terhapus asal dengan tebusan penyesalan dan bertobat lahir batin tanpa
paksaan, melainkan dengan kesadaran. Engkau terluka Retna Wilis. Mari kita
menyempurnakan jenazah Sindupati, kemudian ikutlah dengan aku, kakakmu yang
akan membimbingmu ke arah jalan benar dan kebahagiaan."
Mereka lalu membuat api
besar dan membakar jenazah Sindupati. Abunya mereka tanam di hutan itu dan pada
keesokan harinya, pagi-pagi sekali di pantai laut selatan tampak Bagus Seta dan
Retna Wilis bergandengan tangan, berjalan perlahan menuju ke timur di mana
sinar matahari yang cerah telah membakar angkasa. Kedua orang kakak beradik ini
tidak merasa betapa lidah air laut menjilat-jilat kaki mereka karena mereka
seperti terpesona atau tertarik oleh sinar matahari kemerahan yang makin lama
makin terang itu. Keduanya mendapatkan keyakinan, terutama sekali Retna Wilis,
bahwa seperti halnya sinar matahari pagi, masa depannya dengan bimbingan
kakaknya akan makin gemilang. Bayang-bayang hitam kedua orang muda itu makin
tampak nyata mengikuti di belakang mereka. Bayangan kedua kakak beradik sakti
mandraguna yang menuju ke arah munculnya Sang Surya itu makin lama makin
mengecil, merupakan dua titik hitam yang lambat laun lenyap, meninggalkan
ombak-ombak memerah di pantai yang mereka lalui tadi, meninggalkan jejak kaki
di pasir yang terhapus oleh air laut. Laut dan pasir tidak kehilangan sesuatu,
tidak pernah merasa kehilangan karena mereka pun tidak merasa mendapatkan
sesuatu.
TAMAT
No comments:
Post a Comment